3 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Nusa Penida, Kecamatan Rasa Kepulauan – Istimewakah?

I Ketut Serawan by I Ketut Serawan
June 12, 2020
in Opini
Nusa Penida, Kecamatan Rasa Kepulauan – Istimewakah?

Kapal Roro Nusa Jaya Abadi di Pelabuhan Penyeberangan Nusa Penida. Sumber foto: Wak laba

Selain Nusa Penida (NP), rasanya tidak ada lagi distrik (kecamatan) yang berbentuk kepulauan di Provinsi Bali. NP merupakan satu-satunya kecamatan di Kabupaten Klungkung (termasuk di Bali) yang berbentuk kepulauan. Distrik Nusa Penida terdiri atas 3 gugus pulau yaitu Pulau Nusa Penida (luas 191,4625 km2), Pulau Nusa Lembongan (8,6875 km2), dan Pulau Nusa Ceningan (2,6875 km2). Apakah istimewa distrik berbentuk kepulauan?

Menurut saya, pertanyaan ini memerlukan fakta, pemahaman dan rasa yang jujur. Itu pun tidak menjamin keseragaman perspektif. Celah-celah perbedaan (variasi) cara pandang  tetap terbuka baik antara sesama masyarakat NP, apalagi dengan masyarakat luar. Karena itu, saya mencoba memulai melihat realitas status kepulauan NP dari kacamata sejarah yaitu zaman kerajaan Klungkung.

Zaman kerajaan Klungkung, status kepulauan NP justru dipandang potensial sebagai wilayah pengasingan yaitu pembuangan orang bermasalah dari Klungkung, Gianyar dan Bangli (Sedimen, 1984). Kepulauan NP dianggap memiliki kelebihan karena jauh dari Bali daratan, arus lautnya deras, dan bergelombang tinggi sehingga sulit bagi para napi meloloskan diri. Alasan lainnya ialah kondisi geografi kepulauan NP yang tandus dan musim kemarau yang relatif panjang. Di tambah lagi stereotip bahwa NP menjadi pusat ilmu hitam zaman itu.

Dengan kata lain, kerajaan Klungkung memandang bahwa status kepulauan NP merupakan kenyataan diri yang justru merugikan. Kelautan tidak dipandang sebagai potensi yang mesti diberdayakan. Sebaliknya, kelautan dipandang sebagai jarak atau penghalang dinamika dan kemajuan. Maklum pula, moda transportasi laut zaman dulu sangat sederhana. Hanya jukung kecil dan digerakkan dengan tenaga manusia (didayung plus angin melalui layar).

Ya, wajar saja kepulauan NP dipandang sebagai ikon keterasingan, terisolasi dan terbelakang. Pertimbangan inilah yang menyebabkan kerajaan Klungkung memanfaatkan wilayah NP sebagai tempat pembuangan—meskipun kebijakan ini sesungguhnya kental berselubung misi akulturasi yaitu pengikisan karakter ke-nusa-an orang NP. Namun, di permukaan justru konotasi pembuangan berhembus lebih kuat—menguatkan citra negatif NP yang terisolir sebelumnya. Faktor inilah yang mungkin menyebabkan beberapa literasi barat memberikan predikat bandit island kepada NP.

Kerajaan Klungkung berdiri setelah Gusti Agung Jambe (putra Dalem Di Made) mengalahkan pemberontakan I Gusti Agung Maruti. I Gusti Agung Jambe tidak mau bertahta di Gelgel, tetapi memilih tempat pemerintahan baru di Semarapura yaitu Puri Agung Klungkung pada tahun 1686 (Wikipedia.org). 

Kerajaan Klungkung berakhir dengan perang Puputan Klungkung tahun 1908. Kerajaan Klungkung melakukan perlawanan dengan cara puputan dalam mempertahankan eksistensinya sebagai kerajaan yang merdeka terhadap meluasnya praktik politik kolonial Belanda di nusantara.

Pada 25 Juli 1929, pemerintah Hindia Belanda merestorasi kepemimpinan kerajaan Klungkung dengan mengangkat Dewa Agung Oka Geg sebagai Regent. Selanjutnya, setelah kemerdekaan Republik Indonesia (1950), Klungkung hanya berstatus sebagai sebuah kabupaten di dalam pemerintahan Provinsi Bali. Tahun 1977, Tjokorda Gde Agung menjadi bupati pertama Klungkung (Wikipedia.org).

