12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Orang-Orang Dusun Prabakula, Mengukir Kehidupan di Atas Pasir Hitam

Gede Dedy Arya Sandy by Gede Dedy Arya Sandy
October 17, 2023
in Khas
Orang-Orang Dusun Prabakula, Mengukir Kehidupan di Atas Pasir Hitam

Salah satu motif ukiran pasir hitam | Foto: Dok. Penulis

KALI INI saya akan bercerita tentang salah satu dusun yang ada di Desa Padang Bulia, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng, Bali. Dusun itu bernama Dusun Prabakula, yang terletak di sebelah selatan Desa Padang Bulia dan menjadi bagian dari salah satu dusun dari lima dusun yang dimiliki oleh desa tersebut—empat lainnya adalah Dusun Taman Sari; Dusun Widarbasari; Dusun Padang Bulia; dan Dusun Runuh Kubu.

Alasan saya menceritakan Dusun Prabakula sebab di dusun ini sebagian besar warganya berprofesi atau terlibat dalam pekerjaan seni ukir pasir hitam—yang menurut saya sangat menarik untuk ditulis.

Beberapa hari yang lalu saya sempat mengobrol dengan salah satu pelaku seni ukir pasir hitam—salah satu tokoh penting dalam perkembangan seni ukir pasir hitam di Prabakula. Nama tokoh yang dimaksud adalah Wayan Sarba.

Pria kelahiran 1971 itu merupakan salah satu orang yang memperkenalkan seni ukir pasir hitam kepada warga Dusun Prabakula. Sehingga, atas usahanya tersebut, sampai saat ini, seni ukir pasir hitam menjadi pekerjaan dari sebagian besar warga dusun, entah sebagai tukang ukir atau pengayah.

“Pada awalnya, saya menekuni seni ukir pasir hitam karena setelah tamat sekolah dasar, saya tidak punya pekerjaan,” ujar Sarba.

Setelah luntang-lantung sekian lama, katanya, bersama dua orang teman, yaitu Wayan Reben dan Nyoman Raweg, akhirnya ia pergi menemui Guru Tanu dan juga Komang  Teer—yang notabene sudah lebih dulu bergelut di bidang seni ukir pasir hitam—di desa untuk ikut belajar mengukir pasir hitam. Dan singkat cerita, Wayan Sarba dan dua temannya langsung diajak untuk belajar sekaligus bekerja

Menurut penuturan Sarba, setelah ia mahir mengukir dan menjadi tukang, garapan pertamanya adalah Merajan Jero Gede Padang Bulia. Setelah itu, ia mendapat proyek di Hotel Raditya di daerah Lovina. Saat mengerjakan proyek di Hotel Raditya, ia dibantu oleh temanya yang juga sudah lama bergerlut di dunia seni ukir pasir hitam. “Teman saya itu bernama Putu Miasa, atau lebih dikenal dengan nama Putu Mangut,” jelasnya.

Putu Mangut berasal dari Desa Padang Bulia, namun sudah menetap di Desa Pancasari. Selain Mangut, saat mengukir di Hotel Raditya, Wayan Sarba juga dibantu oleh Guru Supatra yang juga sudah lama menjadi tukang ukir pasir hitam—mereka sama-sama berasal dari Dusun Widarbasari, Desa Padang Bulia.

“Atas bantuan dari Putu Mangut dan Guru Supat, kemampuan seni ukir saya juga Made Raweg dan Nyoman Reben semakin bagus,” kata Sarba.

Setelah selesai mengukir di Hotel Raditya, bersama teman-temannya Sarba mendapat orderan dari Desa Mengesta, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan, untuk menggarap merajan keluarga—atau sanggah, tempat suci yang ada dalam satu pekarangan rumah yang berfungsi untuk menyembah Tuhan, dewa-dewi, dan juga roh-roh suci leluhur.

“Itu merupakan perjalanan pertama saya menjadi pekerja seni ukir pasir hitam yang mengerjakan pesanan di luar kabupaten,” ujarnya.

Pada saat itu, di daerah Tabanan, seni ukir pasir hitam masih terbilang baru. Makanya, pada saat Wayan Sarba mulai mengukir di sana, banyak orang mulai tertarik untuk membuat merajan keluarga atau menghias rumahnya dengan ukiran pasir hitam.

Ketertarikan masyarakat Tabanan atas seni ukir pasir hitam menyebabkan grup ukir Wayan Sarba laris manis, mereka terus mondar-mandir di daerah tersebut untuk ngukir pasir hitam. Bahkan, kalau dihitung-hitung, menurut ingatan Sarba, sampai sekitar 10 tahunan ia menjelajahi Tabanan.

“Oleh karena perkembangan ukiran pasir hitam di Tabanan cukup bagus, grup ukir kami sering mendapatkan pekerjaan di sana,” terangnya.

