2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Eksistensi Para Penjaga Ornamentik Bulelengan : Cerita Kecil dari Pura Penegil Dharma

Made Chandra by Made Chandra
November 7, 2024
in Ulas Rupa
Eksistensi Para Penjaga Ornamentik Bulelengan : Cerita Kecil dari Pura Penegil Dharma

Ornamen pada sejumlah bangunan di Pura Penegil Dharma, Kubutambahan, Buleleng | Foto: Made Chandra

SAYA sempat menyambangi sebuah pura kuno yang kini coba direnovasi ulang oleh pemerintah kota Buleleng, Senin 15 April 2024. Pura itu bernama Pura Puseh Penegil Dharma.

Lokasi Pura itu sekitar 30 menit perjalnan dari pusat kota Singaraja menuju ke arah timur, ke sebuah desa bernama Desa Kubutambahan di Kabupaten Buleleng.

Pura ini bukanlah pura biasa. Eksistensinya dapat ditelisik sejak abad ke-9 pada masa pemerintahan Wangsa Warmadewa pada kerajaan Bali Kuno. Menarik untuk tahu bahwa kini Pura itu masih berdiri dan dibenahi ulang.

Ketika kaki saya menginjak di Pura itu saya tertegun. Saya menyaksikan kemegahan dan riuhnya ornamentik bulelengan yang seakan menyelimuti seluruh bagian dari setiap sisi Pura itu. Di tengah lamunan, saya menyadari bahwa pahatan ornamen itu memang masih sangat baru. Itu terlihat dari kondisi pahatan yang masih sangat bersih dan kering.

Saat saya menelisik di ujung sudut Pura, saya melihat para pekerja dan tukang yang sedang asik bersenda gurau sembari bekerja melanjutkan proses mengukir di sejumlah bangunan di Pura itu.

Saya pun memberanikan diri untuk datang dan menanyakan beberapa pertanyaan yang selama ini belum terjawab. Terutama pertanyaan-pertanyaan dari beberapa hasil eksplorasi yang saya lakukan di beberapa Pura yang ada di sekitar daerah Sangsit dan Jagaraga di Kecamatan Sawan—sebelah barat Kecamatan Kubutambahan.

Dengan adanya para tukang ukir sebagai praktisi langsung, tentu akan menjawab beberapa hipotesa yang telah saya petakan selama saya bepetualang menggali falsafah ornamentik bulelengan di sejumlah Pura sebelumnya.

Mereka menuturkan banyak sekali infromasi praktis yang mereka dapat dari pengalaman mereka sebagai seorang undagi, mulai dari mengapa ornamen Bulelengan terkesan masif dan acak. Tentu saja hal itu disebabkan oleh beberapa factor yang menyelimutinya.

“Mereka berusaha untuk merepresentasikan sedekat mungkin segala isi hutan terutama dalam wujud yang sering kita lihat ialah (Bun-bunan) atau semak belukar yang sudah tentu kita semua tahu, hutan yang asri dan terjaga udah pasti terdapat banyak sekali semak belukar, beberapa undagi menyebut daun-daunan bun tersebut dengan daun semangka, karena bentuknya yang meyerupai bentuk semangka itu sendiri.”

Representasi yang mereka bangun soal hutan sangat didukung oleh pola kerja mereka dalam menghasilkan ukiran, berbeda dengan teknis yang di lakukan oleh para undagi Bali Timur, pada ukiran bulelengan tidak terdapat pola yang pasti untuk mengisi ruang kosong pada bilah bagian pura.

Tak adanya ukuran yang pasti membuat mereka bisa dengan bebas mengisi ruang-ruang tersebut dengan objek apa saja, mulai dari hewan hingga benda-benda imaji mereka, yang terutama didominasi oleh bun-bunan (tumbuh-tumbuhan rambat).

Tak lupa juga, di antara kompleksnya jalinan daun yang saling menyilang, mereka juga menampilkan wujud-wujud astral yang siap menjaga keutuhan Pura tersebut. Dibanding meletakkan gajah layaknya arsitektur Bali timur, mereka lebih suka untuk menaruh para yaksha sebagai representasi penjaga alam yang siap menganggu siapa saja yang berbuat tidak pantas.

