4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dirah dan Pilkada dalam Mozaik Asik,  Sebuah Pameran Kebebasan Seniman Muda Undiksha

Son Lomri by Son Lomri
October 22, 2024
in Ulas Rupa
Dirah dan Pilkada dalam Mozaik Asik,  Sebuah Pameran Kebebasan Seniman Muda Undiksha

Suasana pameran bebas desain Mozaik Asyik di FBS Undiksha Singaraja | Foto: tatkala.co/Son

BERBAGAI macam bentuk dan jenis karya seni dipamerkan pada acara “Bebas Desain” oleh Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Seni dan Desain, Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Undiksha.

Acara itu dilakukan di ruang Galeri Paduraksa FBS, dan telah berlangsung sejak tanggal 12 Oktober dan akan berakhir 26 Oktober 2024. Pameran itu dibuka setiap jam 09.00 pagi, dan tutup jam 09.00 malam.

Ada banyak karya seni lukis memenuhi dinding ruangan pameran itu. Sedari realis hingga abstrak, dan mulai dari tema sosial-politik, budaya, hingga tokoh bengis dunia seperti Hitler—wajahnya juga ikut terpampang di tembok paling belakang dengan judul “Seniman Yang Gagal” karya Komang Wawan Sumerta.

Tak hanya itu, patung, baju punk—juga dipajang di sana, dan menjadikan pameran lebih banyak pilihan untuk dilihat. Pameran itu diberi tema “Mozaik Asik”.

Pengunjung pameran di Galeri Paduraksa FBS Undiksha Singaraja | Foto: tatkala.co/Son

Menurut Ketut Sastrawan, Mozaik Asik diambil dari dua suku kata yaitu Mozaik dan Asik. Mozaik sendiri merupakan suatu karya yang diciptakan dari potongan atau serpihan media yang kemudian dirangkai menjadi satu keutuhan karya.

“Partisipan pameran berasal dari prodi seni rupa, DKP, serta alumni, selain itu terdiri dari keberagaman karya di dalamnya dengan makna yang berbeda juga, sedangkan Asik, merupakan akronim dari Aspirasi Kreasi,” lanjut Ketut Sastrawan, ketua panitia pameran.

Kemudian ia juga menjelaskan setiap karya yang diciptakan dan dipamerkan adalah bentuk aspirasi, dan tujuan atau harapan dari pencipta karyanya—yang dikreasikan sesuai dengan berbagai media bahkan tekniknya.

Untuk melihat itu, sepulang dari kuliah sore di kampus tengah, Widya Ambari (19) bersama teman-temannya bergerombol datang ke acara pameran di hari ketiga.

Sesekali mereka bersamaan mengitari ruangan melihat lukisan dari tembok satu ke tembok lainnya, dan kemudian berpencar melihat karya-karya yang menarik sendiri-sendiri.

Terakhir, Ambari (19) menghampiri satu lukisan berjudul “Walunateng Dirah” dengan teknik arsir yang halus, gelap terang yang halus berukuran 30 X 42 CM dari drawing on paper, karya Ayu Astina Dewi.

Secara cerita, Walunateng Dirah merupakan sesosok utama dalam acara pencalonarangan yang jika dipentaskan memadukan tari Topeng, Gambuh, Arja dan Palegongan.

Konon, di suatu daerah di jaman baheula, Walanetang Dirah atau juga disebut Rangda Ing Dirah adalah seorang janda yang memiliki kekuatan magis dan ditakuti oleh banyak orang.

Karya-karya yang dipemaerkan pada acara “Bebas Desain” oleh Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Seni dan Desain, Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Undiksha. | Foto: tatkala.co/Son

Secara cerita, agak seram memang. Tapi sebab itulah Ambari datang untuk melihat. Apalagi karena ia belum pernah sama sekali melihat pementasan calonarang yang begitu sakralnya di setra.

Tetapi melalui lukisan itu juga, lanjut Ambari, setidaknya hasrat untuk tahu terpenuhi walaupun tidak tahu rasanya bagaimana jika menonton secara langsung.

