2 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Catatan dari Pura Meduwekarang 2003: GEMPA BALI 1917, BOM BALI 2002

Sugi Lanus by Sugi Lanus
October 10, 2021
in Esai
Catatan dari Pura Meduwekarang 2003: GEMPA BALI 1917, BOM BALI 2002

Relief orang naik sepeda di Pura Meduwe Karang, Kubutambahan, Buleleng, Bali

DI TAHUN 1904, W.O.J. Nieuwenkamp, merupakan artis Eropa perintis yang berkunjung ke Bali, mendarat di Pelabuhan Buleleng, Bali Utara. Sebagai artis yang belum tahu banyak tentang Bali, ia telah mempersiapkan sebuah sepeda. Barangkali yang ia bayangkan sepeda adalah sebuah alternatif transportasi yang murah untuk menjelajahi Bali. Kenyataannya, sepedanya tertatih melewati jalan pedesaan Bali. Jalanan di Bali ketika itu tak banyak yang bisa lewati sepeda, dan yang tak pernah ia bayangkan adalah sepeda itu akan menjadi perhatian yang menghebohkan di jalan-jalan yang dilaluinya. Dalam perjalanannya ke Bali yang kedua, di tahun 1906, Nieuwenkamp sangat terkejut. Ia menemukan sepeda dan dirinya telah ”diabadikan” pada relief batu di Pura Meduwekarang, Kubutambahan, Bali Utara.

W.O.J. Nieuwenkamp

Gentuh Gumi

Tahun 1917 terjadi sebuah gempa dasyat di Bali. Almarhum kakek saya, yang tinggal di wilayah Seririt -Bali Utara, adalah salah satu saksi kekuatan guncangan gempa itu. Peristiwa itu ia sebut sebagai gentuh gumi (malapetaka bumi). Dari cerita-ceritanya, saya mendengar bangunan-bangunan rata dengan tanah ketika itu. Dari catatan perjalanan, foto dan lukisan-lukisan Nieuwenkamp, yang saya temukan dalam buku berjudul ”W.O.J. Nieuwenkamp, First European Artist in Bali” karya Bruce W. Carpenter, banyak bangunan-bangunan yang musnah dan berubah setelah kedatangannya, setelah gempa atau gentuh gumi itu.

Di Desa Pengastulan, Utara Seririt, sebuah candi bentar Pura Subak yang pernah Nieuwenkamp gambar dan foto di tahun 1904, betul-betul musnah setelah gempa di tahun 1917. Pura Meduwekarang, dimana sepeda Nieuwenkamp dan dirinya telah ”diabadikan” pada relief batu, juga tidak luput dari pengaruh guncangan. Tampaknya, pura itu mengalami pemugaran pada beberapa bagiannya. Di tahun 1937, Nieuwenkamp menemukan relief ”sepeda dan dirinya” juga telah dipugar.

Sebelum gempa tahun 1917, Nieuwenkamp dan sepedanya digambarkan ”realis”. Setelah pemugaran, relief seorang bersepeda itu masih dipertahankan. Namun, setelah tahun 1937 hingga kini masih kita bisa lihat, sepeda dan pengendaranya sudah ”di-Balikan”. Roda sepeda tidak lagi direliefkan dengan ban karet dan berjeruji besi. Tapi, roda belakang telah diubah menjadi bermotif bunga oleh pemugarnya. Ban depan telah diganti dengan ukiran Cakra, jeruji dalamnya diganti dengan Trisula. Orang yang mengendarainya, yang sebelumnya berpakaian nampak asing, telah diganti busananya dengan pakaian Bali, dengan udeng dan kamen.

Apa yang bisa kita lihat dari peristiwa gempa atau gentuh gumi 1917?

Dari cerita-cerita yang saya dengar dari almarhum kakek dan beberapa data sejarah yang sempat saya kumpulkan, banyak hal yang bisa kita pelajari dari gempa bumi tahun 1917. Antara lain :
1. Pura-Pura dan bangunan-bangunan banyak harus dipugar.
2. Beberapa unsur bangunan atau pura lenyap tak berbekas (tak dibangun kembali atau tak mungkin lagi dikembalikan seperti semula).
3. Yang mengalami pemugaran-pemugaran mengalami penyesuaian-penyesuaian ketinggian dan pertimbangan arsitektural yang nampaknya sangat mempertimbangkan kekuatan untuk menahan guncangan. Barangkali mereka telah memprediksikan bahwa gempa susulan akan datang pada tahun-tahun selanjutnya. Dan ini terbukti benar. Di tahun 1976, ketika gempa dasyat kembali mengguncang Seririt, menurut cerita Bapak Made Sanggra (penyair sepuh Bali) yang menjadi relawan kemanusiaan ketika itu, hanya bangunan Padmasana yang masih berdiri di kota kecil itu. (Selanjutnya kesaksian itu beliau tulis dalam bentuk sebuah puisi Bali, dalam antologi puisi Bali ”Kidung Republik”).

