12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Yang Terhubung: Ancaman dan Harapan | Catatan Pentas Kala Teater

Alghifahri Jasin by Alghifahri Jasin
December 30, 2022
in Ulas Pentas
Yang Terhubung: Ancaman dan Harapan | Catatan Pentas Kala Teater

Pentas Babak 1 "Perangkap Kata-kata" dari Kala Teater | Foto: Ahmad Amri Aliyyi 

LAJU PEMBANGUNAN infrastruktur kota Makassar semakin masif setiap tahun. Beberapa kalangan melihat laju pembangunan ini sebagai tanda bahwa ekonomi tumbuh dengan sehat. Sebagian kalangan lainnya harus menelan kekesalan ketika Makassar sampai akhirnya menggusur salah satu taman kota untuk mendirikan gedung baru. Berangsur-angsur wajah Makassar kian berubah dan perubahan itu mesti merelakan sejumlah  artefak ingatan masing-masing warganya turut hancur. Apakah ini risiko bagi Makassar yang berhasil ditetapkan sebagai Pusat Kegiatan Nasional?

Makassar kian acuh dengan manusia yang hidup di dalamnya. Sejauh mana Makassar menerima kehadiran pohon di tepi jalan? Sudahkah trotoar terpikirkan untuk pejalan kaki? Selesaikah aliran air dikerjakan dengan baik? Konyol kiranya ketiga pertanyaan tersebut dijawab oleh Pemerintah Kota dengan klaim Makassar adalah kota dunia dan Makaverse. Sayangnya kepandaian bermimpi ini hanya menjadi kepandaian saja. Tidak lebih.

Kala Teater merekam keluh-kesah-keluh-kesah warga Makassar melalui proyek ‘Kota dalam Teater’. Proyek ini dikerjakan mulai 2015-2025 nanti dan berfokus pada pembacaan isu-isu kota. Pertunjukan kali ini bertajuk “Yang Tidak Terhubung: Warga dan Kota” digelar selama tiga hari (4-6 Desember) di Gedung Kesenian Societ de Harmonie, Makassar, dan terselenggara atas dukungan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Dana Indonesiana, dan LPDP. Hari terakhir pertunjukan dirangkaikan dengan diskusi warga bersama sutradara Shinta Febriany, Aan Mansyur, M. Nawir, dan dipandu oleh Mega Herdiyanti. Penutup yang indah!

Babak 1:  Perangkap Kata-kata

Lampu panggung menyala. Pilar-pilar bangunan di Gedung Kesenian yang rapuh menjadi berwarna disorot lampu. Tembakan sorotan lampu ke pilar-pilar bangunan membentuk ruang persegi. Lima aktor Kala Teater memasuki panggung. Mereka tampil memakai aksesoris oven di kepala dan kompak berkostum merah. Dua bentuk persegi yang tampil seperti berbicara bahwa inilah bentuk Makassar sekarang: kotak. Para penonton menghentikan percakapan mereka. Tatapan tertuju ke panggung.

Satu per satu aktor membuka oven di wajahnya dan bersuara. Semua suara yang dituturkan merupakan tanggapan warga kota Makassar tentang suka dan ketidaksukaan mereka selama mendiami kota ini. Kurang lebih setiap aktor melontarkan sepuluh suara. Suara keluh kesah lebih leluasa keluar malam itu. Barangkali kesusahan lebih bisa diungkapkan secara jujur daripada kesenangan. Apa yang didengar malam itu lebih banyak tentang ancaman anak panah, aspal jalan tidak rata, minimnya trotoar, dan banjir.

Pentas Babak 1 “Perangkap Kata-kata” dari Kala Teater | Foto: Ahmad Amri Aliyyi 

Bahasa menjadi alat politis dalam menyampaikan kepentingan. Begitu jauh jarak antara warga dan kota. Bentangan tersebut bisa dilihat dari bahasa. Bagaimana kota ini berbicara jika mulutnya adalah pemerintah dan apa yang dikatakan oleh kota jika mulutnya adalah warga. Persilangan semacam itu terlibat dalam keseharian Makassar dan segenap manusianya. Seumpama babak pertama ini adalah pertandingan tinju jalan pertandingan ke depannya akan semakin seru.

