2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Catatan dari Pura Meduwekarang 2003: GEMPA BALI 1917, BOM BALI 2002

Sugi Lanus by Sugi Lanus
October 10, 2021
in Esai
Catatan dari Pura Meduwekarang 2003: GEMPA BALI 1917, BOM BALI 2002

Relief orang naik sepeda di Pura Meduwe Karang, Kubutambahan, Buleleng, Bali

DI TAHUN 1904, W.O.J. Nieuwenkamp, merupakan artis Eropa perintis yang berkunjung ke Bali, mendarat di Pelabuhan Buleleng, Bali Utara. Sebagai artis yang belum tahu banyak tentang Bali, ia telah mempersiapkan sebuah sepeda. Barangkali yang ia bayangkan sepeda adalah sebuah alternatif transportasi yang murah untuk menjelajahi Bali. Kenyataannya, sepedanya tertatih melewati jalan pedesaan Bali. Jalanan di Bali ketika itu tak banyak yang bisa lewati sepeda, dan yang tak pernah ia bayangkan adalah sepeda itu akan menjadi perhatian yang menghebohkan di jalan-jalan yang dilaluinya. Dalam perjalanannya ke Bali yang kedua, di tahun 1906, Nieuwenkamp sangat terkejut. Ia menemukan sepeda dan dirinya telah ”diabadikan” pada relief batu di Pura Meduwekarang, Kubutambahan, Bali Utara.

W.O.J. Nieuwenkamp

Gentuh Gumi

Tahun 1917 terjadi sebuah gempa dasyat di Bali. Almarhum kakek saya, yang tinggal di wilayah Seririt -Bali Utara, adalah salah satu saksi kekuatan guncangan gempa itu. Peristiwa itu ia sebut sebagai gentuh gumi (malapetaka bumi). Dari cerita-ceritanya, saya mendengar bangunan-bangunan rata dengan tanah ketika itu. Dari catatan perjalanan, foto dan lukisan-lukisan Nieuwenkamp, yang saya temukan dalam buku berjudul ”W.O.J. Nieuwenkamp, First European Artist in Bali” karya Bruce W. Carpenter, banyak bangunan-bangunan yang musnah dan berubah setelah kedatangannya, setelah gempa atau gentuh gumi itu.

Di Desa Pengastulan, Utara Seririt, sebuah candi bentar Pura Subak yang pernah Nieuwenkamp gambar dan foto di tahun 1904, betul-betul musnah setelah gempa di tahun 1917. Pura Meduwekarang, dimana sepeda Nieuwenkamp dan dirinya telah ”diabadikan” pada relief batu, juga tidak luput dari pengaruh guncangan. Tampaknya, pura itu mengalami pemugaran pada beberapa bagiannya. Di tahun 1937, Nieuwenkamp menemukan relief ”sepeda dan dirinya” juga telah dipugar.

Sebelum gempa tahun 1917, Nieuwenkamp dan sepedanya digambarkan ”realis”. Setelah pemugaran, relief seorang bersepeda itu masih dipertahankan. Namun, setelah tahun 1937 hingga kini masih kita bisa lihat, sepeda dan pengendaranya sudah ”di-Balikan”. Roda sepeda tidak lagi direliefkan dengan ban karet dan berjeruji besi. Tapi, roda belakang telah diubah menjadi bermotif bunga oleh pemugarnya. Ban depan telah diganti dengan ukiran Cakra, jeruji dalamnya diganti dengan Trisula. Orang yang mengendarainya, yang sebelumnya berpakaian nampak asing, telah diganti busananya dengan pakaian Bali, dengan udeng dan kamen.

Apa yang bisa kita lihat dari peristiwa gempa atau gentuh gumi 1917?

Dari cerita-cerita yang saya dengar dari almarhum kakek dan beberapa data sejarah yang sempat saya kumpulkan, banyak hal yang bisa kita pelajari dari gempa bumi tahun 1917. Antara lain :
1. Pura-Pura dan bangunan-bangunan banyak harus dipugar.
2. Beberapa unsur bangunan atau pura lenyap tak berbekas (tak dibangun kembali atau tak mungkin lagi dikembalikan seperti semula).
3. Yang mengalami pemugaran-pemugaran mengalami penyesuaian-penyesuaian ketinggian dan pertimbangan arsitektural yang nampaknya sangat mempertimbangkan kekuatan untuk menahan guncangan. Barangkali mereka telah memprediksikan bahwa gempa susulan akan datang pada tahun-tahun selanjutnya. Dan ini terbukti benar. Di tahun 1976, ketika gempa dasyat kembali mengguncang Seririt, menurut cerita Bapak Made Sanggra (penyair sepuh Bali) yang menjadi relawan kemanusiaan ketika itu, hanya bangunan Padmasana yang masih berdiri di kota kecil itu. (Selanjutnya kesaksian itu beliau tulis dalam bentuk sebuah puisi Bali, dalam antologi puisi Bali ”Kidung Republik”).

