5 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tari Panji Masutasoma: Memaknai Kemerdekaan, Memerdekakan Makna-makna

Made Adnyana Ole by Made Adnyana Ole
September 12, 2022
in Ulas Pentas
Tari Panji Masutasoma: Memaknai Kemerdekaan, Memerdekakan Makna-makna

Tari Panji Masutasoma garapan Ida Ayu Wayan Satyani | Foto-foto: Dok. Dayu Ani

Lamat-lamat terdengar lantunan kakawin Sutasoma. Dan, hati penonton pun berdesir halus. Begitulah pementasan Tari Panji Masutasoma itu dibuka. Tembang mengalun, tarian mengalir, dan penonton pun menanti-nanti dalam suntuk tontonan.

Dua penari remaja; satu lelaki, satu perempuan, bergerak ke tengah panggung. Tubuh yang lelaki dibalut busana nasional dengan celana panjang dan kemeja serta peci menutup kepala. Sementara tubuh yang perempuan berhias pakaian tradisional dengan modifikasi menawan.

Yang lelaki adalah Wayan Amrita Dharma. Yang perempuan Kadek Thaly Kasih. Keduanya penari andal dari Yayasan Bumi Bajra Sandhi. Di atas panggung, meski sebagai penari yang andal, mereka ketiban peran sebagai pelantun tembang-tembang dari kakawin Sutasoma .

Dua penari melantunkan kakawin Sutasoma sebagai semacam doa sebelum pementasan Tari Panji Masutasoma

Dua penari itu semata-mata hanya pembuka pementasan. Bisa dikata lantunan kakawin itu sebagai doa, atau semacam pemahbah agar pementasan berjalan lancar dan mendapat restu dari Dewa Kesenian—selayaknya sebuah pementasan dimulai.

Namun pilihan untuk melantunkan kakawin Sutasoma, karya besar Mpu Tantular, yang di dalamnya berisi larik-larik mendalam tentang Bhineka Tunggal Ika, adalah pilihan yang sadar. Lantunan pembuka itu bukan sekadar doa, bukan sekadar pemahbah. Lantunan itu lebih sebagai sihir pembuka, agar penonton tetap jenak menyimak, tak jemu menunggu, dan siap diantar untuk masuk ke panggung tarian.

Tekanan suara dua remaja saat melantunkan kakawin itu begitu dalam penuh getar. Yang perempuan bernyanyi. Yang lelaki, dengan kata-kata Bahasa Indonesia, memberi arti atas kakawin itu. Ini adalah jalinan tembang dan kata-kata yang diracik dengan niat sadar untuk memberi makna lebih luas pada kemerdekaan, termasuk kemerdekaan dalam berkesenian.

Tari Panji Masutasoma digarap koreografer Ida Ayu Wayan Arya Satyani. Dan kita tahu, Dayu Ani—panggilan Ida Ayu Wayan Arya Satyani, adalah dosen di Fakultas Seni Pertunjukan Institut seni Indonesia (ISI) Denpasar, sekaligus juga pengelola lembaga seni Yayasan Bumi Bajra Sandhi.  

Tari Panji Masutasoma

Dalam diri Dayu Ani sendiri terdapat setidaknya dua “kepentingan” yang saling berkaitam sekaligus, jika salah kelola, bisa saling bertentangan, yakni “kepentingan akademis” dan “kepentingan untuk merdeka dari rumus-rumus berkesenian”.

Dalam garapan Tari Panji Masutasoma tampak betapa dua kepentingan itu memperlihatkan manfaatnya sebagai “guna” dan “taksu” yang mewujud dalam tahap demi tahap garapan, yang kemudian dipertunjukkan di hadapan kalangan umum, baik kalangan intelektual, kalangan seniman, maupun kalangan awam.  

Mamaknai Kemerdekaan

Tari Panji Masutasoma dipentaskan pertama kali di Pitaloka, Sanur, Bali, tepat pada peringatan Hari Kemerdekaan RI 17 Agustus 2022, Pitaloka adalah tempat makan di kawasan pariwisata Sanur yang selalu ramai dikunjungi tamu dari berbagai kalangan. Dan tamu yang datang pada malam itu tentu saja merasa istimewa karena mendapatkan suguhan karya seni yang juga istimewa.

