23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ziarah ke Makam Gus Dur; Batu Nisan Tertulis Indah, Tempat Berbaring Seorang Pejuang Kemanusiaan

Taufikur Rahman Al Habsyi by Taufikur Rahman Al Habsyi
January 31, 2020
in Tualang
Ziarah ke Makam Gus Dur; Batu Nisan Tertulis Indah, Tempat Berbaring Seorang Pejuang Kemanusiaan

Penulis berpose di areal Makam Gus Dur

Sudah beberapa pekan saya tinggal di Kampung Inggris Pare-Kediri, Jawa Timur. Aktivitas sehari-hari saya habiskan hanya untuk les Bahasa Inggris, mulai dari jam 07.00-5.30 WIB, dengan jadwal belajar yang sangat padat dan hanya mendapatkan jatah istirahat di siang hari, membuat saya merasa jenuh dan membosankan terlebih stress menghadapi pelajaran.

Tanpa rencana apapun, akhir pekan yang biasanya saya  hanya gunakan untuk beristirahat—yaitu membalas dendam kepada hari senin-jumat dengan tidur sepanjang hari, lama-kelamaan membuat saya jenuh juga. Akhir pekan kali ini saya harus liburan, intinya harus keluar kota dari Pare.

Bersama Anas teman baru yang saya kenal di kelas Grammar, saya mengutarakan niat untuk merasakan akhir pekan tidak hanya tidur saja di kosan. Ketika teman kursusan lainnya memilih liburan akhir pekan untuk mengunjungi Kota Batu Malang, Bromo Probolinggo, atau Baluran Situbondo. Saya mengajak Anas untuk mengunjungi makam Gus Dur saja.

Pada awalnya Anas tidak langsung mengiyakan, ia masih meminta waktu untuk memikirkan ajakan saya ini. Kurang ajar sekali! Saya merasa digantung seperti menyatakan perasaan kepada seorang perempuan.

Saya harus sabar menunggu jawaban dari Anas, karena cuma Anas harapan saya agar bisa pergi ke Jombang mengunjungi Makam Gus Dur dengan hemat ongkos. Dari sekian teman kursus hanya Anas yang membawa sepeda motor. Tetapi jika memang terpaksa saya sudah siap untuk Rental dengan biaya yang cukup mahal.

“Bang, ayo kita ke Jombang Makam Gus Dur!” Tiba-tiba pesan dari Anas melesat ke dalam ponsel ketika pagi masih berselimut dinginnya subuh.

“Serius nih? Kau jangan bercanda,” balas saya singkat kembali bertanya untuk menyakinkan.

“Serius saya, Bang, jam berapa enaknya? Soalnya nanti jam tujuh pagi  kita masih ada Final Exam!”

“Yaudah jam sepuluh saja, Final Exam paling selesai jam sembilan tiga puluh,” tegas saya.

“Wokey, Bang. Seeep!”.

Sesuai dengan apa yang telah direncanakan. Setelah Final Exam selesai kami bersiap-siap membelah jalanan Kota Kediri menuju Kota Jombang. Kami yang berdua buta arah jalan, dengan kerendahan hati meminta bantuan Google Map sebagai petunjuk arah paling aman untuk menghindari tersesat di jalan.

Matahari semakin panas membakar aspal, udara kian menguap dan berkeringat, sepanjang jalan deretan penjual jajanan kaki lima bercokol menyalani pelanggan yang hilir-mudik datang bergantian. Anas sesekali menengok kebelakang bertanya arah  mana yang harus diambil ketika sudah ada dipertigaan atau perempatan, saya mengarahkan Anas sesuai dengan arahan yang saya lihat dari Google Map.

Di atas motor dengan laju sedang saya lantas berfikir. Dulu, ketika saya berkendara dan buta arah biasanya akan mencari warung atau orang yang duduk dipinggir jalan untuk ditanyai arah mana yang harus saya ambil untuk menuju ke tempat tujuan. Hal ini bukan hanya sekali dua kali bertanya kepada warga sekitar, tetapi berkali-kali. Bahkan karena saking sering bertanya kita masih menyempatkan duduk sejenak bersama warga, biasanya jika sudah begitu bumbu obrolan dengan narasi umum akan terlontar sebagai pembuka percakapan. “Mas, asalnya dari mana?” “Mas Hendak kemana?” “Kok ke sana memang mau ngapain, Mas?” Dan pertanyaan lain yang terasa sangat hangat.

