14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kata-Kata Penenang Pak Wayan Westa

Angga Wijaya by Angga Wijaya
February 8, 2026
in Esai
Kata-Kata Penenang Pak Wayan Westa

Wayan Westa | Sumber foto: FB Wayan Westa

MALAM hari kemarin, saat sedang menulis berita untuk media online di Jembrana, Bali, saya melihat notifikasi di ponsel saya. “I Wayan Westa mengomentari postingan Anda”. Jika bukan dari beliau, saya mungkin belum mau membuka dan melihat Facebook saya. Karena dari beliau, saya tergerak untuk membaca apa yang beliau tuliskan.

Ternyata beliau mengomentari postingan saya dua hari lalu; tentang ‘pembelaan diri’ dari berbagai pandangan orang tentang saya, mulai dari “kerja santai”, “pekerjaan tak jelas”, hingga tentang saya sebagai penyintas skizofrenia, “orang gila”—begitu istilah yang lumrah pada masyarakat awam di Indonesia, tidak terkecuali di Bali yang kini makin sesak oleh migrasi penduduk.

Komentar dari Pak Wayan Westa singkat, jelas, dan padat: “Teruslah menulis, Angga, 30 tahun lagi, tulisanmu jadi catatan penting untuk mereka yang mempelajari jiwa dan otak manusia lebih dalam”. Pak Westa—saat banyak yang memanggilnya ‘Guru’, saya lebih nyaman memanggil beliau dengan “Pak Westa” atau “Bapak”. Lebih egaliter. Kalau saya memanggilnya dengan sebutan “guru”, aka nada jarak yakni status bahwa ia adalah guru dan saya adalah murid.

Apalagi, pada sekarang, banyak guru (spiritual) yang ternyata tidak sebaik dan semurni apa yang mereka tulis, ajarkan atau bicarakan tentang hal-hal baik. Saya tidak ingin “menodai” I Wayan Westa dengan sebutan “guru” yang mungkin saja akan juga memberatkan dia, karena menjadi tidak leluasa untuk menjadi dirinya sendiri. Saya panggil “Pak Westa” saja. Ini terdengar netral.

Apa yang beliau tulis di atas tentu menjadi penyemangat saya, yang anehnya bukan berasal dari pasangan, saudara, kerabat, keluarga saya sendiri. Kata-kata seperti itu yang saya butuhkan. Agar, saya menjadi lebih yakin dan percaya diri pada apa yang saya lakukan selama ini; menulis, baik itu esai, puisi, cerpen, maupun karya-karya jurnalistik.

Selama ini saya banyak menulis tentang kesehatan mental, yang berangkat dari pengalaman personal, sebagai penyintas skizofrenia sejak enam belas tahun lalu. Pak Westa mengamati itu semua. Mungkin dari hal itu beliau menyebut bahwa di masa depan tulisan-tulisan saya menjadi penting, terutama bagi mereka yang berkutat di dunia kedokteran, psikologi, dan psikiatri.

Beberapa tahun lalu, Pak Westa juga memberi sebuah “penenang” berupa anjuran untuk saya lebih sering “duduk hening” atau semedi atau istilah popular di negeri ini, yakni, meditasi. Saat itu pikiran saya agak kacau karena berbagai tekanan; pekerjaan, hubungan dengan tetangga, kelelahan fisik dan mental, hingga menyebabkan saya mengalami relapse atau kekambuhan pada 2023 lalu.

Untunglah saya mendapat penanganan yang tepat; psikoterapi, obat-obat psikiatri yang bagi penyintas skizofrenia jika mengalami relapse akan ditambah dosisnya. Itu juga berarti pengobatan mulai dari awal lagi. Banyak kerugian jika kami mengalami kekambuhan. Sejak itu saya tak berani untuk putus obat. Saya juga rutin melakukan meditasi, seperti apa yang Pak Westa sarankan pada saya. Hasilnya, saya lebih tenang, rileks, mulai lagi menulis dan berkarya. Juga kembali bekerja sebagai wartawan, dengan sistem kerja freelance atau bekerja lepas. Ini membuat saya lebih nyaman karena tidak ada target berita harian. Saya juga bisa produktif menulis puisi atau esai.

Pak Westa adalah mantan redaktur majalah budaya ternama di Bali, pada masanya. Majalah itu bernama SARAD. Saat masih mahasiswa, seorang alumnus Bali Gandhi Vidyapith Ashram di Sanglah, Denpasar Selatan, pernah mengajak saya mengunjungi kantor redaksi majalah SARAD di Renon, Denpasar. Saya lupa apakah saat itu kami bertemu dengan Pak Westa atau tidak. Yang pasti, teman alumnus itu menyarankan saya untuk mulai belajar menulis dan sering-sering berkunjung ke kantor redaksi SARAD—menimba banyak ilmu dari para penulis, jurnalis, dan para redaktur di majalah tersebut.

