17 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ketut Sweta Swatara, Menjaga Nyala Wayang Wong Tejakula

Jaswanto by Jaswanto
October 19, 2024
in Persona
Ketut Sweta Swatara, Menjaga Nyala Wayang Wong Tejakula

Ketut Sweta Swatara | Foto: tatkala.co/Jaswanto

ADA beberapa perempuan berkulit pucat duduk di kursi kayu panjang di sana. Dengan tatapan takjub, pandangan turis-turis itu selalu mengikuti ke mana pun anak-anak bergerak. Sedangkan anak-anakโ€”yang semuanya laki-lakiโ€”yang lincah itu terus bergerak, berpindah, berlari, menari, seperti tak mau berhenti. Anak-anak itu sedang belajar menari Wayang Wong Tejakula.

Sementara anak-anak SD dan SMP itu belajar menari, sambil berdiri seorang pria dewasa, dengan serius, mengamati dan sesekali memberi instruksi, pula tak jarang mengoreksi gerakan yang salah dan menunjukkan gerak yang sebenarnya.

โ€œGelungan. Ngangsel!โ€ seru pria tersebut saat memberi arahan anak didiknya yang sedang belajar menarikan karakter Kumbakarna. Bocah bertopeng raksasa adik Rahwana itu terus menari, berputar, menunjukkan kebolehannya di bawah arahan sang pelatih, Ketut Sweta Swatara, pria yang dimaksud.

Ketut Sweta Swatara, atau yang akrab dipanggil Eta, merupakan sosok di balik terbentuknya kelompok wayang wong anak-anak di Tejakula, Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng, Bali.

Sebagai seniman wayang wong, ia merasa perlu mengajarkan kesenian tua ini kepada anak-anakโ€”untuk regenerasi, pula mendekatkan anak-anak dengan warisan leluhur, katanya.

Anak-anak sedang bersiap latihan Tari Wayang Wong Tejakula | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Tapi menjadi pelatih wayang wong anak-anak jelas bukan rencana awalnya. Sebab pada awalnya ia hanya melatih dua anaknya sendiri dan keponakannya di rumah dan beberapa anak tetangga setelahnya.

Lalu, semua ini seperti terjadi begitu saja saat ia memosting kegiatan belajar-mengajar itu ke media sosial. โ€œJadilah banyak orang tua yang mau anak-anaknya diajari,โ€ terang Eta sembari tertawa pada sore hari yang cerah, Kamis (17/10/2024).

Eta sempat bimbang. Ia mencoba menggali informasi siapa seniman Wayang Wong Tejakula yang lain yang sudah melakukan hal yang sama, yakni mengajarkan tarian wayang wong kepada anak-anak secara umum. Tapi ia tak mendapat jawaban.

Ternyata selama ini memang belum ada sekaa wayang wong anak-anak di Tejakula. Para seniman wayang wong biasanya hanya mengajarkan tarian ini kepada keluarganya sendiriโ€”secara pribadi.

Dari sana tekad Eta semakin bulat. Jadilah ia, di sela-sela pekerjaannya sebagai front office di salah satu hotel di Tejakula, mengajar tarian wayang wong kepada banyak anak secara umumโ€”dan terbentuklah kelompok Wayang Wong Anak-Anak Tejakula seperti sekarang ini.

โ€œSaya mulai tahun 2020. Awalnya anak-anak dan keponakan saya sendiri. Lalu ketambahan enam anak tetangga,โ€ Eta menerangkan perjalanan terbentuknya sekaa wayang wong anak-anak ini. Merasa apa yang dilakukannya tepat dan bermanfaat, pada tahun tersebut Eta melaporkan niat baiknya kepada Camat Tejakula yang baru.

Anak-anak sedang bersiap latihan Tari Wayang Wong Tejakula | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Gayung bersambut, impian Eta tak bertepuk sebelah tangan. Dengan senang hati Pak Camat mendukung apa yang ia niatkan.  โ€œPak Camat sampai memfasilitasi tempat ini untuk latihan. Dan beliau mengundang lebih banyak anak-anak untuk ikut latihan,โ€ sambung Eta.

