23 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ziarah ke Makam Gus Dur; Batu Nisan Tertulis Indah, Tempat Berbaring Seorang Pejuang Kemanusiaan

Taufikur Rahman Al Habsyi by Taufikur Rahman Al Habsyi
January 31, 2020
in Tualang
Ziarah ke Makam Gus Dur; Batu Nisan Tertulis Indah, Tempat Berbaring Seorang Pejuang Kemanusiaan

Penulis berpose di areal Makam Gus Dur

Sudah beberapa pekan saya tinggal di Kampung Inggris Pare-Kediri, Jawa Timur. Aktivitas sehari-hari saya habiskan hanya untuk les Bahasa Inggris, mulai dari jam 07.00-5.30 WIB, dengan jadwal belajar yang sangat padat dan hanya mendapatkan jatah istirahat di siang hari, membuat saya merasa jenuh dan membosankan terlebih stress menghadapi pelajaran.

Tanpa rencana apapun, akhir pekan yang biasanya saya  hanya gunakan untuk beristirahat—yaitu membalas dendam kepada hari senin-jumat dengan tidur sepanjang hari, lama-kelamaan membuat saya jenuh juga. Akhir pekan kali ini saya harus liburan, intinya harus keluar kota dari Pare.

Bersama Anas teman baru yang saya kenal di kelas Grammar, saya mengutarakan niat untuk merasakan akhir pekan tidak hanya tidur saja di kosan. Ketika teman kursusan lainnya memilih liburan akhir pekan untuk mengunjungi Kota Batu Malang, Bromo Probolinggo, atau Baluran Situbondo. Saya mengajak Anas untuk mengunjungi makam Gus Dur saja.

Pada awalnya Anas tidak langsung mengiyakan, ia masih meminta waktu untuk memikirkan ajakan saya ini. Kurang ajar sekali! Saya merasa digantung seperti menyatakan perasaan kepada seorang perempuan.

Saya harus sabar menunggu jawaban dari Anas, karena cuma Anas harapan saya agar bisa pergi ke Jombang mengunjungi Makam Gus Dur dengan hemat ongkos. Dari sekian teman kursus hanya Anas yang membawa sepeda motor. Tetapi jika memang terpaksa saya sudah siap untuk Rental dengan biaya yang cukup mahal.

“Bang, ayo kita ke Jombang Makam Gus Dur!” Tiba-tiba pesan dari Anas melesat ke dalam ponsel ketika pagi masih berselimut dinginnya subuh.

“Serius nih? Kau jangan bercanda,” balas saya singkat kembali bertanya untuk menyakinkan.

“Serius saya, Bang, jam berapa enaknya? Soalnya nanti jam tujuh pagi  kita masih ada Final Exam!”

“Yaudah jam sepuluh saja, Final Exam paling selesai jam sembilan tiga puluh,” tegas saya.

“Wokey, Bang. Seeep!”.

Sesuai dengan apa yang telah direncanakan. Setelah Final Exam selesai kami bersiap-siap membelah jalanan Kota Kediri menuju Kota Jombang. Kami yang berdua buta arah jalan, dengan kerendahan hati meminta bantuan Google Map sebagai petunjuk arah paling aman untuk menghindari tersesat di jalan.

Matahari semakin panas membakar aspal, udara kian menguap dan berkeringat, sepanjang jalan deretan penjual jajanan kaki lima bercokol menyalani pelanggan yang hilir-mudik datang bergantian. Anas sesekali menengok kebelakang bertanya arah  mana yang harus diambil ketika sudah ada dipertigaan atau perempatan, saya mengarahkan Anas sesuai dengan arahan yang saya lihat dari Google Map.

Di atas motor dengan laju sedang saya lantas berfikir. Dulu, ketika saya berkendara dan buta arah biasanya akan mencari warung atau orang yang duduk dipinggir jalan untuk ditanyai arah mana yang harus saya ambil untuk menuju ke tempat tujuan. Hal ini bukan hanya sekali dua kali bertanya kepada warga sekitar, tetapi berkali-kali. Bahkan karena saking sering bertanya kita masih menyempatkan duduk sejenak bersama warga, biasanya jika sudah begitu bumbu obrolan dengan narasi umum akan terlontar sebagai pembuka percakapan. “Mas, asalnya dari mana?” “Mas Hendak kemana?” “Kok ke sana memang mau ngapain, Mas?” Dan pertanyaan lain yang terasa sangat hangat.

Google Map dengan segala kemudahan yang ditawarkan kepada saya, hal-hal romansa dengan warga sepertinya sudah lenyap. Karena hanya bermodalkan kouta saya bisa menuju tempat tujuan tanpa bertanya kepada siapapun di jalan. Memang semua ini pilihan, zaman yang semakin bergerak cepat yang mengeser percakapan-percakapan hangat perjalanan dengan warga lokal.

