3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Merayakan Perjalanan Setelah Menonton Pertunjukan Kelas Teater Shiro-San

Rosmah Tami by Rosmah Tami
September 20, 2024
in Esai
Merayakan Perjalanan Setelah Menonton Pertunjukan Kelas Teater Shiro-San

Pertunjukan Kelas Teater Shiro-San | Foto: Kala Teater

SHIROTAMA Hitsujiya memperkenalkan teater Jepang yang dipertunjukkan di dalam trem dan sepanjang jalur trem di kota Sapporo Jepang. Trem berubah menjadi panggung sekaligus tempat penonton menikmati lakon demi lakon, baik dalam kendaraan maupun di sepanjang pemberhentian trem. Penumpang menjadi penonton naik turun ke trem, silih berganti bergerak seperti biasa. Teater Shirotama menarik kehidupan sehari-hari apa adanya untuk diamati, diterima, direnungkan dan dirayakan.

Kamis 29 Agustus hingga 5 September 2024, ia berada bersama enam belas sutradara Indonesia di Makassar untuk sebuah pengalaman, pertunjukan, dan perubahan di masa depan.

Mengamati para sutradara teater dari seluruh Indonesia yang dicoaching oleh sutradara berkebangsaan Jepang yang hanya fasih berbahasa Jepang mendorong saya untuk mengambil kesimpulan yang tergesa. Kesimpulan bahwa tujuan teater adalah harapan masa depan meskipun ia banyak mengambil inspirasi dari masa lalu dan masa kini. Ia mempunyai ide-ide dan pikiran tentang dunia ideal, dan teater menjadi media yang mengantar manusia mewujudkan dunia yang mungkin. Teater hidup sebagai pembawa harapan di hari esok, menumbuhkan dan memelihara kehidupan api asa agar tak pernah padam.

Bukankah apa yang pekerja seni lakukan sama dengan yang dilakukan oleh para ilmuawan? Mereka mempunyai cita-cita yang sama, mereka melakukan observasi yang panjang, dan mengadakan percobaan di laboratorium mereka. Berbeda dengan para scientist yang menggunakan alat-alat yang canggih, para pekerja seni menyediakan tubuh mereka sebagai pusat dari eksperimen dan instrument penelitian itu.  Tubuh pegiat teater menjadi wadah untuk persona-persona masa lalu atau masa depan datang berkunjung ke masa kini. Mereka merasai mereka, sejarah, dan harapan mereka. Tubuh mereka adalah ruang-ruang yang menampung denyut mendalam, jalinan cerita yang tersimpan dalam benda-benda.  

Shirotama mengatakan, oleh karena itu para sutradara membutuhkan terapi karena traumatik benda-benda atau manusia tervibrasi pada tubuh mereka. Mengamati hal itu, ia menawarkan playback theatre sebagai bentuk terapi untuk mengembalikan ruang mereka kembali bersama diri mereka yang sejati.

Shirotama menganjurkan mantra, “sekarang luruhkan persona yang kamu lakoni, tanggalkan dan kembalilah ke dirimu” Apakah Shirotama menerapi para sutradara? TIDAK! Ia seorang sutradara yang menawarkan bentuk teater alternatif.

Shiro-San, begitu para yang berguru menyapanya, memberi sebuah judul yang tak mudah dipahami dan membiarkan sutradara menerka dan memahaminya sendiri melalui diskusi yang panjang. Dia sangat paham kekuatan inti manusia dan daya tahannya. Dengan pengalaman yang mereka miliki, pasti mereka berhasil membuat pertunjukan.

Kelas Teater Shiro-San | Foto: Kala Teater

Shirotama adalah pendengar yang baik. Itulah metodenya. Disitulah terapinya, cerita Dekan psikolog Universitas Bosowa, Eva Taibe. Mendengar adalah inti terapi itu! Para psikolog klinis dilatih untuk mendengar berjam-jam dan itu sangat tak menyenangkan sama sekali.

