22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Belajar Menulis, Sate Keladi, dan Kepedulian

Gede Agus Eka Pratama by Gede Agus Eka Pratama
April 23, 2024
in Esai
Belajar Menulis, Sate Keladi, dan Kepedulian

Sate keladi | Foto: Agus Eka

SAAT ini aku sudah  memasuki semester yang membuat berpikir bahwa berumah tangga sepertinya lebih baik daripada kuliah. Namun itu hanya pikiran liar di tengah gempuran tugas kuliah saja. Apalagi ditambah saat ini aku sedang memasuki dunia PKL atau simulasi menjadi perkerja yang sesungguhnya.

Aku mendapatkan tempat PKL di portal berita jurnalisme warga yang cukup terkenal di Bali, tatkala.co. Walaupun aku bukan seorang yang bisa dibilang pandai dalam menulis, tapi akan kucoba jalani dengan sebaik mungkin apa yang telah dipersipkan oleh prodi tempatku belajar.

Hari pertama Praktik Kerja Lapangan (PKL) di tatkala.co, aku mendapatkan ilmu baru dalam hal menulis. Berawal dari diskusi cukup panjang bersama Jaswanto, seniorku di tempat PKL, aku banyak belajar tentang bagaimana seni menulis. Jujur, menulis adalah hal yang kurang aku sukai dan memang tidak pernah ada dalam catatan cita-citaku—aku tidak pernah membayangkan untuk menjadi seorang penulis.

Awalnya, dalam bayanganku, menulis itu sesuatu yang membosankan. Namun, setelah berdiskusi banyak hal dengan Kak Jas, panggilan akrab Jaswanto, aku sadar bahwa menulis itu ternyata tidak seseram yang aku bayangkan.

Aku jadi sedikit tertarik untuk memulai belajar menulis. Beberapa kali aku sempat menulis memang, tapi itu hanya memenuhi tuntutan tugas perkuliahan, bukan benar-benar atas dasar keinginanku sendiri. Dan aku baru tahu, ternyata menulis itu tidak melulu harus baku, formal, atau ilmiah. Kita juga bisa menceritakan banyak hal yang biasa-biasa saja, pengalaman, atau tergantung imajinasi, seperti halnya menulis fiksi, misalnya.

Saat diskusi, Jaswanto memberi challenge kepadaku untuk membuat sebuah tulisan tentang pengalaman yang paling berkesan dalam hidupku. Aku berpikir sejenak, dan teringat tentang sate keladi yang pernah kuulas dulu. Aku ingin kembali mengulas kuliner khas yang baru kurasakan ketika sudah dewasa itu—dan itupun cuma sekali.

***

Aku berasal dari desa yang memiliki tradisi dan kebudayaan yang berbeda dari desa-desa pada umumnya di Bali. Pedawa, nama desaku. Desa yang terletak di pegunungan dan memiliki julukan Bali Aga atau desa tua itu, banyak memiliki hal unik yang aku banggakan.

Namun, mengenai hal tersebut, aku baru menyadarinya saat duduk di bangku kuliah. Salah satu hal unik yang dimiliki desaku adalah sate keladi. Ini merupakan makanan khas yang dimiliki Desa Pedawa, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng. Jika sate pada umumnya terbuat dari daging hewan, di desaku sedikit berbeda, sate dibuat dari keladiatau talas sebagai bahan baku utamanya.

Sedikit cerita, meski lahir dan tinggal di Pedawa, aku merasakan sate keladi untuk pertama kalinyapada saat kuliah semester empat. Saat itu aku mendapat tugas dari salah satu dosenku untuk membuat berita. Dari sana aku ingin mengangkat sate keladisebagai objek tulisan.

Pada saat mendapatkan tugas tersebut, dibantu orang tuaku, aku membuat sate keladi di rumah. Hal ini aku lakukan agar bisa mendeskripsikan rasa sate keladi dalam beritaku. Oh, ternyata seenak itu rasanya—walaupun proses pembuatannya agak panjang memang.

Pedawa, dengan tanahnya yang subur, dan letak geografisnya yang berada di ketinggian, membuat masyarakatnya bergantung pada hasil hutan dan perkebunan. Maka wajar jika tanaman keladi tumbuh subur di tanah kami, yang mampu dimanfaatkan dengan baik.

Sate keladi Pedawa | Foto: Agus Eka

Walaupun aku sangat menyukai keladi atau talas, tapi aku tidak suka kalau jenis umbi-umbian tersebut dicampur dengan nasi, atau di desaku lebih dikenal dengan muranan. Jika ibu masak nasi muranan, seketika nafsu makanku hilang begitu saja. Tetapi, jika keladinya di kukus, dibuatkan kripik, atau diolah menjadi makanan lainnya, aku menyukainya.

Mengenai sate keladi khas Pedawa, aku sempat bertanya kepada tokoh masyrakat Pedawa bernama Wayan Sukrata—atau lebih akrab disapa Pak Guru Jagung. Panggilan yang cukup unik bagiku.

