26 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Yang Terhubung: Ancaman dan Harapan | Catatan Pentas Kala Teater

Alghifahri Jasin by Alghifahri Jasin
December 30, 2022
in Ulas Pentas
Yang Terhubung: Ancaman dan Harapan | Catatan Pentas Kala Teater

Pentas Babak 1 "Perangkap Kata-kata" dari Kala Teater | Foto: Ahmad Amri Aliyyi 

LAJU PEMBANGUNAN infrastruktur kota Makassar semakin masif setiap tahun. Beberapa kalangan melihat laju pembangunan ini sebagai tanda bahwa ekonomi tumbuh dengan sehat. Sebagian kalangan lainnya harus menelan kekesalan ketika Makassar sampai akhirnya menggusur salah satu taman kota untuk mendirikan gedung baru. Berangsur-angsur wajah Makassar kian berubah dan perubahan itu mesti merelakan sejumlah  artefak ingatan masing-masing warganya turut hancur. Apakah ini risiko bagi Makassar yang berhasil ditetapkan sebagai Pusat Kegiatan Nasional?

Makassar kian acuh dengan manusia yang hidup di dalamnya. Sejauh mana Makassar menerima kehadiran pohon di tepi jalan? Sudahkah trotoar terpikirkan untuk pejalan kaki? Selesaikah aliran air dikerjakan dengan baik? Konyol kiranya ketiga pertanyaan tersebut dijawab oleh Pemerintah Kota dengan klaim Makassar adalah kota dunia dan Makaverse. Sayangnya kepandaian bermimpi ini hanya menjadi kepandaian saja. Tidak lebih.

Kala Teater merekam keluh-kesah-keluh-kesah warga Makassar melalui proyek ‘Kota dalam Teater’. Proyek ini dikerjakan mulai 2015-2025 nanti dan berfokus pada pembacaan isu-isu kota. Pertunjukan kali ini bertajuk “Yang Tidak Terhubung: Warga dan Kota” digelar selama tiga hari (4-6 Desember) di Gedung Kesenian Societ de Harmonie, Makassar, dan terselenggara atas dukungan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Dana Indonesiana, dan LPDP. Hari terakhir pertunjukan dirangkaikan dengan diskusi warga bersama sutradara Shinta Febriany, Aan Mansyur, M. Nawir, dan dipandu oleh Mega Herdiyanti. Penutup yang indah!

Babak 1:  Perangkap Kata-kata

Lampu panggung menyala. Pilar-pilar bangunan di Gedung Kesenian yang rapuh menjadi berwarna disorot lampu. Tembakan sorotan lampu ke pilar-pilar bangunan membentuk ruang persegi. Lima aktor Kala Teater memasuki panggung. Mereka tampil memakai aksesoris oven di kepala dan kompak berkostum merah. Dua bentuk persegi yang tampil seperti berbicara bahwa inilah bentuk Makassar sekarang: kotak. Para penonton menghentikan percakapan mereka. Tatapan tertuju ke panggung.

Satu per satu aktor membuka oven di wajahnya dan bersuara. Semua suara yang dituturkan merupakan tanggapan warga kota Makassar tentang suka dan ketidaksukaan mereka selama mendiami kota ini. Kurang lebih setiap aktor melontarkan sepuluh suara. Suara keluh kesah lebih leluasa keluar malam itu. Barangkali kesusahan lebih bisa diungkapkan secara jujur daripada kesenangan. Apa yang didengar malam itu lebih banyak tentang ancaman anak panah, aspal jalan tidak rata, minimnya trotoar, dan banjir.

Pentas Babak 1 “Perangkap Kata-kata” dari Kala Teater | Foto: Ahmad Amri Aliyyi 

Bahasa menjadi alat politis dalam menyampaikan kepentingan. Begitu jauh jarak antara warga dan kota. Bentangan tersebut bisa dilihat dari bahasa. Bagaimana kota ini berbicara jika mulutnya adalah pemerintah dan apa yang dikatakan oleh kota jika mulutnya adalah warga. Persilangan semacam itu terlibat dalam keseharian Makassar dan segenap manusianya. Seumpama babak pertama ini adalah pertandingan tinju jalan pertandingan ke depannya akan semakin seru.

Kala Teater menawarkan pertunjukan interaktif. Penonton pun tidak canggung merespons para aktor Kala yang mendekat meminta pintu oven dibuka. Adegan ini membuat suasana menjadi cair serta menunjukkan bahwa pertunjukan diterima baik oleh penonton. Selain itu, dua-tiga penonton juga terdengar tertawa ketika mendengar aktor Kala menyampaikan suara. Mereka tentu menertawai bagian narasi-narasi akrobatik dari walikota tentang kota ini. Ironi semacam ini kerap kali muncul justru berkat tangan pemimpin.

