2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Orang-Orang Dusun Prabakula, Mengukir Kehidupan di Atas Pasir Hitam

Gede Dedy Arya Sandy by Gede Dedy Arya Sandy
October 17, 2023
in Khas
Orang-Orang Dusun Prabakula, Mengukir Kehidupan di Atas Pasir Hitam

Salah satu motif ukiran pasir hitam | Foto: Dok. Penulis

KALI INI saya akan bercerita tentang salah satu dusun yang ada di Desa Padang Bulia, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng, Bali. Dusun itu bernama Dusun Prabakula, yang terletak di sebelah selatan Desa Padang Bulia dan menjadi bagian dari salah satu dusun dari lima dusun yang dimiliki oleh desa tersebut—empat lainnya adalah Dusun Taman Sari; Dusun Widarbasari; Dusun Padang Bulia; dan Dusun Runuh Kubu.

Alasan saya menceritakan Dusun Prabakula sebab di dusun ini sebagian besar warganya berprofesi atau terlibat dalam pekerjaan seni ukir pasir hitam—yang menurut saya sangat menarik untuk ditulis.

Beberapa hari yang lalu saya sempat mengobrol dengan salah satu pelaku seni ukir pasir hitam—salah satu tokoh penting dalam perkembangan seni ukir pasir hitam di Prabakula. Nama tokoh yang dimaksud adalah Wayan Sarba.

Pria kelahiran 1971 itu merupakan salah satu orang yang memperkenalkan seni ukir pasir hitam kepada warga Dusun Prabakula. Sehingga, atas usahanya tersebut, sampai saat ini, seni ukir pasir hitam menjadi pekerjaan dari sebagian besar warga dusun, entah sebagai tukang ukir atau pengayah.

“Pada awalnya, saya menekuni seni ukir pasir hitam karena setelah tamat sekolah dasar, saya tidak punya pekerjaan,” ujar Sarba.

Setelah luntang-lantung sekian lama, katanya, bersama dua orang teman, yaitu Wayan Reben dan Nyoman Raweg, akhirnya ia pergi menemui Guru Tanu dan juga Komang  Teer—yang notabene sudah lebih dulu bergelut di bidang seni ukir pasir hitam—di desa untuk ikut belajar mengukir pasir hitam. Dan singkat cerita, Wayan Sarba dan dua temannya langsung diajak untuk belajar sekaligus bekerja

Menurut penuturan Sarba, setelah ia mahir mengukir dan menjadi tukang, garapan pertamanya adalah Merajan Jero Gede Padang Bulia. Setelah itu, ia mendapat proyek di Hotel Raditya di daerah Lovina. Saat mengerjakan proyek di Hotel Raditya, ia dibantu oleh temanya yang juga sudah lama bergerlut di dunia seni ukir pasir hitam. “Teman saya itu bernama Putu Miasa, atau lebih dikenal dengan nama Putu Mangut,” jelasnya.

Putu Mangut berasal dari Desa Padang Bulia, namun sudah menetap di Desa Pancasari. Selain Mangut, saat mengukir di Hotel Raditya, Wayan Sarba juga dibantu oleh Guru Supatra yang juga sudah lama menjadi tukang ukir pasir hitam—mereka sama-sama berasal dari Dusun Widarbasari, Desa Padang Bulia.

“Atas bantuan dari Putu Mangut dan Guru Supat, kemampuan seni ukir saya juga Made Raweg dan Nyoman Reben semakin bagus,” kata Sarba.

Setelah selesai mengukir di Hotel Raditya, bersama teman-temannya Sarba mendapat orderan dari Desa Mengesta, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan, untuk menggarap merajan keluarga—atau sanggah, tempat suci yang ada dalam satu pekarangan rumah yang berfungsi untuk menyembah Tuhan, dewa-dewi, dan juga roh-roh suci leluhur.

“Itu merupakan perjalanan pertama saya menjadi pekerja seni ukir pasir hitam yang mengerjakan pesanan di luar kabupaten,” ujarnya.