Pasca kemerdekaan RI, status kepulauan yang disandang oleh NP tetap menjadi batu sandungan. Masuk menjadi bagian dari empat kecamatan di Kabupaten Klungkung, kemajuan masyarakat NP tampaknya “tersandera” oleh realitas kepulauan. Dibandingkan dengan kecamatan lainnya, pembangunan infrastruktur di NP mungkin lebih minim. Dinamika pembangunan bergerak cukup lambat.

Bisa jadi Pemda Klungkung berkilah karena faktor kepulauan membutuhkan biaya operasional pembangunan yang tinggi. Di sisi lain, PAD Klungkung masih cukup rendah. Umumnya, BPS Provinsi Bali mencatat bahwa pendapatan Klungkung bertengger di kisaran ranking 3 terbawah dari 9 kabupaten/ kota di Bali. Mungkin inilah yang menyebabkan “jalan utama” di NP hanya berukuran kurang lebih 4-5 m, dengan aspal kasar hingga puluhan tahun. Belum lagi, pengadaan air bersih (PDAM), layanan kesehatan dan penerangan (listrik) yang masih dirasakan kurang maksimal dan belum merata. Di tempat saya, layanan air PDAM dan listrik baru masuk sekitar tahun 200-an.

Di samping itu, sikap dan cara pandang masyarakat Klungkung daratan juga setidaknya berpengaruh terhadap kebijakan Pemda Klungkung terhadap NP. Anggapan sisa-sisa preseden buruk (terhadap NP) zaman kerajaan oleh beberapa masyarakat Klungkung belum habis seratus persen. Ada kelompok masyarakat tertentu (tidak semua) seolah-olah merasa lebih tinggi dengan masyarakat NP. Bahkan, konon indikasi ini kadangkala merembes ke ranah tatanan game politik yang berujung pada kebijakan berbau deskriminatif.

Seiring berjalannya waktu, kesetaraan masyarakat perlahan-lahan mencair. Namun, potensi kelautan NP tidak disentuh dan digarap secara maksimal oleh Pemda Klungkung. Kepulauan tetap menjadi alangan atau hambatan. Kelautan adalah persoalan jarak yang merepotkan pemerintah dalam memajukan masyarakatnya. Seolah-olah kepulauan menjadi semacam legitimasi bagi pemerintah untuk mengabaikan kesejahteraan masyarakatnya.

Potensi Kelautan (kepulauan) Nusa Penida

Di penghujung tahun 80-an, budidaya rumput laut mulai berkembang di pesisir NP. Fenomena ini mematahkan bahwa laut NP tidak hanya sebagai ladang mencari ikan bagi nelayan saja, tetapi juga ladang bertani rumput laut. Sepanjang tahun 90-an, rumput laut mengalami kejayaan—mendongkrak perekonomian masyarakat NP (terutama daerah pesisir) dengan cukup signifikan. Setahu saya, segala akvitas bertani rumput laut dilakukan secara swadaya oleh masyarakat, tanpa campur tangan dari pemerintah daerah. Sayangnya, di akhir-akhir tahun 200-an, rumput laut mati total, kecuali di Pulau Nusa Lembongan dan Ceningan.

Sekitar tahun 2015, potensi kepulauan NP (baca: Pulau NP) mulai mendapat perhatian karena terdampak pariwisata. Sentuhan pariwisata ini diawali dengan promosi kepulauan NP yang gencar dari pihak Pemda Klungkung, pihak swasta, dan pelaku wisata di berbagai media.

Sementara itu, Pulau Nusa Lembongan jauh sebelumnya terdampak pariwisata. Seingat saya, tahun 1988 saya pernah menginap di daerah Jungutbatu. Pada tahun itu, saya sudah melihat beberapa wisatawan asing berseliweran di pantai. Akan tetapi, tidak seramai belakangan ini (sebelum pandemi covid-19).

