23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Melankolia di Akhir Kanda | Cerpen Galuh F Putra

Galuh F Putra by Galuh F Putra
February 8, 2026
in Cerpen
Melankolia di Akhir Kanda | Cerpen Galuh F Putra

Ilustrasi tatkala.co | Canva

SITA menyandarkan pipinya pada telapak tangan, membiarkan jari-jarinya bergerak lembut menyentuh kulit wajahnya yang masih hangat dari sentuhan sore hari. Di balik jendela istana, Sungai Gangga mengalir seperti nada melankolis yang tak pernah selesai dimainkan. Air itu mengalir terus, membawa segala yang pernah terjadi ke dalam pelukannya yang dalam dan gelap.

Rama masih sibuk di ruang persidangan. Seperti biasanya. Seperti selalu.

Sita menutup matanya dan membayangkan dirinya berdiri di tepi sungai itu, kaki telanjang menginjak pasir yang dingin, dengan jubah putih yang bergerak seperti ingatan yang tak bisa dipegang. Ia telah hamil tiga bulan Rama sudah tahu tetapi dia belum bisa memberitahu suaminya tentang hal yang paling ingin dia lakukan. Ingin sekali berlari ke sungai dan menyelami diri dalam-dalam, meninggalkan semua yang pernah salah, semua yang pernah membuatnya merasa tidak bersih.

Pernah ada waktu ketika Rama memandangnya dengan mata yang penuh bintang. Pernah ada waktu ketika dia adalah satu-satunya raja di dunianya, bukan seorang raja yang memimpin kerajaan.

Sekarang?

Sekarang dia adalah beban yang dipikul dengan hati-hati, seperti mangkuk kristal yang mudah pecah, dipegang erat-erat agar tidak jatuh namun terasa seperti siapa saja bisa menjatuhkannya kapan saja.

Saat Rama memasuki kamar, cahaya malam telah mengubah warna setiap benda menjadi nuansa biru yang sedih. Istri-isteri mendahului raja, kebiasaan yang telah menjadi ritual. Sita berdiri, membungkuk, menunggu suaminya untuk berbicara terlebih dahulu.

“Sita,” suaranya tidak seperti biasanya. Lebih ringan. Seolah dia sedang membawa barang pecah-belah dalam pikirannya juga.

“Ya, Tuan?”

Rama mendekatinya, meraih tangannya. Sentuhan itu masih hangat, masih lembut, namun Sita bisa merasakan sesuatu yang telah berubah entah pada kulit Rama atau pada kulit dirinya sendiri, dia tidak bisa menentukan. Mungkin keduanya pernah berjumpa dengan kedinginan yang sama.

“Aku ingin berbicara denganmu tentang hal-hal yang aku dengar dari rakyat,” kata Rama, dan Sita merasa dadanya kempes sedikit. Dia sudah tahu apa yang akan dikatakan. Rumor selalu terbang lebih cepat daripada burung, dan kepercayaan selalu lebih rapuh daripada benang sutra.

Sita menunggu. Dia sangat pandai menunggu sekarang. Menunggu adalah satu-satunya hal yang benar-benar dia kuasai.

“Mereka berkata bahwa menerima dirimu kembali adalah tindakan yang tidak bijaksana,” kata Rama dengan pelan, seperti setiap kata-kata itu menyakiti lidahnya sendiri saat keluar. “Mereka berkata bahwa mungkin Rahwana telah membuat dirimu tidak lagi murni di mata mereka.”

Sita menutup mata. Di kegelapan itu, dia bisa melihat bayangan Rama yang dulunya lelaki yang memandangnya seperti dia adalah satu-satunya hal yang benar-benar masih utuh dalam dunia yang pecah-pecah. Lelaki itu hilang sekarang. Dia telah ditarik kembali oleh rakyatnya, dan rakyat itu lebih kuat daripada cinta.

Seringkali orang mengatakan bahwa wanita adalah cerminan. Mereka tidak pernah mengatakan bahwa cerminan itu bisa pecah, bahkan setelah bayangan di dalamnya diperbaharui dengan gemilang.

“Aku mengerti, Tuan,” bisik Sita.

“Besok,” lanjut Rama, dan suaranya sekarang terdengar seperti seseorang yang telah membuat keputusan yang akan membuatnya kehilangan separuh jiwanya, “Besok aku akan membawamu ke Sungai Gangga, seperti yang kamu minta. Aku akan memenuhi harapanmu itu dulu. Sebelum… sebelum aku harus melakukan hal yang lain.”

Sita tahu apa maksud Rama. Dia pernah membaca mata suaminya dengan lancar seperti membaca doa. Pengasingan. Itu kata yang tidak diucapkan namun terdengar jelas dalam setiap napas.

Malam itu, Sita tidak bisa tidur. Dia berbaring di sebelah Rama, mendengarkan napasnya yang tidak teratur. Apakah dia juga terjaga? Apakah mereka berdua sedang terjaga bersama dalam kegelapan, berdekatan namun terpisah oleh jurang yang terlalu dalam untuk dilampaui?

Sita mengangkat tangannya dan menyentuh wajah Rama dengan sangat lembut, jari-jarinya menelusuri garis-garis yang telah bertambah di wajahnya sejak mereka terpisah. Garis-garis itu seperti peta dari semua tempat yang telah dilalui ketidakbahagiaan. Dia ingin menghapusnya. Dia ingin memutar waktu kembali ke saat ketika keduanya masih percaya bahwa cinta adalah satu-satunya yang diperlukan untuk tetap utuh.

“Maafkan aku,” bisik Rama dalam gelap, dan Sita tidak tahu apakah dia sedang terjaga atau berbicara dalam mimpi.

