19 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

”Ngerupa Guet Toya”, Menggambar Garis Air | Dari Pameran Seni Rupa Dosen ISI Denpasar

Made Adnyana Ole by Made Adnyana Ole
September 9, 2022
in Pameran
”Ngerupa Guet Toya”, Menggambar Garis Air | Dari Pameran Seni Rupa Dosen ISI Denpasar

Pameran "Ngerupa Guet Toya" di ARMA, Ubud, Bali

Di ruang pameran yang megah, di Agung Rai Museum of Art (ARMA) Ubud, Bali, terpajanglah 24 lukisan, 6 karya rupa dengan bahan kayu berupa panil, 3 set karya seni gerabah, dan 10 karya fotografi. Totalnya terdapat 43 karya seni, dan semuanya dipajang atau dipamerkan di ARMA Ubud sejak Selasa 6 September 2022.

Karya-karya itu lahir dari tangan para dosen seni rupa Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar dan merupakan hasil karya dari program Penelitian dan Penciptaan Seni (P2S) di kampus itu. Hampir semua karya punya upaya keras untuk memberi sekaligus menampilkan makna, filosofi, dan pesan indah dan pesan tak indah tentang air.

Untuk itulah pameran itu diberi tajuk ”Ngerupa Guet Toya”. Bisa diartikan secara mentah-mentah sebagai “Menggambar Garis Air”. Bisa juga diberi makna luas, selayaknya rangkaian kata-kata dalam puisi. Misalnya, diartikan sebagai “memberi wajah pada air yang sudah  hilang tanpa bentuk”.

BACA JUGA:

  • Seni Rupa Bali dan Persoalan Arsip
  • Pameran Seni Rupa “Megibung”: Kolaborasi dan Kesadaran Berbagi dalam Proses Berkarya

Secara luas, karya-karya para dosen ini menampilkan pesan dan ajakan untuk memahami lingkungan, membaca lingkungan, memanfaatkan lingkungan, merawat lingkungan. Alam adalah kesatuan organis yang tumbuh, berkembang dalam adabnya sendiri.

Karya-karya rupa itu berkisah tentang air. Air yang muncul dari mata air. Air yang mengalir, air yang penuh manfaat bagi semua mahluk, dan air yang harus dilestarikan dalam kehidupan sehari-hari, antara lain pelestarian melalui tradisi sakral dan kepercayaan-kepercayaan yang juga sakral.

Sapi, Petani-Nelayan dan Ikan-ikan

Bicara tentang air, tentu saja para dosen-perupa itu menggambarkan air beserta segala hubungannya dengan materi-materi alam, hewan, manusia, juga materi yang tak kasat mata.

Simak misalnya dalam satu bidang lukisan terdapat sosok nelayan dengan dungki (kantong wadah ikan dari anyaman bambu), sapi, dan kepala-kepala sapi yang seakan-akan tercebur dibawa sinar matahari dari langit.

Pameran “Ngerupa Guet Toya” di ARMA, Ubud, Bali

Karya lukisan itu tentu bisa membangkitkan romantisme Bali, di mana banyak hal sudah hilang, dan kita tetap mengenangnya hingga kini, meski hanya lewat lukisan, ukiran, dan patung. Justru dalam lukisan itu bentuk air bukanlah hal yang ditonjolkan, melainkan bagaimana sapi dan nelayan yang berjongkok di ssisinya membuat kita paham pada masa lalu yang secara perlahan bisa hilang.

Air pun demikian. Ia bisa hilang. Dan jika ia hilang, maka tak ada lagi kehidupan apa pun di dunia ini. Maka dalam pameran itu ada sebuah lukisan dengan obyek ikan dengan beragam rupa. Ikan bergerombol. Mereka meratap atau mati. Ikan yang sendiri. Ia mungkin saja lukisan dari manusia yang kesepian di tengah alam yang tak penuh lagi dalam memberi kehidupan. Kita telah merusaknya.

