25 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Redaksi Rupa : Kone Keto, Keto Kone?

Made Chandra by Made Chandra
November 6, 2024
in Ulas Rupa
Redaksi Rupa : Kone Keto, Keto Kone?

Foto-foto: Made Chandra

PAMERAN merupakan satu hal yang sangat sakral, yang tentu diamini oleh Sebagian besar perupa, tak terkecuali oleh ke-enam perupa yang tergabung dalam pameran seni rupa “kone keto, keto kone?” ini. Pameran yang masih berlangsung sampai tanggal 12 November  ini, bertempat di sebuah ruang yang mungkin bisa dibilang kiprahnya kini sangat jarang terdengar di kuping para pembaca, yaitu Karja Artspace.

Diinisiasi oleh beberapa perupa asal Bali dan luar Bali, pameran ini menghadirkan pengalaman dalam membaca kondisi bali hari ini, melalui sarana karya seni dengan berbagai spektrum disiplin kerja, hal itu tergambar dari beberapa karya yang dihadirkan oleh para perupa.

Salah satunya adalah karya milik Made Chandra berjudul “Pan Salim Komodifistory “, karya tersebut mencoba menantang daya tangkap kita sebagai audiens untuk bisa larut dan turut ikut dalam menyelesaikan puzzle yang akan menuntun kita dalam mengerti sekelumit permasalahan bali dalam menghadapi komodifikasi melalui satu cerita pendek karangannya.

Selain persoalan wajah ganda antara tradisi dan komodifikasi, permasalahan mengenai isu rasisme yang terjadi di sekitar kita, turut dirasakan oleh Derry Smbiring, dalam karya instalatifnya berjudul “ Pendatang Terpaksa Balita “, ia berusaha menceritakan pengalamannya sebagai seorang yang datang dari hamparan geografis yang sangat berbeda dengan Bali, harus terpaksa mendengar beberapa selentingan yang baginya sangat tidak mengenakan untuk diperdengarkan seperti “ JAWEKUPANGPETE”, ia mengandaikan dirinya harus dipaksa kembali menjadi seorang balita yang sedang diajari kata-kata baru tersebut Ketika ia tinggal di Bali.

Ia menampilkan kata-kata tersebut dalam rangkaian huruf abjad yang biasa kita temui di masa kecil kita saat sedang mengenal beberapa kata baru.

Mengisyaratkan bahwa hal tersebut sangat dekat namun begitu tabu untuk dibahas bersama, penyebutan itu mungkin terpantik bukan tanpa sebab, namun lebih dari itu Derry mengajak kita untuk merefleksi diri kita masing-masing, dan belajar untuk saling mengerti serta menghargai.

Tak kalah menariknya beberapa karya lainnya turut menampilkan beberapa permasalahan yang sangat dekat untuk para perupa bisa dalami, di antaranya Dedepot dengan ‘crash into my sculpture’ yang menceritakan bagaimana ke-chaos-an yang terjadi di desanya akibat banyaknya ATV yang memberikan sumbangsih destruktif kepada karya-karya patung di daerahnya, yang sering kali menjadi sasaran empuk bagi para wisatawan.

Karya Dedepot “crash into my sculpture” silkscreen dan video art

Dengan karya Video Art dan silks screennya, ia mencoba untuk memprovokasi indra kita untuk lebih peka terhadap kejadian yang ada di sekeliling kita, yang sering kali abai untuk kita perhatikan, dengan audio yang berputar berulang-ulang mengurung ruangan, membawa kita agar khusuk mendengarkan ucapan bak mantra yang menenangkan namun menyiratkan arti satir di dalamnya.

Karya Dede menyajikan pengalaman eksploratif yang lebih unik, dengan teknologi yang berpadu raw material menantang daya imajinatif kita untuk bisa membayangkan gambaran masa kini yang penuh dengan kejutan.

Di lain sisi di satu daerah yang saling berdekatan Yudana dengan reliefnya “ Siapa Lagi?”  mencoba mempertanyakan ulang keberlangsungan generasi pematung di tempatnya, Singapadu yang terkenal dengan patung menghiasi seantero jalan utamanya, kini menghadapi kenyataan yang sangat kontradiktif yaitu krisis dari para pengerajin ukir paras maupun kayu di daerahnya. Sebagai seorang yang bergelut di bidang tersebut, Yudana merasakan kecemasan akan jalur estafet yang dimulai sejak jaman leluhurnya, kini seakan putus dalam bayang-bayang kejayaan masa lalu.