Babak 2: Di Seberang Kekacauan

Mangku mamo mabella
Nia’ma ri se’reang bori
Ansombalangi
Sare kamaseku
Passare batara

Mannamonjo nakamma
Pangngu’rangingku
Ri kau tonji
Ka butta la’biri
Passolongang ceratta
Ri Bawakaraeng

Se’reji kupala’
Ri julu boritta
Sirikaji tojeng
Solanna nania
Areng mabajitta
Ri bori’ maraeng

Nakima’minasa
Te’neki masunggu
Nanacini’ todong
Bori maraengang
Sarroa mangngakkali
Ri kamajuanta

Alunan suara Wawan Aprilianto, aktor Kala Teater, menyanyikan lagu Minasa Ri Boritta (ciptaan Abdullah Sijaya) membuka babak kedua pertunjukan malam itu. Pelan-pelan ia jalan memanjati anak tangga dengan memegang satu pot tanaman. Aktor lainnya muncul setelah Wawan berada di balkon. Dwi Lestari Johan berpakaian sarung dan bando khas Makassar menari sambil memegang dupa. Sabri Sahafuddin memegang satu pot tanaman dan memainkan siluet di layar yang menampilkan power point persentase kriminalitas kota Makassar. Sementara itu, Nurul Inayah melakukan presentasi.

Minasa Ri Boritta menjadi lagu latar selama presentasi berlangsung. Data-data yang ditampilkan Kala Teater merupakan hasil pencarian dari berbagai sumber, salah satunya adalah LBH Makassar. Presentasi tersebut berlangsung selama 15 menit, penonton khusyuk menyimak bahkan ketika Nurul Inayah mengoper presentasi selanjutnya kepada Sabri Sahafuddin, penonton tidak memalingkan fokus. Adegan menampilkan data-data seperti kekerasan seksual yang dialami perempuan, peredaran narkoba, dan pembegalan membuat penonton mengerutkan dahi.

Pentas Babak 2: “Di Seberang Kekacauan” dari Kala Teater | Foto: Ahmad Amri Aliyyi 

Keadaan Makassar hari ini tentulah jauh berbeda dari isi lagu Minasa Ri Boritta. Ketentraman dan kehormatan kini berbalik menjadi kecemasan dan kebrutalan. Dua subjek yang berbenturan tersebut menciptakan kekontrasan. Namun, lagu Minasa Ri Boritta dapat dimaknai sebagai pengingat jika sesungguhnya Makassar adalah tempat pulang dan tinggal paling aman.

Babak 3: Bunyi Warga

Setengah dari panggung terbentang net bulu tangkis. Dwi Lestari Johan masuk menenteng tas berisi botol-botol kecil ASI. Ia memompa ASI di atas panggung. Dua aktor selanjutnya masuk, Nurul Inayah dan Sabri Sahafuddin, mereka mengeluarkan raket dari tasnya. Bulu dipukul-dilayangkan. Suara-suara warga kota kembali terdengar. Kini melalui sistem suara. Wawan Aprilianto menyusul masuk ketika suara-suara silih berganti. Laku Wawan ketika masuk menepis semua suara itu dengan raketnya. Aktor terakhir masuk adalah Rifka Rifai Hasan. Ia tidak membawa raket. Ia merespons lanskap kota yang terputar di tembok panggung.

Pentas Babak 3 : “Bunyi Warga” dari Kala Teater | Foto: Ahmad Amri Aliyyi 

Suara-suara warga kini membunyikan tentang ‘apa yang akan kau katakan jika memiliki kesempatan bertemu Walikota Makassar?’. Sebagian besar warga menyampaikan harapan-harapan seperti, tata kota yang rapih, bebas banjir, aman dari kejahatan di jalan, dan kesejahteraan. Harapan itu disampaikan tanpa tahu apakah walikota bisa menyediakan telinganya mendengarkan itu semua. Ada juga warga yang pesimis di dalam rekaman suara itu, ia percaya bahwa sekalipun harapannya didengar tidak akan mengubah apa-apa.

