29 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

”Ngerupa Guet Toya”, Menggambar Garis Air | Dari Pameran Seni Rupa Dosen ISI Denpasar

Made Adnyana Ole by Made Adnyana Ole
September 9, 2022
in Pameran
”Ngerupa Guet Toya”, Menggambar Garis Air | Dari Pameran Seni Rupa Dosen ISI Denpasar

Pameran "Ngerupa Guet Toya" di ARMA, Ubud, Bali

Di ruang pameran yang megah, di Agung Rai Museum of Art (ARMA) Ubud, Bali, terpajanglah 24 lukisan, 6 karya rupa dengan bahan kayu berupa panil, 3 set karya seni gerabah, dan 10 karya fotografi. Totalnya terdapat 43 karya seni, dan semuanya dipajang atau dipamerkan di ARMA Ubud sejak Selasa 6 September 2022.

Karya-karya itu lahir dari tangan para dosen seni rupa Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar dan merupakan hasil karya dari program Penelitian dan Penciptaan Seni (P2S) di kampus itu. Hampir semua karya punya upaya keras untuk memberi sekaligus menampilkan makna, filosofi, dan pesan indah dan pesan tak indah tentang air.

Untuk itulah pameran itu diberi tajuk ”Ngerupa Guet Toya”. Bisa diartikan secara mentah-mentah sebagai “Menggambar Garis Air”. Bisa juga diberi makna luas, selayaknya rangkaian kata-kata dalam puisi. Misalnya, diartikan sebagai “memberi wajah pada air yang sudah  hilang tanpa bentuk”.

BACA JUGA:

  • Seni Rupa Bali dan Persoalan Arsip
  • Pameran Seni Rupa “Megibung”: Kolaborasi dan Kesadaran Berbagi dalam Proses Berkarya

Secara luas, karya-karya para dosen ini menampilkan pesan dan ajakan untuk memahami lingkungan, membaca lingkungan, memanfaatkan lingkungan, merawat lingkungan. Alam adalah kesatuan organis yang tumbuh, berkembang dalam adabnya sendiri.

Karya-karya rupa itu berkisah tentang air. Air yang muncul dari mata air. Air yang mengalir, air yang penuh manfaat bagi semua mahluk, dan air yang harus dilestarikan dalam kehidupan sehari-hari, antara lain pelestarian melalui tradisi sakral dan kepercayaan-kepercayaan yang juga sakral.

Sapi, Petani-Nelayan dan Ikan-ikan

Bicara tentang air, tentu saja para dosen-perupa itu menggambarkan air beserta segala hubungannya dengan materi-materi alam, hewan, manusia, juga materi yang tak kasat mata.

Simak misalnya dalam satu bidang lukisan terdapat sosok nelayan dengan dungki (kantong wadah ikan dari anyaman bambu), sapi, dan kepala-kepala sapi yang seakan-akan tercebur dibawa sinar matahari dari langit.

Pameran “Ngerupa Guet Toya” di ARMA, Ubud, Bali

Karya lukisan itu tentu bisa membangkitkan romantisme Bali, di mana banyak hal sudah hilang, dan kita tetap mengenangnya hingga kini, meski hanya lewat lukisan, ukiran, dan patung. Justru dalam lukisan itu bentuk air bukanlah hal yang ditonjolkan, melainkan bagaimana sapi dan nelayan yang berjongkok di ssisinya membuat kita paham pada masa lalu yang secara perlahan bisa hilang.

Air pun demikian. Ia bisa hilang. Dan jika ia hilang, maka tak ada lagi kehidupan apa pun di dunia ini. Maka dalam pameran itu ada sebuah lukisan dengan obyek ikan dengan beragam rupa. Ikan bergerombol. Mereka meratap atau mati. Ikan yang sendiri. Ia mungkin saja lukisan dari manusia yang kesepian di tengah alam yang tak penuh lagi dalam memberi kehidupan. Kita telah merusaknya.

Pemahaman itu bersambung dengan perkataan Rektor ISI Denpasar Prof. Wayan Kun Adnyana saat memberi sambutan untuk pameran 43 dosen ISI itu. Air, kata dia, sebagai salah satu entitas utama yang terdapat di muka bumi memiliki sifat-sifat yang unik dan penuh filosofis.

“Air juga merupakan sumber kehidupan bagi makhluk hidup. Sumber-sumber  air pasti menjadi pusat perkembangan peradaban,” kata Kun Adnyana.

 Tema air, lanjut dia, yang diangkat dalam pameran ini sangat relevan dengan isu-isu global yang berkembang belakangan ini, khususnya tentang pemanasan global. Keberlangsungan (sustainability) dari air itu sendiri menentukan kualitas kehidupan yang ada di bumi nantinya.