Keresahannya terukir dalam relief yang ia hadirkan dalam pameran ini, dengan visual topeng Rangda khas singapadu dengan hidung dan mulut terpisah, menjadi metafor yang sederhana untuk menggambarkan bagaimana kelangsungan para penerus patung singapadu mengalami sebuah reduksi dan keterpisahan dari apa yang seharusnya diharapkan.

“ Stabbing for the future”

karya perupa asal Banyuwangi, Krisna Jiwanggi menjadi salah satu karya yang cukup menarik untuk kita dalami bersama-sama, dalam karya instalatifnya ia banyak menggunakan found object yang sangat berkaitan dengan geliat pembangunan di Bali. Perpindahannya yang masih terbilang dini mengungkap satu kenyataan yang ia terus rasakan, terutama di daerah sekelilingnya.

Di salah satu bagian karyanya terdapat jendela bertuliskan “ Dijual cepat!!! Tanah murah harga mulai IDR 50.000 ( SIAPA CEPAT DIA DAPAT)” kata-kata itu menjadi pemantik kita untuk melihat apa yang coba krisna hadirkan. Dalam bayangannya ia mencoba untuk menghadirkan gambaran akan murahnya tanah di Bali, Bak lelang yang mengisyaratkan akan cepatnya pergeseran kepemilikan tanah dari orang lokal terhadap investor asing, menjadi sumber api utama Bali hari ini dengan segala kepadatannya.

Di ruangan terakhir jargon “New Romantic?” menyapa kita dengan lukisan karya Made Ari. Ada yang tak biasa dari lukisan ini. Yaitu dimensinya yang ternyata menghadirkan dua wajah ganda bali hari ini, serupa dengan Made Chandra, karya Ari juga membahas tradisi dan komodifikasi namun dalam studi kasus yang lebih spesifik mengenai budaya komunal yang lumrah di Bali. Banyaknya kegiatan tradisi yang hadir di Bali tentu beriringan dengan status komunal pada sosial mereka, tanpa masa yang banyak tampaknya mustahil upacara besar-besaran yang selalu kita lihat dapat terlaksana.

Namun di era yang serba cepat ini kebutuhan akan tradisi kini dapat diakomodir dengan sistem komodifikasi yang marak terjadi, dimana banyaknya sarana upacara yang diperjualbelikan, sehingga kebutuhan untuk sosial menjadi terdistrupsi dengan adanya hal tersebut. Dalam benaknya kini ia mempertanyakan masih pentingkah tradisi itu terus berjalan, jika kini mereka semua dapat teraksana tanpa harus melibatkan sosial di sekitar Masyarakat.

Mereka berusaha untuk mencoba menghadirkan wacana tersebut melalui pendekatan yang sedekat mungkin dengan masyarakat, harapannya agar media penyadaran kritis tersebut dapat tersampaikan dengan baik tentunya dengan banyaknya wahana rupa yang mereka hadirkan.

Pameran bersama ini melalui kurasi yang dilakukan oleh kurator muda wanita asal Bali, Sekar Pradnyadari. Melalui kerja kurasinnya selama kurang lebih 6 bulan, ia dan para perupa berusaha untuk membangun wacana yang akan lebih mengedepankan hal-hal mendasar yang terutama perupa rasakan sebagai seorang yang tinggal di Bali, melalui kacamata lokal mereka dalam merespon apa yang dekat dan terjadi di lingkungan sekitar.

Audiens dituntun untuk bisa melihat bali dari segi ‘ Present’ yaitu kenyataan hari ini, dibanding untuk ikut larut dalam arus wacana ‘ representatif’ yang tentu dibangun dari berbagai kepentingan yang menginginkan Bali agar terus berwajah indah dan molek.

