12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Secangkir Kopi dan Pengetahuan yang Menjaga Masa Depan

Ni Putu Maha Lina by Ni Putu Maha Lina
February 8, 2026
in Esai
Secangkir Kopi dan Pengetahuan yang Menjaga Masa Depan

SUATU pagi, secangkir kopi sering kita pahami hanya sebagai rutinitas. Ia hadir sebagai pengusir kantuk, teman bekerja, atau jeda singkat sebelum hari benar-benar dimulai. Kita jarang bertanya dari mana kopi itu berasal, siapa yang menanamnya, atau pengetahuan apa yang membuatnya sampai ke meja kita. Padahal, di balik rasa pahit dan aroma yang menenangkan, tersimpan pengetahuan panjang para petani yang menjaga kopi tetap tumbuh, tetap bernilai, dan tetap lestari. Masa depan kopi, sekaligus masa depan petaninya, ditentukan oleh apakah pengetahuan itu diwariskan atau dibiarkan hilang perlahan.

Di berbagai wilayah dataran tinggi Indonesia pada kisaran ketinggian 600 hingga 800 meter di atas permukaan laut, kopi Robusta tumbuh sebagai komoditas unggulan. Dengan luasan perkebunan yang relatif besar, kopi Robusta tidak hanya berorientasi ekspor, tetapi juga menjadi penggerak utama perekonomian masyarakat pedesaan (1). Di banyak daerah, komoditas ini menopang pendapatan keluarga, membuka lapangan kerja, serta menjaga keberlanjutan ekonomi lokal (2). Ketergantungan masyarakat terhadap kopi menjadikan keberlanjutannya bukan semata isu pertanian, melainkan isu sosial dan ekonomi yang lebih luas.

Kopi Robusta Sebagai Komoditas Unggulan Desa

Seiring berkembangnya potensi tersebut, kopi tidak lagi dipandang sekadar sebagai hasil panen. Ia menjelma menjadi identitas wilayah dan medium pembelajaran. Berbagai daerah penghasil kopi mulai mengembangkan wisata edukatif berbasis kopi, mulai dari praktik petik merah, pengenalan proses pascapanen, hingga pengalaman menikmati kopi langsung di kebun (2,3). Upaya ini menunjukkan bahwa nilai kopi tidak hanya terletak pada produk akhirnya, tetapi juga pada pengetahuan, praktik, dan cerita yang menyertainya. Kopi menjadi sarana untuk mengenalkan kerja petani, relasi manusia dengan alam, serta nilai keberlanjutan yang kerap luput dari perhatian konsumen.

Di tingkat hulu, sebagian besar petani kopi tergabung dalam kelompok tani sebagai wadah kelembagaan berbasis komunitas. Kelompok tani dibentuk atas dasar kesamaan kepentingan, kondisi sosial ekonomi, ketersediaan sumber daya, serta kesamaan komoditas yang diusahakan. Melalui wadah ini, petani berupaya meningkatkan kapasitas, berbagi pengalaman, dan mengembangkan usaha tani secara berkelanjutan. Umumnya, petani menggarap lahan kopi seluas satu hingga dua hektare dengan status lahan berupa lahan garapan melalui sistem bagi hasil. Skala usaha yang relatif kecil ini membuat ketahanan petani sangat bergantung pada efisiensi, pengetahuan, dan kemampuan beradaptasi.

Anggota Kelompok Tani Desa Pucaksari

Namun, potensi besar tersebut tidak selalu berbanding lurus dengan keberlanjutan. Di tengah derasnya arus informasi digital, petani kopi justru menghadapi tantangan baru dalam mengelola pengetahuan. Informasi tentang budi daya kopi tersedia melimpah di internet, tetapi tidak selalu relevan dengan kondisi lokal. Pemilahan informasi menjadi persoalan tersendiri (2). Informasi daring kerap hadir tanpa konteks, tanpa penyesuaian terhadap kondisi agroklimat, kapasitas petani, maupun tradisi lokal, sehingga berpotensi menimbulkan kebingungan dan inefisiensi praktik (4–6).