Kala Teater menawarkan pertunjukan interaktif. Penonton pun tidak canggung merespons para aktor Kala yang mendekat meminta pintu oven dibuka. Adegan ini membuat suasana menjadi cair serta menunjukkan bahwa pertunjukan diterima baik oleh penonton. Selain itu, dua-tiga penonton juga terdengar tertawa ketika mendengar aktor Kala menyampaikan suara. Mereka tentu menertawai bagian narasi-narasi akrobatik dari walikota tentang kota ini. Ironi semacam ini kerap kali muncul justru berkat tangan pemimpin.

Babak 2: Di Seberang Kekacauan

Mangku mamo mabella
Nia’ma ri se’reang bori
Ansombalangi
Sare kamaseku
Passare batara

Mannamonjo nakamma
Pangngu’rangingku
Ri kau tonji
Ka butta la’biri
Passolongang ceratta
Ri Bawakaraeng

Se’reji kupala’
Ri julu boritta
Sirikaji tojeng
Solanna nania
Areng mabajitta
Ri bori’ maraeng

Nakima’minasa
Te’neki masunggu
Nanacini’ todong
Bori maraengang
Sarroa mangngakkali
Ri kamajuanta

Alunan suara Wawan Aprilianto, aktor Kala Teater, menyanyikan lagu Minasa Ri Boritta (ciptaan Abdullah Sijaya) membuka babak kedua pertunjukan malam itu. Pelan-pelan ia jalan memanjati anak tangga dengan memegang satu pot tanaman. Aktor lainnya muncul setelah Wawan berada di balkon. Dwi Lestari Johan berpakaian sarung dan bando khas Makassar menari sambil memegang dupa. Sabri Sahafuddin memegang satu pot tanaman dan memainkan siluet di layar yang menampilkan power point persentase kriminalitas kota Makassar. Sementara itu, Nurul Inayah melakukan presentasi.

Minasa Ri Boritta menjadi lagu latar selama presentasi berlangsung. Data-data yang ditampilkan Kala Teater merupakan hasil pencarian dari berbagai sumber, salah satunya adalah LBH Makassar. Presentasi tersebut berlangsung selama 15 menit, penonton khusyuk menyimak bahkan ketika Nurul Inayah mengoper presentasi selanjutnya kepada Sabri Sahafuddin, penonton tidak memalingkan fokus. Adegan menampilkan data-data seperti kekerasan seksual yang dialami perempuan, peredaran narkoba, dan pembegalan membuat penonton mengerutkan dahi.

Pentas Babak 2: “Di Seberang Kekacauan” dari Kala Teater | Foto: Ahmad Amri Aliyyi 

Keadaan Makassar hari ini tentulah jauh berbeda dari isi lagu Minasa Ri Boritta. Ketentraman dan kehormatan kini berbalik menjadi kecemasan dan kebrutalan. Dua subjek yang berbenturan tersebut menciptakan kekontrasan. Namun, lagu Minasa Ri Boritta dapat dimaknai sebagai pengingat jika sesungguhnya Makassar adalah tempat pulang dan tinggal paling aman.

Babak 3: Bunyi Warga

Setengah dari panggung terbentang net bulu tangkis. Dwi Lestari Johan masuk menenteng tas berisi botol-botol kecil ASI. Ia memompa ASI di atas panggung. Dua aktor selanjutnya masuk, Nurul Inayah dan Sabri Sahafuddin, mereka mengeluarkan raket dari tasnya. Bulu dipukul-dilayangkan. Suara-suara warga kota kembali terdengar. Kini melalui sistem suara. Wawan Aprilianto menyusul masuk ketika suara-suara silih berganti. Laku Wawan ketika masuk menepis semua suara itu dengan raketnya. Aktor terakhir masuk adalah Rifka Rifai Hasan. Ia tidak membawa raket. Ia merespons lanskap kota yang terputar di tembok panggung.

