24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tutur Candra Bherawa [1]: Tutur yang Mengumandang Dalam Suasana Kemerdekaan

I Gusti Made Darma Putra by I Gusti Made Darma Putra
September 7, 2022
in Ulas Pentas
Tutur Candra Bherawa [1]: Tutur yang Mengumandang Dalam Suasana Kemerdekaan

Salah satu adegan dalam pagelaran teater pakeliranTutur Candra Bherawa

Peringatan Hari Kemerdekaan tahun ini, tepatnya Rabu, 17  Agustus 2022, di Pitaloka, Sanur, Bali,  tersaji karya-karya penciptaan dari para Dosen Institut Seni Indonesia Denpasar yang terbungkus dalam acara pagelaran seni bertemakan Bhineka Tunggal Ika “Seni Menyatukan Kita”. Tulisan ini mengingat kembali peringatan yang penuh makna itu.

Selain memperingati Hari Kemerdekaan, acara ini juga serangkaian Desiminasi karya seni dalam program penciptaan dan penelitian seni (P2S) ISI Denpasar. Dalam event seni ini tampil mutiara-mutiara nan berharga dari seniman-seniwati Bali yang masing-masing menampilkan sajian karya yang menawan.

Sajian mereka adalah  Panji Masutasoma karya Ida Ayu Wayan Arya Satyani, S.Sn., M.Sn., Teater Pakeliran Tutur Candra Bherawa karya Dr. I Gusti Putu Sudarta, S.SP., M.Sn.,  dan Tari Janger Nusantara Mahardika karya Ni Made Haryati, S.Sn., M.Sn. Ketiga karya ini dikomposisikan dan disajikan dengan sangat luar biasa, salah satu yang menarik perhatian penulis adalah karya Dr. I Gusti Putu Sudarta, S.Sn., M.Sn yang menyinggung tentang keharmonisan dalam perbedaan dan kemerdekaan dalam perjalanan jiwa yang terbalut dalam sajian karya berkonsep Teater Pakeliran.

Tidak ada maksud penulis untuk tidak membahas dua dari tiga karya dalam event ini namun dalam tulisan kali ini penulis akan fokus membedah karya yang penuh pesan dan nilai-nilai toleransi yaitu Teater PakeliranTutur Candra Bherawa karya Dr. I Gusti Putu Sudarta, S.Sn., M.Sn. Mudah-mudahan penulis diberikan kesehatan dan kebahagiaan sehingga kedepan akan membahas dua karya lainnya.

Dalam bagian ini, penulis akan menjabarkan ketertarikan pengkarya yaitu pak Gusti Sudarta (sapaan penulis kepada pengkarya) terhadap konten yang dibawakan sebagai wahana karya Teater Pakelirantutur Candra Bherawa.

Ketika mendengar nama Gusti Sudarta maka pikiran penulis langsung tergiring ke arah karya yang menyajikan “isi dalam kesunyian”. Pandangan penulis terhadap karya-karya yang diciptakan oleh Gusti Sudarta terutama karya ini memang disajikan sangat mengedepankan kesederhanaan mulai dari visual sajian dan musik yang dikomposisikan, walaupun sebagai penunjang dramatik pengkarya menghadirkan beberapa aksentuasi terksenan rame namun secara umum karya ini sangat sederhana. Banyak bagian-bagian yang di tata dengan nada kesunyian (tanpa bunyi) namun kesunyian tersebut dijajali dengan narasi penuh intrik dari imajinasi sang pengkawi (gusti sudarta) sehingga kosong tersebut penuh dengan intrik berselimut narasi.

Kembali ke karya ini yang berjudul Teater PakeliranTutur Candra Bherawa, secara garis besarnya menjadikan karya sastra sebagai wahana dalam sajian. Para leluhur Bali telah memberikan gambaran kehidupan untuk dipahami melalui pesan-pesan maupun tutur-tutur yang mampu membangun jati diri dan spiritualitas (pembentukan jiwa) manusia.Melalui karya-karya seni khususnya karya sastra yang tidak hanya berfungsi sebagai transformator dalam struktur ideologis, tetapi juga bermanfaat untuk mengorganisasikan berbagai kecenderungan sosial, sebagai representasi dominan emosional dan intelektualitas pada masa-masa tertentu (Ratna, 2003: 269).