Pemahaman itu bersambung dengan perkataan Rektor ISI Denpasar Prof. Wayan Kun Adnyana saat memberi sambutan untuk pameran 43 dosen ISI itu. Air, kata dia, sebagai salah satu entitas utama yang terdapat di muka bumi memiliki sifat-sifat yang unik dan penuh filosofis.

“Air juga merupakan sumber kehidupan bagi makhluk hidup. Sumber-sumber  air pasti menjadi pusat perkembangan peradaban,” kata Kun Adnyana.

 Tema air, lanjut dia, yang diangkat dalam pameran ini sangat relevan dengan isu-isu global yang berkembang belakangan ini, khususnya tentang pemanasan global. Keberlangsungan (sustainability) dari air itu sendiri menentukan kualitas kehidupan yang ada di bumi nantinya.

“Artinya, sangat penting menyampaikan pesan-pesan kebudayaan tentang air kepada dunia,” kata Kun Adnyana.

Dibuka dengan Kegembiraan

Pameran ”Ngerupa Guet Toya” dibuka dengan penuh kegembiraan oleh Wakil Rektor Bidang Umum dan Keuangan Dr. I Ketut Muka. Tentu juga dihadiri oleh Agung Rai, pemilik ARMA.

Wakil Rektor Ketut Muka mengatakan, pameran ini sebagai pembuktian bahwa karya-karya seni penciptaan ISI Denpasar sudah masuk museum. Apalagi, kegiatan ini dimotifasi pemilik museum ARMA, sehingga para dosen bisa menyajikan karya seni, di samping sebagai bentuk menlaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi.

Pameran “Ngerupa Guet Toya” di ARMA, Ubud, Bali

Pameran para dosen ini diharapkan dapat menginspirasi para dosen lain, juga mahasiswa dalam berkarya. Kehadiran mahasiswa dalam kegiatan ini, akan dapat merangsang mereka untuk lebih kreatif baik dalam menggali ide dan menghasilakn karya seni. “Ini pameran hasil karya dari program P2S, semoga saja nantinya kouta dan volumenya ditambah,”  kata Muka.

BACA JUGA

  • “Bah Bangun: Diorama Seni Lukis Kamasan” dalam Pameran “Manifesto VIII: Transposisi” di Jakarta
  • “Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Suasana senang menyeruak pada acara pembukaan itu, termasuk Agung Rai, karena museum yang dikelolanya itu sudah memberi manfaat pada karya-karya dosen ISI yang dibuat dari hasil penelitian itu.

“Tugas museum adalah memfasilitasi dan mengangkat, sehingga bisa dipertanggung jawabkan baik secara nasional maupun internasional,” kata Agung Rai.

Agung Rai mengatakan, pameran ini bisa disebut sebagai sebuah terobosan baru, dimana seniman sudah melirik pentingnya museum sebagai ruang untuk mengapreasi karya seni. ARMA sudah menasional, bahkan lintas negara untuk menyaksikan karya-karya seni yang dipamerkan.

“Pameran ini akan memberikan suasana baru bagi publik, selain public juga menyaksikan pameran yang dilakukan secara tetap di ARMA,”kata Agung Rai.

Agung Rai dalam pameran “Ngerupa Guet Toya” di ARMA, Ubud, Bali

Koordinator Prodi Seni Murni ISI Denpasar Wayan Setem yang juga menjadi tim kurasi pameran mengatakan, pesan dari karya-karya yang dipamerkan kali ini, sebagai ajakan memahami lingkungan untuk ”dibaca” dan dimanfaatkan.

Alam, kata dia, adalah kesatuan organis yang tumbuh, berkembang dalam adabnya sendiri. Prilaku dan daya hidup dari sebuah ekosistim merupakan mutual yang saling memberi.

Esensi dari karya-karya yang ditampilkan ini adalah, Bali tidak hanya cukup dijaga dengan Om Shanti, Shanti, Shanti, melainkan harus lebih jauh dari itu, yakni kita bersama mencari tafsir baru mengenai kaitan Tri Hita Karana dengan menggali kearifan lokal yang sesuai konteks zaman.

