2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Belajar Menulis, Sate Keladi, dan Kepedulian

Gede Agus Eka Pratama by Gede Agus Eka Pratama
April 23, 2024
in Esai
Belajar Menulis, Sate Keladi, dan Kepedulian

Sate keladi | Foto: Agus Eka

SAAT ini aku sudah  memasuki semester yang membuat berpikir bahwa berumah tangga sepertinya lebih baik daripada kuliah. Namun itu hanya pikiran liar di tengah gempuran tugas kuliah saja. Apalagi ditambah saat ini aku sedang memasuki dunia PKL atau simulasi menjadi perkerja yang sesungguhnya.

Aku mendapatkan tempat PKL di portal berita jurnalisme warga yang cukup terkenal di Bali, tatkala.co. Walaupun aku bukan seorang yang bisa dibilang pandai dalam menulis, tapi akan kucoba jalani dengan sebaik mungkin apa yang telah dipersipkan oleh prodi tempatku belajar.

Hari pertama Praktik Kerja Lapangan (PKL) di tatkala.co, aku mendapatkan ilmu baru dalam hal menulis. Berawal dari diskusi cukup panjang bersama Jaswanto, seniorku di tempat PKL, aku banyak belajar tentang bagaimana seni menulis. Jujur, menulis adalah hal yang kurang aku sukai dan memang tidak pernah ada dalam catatan cita-citaku—aku tidak pernah membayangkan untuk menjadi seorang penulis.

Awalnya, dalam bayanganku, menulis itu sesuatu yang membosankan. Namun, setelah berdiskusi banyak hal dengan Kak Jas, panggilan akrab Jaswanto, aku sadar bahwa menulis itu ternyata tidak seseram yang aku bayangkan.

Aku jadi sedikit tertarik untuk memulai belajar menulis. Beberapa kali aku sempat menulis memang, tapi itu hanya memenuhi tuntutan tugas perkuliahan, bukan benar-benar atas dasar keinginanku sendiri. Dan aku baru tahu, ternyata menulis itu tidak melulu harus baku, formal, atau ilmiah. Kita juga bisa menceritakan banyak hal yang biasa-biasa saja, pengalaman, atau tergantung imajinasi, seperti halnya menulis fiksi, misalnya.

Saat diskusi, Jaswanto memberi challenge kepadaku untuk membuat sebuah tulisan tentang pengalaman yang paling berkesan dalam hidupku. Aku berpikir sejenak, dan teringat tentang sate keladi yang pernah kuulas dulu. Aku ingin kembali mengulas kuliner khas yang baru kurasakan ketika sudah dewasa itu—dan itupun cuma sekali.

***

Aku berasal dari desa yang memiliki tradisi dan kebudayaan yang berbeda dari desa-desa pada umumnya di Bali. Pedawa, nama desaku. Desa yang terletak di pegunungan dan memiliki julukan Bali Aga atau desa tua itu, banyak memiliki hal unik yang aku banggakan.

Namun, mengenai hal tersebut, aku baru menyadarinya saat duduk di bangku kuliah. Salah satu hal unik yang dimiliki desaku adalah sate keladi. Ini merupakan makanan khas yang dimiliki Desa Pedawa, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng. Jika sate pada umumnya terbuat dari daging hewan, di desaku sedikit berbeda, sate dibuat dari keladiatau talas sebagai bahan baku utamanya.

Sedikit cerita, meski lahir dan tinggal di Pedawa, aku merasakan sate keladi untuk pertama kalinyapada saat kuliah semester empat. Saat itu aku mendapat tugas dari salah satu dosenku untuk membuat berita. Dari sana aku ingin mengangkat sate keladisebagai objek tulisan.

Pada saat mendapatkan tugas tersebut, dibantu orang tuaku, aku membuat sate keladi di rumah. Hal ini aku lakukan agar bisa mendeskripsikan rasa sate keladi dalam beritaku. Oh, ternyata seenak itu rasanya—walaupun proses pembuatannya agak panjang memang.

Pedawa, dengan tanahnya yang subur, dan letak geografisnya yang berada di ketinggian, membuat masyarakatnya bergantung pada hasil hutan dan perkebunan. Maka wajar jika tanaman keladi tumbuh subur di tanah kami, yang mampu dimanfaatkan dengan baik.

Sate keladi Pedawa | Foto: Agus Eka

Walaupun aku sangat menyukai keladi atau talas, tapi aku tidak suka kalau jenis umbi-umbian tersebut dicampur dengan nasi, atau di desaku lebih dikenal dengan muranan. Jika ibu masak nasi muranan, seketika nafsu makanku hilang begitu saja. Tetapi, jika keladinya di kukus, dibuatkan kripik, atau diolah menjadi makanan lainnya, aku menyukainya.

Mengenai sate keladi khas Pedawa, aku sempat bertanya kepada tokoh masyrakat Pedawa bernama Wayan Sukrata—atau lebih akrab disapa Pak Guru Jagung. Panggilan yang cukup unik bagiku.