4. Dari Pura Meduwekarang, kita bisa melihat apa yang ”asing” di ”Bali-kan”. Relief bersepeda itu, yang merupakan bukti keberanian orang-orang Utara untuk memasukkan unsur ”profan” ke wilayah/ruang spiritual (pura), tidak dihilangkan ketika pembongkaran pura itu. Relief itu dipertahankan. Namun, secara estetika dan nilai, relief sepeda itu digugat dan didekonstruksi.

Gentuh Teknologi

Dari apa yang dimunculkan sebagai akibat Bom Bali 2002 dan Gentuh Gumi 1917, yaitu terguncangnya bumi (sekala dan niskala) dan terguncangnya tatanan spiritual dan psikologi masyarakat Bali, maka kita mesti belajar dari peristiwa 1917 itu.

Padmasana di kota Seririt, yang kukuh berdiri ketika gempa dasyat susulan di tahun 1976, telah membuktikan bahwa peristiwa buruk (gentuh) sebelumnya adalah ”pelajaran logika” dalam proses kematangan sebuah peradaban. Menimbang logika dan kematangan perhitungan dalam membangun adalah bekal dalam menghadapi gentuh-gentuh susulan yang pasti akan datang di masa depan.

Bom Bali 2002 ini adalah gentuh teknologi (bom), bukan gentuh gumi. Pelajaran logika apa yang sedang kita dapat dan akan kita kembangkan untuk mengantisipasi gentuh teknologi macam itu? Banyak intelektual Bali percaya bahwa membangun sistem keamanan adalah jawabannya. Kalau kita sejalan dengan pemikiran itu, maka sudah pasti sistem pengamanan itu harus sebuah teknologi super canggih. Sementara itu, dalam kenyataannya, sistem keamanan yang kita miliki sebagai orang Bali hanyalah pecalang, hansip dan satpam-satpam hotel. Mau apa kita dengan itu? Pada merekakah kita serahkan keamanan Bali dalam mengantisipasi kemungkinan datangnya gentuh teknologi susulan?

Atau kita percayakan saja kepada Ida Betara Kawitan dengan merasa cukup dengan menjalankan ritual atau pecaruan-pecaruan? Yang mendesak untuk kita bangun adalah sebuah sistem pendidikan yang utuh, sekolah-sekolah dan universitas-universitas yang diasuh dengan cinta, yang nantinya mampu menghasilkan pemikir-pemikir Bali yang punya nurani, punya pemahaman estetika, dan visi ke depan (bukan otot-ototan melulu, tetapi otak-otakan). Dengan berbekal nurani, kalau mereka tidak bisa membuat sistem keamanan super canggih itu, setidaknya bisa mengoperasikannya dengan santun.

Pemugaran relief orang asing naik sepeda di Pura Meduwekarang merupakan sebuah pelajaran sejarah yang luar biasa. Momentum gempa 1917, oleh masyarakat dijadikan kesempatan untuk membongkar/memugar sesuatu yang ”asing” itu dengan cara yang sangat arif. (Ban belakang diganti dengan ukiran bunga. Ban depan telah diganti dengan ukiran cakra dan jeruji dalamnya diganti dengan Trisula. Orang yang mengendarainya, yang sebelumnya berpakaian nampak asing, telah diganti busananya dengan pakaian Bali, dengan udeng dan kamen).

Dalam pemugaran itu, ada nilai yang dipugar. (Dalam cultural studies, tindakan semacam ini bisa disebut dekontruksi). Ini sebuah pelajaran bagaimana semestinya kita ”memfilter” unsur asing, ”melokalkannya”. Sebuah kearifan bagaimana kita mesti ”memugar” sesuatu yang telah terlanjur ”keliru” kita bangun dengan memanfaatkan momentum gentuh.

Setelah gentuh teknologi yang kita alami (Bom Bali 2002), kita selayaknya memaknai peristiwa ini sebagai sebuah momentum untuk membongkar/memugar apa yang terlanjur salah kita bangun. Kita seharusnya membongkar ”kebekuan berpikir” bahwa pariwisata adalah pangeran yang suci dari dosa. Dalam banyak hal, pangeran kita ini telah melakukan kesalahan (Sudah banyak ”dosa kultural” yang secara langsung/atau tidak langsung telah ia perbuat).

