14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

BUDAYA LAMA BALI SEDANG MENGHILANG — Koran Het vaderland, 17-05-1952

Sugi Lanus by Sugi Lanus
December 10, 2022
in Esai, Pilihan Editor
BUDAYA LAMA BALI SEDANG MENGHILANG — Koran Het vaderland, 17-05-1952

Koran Het vaderland, 17-05-1952

Catatan Harian Sugi Lanus, 28 November 2022

PAGI HARI INI mendung. Begitulah matahari memang sering kali ragu terbit beberapa minggu belakangan di Bali. Bahkan dalam pementasan G20 minggu lalu, agar terjamin pentas di luar gedung berjalan baik, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan memanggil sahabat saya Dr. Tri Handoko Seto, pakar modifikasi cuaca, untuk mengerahkan pasukan AU dengan 3 pesawat mondar-mandir di udara untuk menaburi awan dengan berton-ton garam.

Dalam mendung begini saya baca koran. Bukan koran Bali Post, tapi koran digital Het vaderland, 17-05-1952.

Mendung menjadi tambah muram dengan tajuk dewan redaksi yang berjudul: DE OUDE CULTUUR VAN BALI VERDWIJNT (BUDAYA LAMA BALI SEDANG MENGHILANG).

Halooo, ini koran tahun 1952!

Saya membayangkan kemarin ketika mas Tri (panggilan saya untuk Dr. Tri Handoko Seto) berburu awan di atas pulau Bali, hilir mudik dengan 3 pesawat menabur garam, dia sedang mengerahkan AJI PENERANG yang ditulis dalam berjilid-jilid lontar mantra pengusir hujan dalam versi sains modern. Dan begitulah, harus kita terima TUKANG TERANG dan TUKANG UJANANG, meringkuk di kamar pengap berasap dupa, dan sains yang terbukti ilmiah berjaya mengejar awan dengan pesawat di angkasa.

Nasib serupa itu, lontar-lontar USADA BALI juga sudah tersisih. Berjilid-jilid lontar yang menjadi pedoman kesehatan kuratif dan preventif dalam menjaga kesehatan orang Bali yang dipakai berabab-abad digantikan oleh apotik dan puskesmas, dari semenjak awal era kolonial Belanda.

Lontar CARCAN JARAN (klasifikasi dan ciri-ciri baik buruk kuda/JARAN) telah lama lenyap dari peredaran mengingat JARAN/KUDA sudah lama menghilang dari peredaran transportasi semenjak GENERAL MOTOR membawa truk ke Bali di era kolonial.

Kini yang beredar sebagai pengganti LONTAR CARCAN JARAN adalah iklan berserak di pempatan jalan berupa foto berbagai SEPEDA MOTOR terbaru dengan spesifikasi lengkap harga cicilan per bulan dipajang di baliho di depan bale banjar, bahkan sering jadi sponsor bazar pemuda banjar.

Di satu sisi yang paling fundamental, Belanda membawa aksara Latin menggantikan aksara Bali, lengkap dengan rancang bangun KUHP dan KUHAP, menggantikan awig-awig di seluruh penjuru Bali, bahkan se-Nusantara. Semenjak itu, setelah aksara Bali diganti aksara Latin, tetap saja, sekalipun umumnya makin banyak buta aksara Bali, orang Bali merasa tetap Bali. Puja mantra dan Kakawin yang dulunya bertulis aksara Bali yang “gampang ditembangkan” karena dalam penulisan aksara Bali itu ada secara intrinsik terdapat bagaimana cara pengucapannya, dioprek jadi bertulis aksara Latin sehingga tidak lagi mudah dikenali cara pengucapannya secara saih. Tetap saja merasa Bali, tetap Bali.

