2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Covid-19: Sebuah Pandemi, Sebuah Cerita [2] – Herd Immunity dan New Normal

Rsi Suwardana by Rsi Suwardana
June 13, 2020
in Esai
Covid-19: Sebuah Pandemi, Sebuah Cerita [1]

Pandemi Covid-19 membuat teori herd immunity banyak didiskusikan oleh akademisi medis juga non-medis, disebarluaskan oleh jurnalis dan medianya, kemudian dikonsumsi oleh warganet sembari mengisi waktu senggangnya kala #dirumahsaja.

Saking hebohnya, bapak saya sampai bertanya apa itu herd immunity; apakah benar konsep itu menegaskan sikap abai pemerintah terhadap warga negaranya. Lewat sambungan telepon, beliau juga melontarkan istilah trendi seperti new normal dan R0 (beliau menyebutnya r-nol, bukan r-nought). Bapak tidak memiliki latar belakang bidang kesehatan, hanya menghabiskan banyak waktu luangnya untuk scrolling aplikasi Facebook, membaca pesan terusan grup Whatsapp, atau kadang menonton Youtube.

Sependek pengetahuan saya, herd immunity terdiri dari dua kata yakni: herd (komunitas), dan immunity (daya tahan). Herd immunity menjelaskan bahwa angka penularan suatu penyakit dapat ditekan serendah-rendahnya apabila sejumlah anggota komunitas telah memiliki daya tahan terhadap penyakit yang dimaksudkan. Kata kuncinya adalah persentase daya tahan anggota komunitas.

Berapa banyak jumlah anggota komunitas yang diperlukan?. Tergantung seberapa tinggi angka penularan penyakit (R0) yang dimaksudkan. Formula untuk menghitung ambang batas persentase herd immunity (H) adalah sebagai berikut:

Ambil contoh Covid-19. Rangkuman beberapa penelitian internasional menyebutkan bahwa rata-rata nilai R0 Covid-19 adalah 3.28. Untuk lebih memudahkan ilustrasi, anggaplah nilai R0 Covid-19 adalah 3. Artinya, tiap satu orang pasien Covid-19 dapat menulari tiga orang lainnya. Jika kita memasukan nilai 3 sebagai R0, maka nilai (H) menjadi 2/3 atau 67%.

Interpretasi dari hasil tersebut adalah: konsep herd immunity akan tercapai apabila dua pertiga masyarakat telah memiliki daya tahan terhadap Covid-19. Perlu dicatat bahwasannya saya bukanlah pakar statistika atau ahli kesehatan masyarakat, hanya lulusan dokter umum sahaja. Besar harapan saya artikel ini akan dibaca dan dikoreksi oleh para cendekiawan terkait.

Kemudian, mari kita kaitkan pada realita dan diskursus publik: apakah kebijakan new normal adalah salah satu implementasi herd immunity?.

Mengutip dari laman Kompas (https://www.kompas.com/tren/read/2020/05/27/193200965/infografik–panduan-protokol-kesehatan-pencegahan-covid-19-untuk-sambut-new), secara harfiah new normal dapat dijelaskan sebagai perubahan perilaku untuk tetap menjalankan aktivitas normal namun ditambah menerapkan protokol kesehatan guna mencegah terjadinya penularan Covid-19.

Meski ditambahkan embel-embel “guna mencegah terjadinya penularan Covid-19”, membiarkan masyarakat beraktivitas normal tentu saja memperbesar risiko penularannya jika dibandingkan dengan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Dengan kata lain, new normal berpotensi meningkatkan kasus infeksi SARS-CoV-2 pada masyarakat.

Beberapa opini dari akademisi menyiratkan penerapan new normal sebagai herd immunity. Meningkatnya kasus infeksi SARS-CoV-2 berarti meningkatnya persentase masyarakat yang akan memiliki daya tahan setelah terinfeksi virus tersebut. Ini adalah pendapat netral, dan jamak digaungkan oleh akun-akun tenaga kesehatan yang aktif di media sosial.

Lain halnya dengan pandangan para partisan politik. Bagi kaum pemuja pemerintah, new normal adalah keniscayaan. Penerapannya akan menimbulkan herd immunity bagi masyarakat yang telah terinfeksi. Mereka juga menambahkan bahwa new normal adalah kebijakan untuk berdamai dengan SARS-CoV-2, demi menyelamatkan ekonomi masyarakat.

