2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Merayakan Perjalanan Setelah Menonton Pertunjukan Kelas Teater Shiro-San

Rosmah Tami by Rosmah Tami
September 20, 2024
in Esai
Merayakan Perjalanan Setelah Menonton Pertunjukan Kelas Teater Shiro-San

Pertunjukan Kelas Teater Shiro-San | Foto: Kala Teater

SHIROTAMA Hitsujiya memperkenalkan teater Jepang yang dipertunjukkan di dalam trem dan sepanjang jalur trem di kota Sapporo Jepang. Trem berubah menjadi panggung sekaligus tempat penonton menikmati lakon demi lakon, baik dalam kendaraan maupun di sepanjang pemberhentian trem. Penumpang menjadi penonton naik turun ke trem, silih berganti bergerak seperti biasa. Teater Shirotama menarik kehidupan sehari-hari apa adanya untuk diamati, diterima, direnungkan dan dirayakan.

Kamis 29 Agustus hingga 5 September 2024, ia berada bersama enam belas sutradara Indonesia di Makassar untuk sebuah pengalaman, pertunjukan, dan perubahan di masa depan.

Mengamati para sutradara teater dari seluruh Indonesia yang dicoaching oleh sutradara berkebangsaan Jepang yang hanya fasih berbahasa Jepang mendorong saya untuk mengambil kesimpulan yang tergesa. Kesimpulan bahwa tujuan teater adalah harapan masa depan meskipun ia banyak mengambil inspirasi dari masa lalu dan masa kini. Ia mempunyai ide-ide dan pikiran tentang dunia ideal, dan teater menjadi media yang mengantar manusia mewujudkan dunia yang mungkin. Teater hidup sebagai pembawa harapan di hari esok, menumbuhkan dan memelihara kehidupan api asa agar tak pernah padam.

Bukankah apa yang pekerja seni lakukan sama dengan yang dilakukan oleh para ilmuawan? Mereka mempunyai cita-cita yang sama, mereka melakukan observasi yang panjang, dan mengadakan percobaan di laboratorium mereka. Berbeda dengan para scientist yang menggunakan alat-alat yang canggih, para pekerja seni menyediakan tubuh mereka sebagai pusat dari eksperimen dan instrument penelitian itu.  Tubuh pegiat teater menjadi wadah untuk persona-persona masa lalu atau masa depan datang berkunjung ke masa kini. Mereka merasai mereka, sejarah, dan harapan mereka. Tubuh mereka adalah ruang-ruang yang menampung denyut mendalam, jalinan cerita yang tersimpan dalam benda-benda.  

Shirotama mengatakan, oleh karena itu para sutradara membutuhkan terapi karena traumatik benda-benda atau manusia tervibrasi pada tubuh mereka. Mengamati hal itu, ia menawarkan playback theatre sebagai bentuk terapi untuk mengembalikan ruang mereka kembali bersama diri mereka yang sejati.

Shirotama menganjurkan mantra, “sekarang luruhkan persona yang kamu lakoni, tanggalkan dan kembalilah ke dirimu” Apakah Shirotama menerapi para sutradara? TIDAK! Ia seorang sutradara yang menawarkan bentuk teater alternatif.

Shiro-San, begitu para yang berguru menyapanya, memberi sebuah judul yang tak mudah dipahami dan membiarkan sutradara menerka dan memahaminya sendiri melalui diskusi yang panjang. Dia sangat paham kekuatan inti manusia dan daya tahannya. Dengan pengalaman yang mereka miliki, pasti mereka berhasil membuat pertunjukan.

Kelas Teater Shiro-San | Foto: Kala Teater

Shirotama adalah pendengar yang baik. Itulah metodenya. Disitulah terapinya, cerita Dekan psikolog Universitas Bosowa, Eva Taibe. Mendengar adalah inti terapi itu! Para psikolog klinis dilatih untuk mendengar berjam-jam dan itu sangat tak menyenangkan sama sekali.