Karya sastra memiliki berbagai fungsi, dan salah satunya fungsi  sosial. Pada mulanya sastra diciptakan oleh seseorang (pribadi), dan kelak berfungsi bagi kehidupan sosial manusia (Artika, 2016:1). Jika kita gali karya sastra tersebut maka akan menemukan nilai-niai, pesan-pesan  yang tertata dalam kalimat-kalimat sederhana, namun memiliki makna mampu menjadi pedoman bagi kehidupan. Kearifan lokal mengandung penuntun hidup dan kehidupan banyak terdapat pada karya-karya sastra tradisional Bali.

Gusti Sudarta sebagai pengkarya sangat tertarik dengan Kakawin Candra Bherawa yang dikarang oleh pujangga dan sastrawan Bali yaitu Ida Pedanda Made Sidemen (almarhum) dari Geria Delod Peken Intaran Sanur Denpasar. Nilai-nilai yang terdapat dalamTutur Candra Bherawa bersifat universal sehingga sangat berguna bagi manusia modern saat ini yaitu tentang kebijaksanaan dan spiritual. Lebih jauh gusti sudarta menuturkan bahwa Nilai kebijaksanaan dalam kakawin ini merupakan esensi dari agama yaitu spiritual.

Tokoh yang menjadi pelaku pokok dalam kakawin ini merupakan pengejawantahan sifat luhur kemanusiaan, seperti nama tokoh Candra Bherawa yang berarti budhi yang telah tercerahkan atau telah berada dan mengalami puncak kesadaran. Nilai filosofis dan spiritual yang dimuat dalam kakawin Candra Bherawa ini merupakan esensi universal tentang kemanusiaan dan spiritual. Manusia sebagai mahluk ciptaan Tuhan yang seharusnya bebas berekspresi sebagai individu dalam menjalankan ritual dan hayatan keagamaan tidak dikekang atau disekat oleh batasan-batasan konsep dan ideologi ciptaan manusia.

Gusti Sudarta juga menambahkan bahwa Selain naskah Kakawin Candra Bherawa karangan Ida Pedanda Made Sidemen pengkarya juga juga mempergunakan beberapa naskah Kakawin Candra Bherawa versi lain seperti Kakawin Candra Bherawa yang dikarang oleh I Wayan Pamit, koleksi Disbud Prov. Bali, Kakawin Candra Bherawa Griya Kecicang Karangasem, dan Kakawin Candra Bherawa Griya Sidemen Karangasem yang tersimpan di Gedung Kertya Singaraja.

Petikan bait-bait kakawin Gunung Kawi dan geguritan Yadnyeng Ukir karya Ida Pedanda Ngurah yang merupakan pengarang besar Bali abad ke-19 juga dihadirkan untuk memperkuat narasi penceritaan dan dialog. Geguritan Sucita-Subudi karya Ida Ketut Jelantik yang memuat ajaran yoga dan samkya juga dipilih bait-bait tembangnya untuk dipakai dalam garapan chorus vocal chant.

              Sosok Gusti Putu Sudarta

Dalam pertemuan penulis dengan Gusti Sudarta bahwa ketertarikan beliau terhadap Kakawin Candra Bherawa karena terbangunnya gaya bahasa sangat indah dan memakai kaidah-kaidah alamkara. Istilah alamkara sering digunakan Gusti Sudarta sebagai sebuah istilah untuk mengekspresikan buah pikiran melalui bahasa (musical) secara khas. Setiap untaian kata-kata yang terkandung dalam Kakawin Candra Bherawa diformulasikan dan dibawakan menggunakan penggayaan matutur tembang dengan lebih banyak mengeksplorasi nada-nada berbau spiritual salah satunya nada slendroyang merupakan sistem urutan nada terdiri dari lima nada dan selisih setiap jarak nada hampir sama dalam satu oktaf.

Pemilihan tembang dengan nada slendro pada karya ini berkaitan dengan keberadaan instrumen musik tradisional gender wayang yang menggunakan nada slendro. Secara tidak langsung penggunaan nada slendro memberi kesan ‘ngewayang’ dalam teater ini. Selain itu, Gusti Sudarta dalam Disertasinya juga menyebutkan bahwa nada slendro memiliki kemiripan dengan Raga Bhupali dalam musik India yaitu susunan nadanya mampu memberikan getaran santa rasa atau kedamaian.

