2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Lagu “Bungan Sandat”: Menebar Kata, Mengkonstruksi Gender

Luh Putu Sendratari by Luh Putu Sendratari
December 30, 2022
in Opini
Lagu “Bungan Sandat”: Menebar Kata, Mengkonstruksi Gender

Ilustrasi tatkala.co | Wiradinata

LAGU BISA MENJADI medium untuk menegakkan kearifan lokal. Kekuatan lagu bukan hanya untuk menghibur pendengarnya, namun lebih dari itu, lagu bisa menjadi penguat gagasan tentang kearifan lokal. Kekayaan kearifan Indonesia umumnya, Bali pada umumnya sudah tidak diragukan lagi. Wujud kekayaan kearifan lokal dapat berupa sitem gagasan, sistem tata kelakuan, maupun wujud benda.

Lagu Bali merupakan wujud kebudayaan yang bermuatan sistem gagasan maupun sistem tata kelakuan. Kehadiran lagu Bali di tengah masyarakat memiliki penggemar yang semakin hari semakin bertambah. Demikian pula pengarang dan penyanyi Bali bertumbuh bak jamur di musim hujan.

Kaset-kaset lagu Bali pun memenuhi rak-rak penjual kaset. Belum lagi produksi youtube lagu Bali saat ini membanjir di media sosial. Popularitas lagu Bali juga tampak dari kehadirannya dalam berbagai perhelatan  di tingkat rumah tangga maupun di wilayah perkantoran dalam  bentuk kegiatan karaoke.

Popularitas bunga kenanga/sandat  tampak dari kehadirannya sebagai maskot Kabupaten Tabanan dalam bentuk tari bungan sandat. Dalam konteks ini jasa A.A Made Cakra sebagai pencipta lagu Bungan Sandat di Bali tidak bisa diabaikan.

Fenomena ini menarik, karena dinamika kehadiran lagu Bali demikian gencarnya sehingga ini juga bisa diartikan terjadi proses kemapanan konstruksi nilai. Mengingat di dalam lagu akan bermuatan nilai-nilai tertentu yang menyasar pada subjek-subjek tertentu.

Lagu Bungan Sandat adalah konstruk imajiner tentang peran gender perempuan ideal. Sisi menarik lainnya dari lagu ini, melalui pembacaan tanda dari syairnya, kontruksi yang ingin dibentuk bukan hanya spesifik gender perempuan namun juga neutral gender. Moralitas ganda yang termuat dalam lagu ini mengundang daya tarik tersendiri untuk dicerna di selami lebih jauh untuk menemukan pemahaman mekanisme konstruksi gender yang dilakukan melalui karya seni.

Kehalusan pesan yang disampaikan menjadi daya pikat tersendiri yang mengantarkan lagu ini tetap memiliki penggemar yang mampu menyaingi lagu-lagu Pop Bali yang hadir setelahnya. Pesan moral yang menyasar lewat lagu bungan sandat bisa saja diartikan memiliki kearifan budaya yang untuk membangun budi pekerti.

Syair Lagu Bungan Sandat

Yen gumanti bajang tanbinaya pucuk nedeng kembang
Disubaye layu tan ade ngarungwang ngemasin mekutang
Becik melaksana de gumanti dadi kembang bintang
Mentik dirurunge makejang mengempok raris kaentungang
To I bungan sandat selayu layu layune miik
Toya nyandang tulad sauripe melaksana becik
Para truna truni mangda saling asah asih asuh
Menyama beraya to kukuhin rahayu kepanggih

Reff :

Becik melaksana de gumanti dadi kembang bintang
Mentik dirurunge makejang mengempok raris keentungang
To I bungan sandat Selayulayulayune miik
Toya nyandang tulang sauripe melaksana becik
Para truna truni mangda saling asah asih asoh
Menyama beraya to kukuhin rahayu kepanggih
To I bungan sandat selayu layu layune miik
Toya nyandang tulad sauripe melaksana becik
Para truna truni mangda saling asah asih asoh
Menyama beraya to kukuhin rahayu kepanggih.

Pembacaan Tanda Syair Lagu Menuai Konstruksi Gender Ideal

Pembacaan secara semiotik atas syair lagu Bungan Sandat akan diperoleh pemaknaan yang berkaitan dengan konstruksi gender perempuan ideal dan karakter manusia yang ideal. Secara umum tanda yang terbaca dari lagu ini mengandung pesan moral bahwa perempuan remaja diibaratkan sebagai bunga yang sedang kembang. Hal ini sangat kentara pada baris pertama dari syair lagu:

“Yen gumanti bajang, tanbinaya pucuk nedeng kembang” (Terjemahan: saat kondisi remaja, tak ubahnya ibarat bunga kembang sepatu yang sedang mekar).