Dalam konteks pariwisata, realitas menjadi kepulauan menyebabkan NP tampak istimewa (memiliki kelebihan). Pariwisata di kepulauan NP berkembang dengan cepat. Hanya membutuhkan waktu kurang lebih 4-5 tahun, kunjungan wisatawan ke NP terus menanjak hingga menembus angka ratusan ribu per harinya.Pada tahun 2018 misalnya, jumlah realisasi kunjungan wisatawan mencapai 253.472 orang per hari dari target semula 343.979 (radarbali.jawapost.com).

Lalu, apa yang menjadi daya tarik (magnet) kepulauan NP? Keindahan alam. Saya menyebutnya dengan istilah “whisky geografi” yaitu pesona geografi (alam) yang indah dan khas kepulauan. NP memiliki laut, teluk, tebing, dan pantai yang tersohor dan “memabukkan” (baca: menarik) para wisatawan. Misalnya, Crystal Bay, Broken Beach, Thousand Island, Kelingking Beach dan lain sebagainya.

Tak tanggung-tanggung, Kelingking Beach masuk dalam daftar ranking ke-9 pantai tercantik di asia versi CNN Travel, dan ranking ke-19 pantai tercantik sedunia versi TripAdvisor (Kompas.com). Tidak hanya itu, kepulauan NP juga sempat menyandang predikat peringkat 1 dunia sebagai destinasi backpacker 2020 versi Hostelworld.

Efek pariwisata seolah-olah menggali dan mengangkat potensi kepulauan NP. Status kepulauan yang dimiliki oleh NP menjadi semacam keistimewaan. NP memiliki pantai, tebing, teluk dan terutama pemandangan bawah laut yang indah. Karena itu, NP mempunyai beberapa spot wisata bawah laut yang diburu oleh para diving atau snorkeling. Beberapa tempat favorit itu misalnya Manta Bay, Budha Tempel, Crystal Bay Beach, Gamat Bay, Mangrove Point dan lain sebagainya. Perairan NP memanjakan mata para diving dan snorkeling dengan keindahan terumbu karangnya, variasi ikan karang termasuk ikan besar seperti ikan pari manta raksasa. Bahkan, beberapa titik perairan NP juga dihuni oleh ikan purba yaitu mola-mola.

Potensi kepulauan inilah yang memancing beragam tipekal wisatawan mengunjungi NP. Sebab, medan-medan rekreasi menjadi lebih beragam dan variatif. Belum lagi, wisata air terjun (mata air), bukit dan wisata spiritual (pura-pura). Sekali lagi, dalam konteks terimbas pariwisata, sesungguhnya NP adalah istimewa. Kita dapat mengatakan bahwa “hanya dalam satu wilayah kecamatan” tetapi mampu mengakomodir berbagai tipekal objek wisata (objek pantai, spot wisata bawah laut, tebing, bukit, air terjun, wisata spiritual).

Kompleksitas tipekal rekreasi itu juga secara otomatis melebarkan lapangan pekerjaan terutama di sektor pariwisata. Tidak cukup memberdayakan masyarakat ahli menyetir, pemandu wisata (guide), waiter/ waitress, dan lain-lainnya. Akan tetapi, terbuka juga misalnya menjadi kapten boat dan instruktur diving/ snorkeling.

Artinya, jika potensi kepulauan (kelautan) NP diberdayakan secara lebih maksimal, tidak menutup kemungkinan NP akan berkembang menjadi distrik yang spesial—melebihi kecamatan-kecamatan lain di Bali daratan. Namun dengan catatan, hambatan-hambatan sebagai status kepulauan harus bisa diminimalisasi terutama oleh peran pemerintah.

Selama ini, hambatan-hambatan kelautan itu menjadi persoalan klasik bagi NP. Contoh paling prinsip misalnya masalah transportasi laut dan pelabuhan modern (untuk kapal besar). Hingga kini, hanya tersedia satu pelabuhan modern dan satu kapal roro (milik Pemda Klungkung). Fasilitas ini masih dianggap kurang representatif dalam mengantisipasi keringanan biaya hidup di NP. Selain kapalnya lumayan kecil, trip perjalanan terbatas karena Klungkung daratan belum memiliki pelabuhan tersendiri. Untuk sementara, meminjam pelabuhan di Padang Bay, Karangasem.

Di samping itu, dampak pelabuhan dan kapal modern tersebut juga dirasakan tidak merata oleh masyarakat NP. Karena berada di Pulau NP, masyarakat yang tinggal di Nusa Lembongan dan Ceningan tidak merasakan dampak pelabuhan-kapal roro ini secara langsung.