Entah mengapa saya tidak terlalu hirau dengan saran itu. Seingat saya, waktu itu saya mulai mengalami krisis mental oleh banyak faktor, terutama soal studi Antropologi Budaya di Universitas Udayana yang agak lama, sudah lima tahun, belum lulus karena ada beberapa mata kuliah yang nilainya jelek dan mesti diulang. Juga, persoalan personal dengan keluarga angkat yang membiayai kuliah saya.   

Waktu itu uang saku bulanan dihentikan, sehingga saya mulai belajar menghidupi diri sendiri dengan bekerja di sebuah warung internet (Warnet) di Jalan Kapten Japa, Denpasar. Gaji waktu itu 600 ribu rupiah setiap bulannya. Saya bisa membayar kos yang kala itu tahun 2007 masih murah, sekitar 250 ribu rupiah. Setelah hampir setahun bekerja di Warnet, saya memberanikan diri untuk melamar pekerjaan sebagai wartawan pada sebuah tabloid budaya yang berkantor di Denpasar Timur. Saya dipanggil untuk mengikuti wawancara kerja. Tidak sampai 30 menit, saya dinyatakan diterima bekerja sebagai wartawan di sana.

Entah karena CV yang meyakinkan, atau berkas-berkas pendukung seperti sertifikat pelatihan jurnalistik saat SMA, atau juga kliping puisi dan esai karya saya yang saya sertakan dalam surat lamaran, entahlah. Baru saya tahu kemudian, sang redaktur, Pak Legawa Parta, punya intuisi dan firasat bahwa pemuda ini (saya) memang berbakat menajdi jurnalis. Beliau beberapa tahun lalu telah berpulang karena sakit. Saya banyak mendapat ilmu dari Pak Lolik, panggilan akrabnya. Doa saya panjatkan kepada beliau semoga atmannya menyatu dengan Brahman.

Kembali lagi pada Pak Westa. Beliau, yang kini telah tua, masih aktif menulis. Meskipun majalah SARAD tidak ada lagi, melalui Facebook, Pak Westa rutin berbagi pemikiran. Kadang mengkritik, kadang sedih, bahkan juga kadang marah karena geram melihat bukit di kampung halamannya di Klungkung dikeruk tanahnya dan dipotong untuk sebuah pembangunan oleh pemerintah Bali. Pak Westa tidak takut dan tanpa tedeng aling-aling memilih diksi yang keras dan tegas.

Kata-kata memang bisa menjadi sebuah senjata untuk mengkritik penguasa, terlebih lagi jika jumawa dan seenaknya sendiri. Namun, kata-kata mampu menjelma menjadi obat penenang, sama seperti apa yang beliau tulis untuk saya. Beliau juga pernah menulis sebuah puisi balasan atas puisi yang saya tulis untuknya. Pak Westa tenang dan menenangkan. Namun juga bisa galak dan garang bak harimau Bali, yang punah oleh perburuan besar-besaran di zaman kolonial Belanda, sekitar tahun 1930-an. Sama halnya dengan sosok tua penulis, di Bali, orang seperti ini sangatlah jarang. Kini, generasi tua yang kritis, aktif menulis dan berani menyampaikan pendapat meskipun berseberangan dengan banyak orang, bisa dihitung dengan jari. Mereka yang berani menjaga jarak dengan kekuasaan, berani hidup sepi dan sunyi, hidup sederhana secara materi, kini amat langka.

Intelektual yang rumahnya penuh dengan buku-buku di perpustakaan pribadi, menyisakan upah sebagai pembicara seminar dan juga diskusi,  atau mendapat honor tulisan demi buku yang didambakan, menjadi sebuah pengorbanan yang tak sia-sia, terutama setelah mereka tiada. Saya hanya melihat foto di Facebook Pak Westa, tersenyum di depan rak buku di rumahnya. Suatu waktu saya akan berkunjung ke sana, bukan melihat buku-buku, namun api semangat yang selalu menyala di matanya. Kata-kata yang menjadi sumber kebijaksaan, menjadi “penenang” untuk diri dan orang lain. Salam. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: I Wayan Westapersahabatan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sekar dan Tujuh Cahaya | Cerita Anak

Next Post

Secangkir Kopi dan Pengetahuan yang Menjaga Masa Depan

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
0
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

Read moreDetails

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails
Next Post
Secangkir Kopi dan Pengetahuan yang Menjaga Masa Depan

Secangkir Kopi dan Pengetahuan yang Menjaga Masa Depan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co