2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kata-Kata Penenang Pak Wayan Westa

Angga Wijaya by Angga Wijaya
February 8, 2026
in Esai
Kata-Kata Penenang Pak Wayan Westa

Wayan Westa | Sumber foto: FB Wayan Westa

MALAM hari kemarin, saat sedang menulis berita untuk media online di Jembrana, Bali, saya melihat notifikasi di ponsel saya. “I Wayan Westa mengomentari postingan Anda”. Jika bukan dari beliau, saya mungkin belum mau membuka dan melihat Facebook saya. Karena dari beliau, saya tergerak untuk membaca apa yang beliau tuliskan.

Ternyata beliau mengomentari postingan saya dua hari lalu; tentang ‘pembelaan diri’ dari berbagai pandangan orang tentang saya, mulai dari “kerja santai”, “pekerjaan tak jelas”, hingga tentang saya sebagai penyintas skizofrenia, “orang gila”—begitu istilah yang lumrah pada masyarakat awam di Indonesia, tidak terkecuali di Bali yang kini makin sesak oleh migrasi penduduk.

Komentar dari Pak Wayan Westa singkat, jelas, dan padat: “Teruslah menulis, Angga, 30 tahun lagi, tulisanmu jadi catatan penting untuk mereka yang mempelajari jiwa dan otak manusia lebih dalam”. Pak Westa—saat banyak yang memanggilnya ‘Guru’, saya lebih nyaman memanggil beliau dengan “Pak Westa” atau “Bapak”. Lebih egaliter. Kalau saya memanggilnya dengan sebutan “guru”, aka nada jarak yakni status bahwa ia adalah guru dan saya adalah murid.

Apalagi, pada sekarang, banyak guru (spiritual) yang ternyata tidak sebaik dan semurni apa yang mereka tulis, ajarkan atau bicarakan tentang hal-hal baik. Saya tidak ingin “menodai” I Wayan Westa dengan sebutan “guru” yang mungkin saja akan juga memberatkan dia, karena menjadi tidak leluasa untuk menjadi dirinya sendiri. Saya panggil “Pak Westa” saja. Ini terdengar netral.

Apa yang beliau tulis di atas tentu menjadi penyemangat saya, yang anehnya bukan berasal dari pasangan, saudara, kerabat, keluarga saya sendiri. Kata-kata seperti itu yang saya butuhkan. Agar, saya menjadi lebih yakin dan percaya diri pada apa yang saya lakukan selama ini; menulis, baik itu esai, puisi, cerpen, maupun karya-karya jurnalistik.

Selama ini saya banyak menulis tentang kesehatan mental, yang berangkat dari pengalaman personal, sebagai penyintas skizofrenia sejak enam belas tahun lalu. Pak Westa mengamati itu semua. Mungkin dari hal itu beliau menyebut bahwa di masa depan tulisan-tulisan saya menjadi penting, terutama bagi mereka yang berkutat di dunia kedokteran, psikologi, dan psikiatri.

Beberapa tahun lalu, Pak Westa juga memberi sebuah “penenang” berupa anjuran untuk saya lebih sering “duduk hening” atau semedi atau istilah popular di negeri ini, yakni, meditasi. Saat itu pikiran saya agak kacau karena berbagai tekanan; pekerjaan, hubungan dengan tetangga, kelelahan fisik dan mental, hingga menyebabkan saya mengalami relapse atau kekambuhan pada 2023 lalu.

Untunglah saya mendapat penanganan yang tepat; psikoterapi, obat-obat psikiatri yang bagi penyintas skizofrenia jika mengalami relapse akan ditambah dosisnya. Itu juga berarti pengobatan mulai dari awal lagi. Banyak kerugian jika kami mengalami kekambuhan. Sejak itu saya tak berani untuk putus obat. Saya juga rutin melakukan meditasi, seperti apa yang Pak Westa sarankan pada saya. Hasilnya, saya lebih tenang, rileks, mulai lagi menulis dan berkarya. Juga kembali bekerja sebagai wartawan, dengan sistem kerja freelance atau bekerja lepas. Ini membuat saya lebih nyaman karena tidak ada target berita harian. Saya juga bisa produktif menulis puisi atau esai.

Pak Westa adalah mantan redaktur majalah budaya ternama di Bali, pada masanya. Majalah itu bernama SARAD. Saat masih mahasiswa, seorang alumnus Bali Gandhi Vidyapith Ashram di Sanglah, Denpasar Selatan, pernah mengajak saya mengunjungi kantor redaksi majalah SARAD di Renon, Denpasar. Saya lupa apakah saat itu kami bertemu dengan Pak Westa atau tidak. Yang pasti, teman alumnus itu menyarankan saya untuk mulai belajar menulis dan sering-sering berkunjung ke kantor redaksi SARAD—menimba banyak ilmu dari para penulis, jurnalis, dan para redaktur di majalah tersebut.

