3 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kata-Kata Penenang Pak Wayan Westa

Angga Wijaya by Angga Wijaya
February 8, 2026
in Esai
Kata-Kata Penenang Pak Wayan Westa

Wayan Westa | Sumber foto: FB Wayan Westa

MALAM hari kemarin, saat sedang menulis berita untuk media online di Jembrana, Bali, saya melihat notifikasi di ponsel saya. “I Wayan Westa mengomentari postingan Anda”. Jika bukan dari beliau, saya mungkin belum mau membuka dan melihat Facebook saya. Karena dari beliau, saya tergerak untuk membaca apa yang beliau tuliskan.

Ternyata beliau mengomentari postingan saya dua hari lalu; tentang ‘pembelaan diri’ dari berbagai pandangan orang tentang saya, mulai dari “kerja santai”, “pekerjaan tak jelas”, hingga tentang saya sebagai penyintas skizofrenia, “orang gila”—begitu istilah yang lumrah pada masyarakat awam di Indonesia, tidak terkecuali di Bali yang kini makin sesak oleh migrasi penduduk.

Komentar dari Pak Wayan Westa singkat, jelas, dan padat: “Teruslah menulis, Angga, 30 tahun lagi, tulisanmu jadi catatan penting untuk mereka yang mempelajari jiwa dan otak manusia lebih dalam”. Pak Westa—saat banyak yang memanggilnya ‘Guru’, saya lebih nyaman memanggil beliau dengan “Pak Westa” atau “Bapak”. Lebih egaliter. Kalau saya memanggilnya dengan sebutan “guru”, aka nada jarak yakni status bahwa ia adalah guru dan saya adalah murid.

Apalagi, pada sekarang, banyak guru (spiritual) yang ternyata tidak sebaik dan semurni apa yang mereka tulis, ajarkan atau bicarakan tentang hal-hal baik. Saya tidak ingin “menodai” I Wayan Westa dengan sebutan “guru” yang mungkin saja akan juga memberatkan dia, karena menjadi tidak leluasa untuk menjadi dirinya sendiri. Saya panggil “Pak Westa” saja. Ini terdengar netral.

Apa yang beliau tulis di atas tentu menjadi penyemangat saya, yang anehnya bukan berasal dari pasangan, saudara, kerabat, keluarga saya sendiri. Kata-kata seperti itu yang saya butuhkan. Agar, saya menjadi lebih yakin dan percaya diri pada apa yang saya lakukan selama ini; menulis, baik itu esai, puisi, cerpen, maupun karya-karya jurnalistik.

Selama ini saya banyak menulis tentang kesehatan mental, yang berangkat dari pengalaman personal, sebagai penyintas skizofrenia sejak enam belas tahun lalu. Pak Westa mengamati itu semua. Mungkin dari hal itu beliau menyebut bahwa di masa depan tulisan-tulisan saya menjadi penting, terutama bagi mereka yang berkutat di dunia kedokteran, psikologi, dan psikiatri.

Beberapa tahun lalu, Pak Westa juga memberi sebuah “penenang” berupa anjuran untuk saya lebih sering “duduk hening” atau semedi atau istilah popular di negeri ini, yakni, meditasi. Saat itu pikiran saya agak kacau karena berbagai tekanan; pekerjaan, hubungan dengan tetangga, kelelahan fisik dan mental, hingga menyebabkan saya mengalami relapse atau kekambuhan pada 2023 lalu.

Untunglah saya mendapat penanganan yang tepat; psikoterapi, obat-obat psikiatri yang bagi penyintas skizofrenia jika mengalami relapse akan ditambah dosisnya. Itu juga berarti pengobatan mulai dari awal lagi. Banyak kerugian jika kami mengalami kekambuhan. Sejak itu saya tak berani untuk putus obat. Saya juga rutin melakukan meditasi, seperti apa yang Pak Westa sarankan pada saya. Hasilnya, saya lebih tenang, rileks, mulai lagi menulis dan berkarya. Juga kembali bekerja sebagai wartawan, dengan sistem kerja freelance atau bekerja lepas. Ini membuat saya lebih nyaman karena tidak ada target berita harian. Saya juga bisa produktif menulis puisi atau esai.

Pak Westa adalah mantan redaktur majalah budaya ternama di Bali, pada masanya. Majalah itu bernama SARAD. Saat masih mahasiswa, seorang alumnus Bali Gandhi Vidyapith Ashram di Sanglah, Denpasar Selatan, pernah mengajak saya mengunjungi kantor redaksi majalah SARAD di Renon, Denpasar. Saya lupa apakah saat itu kami bertemu dengan Pak Westa atau tidak. Yang pasti, teman alumnus itu menyarankan saya untuk mulai belajar menulis dan sering-sering berkunjung ke kantor redaksi SARAD—menimba banyak ilmu dari para penulis, jurnalis, dan para redaktur di majalah tersebut.