“Artinya, sangat penting menyampaikan pesan-pesan kebudayaan tentang air kepada dunia,” kata Kun Adnyana.

Dibuka dengan Kegembiraan

Pameran ”Ngerupa Guet Toya” dibuka dengan penuh kegembiraan oleh Wakil Rektor Bidang Umum dan Keuangan Dr. I Ketut Muka. Tentu juga dihadiri oleh Agung Rai, pemilik ARMA.

Wakil Rektor Ketut Muka mengatakan, pameran ini sebagai pembuktian bahwa karya-karya seni penciptaan ISI Denpasar sudah masuk museum. Apalagi, kegiatan ini dimotifasi pemilik museum ARMA, sehingga para dosen bisa menyajikan karya seni, di samping sebagai bentuk menlaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi.

Pameran “Ngerupa Guet Toya” di ARMA, Ubud, Bali

Pameran para dosen ini diharapkan dapat menginspirasi para dosen lain, juga mahasiswa dalam berkarya. Kehadiran mahasiswa dalam kegiatan ini, akan dapat merangsang mereka untuk lebih kreatif baik dalam menggali ide dan menghasilakn karya seni. “Ini pameran hasil karya dari program P2S, semoga saja nantinya kouta dan volumenya ditambah,”  kata Muka.

BACA JUGA

  • “Bah Bangun: Diorama Seni Lukis Kamasan” dalam Pameran “Manifesto VIII: Transposisi” di Jakarta
  • “Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Suasana senang menyeruak pada acara pembukaan itu, termasuk Agung Rai, karena museum yang dikelolanya itu sudah memberi manfaat pada karya-karya dosen ISI yang dibuat dari hasil penelitian itu.

“Tugas museum adalah memfasilitasi dan mengangkat, sehingga bisa dipertanggung jawabkan baik secara nasional maupun internasional,” kata Agung Rai.

Agung Rai mengatakan, pameran ini bisa disebut sebagai sebuah terobosan baru, dimana seniman sudah melirik pentingnya museum sebagai ruang untuk mengapreasi karya seni. ARMA sudah menasional, bahkan lintas negara untuk menyaksikan karya-karya seni yang dipamerkan.

“Pameran ini akan memberikan suasana baru bagi publik, selain public juga menyaksikan pameran yang dilakukan secara tetap di ARMA,”kata Agung Rai.

Agung Rai dalam pameran “Ngerupa Guet Toya” di ARMA, Ubud, Bali

Koordinator Prodi Seni Murni ISI Denpasar Wayan Setem yang juga menjadi tim kurasi pameran mengatakan, pesan dari karya-karya yang dipamerkan kali ini, sebagai ajakan memahami lingkungan untuk ”dibaca” dan dimanfaatkan.

Alam, kata dia, adalah kesatuan organis yang tumbuh, berkembang dalam adabnya sendiri. Prilaku dan daya hidup dari sebuah ekosistim merupakan mutual yang saling memberi.

Esensi dari karya-karya yang ditampilkan ini adalah, Bali tidak hanya cukup dijaga dengan Om Shanti, Shanti, Shanti, melainkan harus lebih jauh dari itu, yakni kita bersama mencari tafsir baru mengenai kaitan Tri Hita Karana dengan menggali kearifan lokal yang sesuai konteks zaman.

“Semua harus menjaga Bali, tidak saja orang Bali, tetapi juga para pendatang,” kata Setem. [T][*]

Tags: ISI DenpasarPameran Seni RupaSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Gema Raga : Penghargaan Seniman Tua Badung, Penyajian Karya Seni, dan Diskusi Karya

Next Post

“Kadillak dhe Manaferra”, Potret Perlawanan Albania 1975 | Catatan Menonton Minikino Film Week 8

Made Adnyana Ole

Made Adnyana Ole

Suka menonton, suka menulis, suka ngobrol. Tinggal di Singaraja

Related Posts

Himpunan Perupa Payangan Perluas Eksplorasi Artistik, Gelar Pameram Bersama di Santrian Art Gallery, Sanur

by Nyoman Budarsana
September 20, 2026
0
Himpunan Perupa Payangan Perluas Eksplorasi Artistik, Gelar Pameram Bersama di Santrian Art Gallery, Sanur

Sore itu, suasana hotel sudah semakin gelap. Pameran bertajuk “Udhar Banda Karma: Unshackling the Karma of Tradition” belum juga dibuka....

Read moreDetails

“The Wings of the Sanghyang Dance” Kalahkan Ribuan Lukisan dari 85 Negara

by tatkala
September 17, 2026
0
“The Wings of the Sanghyang Dance” Kalahkan Ribuan Lukisan dari 85 Negara

JAKARTA | TATKALA.CO -- Lukisan berjudul The Wings of the Sanghyang Dance (2026) karya Putu Fajar Arcana, berhasil mengalahkan ribuan...

