2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Berkendara di Jakarta: Tak Berani, Tak akan Jalan – Tak Siaga, Tabrakan!

PanchoNgaco by PanchoNgaco
June 8, 2020
in Esai
Sop Kaki Kambing

Mendekati tengah hari, berada di bawah Jembatan Penyeberangan di bilangan Grogol dan terjebak lampu merah, tentunya bukan hal yang bisa disebut menyenangkan. Jarak antar kendaraan begitu intim sampai-sampai tidak jelas yang kita injak itu aspal atau kaki pengendara sepeda motor lain. Saya perhatikan, para pengendara sepeda motor sibuk melindungi hidung dan mulut mereka dari asap knalpot, sementara orang lain yang berada di dalam mobil tanpa AC, sibuk kipas-kipas.

Kendaraan-kendaraan umum, yang dikatakan aktivis lingkungan bisa menjadi salah satu alternatif dalam mengurangi dampak buruk pemanasan global, pada kenyataannya semakin memperparah pemanasan setempat. Kondisi kendaraan yang sudah tua dan tak terawat terlihat pada warna gas buangannya yang semakin pekat dan menyesakkan paru-paru orang sekitar.      Belum lagi dengan suara knalpotnya.

Pengamen dan pengemis mulai muncul. Mereka tidak lagi memasang wajah memelas seperti biasa, melainkan menatap dengan penuh ancaman. Saya lebih baik berpura-pura tidak melihatnya. Untung saja, tak satu pun dari mereka menuju ke arah saya.

Selagi menunggu lampu lalu lintas yang tak kunjung menyalakan warna hijaunya, saya memandang ke dalam mobil Mercedez-Benz C-Class yang berada persis di sebelah kiri saya. Betapa nyamannya mereka bisa merasakan hawa sejuk dari AC sembari mendengarkan lagu untuk menghindari bisingnya kendaraan.

Yah, selagi merasa nyaman di dalam sana, mereka sama sekali tidak menyadari bahwa jarak kendaraan di sekitar mobilnya semakin dekat dan bergesekan dengan kulit mobil itu. Begitulah kira-kira, tidak ada yang sepenuhnya beruntung saat terjebak lampu merah.

Keadaan menyesakkan seperti ini, membuat saya tidak lagi menganggap kewajiban lemburan yang menumpuk di kantor dari semalam sebagai hal yang menyebalkan. Bahkan saya malah berharap lemburan tadi seharusnya lebih banyak, sehingga saya tidak perlu pulang di tengah hari begini. Sekalian saja menginap di kantor dua hari! Sudah menyesakkan, lama pula si lampu merah ini berganti jam kerja dengan si hijau.

Tiiiinnnn!!!tiinn…!!!…teeet…toooot…teeet….toooot!!!!!doooong…doooongggg!!!!

Aduh! Begitu lampu merah berubah jadi hijau, keadaan ternyata berubah menjadi seperti Pasar Tanah Abang. Semua orang tidak ada yang mau mengalah. Mulai sodok sana-sini, selip kanan-kiri, serempet depan-belakang. Rasanya seperti berada pada medan perang, di mana peluru ditembakkan bertubi-tubi dari semua arah. Kendaraan muncul dari sana-sini dan hampir semua nyaris bertabrakan.

Saya masih sempat memperhatikan jalan, namun bingung sekali menentukan sisi mana yang sebenarnya mendapat giliran jalan. Mau melanggar atau tidak, semua terus membunyikan klakson. Gendang telinga saya seperti meminta tolong karena tidak kuat lagi menerima suara klakson bercampur knalpot kendaraan-kendaraan itu.

Saya pun jadi ikut-ikutan main sodok dan selip agar bisa menyelamatkan gendang telinga saya secepat mungkin. Dengan modal spion kiri saja, saya tidak ada waktu memperhatikan daerah kanan jalan dan akhirnya melaju menuju jalan yang lebih kecil.