Entah mengapa saya tidak terlalu hirau dengan saran itu. Seingat saya, waktu itu saya mulai mengalami krisis mental oleh banyak faktor, terutama soal studi Antropologi Budaya di Universitas Udayana yang agak lama, sudah lima tahun, belum lulus karena ada beberapa mata kuliah yang nilainya jelek dan mesti diulang. Juga, persoalan personal dengan keluarga angkat yang membiayai kuliah saya.   

Waktu itu uang saku bulanan dihentikan, sehingga saya mulai belajar menghidupi diri sendiri dengan bekerja di sebuah warung internet (Warnet) di Jalan Kapten Japa, Denpasar. Gaji waktu itu 600 ribu rupiah setiap bulannya. Saya bisa membayar kos yang kala itu tahun 2007 masih murah, sekitar 250 ribu rupiah. Setelah hampir setahun bekerja di Warnet, saya memberanikan diri untuk melamar pekerjaan sebagai wartawan pada sebuah tabloid budaya yang berkantor di Denpasar Timur. Saya dipanggil untuk mengikuti wawancara kerja. Tidak sampai 30 menit, saya dinyatakan diterima bekerja sebagai wartawan di sana.

Entah karena CV yang meyakinkan, atau berkas-berkas pendukung seperti sertifikat pelatihan jurnalistik saat SMA, atau juga kliping puisi dan esai karya saya yang saya sertakan dalam surat lamaran, entahlah. Baru saya tahu kemudian, sang redaktur, Pak Legawa Parta, punya intuisi dan firasat bahwa pemuda ini (saya) memang berbakat menajdi jurnalis. Beliau beberapa tahun lalu telah berpulang karena sakit. Saya banyak mendapat ilmu dari Pak Lolik, panggilan akrabnya. Doa saya panjatkan kepada beliau semoga atmannya menyatu dengan Brahman.

Kembali lagi pada Pak Westa. Beliau, yang kini telah tua, masih aktif menulis. Meskipun majalah SARAD tidak ada lagi, melalui Facebook, Pak Westa rutin berbagi pemikiran. Kadang mengkritik, kadang sedih, bahkan juga kadang marah karena geram melihat bukit di kampung halamannya di Klungkung dikeruk tanahnya dan dipotong untuk sebuah pembangunan oleh pemerintah Bali. Pak Westa tidak takut dan tanpa tedeng aling-aling memilih diksi yang keras dan tegas.

Kata-kata memang bisa menjadi sebuah senjata untuk mengkritik penguasa, terlebih lagi jika jumawa dan seenaknya sendiri. Namun, kata-kata mampu menjelma menjadi obat penenang, sama seperti apa yang beliau tulis untuk saya. Beliau juga pernah menulis sebuah puisi balasan atas puisi yang saya tulis untuknya. Pak Westa tenang dan menenangkan. Namun juga bisa galak dan garang bak harimau Bali, yang punah oleh perburuan besar-besaran di zaman kolonial Belanda, sekitar tahun 1930-an. Sama halnya dengan sosok tua penulis, di Bali, orang seperti ini sangatlah jarang. Kini, generasi tua yang kritis, aktif menulis dan berani menyampaikan pendapat meskipun berseberangan dengan banyak orang, bisa dihitung dengan jari. Mereka yang berani menjaga jarak dengan kekuasaan, berani hidup sepi dan sunyi, hidup sederhana secara materi, kini amat langka.

Intelektual yang rumahnya penuh dengan buku-buku di perpustakaan pribadi, menyisakan upah sebagai pembicara seminar dan juga diskusi,  atau mendapat honor tulisan demi buku yang didambakan, menjadi sebuah pengorbanan yang tak sia-sia, terutama setelah mereka tiada. Saya hanya melihat foto di Facebook Pak Westa, tersenyum di depan rak buku di rumahnya. Suatu waktu saya akan berkunjung ke sana, bukan melihat buku-buku, namun api semangat yang selalu menyala di matanya. Kata-kata yang menjadi sumber kebijaksaan, menjadi “penenang” untuk diri dan orang lain. Salam. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: I Wayan Westapersahabatan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sekar dan Tujuh Cahaya | Cerita Anak

Next Post

Secangkir Kopi dan Pengetahuan yang Menjaga Masa Depan

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
Secangkir Kopi dan Pengetahuan yang Menjaga Masa Depan

Secangkir Kopi dan Pengetahuan yang Menjaga Masa Depan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co