22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menyuarakan Isu Lingkungan melalui Tari Kontemporer  “Sambil Menyelam Minum Plastik”

Arif Wibowo by Arif Wibowo
July 30, 2023
in Ulas Pentas
Menyuarakan Isu Lingkungan melalui Tari Kontemporer  “Sambil Menyelam Minum Plastik”

Tari Kontemporer “Sambil Menyelam Minum Plastik” | Foto: Ist

PANGGUNG PERTUNJUKAN diawali dengan eksperimen musik yang menarik, mengawinkan unsur-unsur bebunyian musik elektrik dan gamelan Bali. Sesuai dengan judulnya, bebunyian plastik juga tak luput menjadi eksplorasi komposisi musik untuk mengiringi tari kontemporer “Sambil Menyelam Minum Plastik” ini. Judul yang cukup provakatif dan mengundang keinginantahuan penonton di panggung amphiteater Kalangan Ayodya kompleks Taman Budaya Bali, Rabu (26/7/23) pada rangkaian Festival Bali Jani yang ke-5.

Sebagai koreografer muda, I Gede Rudiana Putra, alumnus ISI (Intititut Seni Indonesia) Yogyakarta yang saat ini juga mengajar di ISI Denpasar itu mencoba memberanikan diri menggarap tari kontemporer dengan kekuatan narasi dan isu-isu kontekstual di sekitarnya. “Sambil Menyelam Minum Plastik” ini adalah salah satu dari beberapa karyanya yang mengangkat realitas kekinian.

”Untuk saat ini saya memang ingin memfokuskan diri untuk menggarap tari-tari kontemporer yang bersumber dari fenomena keseharian di sekitar, terutama isu-isu kekinian yang perlu disampaikan kepada publik dengan menguatkan unsur narasi maupun eksplorasi gerak tari itu sendiri atau kita sebut Lyrical Dance,” ujarnya. Ia juga menambahkan, tak semua tarian di Bali harus ditampilkan dalam format tradisi.

Pertunjukan tari ini secara garis besar menampilkan dua babak bagian. Diawali dengan kehidupan laut bawah laut dengan keragaman hayatinya melalui fragmen tari. Secara silih berganti para penari menghadirkan keragaman hayati laut seperti terumbu karang, ikan-ikan dan bulu babi melalui ekspresi gerak tari. Peran bulu babi sengaja ditampilkan secara menonjol melalui kehadiran 4 penari dan 1 sebagai vocal point yang juga membawakan monolog cerita.

Mengenakan kostum yang terbuat dari batang-batang lidi sebagai gambaran bulu babi yang berjalan di antara karang-karang laut. Olah gerak begitu dinamis, mengeksplorasi gerak tubuh penari dalam keadaan duduk dengan tangan dan kaki sebagai penopang pergerakan dari satu titik ke titik lain. Ekplorasi gerakan duduk, jongkok hingga setengah berdiri memberikan warna tersendiri pada bagian ini. Penonton pun bisa menangkap dengan mudah reperesentasi bulu babi di lautan.

Pada bagian yang kedua, menghadirkan rajutan cerita dalam sebuah  pertunjukan kehidupan laut yang mulai terganggu oleh kehadiran plastik. Dua sosok penari dalam balutan kantong plastik muncul memecah kesunyian panggung.

Gerakan tubuh penari pun menghasilkan bunyi plastik yang menghadirkan musik latar yang unik. Pergumulan dua penari dalam gerak itu bagaikan dua kantong plastik yang terombang-ambing arus lautan. Kemudian delapan penari keluar dengan kostum jas hujan plastik. Bersamaan dengan itu, seorang penari membawa seekor miniatur ikan. Seekor ikan itupun seakan terjebak oleh sampah-sampah plastik yang mendominasi lautan.

Menurut Rudiana, tarian ini sebenarnya sudah ia garap sejak 6 bulan lalu dengan durasi kurang lebih 25 menit. Kemudian ketika tampil di Festival Bali Jani ini, ada beberapa hal yang perlu disesuaikan terutama upaya memperpanjang durasinya menjadi 45 menit. Maka sebagai koreografer, ia perlu merajut ulang tari tanpa menghilangkan esensi awal tarian ini dihadirkan.

“Jadi, bagian awal tarian yang menghadirkan bulu babi itu merupakan upaya kami menambahkan cerita dalam garapan ini. Saya mencari ide yang pas untuk mengaitkan isu plastik dan kehidupan hayati laut. Maka bulu babi menjadi representasi yang cukup nyambung,” ujarnya.