Jadilah Eta melatih anak-anak Tari Wayang Wong Tejakula di tempatnya Pak Camat, di Sekretariat Komunitas Jejaring Pemerhati Lingkungan (Jepri-Link), Banjar Dinas Tegal Sumaga, Tejakula, sampai sekarang.

โ€œSetelah saya posting di Facebook, makin banyak orang tua yang mendaftarkan anak-anaknya. Dan, awal 2021, baru latihan sekitar tiga atau empat bulan, sudah ada undangan pentas di Taman Bung Karno (TBK), Singaraja. Waktu itu kami masih gabung dengan Sanggar Seni Rare Mekar Tejakulaโ€”karena mereka juga memiliki gamelan,โ€ kata Eta. Para seniman yang tergabung di Sanggar Rare Mekar ini kadang membantu Eta melatih anak-anak.

***

Eta sendiri belajar menari Wayang Wong Tejakula sejak duduk di bangku kelas satu SD, sekitar tahun 1991. Bersama kakaknya ia berguru kepada pamannya. Tak seperti sekarang, Eta bercerita, pamannya cukup keras saat melatih. Eta dan si kakak tak jarang harus ngos-ngosan sabab disuruh lari dan lompat berkali-kali. โ€œItu dasarnya,โ€ ujar Eta menirukan perkataan pamannya dulu ketika ia dan sang kakak mengeluh.

Ia lahir dan besar di Tejakula. Lahir pada tanggal 26 Februari 1985. Ia sempat merantau ke Denpasar setelah lulus SMA, saat melanjutkan pendidikan di Diploma II Sekolah Tinggi Parawisata. โ€œDulu mau kerja di kapal,โ€ katanya. Tapi karena sang ibu sendirian di rumah sejak ditinggal suaminya, Eta mengurungkan niatnya. Ia pulang ke Tejakula, dan mulai menari wayang wong sakral di pura pada tahun 2005-an.

(Sekadar informasi, Wayang Wong Tejaluka yang sakralโ€”yang dipentaskan di pura dalam rangkaian ritualโ€”hanya boleh ditarikan oleh orang-orang yang memiliki darah keturunan penari wayang wong sebelumnyaโ€”entah bapak atau kakeknya atau leluhurnya duluโ€”dan mereka yang memiliki kaul.)

โ€œSaya menari wayang wong sakral sebelum nganten [menikah], makanya perlu lapor, matur piyuning, dulu ke ketua sekaa setiap kali mau menari. Dan saya harus bawa banten ke pura yang mementaskan wayang wong. Kalau sudah nikah nggak perlu begitu, seperti sekarang,โ€ terang Eta. Ia menikah pada tahun 2015, sepuluh tahun setelah memutuskan untuk ngaturang ngayah kepada sekaa Wayang Wong Tejakula.

Ketut Sweta Swatara | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Pertama kali ikut ngayah menarikan wayang wong di pura, Eta kebagian salah satu karakter pasukan Raja Wanara Sugriwaโ€”walaupun sejak SMP ia sudah belajar menarikan sosok Wibisana dari pamannya. โ€œKarena waktu itu yang jadi Wibisana sudah ada, lebih senior lah,โ€ ujarnya.

Selama belajar Tari Wayang Wong, selain pamannya, sosok sang kakak juga sangat berpengaruh. Eta mengatakan kakaknya sangat tekun belajar tarian yang ditetapkan sebagai Warisan Budaya Dunia oleh UNESCO ini. Dan ia sangat kagum saat melihat atau menonton kakaknya menarikan sosok Hanoman si kera putih itu.

Berkat arahan kakaknya pula ia mau menarikan tokoh-tokoh hewan mitologi macam Jatayu, Goaksa, atau Ganapati sebelum akhirnya percaya diri dan dipercaya sekaa menarikan tokoh prabuโ€”seperti Laksamana dan Wibisanaโ€”sampai sekarang.

โ€œPertama kali menari di pura itu menarikan tokoh burung, Goaksa atau Jatayu, baru pindah ke tokoh Ganapati, seekor gajah. Paling lama saya โ€˜menjadiโ€™ gajah. Setelah di gajah, saya sempat menarikan tokoh Sempati dan Druwenda, senopati di medan perang melawan pasukan Rahwana.

