24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Catatan dari Pura Meduwekarang 2003: GEMPA BALI 1917, BOM BALI 2002

Sugi Lanus by Sugi Lanus
October 10, 2021
in Esai
Catatan dari Pura Meduwekarang 2003: GEMPA BALI 1917, BOM BALI 2002

Relief orang naik sepeda di Pura Meduwe Karang, Kubutambahan, Buleleng, Bali

DI TAHUN 1904, W.O.J. Nieuwenkamp, merupakan artis Eropa perintis yang berkunjung ke Bali, mendarat di Pelabuhan Buleleng, Bali Utara. Sebagai artis yang belum tahu banyak tentang Bali, ia telah mempersiapkan sebuah sepeda. Barangkali yang ia bayangkan sepeda adalah sebuah alternatif transportasi yang murah untuk menjelajahi Bali. Kenyataannya, sepedanya tertatih melewati jalan pedesaan Bali. Jalanan di Bali ketika itu tak banyak yang bisa lewati sepeda, dan yang tak pernah ia bayangkan adalah sepeda itu akan menjadi perhatian yang menghebohkan di jalan-jalan yang dilaluinya. Dalam perjalanannya ke Bali yang kedua, di tahun 1906, Nieuwenkamp sangat terkejut. Ia menemukan sepeda dan dirinya telah ”diabadikan” pada relief batu di Pura Meduwekarang, Kubutambahan, Bali Utara.

W.O.J. Nieuwenkamp

Gentuh Gumi

Tahun 1917 terjadi sebuah gempa dasyat di Bali. Almarhum kakek saya, yang tinggal di wilayah Seririt -Bali Utara, adalah salah satu saksi kekuatan guncangan gempa itu. Peristiwa itu ia sebut sebagai gentuh gumi (malapetaka bumi). Dari cerita-ceritanya, saya mendengar bangunan-bangunan rata dengan tanah ketika itu. Dari catatan perjalanan, foto dan lukisan-lukisan Nieuwenkamp, yang saya temukan dalam buku berjudul ”W.O.J. Nieuwenkamp, First European Artist in Bali” karya Bruce W. Carpenter, banyak bangunan-bangunan yang musnah dan berubah setelah kedatangannya, setelah gempa atau gentuh gumi itu.

Di Desa Pengastulan, Utara Seririt, sebuah candi bentar Pura Subak yang pernah Nieuwenkamp gambar dan foto di tahun 1904, betul-betul musnah setelah gempa di tahun 1917. Pura Meduwekarang, dimana sepeda Nieuwenkamp dan dirinya telah ”diabadikan” pada relief batu, juga tidak luput dari pengaruh guncangan. Tampaknya, pura itu mengalami pemugaran pada beberapa bagiannya. Di tahun 1937, Nieuwenkamp menemukan relief ”sepeda dan dirinya” juga telah dipugar.

Sebelum gempa tahun 1917, Nieuwenkamp dan sepedanya digambarkan ”realis”. Setelah pemugaran, relief seorang bersepeda itu masih dipertahankan. Namun, setelah tahun 1937 hingga kini masih kita bisa lihat, sepeda dan pengendaranya sudah ”di-Balikan”. Roda sepeda tidak lagi direliefkan dengan ban karet dan berjeruji besi. Tapi, roda belakang telah diubah menjadi bermotif bunga oleh pemugarnya. Ban depan telah diganti dengan ukiran Cakra, jeruji dalamnya diganti dengan Trisula. Orang yang mengendarainya, yang sebelumnya berpakaian nampak asing, telah diganti busananya dengan pakaian Bali, dengan udeng dan kamen.

Apa yang bisa kita lihat dari peristiwa gempa atau gentuh gumi 1917?

Dari cerita-cerita yang saya dengar dari almarhum kakek dan beberapa data sejarah yang sempat saya kumpulkan, banyak hal yang bisa kita pelajari dari gempa bumi tahun 1917. Antara lain :
1. Pura-Pura dan bangunan-bangunan banyak harus dipugar.
2. Beberapa unsur bangunan atau pura lenyap tak berbekas (tak dibangun kembali atau tak mungkin lagi dikembalikan seperti semula).
3. Yang mengalami pemugaran-pemugaran mengalami penyesuaian-penyesuaian ketinggian dan pertimbangan arsitektural yang nampaknya sangat mempertimbangkan kekuatan untuk menahan guncangan. Barangkali mereka telah memprediksikan bahwa gempa susulan akan datang pada tahun-tahun selanjutnya. Dan ini terbukti benar. Di tahun 1976, ketika gempa dasyat kembali mengguncang Seririt, menurut cerita Bapak Made Sanggra (penyair sepuh Bali) yang menjadi relawan kemanusiaan ketika itu, hanya bangunan Padmasana yang masih berdiri di kota kecil itu. (Selanjutnya kesaksian itu beliau tulis dalam bentuk sebuah puisi Bali, dalam antologi puisi Bali ”Kidung Republik”).