Pada malam kemerdekaan itu. Tari Panji Masutasoma dipentaskan bersama dua karya lain, yakni Teater Pakeliran Tutur Candra Bherawa karya I Gusti Putu Sudarta, dan Tari Janger Nusantara Mahardika karya Ni Made Haryati. Karya itu adalah hasil Penelitian dan Penciptaan Seni (P2S) di ISI Denpasar.

Ketiga karya besar itu memang sengaja dipentaskan untuk memberi makna pada peringatan 77 tahun Indonesia Merdeka.  Tajuk acara itu sungguh mulia; “Bhinneka Tunggal Ika, Seni Menyatukan Kita”. Tentu saja acara itu sukses atas kerjasama dengan manajemen Pitaloka.

BACA JUGA:

  • Tutur Candra Bherawa [1]: Tutur yang Mengumandang Dalam Suasana Kemerdekaan
  • ”Ngerupa Guet Toya”, Menggambar Garis Air | Dari Pameran Seni Rupa Dosen ISI Denpasar

Sejumlah seniman dan penggiat seni khususnya seni pertunjukan hadir menyaksikan pertunjukan seni itu. Tampak misalnya pejabat LP2MPP ISI Denpasar, Koordinator Prodi dari Fakultas Seni Pertunjukan, para dosen, serta warga di sekitar Ptaloka, Sanur.

Garapan ini didukung Yayasan Bumi Bajra Sandhi, Manajemen Pitaloka Sanur Denpasar, Pengangge Art Tanjung Benoa, dan A’strobo’y LightArt. Tari ini didukung Komang Jana  Arta Suputra, Pande Komang Satria Wirapranata, I Putu Ryan Arya Saputra, I Putu Aditya Guna Eka Putra, I Putu Parama Kesawa, Pande Kevin Muliartha, Ida Bagus Putu Mahijasena, I Made Arma Wilingga Arsa, dan Ida Ayu Wayan Prihandari.

Memerdekakan Makna-makna

Dua penari remaja yang muncul pada awal pertunjukan Tari Panji Masutasoma itu sejatinya bukanlah bagian dari garapan tari itu sendiri. Namun dengan tembang dan kata-kata puitis mereka mengisahkan apa-apa yang muncul kemudian, apa-apa yang bergerak di atas panggung.

Mereka berdua seakan memberikan makna pada apa-apa yang bergerak di atas panggung, sekaligus membebaskan makna-makna yang barangkali sudah pernah “dikuasai”  dan kadang “sudah dibuat tunggal” dalam dunia kesenian, atau dalam dunia di luar kesenian, misalnya penguasaan makna oleh kelompok-kelompok tertentu di Negara yang telah merdeka ini.

Tari Panji Masutasoma

Tari itu dimulai dengan masuknya tujuh penari laki-laki dan perempuan ke atas panggung. Proses kreatif atas terciptakan garapan Tari Panji Masutasoma itu, sekaligus proses penciptaan makna-mana baru yang begitu beragam, dipertunjukkan kemudian oleh tujuh penari laki-laki dan perempuan itu.

Dengan tarian dan gerak, para penari itu menyampaikan pesan-pesan kebhinekaan. Para penari merealisasikan proses kreatif yang mencerminkan sikap ber-Bhinneka Tunggal Ika. Bhineka adalah keberagaman, tunggal adalah esa.

Yang punya makna tunggal hanya Tuhan. Makna dari benda-benda, makna dari simbol-simbol, makna dari keyakinan-keyakinan, betapa pun jumlahnya hanya satu di dunia, tapi ia bisa memancarkan makna yang berbeda-beda, dan semestinya memang dibebaskan dari makna tunggal.    

Mungkin di situ letak dari kekuatan garapan Tari Panji Masutasoma ini. Garapan ini adalah perpaduan dari berbagai bentuk kesenian yang beragam. Bentuk kesenian yang sebelumnya barangkali telah dikenal punya makna tunggal—misalnya makna yang merujuk pada sebuah keyakinan suatu kelompok tertentu—dan Dayu Ani mengamati makna itu dengan ketelitian yang tinggi sebagai seorang akademis sekaligus sebagai seorang koreografer.

