3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Lagu “Bungan Sandat”: Menebar Kata, Mengkonstruksi Gender

Luh Putu Sendratari by Luh Putu Sendratari
December 30, 2022
in Opini
Lagu “Bungan Sandat”: Menebar Kata, Mengkonstruksi Gender

Ilustrasi tatkala.co | Wiradinata

LAGU BISA MENJADI medium untuk menegakkan kearifan lokal. Kekuatan lagu bukan hanya untuk menghibur pendengarnya, namun lebih dari itu, lagu bisa menjadi penguat gagasan tentang kearifan lokal. Kekayaan kearifan Indonesia umumnya, Bali pada umumnya sudah tidak diragukan lagi. Wujud kekayaan kearifan lokal dapat berupa sitem gagasan, sistem tata kelakuan, maupun wujud benda.

Lagu Bali merupakan wujud kebudayaan yang bermuatan sistem gagasan maupun sistem tata kelakuan. Kehadiran lagu Bali di tengah masyarakat memiliki penggemar yang semakin hari semakin bertambah. Demikian pula pengarang dan penyanyi Bali bertumbuh bak jamur di musim hujan.

Kaset-kaset lagu Bali pun memenuhi rak-rak penjual kaset. Belum lagi produksi youtube lagu Bali saat ini membanjir di media sosial. Popularitas lagu Bali juga tampak dari kehadirannya dalam berbagai perhelatan  di tingkat rumah tangga maupun di wilayah perkantoran dalam  bentuk kegiatan karaoke.

Popularitas bunga kenanga/sandat  tampak dari kehadirannya sebagai maskot Kabupaten Tabanan dalam bentuk tari bungan sandat. Dalam konteks ini jasa A.A Made Cakra sebagai pencipta lagu Bungan Sandat di Bali tidak bisa diabaikan.

Fenomena ini menarik, karena dinamika kehadiran lagu Bali demikian gencarnya sehingga ini juga bisa diartikan terjadi proses kemapanan konstruksi nilai. Mengingat di dalam lagu akan bermuatan nilai-nilai tertentu yang menyasar pada subjek-subjek tertentu.

Lagu Bungan Sandat adalah konstruk imajiner tentang peran gender perempuan ideal. Sisi menarik lainnya dari lagu ini, melalui pembacaan tanda dari syairnya, kontruksi yang ingin dibentuk bukan hanya spesifik gender perempuan namun juga neutral gender. Moralitas ganda yang termuat dalam lagu ini mengundang daya tarik tersendiri untuk dicerna di selami lebih jauh untuk menemukan pemahaman mekanisme konstruksi gender yang dilakukan melalui karya seni.

Kehalusan pesan yang disampaikan menjadi daya pikat tersendiri yang mengantarkan lagu ini tetap memiliki penggemar yang mampu menyaingi lagu-lagu Pop Bali yang hadir setelahnya. Pesan moral yang menyasar lewat lagu bungan sandat bisa saja diartikan memiliki kearifan budaya yang untuk membangun budi pekerti.

Syair Lagu Bungan Sandat

Yen gumanti bajang tanbinaya pucuk nedeng kembang
Disubaye layu tan ade ngarungwang ngemasin mekutang
Becik melaksana de gumanti dadi kembang bintang
Mentik dirurunge makejang mengempok raris kaentungang
To I bungan sandat selayu layu layune miik
Toya nyandang tulad sauripe melaksana becik
Para truna truni mangda saling asah asih asuh
Menyama beraya to kukuhin rahayu kepanggih

Reff :

Becik melaksana de gumanti dadi kembang bintang
Mentik dirurunge makejang mengempok raris keentungang
To I bungan sandat Selayulayulayune miik
Toya nyandang tulang sauripe melaksana becik
Para truna truni mangda saling asah asih asoh
Menyama beraya to kukuhin rahayu kepanggih
To I bungan sandat selayu layu layune miik
Toya nyandang tulad sauripe melaksana becik
Para truna truni mangda saling asah asih asoh
Menyama beraya to kukuhin rahayu kepanggih.

