24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Geger Kampung, Kebiasaan Indekos dan Usaha Bangun Pagi

Agus Wiratama by Agus Wiratama
June 13, 2020
in Esai
Sanggah Setengah Jadi dan Ritual yang Kembali Sederhana

Agus Wiratama || Ilustrasi tatkala.co || Nana Partha

Bagi Grudug, meski tubuhnya makin subur karena libur panjang, dia sesungguhnya tegang. Ia gagap dengan kebiasaan orang di rumah. Bagaimana tidak, kalau biasanya libur semester, ia tak pernah menyempatkan diri untuk belajar mekrama. Ia justru menghindar. Bila di rumah, dan kebetulan tetangga punya upacara, dia akan bertaka, “Harus segera kembali ke Singaraja. Ada persiapan acara anu.”  

Suatu kali, Grudug pernah ikut ngayah di Pura. Kala itu, ia masih sangat asing dengan segala hal yang dikerjakan ketika ngayah. Meski begitu, ia berhasil menyelesaikan beberapa pekerjaan yang disarankan prajuru adat. Membuat sate lilit, membersihkan kulit bawang, bahkan membersihkan sabut kelapa untuk dijadikan santun. Sejauh itu, ia terlihat berprestasi. Tetapi, setelah semua pekerjaan selesai adalah petaka baginya. Tak ada kerjaan, alias tangannya nganggur.

Grudug merasa cangung duduk sendiri di belakang limpahan kelapa yang sudah beres dijadikan santun. Langsung saja ia menuju teman-temannya yang mengerjakan hal lain. Tapi pekerjaan tinggal sedikit sehingga Grudug dilarang terlibat.

“temenin kami ngobrol aja,” ucap salah satu temannya. Sembari ngobrol, sungguh tak enak baginya hanya diam. Sampai-sampai rasa tak enak itu membuat tangannya tidak sadar mengambil sisa kelapa yang diparut. Seketika tangannya bekerja untuk memotong sisa kelapa itu di atas lantai tanpa alas.

“Untuk apa kelapa itu?” tanya seorang tua yang juga prajuru adat dan kebetulan duduk di belakangnya. Dengan cengengesan dia menjawab “tidak ada. Hehehe”. Jawaban itu langsung disambar, “kalau tidak ada gunanya mendingan diam!” Grudug terkesiap, lalu diam merunduk meski tahu teman-temannya tertawa cekikikan.

Semenjak itu, ia enggan turut dalam persiapan upacara. Mending kabur ke Singaraja dengan alasan mengerjakan sesuatu meski sesungguhnya di Singaraja dia tidak benar-benar menyelesaikan tugas. Di sana palingan dia bertemu teman-temannya untuk ngobrol hingga pagi. Pilihan untuk menghindari pekerjaan adat dan pergaulan kampung rupanya petaka pada saat-saat seperti ini.

Ia tidak paham betul kebiasaan orang rumah. Sementara Grudug biasa hidup dengan kebiasaan anak kos yang bebas begadang atau bangun jam berapa saja. Kebiasaan itu yang paling berat ia ubah selama pandemi ini. Kalau di kos, tentu bukan sebuah masalah bila ia bangun siang. Palingan kalau telat bangun pada jam kuliah, dia akan disuruh menutup pintu dari luar kelas. Hal seperti itu menurutnya hal biasa dan bisa dimaklumi.

Karena kebiasaan bangun siang itu dibawanya ke kampung, suatu kali Pamannya nyeletuk, “Grudug ini Jagoan! Jago tidur. Kalau ada lomba tidur kaulah pemenangnya” Grudug terperangah dengan perkataan semacam itu. Lalu ia jelaskan bahwa apa yang dia kerjakan hingga pagi dan bangun siang adalah kepentingan skripsi. Mendengar penjelasan itu, pamannya seolah paham dengan tersenyum mengangguk-angguk menatap rumput yang ada di depan mereka.

Berpikir pamannya sudah paham, dengan leluasa Grudug mengulangi kebiasaan itu. Alhasil, bibinya kemudian berkomentar seperti komentar pamannya. Kali ini Grudug bertekad mengubah kebiasaannya. Setelah beberapa kali gagal, akhirnya ia berhasil bangun pagi. Tetapi, ia tetap di dalam kamar untuk membaca beberapa buku, membaca chating yang masuk karena ditinggal tidur, dan sedikit membuka laptop untuk mengerjakan skripsi, sehingga ia baru keluar kamar sekitar pukul 11.00 pagi.

Kini, ayahnya yang menggedor pintu kamar, “gak baik tidur terlalu lama. Cepat bangun” gedor ayahnya berkali-kali. Grudug tak mendengar, sebab kala itu, sepasang headshet menempel di telinganya. Hingga gedoran kesekian, ia baru sadar ada suara berisik yang menggedor pintunya.

Rupanya, bangun pagi saja tidak cukup. Grudug kesal lalu menulis petikan di atas sebuah kertas yang kemudian menjadi motivasinya, “bangun adalah keluar kamar”. Esoknya ia lakukan kesimpulan yang dijadikan petikan itu dan memperhatikan kegiatan pagi di rumahnya.

Betul saja, ibu-ibu mulai sibuk dengan pekerjaan dapur. Mondar mandir dari kamar ke dapur untuk menyiapkan makanan. Begitu pula ayah dan pamannya yang mondar mandir mengurusi tanaman, peliharaan, lalu mengambil cangkul dan sabit entah untuk mengerjakan apa di sawah. Tetapi ada satu orang yang bertingkah lain dan tak pernah ditegur, yaitu sepupunya.

Pengamatan pun dilakukan terhadap sepupunya hingga pengamatan itu sukses. Ia melihat sepupunya bengong menatap sawah sambil ngopi dari jam 7.00 hingga jam 8.00, lalu pergi ke sungai bersama teman-temannya untuk mandi. Tapi sebelum itu, mereka ngobrol sampai jam 10.00, setelah itu pulang, makan, mengambil hp sebentar, lalu masuk kamar untuk tidur siang. Setelah beberapa hari memperhatikan, rupanya kegiatan sepupunya tidak berbeda jauh dari hari ke hari.

Selang beberapa lama, Grudug mulai terbiasa bangun pagi dan meninggalkan kegiatan malamnya hingga pagi. Ia fokus belajar bangun pagi dan mengorbankan tuntutan kampus yang ia anggap bisa ditunda. Tentu bangun pagi dengan pilihan sikap seperti sepupunya. Tetapi hal yang berbeda adalah sepupunya seorang pekerja pariwisata yang dirumahkan dan Grudug seorang mahasiswa semester akhir. Pamannya, suatu kali melempar pertanyaan yang membuatnya ingin segera kabur lagi ke Singaraja, “Bagaimana skripsimu?” [T]

Tags: gaya hidupkampungmahasiswa
Share49TweetSendShareSend
Previous Post

Covid-19: Sebuah Pandemi, Sebuah Cerita [2] – Herd Immunity dan New Normal

Next Post

Ketika Tim Kreatif Tak Lagi Kreatif

Agus Wiratama

Agus Wiratama

Agus Wiratama adalah penulis, aktor, produser teater dan pertunjukan kelahiran 1995 yang aktif di Mulawali Performance Forum. Ia menjadi manajer program di Mulawali Institute, sebuah lembaga kajian, manajemen, dan produksi seni pertunjukan berbasis di Bali.

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Ketika Tim Kreatif Tak Lagi Kreatif

Ketika Tim Kreatif Tak Lagi Kreatif

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co