4. Dari Pura Meduwekarang, kita bisa melihat apa yang ”asing” di ”Bali-kan”. Relief bersepeda itu, yang merupakan bukti keberanian orang-orang Utara untuk memasukkan unsur ”profan” ke wilayah/ruang spiritual (pura), tidak dihilangkan ketika pembongkaran pura itu. Relief itu dipertahankan. Namun, secara estetika dan nilai, relief sepeda itu digugat dan didekonstruksi.

Gentuh Teknologi

Dari apa yang dimunculkan sebagai akibat Bom Bali 2002 dan Gentuh Gumi 1917, yaitu terguncangnya bumi (sekala dan niskala) dan terguncangnya tatanan spiritual dan psikologi masyarakat Bali, maka kita mesti belajar dari peristiwa 1917 itu.

Padmasana di kota Seririt, yang kukuh berdiri ketika gempa dasyat susulan di tahun 1976, telah membuktikan bahwa peristiwa buruk (gentuh) sebelumnya adalah ”pelajaran logika” dalam proses kematangan sebuah peradaban. Menimbang logika dan kematangan perhitungan dalam membangun adalah bekal dalam menghadapi gentuh-gentuh susulan yang pasti akan datang di masa depan.

Bom Bali 2002 ini adalah gentuh teknologi (bom), bukan gentuh gumi. Pelajaran logika apa yang sedang kita dapat dan akan kita kembangkan untuk mengantisipasi gentuh teknologi macam itu? Banyak intelektual Bali percaya bahwa membangun sistem keamanan adalah jawabannya. Kalau kita sejalan dengan pemikiran itu, maka sudah pasti sistem pengamanan itu harus sebuah teknologi super canggih. Sementara itu, dalam kenyataannya, sistem keamanan yang kita miliki sebagai orang Bali hanyalah pecalang, hansip dan satpam-satpam hotel. Mau apa kita dengan itu? Pada merekakah kita serahkan keamanan Bali dalam mengantisipasi kemungkinan datangnya gentuh teknologi susulan?

Atau kita percayakan saja kepada Ida Betara Kawitan dengan merasa cukup dengan menjalankan ritual atau pecaruan-pecaruan? Yang mendesak untuk kita bangun adalah sebuah sistem pendidikan yang utuh, sekolah-sekolah dan universitas-universitas yang diasuh dengan cinta, yang nantinya mampu menghasilkan pemikir-pemikir Bali yang punya nurani, punya pemahaman estetika, dan visi ke depan (bukan otot-ototan melulu, tetapi otak-otakan). Dengan berbekal nurani, kalau mereka tidak bisa membuat sistem keamanan super canggih itu, setidaknya bisa mengoperasikannya dengan santun.

Pemugaran relief orang asing naik sepeda di Pura Meduwekarang merupakan sebuah pelajaran sejarah yang luar biasa. Momentum gempa 1917, oleh masyarakat dijadikan kesempatan untuk membongkar/memugar sesuatu yang ”asing” itu dengan cara yang sangat arif. (Ban belakang diganti dengan ukiran bunga. Ban depan telah diganti dengan ukiran cakra dan jeruji dalamnya diganti dengan Trisula. Orang yang mengendarainya, yang sebelumnya berpakaian nampak asing, telah diganti busananya dengan pakaian Bali, dengan udeng dan kamen).

Dalam pemugaran itu, ada nilai yang dipugar. (Dalam cultural studies, tindakan semacam ini bisa disebut dekontruksi). Ini sebuah pelajaran bagaimana semestinya kita ”memfilter” unsur asing, ”melokalkannya”. Sebuah kearifan bagaimana kita mesti ”memugar” sesuatu yang telah terlanjur ”keliru” kita bangun dengan memanfaatkan momentum gentuh.

Setelah gentuh teknologi yang kita alami (Bom Bali 2002), kita selayaknya memaknai peristiwa ini sebagai sebuah momentum untuk membongkar/memugar apa yang terlanjur salah kita bangun. Kita seharusnya membongkar ”kebekuan berpikir” bahwa pariwisata adalah pangeran yang suci dari dosa. Dalam banyak hal, pangeran kita ini telah melakukan kesalahan (Sudah banyak ”dosa kultural” yang secara langsung/atau tidak langsung telah ia perbuat).

Dalam kerja dekonstruksi budaya, apa yang ada (pariwisata/pangeran kita) tidak harus dihentikan atau dibunuh. Semestinya kita terpanggil untuk membongkar/memugar kekeliruan-kekeliruannya. Kita mesti meruat atau lukat pangeran kita agar ia tersadar, tidak terlalu loba dan bersikap lebih arif. Kita dituntut untuk memaknai diri kita (budaya Bali) dengan pemaknaan baru. Seni budaya yang telah ia jual, harus kita tebus kembali. Nilai-nilai yang ia tabrak, harus kita tegakkan dengan cara-cara baru.