“Semua harus menjaga Bali, tidak saja orang Bali, tetapi juga para pendatang,” kata Setem. [T][*]

Tags: ISI DenpasarPameran Seni RupaSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Gema Raga : Penghargaan Seniman Tua Badung, Penyajian Karya Seni, dan Diskusi Karya

Next Post

“Kadillak dhe Manaferra”, Potret Perlawanan Albania 1975 | Catatan Menonton Minikino Film Week 8

Made Adnyana Ole

Made Adnyana Ole

Suka menonton, suka menulis, suka ngobrol. Tinggal di Singaraja

Related Posts

BURU-JIWA-BUMI: Dialog Seni Bali dan Korea Selatan di ISI Bali

by Nyoman Budarsana
October 18, 2026
0
BURU-JIWA-BUMI: Dialog Seni Bali dan Korea Selatan di ISI Bali

Empat seniman dari Bali dan Korea Selatan menggelar pameran kolaboratif bertajuk BURU-JIWA-BUMI di Nata-Citta Art Space (N-CAS), Institut Seni Indonesia...

Read moreDetails

𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈

by tatkala
October 14, 2026
0
𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈

Menteri Luar Negeri India, 𝐃𝐫. 𝐒. 𝐉𝐚𝐢𝐬𝐡𝐚𝐧𝐤𝐚𝐫, 12 Oktober 2026, membuka pameran 𝑁𝑖𝑟ā𝑚𝑎𝑦ā𝑡𝑎: 𝐻𝑒𝑎𝑙𝑖𝑛𝑔 𝑎𝑛𝑑 𝑊𝑒𝑙𝑙𝑏𝑒𝑖𝑛𝑔 𝑖𝑛 𝑆𝑜𝑢𝑡ℎ 𝐴𝑠𝑖𝑎𝑛 𝑇𝑒𝑥𝑡𝑠...

Read moreDetails

“Garbha Wedana: A Story Before It Begins”, Menelusuri Ruang Penciptaan Sebelum Kelahiran

by Nyoman Budarsana
October 12, 2026
0
“Garbha Wedana: A Story Before It Begins”, Menelusuri Ruang Penciptaan Sebelum Kelahiran

"GARBHA Wedana: A Story Before It Begins" menjadi pameran perdana Dyurupa, komunitas seniman rupa berbasis di Bali. Pameran yang melibatkan...

Read moreDetails

Pameran “EVOLUSI” Kawan Nusantara 2026: Warisan Nusantara yang Menemukan Bentuk Baru

by Nyoman Budarsana
October 8, 2026
0
Pameran “EVOLUSI” Kawan Nusantara 2026: Warisan Nusantara yang Menemukan Bentuk Baru

KETIKA mengunjungi pameran ini, jangan kaget jika menemukan warisan budaya seperti tenun, batik, dan berbagai perhiasan yang beradaptasi dengan zaman,...

Read moreDetails

10 Perspektif tentang Bali dalam Pameran Seni di Sthala Ubud

by Nyoman Budarsana
October 7, 2026
0
10 Perspektif tentang Bali dalam Pameran Seni di Sthala Ubud

SUDAH mengunjungi pameran Ten Ubud Local Artists di Sthala Ubud Bali? Jumlah karya yang disajikan tidak terlalu banyak memang, namun...

Read moreDetails

Himpunan Perupa Payangan Perluas Eksplorasi Artistik, Gelar Pameram Bersama di Santrian Art Gallery, Sanur

by Nyoman Budarsana
September 20, 2026
0
Himpunan Perupa Payangan Perluas Eksplorasi Artistik, Gelar Pameram Bersama di Santrian Art Gallery, Sanur

Sore itu, suasana hotel sudah semakin gelap. Pameran bertajuk “Udhar Banda Karma: Unshackling the Karma of Tradition” belum juga dibuka....

