3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Covid-19: Sebuah Pandemi, Sebuah Cerita [2] – Herd Immunity dan New Normal

Rsi Suwardana by Rsi Suwardana
June 13, 2020
in Esai
Covid-19: Sebuah Pandemi, Sebuah Cerita [1]

Pandemi Covid-19 membuat teori herd immunity banyak didiskusikan oleh akademisi medis juga non-medis, disebarluaskan oleh jurnalis dan medianya, kemudian dikonsumsi oleh warganet sembari mengisi waktu senggangnya kala #dirumahsaja.

Saking hebohnya, bapak saya sampai bertanya apa itu herd immunity; apakah benar konsep itu menegaskan sikap abai pemerintah terhadap warga negaranya. Lewat sambungan telepon, beliau juga melontarkan istilah trendi seperti new normal dan R0 (beliau menyebutnya r-nol, bukan r-nought). Bapak tidak memiliki latar belakang bidang kesehatan, hanya menghabiskan banyak waktu luangnya untuk scrolling aplikasi Facebook, membaca pesan terusan grup Whatsapp, atau kadang menonton Youtube.

Sependek pengetahuan saya, herd immunity terdiri dari dua kata yakni: herd (komunitas), dan immunity (daya tahan). Herd immunity menjelaskan bahwa angka penularan suatu penyakit dapat ditekan serendah-rendahnya apabila sejumlah anggota komunitas telah memiliki daya tahan terhadap penyakit yang dimaksudkan. Kata kuncinya adalah persentase daya tahan anggota komunitas.

Berapa banyak jumlah anggota komunitas yang diperlukan?. Tergantung seberapa tinggi angka penularan penyakit (R0) yang dimaksudkan. Formula untuk menghitung ambang batas persentase herd immunity (H) adalah sebagai berikut:

Ambil contoh Covid-19. Rangkuman beberapa penelitian internasional menyebutkan bahwa rata-rata nilai R0 Covid-19 adalah 3.28. Untuk lebih memudahkan ilustrasi, anggaplah nilai R0 Covid-19 adalah 3. Artinya, tiap satu orang pasien Covid-19 dapat menulari tiga orang lainnya. Jika kita memasukan nilai 3 sebagai R0, maka nilai (H) menjadi 2/3 atau 67%.

Interpretasi dari hasil tersebut adalah: konsep herd immunity akan tercapai apabila dua pertiga masyarakat telah memiliki daya tahan terhadap Covid-19. Perlu dicatat bahwasannya saya bukanlah pakar statistika atau ahli kesehatan masyarakat, hanya lulusan dokter umum sahaja. Besar harapan saya artikel ini akan dibaca dan dikoreksi oleh para cendekiawan terkait.

Kemudian, mari kita kaitkan pada realita dan diskursus publik: apakah kebijakan new normal adalah salah satu implementasi herd immunity?.

Mengutip dari laman Kompas (https://www.kompas.com/tren/read/2020/05/27/193200965/infografik–panduan-protokol-kesehatan-pencegahan-covid-19-untuk-sambut-new), secara harfiah new normal dapat dijelaskan sebagai perubahan perilaku untuk tetap menjalankan aktivitas normal namun ditambah menerapkan protokol kesehatan guna mencegah terjadinya penularan Covid-19.

Meski ditambahkan embel-embel “guna mencegah terjadinya penularan Covid-19”, membiarkan masyarakat beraktivitas normal tentu saja memperbesar risiko penularannya jika dibandingkan dengan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Dengan kata lain, new normal berpotensi meningkatkan kasus infeksi SARS-CoV-2 pada masyarakat.

Beberapa opini dari akademisi menyiratkan penerapan new normal sebagai herd immunity. Meningkatnya kasus infeksi SARS-CoV-2 berarti meningkatnya persentase masyarakat yang akan memiliki daya tahan setelah terinfeksi virus tersebut. Ini adalah pendapat netral, dan jamak digaungkan oleh akun-akun tenaga kesehatan yang aktif di media sosial.

Lain halnya dengan pandangan para partisan politik. Bagi kaum pemuja pemerintah, new normal adalah keniscayaan. Penerapannya akan menimbulkan herd immunity bagi masyarakat yang telah terinfeksi. Mereka juga menambahkan bahwa new normal adalah kebijakan untuk berdamai dengan SARS-CoV-2, demi menyelamatkan ekonomi masyarakat.

Di sisi lain, gembar-gembor para oposan yang mengartikan new normal sebagai new abnormal karena mengindikasikan sikap abai pemerintah terhadap kesehatan warga negaranya. Bagi kelompok oposisi, new abnormal adalah sebuah kenistaan. Meskipun herd immunity dapat tercapai, akan banyak masyarakat Indonesia yang mengidap Covid-19, sebagian kecil diantaranya bisa saja meninggal dunia. Ekonomi bisa dipulihkan secara perlahan, tetapi orang yang sudah meninggal tidak bisa dihidupkan kembali dengan cara apapun.

