24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Belajar Menulis, Sate Keladi, dan Kepedulian

Gede Agus Eka Pratama by Gede Agus Eka Pratama
April 23, 2024
in Esai
Belajar Menulis, Sate Keladi, dan Kepedulian

Sate keladi | Foto: Agus Eka

SAAT ini aku sudah  memasuki semester yang membuat berpikir bahwa berumah tangga sepertinya lebih baik daripada kuliah. Namun itu hanya pikiran liar di tengah gempuran tugas kuliah saja. Apalagi ditambah saat ini aku sedang memasuki dunia PKL atau simulasi menjadi perkerja yang sesungguhnya.

Aku mendapatkan tempat PKL di portal berita jurnalisme warga yang cukup terkenal di Bali, tatkala.co. Walaupun aku bukan seorang yang bisa dibilang pandai dalam menulis, tapi akan kucoba jalani dengan sebaik mungkin apa yang telah dipersipkan oleh prodi tempatku belajar.

Hari pertama Praktik Kerja Lapangan (PKL) di tatkala.co, aku mendapatkan ilmu baru dalam hal menulis. Berawal dari diskusi cukup panjang bersama Jaswanto, seniorku di tempat PKL, aku banyak belajar tentang bagaimana seni menulis. Jujur, menulis adalah hal yang kurang aku sukai dan memang tidak pernah ada dalam catatan cita-citaku—aku tidak pernah membayangkan untuk menjadi seorang penulis.

Awalnya, dalam bayanganku, menulis itu sesuatu yang membosankan. Namun, setelah berdiskusi banyak hal dengan Kak Jas, panggilan akrab Jaswanto, aku sadar bahwa menulis itu ternyata tidak seseram yang aku bayangkan.

Aku jadi sedikit tertarik untuk memulai belajar menulis. Beberapa kali aku sempat menulis memang, tapi itu hanya memenuhi tuntutan tugas perkuliahan, bukan benar-benar atas dasar keinginanku sendiri. Dan aku baru tahu, ternyata menulis itu tidak melulu harus baku, formal, atau ilmiah. Kita juga bisa menceritakan banyak hal yang biasa-biasa saja, pengalaman, atau tergantung imajinasi, seperti halnya menulis fiksi, misalnya.

Saat diskusi, Jaswanto memberi challenge kepadaku untuk membuat sebuah tulisan tentang pengalaman yang paling berkesan dalam hidupku. Aku berpikir sejenak, dan teringat tentang sate keladi yang pernah kuulas dulu. Aku ingin kembali mengulas kuliner khas yang baru kurasakan ketika sudah dewasa itu—dan itupun cuma sekali.

***

Aku berasal dari desa yang memiliki tradisi dan kebudayaan yang berbeda dari desa-desa pada umumnya di Bali. Pedawa, nama desaku. Desa yang terletak di pegunungan dan memiliki julukan Bali Aga atau desa tua itu, banyak memiliki hal unik yang aku banggakan.

Namun, mengenai hal tersebut, aku baru menyadarinya saat duduk di bangku kuliah. Salah satu hal unik yang dimiliki desaku adalah sate keladi. Ini merupakan makanan khas yang dimiliki Desa Pedawa, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng. Jika sate pada umumnya terbuat dari daging hewan, di desaku sedikit berbeda, sate dibuat dari keladiatau talas sebagai bahan baku utamanya.

Sedikit cerita, meski lahir dan tinggal di Pedawa, aku merasakan sate keladi untuk pertama kalinyapada saat kuliah semester empat. Saat itu aku mendapat tugas dari salah satu dosenku untuk membuat berita. Dari sana aku ingin mengangkat sate keladisebagai objek tulisan.

Pada saat mendapatkan tugas tersebut, dibantu orang tuaku, aku membuat sate keladi di rumah. Hal ini aku lakukan agar bisa mendeskripsikan rasa sate keladi dalam beritaku. Oh, ternyata seenak itu rasanya—walaupun proses pembuatannya agak panjang memang.