Menurutnya, Bulu babi cenderung diabaikan dan dihindari oleh manusia karena dianggap berbahaya. Namun keberadaannya juga memiliki peran yang sangat penting bagi ekosistem laut. Hampir sama dengan fungsi plastik yang tak bisa dihindari dalam kehidupan masyarakat moderen. Sehingga kita perlu bijak dalam memanfaatkan plastik”.

Mengikuti arahan panitia festival, seluruh partisipan yang terlibat dalam penciptaan karya diupayakan untuk meminimalisir penggunaan bahan sekali pakai. Maka, Bli Rudiana  memanfaatkan jas hujan plastik yang tidak sekali pakai dan plastik ukuran jumbo yang biasa digunakan oleh pedagang canang membungkus dagangannya.

Perlu Ruang yang mendukung Garapan Pertunjukan Tari Kontemporer

Penulis sebagai penikmat pertunjukan sangat mengapresiasi upaya Bli Rudiana dalam menghadirkan garapan tari yang menghadirkan gagasan kritis dalam membaca fenomena keseharian. Pada momen obrolan bersamanya, Ia menyampaikan beberapa pandangan mengenai karya-karya tari kontemporer di Bali.

Sebagai dosen muda, ia ingin memacu tumbuhnya karya-karya tari kontemporer yang kritis akan realitas kekinian di Bali. Ia mengaku, tak mudah memulainya. Karena, kuatnya kultur tari tradisi di Bali, masyarakat pun menganggap garapan tari kontemporer itu susah dimengerti dan terlalu abstrak.

Selepas menyelesaikan studi di Jogja, ia mengabdikan diri di ISI Denpasar dengan membawa ide-ide yang tak bisa langsung ia sampaikan kepada mahasiswanya. “Maka saya harus pelan-pelan mengenalkan tari kontemporer ini kepada mahasiswa”, tuturnya. Ia juga menambahkan sangat membuka diri akan kritik dan masukan pada karyanya itu.

Menurutnya, masih ada beberapa elemen yang perlu diperbaiki dalam karya pertunjukan tari ini, salah satunya adalah setting panggung. Karpet merah pada lantai panggung  kurang mendukung penyajian pertunjukan yang sebaiknya menggunakan warna gelap yang netral dengan sorotan cahaya lampu. Apalagi waktu pertunjukan di sore hari, atap transparan yang tembus cahaya matahari cukup mengaburkan penataan cahaya yang telah didesain.

Sambil Menyelam Minum Plastik, berangkat dari kegelisahan atas fenomena konsumsi plastik yang sulit dilepaskan dari keseharian masyarakat kita hari ini.. Sebagai pulau yang mengandalkan industri pariwisata, produksi sampah yang dihasilkan menyembabkan Bali menghadapi permasalahan sampah yang sulit dihindari.

Riset terbaru pada (2019) yang dikutip dalam sebuah laporan di situs Mongabay, melaporkan bahwa produksi sampah di Bali mencapai 4.281 ton per hari, dan 11 persennya mengalir hingga ke laut. Separuh sampah-sampah itu dihasilan di 3 wilayah pusat industri Pariwisata yaitu Denpasar, Badung dan Gianyar.

Upaya pembatasan penggunaan kantong plastik sekali pakaipun dilakukan pemerintah provinsi dengan melahirkan Peraturan Gubernur Provinsi Bali Nomor 97 tahun 2018 yang telah diberlakukan sejak pertengahan 2019 lalu.

Memang menjadi sebuah ironi di tengah Bali yang memantapkan diri sebagai Pulau Surga, namun masih menyisakan duka bagi ekosistem bahari akibat penggunaan dan pengelolaan sampah plastik yang tidak terkontrol dengan baik.

Pendekatan yang dilakukan oleh Bli Rudiana dalam menciptakan koreografi kontemporer yang peka dengan fenomena kekinian Bali yang cukup kompleks itu menjadi daya tawar yang menarik kesempatan koreografer muda lain untuk menggelutinya.