Konon, beberapa orang tidak sungguh-sungguh mendengarkan. Ketika seseorang hanya mencocokkan dengan pengalaman dirinya dengan apa yang didengarkan dari seorang pembicara. Lalu merespon bahwa ia mempunyai pengalaman yang sama, itu sama sekali bukan “the act of listening” meminjam istilah the act of reading. Shiro-San tahu itu, mungkin itulah sebabnya mengapa ia tak banyak bicara dan tak banyak directing tetapi hanya mendengarkan dan mendengarkan.  

Hari Sabtu, Ahad, Senin, Selasa adalah hari yang cukup menguras tenaga untuk memahami Shiro-San. Ia dibantu seorang penerjemah yang tak begitu “articulate” berbahasa Indonesia sehingga seorang peserta pernah merasa gusar mendengarnya.

Saya pun kadang tak memahami secara keseluruhan apa yang dijelaskan, dan pemahaman saya berasal dari respon para sutradara. Beberapa menganggap penerjemah itu sedang bernyanyi, dan bahkan tertidur dalam ruang kelas. Namun ia adalah penerjemah yang sabar. Ia menjelaskan berkali-kali hingga semua berseru ahhhh sambil mengangguk, tanda peserta mengerti apa maksudnya. Mereka lalu tertawa bersama.  

Hari Rabu hari pertunjukan. Banyak penonton yang sudah menunggu sejak siang. Shiro-San tidak sekasual hari sebelumnya. Hari itu, ia memakai blouse hitam yang sopan dan rok yang panjang meski cuaca amat terik. Para sutradara menyantaikan tubuh mereka sebelum pertunjukan. Menjelang sore mereka berbenah dan berhias seadanya.  Tak ada panggung yang didekorasi.

Panggung mereka terdiri dari reruntuhan situs peninggalan masa lalu. Sejak hari pertama para sutradara mengakrabi situs itu. Mereka menerima resonansi energi yang melekat pada tembok-tembok tua benteng Fort Rotterdam, dan mereka merasai suka duka energi yang terekam pada dinding itu. Ketika terik melemah dan batu-batu mulai mendingin, para penonton memasuki ruang registrasi dengan tertib. Ada suara pengiring yang diunggah dari website. Selanjutnya, seluruh penonton diajak menuju situs pertama untuk menyaksikan pertunjukan pertama.

Pertunjukan pertama berada di benteng bagian barat samping pintu masuk. Pada situs itu, berdiri tiang-tiang tembok dan bebatuan yang kokoh. Kelompok pertama menamai diri mereka Pallu Basa terdiri dari Ibet S.Yuga, Tya Setiawati, Muhammad Adil, dan Sartian Nuriamin. Mereka berkisah tentang perjumpaan pertama mereka saat mengunjungi Makassar di masa lalu.

Tentu saja yang di-highlight adalah kegusaran mereka pada mahasiswa yang sering sekali tantrum, yang mengekspresikan kemarahan mereka dengan batu-batu dan ban mobil yang terbakar atau toa toa yang mengeluarkan suara yang tak lagi ramah. Tak pernah berubah dari tahun ke tahun, hanya begitu-begitu saja. Kami yang hidup di Makassar mendengarnya dengan rasa sedikit malu. Kami yang tak cukup biasa menata bahasa, tak bisa memilih cara lain kecuali apa yang telah dilakukan pendahulu-pendahulu kami.

Usai kisah itu, penontonlah yang melakoni perjalanan. Mereka diajak para pemain teater jadi pelakon ziarah. Sambil menabuh gendang dan lantunan sholawat, mereka digiring meniti benteng kokoh Fort Rotterdam menuju situs kedua.

Di situs kedua, peziarah dijemput asap wangi dupa menuju dua zaman menunggu. Sebuah kuburan penanda waktu, kisah yang telah terkubur, dan yang berziarah mengunjungi masa lalu. Dua masa yang amat berbeda dikisahkan oleh Tamimi Rutjita, Wachid Adnan, Wendy HS dan Silvester Petara Hurit HS; eksistensi modern dengan gudget dan essensi masa lalu yang sakral.

Peziarah lalu diantar ke situs ketiga diiringi mantra dan wewangian dupa. Perjalanan jauh di bawah terik menuju situs ketiga. Di sana Verry Handayani, Arifin Bederan, Wulan Saraswati, dan Anwari telah mempersipkan adegan. Di gerbang situs ketiga, peziarah disambut percikan air penyucian dan si peramal kartu tarot.