Pedawa, dengan tanahnya yang subur, dan letak geografisnya yang berada di ketinggian, membuat masyarakatnya bergantung pada hasil hutan dan perkebunan. Maka wajar jika tanaman keladi tumbuh subur di tanah kami, yang mampu dimanfaatkan dengan baik.

Sate keladi Pedawa | Foto: Agus Eka

Walaupun aku sangat menyukai keladi atau talas, tapi aku tidak suka kalau jenis umbi-umbian tersebut dicampur dengan nasi, atau di desaku lebih dikenal dengan muranan. Jika ibu masak nasi muranan, seketika nafsu makanku hilang begitu saja. Tetapi, jika keladinya di kukus, dibuatkan kripik, atau diolah menjadi makanan lainnya, aku menyukainya.

Mengenai sate keladi khas Pedawa, aku sempat bertanya kepada tokoh masyrakat Pedawa bernama Wayan Sukrata—atau lebih akrab disapa Pak Guru Jagung. Panggilan yang cukup unik bagiku.

Pak Jagung mengatakan, sate keladi lahir karena penduduk Pedawa dahulu tidak berkecukupan dan tidak mampu untuk membeli daging sehingga memanfaat hasil alam yang sangat melimpah di desa kami. Mendengar penjelasan tersebut, aku merasa bangga dengan orang-orang zaman dulu, di tengah keterbatas mereka mampu mengolah apa yang ada di alam menjadi hal yang memilki nilai lebih.

Aku sempat merenung sambil mendengarkan ceritanya Pak Jagung mengenai sate keladi. Jika aku lahir di zaman dulu, apakah aku bisa hidup dengan baik? Apakah aku bisa mengolah apa yang ada di sekitar menjadi sesuatu yang bermanfaat?

***

Sate keladi, dalam proses memasak,sebenarnya sama dengan sate pada umumnya, sama-sama dipanggang. Yang membedakan adalah bahan baku utamanya, yaitu daging diganti dengan keladi.

Selain itu, cara menempatkannya di stik juga berbeda. Jika sate pada umumnya ditusuk ujung stik—orang Pedawa biasa menyebutnya dengan katikan sate—sedangkan sate keladi dililitkan di tengah-tengah katikan sate. Sekilas seperti membuat sate lilit ikan. Hanya saja, sate ikan dililitkan di ujung katikan.

Hal tersebut bukan tanpa alasan, melainkan karena kami masih menggunakan tungku api tradisional yang terbuat dari tanah liat—yang bagian atasnya mempunyai lubang berbentuk lingkaran. Di atas lubang itulah kami mematangkan sate keladi. Oleh karena itu, adonan keladi harus dililitkan di bagian tengah katikan-nya.

Setelah menanyakan banyak hal tentang sate keladi kepada Pak Jagung, saat itulah aku mencoba untuk membuat sate keladidi rumah. Pada saat praktik, aku dibantu ibuku. Membuat sate keladi ternyata tidak semudah yang aku bayangkan.

Banyak bumbu yang harus disiapkan, seperti bawang merah, bawang putih, cabai rawit, kunyit, jahe, kencur, ketumbar, kemiri, juga penyedap rasa. Selain menyiapkan bumbu, hal paling sedikit menjengkelkan adalah saat mengupas keladi dari kulitnya. Karena jika tidak terbiasa, ini akan menyebabkan tangan menjadi gatal-gatal.

Proses mengupas selesai, keladi lalu dicuci sampai bersih, hingga tidak ada lagi kenangan-kenangan yang tersisa. Eh, salah, maksudku sampai tidak ada kotoran yang menempel di keladinya. Sambil memarut kelapa sebagai campuran adonan sate keladi, ibu memintaku untuk segera mengukus keladi. Setelah keladi matang baru ditumbuk hingga tercipta sebuah adonan.