Pada saat itu, di daerah Tabanan, seni ukir pasir hitam masih terbilang baru. Makanya, pada saat Wayan Sarba mulai mengukir di sana, banyak orang mulai tertarik untuk membuat merajan keluarga atau menghias rumahnya dengan ukiran pasir hitam.

Ketertarikan masyarakat Tabanan atas seni ukir pasir hitam menyebabkan grup ukir Wayan Sarba laris manis, mereka terus mondar-mandir di daerah tersebut untuk ngukir pasir hitam. Bahkan, kalau dihitung-hitung, menurut ingatan Sarba, sampai sekitar 10 tahunan ia menjelajahi Tabanan.

“Oleh karena perkembangan ukiran pasir hitam di Tabanan cukup bagus, grup ukir kami sering mendapatkan pekerjaan di sana,” terangnya.

Maka, sejak saat itu, grup ukir Wayan Sarba mulai merekrut remaja yang ada di dusunnya, Dusun Prabakula, untuk ikut membantu bekerja dan juga sekaligus belajar membuat ukiran pasir hitam.

Pada awalnya, kata Sarba, mereka yang direkrut tersebut hanya bekerja sebagai pengayah. Tetapi, lambat-laun, karena keseringan terlibat dalam pekerjaan seni ukir pasir hitam, akhirnya mereka mulai tertarik untuk ikut belajar ngukir hingga bisa menjadi tukang ukir.

Untuk saat ini, tukang ukir pasir hitam yang berada di Dusun Prabakula berjumlah kurang lebih 30 orang. Namun, jika ditambah dengan para pengayah, maka kira-kira sekitar 70% warga Dusun Parabkula bergelut di bidang seni ukir pasir hitam.

Dan di masa depan, jumlah tersebut diprediksi akan terus bertambah. Saat ini, semua tukang ukir ditambah dengan pengayah-nya, sudah tersebar ke berbagai desa di Buleleng maupun di luar Buleleng untuk menggarap ukiran pasir hitam.

Menurut Wayan Sarba, untuk pasir hitam, bahan baku ukiran, ia memesan langsung dari daerah sekitar Negara, Jembrana—karena memiliki kualitas yang bagus, katanya. Namun, masalahnya, ada kabar bahwa pengambilan pasir hitam itu dilarang oleh pemerintah. Tetapi, terkait hal tersebut, Wayan Sarba tidak tahu pasti sebab ketika ia memesan pasir selalu saja dibawakan meski terkadang harus menunggu cukup lama.

Lebih jauh bicara tentang pakem ukirannya, Wayan Sarba menyebut gaya garapannya dengan gaya ukiran pasir Belelengan dengan ciri ukiran lebih tajam, runcing, pada cekak-cekak daun maupun bunga.

Saat ditanya mengenai apa saja tantangan dan masalah menjadi tukang ukir pasir hitam, ia menjawab, “Pas keterlambatan datangnya pasir, atau hujan, yang menyebabkan pekerjaan selesai tidak sesuai jadwal. Dan jika pekerjaan tidak sesuai jadwal, maka itu berarti kami harus tinggal lebih lama, mondok, di desa orang.”

Banar. Saat mendapat pekerjaan di luar kabupaten, Wayan Sarba dan teman-temannya tak jarang harus mondok (menginap) dan pulang hanya seminggu sekali. Meski masalah tempat tinggal—selama mondok—biasanya sudah disiapkan tuan rumah atau orang yang mempekerjakannya, tetapi kadang rindu rumah sendiri selalu datang tanpa diundang. “Di situlah dukanya,” imbuhnya.

Namun, meski demikian, ia mengatakan selalu merasa senang sebab melakoni dunia seni ukir pasir hitam sudah menjadi pilihan hidupnya. Saya pikir juga demikian, sebagaimana kata Wayan Sarba, “Setiap pilihan hidup yang kita pilih harus selalu dinikmati dengan rasa suka.”

Sampai sejauh ini, khususnya di daerah Buleleng, Wayan Sarba mengatakan, seingatnya, sudah menjelajahi banyak desa, mulai dari Subuk, Pelapuan, Bongancina, dan di desa-desa lainnya.

