24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Melankolia di Akhir Kanda | Cerpen Galuh F Putra

Galuh F Putra by Galuh F Putra
February 8, 2026
in Cerpen
Melankolia di Akhir Kanda | Cerpen Galuh F Putra

Ilustrasi tatkala.co | Canva

SITA menyandarkan pipinya pada telapak tangan, membiarkan jari-jarinya bergerak lembut menyentuh kulit wajahnya yang masih hangat dari sentuhan sore hari. Di balik jendela istana, Sungai Gangga mengalir seperti nada melankolis yang tak pernah selesai dimainkan. Air itu mengalir terus, membawa segala yang pernah terjadi ke dalam pelukannya yang dalam dan gelap.

Rama masih sibuk di ruang persidangan. Seperti biasanya. Seperti selalu.

Sita menutup matanya dan membayangkan dirinya berdiri di tepi sungai itu, kaki telanjang menginjak pasir yang dingin, dengan jubah putih yang bergerak seperti ingatan yang tak bisa dipegang. Ia telah hamil tiga bulan Rama sudah tahu tetapi dia belum bisa memberitahu suaminya tentang hal yang paling ingin dia lakukan. Ingin sekali berlari ke sungai dan menyelami diri dalam-dalam, meninggalkan semua yang pernah salah, semua yang pernah membuatnya merasa tidak bersih.

Pernah ada waktu ketika Rama memandangnya dengan mata yang penuh bintang. Pernah ada waktu ketika dia adalah satu-satunya raja di dunianya, bukan seorang raja yang memimpin kerajaan.

Sekarang?

Sekarang dia adalah beban yang dipikul dengan hati-hati, seperti mangkuk kristal yang mudah pecah, dipegang erat-erat agar tidak jatuh namun terasa seperti siapa saja bisa menjatuhkannya kapan saja.

Saat Rama memasuki kamar, cahaya malam telah mengubah warna setiap benda menjadi nuansa biru yang sedih. Istri-isteri mendahului raja, kebiasaan yang telah menjadi ritual. Sita berdiri, membungkuk, menunggu suaminya untuk berbicara terlebih dahulu.

“Sita,” suaranya tidak seperti biasanya. Lebih ringan. Seolah dia sedang membawa barang pecah-belah dalam pikirannya juga.

“Ya, Tuan?”

Rama mendekatinya, meraih tangannya. Sentuhan itu masih hangat, masih lembut, namun Sita bisa merasakan sesuatu yang telah berubah entah pada kulit Rama atau pada kulit dirinya sendiri, dia tidak bisa menentukan. Mungkin keduanya pernah berjumpa dengan kedinginan yang sama.

“Aku ingin berbicara denganmu tentang hal-hal yang aku dengar dari rakyat,” kata Rama, dan Sita merasa dadanya kempes sedikit. Dia sudah tahu apa yang akan dikatakan. Rumor selalu terbang lebih cepat daripada burung, dan kepercayaan selalu lebih rapuh daripada benang sutra.

Sita menunggu. Dia sangat pandai menunggu sekarang. Menunggu adalah satu-satunya hal yang benar-benar dia kuasai.

“Mereka berkata bahwa menerima dirimu kembali adalah tindakan yang tidak bijaksana,” kata Rama dengan pelan, seperti setiap kata-kata itu menyakiti lidahnya sendiri saat keluar. “Mereka berkata bahwa mungkin Rahwana telah membuat dirimu tidak lagi murni di mata mereka.”

Sita menutup mata. Di kegelapan itu, dia bisa melihat bayangan Rama yang dulunya lelaki yang memandangnya seperti dia adalah satu-satunya hal yang benar-benar masih utuh dalam dunia yang pecah-pecah. Lelaki itu hilang sekarang. Dia telah ditarik kembali oleh rakyatnya, dan rakyat itu lebih kuat daripada cinta.

Seringkali orang mengatakan bahwa wanita adalah cerminan. Mereka tidak pernah mengatakan bahwa cerminan itu bisa pecah, bahkan setelah bayangan di dalamnya diperbaharui dengan gemilang.

“Aku mengerti, Tuan,” bisik Sita.