Singkat cerita, setelah menjadi adonan, keladi lembut itu lalu dicampur dengan semua elemen yang telah disiapkan, seperti bumbu dan parutan kelapa, hingga tahap akhirnya dililitkan pada katikan bambu atau batang kelapa. Sate keladi siap untuk dipanggang di atas tungku. Kuliner khas Pedawa ini paling enak dimakan saat masih panas, apalagi ditemani nasi hangat dan sambal terasi, dijamin bikin ketagihan.

Ah, sampai di sini, seandainya aku tidak diberi tugas untuk  menulis berita, dulu, mungkin sampai saat ini aku masih belum tahu tentang sate keladi. Dan jika dulu tujuan menulis sate keladi, selain penasaran hanya untuk kebutuhan tugas, saat ini tujuanku benar-benar untuk memperkenalkan kuliner ini kepada orang banyak.

Ya, di tatkala, selain belajar menulis, aku juga belajar untuk lebih peduli terhadap lingkungan sekitar. Dan itu tidak kudapatkan di bangku perkuliahan. Sebab menulis sate keladi ini aku menjadi sadar, ternyata desaku memiliki banyak hal unik yang belum aku eksplor lebih dalam lagi.[T]

Penulis adalah mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi STAHN Mpu Kuturan Singaraja yang sedang menjalani Praktik Kerja Lapangan (PKL) di tatkala.co.

Editor: Jaswanto

Menikmati Sate Keladi Khas Pedawa yang Unik
Tags: Desa Pedawaste keladi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Belajar dari Penertiban Joged Era Belanda

Next Post

DIALOG DI TEPI MASCETI: Kritik Diri Seorang Ida Padanda Made Sidemen tentang Kependetaan

Gede Agus Eka Pratama

Gede Agus Eka Pratama

Mahasiswa Jurusan Dharma Duta, Ilmu Komunikasi, STAHN Mpu Kuturan Singaraja

Related Posts

‘Janji-janji Jepang’

by Angga Wijaya
April 23, 2026
0
‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

Read moreDetails

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

by Chusmeru
April 23, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

Read moreDetails

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
0
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

Read moreDetails

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
0
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

Read moreDetails

Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

by Petrus Imam Prawoto Jati
April 21, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang...

Read moreDetails

NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

by Dede Putra Wiguna
April 20, 2026
0
NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

PERNAHKAH Anda menjumpai situasi di mana sebuah persoalan dibicarakan berulang-ulang, diperdebatkan panjang lebar, bahkan diposting di berbagai platform, namun tidak...

Read moreDetails

Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

by Agung Sudarsa
April 20, 2026
0
Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

SETIAP peringatan Raden Ajeng Kartini sering kali berhenti pada simbol: kebaya, kutipan surat, dan narasi emansipasi yang diulang. Namun jika...

Read moreDetails

Mungkinkah Budaya Adiluhung Baduy Rusak karena Pengaruh Digitalisasi dan Destinasi Wisata?

by Asep Kurnia
April 20, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

KITA dan siapa pun, akan begitu tercengang dengan berbagai perubahan fisik (lingkungan geografis) yang begitu cepat serta sporadis termasuk perubahan...

Read moreDetails

Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

by Jro Gde Sudibya
April 20, 2026
0
Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

Paradigma Baru Industri Pariwisata Pasca Pandemi Covid-19 yang meluluhlantakkan perekonomian Bali, Industri Pariwisata Bali "mati suri", tumbuh negatif 9,3 persen...

Read moreDetails

Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

by Cindy May Siagian
April 19, 2026
0
Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

MENURUT Suarta dan Dwipaya (2022:10), karya sastra adalah wadah untuk menuangkan gagasan dan kreativitas dari seseorang untuk mengajak pembaca mendiskusikan...

Read moreDetails
Next Post
DIALOG DI TEPI MASCETI: Kritik Diri Seorang Ida Padanda Made Sidemen tentang Kependetaan

DIALOG DI TEPI MASCETI: Kritik Diri Seorang Ida Padanda Made Sidemen tentang Kependetaan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co