2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Covid-19: Sebuah Pandemi, Sebuah Cerita [2] – Herd Immunity dan New Normal

Rsi Suwardana by Rsi Suwardana
June 13, 2020
in Esai
Covid-19: Sebuah Pandemi, Sebuah Cerita [1]

Pandemi Covid-19 membuat teori herd immunity banyak didiskusikan oleh akademisi medis juga non-medis, disebarluaskan oleh jurnalis dan medianya, kemudian dikonsumsi oleh warganet sembari mengisi waktu senggangnya kala #dirumahsaja.

Saking hebohnya, bapak saya sampai bertanya apa itu herd immunity; apakah benar konsep itu menegaskan sikap abai pemerintah terhadap warga negaranya. Lewat sambungan telepon, beliau juga melontarkan istilah trendi seperti new normal dan R0 (beliau menyebutnya r-nol, bukan r-nought). Bapak tidak memiliki latar belakang bidang kesehatan, hanya menghabiskan banyak waktu luangnya untuk scrolling aplikasi Facebook, membaca pesan terusan grup Whatsapp, atau kadang menonton Youtube.

Sependek pengetahuan saya, herd immunity terdiri dari dua kata yakni: herd (komunitas), dan immunity (daya tahan). Herd immunity menjelaskan bahwa angka penularan suatu penyakit dapat ditekan serendah-rendahnya apabila sejumlah anggota komunitas telah memiliki daya tahan terhadap penyakit yang dimaksudkan. Kata kuncinya adalah persentase daya tahan anggota komunitas.

Berapa banyak jumlah anggota komunitas yang diperlukan?. Tergantung seberapa tinggi angka penularan penyakit (R0) yang dimaksudkan. Formula untuk menghitung ambang batas persentase herd immunity (H) adalah sebagai berikut:

Ambil contoh Covid-19. Rangkuman beberapa penelitian internasional menyebutkan bahwa rata-rata nilai R0 Covid-19 adalah 3.28. Untuk lebih memudahkan ilustrasi, anggaplah nilai R0 Covid-19 adalah 3. Artinya, tiap satu orang pasien Covid-19 dapat menulari tiga orang lainnya. Jika kita memasukan nilai 3 sebagai R0, maka nilai (H) menjadi 2/3 atau 67%.

Interpretasi dari hasil tersebut adalah: konsep herd immunity akan tercapai apabila dua pertiga masyarakat telah memiliki daya tahan terhadap Covid-19. Perlu dicatat bahwasannya saya bukanlah pakar statistika atau ahli kesehatan masyarakat, hanya lulusan dokter umum sahaja. Besar harapan saya artikel ini akan dibaca dan dikoreksi oleh para cendekiawan terkait.

Kemudian, mari kita kaitkan pada realita dan diskursus publik: apakah kebijakan new normal adalah salah satu implementasi herd immunity?.

Mengutip dari laman Kompas (https://www.kompas.com/tren/read/2020/05/27/193200965/infografik–panduan-protokol-kesehatan-pencegahan-covid-19-untuk-sambut-new), secara harfiah new normal dapat dijelaskan sebagai perubahan perilaku untuk tetap menjalankan aktivitas normal namun ditambah menerapkan protokol kesehatan guna mencegah terjadinya penularan Covid-19.

Meski ditambahkan embel-embel “guna mencegah terjadinya penularan Covid-19”, membiarkan masyarakat beraktivitas normal tentu saja memperbesar risiko penularannya jika dibandingkan dengan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Dengan kata lain, new normal berpotensi meningkatkan kasus infeksi SARS-CoV-2 pada masyarakat.

Beberapa opini dari akademisi menyiratkan penerapan new normal sebagai herd immunity. Meningkatnya kasus infeksi SARS-CoV-2 berarti meningkatnya persentase masyarakat yang akan memiliki daya tahan setelah terinfeksi virus tersebut. Ini adalah pendapat netral, dan jamak digaungkan oleh akun-akun tenaga kesehatan yang aktif di media sosial.

Lain halnya dengan pandangan para partisan politik. Bagi kaum pemuja pemerintah, new normal adalah keniscayaan. Penerapannya akan menimbulkan herd immunity bagi masyarakat yang telah terinfeksi. Mereka juga menambahkan bahwa new normal adalah kebijakan untuk berdamai dengan SARS-CoV-2, demi menyelamatkan ekonomi masyarakat.