Kalimat ini secara kultural biasanya lebih ditujukan untuk anak perempuan. Identik dengan pernyataan ini ada juga kata-kata serupa dengan memakai istilah bunga biasanya ditujukan untuk anak perempuan remaja, misalnya: bungan natah (sebuah keluarga yang memiliki gadis cantik yang menebarkan aroma keharuman dan keindahna untuk keluarga). Jadi, pemakaian istilah bunga secara kultural dianggap lazim tertuju untuk anak perempuan.

Simbolisasi bungan pucuk/kamboja digunakan dalam syair ini dapat pula diartikan bahwa perempuan remaja maupun perempuan tanpa batas usia diharapkan agar tetap sanggup menebar keharuman, dalam kondisi layu sekalipun (karena faktor usia atau faktor lainnya, tetap berguna).

Penegasan berikutnya, berbuat baik selalu sepanjang hidup perempuan, menjadi tuntutan gender yang ideal dari pesan moral lagu ini. Sangatlah tidak diidealkan perempuan ibarat bunga bintang yang tumbuh liar dan gampang ditemukan di mana-mana. Keliarannya akan memberi kesempatan bagi banyak orang untuk mengambil dan membuangnya. Pemaknaan ini dapat menjadi penegas bahwa perempuan dapat diposisikan sebagai benda yang bisa diapakan saja sesuai kehendak pemiliknya. Tatkala dipandang sudah tidak berguna, maka dengan sangat mudah akan dibuang.

Oleh karenanya, lagu ini mengirim pesan agar perempuan muda berhati-hati dalam menjaga kehormatannya, agar tidak begitu mudah dicampakkan. Belajar dari pensifatan bungan sandat/kenanga yang selalu menebar keharuman, demikian pulalah harapan budaya terhadap perempuan. Tuntutan budaya yang tertuang dalam syair lagu dapat pula diperkuat melalui lembaga keluarga, sekolah maupun melalui pemerintah.

Foto: Bunga Kenangan alias Bunga Sandat

Persemaian nilai tentang gender ideal untuk perempuan secara intensif terbentuk di dalam keluarga. Keluarga menjadi cikal bakal kontruksi gender perempuan. Karakter rajin, halus dalam perkataan, penurut, religius adalah sederetan pensifatan gender perempuan yang kelak akan menjadi bahan untuk menebar keharuman bagi keluarga.

Sekolah pun melalui materi ajarnya yang tertuang dalam buku-buku teks ikut serta melanggengkan karakter gender perempuan yang diidealkan. Sementara di pihak negara, melalui kehadiran lembaga Dharma Wanita, Dharma Pertiwi serta 10 program pokok PKK menjadi wadah yang membantu negara dalam mengkonstruksi lahirnya perempuan yang sadar akan peran gendernya. Ketika perempuan tidak sanggup memenuhi karakter Spesifik Gender perempuan sesuai yang diharapkan, maka tak pelak akan membuka ruang munculnya kekerasan.

Kekerasan terhadap perempuan jika mengacu pada pemikiran Fierre Bourdieu dapat berwujud kekerasan fisik dan atau kekerasan simbolik yang menggunakan bahasa sebagai alatnya. Dalam menghindari terjadinya kekerasan, lagu Bungan Sandat menebar gagasan agar teruna/laki-laki dan teruni/perempuan senantiasa dapat saling mengasihi. Seruan saling mengasihi merupakan wajah humanis dari lagu ini. Sisi humanisnya jelas dari kata serunya yang berbunyi:

Para truna truni mangda saling asah asih asuh
Menyama beraya to kukuhin rahayu kepanggih

Terjemahan :

Para Pemuda/Pemudi agar saling mengasihi
Menjalin kekerabatan dikukuhkan sehingga akan mendapatkan keselamatan

Ajakan saling mengasihi dan membangun kekerabatan dapat masuk dalam katagori Neutral Gender – harapan gender yang tanpa sekat jenis kelamin. Artinya, harapan ini ditujukan untuk Manusia tanpa melihat jenis kelaminnya – laki-laki maupun perempuan bisa melakukannya.

Inilah sesungguhnya yang menjadi entry point dari lagu bungan sandat yang menyerukan pesan moral. Seruan ini kiranya menjadi urgen di tengah-tengah maraknya kekerasan berbasis gender yang tampil dalam wujud pelecehan seksual, pemerkosaan, kekerasan simbolik terhadap perempuan.

Sudah saatnya tindak-tindak kekerasan terhadap perempuan sebagai tragedi kemanusiaan tidak hanya ditindak melalui proses hukum semata yang jelas-jelas merupakan tindakan kuratif, namun perlu langkah preventif sebagai langkah yang acapkali oleh para pejuang kesetaraan gender disebut dengan langkah gender strategik yang sifatnya jangka panjang dan  diwujudkan melalui internalisasi nilai yang dilakukan secara berkesinambungan. Proses internalisasi nilai yang bebas dari tindak kekerasan memerlukan sinergitas dari 4 konsentris pendidikan yakni keluarga, pemerintah, masyarakat dan media.

