25 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pentas “AH” Teater Mandiri: Putu Wijaya Masih Hebat Dengan Cerita yang Membolak-Balik Pikiran

I Nyoman Darma Putra by I Nyoman Darma Putra
July 30, 2023
in Ulas Pentas
Pentas “AH” Teater Mandiri: Putu Wijaya Masih Hebat Dengan Cerita yang Membolak-Balik Pikiran

Pentas "AH" Teater Mandiri di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Denpasar | Foto: Darma Putra

IKUT TERPUKAU bersama penonton saat menikmati pentas “AH” dari Teater Mandiri pimpinan sastrawan maestro Putu Wijaya dalam rangka Festival Seni Bali Jani di Ksirarnawa Taman Budaya, 29 Juli 2023. 

Kehebatan akting para pemain dan kekhasan lakon yang menteror mental gaya Putu Wijaya merupakan dua unsur utama penampilan Teater Mandiri yang membuatnya menjadi memukau selama hampir dua jam. Karena terpukau, waktu serasa cepat selesai atau terlampau tak terpantau.

Pentas “AH” Teater Mandiri di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Denpasar, 29 Juli 2023 | Foto: Darma Putra

Relatif sedikit yang datang menonton pertunjukan hebat itu. Di barisan kursi depan, ada Bunda Putri Suastini Koster dan beberapa sahabat lamanya di Teater Mini Badung. Di belakang itu, ada budayawan, dosen, mahasiswa yang berminat pada teater, atau merupakan sahabat dan fans sastrawan maestro Putu Wijaya. Di sebelah saya duduk, misalnya, ada ahli filsafat Tommy F. Awuy, yang pensiun di Bali sambil terus meneliti kebudayaan.

Pentas ditayangkan lewat Youtube, jadi sebagian lainnya menonton secara daring.

Sedikit atau banyak penontonnya, pentas “Ah” Teater Mandiri benar-benar menghipnotis audiens. Pentas diawali dengan monolog oleh Putu Wijaya sendiri, di sisi utara panggung, di atas kursi roda. Dalam kondisi usia dan kesehatan yang agak akut, Putu Wijaya masih hebat tampil dengan konten cerita yang membolak-balik pikiran pendengarnya. Istilah Putu adalah konten yang disampaikan berupa ‘teror mental’, tujuannya mengganggu orang untuk berfikir dan terus berfikir. 

Berhenti berpikir adalah sesuatu yang tidak diinginkan Putu Wijaya. Pesannya seolah bahwa siapa berhenti berpikir akan dilanda beku, sebaliknya siapa terus berfikir, inovasi kiranya akan hadir.

Pentas “AH” Teater Mandiri di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Denpasar, 29 Juli 2023 | Foto: Darma Putra

Lakon ‘Ah’ ditulis dan dimuat dalam buku kumpulan naskah drama Putu Wijaya berjudul Tontonan Teror Mental (2021), diterbitkan dalam rangka HUT ke-50 Tahun teater Mandiri. Lakon “AH” tertuang dalam 42 halaman, dibagi ke dalam beberapa babak. Lewat sahabat dramawan Putu Satria, saya mendapat bingkisan buku ini dari Putu Wijaya. Tahun 1992/3 saya pernah jumpa dan ditugaskan mengantar Putu Wijaya di Sydney oleh Prof. Peter Worsley, terutama menjelang melakukan rekaman wawancara untuk korpus data pengajaran bahasa Indonesia untuk penutur asing di Australia.

Ketika beliau masih sehat, Putu sesekali bertukar kabar dan pokok pikiran lewat SMS/WA. Kalau dia ada karya yang terbit, atau link video yang layak saya sebar untuk mahasiswa, Putu Wijaya suka-cita membagi untuk saya teruskan.

Lakon ‘Ah’ ditulis dan dimuat dalam buku kumpulan naskah drama Putu Wijaya berjudul Tontonan Teror Mental (2021) | Foto: Darma Putra

Sekitar 20 hari sebelum pentas ‘AH’, Putu Wijaya juga mengirim flyer ke WA saya untuk saya teruskan ke kawan-kawan atau mahasiswa lewat berbagai grup WA. Dalam WA itu, Putu menulis “Senang sekali bila berkenan hadir”. Dalam situasi kesehatan yang terbatas, tulisan WA sepotong itu sangat berharga.

Kembali ke “Ah”. Kisah aktual, tema universal, dan pemain yang berpengalaman membuat pentas Tetaer Mandiri senantiasa memukau.

Teater Mandiri sudah tampil beberapa kali di arena Festival Seni Bali Jani, membuat festival yang dirintis oleh Bunda Putri Suastini Koster ini berkelas. 