“Besok,” lanjut Rama, dan suaranya sekarang terdengar seperti seseorang yang telah membuat keputusan yang akan membuatnya kehilangan separuh jiwanya, “Besok aku akan membawamu ke Sungai Gangga, seperti yang kamu minta. Aku akan memenuhi harapanmu itu dulu. Sebelum… sebelum aku harus melakukan hal yang lain.”

Sita tahu apa maksud Rama. Dia pernah membaca mata suaminya dengan lancar seperti membaca doa. Pengasingan. Itu kata yang tidak diucapkan namun terdengar jelas dalam setiap napas.

Malam itu, Sita tidak bisa tidur. Dia berbaring di sebelah Rama, mendengarkan napasnya yang tidak teratur. Apakah dia juga terjaga? Apakah mereka berdua sedang terjaga bersama dalam kegelapan, berdekatan namun terpisah oleh jurang yang terlalu dalam untuk dilampaui?

Sita mengangkat tangannya dan menyentuh wajah Rama dengan sangat lembut, jari-jarinya menelusuri garis-garis yang telah bertambah di wajahnya sejak mereka terpisah. Garis-garis itu seperti peta dari semua tempat yang telah dilalui ketidakbahagiaan. Dia ingin menghapusnya. Dia ingin memutar waktu kembali ke saat ketika keduanya masih percaya bahwa cinta adalah satu-satunya yang diperlukan untuk tetap utuh.

“Maafkan aku,” bisik Rama dalam gelap, dan Sita tidak tahu apakah dia sedang terjaga atau berbicara dalam mimpi.

“Untuk apa, Tuan?” tanya Sita.

“Untuk semuanya. Untuk tidak cukup kuat untuk melawan mereka. Untuk mencintaimu namun tetap harus meninggalkanmu. Untuk menjadi seorang raja yang tidak bisa menjadi suami yang sempurna.”

Sita ingin berkata bahwa kesempurnaan adalah khayalan anak-anak, bahwa dia tidak pernah mengharapkan suami yang sempurna hanya suami yang tetap ada. Namun kata-kata itu terasa terlalu berat untuk diangkat dalam kegelapan. Jadi dia hanya diam, tangan masih di wajah Rama, merasakan detak jantungnya yang tidak teratur.

Pagi datang seperti perintah yang tidak bisa ditolak.

Mereka pergi ke Sungai Gangga dengan keheningan yang berat. Rama memacu kuda dengan tangan yang ketat pada tali kekang. Sita duduk di belakangnya, meliputi perutnya yang mulai membulat dengan tangan-tangan yang tidak tahu harus pergi ke mana. Angin pagi membawa bau lumpur dan rerumputan yang baru membusuk. Bau hidup dan mati bercampur.

Di tepi sungai, Rama membantu Sita turun. Sentuhan tangannya lembut sekali, seolah dia sedang menangani sesuatu yang jika jatuh akan hilang selamanya.

“Aku akan menunggu di sini,” kata Rama.

Sita berjalan menuju air, kaki-kakinya yang mulus meninggalkan jejak di pasir basah. Air itu dingin, lebih dingin daripada yang pernah dia rasakan sebelumnya. Dia memasuki air perlahan, merasakan setiap gelombang kecil melilit pinggangnya, merangkul perutnya yang memegang kehidupan baru.

Untuk sesaat, dia membayangkan dirinya terus masuk ke dalam air, membiarkan diri tenggelam, membiarkan sungai membawanya ke tempat di mana tidak ada raja, tidak ada rakyat, tidak ada keraguan hanya ketenangan yang utuh.

Namun bayinya menendang. Kecil, lembut, namun pasti. Kehidupan kecil itu mengingatkan Sita bahwa ada yang lebih dari kesedihan mereka, lebih dari kerusakan yang tidak bisa diperbaiki.

Dia kembali ke tepi, di mana Rama menunggu dengan ekspresi yang mengingatkan Sita pada keindahan yang sedang sekarat. Mata lelaki itu penuh dengan cinta dan duka yang tidak bisa dipisahkan lagi, seperti tidak ada lagi jalan untuk kembali.

“Aku mencintaimu,” kata Sita, dan Rama menangis untuk pertama kalinya sejak dia diangkat menjadi raja.

“Aku tahu,” jawabnya. “Itulah yang membuat segalanya menjadi lebih menyakitkan.”