Bella tojeng milampakku
Kana simbangmi dolangan
Aule ta’lengu tomma’
Ri buluna butta jawa

Manna mamonjo nakamma
Tuli ji kupariati
Aule parasanganku
Ri butta kalasukangku

Tau lolona natau rungkana
Malabbiri ri pangadakkang
Tau lolona natau rungkana
Malabbiri ri pangadakkang

Alusu rikana-kana
Alusu ri pangagaukang
Mabaji ampe adatta ri mangkasara

Butta Kalassukangku lagu ciptaan Anci Laricci dan Sila Leo dinyanyikan oleh Dwi Lestari Johan di tengah-tengah kegiatannya mengumpulkan ASI. Lakon ibu yang penuh kasih sayang dan memberi hidup kepada anak untuk membesarkannya diperankan oleh Dwi Lestari Johan. Adegan itu seakan-akan memberi tahu welas asih ibu tidak pernah usai bahwa harapan bisa ditumbuhkan.

Menginterupsi Keadaan:

Seni sebagai hiburan mengisi ruang harapan yang mungkin saja hampir pupus. Menghubungkan warga dengan seni adalah jalan alternatif dalam memecah masalah kebuntuan Makassar. Yang Tidak Terhubung: Warga dan Kota memediasi keresahan warga kota tentang Makassar sebagai ruang hidup. Tidak bisa ditampik, kerap kali satu kebijakan bisa saja dilandaskan atas kekuatan kapital sehingga pihak terkait akan diuji keberpihakannya.

Selama tiga malam Kala Teater menginterupsi keadaan Makassar hari ini. Apa-apa yang terjadi dengan Makassar sekarang ini tidak terjadi begitu saja, tetapi terjadi secara terstruktur. Kala Teater merangkum aspirasi warga akar rumput untuk dibincangkan kembali, tetapi dengan bentuk yang pertunjukan. Masalah-masalah yang terangkum seringkali melintas dan menghampiri warga kota, namun ruang teater mengadvokasi masalah tersebut agar kekuatan warga dapat terhubung.

Pentas Babak 2: “Di Seberang Kekacauan” dari Kala Teater | Foto: Ahmad Amri Aliyyi 

Selubung-selubung yang diselipkan seperti oven, lagu, bulu tangkis, dan ibu merupakan daya ungkap terhadap sejumlah masalah. Simbol-simbol metaforik yang demikian merangsang kepekaan dalam melihat sesuatu. Katakanlah oven itu sebagai kotak suara pungutan suara yang setiap dibuka berisi keresahan warga kota. Menitipkan harapan indah melalui dua lagu Minasa Ri Boritta dan Butta Kalassukangku kembali menciptakan optimis di benak warga. Suara-suara warga yang ditepis dengan raket. Kemunculan ibu di tengah sekelumit masalah membuat kita percaya jika Makassar masihlah tempat yang aman untuk memangku hidup. [T]

Yang Tidak Terhubung: Warga dan Kota

Aktor: Dwi Lestari Johan, Nurul Inayah, Rifka Rifai Hasan, Sabri Sahafuddin, Wawan Aprilianto | Sutradara & Penulis Naskah: Shinta Febriany | Stage Manager: Mega Herdiyanti | Tim Artistik: Dwi Saputra Mario, Nirwana Aprianty, Sukarno Hatta | Penata Cahaya: Sukma Silanan | Tiket & Logistik: Athira Nur

[][][]

Teater Sebagai Produksi Memori | Dari Pertunjukan “Semalam Masa Silam Mengunjungiku” Teater Satu Lampung
Mengabadikan Pentas Teater dalam Foto, Bermain dengan Cahaya Panggung
Sejarah Indonesia Modern Sekali Klik — Catatan Mengalami Peristiwa Hal-19: Wajah Pecah Sejarah Indonesia Modern oleh Kalanari Theatre Movement
Tags: Kala TeaterMakasarResensi Teaterseni pertunjukanTeater
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Lagu “Bungan Sandat”: Menebar Kata, Mengkonstruksi Gender

Next Post

13 Tahun Gus Dur Pergi

Alghifahri Jasin

Alghifahri Jasin

Lahir di Ujung Pandang dan menetap di kota Makassar. Lulus belajar di Fakultas Ilmu Budaya, Departemen Sastra Indonesia, Universitas Hasanuddin. Menempuh pendidikan informal di Institut Sastra Makassar. Album puisi Rencana Penipuan rilis (Sportify, Apple Music, Deezer, dan Youtube, 2021), buku puisi Kunjungan Singkat ke Rumah (Endnote Press, 2022), dan tulisan-tulisan lainnya bisa diakses di alghifahrijasin.com. Sekarang ini sedang menjejali performance art.