Pentas Babak 3 : “Bunyi Warga” dari Kala Teater | Foto: Ahmad Amri Aliyyi 

Suara-suara warga kini membunyikan tentang ‘apa yang akan kau katakan jika memiliki kesempatan bertemu Walikota Makassar?’. Sebagian besar warga menyampaikan harapan-harapan seperti, tata kota yang rapih, bebas banjir, aman dari kejahatan di jalan, dan kesejahteraan. Harapan itu disampaikan tanpa tahu apakah walikota bisa menyediakan telinganya mendengarkan itu semua. Ada juga warga yang pesimis di dalam rekaman suara itu, ia percaya bahwa sekalipun harapannya didengar tidak akan mengubah apa-apa.

Bella tojeng milampakku
Kana simbangmi dolangan
Aule ta’lengu tomma’
Ri buluna butta jawa

Manna mamonjo nakamma
Tuli ji kupariati
Aule parasanganku
Ri butta kalasukangku

Tau lolona natau rungkana
Malabbiri ri pangadakkang
Tau lolona natau rungkana
Malabbiri ri pangadakkang

Alusu rikana-kana
Alusu ri pangagaukang
Mabaji ampe adatta ri mangkasara

Butta Kalassukangku lagu ciptaan Anci Laricci dan Sila Leo dinyanyikan oleh Dwi Lestari Johan di tengah-tengah kegiatannya mengumpulkan ASI. Lakon ibu yang penuh kasih sayang dan memberi hidup kepada anak untuk membesarkannya diperankan oleh Dwi Lestari Johan. Adegan itu seakan-akan memberi tahu welas asih ibu tidak pernah usai bahwa harapan bisa ditumbuhkan.

Menginterupsi Keadaan:

Seni sebagai hiburan mengisi ruang harapan yang mungkin saja hampir pupus. Menghubungkan warga dengan seni adalah jalan alternatif dalam memecah masalah kebuntuan Makassar. Yang Tidak Terhubung: Warga dan Kota memediasi keresahan warga kota tentang Makassar sebagai ruang hidup. Tidak bisa ditampik, kerap kali satu kebijakan bisa saja dilandaskan atas kekuatan kapital sehingga pihak terkait akan diuji keberpihakannya.

Selama tiga malam Kala Teater menginterupsi keadaan Makassar hari ini. Apa-apa yang terjadi dengan Makassar sekarang ini tidak terjadi begitu saja, tetapi terjadi secara terstruktur. Kala Teater merangkum aspirasi warga akar rumput untuk dibincangkan kembali, tetapi dengan bentuk yang pertunjukan. Masalah-masalah yang terangkum seringkali melintas dan menghampiri warga kota, namun ruang teater mengadvokasi masalah tersebut agar kekuatan warga dapat terhubung.

Pentas Babak 2: “Di Seberang Kekacauan” dari Kala Teater | Foto: Ahmad Amri Aliyyi 

Selubung-selubung yang diselipkan seperti oven, lagu, bulu tangkis, dan ibu merupakan daya ungkap terhadap sejumlah masalah. Simbol-simbol metaforik yang demikian merangsang kepekaan dalam melihat sesuatu. Katakanlah oven itu sebagai kotak suara pungutan suara yang setiap dibuka berisi keresahan warga kota. Menitipkan harapan indah melalui dua lagu Minasa Ri Boritta dan Butta Kalassukangku kembali menciptakan optimis di benak warga. Suara-suara warga yang ditepis dengan raket. Kemunculan ibu di tengah sekelumit masalah membuat kita percaya jika Makassar masihlah tempat yang aman untuk memangku hidup. [T]

Yang Tidak Terhubung: Warga dan Kota

Aktor: Dwi Lestari Johan, Nurul Inayah, Rifka Rifai Hasan, Sabri Sahafuddin, Wawan Aprilianto | Sutradara & Penulis Naskah: Shinta Febriany | Stage Manager: Mega Herdiyanti | Tim Artistik: Dwi Saputra Mario, Nirwana Aprianty, Sukarno Hatta | Penata Cahaya: Sukma Silanan | Tiket & Logistik: Athira Nur

[][][]