Di sisi lain, gembar-gembor para oposan yang mengartikan new normal sebagai new abnormal karena mengindikasikan sikap abai pemerintah terhadap kesehatan warga negaranya. Bagi kelompok oposisi, new abnormal adalah sebuah kenistaan. Meskipun herd immunity dapat tercapai, akan banyak masyarakat Indonesia yang mengidap Covid-19, sebagian kecil diantaranya bisa saja meninggal dunia. Ekonomi bisa dipulihkan secara perlahan, tetapi orang yang sudah meninggal tidak bisa dihidupkan kembali dengan cara apapun.

Benarkah new normal adalah herd immunity?.

Frase herd immunity pertama kali tercantum dalam publikasi W.W.C Topley dan G.S Wilson tahun 1923 yang berjudul The Spread of Bacterial Infection: the Problem of Herd-Immunity. Topley dan Wilson meneliti tentang penyebaran infeksi dan angka kematian pada mencit yang terpapar bakteri Bacillus enteritidis. Jenis bakteri ini dilaporkan beberapa kali mengontaminasi bahan makanan pada awal abad ke-20.

Topley dan Wilson membagi mencit menjadi dua kelompok besar, yakni mencit dengan vaksinasi B. enteritidis dan tanpa vaksinasi. Dari penelitian ini didapatkan bahwa tidak terjadi penyebaran infeksi pada kandang yang seluruhnya beranggotakan mencit dengan vaksinasi sebelumnya. Angka kematian pada kandang yang berisi campuran mencit dengan-dan-tanpa vaksinasi lebih rendah jika dibandingkan dengan kandang yang hanya berisikan mencit tanpa vaksinasi, yakni 53.3% dibandingkan 70%. Kesimpulannya adalah vaksinasi B. enteritidis berpotensi memutus rantai penularan dan menekan angka kematian akibat infeksi bakteri terkait.

Berdasarkan kajian historis di atas, menurut hemat saya, menggunakan istilah herd immunity tanpa mengaitkannya dengan vaksin seperti membuat kopi tanpa menyeduhnya dengan air panas. Apa yang kita bisa seruput?, serbuk kopi yang kering dan pahit itu?.

Kata kunci dari herd immunity adalah persentase daya tahan anggota komunitas. Membiarkan masyarakat terinfeksi oleh SARS-CoV-2 secara alamiah, belum tentu bisa menghasilkan daya tahan yang diharapkan. Poin ini sekaligus menjadi koreksi dari opini-opini ilmiah yang mengaitkan antara new normal dan herd immunity. 

Infeksi alamiah suatu penyakit akan merangsang aktivasi sistem imunitas. Salah satu komponen sistem imun adalah antibodi, yakni protein yang dihasilkan oleh sel limfosit B (salah satu sel imun).

Sebuah penelitian dari Amerika Serikat menyebutkan bahwa infeksi SARS-CoV-2 merangsang pembentukan antibodi spesifik. Antibodi berfungsi untuk mengenali bagian tertentu dari virus SARS-CoV-2, kemudian mengaktifkan sistem imun tubuh untuk menghalau infeksi virus ini. Logikanya, adanya antibodi spesifik memungkinkan orang menjadi ‘kebal’ terhadap paparan infeksi berulang SARS-CoV-2.

Secara teori memang demikian, meski sebenarnya tidak sesederhana itu. Antibodi bisa memberikan perlindungan maksimal jika konsentrasi (titer) dalam darah mencukupi. Belum ada penelitian yang menyimpulkan konsentrasi minimal antibodi yang diperlukan untuk menimbulkan kekebalan terhadap infeksi berulang SARS-CoV-2.

Penelitian yang sama juga menyebutkan bahwa titer antibodi memiliki korelasi positif dengan lama gejala dan derajat keparahan penyakit. Artinya, titer antibodi yang tinggi cenderung terjadi pada pasien Covid-19 dengan derajat keparahan sedang atau berat, sehingga memerlukan perawatan di rumah sakit. Penelitian ini tidak mengikutsertakan pasien Covid-19 tanpa gejala atau asimtompatis.

Jadi, belum jelas apakah pasien yang memiliki gejala ringan atau tanpa gejala dapat menghasilkan konsentrasi antibodi yang adekuat untuk menimbulkan kekebalan di kemudian hari. Apakah kita harus membiarkan pasien Covid-19 jatuh dalam tingkat keparahan sedang atau berat agar dapat menimbulkan kekebalan?. Tentu saja tidak.