Google Map dengan segala kemudahan yang ditawarkan kepada saya, hal-hal romansa dengan warga sepertinya sudah lenyap. Karena hanya bermodalkan kouta saya bisa menuju tempat tujuan tanpa bertanya kepada siapapun di jalan. Memang semua ini pilihan, zaman yang semakin bergerak cepat yang mengeser percakapan-percakapan hangat perjalanan dengan warga lokal.

Saya tidak mau  munafik, saya juga butuh Google Map sebagai petunjuk arah jalan yang baik. Meski disisi lain saya rindu interaksi dengan warga lokal untuk bertanya arah jalan.

“Bang, Bang, kita ambil kanan, kiri, apa lurus ini?” Suara Anas cukup keras membuyarkan lamunan saya yang gelisah.

“Larus saja dulu, nanti jarak seratus meter belok kiri!” Saya mengarahkan Anas.

Sekitar setengah jam perjalanan plang warna Ijo dengan ukuran cukup besar tertulis “Makam Gus Dur” lengkap dengan anak panah warna putih menuju ke area gang yang tidak terlalu lebar.

Baru saja memasuki mulut gang di sisi kanan-kiri bahu jalan  toko-toko souvenir untuk oleh-oleh berjejer rapi lengkap dengan para pegadangnya yang berdiri di depan toko sembari bersuara keras “Bapak, Ibu, Adek, Mas, silakan mampir untuk oleh-oleh saudara di rumah”. Kata seperti itu terus saja diulang-ulang oleh para pedagang. Sehingga suara mereka saling bercampur antara pegadang satu dengan pegadang lainnya.

Sekitar tiga menit menembus pejalan kaki, kami langsung memarkirkan sepeda motor di tempat yang telah disediakan. Langkah pertama kaki saya menuju ke Makam Gus Dur—hati saya bergetar, kulit saya merinding, bukan saya takut karena horor, bukan, bukan itu!

Ah.. Gus Dur! Sekali pun jazadnya sudah terkubur tetapi masih memberikan penghidupan bagi orang lain. Bagaimana tidak? Para Penjual Souvenir, Penjual Pentol, Bakso, Es Degan, Es Buah, Batagor, dan aneka jajanan lainnya, para pedagang tersebut memenuhi kebutuhan hidupnya secara tidak langsung dari keberadaan Makam Gus Dur.

Di bawah langit Kota Jombang, saya berdesak-desakan dengan peziarah lainnya yang berasal dari berbagai kota. Usia mereka mulai dari yang tua sepuh, setengah tua, tua sebaya, dewasa, remaja, laki-laki dan perempuan, bahkan anak-anak yang ikut bersama orang tuanya membaur untuk mendo`akan Gus Dur.

Jujur baru kali ini saya berziarah ke makam Gus Dur. Sebelum sampai ke pusaran makamnya bangunan besar  tinggi menjulang menyambut saya dengan tulisan  “Pondok Pesantren  Tebuireng 26 Rabiul Awal 1899 M” “Pintu Utama Pesarehan (Keluarga Pesantren Tebuireng)”. Saya sebagai orang Jawa swasta mencoba menerka arti Pesarehan yang jika di runut adalah demikian (Pesarehan asal mula dari kata ‘Sare’ yang bermakna ‘tidur’. Setelah mendapat awalan ‘pe’ dan akhiran ‘an’ menjadi ‘Pesarehan’ yang bermakna utuh tempat tidur. ‘Pesarehan’ bukan berarti peraduan, bukan bersifat sementara tetapi memiliki arti abadi. Kata ‘Pesarehan’ biasanya diucap dan dipakai oleh kaum  bangsawan  dan dianggap mempunyai kedudukan lebih santun sebagai perhargaan bagi seorang bangsawan yang telah wafat.