Related Posts

Durhaka Sebagai Bahasa Kuasa: Narasi Tubuh Perempuan Melalui Pertunjukan Malin Kundang Lirih

by Helvi Carnelis
April 14, 2026
0
Durhaka Sebagai Bahasa Kuasa: Narasi Tubuh Perempuan Melalui Pertunjukan Malin Kundang Lirih

SAYA merasakan dengan kuat budaya rantau hari ini, sebuah beban tanggung jawab yang tidak ringan dalam kebudayaan Minangkabau. Pengalaman itu...

Read moreDetails

Bertolak dari Ruang, Proses dan Improvisasi —Catatan Pementasan ‘Aduh” Teater Mahima

by Radha Dwi Pradnyani
March 30, 2026
0
Bertolak dari Ruang, Proses dan Improvisasi —Catatan Pementasan ‘Aduh” Teater Mahima

PEMAIN masuk arena secara bergiliran. Dengan gerakan berbeda-beda mereka berjalan tergesa, dinamis, kadang saling silang, kadang sejajar. Mereka bersuara meniru...

Read moreDetails

Seni sebagai Metode Rekonsiliasi Warga Desa Tembok

by I Putu Ardiyasa
March 22, 2026
0
Seni sebagai Metode Rekonsiliasi Warga Desa Tembok

MENYAKSIKAN perjalanan kultural di Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, selama empat tahun terakhir adalah pelajaran berharga tentang bagaimana estetika mampu...

Read moreDetails

Menembus Batas Fisik: Dialektika Atma Kertih dalam Estetika Ruang dan Cahaya dalam Lakon ‘I Sigir Jlema Tuah Asibak’

by I Gede Tilem Pastika
March 1, 2026
0
Menembus Batas Fisik: Dialektika Atma Kertih dalam Estetika Ruang dan Cahaya dalam Lakon ‘I Sigir Jlema Tuah Asibak’

MALAM itu, 28 Februari 2026, udara di Gedung Ksirarnawa Art Centre Denpasar terasa bergetar oleh ekspektasi yang tinggi. Sebagai sutradara...

Read moreDetails

Pertunjukan Mini Esai Performatif ‘Desa Kami’: Sebuah Gugatan dan Refleksi dari Desa

by Wahyu Mahaputra
February 28, 2026
0
Pertunjukan Mini Esai Performatif ‘Desa Kami’: Sebuah Gugatan dan Refleksi dari Desa

DERING telepon membangunkan saya dari tidur siang hari itu. Di seberang sambungan, suara Ariel Valeryan: sahabat dari Kuningan, Jawa Barat...

Read moreDetails

Pesan, Refleksi, dan Kritik Sosial dalam Drama Bali Modern di Bulan Bahasa Bali 2026

by Made Adnyana Ole
February 27, 2026
0
Teater Bali Modern ‘Jaratkaru’ dari Kawiya: Sekilas Tentang ‘Urban Stress’ dan Kehilangan Waktu Memikirkan Pernikahan

DRAMA Bali modern atau teater berbahasa Bali yang dipentaskan oleh sejumlah kelompok teater dalam ajang Bulan Bahasa Bali 2026 menunjukkan...

Read moreDetails

Teater Bali Modern ‘Jaratkaru’ dari Kawiya: Sekilas Tentang ‘Urban Stress’ dan Kehilangan Waktu Memikirkan Pernikahan

by Rusdy Ulu
February 25, 2026
0
Teater Bali Modern ‘Jaratkaru’ dari Kawiya: Sekilas Tentang ‘Urban Stress’ dan Kehilangan Waktu Memikirkan Pernikahan

EMPAT orang masing-masing membawa ember dan lap pel, lalu mengepel lantai panggung secara bersamaan. Mereka menarik lap pel dengan gerakan...

Read moreDetails

Musikal ‘Perahu Kertas’ Dee Lestari: Pertunjukan Bagi Mereka yang Rindu Pada Diri Sendiri

by Kadek Sonia Piscayanti
February 16, 2026
0
Musikal ‘Perahu Kertas’ Dee Lestari: Pertunjukan Bagi Mereka yang Rindu Pada Diri Sendiri

MUSIKAL Perahu Kertas di Ciputra Artpeneur Theater, Jakarta, hadir pada saat yang tepat, ketika banyak manusia bingung menemukan diri mereka,...

Read moreDetails

‘Sanghyang Dedari Tunjung Biru Prabawan Dewi Saraswati’ di SMAN 1 Kuta Selatan —Dari Ide Tengah Malam hingga Panggung Bulan Bahasa Bali

by Angga Wijaya
February 16, 2026
0
‘Sanghyang Dedari Tunjung Biru Prabawan Dewi Saraswati’ di SMAN 1 Kuta Selatan —Dari Ide Tengah Malam hingga Panggung Bulan Bahasa Bali

SAYA tidak duduk di kursi penonton ketika Sanghyang Dedari Tunjung Biru Prabawan Dewi Saraswati dipentaskan dalam rangkaian Bulan Bahasa Bali...