Ketut Sweta Swatara saat melatih Tari Wayang Wong | Foto: tatkala.co/Jaswanto

โ€œSetelah itu baru menarikan tokoh prabu, jadi Laksamana dulu baru Wibisana. Sekarang rencananya mau menarikan tokoh Meganada, masih proses belajar,โ€ jelas Eta sambil tersenyum.

Di Tejakula, Eta termasuk penari wayang wong yang, tak hanya cakap saat menari, tapi juga artikulatif saat menjelaskan terkait seputar pengetahuan Wayang Wong Tejakula. Apalagi, dengan keahliannya dalam berbahasa Inggris, banyak wisatawan asing yang mendapat penjelasan darinya. Itu nilai plus.

Berkat niat Eta yang tulus, Wayang Wong Tejakula sepertinya akan terus menyala; tak sekadar sebagai rangkaian upacara agama, pula sebagai hiburan adiluhung yang mewarnai panggung-panggung seni pertunjukan modern. Pengetahuan gerak, pakem, nilai-nilai, karakter, ia ajarkan dengan serius dan hati-hati kepada setiap anak didiknya.

Wayang Wong Tejakula tak khawatir soal regenerasi.

***

Selama ini, Eta tak memungut uang sepeser pun dari anak-anak yang ikut latihan Tari Wayang Wong. Tapi, dan ini yang membuat kagum orang-orang, berkat Camat Tejakula Gede Suyasa, setiap anak yang ikut latihan dianjurkan membawa sampah plastik setiap minggu sebagai, katakanlah, โ€œbayaranโ€.

โ€œJadi ini ide Pak Camat,โ€ ungkap Eta. Wajar, sebab sebelum menjabat sebagai camat, Suyasa memang seorang pemerhati lingkungan.

Itu menjadi sesuatu yang menarik perhatianโ€”termasuk orang-orang manca. Jadi, seminggu sebelum latihan, anak-anak didik Eta akan berusaha mengumpulkan sampah plastik, sebanyak-banyaknya. Mengenai hal ini, tak jarang orang tua juga ikut turun tangan membantu mengumpulkan sampah plastik, supaya anaknya bisa ikut latihan.

โ€œSaya percaya bahwa menjaga dan melestarikan lingkungan juga merupakan praktik kebudayaan. Dan kesenian tentu bisa kita jadikan sebagai wadah untuk anak-anak belajar mencintai lingkungan juga. Jadi disisipkan pengetahuannya, pelan-pelan,โ€ kata Suyasa sembari tertawa.

Seorang anak sedang memakai topeng Kumbakarna | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Sejak awal kelompok Wayang Wong Anak-Anak Tejakula ini memang tidak diniatkan untuk mencari pundi-pundi rupiah. Ini dibuat memang untuk keperluan pelestarian kesenian dan usaha, sedikit demi sedikit, mengurangi waktu anak-anak bermain smartphone, pula mengajak anak-anak untuk bergerak, berolahraga.

โ€œKami tidak pernah mematok harga saat anak-anak diminta tampil di suatu acara. Paling hanya cukup untuk transportasi atau konsumsi aja kami sudah bersyukur. Yang jelas, anak-anak di sini kami beri pemahaman bahwa menari itu orientasinya bukan upah,โ€ kata Eta, tegas.

Untuk keperluan pakaian, tapel (topeng), dan sebagainya, menurut Suyasaโ€”dan itu diamini oleh Etaโ€”kelompok ini masih bergantung dari donasi yang diberikan oleh wisatawan yang berkunjung ke tempat latihan mereka dan hasil penjualan produk dari sampah plastik yang dikumpulkan anak-anak. Ya, di sela-sela mereka latihan menari, mereka juga diajari membuat sofa dari ecobrickโ€”sofa dari sampah plastik.

Seorang anak sedang memakai topeng Hanoman | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Eta dan Suyasa semakin bersemangat saat anak-anak ini mulai mendapat panggung di jagat kesenian Bali. Beberapa kali mereka sudah pentas di luar Tejakula. Dan tanggal 30 bulan ini, mereka akan pentas di lapangan Tejakula, di acara sosialisasi KPU.

Akhirnya, Pemerintah Buleleng harus segera memperhatikan orang-orang seperti Eta, yang dengan tulus, tanpa lelah, berusaha menjaga spirit dan pengetahuan Wayang Wong Tejakula tetap menyala.

