22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Berkendara di Jakarta: Tak Berani, Tak akan Jalan – Tak Siaga, Tabrakan!

PanchoNgaco by PanchoNgaco
June 8, 2020
in Esai
Sop Kaki Kambing

Mendekati tengah hari, berada di bawah Jembatan Penyeberangan di bilangan Grogol dan terjebak lampu merah, tentunya bukan hal yang bisa disebut menyenangkan. Jarak antar kendaraan begitu intim sampai-sampai tidak jelas yang kita injak itu aspal atau kaki pengendara sepeda motor lain. Saya perhatikan, para pengendara sepeda motor sibuk melindungi hidung dan mulut mereka dari asap knalpot, sementara orang lain yang berada di dalam mobil tanpa AC, sibuk kipas-kipas.

Kendaraan-kendaraan umum, yang dikatakan aktivis lingkungan bisa menjadi salah satu alternatif dalam mengurangi dampak buruk pemanasan global, pada kenyataannya semakin memperparah pemanasan setempat. Kondisi kendaraan yang sudah tua dan tak terawat terlihat pada warna gas buangannya yang semakin pekat dan menyesakkan paru-paru orang sekitar.      Belum lagi dengan suara knalpotnya.

Pengamen dan pengemis mulai muncul. Mereka tidak lagi memasang wajah memelas seperti biasa, melainkan menatap dengan penuh ancaman. Saya lebih baik berpura-pura tidak melihatnya. Untung saja, tak satu pun dari mereka menuju ke arah saya.

Selagi menunggu lampu lalu lintas yang tak kunjung menyalakan warna hijaunya, saya memandang ke dalam mobil Mercedez-Benz C-Class yang berada persis di sebelah kiri saya. Betapa nyamannya mereka bisa merasakan hawa sejuk dari AC sembari mendengarkan lagu untuk menghindari bisingnya kendaraan.

Yah, selagi merasa nyaman di dalam sana, mereka sama sekali tidak menyadari bahwa jarak kendaraan di sekitar mobilnya semakin dekat dan bergesekan dengan kulit mobil itu. Begitulah kira-kira, tidak ada yang sepenuhnya beruntung saat terjebak lampu merah.

Keadaan menyesakkan seperti ini, membuat saya tidak lagi menganggap kewajiban lemburan yang menumpuk di kantor dari semalam sebagai hal yang menyebalkan. Bahkan saya malah berharap lemburan tadi seharusnya lebih banyak, sehingga saya tidak perlu pulang di tengah hari begini. Sekalian saja menginap di kantor dua hari! Sudah menyesakkan, lama pula si lampu merah ini berganti jam kerja dengan si hijau.

Tiiiinnnn!!!tiinn…!!!…teeet…toooot…teeet….toooot!!!!!doooong…doooongggg!!!!

Aduh! Begitu lampu merah berubah jadi hijau, keadaan ternyata berubah menjadi seperti Pasar Tanah Abang. Semua orang tidak ada yang mau mengalah. Mulai sodok sana-sini, selip kanan-kiri, serempet depan-belakang. Rasanya seperti berada pada medan perang, di mana peluru ditembakkan bertubi-tubi dari semua arah. Kendaraan muncul dari sana-sini dan hampir semua nyaris bertabrakan.

Saya masih sempat memperhatikan jalan, namun bingung sekali menentukan sisi mana yang sebenarnya mendapat giliran jalan. Mau melanggar atau tidak, semua terus membunyikan klakson. Gendang telinga saya seperti meminta tolong karena tidak kuat lagi menerima suara klakson bercampur knalpot kendaraan-kendaraan itu.

Saya pun jadi ikut-ikutan main sodok dan selip agar bisa menyelamatkan gendang telinga saya secepat mungkin. Dengan modal spion kiri saja, saya tidak ada waktu memperhatikan daerah kanan jalan dan akhirnya melaju menuju jalan yang lebih kecil.

