24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Berkendara di Jakarta: Tak Berani, Tak akan Jalan – Tak Siaga, Tabrakan!

PanchoNgaco by PanchoNgaco
June 8, 2020
in Esai
Sop Kaki Kambing

Mendekati tengah hari, berada di bawah Jembatan Penyeberangan di bilangan Grogol dan terjebak lampu merah, tentunya bukan hal yang bisa disebut menyenangkan. Jarak antar kendaraan begitu intim sampai-sampai tidak jelas yang kita injak itu aspal atau kaki pengendara sepeda motor lain. Saya perhatikan, para pengendara sepeda motor sibuk melindungi hidung dan mulut mereka dari asap knalpot, sementara orang lain yang berada di dalam mobil tanpa AC, sibuk kipas-kipas.

Kendaraan-kendaraan umum, yang dikatakan aktivis lingkungan bisa menjadi salah satu alternatif dalam mengurangi dampak buruk pemanasan global, pada kenyataannya semakin memperparah pemanasan setempat. Kondisi kendaraan yang sudah tua dan tak terawat terlihat pada warna gas buangannya yang semakin pekat dan menyesakkan paru-paru orang sekitar.      Belum lagi dengan suara knalpotnya.

Pengamen dan pengemis mulai muncul. Mereka tidak lagi memasang wajah memelas seperti biasa, melainkan menatap dengan penuh ancaman. Saya lebih baik berpura-pura tidak melihatnya. Untung saja, tak satu pun dari mereka menuju ke arah saya.

Selagi menunggu lampu lalu lintas yang tak kunjung menyalakan warna hijaunya, saya memandang ke dalam mobil Mercedez-Benz C-Class yang berada persis di sebelah kiri saya. Betapa nyamannya mereka bisa merasakan hawa sejuk dari AC sembari mendengarkan lagu untuk menghindari bisingnya kendaraan.

Yah, selagi merasa nyaman di dalam sana, mereka sama sekali tidak menyadari bahwa jarak kendaraan di sekitar mobilnya semakin dekat dan bergesekan dengan kulit mobil itu. Begitulah kira-kira, tidak ada yang sepenuhnya beruntung saat terjebak lampu merah.

Keadaan menyesakkan seperti ini, membuat saya tidak lagi menganggap kewajiban lemburan yang menumpuk di kantor dari semalam sebagai hal yang menyebalkan. Bahkan saya malah berharap lemburan tadi seharusnya lebih banyak, sehingga saya tidak perlu pulang di tengah hari begini. Sekalian saja menginap di kantor dua hari! Sudah menyesakkan, lama pula si lampu merah ini berganti jam kerja dengan si hijau.

Tiiiinnnn!!!tiinn…!!!…teeet…toooot…teeet….toooot!!!!!doooong…doooongggg!!!!

Aduh! Begitu lampu merah berubah jadi hijau, keadaan ternyata berubah menjadi seperti Pasar Tanah Abang. Semua orang tidak ada yang mau mengalah. Mulai sodok sana-sini, selip kanan-kiri, serempet depan-belakang. Rasanya seperti berada pada medan perang, di mana peluru ditembakkan bertubi-tubi dari semua arah. Kendaraan muncul dari sana-sini dan hampir semua nyaris bertabrakan.

Saya masih sempat memperhatikan jalan, namun bingung sekali menentukan sisi mana yang sebenarnya mendapat giliran jalan. Mau melanggar atau tidak, semua terus membunyikan klakson. Gendang telinga saya seperti meminta tolong karena tidak kuat lagi menerima suara klakson bercampur knalpot kendaraan-kendaraan itu.

Saya pun jadi ikut-ikutan main sodok dan selip agar bisa menyelamatkan gendang telinga saya secepat mungkin. Dengan modal spion kiri saja, saya tidak ada waktu memperhatikan daerah kanan jalan dan akhirnya melaju menuju jalan yang lebih kecil.

Begitu berbelok ke jalan yang lebih kecil, ternyata ada rintangan lain menunggu saya. Sepanjang jalan yang kanan-kirinya berdiri komplek pertokoan itu dihiasi dengan bopeng-bopeng seperti bekas jerawat pada wajah kakak sepupu saya. Saya pun terkejut dan langsung menurunkan laju kecepatan motor hingga nyaris terjatuh.

Sekarang giliran motor saya yang mual karena menghajar jalanan berlubang itu. Sungguh, kendaraan yang dirawat dengan apik pun akan bobrok juga jika harus menghadapi jalanan Jakarta yang seperti ini.

Saya pikir bopeng itu hanya ada di sekitaran komplek. Kenyataannya, kondisi itu masih terus menghiasi hingga Tanjung Duren Barat berakhir. Selama perjalanan, saya melihat beberapa orang nyaris terjatuh karena menghindari bopeng tersebut. Akhirnya saya pun memilih untuk memperhatikan jalan saja, agar tidak celaka karena keasyikan memperhatikan orang lain.