Maka, sejak saat itu, grup ukir Wayan Sarba mulai merekrut remaja yang ada di dusunnya, Dusun Prabakula, untuk ikut membantu bekerja dan juga sekaligus belajar membuat ukiran pasir hitam.

Pada awalnya, kata Sarba, mereka yang direkrut tersebut hanya bekerja sebagai pengayah. Tetapi, lambat-laun, karena keseringan terlibat dalam pekerjaan seni ukir pasir hitam, akhirnya mereka mulai tertarik untuk ikut belajar ngukir hingga bisa menjadi tukang ukir.

Untuk saat ini, tukang ukir pasir hitam yang berada di Dusun Prabakula berjumlah kurang lebih 30 orang. Namun, jika ditambah dengan para pengayah, maka kira-kira sekitar 70% warga Dusun Parabkula bergelut di bidang seni ukir pasir hitam.

Dan di masa depan, jumlah tersebut diprediksi akan terus bertambah. Saat ini, semua tukang ukir ditambah dengan pengayah-nya, sudah tersebar ke berbagai desa di Buleleng maupun di luar Buleleng untuk menggarap ukiran pasir hitam.

Menurut Wayan Sarba, untuk pasir hitam, bahan baku ukiran, ia memesan langsung dari daerah sekitar Negara, Jembrana—karena memiliki kualitas yang bagus, katanya. Namun, masalahnya, ada kabar bahwa pengambilan pasir hitam itu dilarang oleh pemerintah. Tetapi, terkait hal tersebut, Wayan Sarba tidak tahu pasti sebab ketika ia memesan pasir selalu saja dibawakan meski terkadang harus menunggu cukup lama.

Lebih jauh bicara tentang pakem ukirannya, Wayan Sarba menyebut gaya garapannya dengan gaya ukiran pasir Belelengan dengan ciri ukiran lebih tajam, runcing, pada cekak-cekak daun maupun bunga.

Saat ditanya mengenai apa saja tantangan dan masalah menjadi tukang ukir pasir hitam, ia menjawab, “Pas keterlambatan datangnya pasir, atau hujan, yang menyebabkan pekerjaan selesai tidak sesuai jadwal. Dan jika pekerjaan tidak sesuai jadwal, maka itu berarti kami harus tinggal lebih lama, mondok, di desa orang.”

Banar. Saat mendapat pekerjaan di luar kabupaten, Wayan Sarba dan teman-temannya tak jarang harus mondok (menginap) dan pulang hanya seminggu sekali. Meski masalah tempat tinggal—selama mondok—biasanya sudah disiapkan tuan rumah atau orang yang mempekerjakannya, tetapi kadang rindu rumah sendiri selalu datang tanpa diundang. “Di situlah dukanya,” imbuhnya.

Namun, meski demikian, ia mengatakan selalu merasa senang sebab melakoni dunia seni ukir pasir hitam sudah menjadi pilihan hidupnya. Saya pikir juga demikian, sebagaimana kata Wayan Sarba, “Setiap pilihan hidup yang kita pilih harus selalu dinikmati dengan rasa suka.”

Sampai sejauh ini, khususnya di daerah Buleleng, Wayan Sarba mengatakan, seingatnya, sudah menjelajahi banyak desa, mulai dari Subuk, Pelapuan, Bongancina, dan di desa-desa lainnya.

Seni Ukir Pasir Hitam, Kini dan Nanti

Ketika saya bertanya tentang bagaimana perkembangan seni ukir pasir hitam di masa sekarang ini, Wayan Sarba menjawab, “Perkembangan seni ukir pasir hitam di masa sekarang ini sudah cukup baik dan semakin beragam corak. Hal itu dipengaruhi oleh persaingan maupun kerja bareng dengan sesama pengerajin seni ukir pasir hitam dari daerah lain.”

Menurut Sarba, persaingan dan kerja bersama dalam satu proyek dengan pengukir luar daerah itu bagus karena meningkatkan kualitas ukiran dari Dusun Prabakula—dan itu sangat positif baginya.

Dan terkait persaingan, menurutnya, sekarang ini juga tak terlepas—atau banyak dipengaruhi—dari bansos-bansos yang dikeluarkan oleh para pejabat. Sebab kerap kali bansos yang keluar itu sudah satu paket dengan pengrajin ukiran pasir hitam.

Hal tersebut mengakibatkan pengerajin yang tidak dekat dengan pemerintah—atau tokoh pemberi bansos—tentu tidak kebagian pekerjaan. Meski demikian, menurut Wayan Sarba, itu sah sah saja. “Mungkin itu hasil dari lobi-lobi si pengerajin dengan para pejabat dan itu tidak dapat disalahkan,” katanya.