Benarkah new normal adalah herd immunity?.

Frase herd immunity pertama kali tercantum dalam publikasi W.W.C Topley dan G.S Wilson tahun 1923 yang berjudul The Spread of Bacterial Infection: the Problem of Herd-Immunity. Topley dan Wilson meneliti tentang penyebaran infeksi dan angka kematian pada mencit yang terpapar bakteri Bacillus enteritidis. Jenis bakteri ini dilaporkan beberapa kali mengontaminasi bahan makanan pada awal abad ke-20.

Topley dan Wilson membagi mencit menjadi dua kelompok besar, yakni mencit dengan vaksinasi B. enteritidis dan tanpa vaksinasi. Dari penelitian ini didapatkan bahwa tidak terjadi penyebaran infeksi pada kandang yang seluruhnya beranggotakan mencit dengan vaksinasi sebelumnya. Angka kematian pada kandang yang berisi campuran mencit dengan-dan-tanpa vaksinasi lebih rendah jika dibandingkan dengan kandang yang hanya berisikan mencit tanpa vaksinasi, yakni 53.3% dibandingkan 70%. Kesimpulannya adalah vaksinasi B. enteritidis berpotensi memutus rantai penularan dan menekan angka kematian akibat infeksi bakteri terkait.

Berdasarkan kajian historis di atas, menurut hemat saya, menggunakan istilah herd immunity tanpa mengaitkannya dengan vaksin seperti membuat kopi tanpa menyeduhnya dengan air panas. Apa yang kita bisa seruput?, serbuk kopi yang kering dan pahit itu?.

Kata kunci dari herd immunity adalah persentase daya tahan anggota komunitas. Membiarkan masyarakat terinfeksi oleh SARS-CoV-2 secara alamiah, belum tentu bisa menghasilkan daya tahan yang diharapkan. Poin ini sekaligus menjadi koreksi dari opini-opini ilmiah yang mengaitkan antara new normal dan herd immunity. 

Infeksi alamiah suatu penyakit akan merangsang aktivasi sistem imunitas. Salah satu komponen sistem imun adalah antibodi, yakni protein yang dihasilkan oleh sel limfosit B (salah satu sel imun).

Sebuah penelitian dari Amerika Serikat menyebutkan bahwa infeksi SARS-CoV-2 merangsang pembentukan antibodi spesifik. Antibodi berfungsi untuk mengenali bagian tertentu dari virus SARS-CoV-2, kemudian mengaktifkan sistem imun tubuh untuk menghalau infeksi virus ini. Logikanya, adanya antibodi spesifik memungkinkan orang menjadi ‘kebal’ terhadap paparan infeksi berulang SARS-CoV-2.

Secara teori memang demikian, meski sebenarnya tidak sesederhana itu. Antibodi bisa memberikan perlindungan maksimal jika konsentrasi (titer) dalam darah mencukupi. Belum ada penelitian yang menyimpulkan konsentrasi minimal antibodi yang diperlukan untuk menimbulkan kekebalan terhadap infeksi berulang SARS-CoV-2.

Penelitian yang sama juga menyebutkan bahwa titer antibodi memiliki korelasi positif dengan lama gejala dan derajat keparahan penyakit. Artinya, titer antibodi yang tinggi cenderung terjadi pada pasien Covid-19 dengan derajat keparahan sedang atau berat, sehingga memerlukan perawatan di rumah sakit. Penelitian ini tidak mengikutsertakan pasien Covid-19 tanpa gejala atau asimtompatis.

Jadi, belum jelas apakah pasien yang memiliki gejala ringan atau tanpa gejala dapat menghasilkan konsentrasi antibodi yang adekuat untuk menimbulkan kekebalan di kemudian hari. Apakah kita harus membiarkan pasien Covid-19 jatuh dalam tingkat keparahan sedang atau berat agar dapat menimbulkan kekebalan?. Tentu saja tidak.

Selain itu, perlindungan yang diberikan karena adanya antibodi bisa saja bersifat sementara. Para ilmuwan belum bisa mengatakan secara pasti berapa lama antibodi terhadap SARS-CoV-2 bisa bertahan di dalam darah. Implikasinya adalah: jika konsentrasi antibodi menghilang dalam kurun waktu tertentu, maka daya tahan terhadap SARS-CoV-2 hanya berlangsung selama tenggat waktu tersebut.

Terakhir, sel-sel pertahanan tubuh itu ibarat prajurit tempur. Bisa saja si prajurit akan menghianati jenderalnya, bukan?. Adanya antibodi dapat memicu reaksi pertahanan tubuh yang berlebihan, sehingga pada akhirnya justru memperparah kondisi pasien Covid-19. Dunia kedokteran menyebut fenomena ini dengan istilah cytokine storm (badai sitokin). Banyak publikasi dan kajian ilmiah yang menyebutkan bahwa badai sitokin adalah salah satu penyebab utama kematian pada kasus Covid-19.