Lagu Bungan Sandat yang kini telah hadir di ruang-ruang publik melalui youtube, lomba karaoke saat perayaan ulang tahun hendaknya diparipurnakan dengan mengimplementasikan nilai yang terkandung di dalamnya. Mengingat menyanyikan lagu sebagai aktivitas bermusik bukan hanya sekedar menonjolkan kemerduan suara, penampilan penyanyi yang glamor, namun patut dipahami bahwa di dalam setiap syair lagu akan bermuatan ideologi. Dalam sistem ideologi akan ada proses mempertahankan hegemoni. Dalam kaitan ini kata-kata/bahasa bisa menjadi simbol yang dimitoskan untuk mempertahankan hegemoni (Utan Parlindungan, 2007).

Syair-syair dalam lagu Bungan Sandat bisa dijadikan alat untuk menghidupkan taksu alam, bahwasanya manusia bisa berkaca dari mahluk hidup yang ada di alam. Komponen biotik dan abiotik yang ada di alam bisa mengajarkan banyak hal kepada manusia, terutama prihal keteladanan, termasuk formula untuk membangun hubungan yang selaras dengan alam dan menjalin harmonisasi antar umat manusia tanpa sekat jenis kelamin.

Lagu sebagai alat propaganda secara historis telah terbukti dari kehadiran lagu genjer-genjer yang sangat populer di tahun 1960-an. Walaupun lagu akhirnya kandas menjadikan sebagai manuver politik saat itu, namun kehadirannya ternyata menguatkan keyakinan bahwa lagu mampu menciptakan suasan yang meradang bagi pendengarnya. Demikian halnya, kekuatan lagu Bungan Sandat sebagai wahana konstruksi gender untuk laki-laki dan perempuan adalah fakta. Kelebihan lagu ini harus diakui bukan hanya memberi penegasan pada konstruksi gender yang spesifik perempuan, namun juga memberi pesar inti tentang pentingnya membangun relasi dengan landasan saling mengasihi antar umat manusia.

Di era saat ini di mana lagu ini sangat mudah bisa di dengar di mana dan kapan saja melalui kecanggihan teknologi yang ada saat ini, secara otomatis punya posisi yang strategis dalam menebar kata yang kiranya akan mampu membius penikmat musiknya.

Dalam kaitan ini Utan Parlindungan (2007) mengatakan bahwa pada fase tertentu musik dapat diproyeksikan untuk memperlebar ruang gerak kesadaran politiik. Musik difungsikan sebagai stimulan-vibratorian = perangsang yang menggetarkan bagi pengejawantahan ragawi.

Menurut ben Anderson (2002), pendengar atau konsumen musik jauh lebih besar ketimbang kelas pembaca. Oleh karena itulah wacana konstruksi gender melalui alunan lagu memiliki taksu tersendiri dalam membangun kemapanan gender. Romantisme Lagu Bungan Sandat setidaknya bisa menjadi tandingan ditengah-tengah membanjirnya jingle-jingle asing yang meninabobokkan generasi muda dengan menjadikannya sebagai bagian gaya hidup yang menjauhkan dari identitas lokalnya. [T]

[][][]

BACA artikel lain tentang gender, perempuan dan lain-lain dari penulis LUH PUTU SENDRATARI

Mengeja Gender dalam Imajinasi Kota Singaraja : Sudut Pandang Pluralisme
Menapak Jejak Konsep Purusa-Pradana di Lereng Gunung Rawung
Nasi Kuning: Warisan Intangible | Pintu Akselerasi Perempuan Mewujudkan Mimpi Pemberdayaan
Tags: AA Made CakrabungaGenderibuLagu Pop Balipemberdayaan perempuanPerempuan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Harapan Kedamaian di Hari Ibu, Natal dan Tahun Baru

Next Post

Yang Terhubung: Ancaman dan Harapan | Catatan Pentas Kala Teater

Luh Putu Sendratari

Luh Putu Sendratari

Prof. Dr. Luh Putu Sendratari, M.Hum., guru besar bidang kajian budaya Undiksha Singaraja

Related Posts

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

Read moreDetails

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
0
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

Read moreDetails

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
0
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

Read moreDetails

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

Read moreDetails

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

Read moreDetails

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
0
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

Read moreDetails
Next Post
Yang Terhubung: Ancaman dan Harapan | Catatan Pentas Kala Teater

Yang Terhubung: Ancaman dan Harapan | Catatan Pentas Kala Teater

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co