Sebagai sajian karya seni dalam suasana kemerdekaan, karya teater pakeliran yang mengangkat karya sastraTutur Candra Bherawa sangat tepat sebagai cerminan tentang merdeka manusia dalam memilih dan mengekspresikan jiwa tanpa ada kekangan dan tekanan namun tetap dalam batasan yang semestinya.

Dalam tulisan berikutnya penulis akan membahas elemen pembentuk karya ini…. [T]

Tags: Seniseni pertunjukanseni tari
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mahasiswi Undiksha Ajak Disabilitas Lantunkan Gamelan Mulut dan Menari Pendet

Next Post

Festival Seni Bali Jani 2022 Mengindonesia | Digelar 9-23 Oktober

I Gusti Made Darma Putra

I Gusti Made Darma Putra

Seniman pedalangan, kreator wayang Bali

Related Posts

Sinaps Ingatan dari Pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot

by Asmaran Dani
September 4, 2026
0
Sinaps Ingatan dari Pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot

Catatan pendek, sebagai pengantar diskusi menonton ulang dokumentasi pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot melalui Youtube, Sabtu 05 Septemper 2026 di...

Read moreDetails

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

by Yanik Parta
August 24, 2026
0
Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

SEBAGAI penari, aku bergerak dari kode satu ke kode gerak lainnya, sementara ayahku yang merupakan seorang pematung, bergerak dalam duduknya....

Read moreDetails

Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

by Dewa Made Ari Kurniawan
August 4, 2026
0
Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

Di Ambang Dualitas Eksistensial Dalam ruang pertunjukan yang temaram, pendar cahaya proyektor perlahan menghidupkan bidang panggung. Karya pertunjukan bertajuk DWI...

Read moreDetails

Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

by Dewa Purwita Sukahet
July 31, 2026
0
Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

MALAM itu, 20 Juli 2026, jam di ponsel menunjukan pukul 18:52 Wita, di depan gedung Ni Ketut Reneng, kampus Institut...

Read moreDetails

Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

by Anselmus Dore Woho Atasoge
July 31, 2026
0
Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

MALAM pembukaan Festival Bale Nagi 2026 di Taman Kota Felix Fernandez, Larantuka, Flores Timur, NTT, menyuguhkan sebuah pertunjukan yang memicu...

Read moreDetails

Fragmentari “Jro Luh” dan Sinkronisitas: Sebuah Pembacaan Estetika atas Pertemuan Dramaturgi dan Fenomena Alam

by I Gusti Made Darma Putra
July 28, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

PANGGUNG seni pertunjukan pada dasarnya merupakan ruang rekayasa artistik. Di dalamnya, setiap unsur dirancang dengan cermat, struktur dramatik disusun melalui...

Read moreDetails

Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

by I Wayan Sujana Suklu
July 25, 2026
0
Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

  Tubuh berjalan pelandi antara bukit, rumah, dan laut yang tidak selesai. Angin membawa nama-namayang pernah singgah di pelabuhan,lalu hilang...

Read moreDetails

Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

by Chandra Manikan
July 22, 2026
0
Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

Asap mengepul perlahan hingga menutupi sebagian panggung, sementara cahaya merah merambat dan menerangi Ocha Diartini yang saat itu berperan sebagai...

Read moreDetails

Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

by Satria Aditya
July 20, 2026
0
Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

PARADE Monolog dalam Festival Seni Bali Jani 2016 yang digelar pada 14 Juli  di Gedung Ksirarnawa, dibuka pukul 17.00 Wita,...

Read moreDetails

Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

by Putu Intan Juliantika
July 19, 2026
0
Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

 “Teng! Tong! Teng! Tong! Teng! Tung! Pagi tiba alarm berbunyi...” Itu adalah suara dering alarm saya pukul tiga pagi yang...

Read moreDetails
Next Post
Festival Seni Bali Jani 2022 Mengindonesia | Digelar  9-23 Oktober

Festival Seni Bali Jani 2022 Mengindonesia | Digelar 9-23 Oktober

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co