Si peramal menantang peziarah untuk melihat masa depannya, tetapi masa depan bisa saja kematian. Siapa yang berani berjalan ke masa depan? Serunya sambil menebarkan kartu tarot untuk dipilih para peziarah. Beruntung, mereka diramal akan melakukan perjalanan, perjuangan, untuk menemukan cinta dan kebahagiaan. Keempat kata ini menjadi mantra mereka menuju situs terakhir.

Pertunjukan terakhir menyuguhkan dua waktu yang berbeda. Waktu yang serba cepat, tergesa, melelahkan, dan waktu masa lalu yang menjadi sumber energi. Peziarah yang sudah kelelahan berjalan diajak beristirahat dengan menghadirkan ruang dimana kebahagiaan itu bersumber.

Dengan musik, mereka dibawa berkunjung masa kanak-kanak yang membius keceriaan dan innosensia. Di situ segala masalah ditanggalkan dan pikiran diistirahatkan. Di bawah terang sore yang temaram, bersama lagu dari masa kecil, pertunjukan berakhir dan gelap menjemput peziarah.

Sore itu, peziarah mengalami terapi, menyaksikan waktu yang diabstraksikan dalam empat situs. Penonton diubah menjadi peziarah yang menikmati perjalan waktu yang sakral. Para peziarah beristirahat duduk di rerumputan.

Mereka membincangkan rasa yang mereka dapatkan, sensasi tubuh yang mereka alami, dan lagu yang masih terngiang. Seperti Teater Trem Shirotama di kota Sapporo, teater ini membujuk penonton untuk memaknai perjalanan sebagai ziarah. Bukan hanya pada perjalan teater sore itu, tetapi semua perjalan kita di dunia.

Semua yang kita temui, situs-situs, orang-orang dan kejadian-kejadian adalah bagian dari perjalanan yang seharusnya diterima, dipahami direnungkan dan dirayakan. Kita adalah hanyalah pengunjung di muka bumi, bukan pemilik bahkan penguasa yang akan selama-lamanya berada di sini. Selalu, tempat yang kita kunjungi menjadi tempat yang pertama yang kita lihat karena ia selalu hadir dalam waktu yang baru.

Pertunjukan Kelas Teater Shirotama, Tempat Ini adalah Tempat Pertama yang Pernah Kaulihat, mengandung unsur ketimuran yang sangat kental. Shirotama tidak melepaskan diri dari latar budayanya, kultur teater Jepang dan ajaran spiritualisme ketimuran. Noh dan Kyogen, salah satu teater Jepang yang sangat dihormati.

Teater Noh Kyogen dimainkan di tempat terbuka selama musim panas. Ia kental dengan supranatural dan spiritualisme, dan dimainkan untuk hiburan yang mendidik. Noh dan kyogen menawarkan keseimbangan yang harmoni antara yang formal dan yang komedia serta interaksi dengan penonton yang humoris.

Kelas Teater Shiro-San | Foto: Kala Teater

Sejak hari pertama kelasnya, Shirotama berusaha mengajak para sutradara memahami spirit dalam bunyi yang didapatkan dari jalan-jalan kota tua di Makassar dan bangunan tua. Metode ini teraplikasikan dalam teater Tempat Ini Adalah Tempat Pertama yang Pernah Kaulihat.  

Shirotama pun tidak melepaskan diri dari spiritualisme ketimuran ajaran Budhisme and Shinto. Kedua ajaran ini meyakini adanya energi atau roh pada setiap semesta yang patut dihormati. Harmonisasi dengan semesta seharusnya terjadi pada pertemuan yang ditakdirkan antara manusia dengan semesta. Teater ini mengajarkan keterbukaan, pemahaman, penerimaan dan perayaan pada setiap perjumpaan.