Dalam keseharian, pengetahuan budi daya kopi masih sangat bergantung pada pengalaman segelintir petani senior. Transfer pengetahuan berlangsung secara lisan dan berbasis praktik langsung di kebun (4–6). Pola ini memang efektif dalam jangka pendek karena kontekstual dan mudah dipahami, tetapi rapuh dalam jangka panjang. Ketika petani senior tidak lagi aktif, atau ketika generasi muda enggan melanjutkan usaha tani, pengetahuan lokal berisiko terputus lintas generasi.

Kondisi ini mencerminkan risiko hilangnya pengetahuan kunci yang selama ini menopang praktik budi daya kopi. Pengetahuan yang seharusnya menjadi aset bersama komunitas justru terperangkap dalam ingatan individu (4). Di sisi lain, motivasi untuk mengumpulkan dan mendokumentasikan pengetahuan eksplisit masih relatif rendah (9,10). Aktivitas pencatatan kerap dipersepsikan sebagai beban tambahan, bukan sebagai investasi jangka panjang bagi keberlanjutan usaha tani.

Akibatnya, pengetahuan lebih banyak berhenti sebagai pengetahuan implisit yang melekat pada pengalaman personal petani. Diskusi informal dan praktik lapangan memang penting, tetapi tidak cukup untuk menjamin keberlanjutan. Tanpa pengelolaan informasi yang terstruktur, proses belajar harus terus diulang dari awal, kesalahan yang sama berpotensi terulang, dan pembelajaran kolektif sulit terbentuk.

Persoalan ini diperparah oleh belum tersedianya sistem pengelolaan pengetahuan yang sistematis dan mudah diakses (5). Aktivitas produksi, panen, dan pascapanen masih dijalankan berdasarkan kebiasaan. Ketika petani membutuhkan kembali informasi teknis, misalnya teknik sambung pucuk atau pengendalian hama, pengetahuan itu sering sulit dilacak. Tanpa memori kolektif, pengetahuan mudah hilang, padahal nilainya sangat strategis bagi keberlanjutan produksi.

Teknik Sambung Pucuk Kopi Yang Masih Bersifat Tacit Knowledge Dan Jarang Didokumentasikan

Tantangan pengelolaan pengetahuan ini berjalan beriringan dengan persoalan pemasaran (7,8). Banyak kopi Robusta lokal belum dikenal secara optimal dibandingkan kopi dari wilayah lain yang lebih dahulu membangun citra. Rendahnya tingkat pengenalan berdampak pada terbatasnya minat beli konsumen. Padahal, dari sisi kualitas dan cerita produksi, kopi-kopi tersebut kerap tidak kalah menarik.

Di sinilah pentingnya knowledge sharing, yakni proses berbagi pengetahuan, pengalaman, dan keterampilan agar tidak berhenti pada satu individu, melainkan menjadi aset bersama komunitas. Dalam konteks petani kopi, knowledge sharing menjadi jembatan antara pengalaman lapangan, pembelajaran kolektif, dan keberlanjutan usaha tani. Proses ini semakin kuat ketika pengetahuan implisit ditransformasikan menjadi pengetahuan eksplisit, yaitu pengetahuan yang terdokumentasi dalam bentuk catatan budi daya, panduan teknis, foto, video, atau arsip digital yang mudah dipelajari dan dibagikan lintas generasi.

Pada saat yang sama, penguatan pemasaran melalui strategi komunikasi digital menjadi kebutuhan yang tidak terpisahkan. Konsumen tidak hanya mencari kopi, tetapi juga cerita. Mereka ingin tahu bagaimana kopi ditanam, siapa yang menanamnya, dan nilai apa yang dijaga di balik setiap proses produksi (1,2). Konten yang informatif dan autentik mampu membangun kepercayaan sekaligus kedekatan emosional (7,8).