Pagi ini mendung. Saya terjemahkan cepat tajuk rencana koran tahun 1952 yang berjudul “DE OUDE CULTUUR VAN BALI VERDWIJNT” (BUDAYA LAMA BALI SEDANG MENGHILANG), sebagai berikut:

BUDAYA LAMA BALI SEDANG HILANG

Terlepas dari nikmat para dewa

(Dari Editor Wilayah Luar Negeri kami)

Ada jam listrik di jalan utama di Denpasar — ibukota Bali. Mungkin satu-satunya di pulau itu. Jika Anda membandingkan waktu yang ditunjukkannya dengan jam tangan Anda: seperempat jam lebih cepat. Di Hotel Bali Anda melihat bahwa lima belas menit kemudian angka yang ditunjuk adalah angka yang sama. Jam di jalan utama terlambat lima belas menit. Dia memberi waktu Bali, bukan waktu Jawa. Tidak masalah — waktu adalah konsep yang relatif bagi orang Bali. Dia lebih menghargai jam tangan sebagai perhiasan daripada sebagai objek yang mengingatkannya pada tugas atau janji. Berbeda dengan orang Barat, dia tidak ingin menjadi budak waktu.

Di aloon-aloon, tidak sampai sepuluh meter dari jam lonceng, pengeras suara membunyikan pesan-pesan terkini dari Jawa. Ada tiga bioskop di Denpasar yang menayangkan film Amerika, seratus di seluruh Bali. Sekolah rakyat untuk anak-anak, pada jam malam Denpasar memiliki 1 ruang kelas yang terang benderang tempat para orang tua belajar membaca dan menulis di bawah bimbingan seorang guru.

Putra Pangeran melawan Pangeran

Waktu Bali dan waktu Jawa: ternyata berbeda beberapa menit, sebuah kenyataan berabad-abad. Sebuah simbol pertempuran antara yang lama dan yang baru, pertempuran yang dilancarkan di seluruh Indonesia, namun tidak ada yang lebih nyata selain di pulau ini. Di sana orang merasa berjalan di perbatasan dua dunia: di masa lalu, Bali dengan banyak pura besar dan kecil, di mana para dewa dan arwah nenek moyang dihormati, dengan budaya lama, di mana desa-desa begitu kaya untuk menjadi. Yang baru, di mana Informasi dan Kesehatan Masyarakat, dari Jawa, mendorong diri mereka ke depan, dan pemuda, perwakilan dari patriotisme nasional yang kuat, memodernisasi Bali.

Kepala daerah, meskipun putra raja Djembarana, musuh bebuyutan feodalisme, tetap menjadi otoritas kaum bangsawan. Anak Agoeng Bagoes Soetedja ini dianggap sebagai representasi dari minoritas generasi muda Bali yang sangat aktif. Putra dan cucu Raja Karangasem juga termasuk dalam kelompok ini, yang sangat didukung oleh pemerintah Indonesia dalam melakukan reformasi sosial.

Perlawanan terhadap modernisasi ini hidup terutama di pedesaan, datang dari generasi tua, para petani, yang melihat mandor mereka sebagai para raja. Jakarta telah mencopot Raja-Raja ini, tetapi belum mampu merampas kekuasaan mereka. Mereka adalah pemilik tanah, orang-orang dengan pengalaman administrasi bertahun-tahun. Saya mengunjungi pangeran Karangasem di kediaman pedesaannya, lebih kecil dari istana air yang terkenal tempat tinggalnya dulu, lebih dari dua puluh tahun yang lalu, pada resepsi yang diberikan oleh Gubernur Jenderal De Graeff, dia menarik perhatian umum dengan kostum indah bersulam yang dia kenakan, di bagian belakang keris emas, bertatahkan batu berharga.

Banyak yang telah berubah sejak saat itu. Dia masih memiliki kuku yang sangat panjang di jari-jari tangan kirinya, untuk membuktikan bahwa dia adalah seorang pria terhormat yang tidak melakukan pekerjaan kasar. Dan dia masih memiliki delapan istri. Dia pernah menjadi teman baik penguasa Belanda, keluarga kerajaan Belanda. Sekarang berbicara bahasa kita tampaknya sulit baginya. Dia bertanya tentang orang-orang Belanda yang dia kenal dan berkata: “Saya punya banyak teman di antara orang Belanda”, ia memainkan perannya dengan sangat baik, mengingat dia seorang amatir, dan dia jauh lebih bijaksana daripada cucu tersangka itu.