Dari ke-enam karya tersebut kita dapat melihat banyaknya cakupan spektrum visual yang dihadirkan oleh masing-masing perupa, dari karya mereka kita dapat sadar bahwa Bali hari ini merupakan satu bejana besar yang menampung berbagai hiruk pikuk permasalahan yang terjadi di masyarakat, ke-enam perupa ini adalah gambaran kecil dari masyarakat yang tak tau akan akan kepastian di tanahnya, namun tetap bertanya dan mendiskusikan bagaimana Bali hari ini?. “ kone keto, keto kone? “. [T]

Dirah dan Pilkada dalam Mozaik Asik,  Sebuah Pameran Kebebasan Seniman Muda Undiksha
Dewi Sri dan Spirit Kemerdekaan dalam Pameran Seni Rupa di Undiksha Singaraja
Tulang, Tubuh, dan Puisi dalam Ruang-Waktu | Dari Pameran Seni Instalasi Sampi Duwe di Desa Tambakan
Tags: Pameran Seni RupaSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Membaca Novel dan Roman Mahfud Ikhwan: Warna Lokal yang Tak Eksotis

Next Post

Eksistensi Para Penjaga Ornamentik Bulelengan : Cerita Kecil dari Pura Penegil Dharma

Made Chandra

Made Chandra

Lahir di Baturaja, Sumatera Selatan, kini menetap di Denpasar. Merupakan seorang perupa muda yang suka mengeksplor wayang Kamasan sebagai titik temu antara kompleksitas sureal dan realitas dunia. Kadang kala ia suka menulis—mencatatkan berbagai hal yang menurutnya menarik dan layak mendapat intensi lebih, terutama perihal seni dan budaya visual.

Related Posts

Fragmen Peristiwa pada Pameran ‘Dialog Ferdi dan Opus Sastra’ Minggu Pertama di Palembang

by Mahesa Putra
June 18, 2026
0
Fragmen Peristiwa pada Pameran ‘Dialog Ferdi dan Opus Sastra’ Minggu Pertama di Palembang

SEJAK pagi langit mendung, angin membuat barisan pohon kelapa di halaman Roemah Tumbuh Kembang menari. Padahal sudah satu minggu ini...

Read moreDetails

Menakar Isi Piring, Meruntuhkan Dinding Sakral  —Narasi Domestik Sebagai Episentrum Perlawanan Politis Perupa Perempuan Bali

by Oka Rusmini
June 15, 2026
0
Menakar Isi Piring, Meruntuhkan Dinding Sakral  —Narasi Domestik Sebagai Episentrum Perlawanan Politis Perupa Perempuan Bali

SEBUAH pertanyaan tidak pernah lahir dari ruang hampa. Di balik kalimat pendek, “What’s for Dinner?” atau “Mau makan malam apa?”,...

Read moreDetails

Karya Rupa Saka Rosanta, Dari Reinkarnasi, Pohon Kasih sampai Avatar Word

by Mas Ruscitadewi
June 13, 2026
0
Karya Rupa Saka Rosanta, Dari Reinkarnasi, Pohon Kasih sampai Avatar Word

Ida Kade Saka Rosanta, yang kerap dipanggil Gus Moyo memamerkan karya rupanya di Rumah Berdaya, jalan Raya Sesetan 280 Denpasar....

Read moreDetails

Stasiun Buraq : Arsitektur Mimpi Seorang Ilham Gusti Syahadat

by Made Chandra
June 8, 2026
0
Stasiun Buraq : Arsitektur Mimpi Seorang Ilham Gusti Syahadat

DERAP langkah beranjak naik, kain tirai perlahan mulai disingkapkan, lalu dengan segera bunyi-bunyian kendang, tembang dan segala perangkat kesenian jaranan,...

Read moreDetails

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

by Made Chandra
June 2, 2026
0
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

Read moreDetails

Pameran ‘Roots & Routes’: Refleksi Tentang Identitas, Ingatan dan Perjalanan Hidup

by I Gede Made Surya Darma
May 7, 2026
0
Pameran ‘Roots & Routes’: Refleksi Tentang Identitas, Ingatan dan Perjalanan Hidup

DI tengah geliat seni rupa kontemporer yang semakin cair dan lintas disiplin, pameran “Roots & Routes” yang berlangsung di Biji...

Read moreDetails

Refracted — Perspektif yang Menolak Keutuhan

by Made Chandra
May 4, 2026
0
Refracted — Perspektif yang Menolak Keutuhan

Artikel ini adalah catatan kuratorial pameran seni rupa “Refracted” pada 2 Mei 2026 di Ruang Arta Derau, Tegallalang. Tak pernah...