Konon, beberapa orang tidak sungguh-sungguh mendengarkan. Ketika seseorang hanya mencocokkan dengan pengalaman dirinya dengan apa yang didengarkan dari seorang pembicara. Lalu merespon bahwa ia mempunyai pengalaman yang sama, itu sama sekali bukan “the act of listening” meminjam istilah the act of reading. Shiro-San tahu itu, mungkin itulah sebabnya mengapa ia tak banyak bicara dan tak banyak directing tetapi hanya mendengarkan dan mendengarkan.  

Hari Sabtu, Ahad, Senin, Selasa adalah hari yang cukup menguras tenaga untuk memahami Shiro-San. Ia dibantu seorang penerjemah yang tak begitu “articulate” berbahasa Indonesia sehingga seorang peserta pernah merasa gusar mendengarnya.

Saya pun kadang tak memahami secara keseluruhan apa yang dijelaskan, dan pemahaman saya berasal dari respon para sutradara. Beberapa menganggap penerjemah itu sedang bernyanyi, dan bahkan tertidur dalam ruang kelas. Namun ia adalah penerjemah yang sabar. Ia menjelaskan berkali-kali hingga semua berseru ahhhh sambil mengangguk, tanda peserta mengerti apa maksudnya. Mereka lalu tertawa bersama.  

Hari Rabu hari pertunjukan. Banyak penonton yang sudah menunggu sejak siang. Shiro-San tidak sekasual hari sebelumnya. Hari itu, ia memakai blouse hitam yang sopan dan rok yang panjang meski cuaca amat terik. Para sutradara menyantaikan tubuh mereka sebelum pertunjukan. Menjelang sore mereka berbenah dan berhias seadanya.  Tak ada panggung yang didekorasi.

Panggung mereka terdiri dari reruntuhan situs peninggalan masa lalu. Sejak hari pertama para sutradara mengakrabi situs itu. Mereka menerima resonansi energi yang melekat pada tembok-tembok tua benteng Fort Rotterdam, dan mereka merasai suka duka energi yang terekam pada dinding itu. Ketika terik melemah dan batu-batu mulai mendingin, para penonton memasuki ruang registrasi dengan tertib. Ada suara pengiring yang diunggah dari website. Selanjutnya, seluruh penonton diajak menuju situs pertama untuk menyaksikan pertunjukan pertama.

Pertunjukan pertama berada di benteng bagian barat samping pintu masuk. Pada situs itu, berdiri tiang-tiang tembok dan bebatuan yang kokoh. Kelompok pertama menamai diri mereka Pallu Basa terdiri dari Ibet S.Yuga, Tya Setiawati, Muhammad Adil, dan Sartian Nuriamin. Mereka berkisah tentang perjumpaan pertama mereka saat mengunjungi Makassar di masa lalu.

Tentu saja yang di-highlight adalah kegusaran mereka pada mahasiswa yang sering sekali tantrum, yang mengekspresikan kemarahan mereka dengan batu-batu dan ban mobil yang terbakar atau toa toa yang mengeluarkan suara yang tak lagi ramah. Tak pernah berubah dari tahun ke tahun, hanya begitu-begitu saja. Kami yang hidup di Makassar mendengarnya dengan rasa sedikit malu. Kami yang tak cukup biasa menata bahasa, tak bisa memilih cara lain kecuali apa yang telah dilakukan pendahulu-pendahulu kami.

Usai kisah itu, penontonlah yang melakoni perjalanan. Mereka diajak para pemain teater jadi pelakon ziarah. Sambil menabuh gendang dan lantunan sholawat, mereka digiring meniti benteng kokoh Fort Rotterdam menuju situs kedua.