Selain menciptakan inovasi karya tari estetik, karya tari kontemporer juga diharapkapkan dapat memberikan dampak dan kesadaran yang positif bagi penikmat seni pertunjukan tari dan masyarakat pada umumnya. Pementasan Sambil Menyelam Minum Plastik ini layak menjadi panggung pertunjukan yang menggugah kesadaran baru bagi penikmatnya itu. [T]

  • BACA artikel seni dan budaya lainnya dari penulis ARIF WIBOWO
Pentas “AH” Teater Mandiri: Putu Wijaya Masih Hebat Dengan Cerita yang Membolak-Balik Pikiran
“Nguber Berita ka Nusa”: Perpaduan antara Sastra, Komedi, dan Realita
Menjelajahi Laku Jongkok dalam Koreografi “The (Famous) Squatting Dance : Jung Jung te Jung” di Teater Salihara
Tags: Festival Seni Bali JaniFestival Seni Bali Jani 2023kesenian balitari kontemporer
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pentas “AH” Teater Mandiri: Putu Wijaya Masih Hebat Dengan Cerita yang Membolak-Balik Pikiran

Next Post

Suara-suara “Liyan” Setelah 25 Tahun Reformasi: Membaca Kembali Karya-karya Ayu Utami

Arif Wibowo

Arif Wibowo

Lulusan Sarjana Arsitektur yang tertarik dengan isu-isu ketimpangan sosial dan lingkungan perkotaan sehingga lebih memilih untuk terlibat pada praktik arsitektur lansekap yang berfokus pada perancangan ruang publik dengan harapan semakin banyak ruang hijau di kawasan kota. Selain itu ia juga gemar menikmati seni tari, pertunjukan dan musik tradisi khususnya di Jawa dan Bali.

Related Posts

Sinaps Ingatan dari Pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot

by Asmaran Dani
September 4, 2026
0
Sinaps Ingatan dari Pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot

Catatan pendek, sebagai pengantar diskusi menonton ulang dokumentasi pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot melalui Youtube, Sabtu 05 Septemper 2026 di...

Read moreDetails

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

by Yanik Parta
August 24, 2026
0
Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

SEBAGAI penari, aku bergerak dari kode satu ke kode gerak lainnya, sementara ayahku yang merupakan seorang pematung, bergerak dalam duduknya....

Read moreDetails

Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

by Dewa Made Ari Kurniawan
August 4, 2026
0
Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

Di Ambang Dualitas Eksistensial Dalam ruang pertunjukan yang temaram, pendar cahaya proyektor perlahan menghidupkan bidang panggung. Karya pertunjukan bertajuk DWI...

Read moreDetails

Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

by Dewa Purwita Sukahet
July 31, 2026
0
Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

MALAM itu, 20 Juli 2026, jam di ponsel menunjukan pukul 18:52 Wita, di depan gedung Ni Ketut Reneng, kampus Institut...

Read moreDetails

Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

by Anselmus Dore Woho Atasoge
July 31, 2026
0
Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

MALAM pembukaan Festival Bale Nagi 2026 di Taman Kota Felix Fernandez, Larantuka, Flores Timur, NTT, menyuguhkan sebuah pertunjukan yang memicu...

Read moreDetails

Fragmentari “Jro Luh” dan Sinkronisitas: Sebuah Pembacaan Estetika atas Pertemuan Dramaturgi dan Fenomena Alam

by I Gusti Made Darma Putra
July 28, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

PANGGUNG seni pertunjukan pada dasarnya merupakan ruang rekayasa artistik. Di dalamnya, setiap unsur dirancang dengan cermat, struktur dramatik disusun melalui...

Read moreDetails

Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

by I Wayan Sujana Suklu
July 25, 2026
0
Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

  Tubuh berjalan pelandi antara bukit, rumah, dan laut yang tidak selesai. Angin membawa nama-namayang pernah singgah di pelabuhan,lalu hilang...

Read moreDetails

Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

by Chandra Manikan
July 22, 2026
0
Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

Asap mengepul perlahan hingga menutupi sebagian panggung, sementara cahaya merah merambat dan menerangi Ocha Diartini yang saat itu berperan sebagai...

Read moreDetails

Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

by Satria Aditya
July 20, 2026
0
Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

PARADE Monolog dalam Festival Seni Bali Jani 2016 yang digelar pada 14 Juli  di Gedung Ksirarnawa, dibuka pukul 17.00 Wita,...

Read moreDetails

Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

by Putu Intan Juliantika
July 19, 2026
0
Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

 “Teng! Tong! Teng! Tong! Teng! Tung! Pagi tiba alarm berbunyi...” Itu adalah suara dering alarm saya pukul tiga pagi yang...

Read moreDetails
Next Post
Suara-suara “Liyan” Setelah 25 Tahun Reformasi: Membaca Kembali Karya-karya Ayu Utami

Suara-suara “Liyan” Setelah 25 Tahun Reformasi: Membaca Kembali Karya-karya Ayu Utami

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co