21 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Proses Kreatif Angelina Ayuni Praise: Metode Atas-Bawah, Menyeimbangkan Ketubuhan yang Terbalut Kebudayaan

Dian Ayu Lestari by Dian Ayu Lestari
September 10, 2022
in Persona
Proses Kreatif Angelina Ayuni Praise: Metode Atas-Bawah, Menyeimbangkan Ketubuhan yang Terbalut Kebudayaan

“Bayangkan bahwa bagian tubuh dari pinggang hingga ke bawah kita lumpuh, tidak bisa bergerak sama sekali. Lalu kembalilah bergerak dengan hanya memfokuskan bagian atas tubuh masing-masing”

Angelina Ayuni Praise dalam sesi Sharing Method di Pura Gunung Kawi

Kira-kira begitulah bunyi instruksi Angelina Ayuni Praise (Yuni), pada sharing method yang diberikannya pada Rabu, 20 Juli 2022 di Hotel Amatara Agung Raka, Ubud, Bali, dalam kegiatanTemu Seni Tari, Indonesia Bertutur 2022 yang diadakan oleh Kemendikbud.

Saya menyimak dan memperhatikan dengan cukup serius kegiatan sharing method darimasing-masing peserta dari awal hingga akhir. Yah, ini kesempatan bagi saya, mencuri-curi ilmu yang mungkin bisa saya terapkan pada latihan-latihan teater yang masih saya tekuni.

Angelina Ayuni Praise dalam sesi Sharing Method di Amatara Agung Raka, Ubud

Tiga peserta yang ditunjuk oleh Yuni yakni, Gede Agus Krisna Dwipayana (Bali), Ayu Permata Sari (Lampung), dan Yezyurini Forinti (Maluku). Pada awalnya, peserta yang ditunjuk menarikan tarian tradisi khas dari masing-masing daerah. Semuanya menari dengan lincah, menggerakan seluruh bagian tubuh atas dan bawah. Hingga pada akhirnya,

Yuni memberikan instruksi untuk mematikan total bagian bawah tubuh (dari pinggang hingga telapak kaki), dan meminta mereka tetap melanjutkan tariannya dengan hanya mengaktifkan bagian atas tubuhnya. Ketiga penari seketika mengikuti arahan, bersimpuh pada lantai, seolah-olah kaki mereka memang tidak bisa difungsikan seperti biasanya.

I Komang Adi Pranata (kiri) dan Angelina Ayuni Praise (kanan) dalam sesi Sharing Method di Amatara Agung Raka, Ubud

Saya semakin fokus, kemudian menangkap kesamaan tentang bagaimana liukkan tangan, pinggang, leher, dan kepala yang ternyata terlihat semakin kuat. Apakah mungkin karena yang terfokus untuk dilihat adalah bagian atas saja sehingga para penari berusaha memperlihatkan itu dengan semakin jelas? Atau malah dikarenakan bagian bawah yang tidak difungsikan sebagaimana mestinya, membuat bagian atas tubuh semakin bekerja ekstra, dan membuat pergerakkannya menjadi semakin tegas?

Alis saya mengkerut menerka jawaban.

Malam hari, setelah selesai semua kegiatan yang cukup padat, saya meminta waktu Yuni untuk ngobrol tentang proses kreatifnya hingga menjadi salah satu koreografer. Melalui kecintaanya pada seni tari, dan adanya kesadaran tentang belum adanya salah seorang pun yang berani ataupun berniat melanjutkan pendidikan pada ranah kesenian—khususnya seni tari—di daerahnya, membuat ia merasa tertantang untuk merantau, mencari ilmu, dan pengalaman di luar daerah asalnya. Ia memilih Institute Kesenian Jakarta.

Terlahir di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur, membuatnya terbiasa dengan budaya tari timur: memiliki kecenderungan gerak yang lebih menonjolkan kelincahan tubuh bagian bawah. Budaya tari timur yang identik dengan konsep tari pesta, menurutnya justru tidak memiliki pakem-pakem khusus untuk melatih tubuh bagian atas. Sayangnya, tidak ada rekan yang bisa diajaknya berdiskusi tentang ketubuhan dan konsep yang ia amati. Pada akhirnya, ia membawa memori ketubuhan yang masih sebatas gerak tari tradisional.