Seorang Belanda, yang telah tinggal di Bali selama bertahun-tahun, mengatakan: “Ketika para raja sedang dalam suasana hati yang baik, banyak rintangan, yang pada awalnya tampak tidak dapat diatasi, seolah-olah disulap.”

Zending (Misi Kristiani) dan terutama misi bekerja dengan rajin. Uskup Hermans berkata: “Untuk saat ini, kami membantu penduduk dengan menyediakan obat-obatan dan bantuan medis. Toh sudah banyak umat Katolik.”

Pemerintah Belanda tidak mengizinkan misi dan misi di Bali, berdasarkan Pasal 177 Konstitusi India, yang diprotes keras oleh umat Katolik dan Protestan di Parlemen Belanda. Pemerintah mendukung kepala delapan kerajaan kecil karena takut kekuasaan Bali akan dipatahkan oleh pengaruh agama asing. Kekuatan itu terletak pada kesatuan struktur sosial, agama dan budaya yang terjalin erat. Di subak, pengaturan air, yang memastikan panen padi yang berlimpah. Di kuil-kuil kuno, tarian, musik gamelan, dan ekspresi seni rakyat lainnya. Semua ini diilhami oleh kepercayaan kuno terhadap Çiwa [catatan: sekarang ditulis menjadi Śiwa, dibaca Shiwa], dewa matahari [catatan: mungkin dimaksud Śiwaraditya], bercampur dengan banyak animisme.

Kaum nasionalis muda secara radikal melepaskan diri dari ini. Bahkan orang Bali di antara mereka begitu terasing dari lingkungannya yang dulu sehingga tidak mengetahui makna yang lebih dalam dari tarian tersebut. Saya melihat, dengan orang Amerika dari hotel Bali, sebuah tarian Barong di Sanoer, di mana anak laki-laki yang kesurupan, mengertakkan gigi, melemparkan diri mereka ke atas seorang pria berjubah aneh dan bersembunyi di balik topeng yang menakutkan. Sebaliknya, mereka mencoba menusuk keris mereka di tubuh mereka sendiri. Akhirnya mereka diperciki dengan air mawar oleh pendeta, setelah itu mereka sadar kembali.

Orang Amerika bertanya kepada para pemuda tentang informasi tentang arti tarian itu. Mereka tidak tahu penjelasan lain selain pertarungan antara yang baik dan yang jahat – tapi ini cocok untuk semua tarian Bali. Padahal, apa yang dilihat sangat membuat penasaran. Barong, monster mitos berbentuk singa atau beruang besar, adalah kekuatan pelindung kebaikan. Dua pria termasuk di antara yang artifisial; dengan perlengkapan kulit, yang pertama membuat rahang perkasa berceloteh. Di seberangnya adalah Rangda, ratu para penyihir, simbol kejahatan. Biasanya seorang pendeta, mengenakan celana panjang putih dan terbungkus jubah bergaris putih, kepalanya tersembunyi di balik topeng yang mengerikan. Rangda mengancam barong dengan raungan dan gerakan mantera dari jari-jari bersarung putih yang terus bergerak, dengan batang logam yang menunjukkan kuku yang panjang. Barong melakukan gerakan-gerakan menyerang sambil mengeluarkan suara-suara yang menakutkan, namun serangan tersebut justru datang dari para penari keris yang ingin melemparkan diri ke arah Rangda. Namun, kekuatan magis penyihir membuat mereka mengarahkan keris ke tubuh mereka sendiri, barong, pada bagiannya, memastikan bahwa keris tidak dapat menembus tubuh, apa pun kekuatan yang digunakan oleh korban self-hypnosis . Kadang-kadang keris malah bengkok, tetapi: ujungnya tidak tajam dan tidak pernah ditujukan ke jaringan lunak, selalu ke tulang selangka.