Di situs kedua, peziarah dijemput asap wangi dupa menuju dua zaman menunggu. Sebuah kuburan penanda waktu, kisah yang telah terkubur, dan yang berziarah mengunjungi masa lalu. Dua masa yang amat berbeda dikisahkan oleh Tamimi Rutjita, Wachid Adnan, Wendy HS dan Silvester Petara Hurit HS; eksistensi modern dengan gudget dan essensi masa lalu yang sakral.

Peziarah lalu diantar ke situs ketiga diiringi mantra dan wewangian dupa. Perjalanan jauh di bawah terik menuju situs ketiga. Di sana Verry Handayani, Arifin Bederan, Wulan Saraswati, dan Anwari telah mempersipkan adegan. Di gerbang situs ketiga, peziarah disambut percikan air penyucian dan si peramal kartu tarot.

Si peramal menantang peziarah untuk melihat masa depannya, tetapi masa depan bisa saja kematian. Siapa yang berani berjalan ke masa depan? Serunya sambil menebarkan kartu tarot untuk dipilih para peziarah. Beruntung, mereka diramal akan melakukan perjalanan, perjuangan, untuk menemukan cinta dan kebahagiaan. Keempat kata ini menjadi mantra mereka menuju situs terakhir.

Pertunjukan terakhir menyuguhkan dua waktu yang berbeda. Waktu yang serba cepat, tergesa, melelahkan, dan waktu masa lalu yang menjadi sumber energi. Peziarah yang sudah kelelahan berjalan diajak beristirahat dengan menghadirkan ruang dimana kebahagiaan itu bersumber.

Dengan musik, mereka dibawa berkunjung masa kanak-kanak yang membius keceriaan dan innosensia. Di situ segala masalah ditanggalkan dan pikiran diistirahatkan. Di bawah terang sore yang temaram, bersama lagu dari masa kecil, pertunjukan berakhir dan gelap menjemput peziarah.

Sore itu, peziarah mengalami terapi, menyaksikan waktu yang diabstraksikan dalam empat situs. Penonton diubah menjadi peziarah yang menikmati perjalan waktu yang sakral. Para peziarah beristirahat duduk di rerumputan.

Mereka membincangkan rasa yang mereka dapatkan, sensasi tubuh yang mereka alami, dan lagu yang masih terngiang. Seperti Teater Trem Shirotama di kota Sapporo, teater ini membujuk penonton untuk memaknai perjalanan sebagai ziarah. Bukan hanya pada perjalan teater sore itu, tetapi semua perjalan kita di dunia.

Semua yang kita temui, situs-situs, orang-orang dan kejadian-kejadian adalah bagian dari perjalanan yang seharusnya diterima, dipahami direnungkan dan dirayakan. Kita adalah hanyalah pengunjung di muka bumi, bukan pemilik bahkan penguasa yang akan selama-lamanya berada di sini. Selalu, tempat yang kita kunjungi menjadi tempat yang pertama yang kita lihat karena ia selalu hadir dalam waktu yang baru.

Pertunjukan Kelas Teater Shirotama, Tempat Ini adalah Tempat Pertama yang Pernah Kaulihat, mengandung unsur ketimuran yang sangat kental. Shirotama tidak melepaskan diri dari latar budayanya, kultur teater Jepang dan ajaran spiritualisme ketimuran. Noh dan Kyogen, salah satu teater Jepang yang sangat dihormati.

Teater Noh Kyogen dimainkan di tempat terbuka selama musim panas. Ia kental dengan supranatural dan spiritualisme, dan dimainkan untuk hiburan yang mendidik. Noh dan kyogen menawarkan keseimbangan yang harmoni antara yang formal dan yang komedia serta interaksi dengan penonton yang humoris.

Kelas Teater Shiro-San | Foto: Kala Teater

Sejak hari pertama kelasnya, Shirotama berusaha mengajak para sutradara memahami spirit dalam bunyi yang didapatkan dari jalan-jalan kota tua di Makassar dan bangunan tua. Metode ini teraplikasikan dalam teater Tempat Ini Adalah Tempat Pertama yang Pernah Kaulihat.  