Angelina Ayuni Praise (tengah) dan tiga peserta lainnya dalam persiapan presentasi pertunjukan di Mandala Wisata, Desa Bedulu

Keadaan itu menyulut rasa tidak percaya dirinya ketika diharuskan bersanding bersama mahasiswa lainnya selama menempuh pendidikan. Ia menyadari bahwa kosa bentuk yang dimiliki tubuhnya tidak seberagam teman-temannya. Walau demikian, di dalam proses belajarnya, ia menemukan metode gerak atas-bawah yang membantunya untuk mengakali bagaimana ketubuhannya yang masih bergerak tak terlepas dari budayanya selama ini.

Ya, metode atas-bawah: tentang bagaimana kesadaran gerak tidak hanya pada bagian bawah tubuh saja, namun secara bergantian juga harus difokuskan untuk bisa menyeimbangkan keseluruhan tubuh.

Angelina Ayuni Praise dalam persiapan presentasi pertunjukan di Mandala Wisata, Desa Bedulu

Kebiasaan yang selama ini ada, ternyata juga dirasa mempengaruhi proses penghapalan gerak. Keterbiasaan akan bagian bawah tubuh yang bergerak dominan, membuatnya semakin mudah menghapal gerakan-gerakan yang melibatkan kaki. Berbanding terbailiklah dengan kemampuan dalam menghapal gerak bagian atas tubuhnya.

Ia merasa bahwa ternyata, kurangnya pengalaman gerak yang melibatkan bagian tubuh dari pinggang hingga bagian atas selama ini, membuat ia lebih susah untuk mengingat gerakan yang diberikan. Hingga pada akhirnya, ia merasa bahwa metode atas-bawah ini juga bisa menjadi jembatan untuk kembali menyetarakan kemampuan otaknya dalam mengingat gerak-gerakan kompleks.

Dalam kesempatan ngobrol bersama dengan Angelina Ayuni Praise, saya tak ingin melewatkan kesempatan untuk menanyakan tentang isu yang ia tekuni. Mata Yuni saat itu sedikit memicing—mengingat garapan karya yang telah diproduksinya—selanjutnya terjadilah obrolan yang semakin menarik untuk saya simak makin jauh.

Jujur, Saya sebelumnya tidak terlalu mengenal tentang Suku Manggarai. Tapi melalui obrolan itu, saya menjadi tahu bahwa ternyata, adat di daerah asal Yuni sangatlah kental. Upacara Wuat Wa’i adalah salah satu upacara yang diambil sebagai contoh gambaran oleh Yuni. Upacara ini merupakan upacara yang dilaksanakan untuk memberikan doa kepada sanak-keluarga (masyarakat setempat) yang akan merantau ke luar daerah, baik melanjutkan pendidikan atau bekerja.

Angelina Ayuni Praise dalam sesi presentasi pertunjukan di Mandala Wisata, Desa Bedulu

Doa semacam permohonan kelancaran dan kesuksesan bagi siapa saja yang akan merantau. Dari tradisi itulah pada akhirnya menginspirasi Yuni untuk menciptakan karya yang ingin mengatakan bahwa bagaimana tradisi tersebut juga bisa gagal. Yang saya pahami, ia memiliki ketertarikan untuk mengambil ide-ide konsep yang bersinggungan dengan adat dan tradisi yang selama ini hidup berdampingan dengan dirinya. Segala sesuatunya:  baik-buruk, berhasil-tidak berhasil, kembali pada diri masing-masing.

Yuni yang saat ini tengah sibuk mengelola sanggar, juga sebagai pengajar mata pelajaran tari di SMK N 3 Komodo, pada akhirnya tidak bisa lagi melanjutkan untuk mengeksekusi ide-ide semacam itu selepas menyelesaikan pendidikannya di IKJ.  Hal ini dikarenakan aturan-aturan yang begitu mengikat di daerahnya.

Contoh kecilnya, bagaimana ia terinspirasi melalui gerakan tari Caci atas salah satu karyanya, tapi ia tak berani menyuarakan narasi di balik garapan karena adanya ketakutan menyinggung masyarakat yang memaknai tari Caci sebagai sebuah tari tradisi yang memiliki nilai spiritual tinggi. Selain itu, orang tuanya khawatir, dan berharap Yuni tidak ditimpa masalah ataupun nasib buruk karena kegilaan ide.

