12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kata-Kata Penenang Pak Wayan Westa

Angga Wijaya by Angga Wijaya
February 8, 2026
in Esai
Kata-Kata Penenang Pak Wayan Westa

Wayan Westa | Sumber foto: FB Wayan Westa

MALAM hari kemarin, saat sedang menulis berita untuk media online di Jembrana, Bali, saya melihat notifikasi di ponsel saya. “I Wayan Westa mengomentari postingan Anda”. Jika bukan dari beliau, saya mungkin belum mau membuka dan melihat Facebook saya. Karena dari beliau, saya tergerak untuk membaca apa yang beliau tuliskan.

Ternyata beliau mengomentari postingan saya dua hari lalu; tentang ‘pembelaan diri’ dari berbagai pandangan orang tentang saya, mulai dari “kerja santai”, “pekerjaan tak jelas”, hingga tentang saya sebagai penyintas skizofrenia, “orang gila”—begitu istilah yang lumrah pada masyarakat awam di Indonesia, tidak terkecuali di Bali yang kini makin sesak oleh migrasi penduduk.

Komentar dari Pak Wayan Westa singkat, jelas, dan padat: “Teruslah menulis, Angga, 30 tahun lagi, tulisanmu jadi catatan penting untuk mereka yang mempelajari jiwa dan otak manusia lebih dalam”. Pak Westa—saat banyak yang memanggilnya ‘Guru’, saya lebih nyaman memanggil beliau dengan “Pak Westa” atau “Bapak”. Lebih egaliter. Kalau saya memanggilnya dengan sebutan “guru”, aka nada jarak yakni status bahwa ia adalah guru dan saya adalah murid.

Apalagi, pada sekarang, banyak guru (spiritual) yang ternyata tidak sebaik dan semurni apa yang mereka tulis, ajarkan atau bicarakan tentang hal-hal baik. Saya tidak ingin “menodai” I Wayan Westa dengan sebutan “guru” yang mungkin saja akan juga memberatkan dia, karena menjadi tidak leluasa untuk menjadi dirinya sendiri. Saya panggil “Pak Westa” saja. Ini terdengar netral.

Apa yang beliau tulis di atas tentu menjadi penyemangat saya, yang anehnya bukan berasal dari pasangan, saudara, kerabat, keluarga saya sendiri. Kata-kata seperti itu yang saya butuhkan. Agar, saya menjadi lebih yakin dan percaya diri pada apa yang saya lakukan selama ini; menulis, baik itu esai, puisi, cerpen, maupun karya-karya jurnalistik.

Selama ini saya banyak menulis tentang kesehatan mental, yang berangkat dari pengalaman personal, sebagai penyintas skizofrenia sejak enam belas tahun lalu. Pak Westa mengamati itu semua. Mungkin dari hal itu beliau menyebut bahwa di masa depan tulisan-tulisan saya menjadi penting, terutama bagi mereka yang berkutat di dunia kedokteran, psikologi, dan psikiatri.

Beberapa tahun lalu, Pak Westa juga memberi sebuah “penenang” berupa anjuran untuk saya lebih sering “duduk hening” atau semedi atau istilah popular di negeri ini, yakni, meditasi. Saat itu pikiran saya agak kacau karena berbagai tekanan; pekerjaan, hubungan dengan tetangga, kelelahan fisik dan mental, hingga menyebabkan saya mengalami relapse atau kekambuhan pada 2023 lalu.

Untunglah saya mendapat penanganan yang tepat; psikoterapi, obat-obat psikiatri yang bagi penyintas skizofrenia jika mengalami relapse akan ditambah dosisnya. Itu juga berarti pengobatan mulai dari awal lagi. Banyak kerugian jika kami mengalami kekambuhan. Sejak itu saya tak berani untuk putus obat. Saya juga rutin melakukan meditasi, seperti apa yang Pak Westa sarankan pada saya. Hasilnya, saya lebih tenang, rileks, mulai lagi menulis dan berkarya. Juga kembali bekerja sebagai wartawan, dengan sistem kerja freelance atau bekerja lepas. Ini membuat saya lebih nyaman karena tidak ada target berita harian. Saya juga bisa produktif menulis puisi atau esai.

Pak Westa adalah mantan redaktur majalah budaya ternama di Bali, pada masanya. Majalah itu bernama SARAD. Saat masih mahasiswa, seorang alumnus Bali Gandhi Vidyapith Ashram di Sanglah, Denpasar Selatan, pernah mengajak saya mengunjungi kantor redaksi majalah SARAD di Renon, Denpasar. Saya lupa apakah saat itu kami bertemu dengan Pak Westa atau tidak. Yang pasti, teman alumnus itu menyarankan saya untuk mulai belajar menulis dan sering-sering berkunjung ke kantor redaksi SARAD—menimba banyak ilmu dari para penulis, jurnalis, dan para redaktur di majalah tersebut.