Pak Jagung mengatakan, sate keladi lahir karena penduduk Pedawa dahulu tidak berkecukupan dan tidak mampu untuk membeli daging sehingga memanfaat hasil alam yang sangat melimpah di desa kami. Mendengar penjelasan tersebut, aku merasa bangga dengan orang-orang zaman dulu, di tengah keterbatas mereka mampu mengolah apa yang ada di alam menjadi hal yang memilki nilai lebih.

Aku sempat merenung sambil mendengarkan ceritanya Pak Jagung mengenai sate keladi. Jika aku lahir di zaman dulu, apakah aku bisa hidup dengan baik? Apakah aku bisa mengolah apa yang ada di sekitar menjadi sesuatu yang bermanfaat?

***

Sate keladi, dalam proses memasak,sebenarnya sama dengan sate pada umumnya, sama-sama dipanggang. Yang membedakan adalah bahan baku utamanya, yaitu daging diganti dengan keladi.

Selain itu, cara menempatkannya di stik juga berbeda. Jika sate pada umumnya ditusuk ujung stik—orang Pedawa biasa menyebutnya dengan katikan sate—sedangkan sate keladi dililitkan di tengah-tengah katikan sate. Sekilas seperti membuat sate lilit ikan. Hanya saja, sate ikan dililitkan di ujung katikan.

Hal tersebut bukan tanpa alasan, melainkan karena kami masih menggunakan tungku api tradisional yang terbuat dari tanah liat—yang bagian atasnya mempunyai lubang berbentuk lingkaran. Di atas lubang itulah kami mematangkan sate keladi. Oleh karena itu, adonan keladi harus dililitkan di bagian tengah katikan-nya.

Setelah menanyakan banyak hal tentang sate keladi kepada Pak Jagung, saat itulah aku mencoba untuk membuat sate keladidi rumah. Pada saat praktik, aku dibantu ibuku. Membuat sate keladi ternyata tidak semudah yang aku bayangkan.

Banyak bumbu yang harus disiapkan, seperti bawang merah, bawang putih, cabai rawit, kunyit, jahe, kencur, ketumbar, kemiri, juga penyedap rasa. Selain menyiapkan bumbu, hal paling sedikit menjengkelkan adalah saat mengupas keladi dari kulitnya. Karena jika tidak terbiasa, ini akan menyebabkan tangan menjadi gatal-gatal.

Proses mengupas selesai, keladi lalu dicuci sampai bersih, hingga tidak ada lagi kenangan-kenangan yang tersisa. Eh, salah, maksudku sampai tidak ada kotoran yang menempel di keladinya. Sambil memarut kelapa sebagai campuran adonan sate keladi, ibu memintaku untuk segera mengukus keladi. Setelah keladi matang baru ditumbuk hingga tercipta sebuah adonan.

Singkat cerita, setelah menjadi adonan, keladi lembut itu lalu dicampur dengan semua elemen yang telah disiapkan, seperti bumbu dan parutan kelapa, hingga tahap akhirnya dililitkan pada katikan bambu atau batang kelapa. Sate keladi siap untuk dipanggang di atas tungku. Kuliner khas Pedawa ini paling enak dimakan saat masih panas, apalagi ditemani nasi hangat dan sambal terasi, dijamin bikin ketagihan.

Ah, sampai di sini, seandainya aku tidak diberi tugas untuk  menulis berita, dulu, mungkin sampai saat ini aku masih belum tahu tentang sate keladi. Dan jika dulu tujuan menulis sate keladi, selain penasaran hanya untuk kebutuhan tugas, saat ini tujuanku benar-benar untuk memperkenalkan kuliner ini kepada orang banyak.

Ya, di tatkala, selain belajar menulis, aku juga belajar untuk lebih peduli terhadap lingkungan sekitar. Dan itu tidak kudapatkan di bangku perkuliahan. Sebab menulis sate keladi ini aku menjadi sadar, ternyata desaku memiliki banyak hal unik yang belum aku eksplor lebih dalam lagi.[T]

Penulis adalah mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi STAHN Mpu Kuturan Singaraja yang sedang menjalani Praktik Kerja Lapangan (PKL) di tatkala.co.

Editor: Jaswanto

Menikmati Sate Keladi Khas Pedawa yang Unik
Tags: Desa Pedawaste keladi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Belajar dari Penertiban Joged Era Belanda

Next Post

DIALOG DI TEPI MASCETI: Kritik Diri Seorang Ida Padanda Made Sidemen tentang Kependetaan

Gede Agus Eka Pratama

Gede Agus Eka Pratama

Mahasiswa Jurusan Dharma Duta, Ilmu Komunikasi, STAHN Mpu Kuturan Singaraja

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
DIALOG DI TEPI MASCETI: Kritik Diri Seorang Ida Padanda Made Sidemen tentang Kependetaan

DIALOG DI TEPI MASCETI: Kritik Diri Seorang Ida Padanda Made Sidemen tentang Kependetaan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co