โ€œSampai sekarang sudah ada 43 anak yang ikut berlatih. Ada yang sudah SMP, banyak juga yang masih SD,โ€ Eta memberi keterangan. Sampai sekarang, anak-anak Tejakula berlatih Tari Wayang Wong setiap satu minggu sekali, pada hari Minggu, saat anak-anak libur sekolah.[T]

Reporter/Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

Catatan: Artikel ini ditulis dan disiarkan atas kerjasama tatkala.co dan Dinas Komunikasi, Informatika, Persandian dan Statistik (Kominfosanti) Kabupaten Buleleng.

Pemuda-Pemuda Buleleng Ukir Prestasi di Beragam Bidang: Dari Seni, Olahraga Hingga Pertanian
Cak Kartolo, Legenda Hidup Ludruk Jawa Timur
Dua Jam Bersama Luh Menek
Nyoman Arya Suriawan, Generasi Penerus Gde Manik
Tags: Ketut Sweta Swatarawayang wongWayang Wong Anak-Anak TejakulaWayang Wong Tejakula
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dirah dan Pilkada dalam Mozaik Asik, ย Sebuah Pameran Kebebasan Seniman Muda Undiksha

Next Post

Sajak-Sajak Angga Wijaya | Meditasi Akhir Tahun

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

by Wayan Jengki Sunarta
October 9, 2026
0
Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

APA yang terjadi ketika tradisi dipakai sebagai ruang dialog dan ruang untuk bertanya secara kritis? Pertanyaan semacam itu terasa penting...

Read moreDetails

Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang

by Yohana Purnama Fajar
September 2, 2026
0
Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang

โ€œSaya adalah seorang anak yang tumbuh tanpa kasih sayang seorang ayah,โ€ kata Maria Margarheta Indrawati dengan wajah sendu ketika mengenang...

Read moreDetails

Rumah Kata di Jalan Nangka

by Angga Wijaya
July 9, 2026
0
Rumah Kata di Jalan Nangka

SIANG itu, rolling door Pustaka Bali Seni di Jalan Nangka No. 103,  Denpasar, Bali, terbuka lebar. Dari luar, tempat itu...

Read moreDetails

Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

by Jaswanto
June 24, 2026
0
Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang senimanโ€•atau sebut saja montirโ€•muda yang lihai dalam memodifikasi...

Read moreDetails

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
0
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

Read moreDetails

Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

by Dede Putra Wiguna
May 30, 2026
0
Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

TANGIS itu pecah di tengah tepuk tangan panjang audiens Ubud Food Festival 2026. Di perhelatan yang selama ini menjadi ruang...

Read moreDetails

Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

by I Gede Made Surya Darma
May 22, 2026
0
Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

Nama I Made Kaek bukanlah sosok asing dalam perkembangan seni rupa kontemporer Bali dan Indonesia. Perjalanannya sebagai seniman tumbuh dari...

Read moreDetails

Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajangย  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

by Nyoman Budarsana
May 20, 2026
0
Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajangย  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

CITRA  Sasmita, seniman perempuan asal Bali menjadi seniman Indonesia pertama yang  meraih penghargaan utama, Grand Prize Winner, pada ajang seni...

Read moreDetails

Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

by Dede Putra Wiguna
May 4, 2026
0
Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

DI antara deretan tapel ogoh-ogoh yang dipajang rapi di ruang lomba UPMI Bali, sosok Bagus Dedy Permata Putra (13) tampak...

Read moreDetails

Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

by Dede Putra Wiguna
April 27, 2026
0
Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

DI sela waktu istirahat Lomba Tari Bali di UPMI Bali, Sabtu (25/4), sosok Putu Dian Tristiana Dewi berdiri mendampingi anak...

Read moreDetails
Next Post
Sajak-Sajak Angga Wijaya | Meditasi Akhir Tahun

Sajak-Sajak Angga Wijaya | Meditasi Akhir Tahun

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Panduan Lumut — Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir
Buku Tatkala

Panduan Lumut — Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir

Judul: Panduan Lumut -- Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Putri Wijaya ISBN: Masih...

by Buku Tatkala
October 16, 2026
Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM
Esai

Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM

LIMA hari sudah antrean kendaraan untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) memenuhi SPBU di Pulau Bali. Antrean itu tidak hanya...

by I Wayan Artika
October 16, 2026
Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow
Esai

Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow

BAYANGKAN seorang tenaga medis yang baru saja menerima panggilan darurat. Seorang pasien membutuhkan pertolongan segera dan sudah terbaring di meja...