Read moreDetails

Kenapa sih Harus Solo Exhibition?

by Made Chandra
April 14, 2026
0
Kenapa sih Harus Solo Exhibition?

HARI itu rasanya begitu spesial, hari dimana buku-buku tersusun bertumpuk untuk dirayakan kehadirannya. Semerebak wangi dupa menyeruak sampai menyentil dalam-dalam...

Read moreDetails

Apa yang ‘Ada’ dalam Sebuah Lukisan? —Membaca ‘Aurora Blue’ dan ‘Red Blossom’ Karya Wayan Kun Adnyana

by I Wayan Sujana Suklu
March 27, 2026
0
Apa yang ‘Ada’ dalam Sebuah Lukisan?  —Membaca ‘Aurora Blue’ dan ‘Red Blossom’ Karya Wayan Kun Adnyana

Membaca Aurora Blue dan Red Blossom karya Wayan Kun Adnyana, pameran Parama Paraga Retrospective of Biographical Metaphoric Figure to New...

Read moreDetails

SAPA WARANG: Tubuh yang Terbakar di Batas Liminal

by I Wayan Sujana Suklu
March 24, 2026
0
SAPA WARANG: Tubuh yang Terbakar di Batas Liminal

Liminalitas sebagai Ambang Kosmologis LIMINALITAS, dalam pengertian paling mendasar, bukan sekadar fase peralihan, melainkan kondisi ontologis di mana batas-batas eksistensi...

Read moreDetails
Next Post
Eksistensi Para Penjaga Ornamentik Bulelengan : Cerita Kecil dari Pura Penegil Dharma

Eksistensi Para Penjaga Ornamentik Bulelengan : Cerita Kecil dari Pura Penegil Dharma

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska
Khas

Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska

SEBANYAK 48 siswa Osaka Gakugei High School Jepang mengunjungi SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska)  pada Selasa, 23 Juni 2026...

by I Nyoman Tingkat
June 24, 2026
Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil
Persona

Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi...

by Jaswanto
June 24, 2026
Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring
Esai

Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut...

by Azhari M. Latief
June 24, 2026
‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Pentas

‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026

RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di...

by Yudi Laksana
June 24, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Topeng Politik dan Ujian Demokrasi Indonesia

SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan...

by I Made Pria Dharsana
June 24, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Membaca Demokrasi Abu-Abu Indonesia

LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis...

by Chusmeru
June 24, 2026
Duri Akar dan “Sungga”
Bahasa

Duri Akar dan “Sungga”

SAYA bukan tukang panen umbi yang cakap. Memanen umbi gembili, dua kali ujung linggis yang saya ayunkan justru menghunjam dan...

by Komang Berata
June 24, 2026
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi
Opini

Penangguhan Tahanan dan Ujian Kesetaraan Hukum

PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam...

by Ruben Cornelius Siagian
June 24, 2026
Kawasan Titik Nol Sudah Menyala —Sentuhan Bupati Percantik Wajah Malam Kota Singaraja
Pemerintahan

Kawasan Titik Nol Sudah Menyala —Sentuhan Bupati Percantik Wajah Malam Kota Singaraja

SINGARAJA – TATKALA.CO | Wajah baru kawasan Titik Nol Kota Singaraja mulai terlihat. Bupati Buleleng, I Nyoman Sutjidra, didampingi Wakil...

by tatkala
June 24, 2026
Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026

DRAMA gong ternyata masih memiliki tempat di hati masyarakat Bali. Hal itu terlihat saat Sanggar Seni Nong Nong Kling dari...

by Nyoman Budarsana
June 23, 2026
Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara
Budaya

Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara

SINGARAJA – TATKALA.CO | Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra mendukung terselenggaranya Singaraja Literary Festival (SLF) ke-4 tahun 2026 yang diadakan...

by tatkala
June 23, 2026
Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng
Khas

Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng

PETANI garam dan musim panas ibarat dua sejoli yang saling merindukan. Setelah berbulan-bulan berpisah oleh hujan, mendung, dan gelombang yang...

by Nyoman Nadiana
June 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co