22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

13 Tahun Gus Dur Pergi

Teguh Alfaidzin by Teguh Alfaidzin
December 30, 2022
in Esai
13 Tahun Gus Dur Pergi

Gus Dur

TEPAT HARI INI 13 tahun lalu, 30 Desember 2009, Abdurrahman Ad Dakhil atau Abdurrahman Wahid atau yang lebih akrab disapa Gus Dur, pulang. Kepergian Gus Dur menjadi duka mendalam dan kehilangan besar bagi Indonesia terkhusus bagi warga Nahdliyin dan kelompok minoritas. Gus Dur mengembuskan nafas terakhir di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta, pada Rabu (30/12/2009), pukul 18.45 WIB. 

Gus Dur adalah seorang tokoh yang tak pernah selesai. Meskipun jasadnya telah wafat 13 tahun silam namun warisan pemikiran beliau masih dan akan terus diperbincangkan sebab memahami pemikiran Gus Dur amatlah sulit tapi menyenangkan. Sulit karena kadang kala pemikiranya terkesan “nyeleneh”, liberal, bahkan dianggap keluar dari pakem Nahdlatul Ulama sekaligus menyenangkan sebab pemikiranya yang tegas, tanpa tedeng aling-aling.

Tidak sedikit yang mengatakan bahwa Gus Dur adalah seorang yang jauh melampaui zamannya, seorang yang mempunyai lompatan pemikiran. Jika meminjam pernyataan Yenni Wahid dalam salah satu episode Kick Andy (2008) “Gus dur ibaratnya kepala lokomotif kereta Jepang yang sangat supersonic sementara gerbongnya adalah gerbong kereta kita gaya baru expres atau gaya baru malam, jadi terseok-seok tidak bisa mengikuti”. 

Padahal kalau coba saya telisik semua itu akan terasa sangat wajar, bagaimana tidak bayangkan saja Gus Dur melanglang buana mengenyam pendidikan di berbagai kampus dan negara, diawali dari Pesantren Tegal Rejo Magelang, Pesantren Tambakberas Jombang, Universitas Al Azhar, Universitas Baghdad, Universitas Mc Gill, Belanda, Jerman Prancis sebelum akhirnya Kembali ke Indonesia dan bergabung menjadi akademisi di Universitas Hasyim As’ari. Lewat petualangan itulah Gusdur memiliki ilmu pengetahuan yang matang serta komprehensif sehingga wajar saja banyak menuduh yang bukan-bukan.

Dalam sebuah esai berjudul “Suatu Kali Ketika Jatuh Hati Pada Ikhwanul Muslimin yang terhimpun dalam buku yang berjudul Gus Dur Sang Kosmopolit Hairus Salim HS (2020), saat petualanganya ke luar negri Gus Dur muda “pernah” kepincut dengan gagasan Ikhwanul Muslimin. Sekali lagi menurut saya ini adalah peristiwa yang amat wajar dan biasa sebab Gus Dur muda telah berkenalan dengan bacaan-bacaan ilmu sosial dan filsafat barat.

Jika lagi meminjam salah satu lirik lagu Raja Dangdut Roma Irama “Masa muda masa yang berapi-api” Gus Dur muda tak pernah segan untuk mendalami gagasan apapun termasuk Ikhwanul Muslimin. Semangatnya untuk menemukan jawaban atas ketidakadilan, kemiskinan dan ketertindasan adalah faktor yang melatarbelakangi.

Walau pada akhirnya Gus Dur berkesimpulan bahwa gagasan IM terlalu absolut dan formalistik. Visi perjuangan yang eksklusif dan tertutup hanya akan membuahkan konfrontasi dan kekerasan yang tidak berkesudahan. Bagi Gus Dur, gagasan IM sama seperti komunisme. Gagal memberikan jawaban yang lengkap dan manusiawi terhadap masalah yang dihadapi masyarakat.

Greg Barton penulis buku biografi Gus Dur menyebutnya adalah seorang pemikir neo modernis, dicirikan dengan adanya impian meliberlisasi pemikiran Islam dalam usaha menjawab tantangan masyarakat modern. ciri pemikiran neo modernis ialah pekat dengan pluralisme, demokrasi, termasuk hubungan agama dan negara.