“Pertama, pasti seram karena melihat lidahnya menjulur. Terus itu, buletan-buletan itu, ada rasa-rasa gak nyaman—ketika melihatnya. Dan memang, saya belum pernah juga nonton pementasan calonarang,” kata Widya Ambari, semester 3 Akuntasi, di pameran.

Tetapi bukan saja karena tampilan lukisan yang memiliki dorongan magis—sehingga Ambari menghampiri lukisan itu. Tetapi bagaimana banyak detail yang terperhatikan oleh pelukisnya juga menjadi minatnya.

Ada banyak pernak-pernik, atau barangkali simbol-simbol—yang menjadikan lukisan itu menjadi ramai dan asik untuk dilihat. Tidak hambar walaupun lukisan itu mudah dijumpai dimana-mana, di Bali.

Pameran Seni, dan Sesuatu yang Hendak Disampaikan

Di sini, Ayu Astina Dewi, pelukis muda semester 3 Prodi Seni Rupa—asal Tabanan itu barangkali berhasil mengeksplor teknik arsirnya. Dan memang, ia sengaja menampilkan lukisan Walunateng Dirah dengan teknik gelap terang itu.

Karena pada lukisan sebelumnya ia telah memajang lukisan Ratna Manggalih—anak dari Walunateng Dirah dengan teknik berwarna, pada pameran satu tahun yang lalu.

Lukisan “Hiruk Pikuk” di kanvas ukuran 80 X 100 cm, karya Putu Krisna | Foto: tatkala.co/Son

Melalui pameran “Bebas Desain: Mozaik Asyik 2024” ini, Ayu Astina Dewi sangat kuat ingin menyampaikan sesuatu tentang dirinya sebagai pelukis muda perempuan Bali.

Hal itu juga tercitrakan melalui gambar dan corak beberapa rerajahan yang ia buat dan dipamerkan di laman instagramnya @astinadw.

Kemudian lukisan realis tentang alam—yang juga ditampilkannya di media sosial sama, sedikitnya menjelaskan tentang kemampuannya sebagai seniman. Dan memang, ia adalah seniman—yang berbakat.

Tengoklah laman media sosialnya. Sesekali ia juga membuka jasa melukis wajah dengan teknik arsir, atau membubuhkan warna jika Anda berminat memesan, DM-lah.

Sementara di tembok yang tak jauh dari pintu masuk ruang pameran, lukisan “Hiruk Pikuk” di kanvas ukuran 80 X 100 cm, karya Putu Krisna itu juga tak kalah menyedot perhatian.

Berbeda dengan Astina, lukisan Hiruk Pikuk memiliki pewarnaan yang kuat, dengan beberapa simbol di dalamnya juga terlihat menonjol, kalau boleh dikatakan, barangkali menyenggol suasana pesta pilkada sekarang.

Dari banyaknya janji-janji yang berterbangan akhir-akhir ini di kota atau pelosok desa, Putu Krisna barangkali telah menyapunya dengan kuas.

“Tujuan utama—terciptanya lukisan ini, adalah (suasana) Pilkada ini. Saya ingin visualkan makna dari, apa yang sebenarnya terjadi pada pilkada Bali ini, gitu. Kalo dilihat, sih, semakin ke belakang pesta demokrasi di Bali ini, kan, para tokoh maupun para calon-calon itu semakin gila menyuarakkan janjinya itu,” jelas Putu Krisna.

Karya instalasi dan patung | Foto: tatkala.co/Son

Pada Pilkada tahun ini, Putu Krisna merasakan kebimbangan—sangat kuat, dan kuasnya mengeluarkan kebimbangan itu melalui kanvas dengan pewarnaan yang kontras melalui teknik impres. Tidak terlalu realis, tidak terlalu abstrak.

Ada beberapa simbol menohok yang ia tuangkan di dalam lukisannya. Seperti dua calon sedang orasi—janji, dengan bayangan hitam kursi kekuasaan. Kemudian pesawat (mempresentasikan bandara), lalu lintas, sampah, dan seorang penari yang sedang tutup telinga.