Dalam kerja dekonstruksi budaya, apa yang ada (pariwisata/pangeran kita) tidak harus dihentikan atau dibunuh. Semestinya kita terpanggil untuk membongkar/memugar kekeliruan-kekeliruannya. Kita mesti meruat atau lukat pangeran kita agar ia tersadar, tidak terlalu loba dan bersikap lebih arif. Kita dituntut untuk memaknai diri kita (budaya Bali) dengan pemaknaan baru. Seni budaya yang telah ia jual, harus kita tebus kembali. Nilai-nilai yang ia tabrak, harus kita tegakkan dengan cara-cara baru.

Sepeda Budaya

Dalam mengadapi situasi kita sekarang, ”sepeda budaya” kita, ban belakangnya mesti kita ganti dengan ”bunga”. (Bunga adalah lambang sesuatu yang berkembang/mekar, sesuatu yang akan menjadi buah, sarana kita saat berdoa, keindahan paling alamiah yang bergantung pada ibu bumi/tanah. Tidakkah ini sebuah petunjuk agar kita memperhatikan dan kembali pada tanah/air kita, pertanian kita?). Sementara itu, ban depannya, sebagai pusat kendali, harus kita ganti dengan Cakra dan jeruji mesti kita ganti dengan Trisula. (Cakra adalah senjata Dewa Wisnu, simbol dari kekuatan penciptaan/stiti. Wisnu bersakti Dewi Sri, ibu kesuburan/ pertanian. Trisula adalah senjata Dewa Sambu, senjata bermata tiga yang penuh keseimbangan. Sebuah senjata untuk mengawal dan memperjuangkan keseimbangan).

Dan pengendara ”sepeda kebudayaan Bali”, sudah waktunya kita ”Bali-kan”. Pengendara itu mesti maudeng dan makamen. (Simbol orang yang mengetahui tata krama berpakaian. Pakaian = busana = cihna tingkah. Sebuah panggilan kepada siapapun yang mengutamakan budi pekerti).

Keberanian untuk menggantikan ”pengendara sepeda kebudayaan Bali” sangat mendesak. Kalau kita terus bergantung pada orang lain (pada nilai kapital yang mengejawantah dalam praktik-praktik percaloan tanah, investor yang seenaknya menggasak, dan kroco-kroconya yang rakus dan buta) untuk mengendarai sepeda kita, tanggung jawab untuk merawatnya tak bisa dipercaya. Mereka (termasuk kita) lebih banyak dibutakan karena kepentingan kita. Kita bisa melihat, kalau terus bergantung pada ”tukang ojek yang ngawur”, sepeda kita akan terus diobok-obok, dipaksa ditanjakan dan jalan-jalan yang berbatu dan berlubang. Saatnya nanti, bila sepeda kita (budaya Bali) mogok, besar kemungkinan mereka akan cuci tangan atau meninggalkan begitu saja sepeda kita di tengah jalan.

Sebelum jauh terlambat, sebaiknya kita sekarang ”mengambil kembali” sepeda kita yang telah lama kita serahkan pada pengendara ”asing” itu. Walaupun kita belum mahir mengendarai, dengan dasar sayang dan kasih untuk merawat sepeda kebudayaan kita, cepat atau lambat, di antara kita akan tumbuh pengendara sepeda yang handal. Kita bersama mesti saling topang agar tidak terjadi, membimbing siapa yang punya niat tulus untuk mengendarainya. Bukan saling sogok saling tonjok, penuh nafsu berebut mengendarai ngebut kalang kabut (padahal tak punya kemampuan), pada akhirnya kita semua jatuh jumpalitan. Babak belur tak karuan.

Keberadaan dan pemugaran kembali relief sepeda di Pura Meduwekarang setelah gempa 1917, bukan hanya penanda telah masuknya sesuatu yang ”asing” ke wilayah pura/ruang spiritual kita. Tetapi juga petunjuk/pelajaran bagaimana sebaiknya kita ”mencerna” apa yang ”asing” itu dengan sistem nilai dan estetika kita. Untuk secara jernih dan arif dalam memugar apa yang telah rubuh, untuk berani membongkar ”kebutaan” dan ”dosa-dosa kultural” kita. Sebuah pelajaran sejarah bagaimana nenek-kakek kita memaknai gentuh sebagai sebuah momentum untuk ”bertobat” dan kembali menata diri. [T]

*Tulisan ini adalah Catatan Harian Sugi Lanus, Periode Desember 2002.