Bagi Gus Dur islam tidak pernah mengenal doktrin tentang bentuk negara. Hal ini tergantung dengan kesepakatan masyarakat dalam suatu negara apakah menggunakan bentuk negara seperti demokrasi, teokrasi, dan monarki sebab doktrin islam yang sesungguhnya adalah keadilan.

Bagi Gus Dur sepanjang corak bentuk negara tidak mengganggu dan bertentangan dengan keyakinan islam tidak ada masalah. Sekalipun tidak di akomodir oleh undang-undang. Nyatanya sampai hari ini banyak terbentuk “masyarakat Qur’ani” bukankah hal tersebut sudah termasuk kategori negara islam?

Keinginan Gus Dur untuk tidak memformalkan islam sebagai bentuk negara sejalan dengan Ulama & masyarakat Nahdliyin, selain islam tidak mengenal doktrin bentuk negara kelompok minoritas juga punya hak untuk hidup di tanah Indonesia sekaligus punya andil dalam mewujudkan kemerdekaan Indonesia.  Tentu gagasan ini bukan berarti islam Indonesia pekat dengan sekulerisme dalam arti memisahkan urusan agama dari negara tetapi tidak lebih pada keadaan negara yang sangat multiagama atau multikultural. 

KH Ahmad Muwafiq dalam salah satu ceramahnya menjelaskan bahwa pada zaman Rasull di Mekah dan Madinah ketika bertemu dengan bangsa yang berbeda, Rasulullah membentuk konsep Baladil Amin, kemudian konsep Baladil Amin-nya apa? Konsep Baladil Aminya adalah Piagam Madinah.

Rasul tidak membentuk negara islam karena negara islam hanya untuk orang islam, tapi konsep kekuasaan islam itu Baladil Amin, sehingga terbentuk ketentraman sebuah bangsa dan negara, setelah terbentuk keamanan dan ketentraman, pilih model atau bentuk negara apa saja terserah, kalau yang buat aman dengan demokrasi ya pakai demokrasi, amanya kerajaan bentuklah kerajaan, amanya dengan republik bentuklah sistem republik karena islam mengerjakan konsep besar Namanya Baladil Amin.

Sekarang di Indonesia bertemu bangsa yang berbeda kemudian diusulkan khilafah ya tidak terbentuk konsep Baladil Amin, jangankan di bangsa yang berbeda beda bangsa arab saja dibikin konsep khilafah tawuran sekarang.

Ditambah mengapa Islam timur tengah hancur lebur, porak poranda, identik dengan peperangan dan saling membenci sesama anak bangsa? Karena mereka ditanamkan kuat kecintaan kepada agama tapi tidak ditanamkan kuat kecintaan kepada bangsa dan negara. Lantas jika Indonesia menerapkan konsep khilafah ditengah masyarakatnya yang multiagama & multikultural bukankah akan timbul gejolak dan perpecahan? bukankah menolak perbedaan menolak sunnatullah?

Gus Dur sudah membangun pondasi penting hubungan islam dan negara, lantas tugas kita selanjutnya apa? Adalah memperkokoh pondasi tersebut dari berbagai ancaman yang coba menggusur dan merobohkan. [T]

Never Ending Spirit of Gus Dur dan Upaya Mencecap Masa Lalu yang Ber(Ter)serak
Menuntut Keadilan Sejarah Melalui “Menjerat Gus Dur” Virdika Rizky Utama
Ziarah ke Makam Gus Dur; Batu Nisan Tertulis Indah, Tempat Berbaring Seorang Pejuang Kemanusiaan
Tags: Gus DurMuslimnasionalismeNU
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Yang Terhubung: Ancaman dan Harapan | Catatan Pentas Kala Teater

Next Post

Baik atau Buruk Nilai Rapor itu, Libur Panjang adalah Reward Bagi Semua Siswa

Teguh Alfaidzin

Teguh Alfaidzin

PMII Denpasar

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Baik atau Buruk Nilai Rapor itu, Libur Panjang adalah Reward Bagi Semua Siswa

Baik atau Buruk Nilai Rapor itu, Libur Panjang adalah Reward Bagi Semua Siswa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co