Pak Jagung mengatakan, sate keladi lahir karena penduduk Pedawa dahulu tidak berkecukupan dan tidak mampu untuk membeli daging sehingga memanfaat hasil alam yang sangat melimpah di desa kami. Mendengar penjelasan tersebut, aku merasa bangga dengan orang-orang zaman dulu, di tengah keterbatas mereka mampu mengolah apa yang ada di alam menjadi hal yang memilki nilai lebih.

Aku sempat merenung sambil mendengarkan ceritanya Pak Jagung mengenai sate keladi. Jika aku lahir di zaman dulu, apakah aku bisa hidup dengan baik? Apakah aku bisa mengolah apa yang ada di sekitar menjadi sesuatu yang bermanfaat?

***

Sate keladi, dalam proses memasak,sebenarnya sama dengan sate pada umumnya, sama-sama dipanggang. Yang membedakan adalah bahan baku utamanya, yaitu daging diganti dengan keladi.

Selain itu, cara menempatkannya di stik juga berbeda. Jika sate pada umumnya ditusuk ujung stik—orang Pedawa biasa menyebutnya dengan katikan sate—sedangkan sate keladi dililitkan di tengah-tengah katikan sate. Sekilas seperti membuat sate lilit ikan. Hanya saja, sate ikan dililitkan di ujung katikan.

Hal tersebut bukan tanpa alasan, melainkan karena kami masih menggunakan tungku api tradisional yang terbuat dari tanah liat—yang bagian atasnya mempunyai lubang berbentuk lingkaran. Di atas lubang itulah kami mematangkan sate keladi. Oleh karena itu, adonan keladi harus dililitkan di bagian tengah katikan-nya.

Setelah menanyakan banyak hal tentang sate keladi kepada Pak Jagung, saat itulah aku mencoba untuk membuat sate keladidi rumah. Pada saat praktik, aku dibantu ibuku. Membuat sate keladi ternyata tidak semudah yang aku bayangkan.

Banyak bumbu yang harus disiapkan, seperti bawang merah, bawang putih, cabai rawit, kunyit, jahe, kencur, ketumbar, kemiri, juga penyedap rasa. Selain menyiapkan bumbu, hal paling sedikit menjengkelkan adalah saat mengupas keladi dari kulitnya. Karena jika tidak terbiasa, ini akan menyebabkan tangan menjadi gatal-gatal.

Proses mengupas selesai, keladi lalu dicuci sampai bersih, hingga tidak ada lagi kenangan-kenangan yang tersisa. Eh, salah, maksudku sampai tidak ada kotoran yang menempel di keladinya. Sambil memarut kelapa sebagai campuran adonan sate keladi, ibu memintaku untuk segera mengukus keladi. Setelah keladi matang baru ditumbuk hingga tercipta sebuah adonan.

Singkat cerita, setelah menjadi adonan, keladi lembut itu lalu dicampur dengan semua elemen yang telah disiapkan, seperti bumbu dan parutan kelapa, hingga tahap akhirnya dililitkan pada katikan bambu atau batang kelapa. Sate keladi siap untuk dipanggang di atas tungku. Kuliner khas Pedawa ini paling enak dimakan saat masih panas, apalagi ditemani nasi hangat dan sambal terasi, dijamin bikin ketagihan.

Ah, sampai di sini, seandainya aku tidak diberi tugas untuk  menulis berita, dulu, mungkin sampai saat ini aku masih belum tahu tentang sate keladi. Dan jika dulu tujuan menulis sate keladi, selain penasaran hanya untuk kebutuhan tugas, saat ini tujuanku benar-benar untuk memperkenalkan kuliner ini kepada orang banyak.

Ya, di tatkala, selain belajar menulis, aku juga belajar untuk lebih peduli terhadap lingkungan sekitar. Dan itu tidak kudapatkan di bangku perkuliahan. Sebab menulis sate keladi ini aku menjadi sadar, ternyata desaku memiliki banyak hal unik yang belum aku eksplor lebih dalam lagi.[T]

Penulis adalah mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi STAHN Mpu Kuturan Singaraja yang sedang menjalani Praktik Kerja Lapangan (PKL) di tatkala.co.

Editor: Jaswanto

Menikmati Sate Keladi Khas Pedawa yang Unik
Tags: Desa Pedawaste keladi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Belajar dari Penertiban Joged Era Belanda

Next Post

DIALOG DI TEPI MASCETI: Kritik Diri Seorang Ida Padanda Made Sidemen tentang Kependetaan

Gede Agus Eka Pratama

Gede Agus Eka Pratama

Mahasiswa Jurusan Dharma Duta, Ilmu Komunikasi, STAHN Mpu Kuturan Singaraja

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
DIALOG DI TEPI MASCETI: Kritik Diri Seorang Ida Padanda Made Sidemen tentang Kependetaan

DIALOG DI TEPI MASCETI: Kritik Diri Seorang Ida Padanda Made Sidemen tentang Kependetaan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co