17 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Moratorium Hotel di Bali: Seberapa Penting?

Chusmeru by Chusmeru
September 19, 2024
in Esai
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Chusmeru

MENTERi Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Panjaitan dan Menteri Pariwisata dan Ekononomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Uno satu nada dan satu irama tentang moratorium pembangunan hotel di Bali.

Kedua menteri itu memandang Bali sudah tidak baik-baik saja. Luhut Panjaitan sempat mengeluarkan peringatan keras agar tidak ada lagi lahan persawahan yang digunakan untuk membangun akomodasi pariwisata. Tidak ada lagi orang membuat vila di sawah. Sawah biarlah sawah, supaya Bali jadi Bali yang unik (detikbali, 3 September 2024).

Selain itu, Luhut juga meminta agar pihak imigrasi dan Kepolisian Daerah Bali lebih tegas menyikapi turis asing yang berulah di Bali. Turis yang seperti itu harus langsung dideportasi dan dimasukkan ke daftar hitam agar tidak bisa kembali ke Indonesia.

Senada dengan Luhut, Menparekraf Sandiaga Uno bakal melakukan moratorium hotel untuk menjaga kualitas pariwisata Indonesia. Menurutnya, pemerintah sedang menggodok sejumlah kebijakan untuk menjaga dan meningkatkan kualitas pariwisata di Tanah Air. Salah satunya penghentian konversi lahan pertanian hingga moratorium pembangunan hotel (CNBC Indonesia, 2 September 2024).

Menurut Sandiaga Uno, moratorium pembangunan hotel berdasarkan potensi kepadatan yang membuat situasi tidak aman dan tidak nyaman, khususnya di Bali Selatan. Terutama pembangunan hotel yang tidak memiliki aspek keberlanjutan serta penghentian konversi dari lahan pertanian menuju lahan komersial.

Tertinggal Kereta

Apa yang akan dilakukan Menko Marves dan Menparekraf sesungguhnya bukan barang baru. Sejak awal masyarakat, akademisi, dan pelaku pariwisata di Bali sudah mengusulkan moratorium pariwisata, termasuk pembangunan hotel dan sengkarut konversi lahan.

Gagasan kedua menteri itu merupakan kebijakan yang terlambat. Ibaratnya, Luhut dan Sandiaga tertinggal kereta cepat pariwisata. Bali dan pariwisatanya seperti kereta cepat yang berjalan tanpa masinis, zig-zag, banyak melenceng.

Sinyal dan rambu-rambu juga diabaikan kereta cepat pariwisata itu. Sementara penumpang kereta begitu berjubel. Akibatnya, pariwisata Bali menjadi sarat beban. Laju perkembangannya tak terkendali, dan dalam banyak kasus sering terjadi benturan kebijakan dan kepentingan.

Meski terlambat, kebijakan moratorium hotel dan larangan konversi lahan masih dianggap penting, karena dapat mencegah pariwisata Bali semakin porak-poranda. Kuncinya bukan ada pada kedua menteri yang sebentar lagi pensiun dari Kabinet Jokowi. Masyarakat, pemerintah daerah Bali, dan seluruh pemangku kepentingan pariwisata Bali perlu dilibatkan.

Dari Hulu ke Hilir

Memperbaiki pariwisata Bali yang kian menjurus rusak diperlukan langkah yang tepat, bukan hanya taktis semata. Kebijakan yang strategis juga perlu dirancang. Itu semua harus dimulai dari hulu, bukan mengatasi hilirnya saja.

Moratorium hotel adalah kebijakan di hilir yang dilakukan dengan keterpaksaan setelah Bali menyandang banyak masalah. Sementara kajian di hulunya tidak dilakukan sejak awal. Ini yang membuat pariwisata Bali seolah sulit untuk dibenahi.

Moratorium itu penting. Konservasi lahan pertanian juga penting. Akan tetapi lebih penting jika sebelum kebijakan itu diterapkan, dilakukan dulu kajian tentang daya dukung pariwisata Bali. Berapa sesungguhnya kemampuan Bali menerima kunjungan wisatawan dengan luas wilayahnya yang dimanfaatkan untuk bisnis pariwisata?

Berapa jumlah hotel dan vila, berapa jumlah kamar yang ideal bagi Bali? Kajian daya dukung seperti itu hingga kini belum dilakukan. Akibatnya, pembangunan hotel dan vila setiap tahun terus bertambah. Jumlah kamar hotel juga terus bertambah. Dan ketika Bali dituding overtourism, banyak pihak yang menampiknya; dengan alasan ketersediaan kamar hotel di Bali masih banyak.