Pertunjukan Puncak

Dramawan, pemain, penulis naskah, dan sutradara teater terkemuka Bali, Putu Satria Kusuma dalam status FB-nya menyampaikan, Teater Mandiri menjadi pertunjukan puncak Festival Bali Jani V melalui lakon “AH”

Permainan yang cepat dengan teknik bermain yang cukup rumit dibawakan secara apik oleh para aktor dari awal adegan sampai akhir. Pingpong dialog pendek pendek sambil melakukan aktivitas yang disuguhkan oleh dokter, pembantunya, kakek, lalu ke dukun, kepala suku, anak perempuan, anak kepala suku, menunjukan kematangan aktor yang mumpuni, yang hanya bisa diekspresikan dengan keren oleh aktor-aktor yang sudah terlatih.

Selain itu, sentuhan surealis yang mengingatkan pada gaya teater rakyat hadir menarik dan unik dalam adegan telepon-menelpon kakek dan cucunya si dokter yg bertugas di pedalaman. Si cucu yg menerima telepon dari ruang berbeda bisa nyelonong masuk meninggalkan ruangnya yg jauh lalu masuk ke ruang kakek untuk memutus pembicaraan. Ini menarik dan dahsyat.

“Bagi saya Putu Wijaya sebagai penulis lakon dan sutradara melalui pertunjukan ini memberi pelajaran yang berharga untuk semua pelaku seni teater, khususnya di Bali, tentang teknik bermain, dan capaian capaian artitistik pengadegan teater,” tulis Putu Satria.

Di akhir komentarnya, Putu Satria yang banyak terlibat dan membantuk suksesnya Festival Bali Jani menyampaikan: “Suksma Bli Putu Wijaya dan semua anggota Teater Mandiri. Suksma kepada Ibu Ni Putu Putri Suastini Koster, Kadisbud Bali, dan semua kurator atas pertunjukan ini.”

Tahun 2019, Putu Wijaya diundang tampil dan saat itu mereka mementaskan ‘kisah klasik’ “Bila Malam Bertambah Malam”. Tak tanggung-tanggung, pemain yang muncul memperkuat waktu itu adalah Ninik L. Karim, pemain teater yang sukses menjadi bintang film, antara lain main dalam film “Ibunda”.

Dari kiri: Putri Suastini Koster, Dewi Pramunawati (istri Putu Wijaya), Putu Wijaya, dan Putu Satria Kusuma | Foto FB Putu Satria

Tahun 2018, Putu WIjaya dan Teater Mandiri menampilkan “JPRUTTT” pentas dalam dalam rangka Proklamasi Kemerdekaan 19 Agustus 2018. Lakon juga dibangun dengan tema ‘teror mental’ itu menyenggol, menyayat, mengkritik berbagai hal dalam konteks, politik, kejujuran, keterbukaan, dan juga kepalsuan.

Menurut penyair sastrawan Warih Wisatsana, salah seorang kurator Festival Seni Bali Jani, Putu Wijaya dan Teater Mandiri-nya setiap tahun hadir, selama 5 tahun. 

“Teater Mandiri sudah tak  ada soal teknis lagi, perangkat aktor sudah organis dengan diri masing-masing,” ujar Warih. 

Warih menambahkan,bahwa bagi Putu Wijaya absurditas bukan lagi kehampaan ala Albert Camus, Sarte dll sudah menjadi bagian kekinian kita kini. “Dan Putu berhasil menghadirkannya ke panggung sebagai pengalaman penciptaan yang mempesona,” ungkap Warih.

Ninik L Karim (kanan) dalam “Bila Malam Bertambah Malam”

Untuk Bali, Putu Wijaya (kelahiran Puri Anom, Tabanan, 11 APRIL 1944) yang rendah hati dan murah hati itu selalu sedia tampil baik berbagi mutiara sastra dan budaya. Dulu, saat masih sehat, dia sering datang ke Bali baik untuk seminar, diskusi, atau syuting film. Di sela-sela kesibukan acara pokoknya, Putu juga sudi memenuhi fans atau mahasiswa untuk berbagi. 

Dalam pentas di Taman Budaya 29 Juli 2023, saya terharu ketika usai pentas, tatakala semua kru diperkenalkan, tersebut pendukung Teater Mandiri dari Bali. Di antara mereka, tampak mahasiswa kami ari Prodi Sastra Indonesia FIB Unud. Senang melihat mereka bergabung dan yakin akan bisa belajar banyak dari Putu WIjaya dan Teater Mandiri.