Kebaikan para dewa

Sepanjang – biasanya jalan rusak – yang menghubungkan desa-desa, terdapat tembok rendah yang dilapisi jerami padi, di mana pintu kayu sempit memberikan akses ke tempat tinggal yang terbuat dari atap atau bahan lain yang mudah terbakar, banyak kuil adat kecil yang didedikasikan untuk dewa dan roh keluarga leluhur. Semuanya sangat kering dan mudah terbakar, bahkan semak-semak dan kayu yang menjulang. Satu korek api yang tidak padam, satu puntung rokok yang dibuang sembarangan – hal yang membakar hektar hutan kita setiap musim panas – di Bali akan menyebabkan jauh lebih besar seharusnya bisa menyebabkan bencana. Selang kebakaran tidak ada, apa yang bisa dilakukannya? Saya bertanya kepada orang Bali di sebelah saya di dalam mobil mengapa kebakaran tidak terjadi di sana. Dia tidak tahu penjelasannya. Saya menanyakan pertanyaan yang sama nanti ke orang lain. Dia membawa tangannya, tercapuk dengan hormat, ke arah kepalanya, dia membungkuk dan berkata: “Para dewalah yang melindungi Bali. Tanpa kehendak para dewa, tidak ada bahaya yang akan terjadi pada kita.” Dia berbicara pelan, hampir malu-malu. Karena aku orang asing bagaimana pendapat orang asing tentang dewa-dewanya, ketika mereka diejek bahkan oleh anak muda Bali?

Dia adalah seseorang dari Bali kuno. Orang yang pertama kali saya ajukan pertanyaan adalah yang baru. Itu sebabnya dia tidak menjawab.

Seorang pejabat pemerintah Belanda jauh-jauh hari telah menetapkan bahwa candi [catatan: mungkin maksudnya ‘meru’] harus memiliki atap seng, karena bahaya kebakaran. Ada beberapa di antaranya, atap yang terbakar dengan mengerikan di lingkungan mereka. Pada saat itu orang Bali sama sekali tidak mengerti mengapa penguasa kulit putih berusaha menentang kehendak para dewa dengan menetapkan bagaimana tempat tinggal mereka harus dilindungi. Seolah-olah para dewa tidak bisa mengurus itu! Orang Bali sama menolaknya seperti beberapa petani di Belanda menolak asuransi kebakaran. Untungnya, hanya beberapa dari penutup candi-meru yang mengerikan ini yang terlihat.

Orang asing itu terpesona oleh romantisme pulau, tarian warna-warni, kekayaan seni dekoratif kompleks candi besar yang hampir mencengangkan, karya pelukis, pematung, perajin perak. Namun, ada kerugian yang tidak dilihat orang asing: Bali menderita kematian bayi, frambusia, penyakit kelamin, malaria, penyakit cacing. Tahun lalu, wabah campak merenggut seribu korban. Pada musim semi tahun 1951, di sebuah desa dekat Karengasem, 300 orang meninggal karena cacar—pendeta melarang orang untuk divaksinasi. Terlepas dari pengorbanan yang berat ini, penduduk tetap setia kepadanya: dia adalah penafsir kehendak para dewa.

Penduduknya miskin, mereka berpakaian buruk. “Orang-orangnya jauh lebih kotor daripada orang Jawa,” kata seorang Jawa di perusahaan kami dengan rasa jijik tertentu. “Itu karena banyaknya babi dan anjing” (yang dibenci oleh setiap orang Jawa). Kritiknya sepertinya tidak tepat bagi saya. Laki-laki dan perempuan mandi di sungai, seperti di Jawa.

Sebagian dari Bali lama menghilang. Lebih banyak akan memberi jalan pada desakan Jawa di tahun-tahun mendatang. Secara sosial, agama dan budaya, Bali perlahan tenggelam karena dilucuti dari basis lamanya. Apakah bisa diberikan yang baru, atau ide-ide modern hanya menimbulkan ketidakpuasan, sehingga pemuda Bali tidak mau lagi bekerja di sawah dan lebih memilih mencari pekerjaan di kantor-kantor pemerintahan? Kemudian penduduk segera terancam kekurangan pangan dan juga dalam hal ini bergantung pada Jawa. Lebih dari 11/2 juta orang terlibat/terdampak.