Entah mengapa saya tidak terlalu hirau dengan saran itu. Seingat saya, waktu itu saya mulai mengalami krisis mental oleh banyak faktor, terutama soal studi Antropologi Budaya di Universitas Udayana yang agak lama, sudah lima tahun, belum lulus karena ada beberapa mata kuliah yang nilainya jelek dan mesti diulang. Juga, persoalan personal dengan keluarga angkat yang membiayai kuliah saya.   

Waktu itu uang saku bulanan dihentikan, sehingga saya mulai belajar menghidupi diri sendiri dengan bekerja di sebuah warung internet (Warnet) di Jalan Kapten Japa, Denpasar. Gaji waktu itu 600 ribu rupiah setiap bulannya. Saya bisa membayar kos yang kala itu tahun 2007 masih murah, sekitar 250 ribu rupiah. Setelah hampir setahun bekerja di Warnet, saya memberanikan diri untuk melamar pekerjaan sebagai wartawan pada sebuah tabloid budaya yang berkantor di Denpasar Timur. Saya dipanggil untuk mengikuti wawancara kerja. Tidak sampai 30 menit, saya dinyatakan diterima bekerja sebagai wartawan di sana.

Entah karena CV yang meyakinkan, atau berkas-berkas pendukung seperti sertifikat pelatihan jurnalistik saat SMA, atau juga kliping puisi dan esai karya saya yang saya sertakan dalam surat lamaran, entahlah. Baru saya tahu kemudian, sang redaktur, Pak Legawa Parta, punya intuisi dan firasat bahwa pemuda ini (saya) memang berbakat menajdi jurnalis. Beliau beberapa tahun lalu telah berpulang karena sakit. Saya banyak mendapat ilmu dari Pak Lolik, panggilan akrabnya. Doa saya panjatkan kepada beliau semoga atmannya menyatu dengan Brahman.

Kembali lagi pada Pak Westa. Beliau, yang kini telah tua, masih aktif menulis. Meskipun majalah SARAD tidak ada lagi, melalui Facebook, Pak Westa rutin berbagi pemikiran. Kadang mengkritik, kadang sedih, bahkan juga kadang marah karena geram melihat bukit di kampung halamannya di Klungkung dikeruk tanahnya dan dipotong untuk sebuah pembangunan oleh pemerintah Bali. Pak Westa tidak takut dan tanpa tedeng aling-aling memilih diksi yang keras dan tegas.

Kata-kata memang bisa menjadi sebuah senjata untuk mengkritik penguasa, terlebih lagi jika jumawa dan seenaknya sendiri. Namun, kata-kata mampu menjelma menjadi obat penenang, sama seperti apa yang beliau tulis untuk saya. Beliau juga pernah menulis sebuah puisi balasan atas puisi yang saya tulis untuknya. Pak Westa tenang dan menenangkan. Namun juga bisa galak dan garang bak harimau Bali, yang punah oleh perburuan besar-besaran di zaman kolonial Belanda, sekitar tahun 1930-an. Sama halnya dengan sosok tua penulis, di Bali, orang seperti ini sangatlah jarang. Kini, generasi tua yang kritis, aktif menulis dan berani menyampaikan pendapat meskipun berseberangan dengan banyak orang, bisa dihitung dengan jari. Mereka yang berani menjaga jarak dengan kekuasaan, berani hidup sepi dan sunyi, hidup sederhana secara materi, kini amat langka.

Intelektual yang rumahnya penuh dengan buku-buku di perpustakaan pribadi, menyisakan upah sebagai pembicara seminar dan juga diskusi,  atau mendapat honor tulisan demi buku yang didambakan, menjadi sebuah pengorbanan yang tak sia-sia, terutama setelah mereka tiada. Saya hanya melihat foto di Facebook Pak Westa, tersenyum di depan rak buku di rumahnya. Suatu waktu saya akan berkunjung ke sana, bukan melihat buku-buku, namun api semangat yang selalu menyala di matanya. Kata-kata yang menjadi sumber kebijaksaan, menjadi “penenang” untuk diri dan orang lain. Salam. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: I Wayan Westapersahabatan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sekar dan Tujuh Cahaya | Cerita Anak

Next Post

Secangkir Kopi dan Pengetahuan yang Menjaga Masa Depan

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails
Next Post
Secangkir Kopi dan Pengetahuan yang Menjaga Masa Depan

Secangkir Kopi dan Pengetahuan yang Menjaga Masa Depan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co