Tak ada kata romantisme dalam kamus mereka, wujud itu hadir dalam imaji paling seram dari apa yang bisa dipikirkan oleh para undagi.

Hipotesa lain juga menyebut tak adanya karang gajah dalam arsitektur bulelengan disebabkan hampir nihilnya pengaruh Majapahit yang berperan besar dalam mewariskan bentuk ornamen makara (ikan berkepala gajah) yang selalu menghiasi bagian bawah setiap bagian Pura. Hal ini juga didukung oleh status Kubutambahan sebagai desa kuno, yang  ada sebagai sebuah desa sebelum migrasi Majapahit.

Antara spontanitas dan kesadaran berpadu manis saat terbentuknya setiap celah yang mereka coba imajinasikan, beberapa undagi bahkan bisa bekerja dalam satu bagian dengan imaji rupa yang berbeda. Mereka tak mencoba untuk saling mengintervensi, namun saling bekerja sama untuk menyatukan imaji yang berbeda-beda itu.

Yang tak luput dari pandangan saya adalah teknik mereka dalam menghasilkan ukiran, yang sudah beralih pada teknik bias melela (pasir pantai). Atau beralih dari teknik mengukir dengan menggunakan alat-alat seperti pisau kecil, yang didesain sedemikian rupa, sehingga dapat digunakan sebagai alat untuk membentuk ornamen-ornamen.

Berbeda dengan teknik bias melela pada umumnya, meterial yang digunakan dalam membuat ukiran bulelengan pada pura ini, bukanlah pasir pantai namun merupakan tanah dari Desa Bungkulan. Perbedaan material ini menghasilkan tekstur bahan yang sangat menyerupai paras yang sering digunakan dalam proses memahat pada biasanya, namun dengan proses pengeringan yang lebih cepat.

Dengan penggunaan alat berupa pisau, biasanya mereka harus berpacu dengan waktu ketika bahan bias melela ini akan mengeras. Ukiran yang mereka hasilkan harus selesai sebelum matahari tenggelam, sehingga jika ada undagi yang kesulitan dalam menyelesaikan bagian yang ia kerjakan, para undagi lainnya akan turut membantu secara kolektif, sehingga ukiran tersebut bisa selesai dengan tepat waktu.

Namun demikian, penggunaan teknik bias melela bukanlah tanpa alasan, hal ini didasari keprihatinan mereka sebagai undagi yang mulai sadar bahwa bahan paras yang selama ini sering digunakan sebagai material pura, sudah semakin menipis persediaannya di alam. Kalau pun ada penambangan paras yang berlebihan tentu akan menganggu kestabilan tanah di alam, sehingga berakhir pada bencana tanah longsor yang kini marak terjadi. Kesadaran mereka tentu menjadi satu hal yang sangat mempengaruhi keberlangsungan ekologi di wilayah mereka.

Dengan adanya teknik bias melela mereka bisa dengan leluasa melestarikan ukiran bulelengan tanpa harus takut kehilangan ketersediaan bahan.

Keceriaan para undagi dalam melestarikan oenamen bulelengan, kini diselimuti wajah khawatir yang harus menerima keadaan bahwa, keberlangsungan gaya ornamentik bulelengan memang sedang mengalami krisis keberlanjutan pada anak-anak muda mereka, bahkan hingga pada masyarakat awam yang kian tak peduli lagi.

Kemampuan mereka harus bergantung pada permintaan konsumen yakni masyarakat yang kini sangat jarang untuk menerapkan ukiran bulelengan pada Pura-Pura mereka. Bahkan bangunan instansi pemerintah pun sepertinya tak memberdayaan para undagi asli dalam melestarikan ukiran bulelengan sebagai jati diri mereka. [T]

“Kalau permintaan saja tak ada, jangan harap keberlangsungan ornamen ini akan terus terjaga”

Relief Cetak Dua Pasang Gapura di Gedong Kirtya yang Masih Misteri
Orang-Orang Dusun Prabakula, Mengukir Kehidupan di Atas Pasir Hitam
Pemberdayaan Pengerajin Ukiran Bali di Batubulan Kangin Menuju Pasar Ekspor
Tags: bulelengPura Penegil DharmaRelief BaliSeni Rupaukiran baliukiran buleleng
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Redaksi Rupa : Kone Keto, Keto Kone?