Read moreDetails

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
0
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

Read moreDetails

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
0
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

Read moreDetails

Reka Biambara dan Perjalanan Mengenal Kembali Material Sendiri

by Satria Aditya
August 30, 2026
0
Reka Biambara dan Perjalanan Mengenal Kembali Material Sendiri

SELAMA hampir tiga bulan, sejak awal Juni 2026, empat perupa muda asal Bali yaitu Made Ari, Made Arsana, Reka Biambara...

Read moreDetails

Pameran “Impulse”, Tiga Denyut Abstraksi dari Sukawati

by Nyoman Budarsana
August 17, 2026
0
Pameran “Impulse”, Tiga Denyut Abstraksi dari Sukawati

TIGA perupa asal Sukawati, I Made Mahendra Mangku, I Wayan Arnata, dan Made Galung Wiratmaja, mempertemukan karya mereka dalam pameran...

Read moreDetails

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

by Nyoman Budarsana
August 5, 2026
0
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

Read moreDetails

27 Pelukis Indonesia Pameran di Jerman ——Niluh Swati Buka Jalan “Go Internasional”

by Nyoman Budarsana
July 29, 2026
0
27 Pelukis Indonesia Pameran di Jerman ——Niluh Swati Buka Jalan “Go Internasional”

JAKARTA | TATKALA.CO -- Niluh Swati Indonesian Art Program (NSIAP) akan memamerkan karya 27 pelukis Indonesia dalam ajang ARTe Kunstmesse...

Read moreDetails

Kesetiaan Itu Mahal ——Ketika Gotawa Menafsirkan “Satya” Lewat Pameran Tunggal di Toke, Toko Kopi & Seni

by Dede Putra Wiguna
July 24, 2026
0
Kesetiaan Itu Mahal ——Ketika Gotawa Menafsirkan “Satya” Lewat Pameran Tunggal di Toke, Toko Kopi & Seni

DI tengah denting musik elektronik yang berpadu dengan aroma dupa dan canang, Gotawa berdiri di depan kanvas. Tangannya bergerak, menumpahkan...

Read moreDetails

Agung Pramana Hadirkan “After Exotic 1931” di ARTJOG 2026 —Menelisik Jejak Kolonial di Balik Eksotisme Bali

by Dede Putra Wiguna
July 19, 2026
0
Agung Pramana Hadirkan “After Exotic 1931” di ARTJOG 2026 —Menelisik Jejak Kolonial di Balik Eksotisme Bali

BALI selama bertahun-tahun dikenal dunia sebagai pulau yang eksotis. Namun, di balik citra itu, tersimpan sejarah panjang tentang bagaimana representasi...

Read moreDetails
Next Post
“Kadillak dhe Manaferra”, Potret Perlawanan Albania 1975 | Catatan Menonton Minikino Film Week 8

“Kadillak dhe Manaferra”, Potret Perlawanan Albania 1975 | Catatan Menonton Minikino Film Week 8

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi
Ulas Buku

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

LASMI, perempuan muda yang cukup populer di kampungnya. Penampilannya sederhana, ia tidak mengenakan aksesoris apapun, kecuali jam tangan dengan tali...

by Abdul Karim Abraham
September 29, 2026
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?
Esai

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra
Esai

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

by Emi Suy
September 29, 2026
Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival
Tualang

Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

SAYA datang ke Toyooka dengan niat yang sederhana: mengikuti Intersecting Peripheries dan melihat bagaimana sebuah festival teater bekerja di sebuah...

by I Putu Ardiyasa
September 29, 2026
Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938
Kuliner

Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938

CUKUP dengan uang tiga ribu rupiah saja, segelas penuh minuman es santan yang creamy dan menyegarkan sudah bisa mengalir di...

by Wahyu Mahaputra
September 28, 2026
Jalan Sore di Lintas Royal Baroe
Tualang

Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

SUDAH cukup lama sebenarnya kami ingin berjalan-jalan di kawasan Royal Baroe, Kota Serang, Provinsi Banten. Bukan untuk mencari sesuatu yang...

by Ahmad Sihabudin
September 28, 2026
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya
Esai

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang
Khas

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta
Cerpen

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa
Puisi

Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

Pagi September 1965 di Suatu Desa Suara derit terdengar dari pintu rumah kakek di suatu desa yang sejukAnak-anak mengajak bermain...

by Chusmeru
September 27, 2026
Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival
Panggung

Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

SENJA masih menyisakan cahayanya. Anak-anak penuh canda dan tawa duduk melingkar di bibir panggung yang telah dihias. Dengan santai, mereka...

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda
Esai

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

by Angga Wijaya
September 27, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co