Begitu berbelok ke jalan yang lebih kecil, ternyata ada rintangan lain menunggu saya. Sepanjang jalan yang kanan-kirinya berdiri komplek pertokoan itu dihiasi dengan bopeng-bopeng seperti bekas jerawat pada wajah kakak sepupu saya. Saya pun terkejut dan langsung menurunkan laju kecepatan motor hingga nyaris terjatuh.

Sekarang giliran motor saya yang mual karena menghajar jalanan berlubang itu. Sungguh, kendaraan yang dirawat dengan apik pun akan bobrok juga jika harus menghadapi jalanan Jakarta yang seperti ini.

Saya pikir bopeng itu hanya ada di sekitaran komplek. Kenyataannya, kondisi itu masih terus menghiasi hingga Tanjung Duren Barat berakhir. Selama perjalanan, saya melihat beberapa orang nyaris terjatuh karena menghindari bopeng tersebut. Akhirnya saya pun memilih untuk memperhatikan jalan saja, agar tidak celaka karena keasyikan memperhatikan orang lain.

Memasuki daerah Jalan Patra, saya akhirnya bisa mengistirahatkan tangan saya yang sedari terjebak lampu merah tadi, terus memasang rambu siaga pada rem. Jalanan yang cukup hijau dan sejuk itu agak lebar dan sepi. Saya menikmati perjalanan pulang sambil menenangkan kedua mata, yang juga sedari tadi siaga memelototi kendaraan dan jalan di sekitar saya.

Selagi asyik merelaksasikan tubuh dan pikiran, tiba-tiba sebuah minibus keluar dari salah satu gang tanpa membunyikan klakson lebih dulu. Sontak saya mengerem mendadak dan tidak dipungkiri, saya berteriak memaki-maki sang supir. Ternyata setelah minibus tadi, masih banyak kendaraan lain yang serupa. Tiba-tiba saja moncong sebuah kendaraan muncul tanpa memberikan tanda pada pengendara di sekitarnya. Lagi-lagi membuat sadar, berkendara di Jakarta memang tidak bisa santai.

Sekitar 500 meter lagi, saya akan tiba di rumah. Saat terjebak di lampu merah (lagi), saya melihat beberapa sepeda motor berhenti jauh di depan garis putih, bahkan ada yang sampai berhenti tepat di tengah jalan. Saya jadi teringat pada perkataan kakak,
“Namanya juga Jakarta, enggak melanggar, ya enggak bakal nyampe! Garis putih itu cuma lukisan polisi lalu lintas aja tau.”

Saat lampu hijau menyala, lagi-lagi saya nyaris diserempet orang yang melanggar rambu-rambu.

Macet lagi, sodok-sodokan dan selip-selipan lagi. Kendaraan umum juga semakin liar. Mungkin karena merasa yang mempunyai jalan, mereka jadi bisa berhenti mendadak bisa di tengah jalan, di depan motor orang. Begitu dapat penumpang, bus umum itu langsung memotong jalan dan menyalib secepat angin, tanpa menyadari jika ukuran kendaraannya besar sekali.

Yah, berkendara di Jakarta memang “jika tidak berani, tidak akan jalan – jika tidak siaga, tabrakan!” [T]

Tags: DKI JakartaJakartalalu lintas
Share16TweetSendShareSend
Previous Post

Covid-19: Sebuah Pandemi, Sebuah Cerita [1]

Next Post

Pandemi, Gubernur Koster, dan Gaya Komunikasi “Ketidakpastian & Kepastian”

PanchoNgaco

PanchoNgaco

Penikmat kopi pahit dan pekerja teks komersial yang masih gemar menikmati sastra dan menulis apa saja untuk tetap waspada. Menetap di Jakarta.

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Pandemi, Gubernur Koster, dan Gaya Komunikasi “Ketidakpastian & Kepastian”

Pandemi, Gubernur Koster, dan Gaya Komunikasi “Ketidakpastian & Kepastian”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co