Ajaran ini nampak dalam pertunjukan teater yang diangkat oleh kelas teater Shirotama bersama enam belas sutradara Indonesia di benteng Fort Rotterdam. Ziarah adalah perjumpaan dengan waktu dan peristiwa seperti yang ditunjukkan kelompok Pallu Basa, (Ibet S.Yuga, Tya Setiawati, Muhammad Adil, dan Sartian Nuriamin), kelompok Rotterdam Rele (Silvester Petara Hurit, Tamimi Rutjita, Wachid Adnan, dan Wendy HS), kelompok Dam in Situ (Anwari, Arifin Baderan, Verry Handayani, dan Wulan Saraswati) dan kelompok Kuartet Studio (Nurul Inayah, Syamsul Fajri, Luna Kharisma, dan Sultan Mahadi Syarif).

Setelah mengikuti kelas teater dan pertunjukan Shiro-San, saya pulang kampung. Perjalanan panjang lima jam, jalan yang bergelombang, sopir yang ugal-ugalan, pengendara motor yang membahayakan dirinya, dan truk truk besar yang menegangkan seringkali saya keluhkan dan menyisakan lelah.

Hanya itukah yang kutemui dalam perjalanan? Tidak! Saya selalu bersiaga untuk memotret temaram fajar yang menjelma menjadi cahaya pagi di ufuk timur di balik pegunungan. Saya selalu melepas rindu pada udara pegunungan, gunung batu berlumut, rombongan anak sekolah mengejar pagi, para petani berbondong menggarap sawah dan detak kuda delman mengantar perempuan desa dari pasar. Sebenarnya saya menikmatinya tetapi tidak menyadarinya, belum bisa memberi makna, apalagi perenungan dan merayakannya. Kelas teater Shirotama membangkitkan kesadaran itu pada perjalanan kali ini.

Jika Anda seperti saya yang tak menikmati keindahan perjalanan, dan melupakan segala kenikmatan serta mengeluh dan kelelahan, mungkin anda harus mencoba menonton teater. Pada teater, penonton juga adalah pelakon yang melakukan sesi terapi demi terapi mengantar pada kesadaran akan menikmati keindahan yang apa adanya.

Wallahu a’lam. [T]

Yang Terhubung: Ancaman dan Harapan | Catatan Pentas Kala Teater
Pentas “AH” Teater Mandiri: Putu Wijaya Masih Hebat Dengan Cerita yang Membolak-Balik Pikiran
Menjelajahi Laku Jongkok dalam Koreografi “The (Famous) Squatting Dance : Jung Jung te Jung” di Teater Salihara
Tags: Kala TeaterTeaterteater jepang
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Moratorium Hotel di Bali: Seberapa Penting?

Next Post

Tradisi Maulud Desa Pengastulan: Setembak, Belebet, Taluh Sokok, dan Asyrakalan

Rosmah Tami

Rosmah Tami

Dr. Rosmah Tami, adalah Dosen Bahasa dan Sastra UIN Alauddin Makassar, Indonesia. Bidang spesialisasinya adalah Sastra Komparatif, Sastra Islam, Perempuan dan Sastra, Sosiologi Sastra, Semiotika dan Estetika Islam.

Related Posts

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails

Wisata Bahari di Negeri Maritim

by Chusmeru
May 31, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BERUNTUNG Indonesia memiliki alam yang penuh pesona. Laut menjadi salah satu kekayaan alam yang membanggakan. Luas wilayah laut Indonesia mencapai...

Read moreDetails

FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

by Agung Sudarsa
May 31, 2026
0
FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

Dari Kegelisahan Menuju Gerakan Moral BALI sedang berada pada persimpangan zaman. Di satu sisi, pulau ini menikmati pertumbuhan ekonomi yang...

Read moreDetails

Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

by IGP Weda Adi Wangsa
May 30, 2026
0
Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

CANDI Pustaka merupakan istilah yang sering dipakai oleh seorang rakawi (penyair sastra Jawa Kuno) untuk menyebut karya sastranya sebagai medium...

Read moreDetails
Next Post
Tradisi Maulud Desa Pengastulan: Setembak, Belebet, Taluh Sokok, dan Asyrakalan

Tradisi Maulud Desa Pengastulan: Setembak, Belebet, Taluh Sokok, dan Asyrakalan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
Khas

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co