Tags: gempa bumikebudayaanPura Meduwe KarangRelief BaliSeni RupaSeni UkirsepedaW.O.J. Nieuwenkamp
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Garden of Intuition” Putu Winata dan Cerita Kecil Sanggar Dewata Indonesia

Next Post

Sastra dan Sejarah Berfungsi Ingatkan Kolektif Bangsa | Sarasehan Daring Satupena-5

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails

Wisata Bahari di Negeri Maritim

by Chusmeru
May 31, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BERUNTUNG Indonesia memiliki alam yang penuh pesona. Laut menjadi salah satu kekayaan alam yang membanggakan. Luas wilayah laut Indonesia mencapai...

Read moreDetails

FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

by Agung Sudarsa
May 31, 2026
0
FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

Dari Kegelisahan Menuju Gerakan Moral BALI sedang berada pada persimpangan zaman. Di satu sisi, pulau ini menikmati pertumbuhan ekonomi yang...

Read moreDetails

Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

by IGP Weda Adi Wangsa
May 30, 2026
0
Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

CANDI Pustaka merupakan istilah yang sering dipakai oleh seorang rakawi (penyair sastra Jawa Kuno) untuk menyebut karya sastranya sebagai medium...

Read moreDetails

Memang Pasar Malam

by Angga Wijaya
May 30, 2026
0
Memang Pasar Malam

BUKAN di sebuah kota kabupaten di Jawa. Bukan pula di lapangan alun-alun yang hanya ramai ketika ada perayaan tertentu. Pasar...

Read moreDetails

Kuta dan Peradaban Palegongan: Radikalisme Estetika di Ambang Pesisir

by I Gusti Made Darma Putra
May 29, 2026
0
Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada

KETIKA dunia menyebut Kuta hari ini, ingatan kolektif yang muncul hampir selalu seragam, pesisir yang riuh, lanskap global pariwisata, komodifikasi...

Read moreDetails

‘Magnifica Humanitas’ sebagai Seruan Moral di Tengah Revolusi AI

by Ruben Cornelius Siagian
May 29, 2026
0
‘Magnifica Humanitas’ sebagai Seruan Moral di Tengah Revolusi AI

TERBITNYA ensiklik Magnifica Humanitas: On Safeguarding the Human Person in the Time of Artificial Intelligence karya Paus Leo XIV menandai...

Read moreDetails
Next Post
Sastra dan Sejarah Berfungsi Ingatkan Kolektif Bangsa | Sarasehan Daring Satupena-5

Sastra dan Sejarah Berfungsi Ingatkan Kolektif Bangsa | Sarasehan Daring Satupena-5

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?
Esai

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
Di Tengah Dunia yang Semakin Pintar, Manusia Jangan Sampai Kehilangan Hati
Khas

Di Tengah Dunia yang Semakin Pintar, Manusia Jangan Sampai Kehilangan Hati

Catatan tentang AI, media sosial, dan manusia yang semakin sulit mendengar suara hatinya sendiri. KADANG-KADANG saya merasa bahwa perubahan terbesar...

by Emi Suy
June 1, 2026
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif
Esai

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
Penayangan Perdana Film Dokumenter IMAJI Karya Heri Windi Anggara
Budaya

Penayangan Perdana Film Dokumenter IMAJI Karya Heri Windi Anggara

BAYANGKAN sebuah dunia tanpa warna, tanpa garis, dan tanpa bayangan sejak pertama kali kamu membuka mata di dunia. Bagi kebanyakan...

by Satria Aditya
May 31, 2026
Radio Tua Kakek Panjul
Dongeng

Radio Tua Kakek Panjul

PAGI di Desa Muncuk Sari selalu datang dengan cara yang sama. Perlahan, lembut, seperti tangan yang membelai tanpa suara. Kabut...

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi
Cerpen

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
Puisi-puisi Muammar Qadafi Muhajir | Kelambu
Puisi

Puisi-puisi Muammar Qadafi Muhajir | Kelambu

Kelambu Suatu hari, aku bicara dengan kelambuDia berkeluh kesah tentangmalam itu doa-doakutidak sengaja tersangkut di ketiaknyaIa bilang ia khilaf dan...

by Muammar Qadafi Muhajir
May 31, 2026
Menata Luka, Merawat Jiwa  —Pengantar Buku ‘Laki-laki yang Menata Lukanya di Rak Buku’ karya Angga Wijaya
Ulas Buku

Menata Luka, Merawat Jiwa  —Pengantar Buku ‘Laki-laki yang Menata Lukanya di Rak Buku’ karya Angga Wijaya

SAYA masih ingat pertemuan pertama dengan Angga Wijaya di sebuah rumah sakit besar di Denpasar, bertahun-tahun lalu, ketika saya masih...

by dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ
May 31, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co