Read moreDetails

Siapa Kita dalam Lakon “Aduh” karya Putu Wijaya? —Catatan Pentas Teater Komunitas Mahima di Undiksha Singaraja

by Son Lomri
February 6, 2026
0
Siapa Kita dalam Lakon “Aduh” karya Putu Wijaya? —Catatan Pentas Teater Komunitas Mahima di Undiksha Singaraja

ORANG-orang di Auditorium Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja itu diteror suara sirine yang keluar dari mulut tujuh aktor Teater Komunitas...

Read moreDetails
Next Post
13 Tahun Gus Dur Pergi

13 Tahun Gus Dur Pergi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menghitung Kekuatan Politik Giri Prasta
Esai

Teatrikal Politik Lingkungan di Bali

BALI sedang tidak baik-baik saja. Setidaknya pernyataan tersebut valid dalam perspektif lingkungan. Telah menjadi diskursus publik bahwa Bali saat ini...

by Teddy Chrisprimanata Putra
April 26, 2026
Payung Pantai Menjamur, Pohon Memudar: Menurunnya Keindahan Alam Bali
Esai

Payung Pantai Menjamur, Pohon Memudar: Menurunnya Keindahan Alam Bali

KEDATANGAN wisatawan ke Bali pada dasarnya bukan semata-mata karena hotel mewah, pusat hiburan, atau tempat belanja. Mereka datang karena ingin...

by Nyoman Mariyana
April 26, 2026
Sekolah Siaga Kependudukan, Apa Pula Itu?
Esai

Sekolah Siaga Kependudukan, Apa Pula Itu?

SEKOLAH selalu menjadi objek sosialisasi bagi kesuksesan program pemerintah, baik pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah. Gaungnya makin kencang setelah reformasi...

by I Nyoman Tingkat
April 26, 2026
Aksi Kemanusiaan pada HUT ke-9 AMSI Bali
Berita

Aksi Kemanusiaan pada HUT ke-9 AMSI Bali

Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Bali merayakan hari ulang tahun (HUT) ke-9 dengan menggelar serangkaian kegiatan sosial yang menyentuh langsung...

by tatkala
April 25, 2026
Serangga dalam Piring Makan Kita
Kuliner

Serangga dalam Piring Makan Kita

JIKA di Gunung Kidul orang-orang desa terbiasa menggoreng belalang, atau masyarakat Jawa Timur—khususnya di kawasan hutan jati—gemar menyantap kepompong ulat...

by Jaswanto
April 25, 2026
Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan
Cerpen

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

CAKEH yang baru dilarikan ke rumah Pak Ik merintih kesakitan. Anak perempuan berumur 14 tahun itu baru digigit ular kobra...

by Depri Ajopan
April 25, 2026
Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Tak Perlu Menunggu Aku di Gatsemani
Puisi

Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Tak Perlu Menunggu Aku di Gatsemani

TAK PERLU MENUNGGU AKU DI GATSEMANI Aku datang dari Galilea dengan bau seluk Tasik Tiberias yang melekat di jubahkuDemi janji-janji...

by Silvia Maharani Ikhsan
April 25, 2026
Mencegah Kekerasan Seksual di Indonesia dengan Perspektif Feminis Hindu
Esai

Mencegah Kekerasan Seksual di Indonesia dengan Perspektif Feminis Hindu

KEKERASAN seksual di Indonesia telah menjadi luka yang tak kunjung usai, bahkan kini merebak di kampus - kampus ternama selain...

by Putu Ayu Sunia Dewi
April 25, 2026
Ketika Lirik Menjadi Cermin: Tafsir Hermeneutika Lagu ‘Erika’
Ulas Musik

Ketika Lirik Menjadi Cermin: Tafsir Hermeneutika Lagu ‘Erika’

DALAM tradisi hermeneutika, teks tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu lahir dari horison sejarah, budaya, dan kesadaran penuturnya. Apa yang...

by Ahmad Sihabudin
April 25, 2026
Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins
Esai

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

Ingatan yang Menjadi Wacana Batin Gagasan tentang Krishna dan Siddharta yang muncul dari ingatan terhadap wacana maupun tulisan Guruji Anand...

by Agung Sudarsa
April 24, 2026
Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”
Pop

Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

“Untuk saat ini, single-single saja dulu, sama seperti status saya,” ujar Tika Pagraky sambil tertawa, memecah suasana sore itu. Kalimat...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah
Khas

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co