Setali tiga uang dengan moratorium hotel, konversi lahan juga harus dikaji dari hulunya. Jika banyak persawahan yang hilang karena bisnis pariwisata, maka pertanyaannya mengapa masyarakat menjual sawahnya? Mengapa begitu mudah Subak disulap menjadi resort pariwisata? Sejauh mana pemerintah memiliki perangkat hukum yang kuat untuk melindungi Subak?

Jika sekarang baru berpikir untuk membuat aturan konversi lahan, maka sudah terlambat. Meski aturan itu sangat penting bagi perlindungan lahan pertanian maupun perkebunan agar tidak beralih fungsi menjadi lahan pariwisata.

Mentalitas Pejabat dan Masyarakat

Kondisi pariwisata Bali yang kian parah tak terlepas dari mentalitas pejabat pusat dan daerah, serta masayarakat Bali sendiri. Ketegasan pejabat yang berwenang dalam kebijakan pembangunan pariwisata sangat diragukan. Termasuk juga keseriusan untuk menata pariwisata Bali agar lebih baik.

Betapa tidak? Bagaimana mungkin wisatawan asing bisa dengan leluasa melakukan bisnis pariwisata di Bali dalam jangka waktu lama? Bagaimana bisa wisatawan asing memiliki vila dan menjualnya dengan harga murah?

Di mana ketegasan pejabat ketika tebing kapur dikeruk untuk pembangunan vila. Mengapa setelah viral di media, baru dilakukan upaya untuk menghentikan pembangunan itu? Celakanya, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif sandiaga Uno baru akan mengumpulkan data-data terkait pembangunan vila itu. Selama ini ke mana saja sang menteri itu?

Apa yang dilakukan pejabat pusat dan daerah ketika 5 dari 1.595 subak di Bali hilang pada tahun 2018? Data yang dimiliki Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Bali sungguh menyeramkan. Masifnya pembangunan dan alih fungsi lahan pertanian mengakibatkan sekitar 2.000 hektare sawah di Bali lenyap setiap tahun (detiktravel, 10 September 2024).

Konglomerat dan beberapa pejabat pusat di kementerian memiliki hotel dan vila di Bali. Harapannya, mereka memiliki prosedur perizinan pembangunan yang benar, tidak melanggar tata ruang, dan mendukung keberlanjutan lingkungan. Andai pun tidak, apakah pejabat di Bali berani membatalkan perizinan dan menghentikan proses pembangunannya?

Mentalitas masyarakat pun patut dipertanyakan. Wacana moratorium yang dilontarkan pemerintah belum tentu didukung semua masyarakat, lantaran masih ada masyarakat yang menganggap bahwa moratorium itu bertentangan dengan hak perdata masayarakat, bertentangan dengan kebebasan masyarakat untuk memanfaatkan dan menjual lahannya.

Masih ada warga yang dengan berbagai alasan menjual lahan miliknya kepada investor untuk dibangun fasilitas pariwisata. Mereka tak berpikir tentang arti penting moratorium, tak mau tahu arti penting konservasi lahan.

Bagi mereka yang penting dapat uang, bisa buat rumah mewah, beli mobil bagus; dan ketika lahan yang mereka jual berdampak buruk pada lingkungan dan pariwisata, itu bukan urusan mereka. Pun ketika lahan mereka ternyata menjadi milik bule yang berbisnis di Bali, mereka tak peduli.

Sejatinya, masalah penting terkait moratorium dan konversi lahan bukan semata tekanan terhadap lingkungan. Lebih jauh lagi, berkaitan dengan citra pariwisata Bali dan Indonesia di mata dunia. Ini bisa merugikan bagi industri pariwisata Indonesia, namun akan menguntungkan bagi negara lain yang menjadi kompetitor Indonesia dalam bisnis pariwisata.

Kondisi pariwisata Bali akan menjadi “bulan-bulanan” bagi negara lain untuk promosi pariwisatanya. Tampaknya betul kata pemeo, merusak lebih mudah daripada membangun. Citra pariwisata yang terlanjur buruk perlu waktu lama untuk memperbaikinya. [T]

BACA artikel lain dari penulis CHUSMERU

Membedah Problematika Pariwisata Daerah
Digitalisasi Pariwisata: Tantangan dan Keniscayaan

