3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pandemi dan Gangguan Kecemasan Gelombang Kedua

dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ by dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ
June 12, 2020
in Esai
Ketidakpastian Pandemi: Dukungan Psikososial Vs Teori Konspirasi

Ilustrasi tatkala.co | Nana Partha

Ada hal yang sampai sekarang sebenarnya tidak ingin saya bahas tetapi keadaan ini masih perlu mendapatkan perhatian yaitu pandemi Covid-19. Pandangan menarik yang saya lihat, tampaknya pandemi Covid-19 ini akan berlangsung lama dan mengubah cukup banyak tatanan kehidupan kita. Termasuk mungkin saja akan mengubah jenis dan konten gangguan mental yang terjadi di sekitar kita. Saya seperti juga Anda juga akan menjadi saksi atas perubahan-perubahan ini.

Dari sisi kesehatan mental, sebenarnya tanpa pandemi ini pun Indonesia khususnya Bali mempunyai pekerjaan rumah yang cukup banyak tersisa. Di Indonesia untuk gangguan mental emosional diatas usia 18 tahun terjadi pada 6% penduduk dan PR-nya adalah 91% di antaranya belum mendapatkan pertolongan.

Jadi kalau ada 10 orang belum tentu ada 1 orang depresi yang mendapatkan pertolongan. Untuk gangguan jiwa berat atau skizofrenia, provinsi Bali saat ini masih menjadi peringkat pertama di Indonesia persentase penduduk yang mengalami skizofrenia, yaitu 11 per 1000 dari rumah tangga warga Bali mengalami skizofrenia. Tentu saja sebagian diantaranya tidak diobati, dan masih ada yang terpasung.

Data diatas ada tanpa peran pandemi Covid-19. Bagaimana setelah itu? Keadaan terkini, dari beberapa hal yang diungkapkan teman sejawat saya jumlah gangguan mental yang kini meningkat pesat adalah hal-hal yang menyangkut gangguan kecemasan, gangguan kecanduan dan gangguan depresi. Angka yang terlihat gangguan-gangguan tersebut meningkat hingga dua kali lipat bahkan lebih.

Tipe Gangguan Kecemasan

Saya ingin membahas soal kecemasan yang sebelumnya pada kolom Jumat Mantap Jiwa (Jumanji) beberapa kali saya singgung. Mari kita lihat dari tipe-tipe sumber kecemasan. Ada dua tipe gangguan kecemasan. Pertama, Precrastination. Gangguan ini terjadi pada orang-orang yang terlalu cepat bertindak atau mengambil keputusan, sembrono. Hanya melihat sebagian data kemudian mengambil kesimpulan. Sering membuat kesalahan, sering cepat berubah dalam mengambil keputusan dan hal itu menyebabkan pengambilan keputusan yang terlalu dini.

Misalnya ada orang punya deadline satu bulan tapi dari sekarang sudah dikerjakan bahkan tiga minggu sebelumnya sudah selesai. Kelihatannya memang rajin, tetapi itu sebenarnya ingin menuntaskan kecemasannya dengan lebih cepat. Daripada saya cemas sebulan lebih baik saya kerjakan lebih awal, itu yang ada dalam pikirannya.

Bagaimana hal seperti ini jika dikaitkan dengan pandemi Covid-19? Biasanya ketika awal mendapatkan informasi tentang pandemi, bahayanya dia sudah mengisolasi dirinya atau tinggal di rumah bahkan sebelum ada anjuran pemerintah. Dan ketika keadaan sudah agak membaik tetapi belum benar-benar baik, dia juga sudah menyelesaikan isolasi dirinya di rumah. Paling cepat bekerja dan sebagainya.

Ciri lainnya, sangat terpengaruh dari pemberitaan media yang dia baca. Biasa terpengaruh oleh teori-teori konspirasi sehingga cenderung terlalu lebay tapi kadang terlalu abai. Hal ini sering saya temui pada klien di tempat praktik saya, gangguan kecemasan sering terjadi pada orang-orang seperti ini. Sangat reaktif terhadap penberitaan dan sangat reaktif terhadap perubahan.

Sekarang ini yang perlu mendapat perhatian kita bersama adalah soal ancaman the second wave atau gelombang kedua Covid-19. Kalau kita katakan sementara minggu lalu atau dua minggu lalu pandemi cukup mereda dan kita membicarakan new normal, kinikok kelihatannya cukup menaik dan beberapa hari yang lalu justru terjadi peningkatan tertinggi selama pandemi di Indonesia.

Pada orang-orang tipe ini akan segera mengalami kecemasan dan jika tidak ditangani akan mengalami gangguan kecemasan. Tipe gangguan kecemasan kedua yakni Procrastination. Itu kebalikan dari tipe pertama, justru selalu menunda-nunda. Jadi kalau ada tugas sering dikerjakan pada last minute atau menit-menit terakhir. Sangat perfeksionis, hasilnya harus bagus, dikerjakan tetapi hasil pekerjaan itu tidak dikumpul-kumpul. Selalu menunda, berharap ketika last minute ada energi yang luar biasa untuk menyelesaikan hal itu. Merasa semuanya ada dalam kendali dia.