Memasuki daerah Jalan Patra, saya akhirnya bisa mengistirahatkan tangan saya yang sedari terjebak lampu merah tadi, terus memasang rambu siaga pada rem. Jalanan yang cukup hijau dan sejuk itu agak lebar dan sepi. Saya menikmati perjalanan pulang sambil menenangkan kedua mata, yang juga sedari tadi siaga memelototi kendaraan dan jalan di sekitar saya.

Selagi asyik merelaksasikan tubuh dan pikiran, tiba-tiba sebuah minibus keluar dari salah satu gang tanpa membunyikan klakson lebih dulu. Sontak saya mengerem mendadak dan tidak dipungkiri, saya berteriak memaki-maki sang supir. Ternyata setelah minibus tadi, masih banyak kendaraan lain yang serupa. Tiba-tiba saja moncong sebuah kendaraan muncul tanpa memberikan tanda pada pengendara di sekitarnya. Lagi-lagi membuat sadar, berkendara di Jakarta memang tidak bisa santai.

Sekitar 500 meter lagi, saya akan tiba di rumah. Saat terjebak di lampu merah (lagi), saya melihat beberapa sepeda motor berhenti jauh di depan garis putih, bahkan ada yang sampai berhenti tepat di tengah jalan. Saya jadi teringat pada perkataan kakak,
“Namanya juga Jakarta, enggak melanggar, ya enggak bakal nyampe! Garis putih itu cuma lukisan polisi lalu lintas aja tau.”

Saat lampu hijau menyala, lagi-lagi saya nyaris diserempet orang yang melanggar rambu-rambu.

Macet lagi, sodok-sodokan dan selip-selipan lagi. Kendaraan umum juga semakin liar. Mungkin karena merasa yang mempunyai jalan, mereka jadi bisa berhenti mendadak bisa di tengah jalan, di depan motor orang. Begitu dapat penumpang, bus umum itu langsung memotong jalan dan menyalib secepat angin, tanpa menyadari jika ukuran kendaraannya besar sekali.

Yah, berkendara di Jakarta memang “jika tidak berani, tidak akan jalan – jika tidak siaga, tabrakan!” [T]

Tags: DKI JakartaJakartalalu lintas
Share16TweetSendShareSend
Previous Post

Covid-19: Sebuah Pandemi, Sebuah Cerita [1]

Next Post

Pandemi, Gubernur Koster, dan Gaya Komunikasi “Ketidakpastian & Kepastian”

PanchoNgaco

PanchoNgaco

Penikmat kopi pahit dan pekerja teks komersial yang masih gemar menikmati sastra dan menulis apa saja untuk tetap waspada. Menetap di Jakarta.

Related Posts

‘Janji-janji Jepang’

by Angga Wijaya
April 23, 2026
0
‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

Read moreDetails

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

by Chusmeru
April 23, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

Read moreDetails

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
0
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

Read moreDetails

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
0
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

Read moreDetails

Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

by Petrus Imam Prawoto Jati
April 21, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang...

Read moreDetails

NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

by Dede Putra Wiguna
April 20, 2026
0
NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

PERNAHKAH Anda menjumpai situasi di mana sebuah persoalan dibicarakan berulang-ulang, diperdebatkan panjang lebar, bahkan diposting di berbagai platform, namun tidak...

Read moreDetails

Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

by Agung Sudarsa
April 20, 2026
0
Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

SETIAP peringatan Raden Ajeng Kartini sering kali berhenti pada simbol: kebaya, kutipan surat, dan narasi emansipasi yang diulang. Namun jika...

Read moreDetails

Mungkinkah Budaya Adiluhung Baduy Rusak karena Pengaruh Digitalisasi dan Destinasi Wisata?

by Asep Kurnia
April 20, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

KITA dan siapa pun, akan begitu tercengang dengan berbagai perubahan fisik (lingkungan geografis) yang begitu cepat serta sporadis termasuk perubahan...

Read moreDetails

Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

by Jro Gde Sudibya
April 20, 2026
0
Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

Paradigma Baru Industri Pariwisata Pasca Pandemi Covid-19 yang meluluhlantakkan perekonomian Bali, Industri Pariwisata Bali "mati suri", tumbuh negatif 9,3 persen...

Read moreDetails

Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

by Cindy May Siagian
April 19, 2026
0
Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

MENURUT Suarta dan Dwipaya (2022:10), karya sastra adalah wadah untuk menuangkan gagasan dan kreativitas dari seseorang untuk mengajak pembaca mendiskusikan...

Read moreDetails
Next Post
Pandemi, Gubernur Koster, dan Gaya Komunikasi “Ketidakpastian & Kepastian”

Pandemi, Gubernur Koster, dan Gaya Komunikasi “Ketidakpastian & Kepastian”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co