Memasuki ke dalam area makam dengan lorong panjang yang disisi kanan-kiri berdiri etalase pernak-pernik Gus Dur mulai dari Buku-buku, Gantungan kunci, Kaos bergambar Gus Dur, Peci, Baju koko muslim, Lukisan, semuanya ramai dikunjungi peziarah sebagai tempat untuk mendapatkan oleh-oleh.  Ah.. Gus Dur. Penghidupannya kepada orang lain masih saja mengalir. Hati saya berbisik kembali.


Para peziarah di Makam Gus Dur

Dengan penuh Khidmat tepat di sebelah makam Gus Dur yang dibatasi oleh pagar setinggi setengah meter saya duduk bersila dengan Anas dan bergabung bersama rombongan  peziarah lainnya memanjatkan do`a dan membaca Surah-Yasin. Sepanjang melafalkan do`a sesekali saya memperhatikan sekitar, pemandangan sendu air mata beberapa orang berjatuhan, ada yang menutup matanya rapat-rapat dengan tangan diangkatnya ke atas, riuh suara do`a-do`a bertalu-talu dilangit pusaran makam.

Di komplek makam Gus Dur, dari papan informasi yang saya baca ada sekitar 45 orang yang dimakamkan. Mulai dari pendiri pesantren Tebuireng, pengasuh pondok, keluarga hingga dzuriah. Termasuk dua makam pahlawan nasional, yakni KH Hasyim Asy`ari, tokoh pendiri NU sekaligus kakek dari Gus Dur. Serta KH Wahid Hasyim yang merupakan ayah Gus Dur.

Makam Gus Dur sendiri terletak di sebelah  pojok utara—yang membuat saya semakin merinding akan tersohornya seorang tokoh Gus Dur adalah  ketika saya melihat tanda batu nisan tertulis “Di Sini Berbaring Seorang Pejuang Kemanusiaan” dalam empat bahasa. Yakni Bahasa Indonesia,  Arab, Inggris, dan China.

Saya sendiri sebagai anak generasi yang lahir 90an tidak pernah mengenal sosok seorang Gus Dur secara langsung. Kecuali saya pernah merasakan beberapa kebijakannya seperti meliburkan sekolah selama sebulan sewaktu puasa. Dan itu cukup membuat saya senang dan terkenang sampai sekarang. Selebihnya kiprah seorang Gus Dur sebagai Presisden RI ke-4 banyak saya dapatkan dari slentingan cerita forum diskusi, buku-buku, seminar, jejak media, atau obrolan warung kopi yang notabene saya sendiri lahir di kalangan NU.

“Here Rests a Humanist” menurut saya kata tersebut adalah prasasti yang tertanam di dalam kepala orang-orang  mengenai seorang Gus Dur. Dikutip dari Beritagar.id seorang Gus Dur mewakafkan dirinya untuk kepentingan dalam tiga skala besar; Islam, Indonesia, dan NU. Sebagai orang islam Gus Dur menyebarkan agama yang rahmatan lil `alamin. Pembelaan kepada kaum yang termarginalkan, seperti Syiah, Ahmadiyah, Tionghoa, bahkan mengadvokasi kasus Kedung Ombo, adalah manifestasi islam yang dipandang oleh Gus Dur, membebaskan dan merahmati semua.


Makam Gus Dur

Dalam bingkai Indonesia, Gus Dur memperjuangkan demokratisasi dan kamanusiaan. Pada Mei 2008 Gus Dur dianugrahi Medals of  Valor  dari The Simon Wieenthal Center di Amerika Serikat karena kegigihannya memperjuangkan pluralisme dan perdamaian.

Sementara di wilayah ke-NU-an, Gus Dur meneruskan perjuangan kakeknya, KH. Hasyim Asy`ari dengan memperjuangkan Pancasila sebagai dasar ideologi Negara, Bhenika Tunggal Ika, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan UUD 1945. Semuanya itu yang kemudian mencerminkan sikap tawasuth (moderat), tasamuh (toleran), i`tidal (bersikap adil), dan tawazun (berimbang).