Selain itu, perlindungan yang diberikan karena adanya antibodi bisa saja bersifat sementara. Para ilmuwan belum bisa mengatakan secara pasti berapa lama antibodi terhadap SARS-CoV-2 bisa bertahan di dalam darah. Implikasinya adalah: jika konsentrasi antibodi menghilang dalam kurun waktu tertentu, maka daya tahan terhadap SARS-CoV-2 hanya berlangsung selama tenggat waktu tersebut.

Terakhir, sel-sel pertahanan tubuh itu ibarat prajurit tempur. Bisa saja si prajurit akan menghianati jenderalnya, bukan?. Adanya antibodi dapat memicu reaksi pertahanan tubuh yang berlebihan, sehingga pada akhirnya justru memperparah kondisi pasien Covid-19. Dunia kedokteran menyebut fenomena ini dengan istilah cytokine storm (badai sitokin). Banyak publikasi dan kajian ilmiah yang menyebutkan bahwa badai sitokin adalah salah satu penyebab utama kematian pada kasus Covid-19.

Seluruh teori dan istilah di atas pastinya akan sangat susah dicerna oleh kalangan awam. Dunia medis pun masih terus memutakhirkan konsep dan alur penanganan pandemi Covid-19. Satu konsep berhasil dibuktikan, satu lainnya bisa saja tumbang karena tidak ditunjang data-data penelitian yang valid.

Kesimpulannya, menurut opini saya, penerapan new normal bukanlah implementasi dari herd immunity—setidaknya sampai benar-benar terbukti bahwa infeksi alamiah SARS-CoV-2 bisa menghasilkan kekebalan, atau program vaksinasi masuk dalam penerapan new normal.

Para peneliti di seluruh dunia tengah berusaha untuk membuat vaksin SARS-CoV-2 dalam tempo waktu yang sesingkat-singkatnya. Proses ini biasanya memakan waktu hingga bertahun-tahun. Namun, dengan kemajuan teknologi biologi molekular dan bioinformatika, diharapkan vaksin SARS-CoV-2 bisa diciptakan selang 1-2 tahun kedepan.

Aktivitas ekonomi tentu tidak bisa berhenti sepenuhnya hingga dua tahun kedepan, hanya untuk menunggu tersedianya vaksin SARS-CoV-2. Apakah new normal adalah sebuah keniscayaan atau kenistaan?. Diperlukan kolaborasi pemikiran lintas disiplin ilmu untuk dapat menemukan titik temu antara aspek kesehatan dan ketahanan ekonomi masyarakat. Yang jelas, masalah sebesar pandemi Covid-19 tidak akan selesai hanya karena puja-puji atau caci-maki terhadap berbagai kebijakan pemerintah.

Daftar bacaan:

  • Formula untuk menghitung ambang batas herd immunity dikutip dari makalah Paul E.M Fine, yang berjudul Herd Immunity: History, Theory, Practice (1993). https://academic.oup.com/epirev/article-abstract/15/2/265/440430?redirectedFrom=fulltext
  • Makalah dari W.W.C Topley dan G.S Wilson (1923) dapat diakses pada tautan berikut ini: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2167341/
  • Penelitian dari Amerika Serikat tentang antibodi pasca infeksi SARS-CoV-2 dilakukan oleh Davide F. Robbiani, dkk (2020). Publikasinya belum melalui fase tinjauan sejawat (peer-reviewed). Meskipun demikian, sebuah critical appraisal telah dilakukan oleh akademisi dari Universitas Oxford untuk menguji keabsahan penelitian ini.  Penelitian dan appraisal-nya dapat dibaca pada tautan berikut ini: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC7263513/ – https://www.immunology.ox.ac.uk/covid-19/covid-19-immunology-literature-reviews/convergent-antibody-responses-to-sars-cov-2-infection-in-convalescent-individuals
  • Tulisan ini merupakan lanjutan dari artikel sebelumnya, yakni pendahuluan terkait pandemi Covid-19. Artikel tersebut dapat dibaca melalui tautan berikut: https://tatkala.co/2020/06/08/covid-19-sebuah-pandemi-sebuah-cerita-1/.

Tags: covid 19Herd ImmunityNew Normalpandemi
Share68TweetSendShareSend
Previous Post

Nusa Penida, Kecamatan Rasa Kepulauan – Istimewakah?

Next Post

Geger Kampung, Kebiasaan Indekos dan Usaha Bangun Pagi

Rsi Suwardana

Rsi Suwardana

Lulus sebagai dokter umum tahun 2018, memiliki ketertarikan dalam bidang mikrobiologi

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
Sanggah Setengah Jadi dan Ritual yang Kembali Sederhana

Geger Kampung, Kebiasaan Indekos dan Usaha Bangun Pagi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co