Next Post

Komitmen Komunitas Mahima atas Program TJSL PLN: Dari Produksi Film, Podcast, Audiobooks, sampai Literasi Digital

Made Chandra

Made Chandra

Lahir di Baturaja, Sumatera Selatan, kini menetap di Denpasar. Merupakan seorang perupa muda yang suka mengeksplor wayang Kamasan sebagai titik temu antara kompleksitas sureal dan realitas dunia. Kadang kala ia suka menulis—mencatatkan berbagai hal yang menurutnya menarik dan layak mendapat intensi lebih, terutama perihal seni dan budaya visual.

Related Posts

Mengurai Gnosis Perupa Payangan

by I Wayan Westa
September 27, 2026
0
Mengurai Gnosis Perupa Payangan

Dr. Jean Couteau, budayawan asal Prancis pernah berseloroh soal kondisi terkini psiko-budaya generasi Bali. Dalam sejumlah pernyataan lisan maupun tertulis,...

Read moreDetails

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

by Jaswanto
September 26, 2026
0
Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

PADA siang yang membakar, saya berebut jalanan Surabaya menuju Voza Tower di Jalan Mayjen HR. Muhammad, Putat Gede, Sukomanunggal. Di...

Read moreDetails

Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

by Emi Suy
September 23, 2026
0
Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

Datang Setelah Riuh Saya datang ketika riuh telah selesai. Pameran telah usai dibuka, sebagian pengunjung mulai beranjak, percakapan telah menemukan...

Read moreDetails

Guci Nasib di Titik Nol Kota

by I Wayan Westa
September 22, 2026
0
Guci Nasib di Titik Nol Kota

”….dalam labirin, aku mencari guci nasibku, yang tersimpan dalam kabut kebuntuan, membentur dalam setiap sudut dinding, tak tahu jalan pulang,...

Read moreDetails

Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

Menelisik foto karya yang tampak pada pameran, bidang kanvas dipenuhi figur-figur wayang, makhluk mitologis, ornamen, tetumbuhan, dan jaringan garis yang...

Read moreDetails

Membaca Naga Agus Kama Loedin

by I Wayan Westa
September 16, 2026
0
Membaca Naga Agus Kama Loedin

---Venue Art, Batu & Studio, Batubulan, Gianyar, Bali | 12 September 2026 * Pameran "Jaga Raga Bara Jiwa" dibuka  Rektor...

Read moreDetails

Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

by Angga Wijaya
September 16, 2026
0
Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

Di Agung Rai Museum of Art atau ARMA, Ubud, Bali, pada Juli 2026, sebuah pohon penuh kuda hadir di antara...

Read moreDetails

Wajah I Made Galung Wiratmaja

by Hartanto
September 10, 2026
0
Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

Read moreDetails

“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

by Hartanto
September 3, 2026
0
“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

PADA tanggal 29 Agustus hingga 29 September 2026 nanti, digelar pameran lukisan karya I Ketut Suasana ‘Kabul’. Pameran bertajuk  Nectar...

Read moreDetails

Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

by I Wayan Westa
September 3, 2026
0
Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

DI tengah lingkungan yang rusak, belantara  Kalimantan terbakar, ribuan hektar tanah Subak di Bali   menyusut.  Sebab, dari 80.000 hektar di...

Read moreDetails
Next Post
Komitmen Komunitas Mahima atas Program TJSL PLN: Dari Produksi Film, Podcast, Audiobooks, sampai Literasi Digital

Komitmen Komunitas Mahima atas Program TJSL PLN: Dari Produksi Film, Podcast, Audiobooks, sampai Literasi Digital

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co