Begitu berbelok ke jalan yang lebih kecil, ternyata ada rintangan lain menunggu saya. Sepanjang jalan yang kanan-kirinya berdiri komplek pertokoan itu dihiasi dengan bopeng-bopeng seperti bekas jerawat pada wajah kakak sepupu saya. Saya pun terkejut dan langsung menurunkan laju kecepatan motor hingga nyaris terjatuh.

Sekarang giliran motor saya yang mual karena menghajar jalanan berlubang itu. Sungguh, kendaraan yang dirawat dengan apik pun akan bobrok juga jika harus menghadapi jalanan Jakarta yang seperti ini.

Saya pikir bopeng itu hanya ada di sekitaran komplek. Kenyataannya, kondisi itu masih terus menghiasi hingga Tanjung Duren Barat berakhir. Selama perjalanan, saya melihat beberapa orang nyaris terjatuh karena menghindari bopeng tersebut. Akhirnya saya pun memilih untuk memperhatikan jalan saja, agar tidak celaka karena keasyikan memperhatikan orang lain.

Memasuki daerah Jalan Patra, saya akhirnya bisa mengistirahatkan tangan saya yang sedari terjebak lampu merah tadi, terus memasang rambu siaga pada rem. Jalanan yang cukup hijau dan sejuk itu agak lebar dan sepi. Saya menikmati perjalanan pulang sambil menenangkan kedua mata, yang juga sedari tadi siaga memelototi kendaraan dan jalan di sekitar saya.

Selagi asyik merelaksasikan tubuh dan pikiran, tiba-tiba sebuah minibus keluar dari salah satu gang tanpa membunyikan klakson lebih dulu. Sontak saya mengerem mendadak dan tidak dipungkiri, saya berteriak memaki-maki sang supir. Ternyata setelah minibus tadi, masih banyak kendaraan lain yang serupa. Tiba-tiba saja moncong sebuah kendaraan muncul tanpa memberikan tanda pada pengendara di sekitarnya. Lagi-lagi membuat sadar, berkendara di Jakarta memang tidak bisa santai.

Sekitar 500 meter lagi, saya akan tiba di rumah. Saat terjebak di lampu merah (lagi), saya melihat beberapa sepeda motor berhenti jauh di depan garis putih, bahkan ada yang sampai berhenti tepat di tengah jalan. Saya jadi teringat pada perkataan kakak,
“Namanya juga Jakarta, enggak melanggar, ya enggak bakal nyampe! Garis putih itu cuma lukisan polisi lalu lintas aja tau.”

Saat lampu hijau menyala, lagi-lagi saya nyaris diserempet orang yang melanggar rambu-rambu.

Macet lagi, sodok-sodokan dan selip-selipan lagi. Kendaraan umum juga semakin liar. Mungkin karena merasa yang mempunyai jalan, mereka jadi bisa berhenti mendadak bisa di tengah jalan, di depan motor orang. Begitu dapat penumpang, bus umum itu langsung memotong jalan dan menyalib secepat angin, tanpa menyadari jika ukuran kendaraannya besar sekali.

Yah, berkendara di Jakarta memang “jika tidak berani, tidak akan jalan – jika tidak siaga, tabrakan!” [T]

Tags: DKI JakartaJakartalalu lintas
Share16TweetSendShareSend
Previous Post

Covid-19: Sebuah Pandemi, Sebuah Cerita [1]

Next Post

Pandemi, Gubernur Koster, dan Gaya Komunikasi “Ketidakpastian & Kepastian”

PanchoNgaco

PanchoNgaco

Penikmat kopi pahit dan pekerja teks komersial yang masih gemar menikmati sastra dan menulis apa saja untuk tetap waspada. Menetap di Jakarta.

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Pandemi, Gubernur Koster, dan Gaya Komunikasi “Ketidakpastian & Kepastian”

Pandemi, Gubernur Koster, dan Gaya Komunikasi “Ketidakpastian & Kepastian”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co