Shirotama pun tidak melepaskan diri dari spiritualisme ketimuran ajaran Budhisme and Shinto. Kedua ajaran ini meyakini adanya energi atau roh pada setiap semesta yang patut dihormati. Harmonisasi dengan semesta seharusnya terjadi pada pertemuan yang ditakdirkan antara manusia dengan semesta. Teater ini mengajarkan keterbukaan, pemahaman, penerimaan dan perayaan pada setiap perjumpaan.

Ajaran ini nampak dalam pertunjukan teater yang diangkat oleh kelas teater Shirotama bersama enam belas sutradara Indonesia di benteng Fort Rotterdam. Ziarah adalah perjumpaan dengan waktu dan peristiwa seperti yang ditunjukkan kelompok Pallu Basa, (Ibet S.Yuga, Tya Setiawati, Muhammad Adil, dan Sartian Nuriamin), kelompok Rotterdam Rele (Silvester Petara Hurit, Tamimi Rutjita, Wachid Adnan, dan Wendy HS), kelompok Dam in Situ (Anwari, Arifin Baderan, Verry Handayani, dan Wulan Saraswati) dan kelompok Kuartet Studio (Nurul Inayah, Syamsul Fajri, Luna Kharisma, dan Sultan Mahadi Syarif).

Setelah mengikuti kelas teater dan pertunjukan Shiro-San, saya pulang kampung. Perjalanan panjang lima jam, jalan yang bergelombang, sopir yang ugal-ugalan, pengendara motor yang membahayakan dirinya, dan truk truk besar yang menegangkan seringkali saya keluhkan dan menyisakan lelah.

Hanya itukah yang kutemui dalam perjalanan? Tidak! Saya selalu bersiaga untuk memotret temaram fajar yang menjelma menjadi cahaya pagi di ufuk timur di balik pegunungan. Saya selalu melepas rindu pada udara pegunungan, gunung batu berlumut, rombongan anak sekolah mengejar pagi, para petani berbondong menggarap sawah dan detak kuda delman mengantar perempuan desa dari pasar. Sebenarnya saya menikmatinya tetapi tidak menyadarinya, belum bisa memberi makna, apalagi perenungan dan merayakannya. Kelas teater Shirotama membangkitkan kesadaran itu pada perjalanan kali ini.

Jika Anda seperti saya yang tak menikmati keindahan perjalanan, dan melupakan segala kenikmatan serta mengeluh dan kelelahan, mungkin anda harus mencoba menonton teater. Pada teater, penonton juga adalah pelakon yang melakukan sesi terapi demi terapi mengantar pada kesadaran akan menikmati keindahan yang apa adanya.

Wallahu a’lam. [T]

Yang Terhubung: Ancaman dan Harapan | Catatan Pentas Kala Teater
Pentas “AH” Teater Mandiri: Putu Wijaya Masih Hebat Dengan Cerita yang Membolak-Balik Pikiran
Menjelajahi Laku Jongkok dalam Koreografi “The (Famous) Squatting Dance : Jung Jung te Jung” di Teater Salihara
Tags: Kala TeaterTeaterteater jepang
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Moratorium Hotel di Bali: Seberapa Penting?

Next Post

Tradisi Maulud Desa Pengastulan: Setembak, Belebet, Taluh Sokok, dan Asyrakalan

Rosmah Tami

Rosmah Tami

Dr. Rosmah Tami, adalah Dosen Bahasa dan Sastra UIN Alauddin Makassar, Indonesia. Bidang spesialisasinya adalah Sastra Komparatif, Sastra Islam, Perempuan dan Sastra, Sosiologi Sastra, Semiotika dan Estetika Islam.

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
Tradisi Maulud Desa Pengastulan: Setembak, Belebet, Taluh Sokok, dan Asyrakalan

Tradisi Maulud Desa Pengastulan: Setembak, Belebet, Taluh Sokok, dan Asyrakalan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co