Hmm… sampai di sini saya baru tahu, selain harus bisa mengukir, seniman ukir pasir hitam ternyata juga harus bisa melobi pejabat.

Namun, kata Wayan Sarba, yang menjadi keprihatinan perkembangan seni ukir pasir hitam bukan masalah lobi-lobi tersebut, tetapi tentang saingan yang datang dari ukiran-ukiran cetakan berbahan viber dan sejenisnya—yang harganya lebih murah, pengerjaannya lebih cepat, dan hasilnya lebih bagus. “Ukiranya juga lebih halus dan juga motif lebih beragam,” katanya.

Lantas, akankah seni ukir pasir hitam seiring waktu akan ditinggalkan?

Wayan Sarba berharap, agar kesenian ukiran pasir hitam tetap berkembang di masa depan dan pelaku seni yang ada di Desa Padang Bulia—kususnya pelaku seni ukir pasir hitam di Dusun Prabakula—untuk tetap saling mendukung satu sama lain.

Ia juga mengatakan punya harapan besar agar semakin banyak generasi muda mau belajar mengukir pasir hitam demi melestarikan dan mengembangkan kesenian tersebut. “Supaya mampu bersaing dengan model-model dan pelaku seni ukiran pasir hitam dari daerah lain,” ujar seniman yang sudah melakoni seni ukir pasir hitam selama 34 tahun itu—terhitung sejak ia mulai belajar sekitar tahun 1989.

Pada akhirnya, terlepas dari itu semua, apabila teman-teman pembaca punya rencana untuk mengukir merajan atau menghias rumah dengan pasir hitam, silakan menghubungi Pak Wayan Sarba di nomor telepon: 082147264618. Terima kasih sudah membaca.[T]

Baca juga artikel atau tulisan menarik lainnya GEDE DEDY ARYA SANDY

Reporter: Gede Dedy Arya Sandy
Penulis: Gede Dedy Arya Sandy
Editor: Jaswanto

Tags: baliSeni Ukirseniman
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Cerita dari Lombok: Teater, Tenun dan MotoGP

Next Post

Kata-kata Meneduhkan Merefleksikan Nilai-nilai Kebijaksanaan

Gede Dedy Arya Sandy

Gede Dedy Arya Sandy

Kerap dijuluki "Orang Gila dari Utara". Pelukis dan seniman tato. Tinggal di desanya di Padangbulia sembali membuka studio melukis sekaligus studio tato. Jika datang ke studionya, ia banyak punya cerita menarik bukan hanya soal tato, tapi juga soal kehidupan

Related Posts

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

by Emi Suy
September 10, 2026
0
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

Read moreDetails

Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

by Nyoman Budarsana
September 8, 2026
0
Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

PELAKSANAAN Utsawa Dharma Gita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 tinggal menghitung hari. Perlombaan tersebut bakal dimulai Jumat, 11 September...

Read moreDetails

Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

by tatkala
September 7, 2026
0
Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

RAK di sudut kamar dulu menjadi penanda seberapa serius seseorang mengikuti sebuah judul. Penanda itu perlahan berpindah ke daftar bacaan...

Read moreDetails

Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

by Nyoman Budarsana
September 6, 2026
0
Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

DIIRINGI gending gamelan yang dinamis, gerak, seledet, dan perpindahan posisi para penari mengalir membentuk jalinan yang hidup. Setiap gerakan seolah...

Read moreDetails

Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

by I Nyoman Tingkat
September 6, 2026
0
Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

"CERAKEN BALI: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul". Itulah tema HUT VII SMA Negeri 2 Kuta Selatan...

Read moreDetails

Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

by Dian Suryantini
September 1, 2026
0
Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

ADA sesuatu yang terasa ganjil ketika pertama kali melihatnya. Selonding, sebuah gamelan yang selama ini begitu dekat dengan kayu, tradisi,...

Read moreDetails

Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

by Ega Surya Mahendra
August 31, 2026
0
Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

MALAM, pukul 21.30, 10 Agustus 2026. Saya baru saja usai melewati jalan yang nestapa dari Tanjung Benua menuju kampung halaman...

Read moreDetails

Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

by Nyoman Budarsana
August 31, 2026
0
Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

ANGGIN itu sahabat para Rare Angon. Ketika embusannya mulai menguat di Pantai Mertasari, Sanur, kesibukan pun muncul di antara para...

Read moreDetails

Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

by Nyoman Budarsana
August 29, 2026
0
Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

“Dug dug, dag, dug dug.., dag dug dag…, jedug kapak, jedug kapak…!” SUARA kendang dan okokan menggema mengiringi pembukaan Tanah...

Read moreDetails

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026
0
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

Read moreDetails
Next Post
Orang Mau Bayar Mahal Untuk Memalsukan Diri

Kata-kata Meneduhkan Merefleksikan Nilai-nilai Kebijaksanaan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co