Pada akhirnya, secangkir kopi yang kita nikmati setiap hari menyimpan lebih dari sekadar rasa. Ia memuat pengetahuan, pengalaman, dan kerja panjang para petani. Ketika pengetahuan itu dikelola, dibagikan, dan dikomunikasikan dengan baik, kopi tidak lagi sekadar komoditas, melainkan medium yang menjaga masa depan petani, konsumen, dan keberlanjutan itu sendiri.

Daftar Pustaka

1.       Pasek IK, Lina NPM, Sumetri NW, Siwantara IW, Sukarta IW. Promoting Green Human Resources Management to Business Model Innovation in SMEs. Proc Int Conf Appl Sci Technol Soc Sci 2022 (iCAST-SS 2022). 2022;282–7.

2.        Suryaniadi SM, Lina NPM, Priyana IPO. Pelatihan Pasca Panen untuk Meningkatkan Kualitas Citarasa Kopi Robusta di Desa Pucaksari, Buleleng. Bhakti Persada. 2023;9(1):51–8.

3.        Pasek IK, Lina NPM, Siwantara IW, Sumetri NW, Sukarta IW. Pengaruh Green Human Resource Management (GHRM) Terhadap Inovasi Produk Dan Proses pada Industri Kecil Menengah Kopi di Indonesia. J Bisnis dan Kewirausahaan. 2022;18(3):271–82.

4.        Almanza OM, Rafael J, Cisneros A. Towards a knowledge management system for the strengthening ofcoffee production: A case study in the Panama Canal Basin, Panamá Oeste province. Green Technol Sustain [Internet]. 2024;2(1):100056. Available from: https://doi.org/10.1016/j.grets.2023.100056

5.        Buitendag A; Hattingh F. A Smart Agricultural Knowledge Management Framework To Support Emergent Farmers In Developmental Settings. Interdiscip J Information, Knowledge, Manag. 2024;19.

6.        Nugroho Imam Setyo et al. Pendampingan Regenerasi Petani Milenial, Digitalisasi Pertanian Dan Produksi Pupuk Berkelanjutan Berbasis Sumber Daya Lokal Untuk Kesejahteraan Dan Kemandirian Petani Desa Wagir Kidul. Ganesha J Pengabdi Masy. 2025;5(1):54–64.

7.        Dewi KC, Ciptayani PI, Lina PM, Yudistira IBPS. Modeling Ontology for Knowledge Based Buyer Persona Expert System. In: 2024 International Conference on Artificial Intelligence, Blockchain, Cloud Computing, and Data Analytics (ICoABCD). 2024. p. 155–60.

8.        Dewi KC, Ciptayani PI, Lina NPM, Yudistira I. Feasibility Study of Buyer Persona Expert System Using a Combination of Segmenting , Targeting , Positioning ( STP ) and Persona Models [Internet]. Vol. 2024. Atlantis Press International BV; 2024. Available from: http://dx.doi.org/10.2991/978-94-6463-622-2_93

9.        Lina NPM; Boonyasana K. Fostering Intrinsic Motivation: The Role Of Sdt And Tam Theory In Shaping Behavioral Intentions For Sustainable Recruitment. 2024;4(2):85–95.

10.      Azizah A, Arsawan IWE, Lina NPM, Kazancoglu Y, Koval V, Abdullah N. Modelling eco-friendly behaviour towards environmental performance: a proposition approach. IOP Conf Ser Earth Environ Sci. 2024;1429(1).

Penulis: Ni Putu Maha Lina
Editor: Adnyana Ole

Tags: kopikopi balipertanian
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kata-Kata Penenang Pak Wayan Westa

Next Post

Music is a Universal Language that Unites

Ni Putu Maha Lina

Ni Putu Maha Lina

Penulis adalah Dosen Jurusan Administrasi Bisnis Politeknik Negeri Bali

Related Posts

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails
Next Post
Music is a Universal Language that Unites

Music is a Universal Language that Unites

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co