Entah mengapa saya tidak terlalu hirau dengan saran itu. Seingat saya, waktu itu saya mulai mengalami krisis mental oleh banyak faktor, terutama soal studi Antropologi Budaya di Universitas Udayana yang agak lama, sudah lima tahun, belum lulus karena ada beberapa mata kuliah yang nilainya jelek dan mesti diulang. Juga, persoalan personal dengan keluarga angkat yang membiayai kuliah saya.   

Waktu itu uang saku bulanan dihentikan, sehingga saya mulai belajar menghidupi diri sendiri dengan bekerja di sebuah warung internet (Warnet) di Jalan Kapten Japa, Denpasar. Gaji waktu itu 600 ribu rupiah setiap bulannya. Saya bisa membayar kos yang kala itu tahun 2007 masih murah, sekitar 250 ribu rupiah. Setelah hampir setahun bekerja di Warnet, saya memberanikan diri untuk melamar pekerjaan sebagai wartawan pada sebuah tabloid budaya yang berkantor di Denpasar Timur. Saya dipanggil untuk mengikuti wawancara kerja. Tidak sampai 30 menit, saya dinyatakan diterima bekerja sebagai wartawan di sana.

Entah karena CV yang meyakinkan, atau berkas-berkas pendukung seperti sertifikat pelatihan jurnalistik saat SMA, atau juga kliping puisi dan esai karya saya yang saya sertakan dalam surat lamaran, entahlah. Baru saya tahu kemudian, sang redaktur, Pak Legawa Parta, punya intuisi dan firasat bahwa pemuda ini (saya) memang berbakat menajdi jurnalis. Beliau beberapa tahun lalu telah berpulang karena sakit. Saya banyak mendapat ilmu dari Pak Lolik, panggilan akrabnya. Doa saya panjatkan kepada beliau semoga atmannya menyatu dengan Brahman.

Kembali lagi pada Pak Westa. Beliau, yang kini telah tua, masih aktif menulis. Meskipun majalah SARAD tidak ada lagi, melalui Facebook, Pak Westa rutin berbagi pemikiran. Kadang mengkritik, kadang sedih, bahkan juga kadang marah karena geram melihat bukit di kampung halamannya di Klungkung dikeruk tanahnya dan dipotong untuk sebuah pembangunan oleh pemerintah Bali. Pak Westa tidak takut dan tanpa tedeng aling-aling memilih diksi yang keras dan tegas.

Kata-kata memang bisa menjadi sebuah senjata untuk mengkritik penguasa, terlebih lagi jika jumawa dan seenaknya sendiri. Namun, kata-kata mampu menjelma menjadi obat penenang, sama seperti apa yang beliau tulis untuk saya. Beliau juga pernah menulis sebuah puisi balasan atas puisi yang saya tulis untuknya. Pak Westa tenang dan menenangkan. Namun juga bisa galak dan garang bak harimau Bali, yang punah oleh perburuan besar-besaran di zaman kolonial Belanda, sekitar tahun 1930-an. Sama halnya dengan sosok tua penulis, di Bali, orang seperti ini sangatlah jarang. Kini, generasi tua yang kritis, aktif menulis dan berani menyampaikan pendapat meskipun berseberangan dengan banyak orang, bisa dihitung dengan jari. Mereka yang berani menjaga jarak dengan kekuasaan, berani hidup sepi dan sunyi, hidup sederhana secara materi, kini amat langka.

Intelektual yang rumahnya penuh dengan buku-buku di perpustakaan pribadi, menyisakan upah sebagai pembicara seminar dan juga diskusi,  atau mendapat honor tulisan demi buku yang didambakan, menjadi sebuah pengorbanan yang tak sia-sia, terutama setelah mereka tiada. Saya hanya melihat foto di Facebook Pak Westa, tersenyum di depan rak buku di rumahnya. Suatu waktu saya akan berkunjung ke sana, bukan melihat buku-buku, namun api semangat yang selalu menyala di matanya. Kata-kata yang menjadi sumber kebijaksaan, menjadi “penenang” untuk diri dan orang lain. Salam. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: I Wayan Westapersahabatan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sekar dan Tujuh Cahaya | Cerita Anak

Next Post

Secangkir Kopi dan Pengetahuan yang Menjaga Masa Depan

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Secangkir Kopi dan Pengetahuan yang Menjaga Masa Depan

Secangkir Kopi dan Pengetahuan yang Menjaga Masa Depan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co