Memang benar: rezim baru telah membawa dua undang-undang baru. Yang pertama memperbolehkan perkawinan antara laki-laki dan perempuan, perempuan dari kasta yang berbeda, yang dulunya dipisahkan secara ketat. Yang kedua mengatur bahwa hasil panen padi harus dibagi rata antara pemilik tanah dan buruh. Sebelumnya, 60 hingga 75 persen harus diserahkan kepada pemilik.

Tapi kedua undang-undang itu hanyalah kertas. Perkawinan antara anggota dari empat kasta yang berbeda mungkin secara teori dimungkinkan, tetapi dalam praktiknya menghadapi berbagai kesulitan sosial. Buruh tani, jika ia menetapkan setengah dari hasil tanah, tidak akan menemukan seorang pemilik yang akan membiarkan dia mengolahnya. Dia bisa mengeluh kepada pemerintah baru — tetapi dia tidak akan melakukannya.

Namun demikian, penetrasi Jawa akan semakin mendapat tempat. Budaya kuno Bali memiliki kehidupan yang kuat — tetapi akan mati.

Toch zal de Javaanse penetratie meer en meer veld winnen. De oude cultuur van Bali heeft een taai leven — maar sterven zal zij.

 [DEMIKIANLAH koran lama Het vaderland, 17-05-1952 menulis tentang Bali].

BENARKAH BUDAYA KUNO BALI AKAN MATI?

Catatan saya ini saya cukupkan di sini.

Saya membaca beberapa WA masuk dari dua sisi PHDI yang sedang terbelah. Satu bercita-cita membawa bendera pemurnian. Satu dituduh memihak SAMPRADAYA asing yang disinyalir akan memberangus keajegan Hindu dresta Bali.

Membaca koran Het vaderland, 17-05-1952 dan membaca pesan WA dari para pegiat PARISADA HINDU DHARMA INDONESIA, semuanya mengandung kesamaan: Kekhawatiran dan wanti-wanti budaya Bali akan lenyap!

Satu bertanggal 17 Mei 1952, satu bertanggal 28 November 2022.

Selisih tahunnya 70 tahun.

Ketika itu masih umum orang baca lontar dan fasih tembang kakawin. Sekarang tidak lagi. Tapi, ya tetap saja orang Bali merasa Bali. Bahkan yang buta aksara Bali dan tidak paham tembang atau ajaran suci bersumber dari lontar-lontar Bali bisa mengaku paling Bali. Ya begitulah. Ya begitu.[T]

MANTRA-MANTRA NYEPI REKOMENDASI I GUSTI BAGUS SUGRIWA
Bencana Gempa Seririt & Himbauan Gubernur Soekarmen tentang Tat Twam Asi
Arak & Boemi Poetra
12 Naskah Teater Karya Bung Karno: Soekarno, Frankenstein & Indonesia Tanpa Nyawa
Novel I Ktoet Soekrata, Budayawan dari Bubunan, Bali Utara – Catatan Harian Sugi Lanus
Tags: baliBudayaBudaya Balikesenian balikoran Belandamediamedia massa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Refleksi HUT PGRI dan HGN: Inilah Kunci-kunci Keunggulan Seorang Guru

Next Post

Memaknai Bentuk “Pengawak” Tabuh Lelambatan Pagongan Bali

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails

Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

by Jro Gde Sudibya
May 8, 2026
0
Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

Tanggapan terhadap esai "Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama", tatkala.co, 8 Mei 2026 --- PENDIDIKAN...

Read moreDetails
Next Post
Memaknai Bentuk “Pengawak” Tabuh Lelambatan Pagongan Bali

Memaknai Bentuk “Pengawak” Tabuh Lelambatan Pagongan Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co