Saya tidak mau  munafik, saya juga butuh Google Map sebagai petunjuk arah jalan yang baik. Meski disisi lain saya rindu interaksi dengan warga lokal untuk bertanya arah jalan.

“Bang, Bang, kita ambil kanan, kiri, apa lurus ini?” Suara Anas cukup keras membuyarkan lamunan saya yang gelisah.

“Larus saja dulu, nanti jarak seratus meter belok kiri!” Saya mengarahkan Anas.

Sekitar setengah jam perjalanan plang warna Ijo dengan ukuran cukup besar tertulis “Makam Gus Dur” lengkap dengan anak panah warna putih menuju ke area gang yang tidak terlalu lebar.

Baru saja memasuki mulut gang di sisi kanan-kiri bahu jalan  toko-toko souvenir untuk oleh-oleh berjejer rapi lengkap dengan para pegadangnya yang berdiri di depan toko sembari bersuara keras “Bapak, Ibu, Adek, Mas, silakan mampir untuk oleh-oleh saudara di rumah”. Kata seperti itu terus saja diulang-ulang oleh para pedagang. Sehingga suara mereka saling bercampur antara pegadang satu dengan pegadang lainnya.

Sekitar tiga menit menembus pejalan kaki, kami langsung memarkirkan sepeda motor di tempat yang telah disediakan. Langkah pertama kaki saya menuju ke Makam Gus Dur—hati saya bergetar, kulit saya merinding, bukan saya takut karena horor, bukan, bukan itu!

Ah.. Gus Dur! Sekali pun jazadnya sudah terkubur tetapi masih memberikan penghidupan bagi orang lain. Bagaimana tidak? Para Penjual Souvenir, Penjual Pentol, Bakso, Es Degan, Es Buah, Batagor, dan aneka jajanan lainnya, para pedagang tersebut memenuhi kebutuhan hidupnya secara tidak langsung dari keberadaan Makam Gus Dur.

Di bawah langit Kota Jombang, saya berdesak-desakan dengan peziarah lainnya yang berasal dari berbagai kota. Usia mereka mulai dari yang tua sepuh, setengah tua, tua sebaya, dewasa, remaja, laki-laki dan perempuan, bahkan anak-anak yang ikut bersama orang tuanya membaur untuk mendo`akan Gus Dur.

Jujur baru kali ini saya berziarah ke makam Gus Dur. Sebelum sampai ke pusaran makamnya bangunan besar  tinggi menjulang menyambut saya dengan tulisan  “Pondok Pesantren  Tebuireng 26 Rabiul Awal 1899 M” “Pintu Utama Pesarehan (Keluarga Pesantren Tebuireng)”. Saya sebagai orang Jawa swasta mencoba menerka arti Pesarehan yang jika di runut adalah demikian (Pesarehan asal mula dari kata ‘Sare’ yang bermakna ‘tidur’. Setelah mendapat awalan ‘pe’ dan akhiran ‘an’ menjadi ‘Pesarehan’ yang bermakna utuh tempat tidur. ‘Pesarehan’ bukan berarti peraduan, bukan bersifat sementara tetapi memiliki arti abadi. Kata ‘Pesarehan’ biasanya diucap dan dipakai oleh kaum  bangsawan  dan dianggap mempunyai kedudukan lebih santun sebagai perhargaan bagi seorang bangsawan yang telah wafat.

Memasuki ke dalam area makam dengan lorong panjang yang disisi kanan-kiri berdiri etalase pernak-pernik Gus Dur mulai dari Buku-buku, Gantungan kunci, Kaos bergambar Gus Dur, Peci, Baju koko muslim, Lukisan, semuanya ramai dikunjungi peziarah sebagai tempat untuk mendapatkan oleh-oleh.  Ah.. Gus Dur. Penghidupannya kepada orang lain masih saja mengalir. Hati saya berbisik kembali.


Para peziarah di Makam Gus Dur

Dengan penuh Khidmat tepat di sebelah makam Gus Dur yang dibatasi oleh pagar setinggi setengah meter saya duduk bersila dengan Anas dan bergabung bersama rombongan  peziarah lainnya memanjatkan do`a dan membaca Surah-Yasin. Sepanjang melafalkan do`a sesekali saya memperhatikan sekitar, pemandangan sendu air mata beberapa orang berjatuhan, ada yang menutup matanya rapat-rapat dengan tangan diangkatnya ke atas, riuh suara do`a-do`a bertalu-talu dilangit pusaran makam.