Pembacaan Tanda Syair Lagu Menuai Konstruksi Gender Ideal

Pembacaan secara semiotik atas syair lagu Bungan Sandat akan diperoleh pemaknaan yang berkaitan dengan konstruksi gender perempuan ideal dan karakter manusia yang ideal. Secara umum tanda yang terbaca dari lagu ini mengandung pesan moral bahwa perempuan remaja diibaratkan sebagai bunga yang sedang kembang. Hal ini sangat kentara pada baris pertama dari syair lagu:

“Yen gumanti bajang, tanbinaya pucuk nedeng kembang” (Terjemahan: saat kondisi remaja, tak ubahnya ibarat bunga kembang sepatu yang sedang mekar).

Kalimat ini secara kultural biasanya lebih ditujukan untuk anak perempuan. Identik dengan pernyataan ini ada juga kata-kata serupa dengan memakai istilah bunga biasanya ditujukan untuk anak perempuan remaja, misalnya: bungan natah (sebuah keluarga yang memiliki gadis cantik yang menebarkan aroma keharuman dan keindahna untuk keluarga). Jadi, pemakaian istilah bunga secara kultural dianggap lazim tertuju untuk anak perempuan.

Simbolisasi bungan pucuk/kamboja digunakan dalam syair ini dapat pula diartikan bahwa perempuan remaja maupun perempuan tanpa batas usia diharapkan agar tetap sanggup menebar keharuman, dalam kondisi layu sekalipun (karena faktor usia atau faktor lainnya, tetap berguna).

Penegasan berikutnya, berbuat baik selalu sepanjang hidup perempuan, menjadi tuntutan gender yang ideal dari pesan moral lagu ini. Sangatlah tidak diidealkan perempuan ibarat bunga bintang yang tumbuh liar dan gampang ditemukan di mana-mana. Keliarannya akan memberi kesempatan bagi banyak orang untuk mengambil dan membuangnya. Pemaknaan ini dapat menjadi penegas bahwa perempuan dapat diposisikan sebagai benda yang bisa diapakan saja sesuai kehendak pemiliknya. Tatkala dipandang sudah tidak berguna, maka dengan sangat mudah akan dibuang.

Oleh karenanya, lagu ini mengirim pesan agar perempuan muda berhati-hati dalam menjaga kehormatannya, agar tidak begitu mudah dicampakkan. Belajar dari pensifatan bungan sandat/kenanga yang selalu menebar keharuman, demikian pulalah harapan budaya terhadap perempuan. Tuntutan budaya yang tertuang dalam syair lagu dapat pula diperkuat melalui lembaga keluarga, sekolah maupun melalui pemerintah.

Foto: Bunga Kenangan alias Bunga Sandat

Persemaian nilai tentang gender ideal untuk perempuan secara intensif terbentuk di dalam keluarga. Keluarga menjadi cikal bakal kontruksi gender perempuan. Karakter rajin, halus dalam perkataan, penurut, religius adalah sederetan pensifatan gender perempuan yang kelak akan menjadi bahan untuk menebar keharuman bagi keluarga.

Sekolah pun melalui materi ajarnya yang tertuang dalam buku-buku teks ikut serta melanggengkan karakter gender perempuan yang diidealkan. Sementara di pihak negara, melalui kehadiran lembaga Dharma Wanita, Dharma Pertiwi serta 10 program pokok PKK menjadi wadah yang membantu negara dalam mengkonstruksi lahirnya perempuan yang sadar akan peran gendernya. Ketika perempuan tidak sanggup memenuhi karakter Spesifik Gender perempuan sesuai yang diharapkan, maka tak pelak akan membuka ruang munculnya kekerasan.

Kekerasan terhadap perempuan jika mengacu pada pemikiran Fierre Bourdieu dapat berwujud kekerasan fisik dan atau kekerasan simbolik yang menggunakan bahasa sebagai alatnya. Dalam menghindari terjadinya kekerasan, lagu Bungan Sandat menebar gagasan agar teruna/laki-laki dan teruni/perempuan senantiasa dapat saling mengasihi. Seruan saling mengasihi merupakan wajah humanis dari lagu ini. Sisi humanisnya jelas dari kata serunya yang berbunyi:

Para truna truni mangda saling asah asih asuh
Menyama beraya to kukuhin rahayu kepanggih

Terjemahan :

Para Pemuda/Pemudi agar saling mengasihi
Menjalin kekerabatan dikukuhkan sehingga akan mendapatkan keselamatan

Ajakan saling mengasihi dan membangun kekerabatan dapat masuk dalam katagori Neutral Gender – harapan gender yang tanpa sekat jenis kelamin. Artinya, harapan ini ditujukan untuk Manusia tanpa melihat jenis kelaminnya – laki-laki maupun perempuan bisa melakukannya.

