23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Belajar dari Penertiban Joged Era Belanda

Sugi Lanus by Sugi Lanus
April 23, 2024
in Esai
Belajar dari Penertiban Joged Era Belanda

Pada tahun 1891, controleur pemerintahan Belanda di wilayah Jembrana menyalahkan peningkatan kerusuhan di wilayahnya berhubungan dengan kesenian gandrung, léko, jogéd atau adar yang diselenggarakan di wilayah kapungawan Punggawa Jembrana, yang pimpin oleh Goesti Made Prantjak. Pada era itu ada beberapa kerusuhan saat pertunjukan seni tersebut. Ada pelemparan batu, perusakan properti, melukai orang ngibing, para penari, dan orang tua mereka. Setelah itu terjadi balas dendam yang membuat kerusuhan merembet.

Karena kerusuhan itu maka aturan pertunjukan gandrung, lèko, jogèd atau adar, diperketat. Aturannya ditulis dan diberikan kepada ketua perkumpulan (seka), harus ada ijin dengan syarat peraturan etika kesopanan yang mengatur pelaksanaan pertunjukan.

Berikut aturan berbahasa Melaku berisi aturan yang berlaku sebelum tahun 1888, sebagaimana dilaporkan oleh panitia komisi Belanda bernama H. Damsté, dimuat dalam ADATRECHTBUNDELS XXXVII: BALI EN LOMBOK, 1934


Soerat Kaidinan.

Di pegang oleh i orrang … kepala seka di kampong … njang
dia memegang(a)…nama…tandanja njang dia bole bermainken ini, kapan dan dimana dia soeka di dalem district… dengen toeroet atoeran pegimana njang terseboot di bawah ini:

Fatsal 1. Kaloe mainanja… di tanggap orrang lain district misti kepala seka minta permissie pada pembekel.

Fatsal 2. Bajaranja orrang njang mengibing tida bole koerang 15 kèpèng dapetnja 10 kempoel.

Fatsal 3. Tida bole orrang mengibing kaloe boekan itoe orrang sendiri njang di toendik atau temenja.

Fatsal 4. Orrang njang di toendik satemen-temennja tida bole mengibing lebih dari 10 kempoel kaloe tida di toendik lagi sekali.

Fatsal 5. Orrang njang mengibing misti pakean dengen pake saboek dan tida bole tarik kantjoet telaloe pandjang sampe bole kaindjek orrang, djoega tida bole kantjoetan.

Fatsal 6. Kaloe ada orrang njang maoe mengibing lebih dari 10 kempoel sabeloemnja ditoendik lagi sekali atau pakeanja koerang roepa dilarang sama kepala seka, tida maoedengerken, kepala seka lantas misti brentiken permainannja, dan orrang njang bikin roesoeh di srahken sama policie, dia nanti misti baijar roeginja kepala seka1 malem itoe.

Fatsal 7. Kaloe bikin permainan boekan tempatnja sendiri, misti kepala seka bawak ini soerat djadi kapan kepala tanjak misti ada.

Fatsal 8. Djikaloe kepala seka tledor pendjagaannja dari atoeran njang terseboet tadi kena oekoeman denda f 1 sampe f 5.

Fatsal 9. Djikaloe kepala seka tida toeroet atoeran bagimana njang terseboet diatas tadi nanti ini soerat idin di tjaboet oleh kepala negri.

Djembrana, ari… Controleur..


𝐏𝐞𝐥𝐚𝐣𝐚𝐫𝐚𝐧 𝐮𝐧𝐭𝐮𝐤 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐚𝐭𝐮𝐫 𝐉𝐨𝐠𝐞𝐝 𝐉𝐚𝐫𝐮𝐡

Surat Ijin untuk penertiban Joged di atas berisi 9 pasal aturan yang mengatur yang harus diikuti. Jika terjadi pelanggaran maka ijin seka (group) akan dicabut.

1. Semua pertunjukan harus berijin dan mendapat permisi dari Perbekel (Kepala Desa).

⁠2. Ada batas terbawah harga tiket ngibing, dengan panjang waktu ngibing ditentukan.

⁠3. Tidak boleh semua orang ngibing, hanya yang ditunjuk oleh penari, sehingga tidak ada saling berebutan.

4. ⁠Yang sudah ngibing bisa ngibing lagi dengan tiket lain atau tambahan.

⁠5. Penari dan yang ngibing harus sopan dengan mengikuti etika kesopanan berpakaian dan gerak-gerik yang wajar.

⁠6. Kalau ada orang yang ngibing, sekaa dan penari, serta pihak lain tidak mengikuti etika dan aturan seusai ijin-aturan pertunjukan maka dilaporkan ke polisi. Pertunjukan harus dihentikan oleh Kelian Seka (Ketua Sanggar Seni yang pentas). Yang memancing keributan harus membayar kerugian yang ditimbulkannya.

⁠7. Jika Kelian Seka teledor, sengaja atau tidak sengaja melanggar, tidak dengan tegas mengikuti aturan, maka didenda uang dengan berat, sesuai aturannya yang harus dibuat terlebih dahulu.

⁠8. Kalau Kelian Sekaa tidak mengikuti aturan yang sudah ditentukan, maka group kesenian tidak dijinkan pentas dimanapun. Ijin perkumpulannya dicabut dan dilarang pentas dimanapun.

Kenapa Joged sekarang bablas?

Salah satu faktor melunjak dan kacaunya pertunjukan joget di banyak tempat sekarang adalah kepala desa atau perbekel serta aparat desa umumnya tidak berani melakukan penertiban mengingat payung hukumnya tidak jelas. Polisi pun jika ditanya akan ragu menjawab: Apakah persoalan penertiban kesenian jaruh ini adalah ranah desa adat atau polisi (?)

Yang perlu dibuat adalah Peraturan Gubernur atau Peraturan Bupati yang mengatur sesuai pasal-pasal di atas sebagai payung hukumnya. Kalau telah ada maka langsung diserahkan pemberlakuan dan penertibannya kepada polisi bersama aparat desa dan pecalang di masing-masing tempat pertunjukan.

Jika ada joget jaruh, baik yang ngibing atau jogetnya, langsung ditindak seketika. Pelaku ngibing jaruh dan jogednya dibawa ke Kepala Desa oleh Pecalang yang bertugas.

Pelanggar aturan harus ditindak tegas, dilaporkan ke Polisi sebagai pelanggaran etika atau pelanggaran ijin, untuk ditertibkan, termasuk pencabutan ijin dengan sanksi — tidak bisa lagi melakukan pementasan bagi sekaa yang telah mementaskan joged jaruh.

Jika pemimpin Bali sekarang tidak bisa mengatur joged, apakah ini artinya perlu menunggu controleur Belanda dan komisi Belanda H. Damsté bangkit dari kubur?

Joged jaruh yang makin liar adalah pertanda Bali dalam situasi “lack of leadership”. Bali tuna pemimpin bervisi dan tegas. Bali tidak punya “orang tua”. [T]

BACA artikel lain dari penulis SUGI LANUS

Catatan dari Pura Meduwekarang 2003: GEMPA BALI 1917, BOM BALI 2002
MAHARSI PENULIS WEDA DI NUSANTARA
BUDAYA LAMA BALI SEDANG MENGHILANG — Koran Het vaderland, 17-05-1952
Tags: joged bumbungkesenian balisejarahseni tari
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Semangat yang Tak Luntur, Merawat Tutur Leluhur

Next Post

Belajar Menulis, Sate Keladi, dan Kepedulian

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Belajar Menulis, Sate Keladi, dan Kepedulian

Belajar Menulis, Sate Keladi, dan Kepedulian

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co