Urgensi Penerapan ESG dalam Bisnis Pariwisata

Urgensi Penerapan ESG dalam Bisnis Pariwisata

Kasino di Bali: Perjudian dengan Aroma Pariwisata

Kasino di Bali: Perjudian dengan Aroma Pariwisata

Kontribusi MICE dalam Ekosistem Pariwisata

Kontribusi MICE dalam Ekosistem Pariwisata

Mengenal Pedesaan lewat Wisata “Live in”

Tags: moratorium hotelPariwisatapariwisata bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pura Segara Giri Simora Perekat 13 KK Warga Hindu Bali di Kabupaten Kaimana, Papua Barat

Next Post

Merayakan Perjalanan Setelah Menonton Pertunjukan Kelas Teater Shiro-San

Chusmeru

Chusmeru

Purnatugas dosen Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP, Anggota Formatur Pendirian Program Studi Pariwisata, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah. Penulis bidang komunikasi dan pariwisata. Sejak kecil menyukai hal-hal yang berbau mistis.

Related Posts

Kepemimpinan Transformasional sebagai Jantung Kebijakan Publik dan Komunikasi Politik Modern

by Jerry Indrawan
July 16, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

TANTANGAN birokrasi di era disrupsi global saat ini menuntut perubahan fundamental dalam paradigma pengelolaan pemerintahan dan cara pemimpin berinteraksi dengan...

Read moreDetails

Dunia adalah Cermin Kesadaran Manusia

by Agung Sudarsa
July 16, 2026
0
Dunia adalah Cermin Kesadaran Manusia

Kita Melihat Dunia Sebagaimana Diri Kita Mengamati perilaku sang istri selama belasan tahun sebagai guru TK, saya punya ungkapan: Seorang...

Read moreDetails

Satu Bahasa Dua Realitas: Mengapa Roy Suryo dan Jokowi Mustahil Saling Memahami?

by Nur Inayah Yushar
July 16, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

DALAM panggung politik kontemporer Indonesia, perseteruan antara mantan Menteri Pemuda dan Olahraga, Roy Suryo, dan mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi)...

Read moreDetails

Korupsi, Kekuasaan dan Keserakahan —Ketika Alam Sedang Bersih-Bersih

by Agung Sudarsa
July 15, 2026
0
Korupsi, Kekuasaan dan Keserakahan —Ketika Alam Sedang Bersih-Bersih

"Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely." Kalimat legendaris dari Lord Acton itu kembali terasa relevan ketika bangsa...

Read moreDetails

Dari Sekolah Sepi Menuju Sekolah Rakyat: Pendidikan Bukan Sekadar Transfer Informasi, tetapi Transformasi Kesadaran

by Agung Sudarsa
July 15, 2026
0
Sekolah Rakyat Vs Sekolah Reguler   

Ironi Pendidikan di Tengah Semangat Membangun Masa Depan Berita tentang SDN 6 Bhuana Giri di Bali yang selama empat tahun...

Read moreDetails

Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital

by Surfian Rahmat AP
July 15, 2026
0
Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital

DALAM beberapa tahun terakhir, lanskap media sosial seperti Instagram dan TikTok didominasi oleh proliferasi estetika “baddie”. Secara visual, seorang baddie...

Read moreDetails

Membaca Made Budhiana dari Sebuah Puisi

by Angga Wijaya
July 15, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

SAYA tidak mengenal Made Budhiana pertama kali melalui sebuah pameran lukisan. Bukan pula dari buku sejarah seni rupa Bali. Saya...

Read moreDetails

Hari Pertama Sekolah, Awal Membangun Budaya Sekolah yang Aman dan Inklusif

by Lailatus Sholihah
July 15, 2026
0
Hari Pertama Sekolah, Awal Membangun Budaya Sekolah yang Aman dan Inklusif

Pagi itu, gerbang-gerbang sekolah kembali dipenuhi wajah-wajah penuh harap. Ada anak yang dengan antusias mengenakan seragam baru, ada yang menggenggam...

Read moreDetails

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
0
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

Read moreDetails

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails
Next Post
Merayakan Perjalanan Setelah Menonton Pertunjukan Kelas Teater Shiro-San

Merayakan Perjalanan Setelah Menonton Pertunjukan Kelas Teater Shiro-San

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tetap Harus Ada Pembaruan pada Pesta Kesenian Bali, Lewat Rekonstruksi dan Penciptaan Karya Baru
Khas

Tetap Harus Ada Pembaruan pada Pesta Kesenian Bali, Lewat Rekonstruksi dan Penciptaan Karya Baru

MEMASUKI penyelenggaraan ke-48, Pesta Kesenian Bali (PKB) telah menempuh perjalanan panjang sebagai festival seni budaya terbesar di Pulau Dewata. Selama...