Sepeda Budaya

Dalam mengadapi situasi kita sekarang, ”sepeda budaya” kita, ban belakangnya mesti kita ganti dengan ”bunga”. (Bunga adalah lambang sesuatu yang berkembang/mekar, sesuatu yang akan menjadi buah, sarana kita saat berdoa, keindahan paling alamiah yang bergantung pada ibu bumi/tanah. Tidakkah ini sebuah petunjuk agar kita memperhatikan dan kembali pada tanah/air kita, pertanian kita?). Sementara itu, ban depannya, sebagai pusat kendali, harus kita ganti dengan Cakra dan jeruji mesti kita ganti dengan Trisula. (Cakra adalah senjata Dewa Wisnu, simbol dari kekuatan penciptaan/stiti. Wisnu bersakti Dewi Sri, ibu kesuburan/ pertanian. Trisula adalah senjata Dewa Sambu, senjata bermata tiga yang penuh keseimbangan. Sebuah senjata untuk mengawal dan memperjuangkan keseimbangan).

Dan pengendara ”sepeda kebudayaan Bali”, sudah waktunya kita ”Bali-kan”. Pengendara itu mesti maudeng dan makamen. (Simbol orang yang mengetahui tata krama berpakaian. Pakaian = busana = cihna tingkah. Sebuah panggilan kepada siapapun yang mengutamakan budi pekerti).

Keberanian untuk menggantikan ”pengendara sepeda kebudayaan Bali” sangat mendesak. Kalau kita terus bergantung pada orang lain (pada nilai kapital yang mengejawantah dalam praktik-praktik percaloan tanah, investor yang seenaknya menggasak, dan kroco-kroconya yang rakus dan buta) untuk mengendarai sepeda kita, tanggung jawab untuk merawatnya tak bisa dipercaya. Mereka (termasuk kita) lebih banyak dibutakan karena kepentingan kita. Kita bisa melihat, kalau terus bergantung pada ”tukang ojek yang ngawur”, sepeda kita akan terus diobok-obok, dipaksa ditanjakan dan jalan-jalan yang berbatu dan berlubang. Saatnya nanti, bila sepeda kita (budaya Bali) mogok, besar kemungkinan mereka akan cuci tangan atau meninggalkan begitu saja sepeda kita di tengah jalan.

Sebelum jauh terlambat, sebaiknya kita sekarang ”mengambil kembali” sepeda kita yang telah lama kita serahkan pada pengendara ”asing” itu. Walaupun kita belum mahir mengendarai, dengan dasar sayang dan kasih untuk merawat sepeda kebudayaan kita, cepat atau lambat, di antara kita akan tumbuh pengendara sepeda yang handal. Kita bersama mesti saling topang agar tidak terjadi, membimbing siapa yang punya niat tulus untuk mengendarainya. Bukan saling sogok saling tonjok, penuh nafsu berebut mengendarai ngebut kalang kabut (padahal tak punya kemampuan), pada akhirnya kita semua jatuh jumpalitan. Babak belur tak karuan.

Keberadaan dan pemugaran kembali relief sepeda di Pura Meduwekarang setelah gempa 1917, bukan hanya penanda telah masuknya sesuatu yang ”asing” ke wilayah pura/ruang spiritual kita. Tetapi juga petunjuk/pelajaran bagaimana sebaiknya kita ”mencerna” apa yang ”asing” itu dengan sistem nilai dan estetika kita. Untuk secara jernih dan arif dalam memugar apa yang telah rubuh, untuk berani membongkar ”kebutaan” dan ”dosa-dosa kultural” kita. Sebuah pelajaran sejarah bagaimana nenek-kakek kita memaknai gentuh sebagai sebuah momentum untuk ”bertobat” dan kembali menata diri. [T]

*Tulisan ini adalah Catatan Harian Sugi Lanus, Periode Desember 2002.

Tags: gempa bumikebudayaanPura Meduwe KarangRelief BaliSeni RupaSeni UkirsepedaW.O.J. Nieuwenkamp
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Garden of Intuition” Putu Winata dan Cerita Kecil Sanggar Dewata Indonesia

Next Post

Sastra dan Sejarah Berfungsi Ingatkan Kolektif Bangsa | Sarasehan Daring Satupena-5

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Sastra dan Sejarah Berfungsi Ingatkan Kolektif Bangsa | Sarasehan Daring Satupena-5

Sastra dan Sejarah Berfungsi Ingatkan Kolektif Bangsa | Sarasehan Daring Satupena-5

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co