Tanpa disadari, pembangungan infrastruktur NP lebih cenderung difokuskan di daerah Pulau NP. Pelabuhan modern, listrik, sarana kesehatan dan lain-lain (termasuk kantor camat, polsek) berada di Pulau NP. Ya, dilematis memang. Mungkin Pemda Klungkung berpandangan bahwa mayoritas penduduk NP mendiami Pulau NP. Sekali lagi, ini salah satu kasus klasik kepulauan dan biaya pembangunan—tetapi harus dicarikan solusinya.

Jika pernah berhembus rumor NP dimekarkan menjadi 2 kecamatan, bisa jadi sumbernya berasal dari pembangunan yang kurang merata tersebut. Sebab, memang sepatutnya pembangunan di NP harus dinikmati secara merata oleh semua masyarakat, tak memandang mereka tinggal di wilayah mana.

Karena itu, isu pelabuhan segitiga emas, yang gencar diwacanakan oleh Pemda Klungkung dewasa ini, mungkin hendak menjawab (solusi) atas kekurangmerataan pembangunan di NP. Hal ini mungkin dirasakan oleh masyarakat terutama yang tinggal di Nusa Lembongan, Jungutbatu dan Ceningan.

Pelabuhan segitiga emas yang digadang-gadang itu meliputi Dermaga Sanur (Denpasar Selatan), Dermaga Sampalan (Nusa Penida, Klungkung), dan Dermaga Bias Munjul Ceningan (Nusa Penida, Klungkung). Semula, pelabuhan segitiga emas meliputi Dermaga Pesinggahan (Desa Pesinggahan, Kecamatan Dawan, Klungkung), Dermaga Sampalan (Desa Sampalan, Kecamatan Nusa Penida, Klungkung), dan Dermaga Bias Munjul Ceningan (Desa Lembongan, Kecamatan Nusa Penida, Klungkung). Namun, dalam perkembangannya, Dermaga Pesinggahan tidak masuk dalam pelabuhan yang dikawal oleh pemerintah pusat.

Rencananya, pembangunan pelabuhan Sampalan akan dibangun dua lantai dengan luas area kolam 9 hektar dan kapasitas sandar 10 fast boat. Estimasi biayanya mencapai Rp 98 miliar, sedangkan pelabuhan Bias Munjul akan dibangun terkoneksi antara fast boat dan kapal Ro-ro, dengan estimasi biaya sebesar Rp 138 miliar. Menurut Bupati Suwirta, pelabuhan segitiga emas ditarget sudah selesai periode 2022-2023 (www.nusabali.com).

Saat ini, Detail Engineering Design (DED) Dermaga Sampalan sudah siap. Sedangkan, DED untuk Dermaga Bias Munjul Ceningan sedang dalam pembuatan. Menurut Sekda Klungkung, I Gede Putu Winastra, penetapan lokasi sudah ada rekomendasi oleh Bupati. Tinggal menunggu rekomendasi Gubernur Bali untuk selanjutnya diajukan ke Kementerian Perhubungan (www.nusabali.com).

Jika pelabuhan segitiga emas itu betul-betul terwujud, saya berkeyakinan bahwa masalah klasik kepulauan (kelautan) NP dapat diretas secara perlahan-lahan. Artinya, harapan mencapai kehidupan yang lebih maju sangat mungkin diraih oleh masyarakat NP secara merata. Pelabuhan tersebut tidak sekadar melancarkan arus penyeberangan, tetapi potensial untuk mendatangkan pendapatan. Pun akan dapat menggali potensi kelautan NP dengan lebih optimal. Dalam konteks ini, pelabuhan dengan sendirinya menjadi kelebihan yang dimiliki oleh NP sebagai kecamatan yang berbentuk kepulauan.   [T]