Inilah sesungguhnya yang menjadi entry point dari lagu bungan sandat yang menyerukan pesan moral. Seruan ini kiranya menjadi urgen di tengah-tengah maraknya kekerasan berbasis gender yang tampil dalam wujud pelecehan seksual, pemerkosaan, kekerasan simbolik terhadap perempuan.

Sudah saatnya tindak-tindak kekerasan terhadap perempuan sebagai tragedi kemanusiaan tidak hanya ditindak melalui proses hukum semata yang jelas-jelas merupakan tindakan kuratif, namun perlu langkah preventif sebagai langkah yang acapkali oleh para pejuang kesetaraan gender disebut dengan langkah gender strategik yang sifatnya jangka panjang dan  diwujudkan melalui internalisasi nilai yang dilakukan secara berkesinambungan. Proses internalisasi nilai yang bebas dari tindak kekerasan memerlukan sinergitas dari 4 konsentris pendidikan yakni keluarga, pemerintah, masyarakat dan media.

Lagu Bungan Sandat yang kini telah hadir di ruang-ruang publik melalui youtube, lomba karaoke saat perayaan ulang tahun hendaknya diparipurnakan dengan mengimplementasikan nilai yang terkandung di dalamnya. Mengingat menyanyikan lagu sebagai aktivitas bermusik bukan hanya sekedar menonjolkan kemerduan suara, penampilan penyanyi yang glamor, namun patut dipahami bahwa di dalam setiap syair lagu akan bermuatan ideologi. Dalam sistem ideologi akan ada proses mempertahankan hegemoni. Dalam kaitan ini kata-kata/bahasa bisa menjadi simbol yang dimitoskan untuk mempertahankan hegemoni (Utan Parlindungan, 2007).

Syair-syair dalam lagu Bungan Sandat bisa dijadikan alat untuk menghidupkan taksu alam, bahwasanya manusia bisa berkaca dari mahluk hidup yang ada di alam. Komponen biotik dan abiotik yang ada di alam bisa mengajarkan banyak hal kepada manusia, terutama prihal keteladanan, termasuk formula untuk membangun hubungan yang selaras dengan alam dan menjalin harmonisasi antar umat manusia tanpa sekat jenis kelamin.

Lagu sebagai alat propaganda secara historis telah terbukti dari kehadiran lagu genjer-genjer yang sangat populer di tahun 1960-an. Walaupun lagu akhirnya kandas menjadikan sebagai manuver politik saat itu, namun kehadirannya ternyata menguatkan keyakinan bahwa lagu mampu menciptakan suasan yang meradang bagi pendengarnya. Demikian halnya, kekuatan lagu Bungan Sandat sebagai wahana konstruksi gender untuk laki-laki dan perempuan adalah fakta. Kelebihan lagu ini harus diakui bukan hanya memberi penegasan pada konstruksi gender yang spesifik perempuan, namun juga memberi pesar inti tentang pentingnya membangun relasi dengan landasan saling mengasihi antar umat manusia.

Di era saat ini di mana lagu ini sangat mudah bisa di dengar di mana dan kapan saja melalui kecanggihan teknologi yang ada saat ini, secara otomatis punya posisi yang strategis dalam menebar kata yang kiranya akan mampu membius penikmat musiknya.

Dalam kaitan ini Utan Parlindungan (2007) mengatakan bahwa pada fase tertentu musik dapat diproyeksikan untuk memperlebar ruang gerak kesadaran politiik. Musik difungsikan sebagai stimulan-vibratorian = perangsang yang menggetarkan bagi pengejawantahan ragawi.