Seni Ukir Pasir Hitam, Kini dan Nanti

Ketika saya bertanya tentang bagaimana perkembangan seni ukir pasir hitam di masa sekarang ini, Wayan Sarba menjawab, “Perkembangan seni ukir pasir hitam di masa sekarang ini sudah cukup baik dan semakin beragam corak. Hal itu dipengaruhi oleh persaingan maupun kerja bareng dengan sesama pengerajin seni ukir pasir hitam dari daerah lain.”

Menurut Sarba, persaingan dan kerja bersama dalam satu proyek dengan pengukir luar daerah itu bagus karena meningkatkan kualitas ukiran dari Dusun Prabakula—dan itu sangat positif baginya.

Dan terkait persaingan, menurutnya, sekarang ini juga tak terlepas—atau banyak dipengaruhi—dari bansos-bansos yang dikeluarkan oleh para pejabat. Sebab kerap kali bansos yang keluar itu sudah satu paket dengan pengrajin ukiran pasir hitam.

Hal tersebut mengakibatkan pengerajin yang tidak dekat dengan pemerintah—atau tokoh pemberi bansos—tentu tidak kebagian pekerjaan. Meski demikian, menurut Wayan Sarba, itu sah sah saja. “Mungkin itu hasil dari lobi-lobi si pengerajin dengan para pejabat dan itu tidak dapat disalahkan,” katanya.

Hmm… sampai di sini saya baru tahu, selain harus bisa mengukir, seniman ukir pasir hitam ternyata juga harus bisa melobi pejabat.

Namun, kata Wayan Sarba, yang menjadi keprihatinan perkembangan seni ukir pasir hitam bukan masalah lobi-lobi tersebut, tetapi tentang saingan yang datang dari ukiran-ukiran cetakan berbahan viber dan sejenisnya—yang harganya lebih murah, pengerjaannya lebih cepat, dan hasilnya lebih bagus. “Ukiranya juga lebih halus dan juga motif lebih beragam,” katanya.

Lantas, akankah seni ukir pasir hitam seiring waktu akan ditinggalkan?

Wayan Sarba berharap, agar kesenian ukiran pasir hitam tetap berkembang di masa depan dan pelaku seni yang ada di Desa Padang Bulia—kususnya pelaku seni ukir pasir hitam di Dusun Prabakula—untuk tetap saling mendukung satu sama lain.

Ia juga mengatakan punya harapan besar agar semakin banyak generasi muda mau belajar mengukir pasir hitam demi melestarikan dan mengembangkan kesenian tersebut. “Supaya mampu bersaing dengan model-model dan pelaku seni ukiran pasir hitam dari daerah lain,” ujar seniman yang sudah melakoni seni ukir pasir hitam selama 34 tahun itu—terhitung sejak ia mulai belajar sekitar tahun 1989.

Pada akhirnya, terlepas dari itu semua, apabila teman-teman pembaca punya rencana untuk mengukir merajan atau menghias rumah dengan pasir hitam, silakan menghubungi Pak Wayan Sarba di nomor telepon: 082147264618. Terima kasih sudah membaca.[T]

Baca juga artikel atau tulisan menarik lainnya GEDE DEDY ARYA SANDY

Reporter: Gede Dedy Arya Sandy
Penulis: Gede Dedy Arya Sandy
Editor: Jaswanto

Tags: baliSeni Ukirseniman
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Cerita dari Lombok: Teater, Tenun dan MotoGP

Next Post

Kata-kata Meneduhkan Merefleksikan Nilai-nilai Kebijaksanaan

Gede Dedy Arya Sandy

Gede Dedy Arya Sandy

Kerap dijuluki "Orang Gila dari Utara". Pelukis dan seniman tato. Tinggal di desanya di Padangbulia sembali membuka studio melukis sekaligus studio tato. Jika datang ke studionya, ia banyak punya cerita menarik bukan hanya soal tato, tapi juga soal kehidupan

Related Posts

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
0
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails
Next Post
Orang Mau Bayar Mahal Untuk Memalsukan Diri

Kata-kata Meneduhkan Merefleksikan Nilai-nilai Kebijaksanaan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co