4. Dari Pura Meduwekarang, kita bisa melihat apa yang ”asing” di ”Bali-kan”. Relief bersepeda itu, yang merupakan bukti keberanian orang-orang Utara untuk memasukkan unsur ”profan” ke wilayah/ruang spiritual (pura), tidak dihilangkan ketika pembongkaran pura itu. Relief itu dipertahankan. Namun, secara estetika dan nilai, relief sepeda itu digugat dan didekonstruksi.

Gentuh Teknologi

Dari apa yang dimunculkan sebagai akibat Bom Bali 2002 dan Gentuh Gumi 1917, yaitu terguncangnya bumi (sekala dan niskala) dan terguncangnya tatanan spiritual dan psikologi masyarakat Bali, maka kita mesti belajar dari peristiwa 1917 itu.

Padmasana di kota Seririt, yang kukuh berdiri ketika gempa dasyat susulan di tahun 1976, telah membuktikan bahwa peristiwa buruk (gentuh) sebelumnya adalah ”pelajaran logika” dalam proses kematangan sebuah peradaban. Menimbang logika dan kematangan perhitungan dalam membangun adalah bekal dalam menghadapi gentuh-gentuh susulan yang pasti akan datang di masa depan.

Bom Bali 2002 ini adalah gentuh teknologi (bom), bukan gentuh gumi. Pelajaran logika apa yang sedang kita dapat dan akan kita kembangkan untuk mengantisipasi gentuh teknologi macam itu? Banyak intelektual Bali percaya bahwa membangun sistem keamanan adalah jawabannya. Kalau kita sejalan dengan pemikiran itu, maka sudah pasti sistem pengamanan itu harus sebuah teknologi super canggih. Sementara itu, dalam kenyataannya, sistem keamanan yang kita miliki sebagai orang Bali hanyalah pecalang, hansip dan satpam-satpam hotel. Mau apa kita dengan itu? Pada merekakah kita serahkan keamanan Bali dalam mengantisipasi kemungkinan datangnya gentuh teknologi susulan?

Atau kita percayakan saja kepada Ida Betara Kawitan dengan merasa cukup dengan menjalankan ritual atau pecaruan-pecaruan? Yang mendesak untuk kita bangun adalah sebuah sistem pendidikan yang utuh, sekolah-sekolah dan universitas-universitas yang diasuh dengan cinta, yang nantinya mampu menghasilkan pemikir-pemikir Bali yang punya nurani, punya pemahaman estetika, dan visi ke depan (bukan otot-ototan melulu, tetapi otak-otakan). Dengan berbekal nurani, kalau mereka tidak bisa membuat sistem keamanan super canggih itu, setidaknya bisa mengoperasikannya dengan santun.

Pemugaran relief orang asing naik sepeda di Pura Meduwekarang merupakan sebuah pelajaran sejarah yang luar biasa. Momentum gempa 1917, oleh masyarakat dijadikan kesempatan untuk membongkar/memugar sesuatu yang ”asing” itu dengan cara yang sangat arif. (Ban belakang diganti dengan ukiran bunga. Ban depan telah diganti dengan ukiran cakra dan jeruji dalamnya diganti dengan Trisula. Orang yang mengendarainya, yang sebelumnya berpakaian nampak asing, telah diganti busananya dengan pakaian Bali, dengan udeng dan kamen).

Dalam pemugaran itu, ada nilai yang dipugar. (Dalam cultural studies, tindakan semacam ini bisa disebut dekontruksi). Ini sebuah pelajaran bagaimana semestinya kita ”memfilter” unsur asing, ”melokalkannya”. Sebuah kearifan bagaimana kita mesti ”memugar” sesuatu yang telah terlanjur ”keliru” kita bangun dengan memanfaatkan momentum gentuh.

Setelah gentuh teknologi yang kita alami (Bom Bali 2002), kita selayaknya memaknai peristiwa ini sebagai sebuah momentum untuk membongkar/memugar apa yang terlanjur salah kita bangun. Kita seharusnya membongkar ”kebekuan berpikir” bahwa pariwisata adalah pangeran yang suci dari dosa. Dalam banyak hal, pangeran kita ini telah melakukan kesalahan (Sudah banyak ”dosa kultural” yang secara langsung/atau tidak langsung telah ia perbuat).

Dalam kerja dekonstruksi budaya, apa yang ada (pariwisata/pangeran kita) tidak harus dihentikan atau dibunuh. Semestinya kita terpanggil untuk membongkar/memugar kekeliruan-kekeliruannya. Kita mesti meruat atau lukat pangeran kita agar ia tersadar, tidak terlalu loba dan bersikap lebih arif. Kita dituntut untuk memaknai diri kita (budaya Bali) dengan pemaknaan baru. Seni budaya yang telah ia jual, harus kita tebus kembali. Nilai-nilai yang ia tabrak, harus kita tegakkan dengan cara-cara baru.