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 16, 2026
Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan
Esai

Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan

ADA kejanggalan ketika mendapatkan bensin harus dirayakan sebagai sebuah kemenangan. Warga rela mengantre berjam-jam, menanti hingga dini hari, bahkan mengorbankan...

by Dede Putra Wiguna
October 16, 2026
Dariย โ€œPanic Buyingโ€ย hinggaย โ€œMaborborโ€: Cerita Bahasa di Balik Antrean BBM Bali
Bahasa

Dariย โ€œPanic Buyingโ€ย hinggaย โ€œMaborborโ€: Cerita Bahasa di Balik Antrean BBM Bali

SECARA pribadi, saya sebisa mungkin menghindari antrean BBM di Bali saat ini. Saya pernah berada di posisi itu dahulu, dan...

by I Made Sudiana
October 16, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Selembar Kain di Antara Aku dan Dunia: Ritual Menutup Gorden Ketika Senja

Ada sebuah tindakan kecil yang hampir selalu kita lakukan tanpa pernah bertanya mengapa. Ketika sore mulai turun, cahaya matahari perlahan...

by Tri Nugroho Adi
October 16, 2026
Hukum Tanah Air Bali
Buku Tatkala

Hukum Tanah Air Bali

Judul: Hukum Tanah Air Bali Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: I Made Pria Dharsana ISBN: Masih dalam proses Tebal:...

by Buku Tatkala
October 15, 2026
Meninggal Seperti Pepes Ikan
Fiksi

Kemping yang Mencekam

LIBUR semester telah tiba. Mahasiswa dan anak sekolah dapat bersantai. Agung Santoso berencana memanfaatkan libur itu bersama keluarga. Ia ingin...

by Chusmeru
October 15, 2026
๐Œ๐„๐๐“๐„๐‘๐ˆ ๐‹๐”๐€๐‘ ๐๐„๐†๐„๐‘๐ˆ ๐ˆ๐๐ƒ๐ˆ๐€ ๐๐”๐Š๐€ ๐๐€๐Œ๐„๐‘๐€๐ ๐‹๐Ž๐๐“๐€๐‘ ๐๐€๐‹๐ˆ
Pameran

๐Œ๐„๐๐“๐„๐‘๐ˆ ๐‹๐”๐€๐‘ ๐๐„๐†๐„๐‘๐ˆ ๐ˆ๐๐ƒ๐ˆ๐€ ๐๐”๐Š๐€ ๐๐€๐Œ๐„๐‘๐€๐ ๐‹๐Ž๐๐“๐€๐‘ ๐๐€๐‹๐ˆ

Menteri Luar Negeri India, ๐ƒ๐ซ. ๐’. ๐‰๐š๐ข๐ฌ๐ก๐š๐ง๐ค๐š๐ซ, 12 Oktober 2026, membuka pameran ๐‘๐‘–๐‘Ÿฤ๐‘š๐‘Ž๐‘ฆฤ๐‘ก๐‘Ž: ๐ป๐‘’๐‘Ž๐‘™๐‘–๐‘›๐‘” ๐‘Ž๐‘›๐‘‘ ๐‘Š๐‘’๐‘™๐‘™๐‘๐‘’๐‘–๐‘›๐‘” ๐‘–๐‘› ๐‘†๐‘œ๐‘ข๐‘กโ„Ž ๐ด๐‘ ๐‘–๐‘Ž๐‘› ๐‘‡๐‘’๐‘ฅ๐‘ก๐‘ ...

by tatkala
October 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari
Ulas Buku

Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari

BUKU Rusdi Mathari berjudul Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya, genap berusia 10 tahuan. Buku Mojok, sebagai penerbit, merayakan ulang...

by Ahmad Hirzan Anwari
October 13, 2026
Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi
Esai

Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

Pagi ini, Selasa, 13 Oktober 2026, saya ikut mengantre bensin. Bukan di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), melainkan di...

by Angga Wijaya
October 13, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright ยฉ 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright ยฉ 2016-2025, tatkala.co