Di komplek makam Gus Dur, dari papan informasi yang saya baca ada sekitar 45 orang yang dimakamkan. Mulai dari pendiri pesantren Tebuireng, pengasuh pondok, keluarga hingga dzuriah. Termasuk dua makam pahlawan nasional, yakni KH Hasyim Asy`ari, tokoh pendiri NU sekaligus kakek dari Gus Dur. Serta KH Wahid Hasyim yang merupakan ayah Gus Dur.

Makam Gus Dur sendiri terletak di sebelah  pojok utara—yang membuat saya semakin merinding akan tersohornya seorang tokoh Gus Dur adalah  ketika saya melihat tanda batu nisan tertulis “Di Sini Berbaring Seorang Pejuang Kemanusiaan” dalam empat bahasa. Yakni Bahasa Indonesia,  Arab, Inggris, dan China.

Saya sendiri sebagai anak generasi yang lahir 90an tidak pernah mengenal sosok seorang Gus Dur secara langsung. Kecuali saya pernah merasakan beberapa kebijakannya seperti meliburkan sekolah selama sebulan sewaktu puasa. Dan itu cukup membuat saya senang dan terkenang sampai sekarang. Selebihnya kiprah seorang Gus Dur sebagai Presisden RI ke-4 banyak saya dapatkan dari slentingan cerita forum diskusi, buku-buku, seminar, jejak media, atau obrolan warung kopi yang notabene saya sendiri lahir di kalangan NU.

“Here Rests a Humanist” menurut saya kata tersebut adalah prasasti yang tertanam di dalam kepala orang-orang  mengenai seorang Gus Dur. Dikutip dari Beritagar.id seorang Gus Dur mewakafkan dirinya untuk kepentingan dalam tiga skala besar; Islam, Indonesia, dan NU. Sebagai orang islam Gus Dur menyebarkan agama yang rahmatan lil `alamin. Pembelaan kepada kaum yang termarginalkan, seperti Syiah, Ahmadiyah, Tionghoa, bahkan mengadvokasi kasus Kedung Ombo, adalah manifestasi islam yang dipandang oleh Gus Dur, membebaskan dan merahmati semua.


Makam Gus Dur

Dalam bingkai Indonesia, Gus Dur memperjuangkan demokratisasi dan kamanusiaan. Pada Mei 2008 Gus Dur dianugrahi Medals of  Valor  dari The Simon Wieenthal Center di Amerika Serikat karena kegigihannya memperjuangkan pluralisme dan perdamaian.

Sementara di wilayah ke-NU-an, Gus Dur meneruskan perjuangan kakeknya, KH. Hasyim Asy`ari dengan memperjuangkan Pancasila sebagai dasar ideologi Negara, Bhenika Tunggal Ika, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan UUD 1945. Semuanya itu yang kemudian mencerminkan sikap tawasuth (moderat), tasamuh (toleran), i`tidal (bersikap adil), dan tawazun (berimbang).

Sekitar dua jam berada di area makam, saya dan Anas memutuskan untuk kembali ke Pare-Kediri. Sebelum kaki melangkah lebih jauh dari makam, saya membayangkan jika kelak saya terbaring abadi, tertulis apakah dibatu nisan saya atau apa yang akan terlintas dikepala orang-orang ketika mendengar nama saya? Apakah makam saya akan direnggut sepi karena tidak ada orang yang bertandang hanya untuk berdo`a kebaikan kepada saya yang terkubur di dalam tanah?

Dari seorang Gus Dur selepas berziarah saya belajar arti menjadi manusia utuh yang bisa bermanfaat bagi sesama. Sebab kemanusiaan adalah atas dari segala apapun. Karena sejatinya hidup terlalu singkat jika hanya memikirkan kebahagiaan diri sendiri.

KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur); Panjang Umur Kemanusiaan, Al-fatiha! [T]

Tags: Gus DurJawa TimurJombangziarah
Share58TweetSendShareSend
Previous Post

Ancaman Terhadap Burung Endemik Bali Dalam Karya Seni Digital

Next Post

Politik Kasur, Dengkur dan Kubur: Romantisme I Made Suarbawa

Taufikur Rahman Al Habsyi

Taufikur Rahman Al Habsyi

Biasa dipanggil Koko Opik. Lahir di Bondowoso, 05-06-1998. Anak kedua dari pasangan Arjas dan Irliya, orang tua yang selalu berjuang membahagiakan anak-anaknya.

Related Posts

Pantai Mertasari Sanur, Ruang Kelas Bagi Toska   

by I Nyoman Tingkat
April 19, 2026
0
Pantai Mertasari Sanur, Ruang Kelas Bagi Toska   

JUMAT, 17 April 2026, sebanyak 67 siswa,  guru, dan tenaga kependidikan SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska) melaksanakan pembelajaran di...