Read moreDetails

“The Wings of the Sanghyang Dance” Kalahkan Ribuan Lukisan dari 85 Negara

by tatkala
September 17, 2026
0
“The Wings of the Sanghyang Dance” Kalahkan Ribuan Lukisan dari 85 Negara

JAKARTA | TATKALA.CO -- Lukisan berjudul The Wings of the Sanghyang Dance (2026) karya Putu Fajar Arcana, berhasil mengalahkan ribuan...

Read moreDetails

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
0
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

Read moreDetails

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
0
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

Read moreDetails

Reka Biambara dan Perjalanan Mengenal Kembali Material Sendiri

by Satria Aditya
August 30, 2026
0
Reka Biambara dan Perjalanan Mengenal Kembali Material Sendiri

SELAMA hampir tiga bulan, sejak awal Juni 2026, empat perupa muda asal Bali yaitu Made Ari, Made Arsana, Reka Biambara...

Read moreDetails
Next Post
“Kadillak dhe Manaferra”, Potret Perlawanan Albania 1975 | Catatan Menonton Minikino Film Week 8

“Kadillak dhe Manaferra”, Potret Perlawanan Albania 1975 | Catatan Menonton Minikino Film Week 8

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran
Bahasa

“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran

DUNIA kuliner di Bali saat ini sedang ramai-ramainya dengan berbagai pilihan olahan. Dari tradisi babi guling yang legendaris hingga tren...

by I Made Sudiana
October 19, 2026
Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional
Pendidikan

Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional

SINGARAJA | TATKALA.CO -- Kabar membanggakan datang dari dunia pendidikan teknologi di Kabupaten Buleleng. Langit Biru, siswa Timedoor Academy Singaraja,...

by Rusdy Ulu
October 19, 2026
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni
Esai

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU
Esai

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta
Ulas Rupa

Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta

DI Museum Bahari Jakarta, foto dan puisi mempertemukan kita dengan jejak sejarah Pulau Onrust, Cipir, dan Kelor. Melalui Pameran Foto...

by Emi Suy
October 19, 2026
Tak Sekadar Berlari, Mamaka Fun Run Vol. 3 Bawa Misi Edukasi Kesehatan Mental
Olahraga

Tak Sekadar Berlari, Mamaka Fun Run Vol. 3 Bawa Misi Edukasi Kesehatan Mental

KETIKA musik mulai diputar, tangan para peserta terangkat di atas kepala. Mereka bertepuk tangan mengikuti irama lagu “Gemu Fa Mi...

by Nyoman Budarsana
October 19, 2026
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata
Esai

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

by Angga Wijaya
October 19, 2026
Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra
Esai

Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

SEBUAH tulisan di ruang publik pada hakikatnya adalah undangan terbuka untuk berdiskusi. Melalui tanggapan kritis yang disampaikan oleh IGA Darma...

by I Made Sudiana
October 19, 2026
Begadang: Saat Malam Kehilangan Malamnya
Ulas Musik

Begadang: Saat Malam Kehilangan Malamnya

ADA masa ketika malam adalah malam. Setelah matahari tenggelam, kehidupan perlahan menurunkan volumenya. Warung mulai menutup pintu, pasar berhenti berisik,...

by Ahmad Sihabudin
October 19, 2026
Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media
Esai

Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

MALAM  itu saya menghubungi Aryantha Soethama melalui WhatsApp. Ia adalah penulis senior asal Bali yang mengawali kegiatan menulis sejak remaja,...

by Angga Wijaya
October 18, 2026
Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana
Esai

Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana

ARTIKEL I Made Sudiana, “Terminologi ‘Selam’ dan ‘Nyelam’ dalam Tradisi Bali” (NusaBali.com. 18/10/2029) mengangkat persoalan yang menarik: bagaimana kata-kata menyimpan...

by IGA Darma Putra
October 18, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co