23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

13 Tahun Gus Dur Pergi

Teguh Alfaidzin by Teguh Alfaidzin
December 30, 2022
in Esai
13 Tahun Gus Dur Pergi

Gus Dur

TEPAT HARI INI 13 tahun lalu, 30 Desember 2009, Abdurrahman Ad Dakhil atau Abdurrahman Wahid atau yang lebih akrab disapa Gus Dur, pulang. Kepergian Gus Dur menjadi duka mendalam dan kehilangan besar bagi Indonesia terkhusus bagi warga Nahdliyin dan kelompok minoritas. Gus Dur mengembuskan nafas terakhir di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta, pada Rabu (30/12/2009), pukul 18.45 WIB. 

Gus Dur adalah seorang tokoh yang tak pernah selesai. Meskipun jasadnya telah wafat 13 tahun silam namun warisan pemikiran beliau masih dan akan terus diperbincangkan sebab memahami pemikiran Gus Dur amatlah sulit tapi menyenangkan. Sulit karena kadang kala pemikiranya terkesan “nyeleneh”, liberal, bahkan dianggap keluar dari pakem Nahdlatul Ulama sekaligus menyenangkan sebab pemikiranya yang tegas, tanpa tedeng aling-aling.

Tidak sedikit yang mengatakan bahwa Gus Dur adalah seorang yang jauh melampaui zamannya, seorang yang mempunyai lompatan pemikiran. Jika meminjam pernyataan Yenni Wahid dalam salah satu episode Kick Andy (2008) “Gus dur ibaratnya kepala lokomotif kereta Jepang yang sangat supersonic sementara gerbongnya adalah gerbong kereta kita gaya baru expres atau gaya baru malam, jadi terseok-seok tidak bisa mengikuti”. 

Padahal kalau coba saya telisik semua itu akan terasa sangat wajar, bagaimana tidak bayangkan saja Gus Dur melanglang buana mengenyam pendidikan di berbagai kampus dan negara, diawali dari Pesantren Tegal Rejo Magelang, Pesantren Tambakberas Jombang, Universitas Al Azhar, Universitas Baghdad, Universitas Mc Gill, Belanda, Jerman Prancis sebelum akhirnya Kembali ke Indonesia dan bergabung menjadi akademisi di Universitas Hasyim As’ari. Lewat petualangan itulah Gusdur memiliki ilmu pengetahuan yang matang serta komprehensif sehingga wajar saja banyak menuduh yang bukan-bukan.

Dalam sebuah esai berjudul “Suatu Kali Ketika Jatuh Hati Pada Ikhwanul Muslimin yang terhimpun dalam buku yang berjudul Gus Dur Sang Kosmopolit Hairus Salim HS (2020), saat petualanganya ke luar negri Gus Dur muda “pernah” kepincut dengan gagasan Ikhwanul Muslimin. Sekali lagi menurut saya ini adalah peristiwa yang amat wajar dan biasa sebab Gus Dur muda telah berkenalan dengan bacaan-bacaan ilmu sosial dan filsafat barat.

Jika lagi meminjam salah satu lirik lagu Raja Dangdut Roma Irama “Masa muda masa yang berapi-api” Gus Dur muda tak pernah segan untuk mendalami gagasan apapun termasuk Ikhwanul Muslimin. Semangatnya untuk menemukan jawaban atas ketidakadilan, kemiskinan dan ketertindasan adalah faktor yang melatarbelakangi.

Walau pada akhirnya Gus Dur berkesimpulan bahwa gagasan IM terlalu absolut dan formalistik. Visi perjuangan yang eksklusif dan tertutup hanya akan membuahkan konfrontasi dan kekerasan yang tidak berkesudahan. Bagi Gus Dur, gagasan IM sama seperti komunisme. Gagal memberikan jawaban yang lengkap dan manusiawi terhadap masalah yang dihadapi masyarakat.

Greg Barton penulis buku biografi Gus Dur menyebutnya adalah seorang pemikir neo modernis, dicirikan dengan adanya impian meliberlisasi pemikiran Islam dalam usaha menjawab tantangan masyarakat modern. ciri pemikiran neo modernis ialah pekat dengan pluralisme, demokrasi, termasuk hubungan agama dan negara.