Read moreDetails

Ketika Nembang Macapat menjadi Bagian Hidup Warga Dusun Tengger di Gunung Kidul

by Laurensia Junita Della
April 19, 2026
0
Ketika Nembang Macapat menjadi Bagian Hidup Warga Dusun Tengger di Gunung Kidul

“Tanpa seni, dunia jadi hambar.” Saya tidak yakin dari mana saya mendapatkan kata-kata ini, tapi saya setuju. Sebagai orang yang...

Read moreDetails

Di Atas Awan, di Puncak Merbabu, Kami Menemukan Diri

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
April 14, 2026
0
Di Atas Awan, di Puncak Merbabu, Kami Menemukan Diri

HARI itu adalah hari yang telah lama saya nantikan. Hari ketika akhirnya saya bisa menyaksikan dunia dari ketinggian 3.145 mdpl,...

Read moreDetails

Berwisata ke Park Shanghai Surabaya

by Jaswanto
March 29, 2026
0
Berwisata ke Park Shanghai Surabaya

APA ada Surabaya di Shanghai? Saya kira tidak. Tapi ada Shanghai di Surabaya—meski hanya Shanghai-Shanghaian. Maksudnya, bukan Shanghai betulan. Hanya...

Read moreDetails

Menelusuri Jejak Gunung Api di Museum Geopark Batur, Kintamani

by Dede Putra Wiguna
March 24, 2026
0
Menelusuri Jejak Gunung Api di Museum Geopark Batur, Kintamani

KABUT tipis masih menggantung saat saya tiba di dataran tinggi Kintamani, Bangli, Bali. Udara dingin menempel di kulit, sementara di...

Read moreDetails

Desember yang Tak Pernah Usai —Catatan Harian 1982

by Ahmad Sihabudin
March 8, 2026
0
Desember yang Tak Pernah Usai —Catatan Harian 1982

DESEMBER 1982, kami baru naik kelas dua SMA. Umur masih belasan, dada penuh angin, kepala penuh peta yang belum tentu...

Read moreDetails

Menyusuri Heritage Kota, Memeluk Kaum Terpinggir —Kado Kecil Keluarga Sejarah Universitas Udayana untuk HUT ke-238 Kota Denpasar

by Kadek Surya Jayadi
February 28, 2026
0
Menyusuri Heritage Kota, Memeluk Kaum Terpinggir —Kado Kecil Keluarga Sejarah Universitas Udayana untuk HUT ke-238 Kota Denpasar

ADA banyak cara merayakan hari jadi suatu kota. Tak selamanya meski meriah, sebab yang sederhana pun kadang terasa semarak. Sebagaimana...

Read moreDetails

Berkunjung dan Belajar ke Desa Wisata Krebet, Bantul, Yogyakarta

by Nyoman Nadiana
February 26, 2026
0
Berkunjung dan Belajar ke Desa Wisata Krebet, Bantul, Yogyakarta

TANGGAL 4-8 Februari 2026 lalu, saya kembali menapaki Jakarta. Saya berkesempatan terlibat di pameran INACRAFT 2026, pameran craft dan textile...

Read moreDetails

Hujan Februari di Istana Maskerdam: Ziarah Romantis KEMAS UNUD di Situs Puri Agung Karangasem

by Kadek Surya Jayadi
February 21, 2026
0
Hujan Februari di Istana Maskerdam: Ziarah Romantis KEMAS UNUD di Situs Puri Agung Karangasem

RINTIK hujan mengiringi perjalanan kami Keluarga Mahasiswa Sejarah (KEMAS) Universitas Udayana, menuju Puri Agung Karangasem, Jumat 20 Februari 2026. Percuma...

Read moreDetails

Catatan Perjalanan Bodhakeling: Dialog Lintas Iman dan Upaya Membaca Situs Sejarah Baru

by Kadek Surya Jayadi
February 18, 2026
0
Catatan Perjalanan Bodhakeling: Dialog Lintas Iman dan Upaya Membaca Situs Sejarah Baru

SINAR mentari pagi menyambut dengan hangat, menghiasi perjalanan Keluarga Besar Prodi Sejarah Universitas Udayana menuju Desa Bodhakeling. Bus Universitas Udayana...

Read moreDetails
Next Post
Politik Kasur, Dengkur dan Kubur: Romantisme I Made Suarbawa

Politik Kasur, Dengkur dan Kubur: Romantisme I Made Suarbawa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang...

by Petrus Imam Prawoto Jati
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co