by Nyoman Budarsana
July 16, 2026
Merawat Masa Depan Pesta Kesenian Bali Lewat Dialog Antargenerasi
Khas

Merawat Masa Depan Pesta Kesenian Bali Lewat Dialog Antargenerasi

MENJELANG usianya yang mengarah pada setengah abad, Pesta Kesenian Bali (PKB) dihadapkan pada tantangan yang tidak ringan. Festival seni terbesar...

by Nyoman Budarsana
July 16, 2026
Menjernihkan Informasi dan Mendokumentasikan Pesta Kesenian Bali Lewat Jurnalisme
Khas

Menjernihkan Informasi dan Mendokumentasikan Pesta Kesenian Bali Lewat Jurnalisme

DI tengah riuh tepuk tangan yang mengiringi setiap pementasan Pesta Kesenian Bali (PKB), ada pekerjaan lain yang berlangsung tanpa sorot...

by Nyoman Budarsana
July 16, 2026
Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Kepemimpinan Transformasional sebagai Jantung Kebijakan Publik dan Komunikasi Politik Modern

TANTANGAN birokrasi di era disrupsi global saat ini menuntut perubahan fundamental dalam paradigma pengelolaan pemerintahan dan cara pemimpin berinteraksi dengan...

by Jerry Indrawan
July 16, 2026
Dunia adalah Cermin Kesadaran Manusia
Esai

Dunia adalah Cermin Kesadaran Manusia

Kita Melihat Dunia Sebagaimana Diri Kita Mengamati perilaku sang istri selama belasan tahun sebagai guru TK, saya punya ungkapan: Seorang...

by Agung Sudarsa
July 16, 2026
“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan
Ulas Buku

“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

Novel Koloni pertama kali diluncurkan oleh Gramedia pada 22 Agustus 2025. Sejak diluncurkan hingga kini, novel ini terus mendapat perhatian...

by I Made Sujaya
July 16, 2026
Menyingkap Relasi Kuasa dalam Novel ‘Koloni’ Karya Ratih Kumala di Singaraja Literary Festival 2026
Panggung

Menyingkap Relasi Kuasa dalam Novel ‘Koloni’ Karya Ratih Kumala di Singaraja Literary Festival 2026

 “Bagi laki-laki yang masih menganut patriarki, saya sarankan jangan membaca buku ini.” Ucapan itu langsung disambut gelak tawa peserta bedah...

by Dede Putra Wiguna
July 16, 2026
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK
Esai

Satu Bahasa Dua Realitas: Mengapa Roy Suryo dan Jokowi Mustahil Saling Memahami?

DALAM panggung politik kontemporer Indonesia, perseteruan antara mantan Menteri Pemuda dan Olahraga, Roy Suryo, dan mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi)...

by Nur Inayah Yushar
July 16, 2026
Spesifikasi dan Kelebihan Canon Pixma G1010
Gaya

Spesifikasi dan Kelebihan Canon Pixma G1010

PADA 30 Januari 2018, Canon Indonesia merilis printer terbaru yakni Printer PIXMA Ink Efficient G series.  Ada lima tipe printer...

by tatkala
July 16, 2026
Musikalisasi Puisi Festival Seni Bali Jani 2026, Menyelaraskan Kata, Nada, dan Jiwa
Panggung

Musikalisasi Puisi Festival Seni Bali Jani 2026, Menyelaraskan Kata, Nada, dan Jiwa

MENYAKSIKAN Lomba Musikalisasi Puisi dalam Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 bukan sekadar menikmati pertunjukan musik. Di atas...

by Nyoman Budarsana
July 16, 2026
Ketika Lagu Menjadi Cerita, “Sang Surya Sampun Metangi” Membawa Pesan Bali dalam Harmoni Musik
Panggung

Ketika Lagu Menjadi Cerita, “Sang Surya Sampun Metangi” Membawa Pesan Bali dalam Harmoni Musik

INI bukan sekadar konser musik. "Sang Surya Sampun Metangi" hadir layaknya sebuah perjalanan yang dituturkan melalui lagu. Setiap tembang mengalir...

by Nyoman Budarsana
July 16, 2026
Korupsi, Kekuasaan dan Keserakahan —Ketika Alam Sedang Bersih-Bersih
Esai

Korupsi, Kekuasaan dan Keserakahan —Ketika Alam Sedang Bersih-Bersih

"Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely." Kalimat legendaris dari Lord Acton itu kembali terasa relevan ketika bangsa...

by Agung Sudarsa
July 15, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co