Menurut ben Anderson (2002), pendengar atau konsumen musik jauh lebih besar ketimbang kelas pembaca. Oleh karena itulah wacana konstruksi gender melalui alunan lagu memiliki taksu tersendiri dalam membangun kemapanan gender. Romantisme Lagu Bungan Sandat setidaknya bisa menjadi tandingan ditengah-tengah membanjirnya jingle-jingle asing yang meninabobokkan generasi muda dengan menjadikannya sebagai bagian gaya hidup yang menjauhkan dari identitas lokalnya. [T]

[][][]

BACA artikel lain tentang gender, perempuan dan lain-lain dari penulis LUH PUTU SENDRATARI

Mengeja Gender dalam Imajinasi Kota Singaraja : Sudut Pandang Pluralisme
Menapak Jejak Konsep Purusa-Pradana di Lereng Gunung Rawung
Nasi Kuning: Warisan Intangible | Pintu Akselerasi Perempuan Mewujudkan Mimpi Pemberdayaan
Tags: AA Made CakrabungaGenderibuLagu Pop Balipemberdayaan perempuanPerempuan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Harapan Kedamaian di Hari Ibu, Natal dan Tahun Baru

Next Post

Yang Terhubung: Ancaman dan Harapan | Catatan Pentas Kala Teater

Luh Putu Sendratari

Luh Putu Sendratari

Prof. Dr. Luh Putu Sendratari, M.Hum., guru besar bidang kajian budaya Undiksha Singaraja

Related Posts

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

Read moreDetails

Rekonstruksi Hak Waris dalam Perkawinan Beda Agama: Perspektif Hukum Keluarga dan Agraria

by I Made Pria Dharsana
May 27, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

HUKUM seringkali berbicara dalam bahasa kepastian, tetapi realitas sosial tidak selalu berjalan dalam garis yang sama. Perkawinan beda agama menjadi...

Read moreDetails

Koperasi Merah Putih: Mengulang Jejak KUD, Menabrak BUMDes, atau Membangun Jalan Baru?

by I Made Pria Dharsana
May 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Di tengah semangat membangun kemandirian ekonomi nasional, gagasan Koperasi Merah Putih kembali diangkat sebagai simbol kebangkitan ekonomi rakyat. Ia bukan...

Read moreDetails

Cinta, Hibah, dan Tanah:  Antara Ketulusan dan Batas yang Tak Bisa Ditembus

by I Made Pria Dharsana
May 21, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

CINTA kerap mendorong seseorang untuk memberi tanpa syarat.  Dalam relasi suami-istri, pemberian itu bahkan sering dimaknai sebagai bentuk ketulusan paling tinggi—termasuk...

Read moreDetails

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

Read moreDetails

MKN Bukan Tameng Impunitas: Notaris Berintegritas, Penegak Hukum  Taati Prosedur

by I Made Pria Dharsana
May 9, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

MAHKAMAH Konstitusi melalui Putusan Nomor 65/PUU-XXIV/2026 menegaskan bahwa persetujuan Majelis Kehormatan Notaris (MKN) sebagaimana diatur dalam Pasal 66 Undang-Undang Nomor...

Read moreDetails

Menguji Batas Tanggung Jawab Terbatas:  ‘Piercing the Corporate Veil’ dalam Sengketa Kepemilikan dan Pengalihan Saham

by I Made Pria Dharsana
May 7, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM rezim hukum Perseroan Terbatas sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, prinsip tanggung jawab terbatas...

Read moreDetails

Kapan Pejabat BGN Meresmikan MBG Khusus Pesantren di Bali?

by KH Ketut Imaduddin Jamal
May 2, 2026
0
Kapan Pejabat BGN Meresmikan MBG Khusus Pesantren di Bali?

ADA satu penyakit lama dalam kebijakan publik kita: negara sering merasa telah bekerja hanya karena program sudah diumumkan, anggaran sudah...

Read moreDetails

Problem Keadilan dalam Pembagian Harta Bersama: Dari Norma ke Uji Konstitusi

by I Made Pria Dharsana
April 30, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Dia luka yang tidak pernah benar-benar terlihat dalam putusan pengadilan berkaitan dengan pembagian harta gono gini dalam perpisah/pecahnya perkawinan  karena...

Read moreDetails

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

Read moreDetails
Next Post
Yang Terhubung: Ancaman dan Harapan | Catatan Pentas Kala Teater

Yang Terhubung: Ancaman dan Harapan | Catatan Pentas Kala Teater

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten
Tualang

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa
Bahasa

Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa

DOKTER Gia Pratama (dr. Gia) —seorang dokter dan penulis yang aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat dalam dunia kesehatan—pernah...

by I Made Sudiana
June 3, 2026
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah
Khas

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral
Panggung

Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng....

by Komang Sujana
June 3, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan
Panggung

‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif
Panggung

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Pertemuan William James dan Vivekananda
Esai

Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
Khas

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co