Sepeda Budaya

Dalam mengadapi situasi kita sekarang, ”sepeda budaya” kita, ban belakangnya mesti kita ganti dengan ”bunga”. (Bunga adalah lambang sesuatu yang berkembang/mekar, sesuatu yang akan menjadi buah, sarana kita saat berdoa, keindahan paling alamiah yang bergantung pada ibu bumi/tanah. Tidakkah ini sebuah petunjuk agar kita memperhatikan dan kembali pada tanah/air kita, pertanian kita?). Sementara itu, ban depannya, sebagai pusat kendali, harus kita ganti dengan Cakra dan jeruji mesti kita ganti dengan Trisula. (Cakra adalah senjata Dewa Wisnu, simbol dari kekuatan penciptaan/stiti. Wisnu bersakti Dewi Sri, ibu kesuburan/ pertanian. Trisula adalah senjata Dewa Sambu, senjata bermata tiga yang penuh keseimbangan. Sebuah senjata untuk mengawal dan memperjuangkan keseimbangan).

Dan pengendara ”sepeda kebudayaan Bali”, sudah waktunya kita ”Bali-kan”. Pengendara itu mesti maudeng dan makamen. (Simbol orang yang mengetahui tata krama berpakaian. Pakaian = busana = cihna tingkah. Sebuah panggilan kepada siapapun yang mengutamakan budi pekerti).

Keberanian untuk menggantikan ”pengendara sepeda kebudayaan Bali” sangat mendesak. Kalau kita terus bergantung pada orang lain (pada nilai kapital yang mengejawantah dalam praktik-praktik percaloan tanah, investor yang seenaknya menggasak, dan kroco-kroconya yang rakus dan buta) untuk mengendarai sepeda kita, tanggung jawab untuk merawatnya tak bisa dipercaya. Mereka (termasuk kita) lebih banyak dibutakan karena kepentingan kita. Kita bisa melihat, kalau terus bergantung pada ”tukang ojek yang ngawur”, sepeda kita akan terus diobok-obok, dipaksa ditanjakan dan jalan-jalan yang berbatu dan berlubang. Saatnya nanti, bila sepeda kita (budaya Bali) mogok, besar kemungkinan mereka akan cuci tangan atau meninggalkan begitu saja sepeda kita di tengah jalan.

Sebelum jauh terlambat, sebaiknya kita sekarang ”mengambil kembali” sepeda kita yang telah lama kita serahkan pada pengendara ”asing” itu. Walaupun kita belum mahir mengendarai, dengan dasar sayang dan kasih untuk merawat sepeda kebudayaan kita, cepat atau lambat, di antara kita akan tumbuh pengendara sepeda yang handal. Kita bersama mesti saling topang agar tidak terjadi, membimbing siapa yang punya niat tulus untuk mengendarainya. Bukan saling sogok saling tonjok, penuh nafsu berebut mengendarai ngebut kalang kabut (padahal tak punya kemampuan), pada akhirnya kita semua jatuh jumpalitan. Babak belur tak karuan.

Keberadaan dan pemugaran kembali relief sepeda di Pura Meduwekarang setelah gempa 1917, bukan hanya penanda telah masuknya sesuatu yang ”asing” ke wilayah pura/ruang spiritual kita. Tetapi juga petunjuk/pelajaran bagaimana sebaiknya kita ”mencerna” apa yang ”asing” itu dengan sistem nilai dan estetika kita. Untuk secara jernih dan arif dalam memugar apa yang telah rubuh, untuk berani membongkar ”kebutaan” dan ”dosa-dosa kultural” kita. Sebuah pelajaran sejarah bagaimana nenek-kakek kita memaknai gentuh sebagai sebuah momentum untuk ”bertobat” dan kembali menata diri. [T]

*Tulisan ini adalah Catatan Harian Sugi Lanus, Periode Desember 2002.

Tags: gempa bumikebudayaanPura Meduwe KarangRelief BaliSeni RupaSeni UkirsepedaW.O.J. Nieuwenkamp
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Garden of Intuition” Putu Winata dan Cerita Kecil Sanggar Dewata Indonesia

Next Post

Sastra dan Sejarah Berfungsi Ingatkan Kolektif Bangsa | Sarasehan Daring Satupena-5

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Sastra dan Sejarah Berfungsi Ingatkan Kolektif Bangsa | Sarasehan Daring Satupena-5

Sastra dan Sejarah Berfungsi Ingatkan Kolektif Bangsa | Sarasehan Daring Satupena-5

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co