Suatu kali dulu awal 2000-an, kami mengundangnya ke kampus Fakultas Sastra dan di sana dia membaca cerpen, monolog, membaca cerpen “Merdeka”, isinya juga teror, tentang seorang anak bernama “Merdeka” yang berjalan terbalik karena dia memasang kelamin almarhum ayahnya di dahi, sebuah teror terhadap pikiran normal. Dari sana, berbagai tafsir tentang norma, nilai, kebenaran diungkapkan, itulah proses berfikir-dan berfikir yang didambakan Putu agar selalu terjadi pada setiap orang.

Bintang dan kru Mandiri, termasuk mahasiswa Sastra Indonesia FIB Unud | Foto: Darma Putra

Selain selalu ditemani istrinya, Putu juga dalam pentas-pentas di Bali belakangan ini, didampingi anaknya, Taksu Wijaya. Taksu memiliki bakat hebat, senantiasa memainkan (salah satu peran) tokoh utama, termasuk saat mementaskan “Bila Malam Bertambah Malam” (2019) dan “AH” (2023).

Dalam usianya memasuki 80 tahun dan kondisi fisik yang rentan seperti terlihat mesti memakai kursi roda, Putu Wijaya terus berkarya, menulis cerita dengan satu jari di HP, terus menyuburkan sawah ladang kehidupan sastra budaya teater Indonesia.

Sehari setelah pementasan, Putu Wijaya yang rendah hati itu pun kembali berkabar ringaks lugas: “Matur sukma atas kehadiran dan apresiasinya. Salam hormat.”

Saya membalasnya di WA dan di sini: Salam hormat kembali Putu Wijaya. Sehat selalu happy senangtiasa teriring doa PUJA untuk Putu Wijaya. [T]

Suka-cita usai pentas, penulis (kiri) dan penyair kurator Warih Wisatsana (baju kotak-kotak) | Foto Diah Suthari

  • BACA artikel ULAS PENTAS yang lain
“Nguber Berita ka Nusa”: Perpaduan antara Sastra, Komedi, dan Realita
Menjelajahi Laku Jongkok dalam Koreografi “The (Famous) Squatting Dance : Jung Jung te Jung” di Teater Salihara
Jejak Teater Orok di Singaraja, Larut dalam Peran dan Kesan  
Tags: Festival Seni Bali JaniPutu WijayaTeaterTeater Mandiri
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Gamelan Mulut (Gamut) Mengocok Perut  Orang Eropa

Next Post

Menyuarakan Isu Lingkungan melalui Tari Kontemporer  “Sambil Menyelam Minum Plastik”

I Nyoman Darma Putra

I Nyoman Darma Putra

Juri Hadiah Sastera Rancage untuk Bali sejak 2000. Dia adalah dosen Prodi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana. Bukunya yang berkaitan dengan sastra Bali modern adalah Tonggak Baru Sastra Bali Modern (2010). Sejak 2011, dia menjadi pemimpin redaksi Jurnal Kajian Bali, awalnya teakreditasi Sinta-2, sejak 2024 terindeks Scopus Q1, dan kemudian Sinta-1.

Related Posts

Sinaps Ingatan dari Pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot

by Asmaran Dani
September 4, 2026
0
Sinaps Ingatan dari Pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot

Catatan pendek, sebagai pengantar diskusi menonton ulang dokumentasi pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot melalui Youtube, Sabtu 05 Septemper 2026 di...

Read moreDetails

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

by Yanik Parta
August 24, 2026
0
Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

SEBAGAI penari, aku bergerak dari kode satu ke kode gerak lainnya, sementara ayahku yang merupakan seorang pematung, bergerak dalam duduknya....

Read moreDetails

Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

by Dewa Made Ari Kurniawan
August 4, 2026
0
Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

Di Ambang Dualitas Eksistensial Dalam ruang pertunjukan yang temaram, pendar cahaya proyektor perlahan menghidupkan bidang panggung. Karya pertunjukan bertajuk DWI...

Read moreDetails

Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

by Dewa Purwita Sukahet
July 31, 2026
0
Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

MALAM itu, 20 Juli 2026, jam di ponsel menunjukan pukul 18:52 Wita, di depan gedung Ni Ketut Reneng, kampus Institut...

Read moreDetails

Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

by Anselmus Dore Woho Atasoge
July 31, 2026
0
Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

MALAM pembukaan Festival Bale Nagi 2026 di Taman Kota Felix Fernandez, Larantuka, Flores Timur, NTT, menyuguhkan sebuah pertunjukan yang memicu...