Sekitar dua jam berada di area makam, saya dan Anas memutuskan untuk kembali ke Pare-Kediri. Sebelum kaki melangkah lebih jauh dari makam, saya membayangkan jika kelak saya terbaring abadi, tertulis apakah dibatu nisan saya atau apa yang akan terlintas dikepala orang-orang ketika mendengar nama saya? Apakah makam saya akan direnggut sepi karena tidak ada orang yang bertandang hanya untuk berdo`a kebaikan kepada saya yang terkubur di dalam tanah?

Dari seorang Gus Dur selepas berziarah saya belajar arti menjadi manusia utuh yang bisa bermanfaat bagi sesama. Sebab kemanusiaan adalah atas dari segala apapun. Karena sejatinya hidup terlalu singkat jika hanya memikirkan kebahagiaan diri sendiri.

KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur); Panjang Umur Kemanusiaan, Al-fatiha! [T]

Tags: Gus DurJawa TimurJombangziarah
Share58TweetSendShareSend
Previous Post

Ancaman Terhadap Burung Endemik Bali Dalam Karya Seni Digital

Next Post

Politik Kasur, Dengkur dan Kubur: Romantisme I Made Suarbawa

Taufikur Rahman Al Habsyi

Taufikur Rahman Al Habsyi

Biasa dipanggil Koko Opik. Lahir di Bondowoso, 05-06-1998. Anak kedua dari pasangan Arjas dan Irliya, orang tua yang selalu berjuang membahagiakan anak-anaknya.

Related Posts

Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

by Ahmad Sihabudin
October 12, 2026
0
Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

SUDAH cukup lama saya ingin menuliskan kembali tiga kali perjalanan saya ke Ambon, Maluku. Setiap perjalanan memiliki tujuan yang berbeda....

Read moreDetails

Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

by I Putu Ardiyasa
September 30, 2026
0
Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

SAYA datang ke Toyooka dengan niat yang sederhana: mengikuti Intersecting Peripheries dan melihat bagaimana sebuah festival teater bekerja di sebuah...

Read moreDetails

Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

by Ahmad Sihabudin
September 28, 2026
0
Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

SUDAH cukup lama sebenarnya kami ingin berjalan-jalan di kawasan Royal Baroe, Kota Serang, Provinsi Banten. Bukan untuk mencari sesuatu yang...

Read moreDetails

Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

by Ahmad Sihabudin
September 7, 2026
0
Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

ADA tempat yang awalnya kita kenal hanya sebagai pusat pemerintahan, tetapi ternyata memiliki wajah lain yang lebih dekat dengan kehidupan...

Read moreDetails

Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

by Dewa Ayu Windu
August 31, 2026
0
Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

GEMERICIK air Sungai Pakerisan terdengar bak nada alam yang konstan, membelah kesunyian lembah di Desa Adat Penaka, Tampaksiring, Gianyar, Bali....

Read moreDetails

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
0
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

Read moreDetails

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
0
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

Read moreDetails

“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

by Luh Putu Sendratari
August 18, 2026
0
“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

SABTU, 15 Agustus 2026 tanpa direncanakan sebelumnya saya ada di Desa Bengkala. Bersama teman2 dari Universitas Pancasila (Dr Kunthi Tridewiyanti,...

Read moreDetails

Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

by I Nyoman Tingkat
August 16, 2026
0
Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

PEMILIHAN Duta SMA Tingkat Nasional Tahun 2026 dipusatkan di Kota Yogyakarta tepatnya di Indoluxe Hotel sebagai tempat belajar di kelas....

Read moreDetails

Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

by Laurensia Junita Della
August 15, 2026
0
Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

Ada kalanya rutinitas yang padat membuat kita ingin sejenak menjauh dari hiruk-pikuk kehidupan. Di tengah kesibukan yang seolah tidak ada...

Read moreDetails
Next Post
Politik Kasur, Dengkur dan Kubur: Romantisme I Made Suarbawa

Politik Kasur, Dengkur dan Kubur: Romantisme I Made Suarbawa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co