Begitu makna disimpulkan, ia justru memerdekakan bentuk-bentuk kesenian itu dari simpulan makna yang cenderung tunggal. Dalam ruang makna yang bebas, terciptalah berbagai kemungkinan kreativitas, terciptalah toleransi dengan hubungan-hubungan padu antar gerak (atau antar kata). Hubungan itu bisa saling memasuki, bisa juga saling memisahkan. Di situlah keberagaman dirayakan dan persatuan diteguhkan.

Terdapat sejumlah perpaduan tari dalam Tari Masutasoma ini. Antara lian Panji Gambuh gaya Budakeling, Rudat, dan Burdah Saren Jawa, serta teks Sutasoma sebagai narasinya. Keterpaduan itu menghasilkan garapan baru, meski kita tak bisa menutup hati dari riwayat-riwayat makna sebelumnya.

Tari Panji Masutasoma

Segala proses menemukan hasilnya dengan baik. Ini tentu saja karena para penari betul-betul punya taksu, bukan hanya dalam hal menari dan bergerak, melainkan juga dalam hal memainkan suling gambuh, memainkan rebana burdah, melantukan Kakawin Sutasoma, menguasai teknik putaran pada tari Sufi, serta luwes mengikuti pengembangan gerak tari.

Di situ tugas penari bukan hanya menari, melainkan juga menyanyi, sekaligus memainkan musik. Adakah keberagaman yang lebih beragam dari proses itu? Adakah kesatuan yang lebih dalam dari proses semacam itu? Mungkin ada. Tapi Tari Masutasoma menunjukkan hal yang baik.

Apalagi tembang-tembang kuno yang dilantunkan di atas panggung itu terasa sekali kunonya, terasa sekali ketakterdugaannya sehingga membangkitkan rasa patriotisme. Para penari memiliki tubuh yang sangat lentur, sehingga kesan tradisional atau kedaerahan dilebur menjadi satu-kesatuan yang utuh. Gerak tarinya terkesan modern, tetapi nuansa gerak tari tradisional Bali masih kuat.

Tiga Babak

Tari Panji Masutasoma memusatkan perhatian pada karakterisasi figur Sutasoma dengan mengelaborasikan tiga elemen penciptaan, sehingga tercipta karakter baru. Struktur koreografinya dibagi dalam tiga babak.

Pertama, papeson, menggambarkan Sutasoma dalam suasana tenang (dalam Bahasa Bali disebut alep), agung, magis melalui gerak pepanjian, unsur musikal juga dominan suling Gambuh dan bait-bait kakawin Sutasoma. 

Babak kedua, pangawak, menggambarkan gejolak, kegelisahan, ketegangan. Koreografinya, diwarnai perpaduan gerak Panji dengan dasar gerak Tari Rudat (pencak silat), unsur musikal yang lebih dinamis dengan memasukkan instrumen Burdah.

Tari Panji Masutasoma

Babak ketiga, pakaad, diwarnai suasana hening, tentram, harmoni dengan memadukan kidung, kakawin, nyanyian-nyanyian rohani dari kesenian Rudat dan Burdah. Gerak-gerak yang dieksplor bersifat lebih tenang, statis, ringan. Sedang struktur dramatik karya disusun dalam format kerucut ganda, yakni terdapat beberapa kali tanjakan emosional menuju klimaks karya hingga penurunan atau penyelesaiannya.

Semua gerak para penari itu berhasil memberi bentuk imajinatif terhadap toleransi yang selama ini hanya latah sebagai kata-kata dan jargon belaka. Keberhasilan itu tentu saja, seperti kata Dayu Ani, karena mereka sebelumnya terlibat dan wajib mengikuti proses kreatif yang disebut mapaguruan, berguru kepada para ahlinya.

Salah satunya mapaguruan ke Desa Saren Jawa, Budakeling, Karangasem untuk belajar kesenian burdah yang merupakan salah satu sumber kreatif dari karya tersebut.

“Kami mengajak mahasiswa berguru langsung kepada saudara muslim di desa Saren Jawa, berinteraksi secara langsung, merasakan sambutan hangat, tata krama, dan tata Bahasa Bali halus antara warga Budakeling dengan warga Desa Saren Jawa,” kata Dayu Ani.