“Untuk apa, Tuan?” tanya Sita.

“Untuk semuanya. Untuk tidak cukup kuat untuk melawan mereka. Untuk mencintaimu namun tetap harus meninggalkanmu. Untuk menjadi seorang raja yang tidak bisa menjadi suami yang sempurna.”

Sita ingin berkata bahwa kesempurnaan adalah khayalan anak-anak, bahwa dia tidak pernah mengharapkan suami yang sempurna hanya suami yang tetap ada. Namun kata-kata itu terasa terlalu berat untuk diangkat dalam kegelapan. Jadi dia hanya diam, tangan masih di wajah Rama, merasakan detak jantungnya yang tidak teratur.

Pagi datang seperti perintah yang tidak bisa ditolak.

Mereka pergi ke Sungai Gangga dengan keheningan yang berat. Rama memacu kuda dengan tangan yang ketat pada tali kekang. Sita duduk di belakangnya, meliputi perutnya yang mulai membulat dengan tangan-tangan yang tidak tahu harus pergi ke mana. Angin pagi membawa bau lumpur dan rerumputan yang baru membusuk. Bau hidup dan mati bercampur.

Di tepi sungai, Rama membantu Sita turun. Sentuhan tangannya lembut sekali, seolah dia sedang menangani sesuatu yang jika jatuh akan hilang selamanya.

“Aku akan menunggu di sini,” kata Rama.

Sita berjalan menuju air, kaki-kakinya yang mulus meninggalkan jejak di pasir basah. Air itu dingin, lebih dingin daripada yang pernah dia rasakan sebelumnya. Dia memasuki air perlahan, merasakan setiap gelombang kecil melilit pinggangnya, merangkul perutnya yang memegang kehidupan baru.

Untuk sesaat, dia membayangkan dirinya terus masuk ke dalam air, membiarkan diri tenggelam, membiarkan sungai membawanya ke tempat di mana tidak ada raja, tidak ada rakyat, tidak ada keraguan hanya ketenangan yang utuh.

Namun bayinya menendang. Kecil, lembut, namun pasti. Kehidupan kecil itu mengingatkan Sita bahwa ada yang lebih dari kesedihan mereka, lebih dari kerusakan yang tidak bisa diperbaiki.

Dia kembali ke tepi, di mana Rama menunggu dengan ekspresi yang mengingatkan Sita pada keindahan yang sedang sekarat. Mata lelaki itu penuh dengan cinta dan duka yang tidak bisa dipisahkan lagi, seperti tidak ada lagi jalan untuk kembali.

“Aku mencintaimu,” kata Sita, dan Rama menangis untuk pertama kalinya sejak dia diangkat menjadi raja.

“Aku tahu,” jawabnya. “Itulah yang membuat segalanya menjadi lebih menyakitkan.”

Sita pergi ke hutan asrama Resi Walimiki tiga hari kemudian, dengan jubah putih yang sama, kaki yang sama, tapi jiwa yang berbeda. Di dalam perutnya, bayinya tumbuh, membawa warisan cinta yang tidak bisa diselamatkan oleh kekuatan apa pun. Rama tinggal di istana, menjalani tugasnya sebagai raja, namun setiap malam dia berdiri di tepi terusan, menatap ke arah hutan, bertanya-tanya apakah istrinya masih memikirkannya seperti dia memikirkan Sita, setiap detik, setiap napas.

Cinta itu seperti Sungai Gangga. Ia terus mengalir, membawa segala yang telah lalu, tidak pernah kembali, namun tidak pernah sepenuhnya hilang. Ia hanya berubah bentuk, menjadi semprotan, menjadi kabut, menjadi ingatan yang menyentuh kulit pada malam yang sepi.

Dan kadang-kadang, ketika bulan bersembunyi di balik kabut, Rama bisa merasakan sentuhan itu masih hangat. [T]

Penulis: Galuh F Putra
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Karst Mawardi | Aktual, Residu, Multiple Exposure

Next Post

Sekar dan Tujuh Cahaya | Cerita Anak

Galuh F Putra

Galuh F Putra

Dosen di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Udayana. Menyelesaikan pendidikan doktornya di Prodi Ilmu-Ilmu Humaniora Universitas Gadjah Mada.

Related Posts

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails

Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

by Hidayatul Ulum
May 30, 2026
0
Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

PRIA-PRIA yang kau semayamkan di awan kita, tak satu pun Mas kenal—awalnya. Setelah Mas membaca jejak hatimu yang kau tinggalkan...

Read moreDetails

Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
May 29, 2026
0
Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

JAM menunjukkan pukul 05.15 pagi ketika kaki renta Pak Syukur mulai menyusuri gang sempit menuju pinggir jalan raya. Embun belum...

Read moreDetails
Next Post
Sekar dan Tujuh Cahaya | Cerita Anak

Sekar dan Tujuh Cahaya | Cerita Anak

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026

DRAMA gong ternyata masih memiliki tempat di hati masyarakat Bali. Hal itu terlihat saat Sanggar Seni Nong Nong Kling dari...

by Nyoman Budarsana
June 23, 2026
Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara
Budaya

Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara

SINGARAJA – TATKALA.CO | Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra mendukung terselenggaranya Singaraja Literary Festival (SLF) ke-4 tahun 2026 yang diadakan...

by tatkala
June 23, 2026
Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng
Khas

Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng

PETANI garam dan musim panas ibarat dua sejoli yang saling merindukan. Setelah berbulan-bulan berpisah oleh hujan, mendung, dan gelombang yang...

by Nyoman Nadiana
June 23, 2026
’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co