“Kekhawatiran pertama—tentang janji-janji itu, apakah yang dijanjikan terkait budaya dan seni, misalnya, terus kenyamanan Bali melalui pembangunan, terus perihal macet dan sampah-sampah, itu akan terwujud betulan kearah yang lebih nyata baiknya?” kata Ketut Krisna, mempertanyakan itu melalui lukisannya, dan saya tak mampu menjawab. Semoga ada jawaban yang baik yah Krisna…[T]

Reporter/Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Adnyana Ole

Dewi Sri dan Spirit Kemerdekaan dalam Pameran Seni Rupa di Undiksha Singaraja
Tulang, Tubuh, dan Puisi dalam Ruang-Waktu | Dari Pameran Seni Instalasi Sampi Duwe di Desa Tambakan
Tags: PameranPameran Seni RupaSeni RupaUndiksha
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Merajut Seni Merajut Kerjasama : Dari Kunjungan ISI Yogyakarta ke UPMI Bali

Next Post

Ketut Sweta Swatara, Menjaga Nyala Wayang Wong Tejakula

Son Lomri

Son Lomri

Mahasiswa Undikhsa, tinggal di Singaraja

Related Posts

Mengurai Gnosis Perupa Payangan

by I Wayan Westa
September 27, 2026
0
Mengurai Gnosis Perupa Payangan

Dr. Jean Couteau, budayawan asal Prancis pernah berseloroh soal kondisi terkini psiko-budaya generasi Bali. Dalam sejumlah pernyataan lisan maupun tertulis,...

Read moreDetails

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

by Jaswanto
September 26, 2026
0
Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

PADA siang yang membakar, saya berebut jalanan Surabaya menuju Voza Tower di Jalan Mayjen HR. Muhammad, Putat Gede, Sukomanunggal. Di...

Read moreDetails

Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

by Emi Suy
September 23, 2026
0
Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

Datang Setelah Riuh Saya datang ketika riuh telah selesai. Pameran telah usai dibuka, sebagian pengunjung mulai beranjak, percakapan telah menemukan...

Read moreDetails

Guci Nasib di Titik Nol Kota

by I Wayan Westa
September 22, 2026
0
Guci Nasib di Titik Nol Kota

”….dalam labirin, aku mencari guci nasibku, yang tersimpan dalam kabut kebuntuan, membentur dalam setiap sudut dinding, tak tahu jalan pulang,...

Read moreDetails

Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

Menelisik foto karya yang tampak pada pameran, bidang kanvas dipenuhi figur-figur wayang, makhluk mitologis, ornamen, tetumbuhan, dan jaringan garis yang...

Read moreDetails

Membaca Naga Agus Kama Loedin

by I Wayan Westa
September 16, 2026
0
Membaca Naga Agus Kama Loedin

---Venue Art, Batu & Studio, Batubulan, Gianyar, Bali | 12 September 2026 * Pameran "Jaga Raga Bara Jiwa" dibuka  Rektor...

Read moreDetails

Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

by Angga Wijaya
September 16, 2026
0
Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

Di Agung Rai Museum of Art atau ARMA, Ubud, Bali, pada Juli 2026, sebuah pohon penuh kuda hadir di antara...

Read moreDetails

Wajah I Made Galung Wiratmaja

by Hartanto
September 10, 2026
0
Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

Read moreDetails

“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

by Hartanto
September 3, 2026
0
“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

PADA tanggal 29 Agustus hingga 29 September 2026 nanti, digelar pameran lukisan karya I Ketut Suasana ‘Kabul’. Pameran bertajuk  Nectar...

Read moreDetails

Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

by I Wayan Westa
September 3, 2026
0
Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

DI tengah lingkungan yang rusak, belantara  Kalimantan terbakar, ribuan hektar tanah Subak di Bali   menyusut.  Sebab, dari 80.000 hektar di...

Read moreDetails
Next Post
Ketut Sweta Swatara, Menjaga Nyala Wayang Wong Tejakula

Ketut Sweta Swatara, Menjaga Nyala Wayang Wong Tejakula

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Kuliner

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co