Teater Sebagai Produksi Memori | Dari Pertunjukan “Semalam Masa Silam Mengunjungiku” Teater Satu Lampung
Mengabadikan Pentas Teater dalam Foto, Bermain dengan Cahaya Panggung
Sejarah Indonesia Modern Sekali Klik — Catatan Mengalami Peristiwa Hal-19: Wajah Pecah Sejarah Indonesia Modern oleh Kalanari Theatre Movement
Tags: Kala TeaterMakasarResensi Teaterseni pertunjukanTeater
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Lagu “Bungan Sandat”: Menebar Kata, Mengkonstruksi Gender

Next Post

13 Tahun Gus Dur Pergi

Alghifahri Jasin

Alghifahri Jasin

Lahir di Ujung Pandang dan menetap di kota Makassar. Lulus belajar di Fakultas Ilmu Budaya, Departemen Sastra Indonesia, Universitas Hasanuddin. Menempuh pendidikan informal di Institut Sastra Makassar. Album puisi Rencana Penipuan rilis (Sportify, Apple Music, Deezer, dan Youtube, 2021), buku puisi Kunjungan Singkat ke Rumah (Endnote Press, 2022), dan tulisan-tulisan lainnya bisa diakses di alghifahrijasin.com. Sekarang ini sedang menjejali performance art.

Related Posts

Sinaps Ingatan dari Pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot

by Asmaran Dani
September 4, 2026
0
Sinaps Ingatan dari Pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot

Catatan pendek, sebagai pengantar diskusi menonton ulang dokumentasi pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot melalui Youtube, Sabtu 05 Septemper 2026 di...

Read moreDetails

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

by Yanik Parta
August 24, 2026
0
Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

SEBAGAI penari, aku bergerak dari kode satu ke kode gerak lainnya, sementara ayahku yang merupakan seorang pematung, bergerak dalam duduknya....

Read moreDetails

Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

by Dewa Made Ari Kurniawan
August 4, 2026
0
Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

Di Ambang Dualitas Eksistensial Dalam ruang pertunjukan yang temaram, pendar cahaya proyektor perlahan menghidupkan bidang panggung. Karya pertunjukan bertajuk DWI...

Read moreDetails

Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

by Dewa Purwita Sukahet
July 31, 2026
0
Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

MALAM itu, 20 Juli 2026, jam di ponsel menunjukan pukul 18:52 Wita, di depan gedung Ni Ketut Reneng, kampus Institut...

Read moreDetails

Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

by Anselmus Dore Woho Atasoge
July 31, 2026
0
Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

MALAM pembukaan Festival Bale Nagi 2026 di Taman Kota Felix Fernandez, Larantuka, Flores Timur, NTT, menyuguhkan sebuah pertunjukan yang memicu...

Read moreDetails

Fragmentari “Jro Luh” dan Sinkronisitas: Sebuah Pembacaan Estetika atas Pertemuan Dramaturgi dan Fenomena Alam

by I Gusti Made Darma Putra
July 28, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

PANGGUNG seni pertunjukan pada dasarnya merupakan ruang rekayasa artistik. Di dalamnya, setiap unsur dirancang dengan cermat, struktur dramatik disusun melalui...

Read moreDetails

Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

by I Wayan Sujana Suklu
July 25, 2026
0
Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

  Tubuh berjalan pelandi antara bukit, rumah, dan laut yang tidak selesai. Angin membawa nama-namayang pernah singgah di pelabuhan,lalu hilang...

Read moreDetails

Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

by Chandra Manikan
July 22, 2026
0
Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

Asap mengepul perlahan hingga menutupi sebagian panggung, sementara cahaya merah merambat dan menerangi Ocha Diartini yang saat itu berperan sebagai...

Read moreDetails

Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

by Satria Aditya
July 20, 2026
0
Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

PARADE Monolog dalam Festival Seni Bali Jani 2016 yang digelar pada 14 Juli  di Gedung Ksirarnawa, dibuka pukul 17.00 Wita,...

Read moreDetails

Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

by Putu Intan Juliantika
July 19, 2026
0
Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

 “Teng! Tong! Teng! Tong! Teng! Tung! Pagi tiba alarm berbunyi...” Itu adalah suara dering alarm saya pukul tiga pagi yang...

Read moreDetails
Next Post
13 Tahun Gus Dur Pergi

13 Tahun Gus Dur Pergi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co