Di sisi lain, gembar-gembor para oposan yang mengartikan new normal sebagai new abnormal karena mengindikasikan sikap abai pemerintah terhadap kesehatan warga negaranya. Bagi kelompok oposisi, new abnormal adalah sebuah kenistaan. Meskipun herd immunity dapat tercapai, akan banyak masyarakat Indonesia yang mengidap Covid-19, sebagian kecil diantaranya bisa saja meninggal dunia. Ekonomi bisa dipulihkan secara perlahan, tetapi orang yang sudah meninggal tidak bisa dihidupkan kembali dengan cara apapun.

Benarkah new normal adalah herd immunity?.

Frase herd immunity pertama kali tercantum dalam publikasi W.W.C Topley dan G.S Wilson tahun 1923 yang berjudul The Spread of Bacterial Infection: the Problem of Herd-Immunity. Topley dan Wilson meneliti tentang penyebaran infeksi dan angka kematian pada mencit yang terpapar bakteri Bacillus enteritidis. Jenis bakteri ini dilaporkan beberapa kali mengontaminasi bahan makanan pada awal abad ke-20.

Topley dan Wilson membagi mencit menjadi dua kelompok besar, yakni mencit dengan vaksinasi B. enteritidis dan tanpa vaksinasi. Dari penelitian ini didapatkan bahwa tidak terjadi penyebaran infeksi pada kandang yang seluruhnya beranggotakan mencit dengan vaksinasi sebelumnya. Angka kematian pada kandang yang berisi campuran mencit dengan-dan-tanpa vaksinasi lebih rendah jika dibandingkan dengan kandang yang hanya berisikan mencit tanpa vaksinasi, yakni 53.3% dibandingkan 70%. Kesimpulannya adalah vaksinasi B. enteritidis berpotensi memutus rantai penularan dan menekan angka kematian akibat infeksi bakteri terkait.

Berdasarkan kajian historis di atas, menurut hemat saya, menggunakan istilah herd immunity tanpa mengaitkannya dengan vaksin seperti membuat kopi tanpa menyeduhnya dengan air panas. Apa yang kita bisa seruput?, serbuk kopi yang kering dan pahit itu?.

Kata kunci dari herd immunity adalah persentase daya tahan anggota komunitas. Membiarkan masyarakat terinfeksi oleh SARS-CoV-2 secara alamiah, belum tentu bisa menghasilkan daya tahan yang diharapkan. Poin ini sekaligus menjadi koreksi dari opini-opini ilmiah yang mengaitkan antara new normal dan herd immunity. 

Infeksi alamiah suatu penyakit akan merangsang aktivasi sistem imunitas. Salah satu komponen sistem imun adalah antibodi, yakni protein yang dihasilkan oleh sel limfosit B (salah satu sel imun).

Sebuah penelitian dari Amerika Serikat menyebutkan bahwa infeksi SARS-CoV-2 merangsang pembentukan antibodi spesifik. Antibodi berfungsi untuk mengenali bagian tertentu dari virus SARS-CoV-2, kemudian mengaktifkan sistem imun tubuh untuk menghalau infeksi virus ini. Logikanya, adanya antibodi spesifik memungkinkan orang menjadi ‘kebal’ terhadap paparan infeksi berulang SARS-CoV-2.

Secara teori memang demikian, meski sebenarnya tidak sesederhana itu. Antibodi bisa memberikan perlindungan maksimal jika konsentrasi (titer) dalam darah mencukupi. Belum ada penelitian yang menyimpulkan konsentrasi minimal antibodi yang diperlukan untuk menimbulkan kekebalan terhadap infeksi berulang SARS-CoV-2.

Penelitian yang sama juga menyebutkan bahwa titer antibodi memiliki korelasi positif dengan lama gejala dan derajat keparahan penyakit. Artinya, titer antibodi yang tinggi cenderung terjadi pada pasien Covid-19 dengan derajat keparahan sedang atau berat, sehingga memerlukan perawatan di rumah sakit. Penelitian ini tidak mengikutsertakan pasien Covid-19 tanpa gejala atau asimtompatis.

Jadi, belum jelas apakah pasien yang memiliki gejala ringan atau tanpa gejala dapat menghasilkan konsentrasi antibodi yang adekuat untuk menimbulkan kekebalan di kemudian hari. Apakah kita harus membiarkan pasien Covid-19 jatuh dalam tingkat keparahan sedang atau berat agar dapat menimbulkan kekebalan?. Tentu saja tidak.