Atas semua itu, Yuni memilih kembali berkarya dengan tetap menghargai dan tidak menentang lagi tradisi yang ada di daerahnya. Ia lebih berfokus untuk membuka mata anak-anak muda di daerahnya untuk berani ke luar daerah mencari pengalaman, sekaligus sebagai pengembangan potensi diri yang dimiliki.

Tiba-tiba saya teringat instruksi Yuni pada sesi Sharing Method: “Bayangkan bahwa bagian tubuh dari pinggang hingga ke bawah kita lumpuh, tidak bisa bergerak sama sekali. Lalu kembalilah bergerak dengan hanya memfokuskan bagian atas tubuh masing-masing.” [T]

  • BACA artikel lain tentang Temu Seni Tari Indonesia Bertutur
  • Tags: Indonesia Bertuturseni tariTemu Seni Tari
    ShareTweetSendShareSend
    Previous Post

    Kastil Perpustakaan | Cerpen Dikablek

    Next Post

    Tari Panji Masutasoma: Memaknai Kemerdekaan, Memerdekakan Makna-makna

    Dian Ayu Lestari

    Dian Ayu Lestari

    Lahir di Singaraja, 22 Juni 2000 dan sedang menempuh pendidikan di Undiksha Singaraja dengan prodi Manajemen. Kini aktif di Teater Kampus Seribu Jendela

    Related Posts

    Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

    by Nyoman Budarsana
    May 20, 2026
    0
    Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

    CITRA  Sasmita, seniman perempuan asal Bali menjadi seniman Indonesia pertama yang  meraih penghargaan utama, Grand Prize Winner, pada ajang seni...

    Read moreDetails

    Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

    by Dede Putra Wiguna
    May 4, 2026
    0
    Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

    DI antara deretan tapel ogoh-ogoh yang dipajang rapi di ruang lomba UPMI Bali, sosok Bagus Dedy Permata Putra (13) tampak...

    Read moreDetails

    Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

    by Dede Putra Wiguna
    April 27, 2026
    0
    Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

    DI sela waktu istirahat Lomba Tari Bali di UPMI Bali, Sabtu (25/4), sosok Putu Dian Tristiana Dewi berdiri mendampingi anak...

    Read moreDetails

    I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

    by Made Adnyana Ole
    April 21, 2026
    0
    I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

    PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

    Read moreDetails

    I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    by Made Susanta Dwitanaya
    March 26, 2026
    0
    I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    NYALUK Sandi Kala (memasuki peralihan dari siang ke malam) di hari Pangrupukan di Desa  Tampaksiring, yang semakin tahun  semakin dikenal...

    Read moreDetails

    Tak Sekadar Bertanding, Gus Joni Rayakan Kreativitas di Kasanga Festival 2026

    by Dede Putra Wiguna
    March 13, 2026
    0
    Tak Sekadar Bertanding, Gus Joni Rayakan Kreativitas di Kasanga Festival 2026

    DI dalam stan pameran Kasanga Festival 2026 di Lapangan Puputan Badung, Denpasar, deretan ogoh-ogoh mini berdiri rapi menunggu penilaian. Suasana...

    Read moreDetails

    Penghargaan ‘Bali Kerti Bhuana Mahottama’ untuk I Wayan Turun yang Telah Menulis Lebih dari 100 Karya Sastra

    by Nyoman Budarsana
    February 28, 2026
    0
    Penghargaan ‘Bali Kerti Bhuana Mahottama’ untuk I Wayan Turun yang Telah Menulis Lebih dari 100 Karya Sastra

    RASA senang dan bangga tampak dalam wajahnya. Ketika namanya disebut untuk menerima penghargaan Bali Kerthi Nugraha Mahottama, kakinya melangkah dengan...

    Read moreDetails

    Wahyu Ardi Putra dan Bulan Bahasa Bali: Dari Drama Bali Modern ke Cerpen Bali Modern

    by Made Adnyana Ole
    February 28, 2026
    0
    Wahyu Ardi Putra dan Bulan Bahasa Bali: Dari Drama Bali Modern ke Cerpen Bali Modern

    SUDAH sejak lama Wahyu Ardi dikenal sebagai sutradara dan penulis naskah drama modern, baik berbahasa Bali maupun bahasa Indonesia. Lalu,...