Seluruh teori dan istilah di atas pastinya akan sangat susah dicerna oleh kalangan awam. Dunia medis pun masih terus memutakhirkan konsep dan alur penanganan pandemi Covid-19. Satu konsep berhasil dibuktikan, satu lainnya bisa saja tumbang karena tidak ditunjang data-data penelitian yang valid.

Kesimpulannya, menurut opini saya, penerapan new normal bukanlah implementasi dari herd immunity—setidaknya sampai benar-benar terbukti bahwa infeksi alamiah SARS-CoV-2 bisa menghasilkan kekebalan, atau program vaksinasi masuk dalam penerapan new normal.

Para peneliti di seluruh dunia tengah berusaha untuk membuat vaksin SARS-CoV-2 dalam tempo waktu yang sesingkat-singkatnya. Proses ini biasanya memakan waktu hingga bertahun-tahun. Namun, dengan kemajuan teknologi biologi molekular dan bioinformatika, diharapkan vaksin SARS-CoV-2 bisa diciptakan selang 1-2 tahun kedepan.

Aktivitas ekonomi tentu tidak bisa berhenti sepenuhnya hingga dua tahun kedepan, hanya untuk menunggu tersedianya vaksin SARS-CoV-2. Apakah new normal adalah sebuah keniscayaan atau kenistaan?. Diperlukan kolaborasi pemikiran lintas disiplin ilmu untuk dapat menemukan titik temu antara aspek kesehatan dan ketahanan ekonomi masyarakat. Yang jelas, masalah sebesar pandemi Covid-19 tidak akan selesai hanya karena puja-puji atau caci-maki terhadap berbagai kebijakan pemerintah.

Daftar bacaan:

  • Formula untuk menghitung ambang batas herd immunity dikutip dari makalah Paul E.M Fine, yang berjudul Herd Immunity: History, Theory, Practice (1993). https://academic.oup.com/epirev/article-abstract/15/2/265/440430?redirectedFrom=fulltext
  • Makalah dari W.W.C Topley dan G.S Wilson (1923) dapat diakses pada tautan berikut ini: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2167341/
  • Penelitian dari Amerika Serikat tentang antibodi pasca infeksi SARS-CoV-2 dilakukan oleh Davide F. Robbiani, dkk (2020). Publikasinya belum melalui fase tinjauan sejawat (peer-reviewed). Meskipun demikian, sebuah critical appraisal telah dilakukan oleh akademisi dari Universitas Oxford untuk menguji keabsahan penelitian ini.  Penelitian dan appraisal-nya dapat dibaca pada tautan berikut ini: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC7263513/ – https://www.immunology.ox.ac.uk/covid-19/covid-19-immunology-literature-reviews/convergent-antibody-responses-to-sars-cov-2-infection-in-convalescent-individuals
  • Tulisan ini merupakan lanjutan dari artikel sebelumnya, yakni pendahuluan terkait pandemi Covid-19. Artikel tersebut dapat dibaca melalui tautan berikut: https://tatkala.co/2020/06/08/covid-19-sebuah-pandemi-sebuah-cerita-1/.

Tags: covid 19Herd ImmunityNew Normalpandemi
Share68TweetSendShareSend
Previous Post

Nusa Penida, Kecamatan Rasa Kepulauan – Istimewakah?

Next Post

Geger Kampung, Kebiasaan Indekos dan Usaha Bangun Pagi

Rsi Suwardana

Rsi Suwardana

Lulus sebagai dokter umum tahun 2018, memiliki ketertarikan dalam bidang mikrobiologi

Related Posts

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails

Wisata Bahari di Negeri Maritim

by Chusmeru
May 31, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BERUNTUNG Indonesia memiliki alam yang penuh pesona. Laut menjadi salah satu kekayaan alam yang membanggakan. Luas wilayah laut Indonesia mencapai...

Read moreDetails

FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

by Agung Sudarsa
May 31, 2026
0
FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

Dari Kegelisahan Menuju Gerakan Moral BALI sedang berada pada persimpangan zaman. Di satu sisi, pulau ini menikmati pertumbuhan ekonomi yang...

Read moreDetails

Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

by IGP Weda Adi Wangsa
May 30, 2026
0
Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

CANDI Pustaka merupakan istilah yang sering dipakai oleh seorang rakawi (penyair sastra Jawa Kuno) untuk menyebut karya sastranya sebagai medium...

Read moreDetails
Next Post
Sanggah Setengah Jadi dan Ritual yang Kembali Sederhana

Geger Kampung, Kebiasaan Indekos dan Usaha Bangun Pagi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
Khas

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co