2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Covid-19: Sebuah Pandemi, Sebuah Cerita [1]

Rsi Suwardana by Rsi Suwardana
June 8, 2020
in Esai
Covid-19: Sebuah Pandemi, Sebuah Cerita [1]

Lima bulan sudah virus korona-gaya-baru (SARS-CoV-2) menjadi beban kesehatan global. Beban kesehatan yang ditimbulkan benar-benar penuh seluruh: menyebar ke seluruh dunia; menginfeksi seluruh sendi-sendi kehidupan. SARS-CoV-2 adalah agen penyebab penyakit Coronavirus Disease 2019 (Covid-19).

Sebelum melanjutkan tulisan ini, kembali ditekankan bahwa SARS-CoV-2 adalah nama virusnya, sedangkan Covid-19 adalah nama penyakitnya. Perbedaan penyebutan ini mirip seperti HIV/AIDS, dimana HIV adalah istilah untuk virusnya, adapun penyakitnya disebut dengan AIDS.

SARS-CoV-2 merupakan anti-tesis bagi definisi ‘sehat’ itu sendiri. Virus ini menginfeksi sel-sel saluran nafas, menimbulkan gejala seperti demam, batuk, sesak nafas, hingga kematian pada kondisi-kondisi tertentu. Meski sebagian besar kasus Covid-19 bersifat ringan atau tanpa gejala, namun tetap saja si pasien akan menjadi ‘pesakitan’ yang terisolir dari lingkungannya.

Begitu pula dengan pola interaksi masyarakat yang kian tersekat. Pemerintah pusat dan turunannya di daerah, memperkenalkan slogan belajar, bekerja, dan beraktivitas dari rumah. Tagar #dirumahsaja memenuhi jaring-jaring media sosial di Indonesia. Segala hingar-bingar aktivitas sosial dan ekonomi dipaksa berhenti oleh pandemi Covid-19. Bayang-bayang kecemasan serta stigma bisa saja menghantui pikiran masyarakat yang terinfeksi SARS-CoV-2, juga kelompok masyarakat yang sehat dan afiat.

SARS-CoV-2 seakan-akan menertawakan jargon sehat fisik, sehat psikis, dan afiat sosial (termasuk ekonomi) yang digunakan untuk mendefinisikan status ‘sehat’ sesuai konstitusi Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) serta UU nomor 36 tahun 2009 tentang kesehatan. 

Berita baiknya, Covid-19 bukanlah satu-satunya pandemi yang pernah menimpa umat manusia. Pandemi Pes (black death), membunuh lebih dari setengah populasi Eropa pada abad ke-14. Konsep ‘karantina’ pertama kali muncul dan digunakan untuk meredam pandemi ini.

Pandemi influenza (virus Influenza tipe H1N1) tahun 1918 diperkirakan menginfeksi 500 JUTA ORANG atau sepertiga populasi dunia kala itu, 20-50 juta diantaranya meninggal dunia. Peristiwa mematikan ini terjadi bersamaan dengan Perang Dunia pertama. Letupan-letupan kasus influenza terus terjadi hingga saat ini, meski kasusnya lebih terlokalisir. Flu burung dan flu babi adalah tipe virus influenza yang mewabah dua dekade terakhir, walau jumlah kasus dan kematiannya tidak separah pandemi 1918.

Pandemi HIV/AIDS tahun 1980-an sedikit berbeda dari pandemi yang terjadi sebelumnya. Tidak seperti perjalanan penyakit influenza yang mengganas selang beberapa hari, HIV menggerogoti sistem pertahanan tubuh pasiennya secara perlahan—dalam hitungan tahun. Obat-obatan anti-retrovirus (ARV) sedikit banyak berperan untuk menekan angka kematian dari kasus AIDS. Belum ada vaksin yang terbukti efektif untuk mencegah infeksi HIV.

Pandemi selanjutnya diakibatkan oleh sepupu dari SARS-CoV-2, yakni SARS-CoV yang menyebabkan penyakit SARS tahun 2002, dan MERS-CoV yang mengakibatkan penyakit MERS pada tahun 2012. Dua jenis virus ini termasuk golongan virus corona, namun tidak menyebar secepat dan semudah SARS-CoV-2.

Pandemi SARS dan MERS menginfeksi kurang dari sepuluh ribu pasien (SARS tercatat menginfeksi delapan ribu orang, sedangkan pasien MERS kurang dari tiga ribu jiwa), dengan angka kematian masing-masing dibawah seribu orang. Vaksin sempat akan dikembangkan untuk SARS dan MERS. Tetapi, penelitiannya tidak dilanjutkan karena angka penularan kedua pandemi ini berhasil ditekan secara signifikan. 

Sebelum pandemi Covid-19, dunia kesehatan internasional sempat dilanda kecemasan ketika wabah Ebola terjadi di benua Afrika tahun 2014. Wabah ini disebabkan oleh virus dengan nama yang sama yakni Ebola, menginfeksi 28 ribu orang dan membunuh hampir SETENGAHNYA (total kematian mencapai angka 11 ribu orang).

Presentase angka kematian lebih tinggi pada tenaga kesehatan (nakes) yang merawat pasien Ebola yakni sebesar 61% hingga 74%. Oleh karena itu, penggunaan alat pelindung diri (APD) pada nakes menjadi syarat mutlak sebelum bertugas di ruang perawatan pasien Ebola. Pemakaiannya juga lebih kompleks jika dibandingkan dengan APD untuk perawatan pasien Covid-19. Bak kostum seorang astronot. Kecuali peruntukannya bukan untuk bertahan hidup di luar angkasa, melainkan bertahan hidup dari ganasnya virus Ebola. 

Bersyukurnya para peneliti berhasil menemukan obat-obatan sebagai terapi pasien Ebola, dan vaksin (iya vaksin!) untuk mencegah penularannya. Kedua mantra ini kemudian digunakan untuk mengatasi wabah Ebola yang kembali terjadi di Republik Demokrat Kongo—Afrika, sejak tahun 2018 dan terus berlangsung secara sporadis hingga saat ini.

Pada akhirnya, tiap pandemi pasti memiliki alur penghabisannya masing-masing. Entah berakhir karena kuman penyebab pandemi-pandemi itu bermutasi menjadi lebih ‘jinak’, atau karena sebagian masyarakat telah memiliki sistem kekebalan tubuh untuk mencegah penularan yang lebih massif. Terakhir, karena kemajuan paradigma kesehatan sehingga memungkinkan ditemukannya obat-obatan (farmakologis) seperti antibiotik dan antiviral, serta upaya non-farmakologis berupa karantina kesehatan atau perilaku hidup bersih dan sehat.

Lalu, bagaimanakah akhir cerita dari Covid-19?.

Bersambung…

Tags: ceritacovid 19pandemi
Share47TweetSendShareSend
Previous Post

Demam Berdarah, Perang Lain yang Tak Pernah Usai

Next Post

Berkendara di Jakarta: Tak Berani, Tak akan Jalan – Tak Siaga, Tabrakan!

Rsi Suwardana

Rsi Suwardana

Lulus sebagai dokter umum tahun 2018, memiliki ketertarikan dalam bidang mikrobiologi

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Sop Kaki Kambing

Berkendara di Jakarta: Tak Berani, Tak akan Jalan - Tak Siaga, Tabrakan!

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co