    Read moreDetails

    Ni Komang Pradnyawati, Lewat Konten Media Sosial “Elek” Raih Juara 1 di Bulan Bahasa Bali 2026

    by Nyoman Budarsana
    February 28, 2026
    0
    Ni Komang Pradnyawati, Lewat Konten Media Sosial “Elek” Raih Juara 1 di Bulan Bahasa Bali 2026

    ANA seorang siswi yang tidak disebutkan secara jelas sekolahanya tidak menyukai bahasa Bali, bahkan tidak pernah memakai Bahasa itu dalam...

    Read moreDetails

    I Made Sunaryana Juara 1 Lomba Opini Berbahasa Bali di Bulan Bahasa Bali 2026: Kesantunan Berbahasa Adalah Jalan Sunyi Menuju Penyempurnaan Jiwa

    by Nyoman Budarsana
    February 28, 2026
    0
    I Made Sunaryana Juara 1 Lomba Opini Berbahasa Bali di Bulan Bahasa Bali 2026: Kesantunan Berbahasa Adalah Jalan Sunyi Menuju Penyempurnaan Jiwa

    I Made Sunaryana terpilih sebagai Juara 1 Lomba Opini Berbahasa Bali dalam ajang Bulan Bahasa Bali VIII. Itu artinya, karya...

    Read moreDetails
    Next Post
    Tari Panji Masutasoma: Memaknai Kemerdekaan, Memerdekakan Makna-makna

    Tari Panji Masutasoma: Memaknai Kemerdekaan, Memerdekakan Makna-makna

    Please login to join discussion

    Ads

    POPULER

    • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

      Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

      22 shares
      Share 22 Tweet 0
    • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

      0 shares
      Share 0 Tweet 0
    • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

      0 shares
      Share 0 Tweet 0
    • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

      0 shares
      Share 0 Tweet 0
    • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

      0 shares
      Share 0 Tweet 0

    ARTIKEL TERKINI

    Besar Cerita, Besar Berita
    Esai

    Besar Cerita, Besar Berita

    ENTAH kebetulan atau tidak, saya beberapa kali mendapati pada beberapa keluarga di Bali yang suka membesar-besarkan cerita tentang bantuan yang...

    by Angga Wijaya
    May 21, 2026
    In Memoriam — Widnyana Sudibya, Fotografer yang Punya Jasa Besar Pada Arsip-arsip Kesenian Bali
    Khas

    In Memoriam — Widnyana Sudibya, Fotografer yang Punya Jasa Besar Pada Arsip-arsip Kesenian Bali

    IA fotografer, ia mencintai kesenian Bali. Maka hidupnya diabdikan untuk mengabadikan segala bentuk kesenian Bali melalu foto-foto yang eksotik sekaligus...

    by Made Adnyana Ole
    May 21, 2026
    Hati-Hati Ada Proyek!
    Esai

    Hati-Hati Ada Proyek!

    DI Bali, terutama wilayah selatan, papan bertuliskan ‘Hati-Hati Ada Proyek’ bukan lagi sekadar penanda pembangunan. Ia telah menjadi semacam slogan...

    by Dede Putra Wiguna
    May 21, 2026
    Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
    Opini

    Cinta, Hibah, dan Tanah:  Antara Ketulusan dan Batas yang Tak Bisa Ditembus

    CINTA kerap mendorong seseorang untuk memberi tanpa syarat.  Dalam relasi suami-istri, pemberian itu bahkan sering dimaknai sebagai bentuk ketulusan paling tinggi—termasuk...

    by I Made Pria Dharsana
    May 21, 2026
    ‘Dipaning Jayaswara’: Cahaya Baru Jegeg Bagus Tabanan 2026
    Gaya

    ‘Dipaning Jayaswara’: Cahaya Baru Jegeg Bagus Tabanan 2026

    SEMAKIN malam, semakin meriah juga suasana di Gedung Kesenian I Ketut Marya, pada Jumat, 8 Mei 2016. Tepuk tangan riuh...

    by Julio Saputra
    May 20, 2026
    Bang Dance Matangkan Struktur dan Posisi Artistik dalam Inkubasi Tahap III “Sejak Padi Mengakar”
    Panggung

    Bang Dance Matangkan Struktur dan Posisi Artistik dalam Inkubasi Tahap III “Sejak Padi Mengakar”

    "Memasuki tahap akhir inkubasi, Bang Dance merumuskan struktur dramaturgi, strategi afektif, dan posisi artistik karya sebagai praktik koreografi kontemporer berbasis...

    by Nyoman Budarsana
    May 20, 2026
    Pantai Kedonganan Ramai Lagi, Tapi Sudahkah Siap Go Digital?
    Khas

    Pantai Kedonganan Ramai Lagi, Tapi Sudahkah Siap Go Digital?