Tari Panji Masutasoma

Kata Dayu Ani, proses penciptaan tari ini merujuk pada metoda penciptaan angripta sasolahan: ngrencana (persiapan), nuasen (ritual awal), makalin (pemilihan, persiapan materi, dan improvisasi), nelesin (merapikan, menata secara utuh), dan ngebah (pementasan perdana).

Selain mapaguruan (berguru), para para penari juga dituntut memiliki kemampuan multitalenta (ngraweg): menari, bermusik, dan berolah vokal.

“Kami berharap karya ini dapat berkontribusi dalam upaya memupuk toleransi dan merawat kebhinekaan bangsa Indonesia,”  kata Dayu Ani.

Selamat, Dayu.[T]

Tags: Dayu AniISI Denpasarseni tari
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Proses Kreatif Angelina Ayuni Praise: Metode Atas-Bawah, Menyeimbangkan Ketubuhan yang Terbalut Kebudayaan

Next Post

Tubuh Antara: Tari Tradisi dalam Gerak Bathara Saverigadi

Made Adnyana Ole

Made Adnyana Ole

Suka menonton, suka menulis, suka ngobrol. Tinggal di Singaraja

Related Posts

Sinaps Ingatan dari Pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot

by Asmaran Dani
September 4, 2026
0
Sinaps Ingatan dari Pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot

Catatan pendek, sebagai pengantar diskusi menonton ulang dokumentasi pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot melalui Youtube, Sabtu 05 Septemper 2026 di...

Read moreDetails

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

by Yanik Parta
August 24, 2026
0
Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

SEBAGAI penari, aku bergerak dari kode satu ke kode gerak lainnya, sementara ayahku yang merupakan seorang pematung, bergerak dalam duduknya....

Read moreDetails

Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

by Dewa Made Ari Kurniawan
August 4, 2026
0
Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

Di Ambang Dualitas Eksistensial Dalam ruang pertunjukan yang temaram, pendar cahaya proyektor perlahan menghidupkan bidang panggung. Karya pertunjukan bertajuk DWI...

Read moreDetails

Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

by Dewa Purwita Sukahet
July 31, 2026
0
Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

MALAM itu, 20 Juli 2026, jam di ponsel menunjukan pukul 18:52 Wita, di depan gedung Ni Ketut Reneng, kampus Institut...

Read moreDetails

Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

by Anselmus Dore Woho Atasoge
July 31, 2026
0
Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

MALAM pembukaan Festival Bale Nagi 2026 di Taman Kota Felix Fernandez, Larantuka, Flores Timur, NTT, menyuguhkan sebuah pertunjukan yang memicu...

Read moreDetails

Fragmentari “Jro Luh” dan Sinkronisitas: Sebuah Pembacaan Estetika atas Pertemuan Dramaturgi dan Fenomena Alam

by I Gusti Made Darma Putra
July 28, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

PANGGUNG seni pertunjukan pada dasarnya merupakan ruang rekayasa artistik. Di dalamnya, setiap unsur dirancang dengan cermat, struktur dramatik disusun melalui...

Read moreDetails

Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

by I Wayan Sujana Suklu
July 25, 2026
0
Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

  Tubuh berjalan pelandi antara bukit, rumah, dan laut yang tidak selesai. Angin membawa nama-namayang pernah singgah di pelabuhan,lalu hilang...

Read moreDetails

Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

by Chandra Manikan
July 22, 2026
0
Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

Asap mengepul perlahan hingga menutupi sebagian panggung, sementara cahaya merah merambat dan menerangi Ocha Diartini yang saat itu berperan sebagai...

Read moreDetails

Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

by Satria Aditya
July 20, 2026
0
Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

PARADE Monolog dalam Festival Seni Bali Jani 2016 yang digelar pada 14 Juli  di Gedung Ksirarnawa, dibuka pukul 17.00 Wita,...

Read moreDetails

Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

by Putu Intan Juliantika
July 19, 2026
0
Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

 “Teng! Tong! Teng! Tong! Teng! Tung! Pagi tiba alarm berbunyi...” Itu adalah suara dering alarm saya pukul tiga pagi yang...

Read moreDetails
Next Post
Tubuh Antara: Tari Tradisi dalam Gerak Bathara Saverigadi

Tubuh Antara: Tari Tradisi dalam Gerak Bathara Saverigadi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co