Read moreDetails

Fragmentari “Jro Luh” dan Sinkronisitas: Sebuah Pembacaan Estetika atas Pertemuan Dramaturgi dan Fenomena Alam

by I Gusti Made Darma Putra
July 28, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

PANGGUNG seni pertunjukan pada dasarnya merupakan ruang rekayasa artistik. Di dalamnya, setiap unsur dirancang dengan cermat, struktur dramatik disusun melalui...

Read moreDetails

Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

by I Wayan Sujana Suklu
July 25, 2026
0
Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

  Tubuh berjalan pelandi antara bukit, rumah, dan laut yang tidak selesai. Angin membawa nama-namayang pernah singgah di pelabuhan,lalu hilang...

Read moreDetails

Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

by Chandra Manikan
July 22, 2026
0
Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

Asap mengepul perlahan hingga menutupi sebagian panggung, sementara cahaya merah merambat dan menerangi Ocha Diartini yang saat itu berperan sebagai...

Read moreDetails

Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

by Satria Aditya
July 20, 2026
0
Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

PARADE Monolog dalam Festival Seni Bali Jani 2016 yang digelar pada 14 Juli  di Gedung Ksirarnawa, dibuka pukul 17.00 Wita,...

Read moreDetails

Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

by Putu Intan Juliantika
July 19, 2026
0
Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

 “Teng! Tong! Teng! Tong! Teng! Tung! Pagi tiba alarm berbunyi...” Itu adalah suara dering alarm saya pukul tiga pagi yang...

Read moreDetails
Next Post
Menyuarakan Isu Lingkungan melalui Tari Kontemporer  “Sambil Menyelam Minum Plastik”

Menyuarakan Isu Lingkungan melalui Tari Kontemporer  “Sambil Menyelam Minum Plastik”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka
Ulas Musik

Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka

DI antara sembilan lagu yang mengisi album ketiga Barasuara, Jalaran Sadrah, ada satu nomor yang tidak berusaha tampil paling riang...

by Putu Gangga Pradipta
September 25, 2026
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran
Esai

Tetap Sehat dan Tetap Berguna Saat Menua

SEMUA orang ingin hidup panjang. Salah satu sosok yang sering menjadi inspirasi ketika membicarakan umur panjang adalah Dr. Shigeaki Hinohara,...

by Dr. dr. Ketut Putra Sedana, Sp.OG
September 25, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Topeng yang Dianggap Wajah: Mencari Keaslian Diri di Zaman Citra

Pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri: apakah masih ada manusia yang sungguh-sungguh menjadi dirinya sendiri? PERTANYAAN ini terdengar sederhana, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
September 25, 2026
Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan
Esai

Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

SERINGKALI orang orang memulai suatu kebijakan berdasarkan aspirasi normative dan ideologi. Dimana yang menjadi fokus utama adalah bagaimana penerapan ini...

by Doni Sugiarto Wijaya
September 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Takut Korupsi? Kayak Anak Kecil Aja

BELAKANGAN ini banyak berita soal korupsi yang membuat khawatir. Kalau KPK sukses menangkapi oknum yang melanggar hukum maka korupsi sudah...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 24, 2026
Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12
Ulas Film

Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12

SAYA saya masih duduk di bangku SMP, saya pernah bertanya pada diri sendiri, “Apa yang akan terjadi jika saya bisa...

by Yoga Wismantara
September 24, 2026
Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998
Ulas Film

Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998

PERKEMBANGAN ekonomi dalam masyarakat biasanya memicu berbagai perubahan pada pasar yang kemudian berdampak pada kehidupan masyarakat dan lingkungan di sekitarnya....

by Arya Dhamma Nanda
September 24, 2026
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar
Khas

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

by Jaswanto
September 24, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
Rendez-vous Rasa 2026 Hadir di Bali, Perkuat Pertukaran Pengetahuan Gastronomi Prancis–Indonesia
Budaya

Rendez-vous Rasa 2026 Hadir di Bali, Perkuat Pertukaran Pengetahuan Gastronomi Prancis–Indonesia

DENPASAR | TATKALA.CO -- Gastronomi Prancis dan Indonesia akan bertemu di Bali melalui rangkaian kegiatan Rendez-vous Rasa: France–Indonesia Gastronomy Week...

by tatkala
September 23, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
Tut Karben Raih Suara Terbanyak di Pilkel Guwang, Gagasan Kini Menanti Pembuktian
Politik

Tut Karben Raih Suara Terbanyak di Pilkel Guwang, Gagasan Kini Menanti Pembuktian

PEMILIHAN Perbekel Desa Guwang 2026 telah usai. I Ketut Karben Wardana meraih suara terbanyak dalam pemungutan suara yang berlangsung pada...

by Dede Putra Wiguna
September 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co