______

BACA: Tulisan lain tentang Nusa Penida dari penulis Ketut Serawan

______

Share379TweetSendShareSend
Previous Post

Pandemi dan Gangguan Kecemasan Gelombang Kedua

Next Post

Covid-19: Sebuah Pandemi, Sebuah Cerita [2] – Herd Immunity dan New Normal

I Ketut Serawan

I Ketut Serawan

I Ketut Serawan, S.Pd. adalah guru bahasa dan sastra Indonesia di SMP Cipta Dharma Denpasar. Lahir pada tanggal 15 April 1979 di Desa Sakti, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung. Pendidikan SD dan SMP di Nusa Penida., sedangkan SMA di Semarapura (SMAN 1 Semarapura, tamat tahun 1998). Kemudian, melanjutkan kuliah ke STIKP Singaraja jurusan Prodi Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah (selesai tahun 2003). Saat ini tinggal di Batubulan, Gianyar

Related Posts

Insolvensi dan Kewajiban Debitur Pailit

by I Made Pria Dharsana
July 31, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PUTUSAN Mahkamah Konstitusi Nomor 181/PUU-XXIII/2025 menjadi salah satu penegasan penting dalam perkembangan hukum kepailitan di Indonesia. Melalui putusan tersebut, Mahkamah...

Read moreDetails

Ketika Warisan Baru Dianggap Sah Setelah Dicatat Negara —Membongkar Distorsi Administrasi dalam Peralihan Hak Waris di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
July 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Kematian seseorang tidak hanya mengakhiri eksistensi biologis, tetapi sekaligus memicu konsekuensi hukum yang kompleks dalam sistem hukum perdata. Salah satu...

Read moreDetails

Potensi Ekonomi yang Menguap di Titik 0 Singaraja

by I Gede Sena Putrawan
July 20, 2026
0
Membangun Buleleng, Membangun Ingatan Sejarah dan Membangun Masa Depan Kota dari Kawasan Titik Nol Singaraja

PADA awal tahun 2026, sebuah proyek bernilai fantastis menjadi bahan perbincangan hangat di kalangan masyarakat Buleleng. Nama proyek itu sebenarnya...

Read moreDetails

Lelang Bank dan Kepastian Hukum: Antara Peluang Investasi dan Risiko Lapangan

by I Made Pria Dharsana
July 15, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

BARANG lelang bank sering dipandang sebagai peluang mendapatkan aset murah dengan potensi keuntungan besar. Rumah, tanah, ruko, kendaraan, hingga aset...

Read moreDetails

AJB atau Pelepasan Hak: Menguji Rasionalitas Perolehan Tanah oleh Perseroan Terbatas di Era KKPR dan Lahan Sawah yang Dilindungi

by I Made Pria Dharsana
July 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERDEBATAN mengenai mekanisme perolehan tanah oleh Perseroan Terbatas (PT) sesungguhnya tidak lagi hanya berkisar pada pilihan antara Akta Jual Beli...

Read moreDetails

Notaris di Tengah Gelombang Disrupsi: Antara Kepastian Hukum, Iklim Investasi, dan Ancaman Kriminalisasi

by I Made Pria Dharsana
July 1, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

NOTARIS pada hakikatnya merupakan salah satu pilar utama dalam menjaga kepastian hukum, khususnya dalam lalu lintas perdata, investasi, pembentukan badan...

Read moreDetails

Topeng Politik dan Ujian Demokrasi Indonesia

by I Made Pria Dharsana
June 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan...

Read moreDetails

Penangguhan Tahanan dan Ujian Kesetaraan Hukum

by Ruben Cornelius Siagian
June 24, 2026
0
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi

PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam...

Read moreDetails

Sertifikat Ganda dan Pertanyaan yang Tak Kunjung Terjawab  —Dokumen Negara Bisa Dipalsukan, Menutup Celah Mafia Tanah

by I Made Pria Dharsana
June 19, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DI tengah modernisasi layanan pertanahan dan penerapan sertifikat elektronik, kasus sertifikat palsu dan sertifikat ganda masih terus bermunculan. Fenomena ini...

Read moreDetails

Klausula ADR Pada PPJB Belum Lunas dan Akta Jual Beli PPAT

by I Made Pria Dharsana
June 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

APA yang paling dikhawatirkan oleh para pebisnis atau penanam modal di Indonesia selama era  reformasi bukan pada keamanan akan tetapi...

Read moreDetails
Next Post
Covid-19: Sebuah Pandemi, Sebuah Cerita [1]

Covid-19: Sebuah Pandemi, Sebuah Cerita [2] - Herd Immunity dan New Normal

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co