Sita pergi ke hutan asrama Resi Walimiki tiga hari kemudian, dengan jubah putih yang sama, kaki yang sama, tapi jiwa yang berbeda. Di dalam perutnya, bayinya tumbuh, membawa warisan cinta yang tidak bisa diselamatkan oleh kekuatan apa pun. Rama tinggal di istana, menjalani tugasnya sebagai raja, namun setiap malam dia berdiri di tepi terusan, menatap ke arah hutan, bertanya-tanya apakah istrinya masih memikirkannya seperti dia memikirkan Sita, setiap detik, setiap napas.

Cinta itu seperti Sungai Gangga. Ia terus mengalir, membawa segala yang telah lalu, tidak pernah kembali, namun tidak pernah sepenuhnya hilang. Ia hanya berubah bentuk, menjadi semprotan, menjadi kabut, menjadi ingatan yang menyentuh kulit pada malam yang sepi.

Dan kadang-kadang, ketika bulan bersembunyi di balik kabut, Rama bisa merasakan sentuhan itu masih hangat. [T]

Penulis: Galuh F Putra
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Karst Mawardi | Aktual, Residu, Multiple Exposure

Next Post

Sekar dan Tujuh Cahaya | Cerita Anak

Galuh F Putra

Galuh F Putra

Dosen di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Udayana. Menyelesaikan pendidikan doktornya di Prodi Ilmu-Ilmu Humaniora Universitas Gadjah Mada.

Related Posts

Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
April 12, 2026
0
Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra...

Read moreDetails

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

by Polanco S. Achri
April 11, 2026
0
Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

buat A.Hayya, Pak Saeful, dan Teater AwalGarut, juga seorang perempuan I. Ibu memandang jauh; sepasang matanya menggambarkan suatu yang tak...

Read moreDetails

Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
April 10, 2026
0
Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

- Katakan dia akan hidup lagi! - Dia sudah mati! - Dia akan hidup! Bangunkan dia. - Jangan, jangan, dia...

Read moreDetails

Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

by I Nyoman Sutarjana
April 5, 2026
0
Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

ASTRA menarik tangan ibunya, yang sedang jongkok. Sampah plastik yang dikumpulkan ibunya ia sisihkan. Ibu melepas cengkraman tangan Astra berusaha...

Read moreDetails

Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
April 4, 2026
0
Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

SETIAP tahun, orang-orang kota mendadak berubah menjadi makhluk spiritual. Mereka yang biasanya mengeluh soal panas, debu, tetangga berisik, dan harga...

Read moreDetails

Tari Sunari | Cerpen Gede Aries Pidrawan

by Gede Aries Pidrawan
March 28, 2026
0
Tari Sunari | Cerpen Gede Aries Pidrawan

LUH Sunari merasa tubuhnya berat. Semua yang tampak di sekelilingnya hitam. Pekat. Saat itulah sebuah bayang mendekat. Bayangan itu begitu...

Read moreDetails

Aku Tak Bisa Menulis Cerpen  |  Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
March 27, 2026
0
Aku Tak Bisa Menulis Cerpen  |  Cerpen Dede Putra Wiguna

AKU menatap layar laptop yang kosong. Luas, sunyi, dan membuat kepala terasa berdenyut. Kursor berkedip di pojok kiri atas dokumen,...

Read moreDetails

Umpan | Cerpen Putri Harya

by Putri Harya
March 22, 2026
0
Umpan | Cerpen Putri Harya

Aku tidak merasa melanggar norma. Aku juga tidak sedang melakukan dosa. Aku hanya mengusahakan takdirku dengan meniru apa yang sering...

Read moreDetails

Lebaran Tahun Ini | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
March 21, 2026
0
Lebaran Tahun Ini | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

DI kepalaku masih terngiang-ngiang oleh frasa nomina sayur bening dan lele goreng yang keluar dari mulut Darmuji. Sepertinya, itu merupakan...

Read moreDetails

Setahun Cinta di Kota Tua Karengan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
March 15, 2026
0
Setahun Cinta di Kota Tua Karengan | Cerpen Ahmad Sihabudin

Di ujung timur Jawa, ada sebuah kota kecil bernama Karengan, tempat yang seperti berhenti pada usia tuanya. Jalanan sempit berlapis...

Read moreDetails
Next Post
Sekar dan Tujuh Cahaya | Cerita Anak

Sekar dan Tujuh Cahaya | Cerita Anak

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co