Bagi Gus Dur islam tidak pernah mengenal doktrin tentang bentuk negara. Hal ini tergantung dengan kesepakatan masyarakat dalam suatu negara apakah menggunakan bentuk negara seperti demokrasi, teokrasi, dan monarki sebab doktrin islam yang sesungguhnya adalah keadilan.

Bagi Gus Dur sepanjang corak bentuk negara tidak mengganggu dan bertentangan dengan keyakinan islam tidak ada masalah. Sekalipun tidak di akomodir oleh undang-undang. Nyatanya sampai hari ini banyak terbentuk “masyarakat Qur’ani” bukankah hal tersebut sudah termasuk kategori negara islam?

Keinginan Gus Dur untuk tidak memformalkan islam sebagai bentuk negara sejalan dengan Ulama & masyarakat Nahdliyin, selain islam tidak mengenal doktrin bentuk negara kelompok minoritas juga punya hak untuk hidup di tanah Indonesia sekaligus punya andil dalam mewujudkan kemerdekaan Indonesia.  Tentu gagasan ini bukan berarti islam Indonesia pekat dengan sekulerisme dalam arti memisahkan urusan agama dari negara tetapi tidak lebih pada keadaan negara yang sangat multiagama atau multikultural. 

KH Ahmad Muwafiq dalam salah satu ceramahnya menjelaskan bahwa pada zaman Rasull di Mekah dan Madinah ketika bertemu dengan bangsa yang berbeda, Rasulullah membentuk konsep Baladil Amin, kemudian konsep Baladil Amin-nya apa? Konsep Baladil Aminya adalah Piagam Madinah.

Rasul tidak membentuk negara islam karena negara islam hanya untuk orang islam, tapi konsep kekuasaan islam itu Baladil Amin, sehingga terbentuk ketentraman sebuah bangsa dan negara, setelah terbentuk keamanan dan ketentraman, pilih model atau bentuk negara apa saja terserah, kalau yang buat aman dengan demokrasi ya pakai demokrasi, amanya kerajaan bentuklah kerajaan, amanya dengan republik bentuklah sistem republik karena islam mengerjakan konsep besar Namanya Baladil Amin.

Sekarang di Indonesia bertemu bangsa yang berbeda kemudian diusulkan khilafah ya tidak terbentuk konsep Baladil Amin, jangankan di bangsa yang berbeda beda bangsa arab saja dibikin konsep khilafah tawuran sekarang.

Ditambah mengapa Islam timur tengah hancur lebur, porak poranda, identik dengan peperangan dan saling membenci sesama anak bangsa? Karena mereka ditanamkan kuat kecintaan kepada agama tapi tidak ditanamkan kuat kecintaan kepada bangsa dan negara. Lantas jika Indonesia menerapkan konsep khilafah ditengah masyarakatnya yang multiagama & multikultural bukankah akan timbul gejolak dan perpecahan? bukankah menolak perbedaan menolak sunnatullah?

Gus Dur sudah membangun pondasi penting hubungan islam dan negara, lantas tugas kita selanjutnya apa? Adalah memperkokoh pondasi tersebut dari berbagai ancaman yang coba menggusur dan merobohkan. [T]

Never Ending Spirit of Gus Dur dan Upaya Mencecap Masa Lalu yang Ber(Ter)serak
Menuntut Keadilan Sejarah Melalui “Menjerat Gus Dur” Virdika Rizky Utama
Ziarah ke Makam Gus Dur; Batu Nisan Tertulis Indah, Tempat Berbaring Seorang Pejuang Kemanusiaan
Tags: Gus DurMuslimnasionalismeNU
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Yang Terhubung: Ancaman dan Harapan | Catatan Pentas Kala Teater

Next Post

Baik atau Buruk Nilai Rapor itu, Libur Panjang adalah Reward Bagi Semua Siswa

Teguh Alfaidzin

Teguh Alfaidzin

PMII Denpasar

Related Posts

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails

Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

by Dede Putra Wiguna
August 18, 2026
0
Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang...

Read moreDetails
Next Post
Baik atau Buruk Nilai Rapor itu, Libur Panjang adalah Reward Bagi Semua Siswa

Baik atau Buruk Nilai Rapor itu, Libur Panjang adalah Reward Bagi Semua Siswa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co