14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Covid-19: Sebuah Pandemi, Sebuah Cerita [1]

Rsi Suwardana by Rsi Suwardana
June 8, 2020
in Esai
Covid-19: Sebuah Pandemi, Sebuah Cerita [1]

Lima bulan sudah virus korona-gaya-baru (SARS-CoV-2) menjadi beban kesehatan global. Beban kesehatan yang ditimbulkan benar-benar penuh seluruh: menyebar ke seluruh dunia; menginfeksi seluruh sendi-sendi kehidupan. SARS-CoV-2 adalah agen penyebab penyakit Coronavirus Disease 2019 (Covid-19).

Sebelum melanjutkan tulisan ini, kembali ditekankan bahwa SARS-CoV-2 adalah nama virusnya, sedangkan Covid-19 adalah nama penyakitnya. Perbedaan penyebutan ini mirip seperti HIV/AIDS, dimana HIV adalah istilah untuk virusnya, adapun penyakitnya disebut dengan AIDS.

SARS-CoV-2 merupakan anti-tesis bagi definisi ‘sehat’ itu sendiri. Virus ini menginfeksi sel-sel saluran nafas, menimbulkan gejala seperti demam, batuk, sesak nafas, hingga kematian pada kondisi-kondisi tertentu. Meski sebagian besar kasus Covid-19 bersifat ringan atau tanpa gejala, namun tetap saja si pasien akan menjadi ‘pesakitan’ yang terisolir dari lingkungannya.

Begitu pula dengan pola interaksi masyarakat yang kian tersekat. Pemerintah pusat dan turunannya di daerah, memperkenalkan slogan belajar, bekerja, dan beraktivitas dari rumah. Tagar #dirumahsaja memenuhi jaring-jaring media sosial di Indonesia. Segala hingar-bingar aktivitas sosial dan ekonomi dipaksa berhenti oleh pandemi Covid-19. Bayang-bayang kecemasan serta stigma bisa saja menghantui pikiran masyarakat yang terinfeksi SARS-CoV-2, juga kelompok masyarakat yang sehat dan afiat.

SARS-CoV-2 seakan-akan menertawakan jargon sehat fisik, sehat psikis, dan afiat sosial (termasuk ekonomi) yang digunakan untuk mendefinisikan status ‘sehat’ sesuai konstitusi Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) serta UU nomor 36 tahun 2009 tentang kesehatan. 

Berita baiknya, Covid-19 bukanlah satu-satunya pandemi yang pernah menimpa umat manusia. Pandemi Pes (black death), membunuh lebih dari setengah populasi Eropa pada abad ke-14. Konsep ‘karantina’ pertama kali muncul dan digunakan untuk meredam pandemi ini.

Pandemi influenza (virus Influenza tipe H1N1) tahun 1918 diperkirakan menginfeksi 500 JUTA ORANG atau sepertiga populasi dunia kala itu, 20-50 juta diantaranya meninggal dunia. Peristiwa mematikan ini terjadi bersamaan dengan Perang Dunia pertama. Letupan-letupan kasus influenza terus terjadi hingga saat ini, meski kasusnya lebih terlokalisir. Flu burung dan flu babi adalah tipe virus influenza yang mewabah dua dekade terakhir, walau jumlah kasus dan kematiannya tidak separah pandemi 1918.

Pandemi HIV/AIDS tahun 1980-an sedikit berbeda dari pandemi yang terjadi sebelumnya. Tidak seperti perjalanan penyakit influenza yang mengganas selang beberapa hari, HIV menggerogoti sistem pertahanan tubuh pasiennya secara perlahan—dalam hitungan tahun. Obat-obatan anti-retrovirus (ARV) sedikit banyak berperan untuk menekan angka kematian dari kasus AIDS. Belum ada vaksin yang terbukti efektif untuk mencegah infeksi HIV.

Pandemi selanjutnya diakibatkan oleh sepupu dari SARS-CoV-2, yakni SARS-CoV yang menyebabkan penyakit SARS tahun 2002, dan MERS-CoV yang mengakibatkan penyakit MERS pada tahun 2012. Dua jenis virus ini termasuk golongan virus corona, namun tidak menyebar secepat dan semudah SARS-CoV-2.

Pandemi SARS dan MERS menginfeksi kurang dari sepuluh ribu pasien (SARS tercatat menginfeksi delapan ribu orang, sedangkan pasien MERS kurang dari tiga ribu jiwa), dengan angka kematian masing-masing dibawah seribu orang. Vaksin sempat akan dikembangkan untuk SARS dan MERS. Tetapi, penelitiannya tidak dilanjutkan karena angka penularan kedua pandemi ini berhasil ditekan secara signifikan. 

Sebelum pandemi Covid-19, dunia kesehatan internasional sempat dilanda kecemasan ketika wabah Ebola terjadi di benua Afrika tahun 2014. Wabah ini disebabkan oleh virus dengan nama yang sama yakni Ebola, menginfeksi 28 ribu orang dan membunuh hampir SETENGAHNYA (total kematian mencapai angka 11 ribu orang).

Presentase angka kematian lebih tinggi pada tenaga kesehatan (nakes) yang merawat pasien Ebola yakni sebesar 61% hingga 74%. Oleh karena itu, penggunaan alat pelindung diri (APD) pada nakes menjadi syarat mutlak sebelum bertugas di ruang perawatan pasien Ebola. Pemakaiannya juga lebih kompleks jika dibandingkan dengan APD untuk perawatan pasien Covid-19. Bak kostum seorang astronot. Kecuali peruntukannya bukan untuk bertahan hidup di luar angkasa, melainkan bertahan hidup dari ganasnya virus Ebola. 

Bersyukurnya para peneliti berhasil menemukan obat-obatan sebagai terapi pasien Ebola, dan vaksin (iya vaksin!) untuk mencegah penularannya. Kedua mantra ini kemudian digunakan untuk mengatasi wabah Ebola yang kembali terjadi di Republik Demokrat Kongo—Afrika, sejak tahun 2018 dan terus berlangsung secara sporadis hingga saat ini.

Pada akhirnya, tiap pandemi pasti memiliki alur penghabisannya masing-masing. Entah berakhir karena kuman penyebab pandemi-pandemi itu bermutasi menjadi lebih ‘jinak’, atau karena sebagian masyarakat telah memiliki sistem kekebalan tubuh untuk mencegah penularan yang lebih massif. Terakhir, karena kemajuan paradigma kesehatan sehingga memungkinkan ditemukannya obat-obatan (farmakologis) seperti antibiotik dan antiviral, serta upaya non-farmakologis berupa karantina kesehatan atau perilaku hidup bersih dan sehat.

Lalu, bagaimanakah akhir cerita dari Covid-19?.

Bersambung…

Tags: ceritacovid 19pandemi
Share47TweetSendShareSend
Previous Post

Demam Berdarah, Perang Lain yang Tak Pernah Usai

Next Post

Berkendara di Jakarta: Tak Berani, Tak akan Jalan – Tak Siaga, Tabrakan!

Rsi Suwardana

Rsi Suwardana

Lulus sebagai dokter umum tahun 2018, memiliki ketertarikan dalam bidang mikrobiologi

Related Posts

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails

Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

by Jro Gde Sudibya
May 8, 2026
0
Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

Tanggapan terhadap esai "Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama", tatkala.co, 8 Mei 2026 --- PENDIDIKAN...

Read moreDetails
Next Post
Sop Kaki Kambing

Berkendara di Jakarta: Tak Berani, Tak akan Jalan - Tak Siaga, Tabrakan!

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co