Kita tahu bahwa dalam kehidupan kita ada hal-hal berada di dalam kendali kita dan ada yang berada di luar kendali kita, misalnya wabah ini. Bagaimana orang lain bersikap terhadap wabah adalah di luar kendali kita. Bagaimana keputusan pemerintah mengatur diri kita itu adalah juga di luar kendali kita.

Orang-orang pada tipe ini akan sangat terganggu dengan apa pun yang pemerintah lakukan. Sangat terganggu atas respon orang lain menghadapi pandemi. Tentu saja, sangat telat menghadapi perubahan. Ada juga klien yang saya temui mengalami gangguan kecemasan di mana dari awal sampai sekarang masih mengisolasi diri. Jadi ketika hendak berkonsultasi dengan saya masih secara daring (online) dan sampai saat strict melakukan isolasi diri di rumah.

Dan, sangat terpengaruh oleh pemberitaan, melihat atau membaca kenaikan orang yang positif terjangkit virus Corona. Jadi selalu update tentang hal itu. Ini tentu bisa menyebabkan kecemasan yang berujung pada gangguan kecemasan.

Gangguan yang Meningkat

Dua sumber tadi menyebabkan angka gangguan kecemasan di masyarakat meningkat. Sayangnya, tidak banyak yang mencari pertolongan sehingga gangguan kecemasannya akan memburuk. Ada juga tipe gangguan mental yang akhir-akhir ini sangat meningkat yaitu kecanduan, baik kecanduan zat berupa alkohol. Selain itu peningkatan kecanduan nikotin, dan juga psikotropika atau narkotika.

Juga kecanduan perilaku, misalnya kecanduan internet dan kecanduan game online karena di masa pandemi kehidupan sosial dibatasi jadi akhirnya kecanduan yang muncul berhubungan dengan teknologi.

Sebenarnya kecanduan ada hubungannya dengan kecemasan. Ketika kita mengalami kecemasan, kita berusaha mengobati diri kita sendiri dengan minum alkohol yang eksesif dengan jumlah yang luar biasa dan tergantung mood kita. Bahayanya adalah ketika kita mengalami kecanduan seperti ini menyebabkan paranoid, kita makin curiga dan memilih informasi hanya yang kita inginkan saja.

Makanya tak heran orang-orang seperti ini sangat mempercayai teori konspirasi, yaitu bagaimana dia tidak percaya bahwa pandemi Covid-19 adalah sesuatu yang nyata sehingga mengabaikan data-data ilmu pengetahuan. Kemudian merangkai rangkaian pikiran-pikirannya sendiri dan sering mencetuskan hal-hal emosional di media sosial. Hal ini harus kita sikapi bersama karena kalau tidak maka angka gangguan kecemasan akan makin tinggi.

Kemarin saya bertemu klien seperti ini yang mengatakan bahwa konspirasi terkait Covid-19 sudah semakin besar, karena kini orang-orang yang bicara di YouTube dan media sosial tentang teori konspirasi di-take down oleh penyelenggara media sosial.

Menurut dia hal itu makin menguatkan adanya konspirasi. Padahal sebenarnya kalau dipikir dengan perspektif lain hal itu adalah usaha yang sangat baik untuk membatasi informasi yang tidak benar, sehingga masyarakat dapat merespon dengan baik ketika menghadapi pandemi.

Ilmu Pengetahuan Sejati

Tapi apapun itu, sebenarnya pandemi ini bukan soal kita takut atau tidak takut, bukan soal cemas atau tidak cemas. Orang cemas pun bisa mengalami Covid-19, dan orang yang tidak cemas pun bisa mengalaminya. Tetapi bagaimana kita fokus pada hal-hal yang bisa kita kendalikan, dan bisa pasrah atau memaklumi untuk hal-hal yang tidak bisa kita kendalikan.

Seperti ilmu pengetahuan, ilmu pengetahuan yang sejati harus kita percayai karena dia tidak mengenal apapun pandangan politik kita, apapun agama kita, ataupun latar belakang kita. Ketika kita bicara soal ilmu pengetahuan sejati, itu terjadi tanpa melihat latar belakang kita.

Sama halnya dengan gravitasi. Anda boleh berbeda agama, berbeda ras, berbeda latar belakang atau berbeda pandangan politik, tapi karena gravitasi itu bersifat nyata kita semua mengalami gravitasi. Entah kita percaya atau tidak percaya akan gravitasi, kita tetap mengalami gravitasi. Hal yang sama berlaku pada pandemi Covid-19. Mudah-mudahan the second wave tak seburuk yang kita bayangkan dan kita semua tetap berada dalam keadaan mantap jiwa dan raga. [T]

Tags: kesehatankesehatan jiwapandemi
Share115TweetSendShareSend
Previous Post

Kegelisahan, Pengalaman Empirik, dan Kecintaan Terhadap “Natah Palekadan” – Pengantar Buku Orang Desa Bicara Desa

Next Post

Nusa Penida, Kecamatan Rasa Kepulauan – Istimewakah?

dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ

dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ

Psikiater di Klinik Utama Sudirman Medical Center (SMC) Denpasar, Founder Rumah Berdaya, Pegiat kesehatan jiwa di Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI) simpul Bali dan Komunitas Teman Baik

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Nusa Penida, Kecamatan Rasa Kepulauan – Istimewakah?

Nusa Penida, Kecamatan Rasa Kepulauan - Istimewakah?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co