    PANTAI Kedonganan di kawasan Kuta, Badung, Bali, perlahan hidup kembali. Menjelang sore, deretan meja di tepi pantai mulai terisi. Aroma...

    by Ni Luh Gde Sari Dewi Astuti
    May 20, 2026
    ‘Moral Panic’ di Ruang Tafsir: Membaca Polemik Film ‘Pesta Babi’ di Era Digital
    Esai

    ‘Moral Panic’ di Ruang Tafsir: Membaca Polemik Film ‘Pesta Babi’ di Era Digital

    ERA digital ini, kemarahan hampir selalu bergerak lebih cepat daripada proses memahami, seperti sebuah judul yang diadili sebelum karya itu...

    by Lailatus Sholihah
    May 20, 2026
    Dialektika Sastra Bali dan Kesehatan Mental : Membedah Estetika ‘Tresna Ngatos Mati’ lewat Filosofi Smaradhana
    Ulas Musik

    Dialektika Sastra Bali dan Kesehatan Mental : Membedah Estetika ‘Tresna Ngatos Mati’ lewat Filosofi Smaradhana

    Citta-Vrittis dan Fenomena 'Sending' Dalam Psikologi Kognitif dan Filosofi Hindu, gejolak pikiran yang tak menentu disebut sebagai Citta-Vrittis. Fenomena sending...

    by Ida Ayu Made Dwi Antari
    May 20, 2026
    Reruntuhan di Sekitar Sosok Ayah dalam ‘Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong’
    Ulas Buku

    Reruntuhan di Sekitar Sosok Ayah dalam ‘Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong’

    TERBIT pada tahun 2024, Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong (selanjutnya disingkat AMKM) menjadi semacam pemenuhan keinginan Eka Kurniawan untuk menulis novel...

    by Inno Koten
    May 20, 2026
    BTR Ultra 2026 dan Hal-hal yang Menjadikannya Prestisius
    Tualang

    BTR Ultra 2026 dan Hal-hal yang Menjadikannya Prestisius

    Roses are red Violets are blue 106,20 KM? WTF is wrong with you? SEBUAH papan merah bertuliskan kata-kata di atas...

    by Julio Saputra
    May 20, 2026
    Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
    Esai

    Mozaik 20 Mei: Banyak Seremoni, Miskin Kebangkitan

    SETIAP tanggal 20 Mei bangsa Indonesia seolah menyetel ulang kompas tentang nasionalisme. Dari mana nasionalisme dimulai, dan kini hendak dibawa...

    by Chusmeru
    May 20, 2026

    TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

    • Penulis
    • Tentang & Redaksi
    • Kirim Naskah
    • Pedoman Media Siber
    • Kebijakan Privasi
    • Desclaimer

    Copyright © 2016-2025, tatkala.co

    Welcome Back!

    Login to your account below

    Forgotten Password?

    Retrieve your password

    Please enter your username or email address to reset your password.

    Log In
    No Result
    View All Result
    • Beranda
    • Feature
      • Khas
      • Tualang
      • Persona
      • Historia
      • Milenial
      • Kuliner
      • Pop
      • Gaya
      • Pameran
      • Panggung
    • Berita
      • Ekonomi
      • Pariwisata
      • Pemerintahan
      • Budaya
      • Hiburan
      • Politik
      • Hukum
      • Kesehatan
      • Olahraga
      • Pendidikan
      • Pertanian
      • Lingkungan
      • Liputan Khusus
    • Kritik & Opini
      • Esai
      • Opini
      • Ulas Buku
      • Ulas Film
      • Ulas Rupa
      • Ulas Pentas
      • Kritik Sastra
      • Kritik Seni
      • Bahasa
      • Ulas Musik
    • Fiksi
      • Cerpen
      • Puisi
      • Dongeng
    • English Column
      • Essay
      • Fiction
      • Poetry
      • Features
    • Penulis
    • Buku
      • Buku Mahima
      • Buku Tatkala

    Copyright © 2016-2025, tatkala.co