Selain itu, perlindungan yang diberikan karena adanya antibodi bisa saja bersifat sementara. Para ilmuwan belum bisa mengatakan secara pasti berapa lama antibodi terhadap SARS-CoV-2 bisa bertahan di dalam darah. Implikasinya adalah: jika konsentrasi antibodi menghilang dalam kurun waktu tertentu, maka daya tahan terhadap SARS-CoV-2 hanya berlangsung selama tenggat waktu tersebut.

Terakhir, sel-sel pertahanan tubuh itu ibarat prajurit tempur. Bisa saja si prajurit akan menghianati jenderalnya, bukan?. Adanya antibodi dapat memicu reaksi pertahanan tubuh yang berlebihan, sehingga pada akhirnya justru memperparah kondisi pasien Covid-19. Dunia kedokteran menyebut fenomena ini dengan istilah cytokine storm (badai sitokin). Banyak publikasi dan kajian ilmiah yang menyebutkan bahwa badai sitokin adalah salah satu penyebab utama kematian pada kasus Covid-19.

Seluruh teori dan istilah di atas pastinya akan sangat susah dicerna oleh kalangan awam. Dunia medis pun masih terus memutakhirkan konsep dan alur penanganan pandemi Covid-19. Satu konsep berhasil dibuktikan, satu lainnya bisa saja tumbang karena tidak ditunjang data-data penelitian yang valid.

Kesimpulannya, menurut opini saya, penerapan new normal bukanlah implementasi dari herd immunity—setidaknya sampai benar-benar terbukti bahwa infeksi alamiah SARS-CoV-2 bisa menghasilkan kekebalan, atau program vaksinasi masuk dalam penerapan new normal.

Para peneliti di seluruh dunia tengah berusaha untuk membuat vaksin SARS-CoV-2 dalam tempo waktu yang sesingkat-singkatnya. Proses ini biasanya memakan waktu hingga bertahun-tahun. Namun, dengan kemajuan teknologi biologi molekular dan bioinformatika, diharapkan vaksin SARS-CoV-2 bisa diciptakan selang 1-2 tahun kedepan.

Aktivitas ekonomi tentu tidak bisa berhenti sepenuhnya hingga dua tahun kedepan, hanya untuk menunggu tersedianya vaksin SARS-CoV-2. Apakah new normal adalah sebuah keniscayaan atau kenistaan?. Diperlukan kolaborasi pemikiran lintas disiplin ilmu untuk dapat menemukan titik temu antara aspek kesehatan dan ketahanan ekonomi masyarakat. Yang jelas, masalah sebesar pandemi Covid-19 tidak akan selesai hanya karena puja-puji atau caci-maki terhadap berbagai kebijakan pemerintah.

Daftar bacaan:

  • Formula untuk menghitung ambang batas herd immunity dikutip dari makalah Paul E.M Fine, yang berjudul Herd Immunity: History, Theory, Practice (1993). https://academic.oup.com/epirev/article-abstract/15/2/265/440430?redirectedFrom=fulltext
  • Makalah dari W.W.C Topley dan G.S Wilson (1923) dapat diakses pada tautan berikut ini: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2167341/
  • Penelitian dari Amerika Serikat tentang antibodi pasca infeksi SARS-CoV-2 dilakukan oleh Davide F. Robbiani, dkk (2020). Publikasinya belum melalui fase tinjauan sejawat (peer-reviewed). Meskipun demikian, sebuah critical appraisal telah dilakukan oleh akademisi dari Universitas Oxford untuk menguji keabsahan penelitian ini.  Penelitian dan appraisal-nya dapat dibaca pada tautan berikut ini: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC7263513/ – https://www.immunology.ox.ac.uk/covid-19/covid-19-immunology-literature-reviews/convergent-antibody-responses-to-sars-cov-2-infection-in-convalescent-individuals
  • Tulisan ini merupakan lanjutan dari artikel sebelumnya, yakni pendahuluan terkait pandemi Covid-19. Artikel tersebut dapat dibaca melalui tautan berikut: https://tatkala.co/2020/06/08/covid-19-sebuah-pandemi-sebuah-cerita-1/.

Tags: covid 19Herd ImmunityNew Normalpandemi
Share68TweetSendShareSend
Previous Post

Nusa Penida, Kecamatan Rasa Kepulauan – Istimewakah?

Next Post

Geger Kampung, Kebiasaan Indekos dan Usaha Bangun Pagi

Rsi Suwardana

Rsi Suwardana

Lulus sebagai dokter umum tahun 2018, memiliki ketertarikan dalam bidang mikrobiologi

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Sanggah Setengah Jadi dan Ritual yang Kembali Sederhana

Geger Kampung, Kebiasaan Indekos dan Usaha Bangun Pagi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co