2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Memaknai Bentuk “Pengawak” Tabuh Lelambatan Pagongan Bali

Nyoman Mariyana by Nyoman Mariyana
November 28, 2022
in Esai
Memaknai Bentuk “Pengawak” Tabuh Lelambatan Pagongan Bali

Penuangan Gending Ding Ro Karya Ketut Gede Asnawa Pada Workshop Pegongan di Puri Lukisan Ubud, 27 November 2022 | Dokumentasi,I Nyoman Mariyana, Tahun 2022

PADA PENYAJIAN GENDING-GENDING Lelambatan klasik Bali dikenal beberapa jenis tabuh /gending berdasarkan struktur tabuh yang mengikatnya, seperti Tabuh Pisan, Tabuh Dua, Tabuh Telu, Tabuh Pat, Tabuh Nem, dan Tabuh Kutus. Perbedaan nama-nama tabuh/gending tersebut dibedakan berdasarkan jumlah baris, jumlah pukulan kempur, dan kempli dalam satu gongan (pukulan Gong). Semua itu terdapat dan dapat dicermati pada bagian pengawak tabuh yang dimainkan.

Pengawak adalah salah satu bagian terpenting dalam struktur gending Lelambatan Bali. Kata pengawak diambil dari kata awak yang berarti tubuh atau badan. Lelambatan merupakan salah satu repertoar pagongan dalam Karawitan Bali yang kerap dimainkan sebagai musik instrumental pada upacara Dewa Yadnya atau tabuh pembukaan event. Repertoar Lelambatan dilihat dari bentuk, struktur komposisi yang dimiliki memiliki kekhasan tersendiri.

Bagaimana menuangkan ide, konsep dalam garapan memerlukan kemampuan sesuai dengan pengalaman yang dimiliki. Penuangan karya tergantung dari rasa.

Menurut I Ketut Gede Asnawa, bahwa Prof. Mantle Hood memulai suatu proses dengan pertanyaan. Sedangkan pengalaman berkarya dari I Ketut Gede Asnawa, ia hanya menuangkan karya dengan konsep air, mengalir begitu saja. Setelah terbentuk barulah kemudian karyanya dikaji kembali dan diperbaiki (Disajikan dalam pemaparan materi workshop Pagongan, 27 November 2022).

Selanjutnya, apa itu pengawak, bagaimana bentuknya pengawak Pagongan Bali?

Menurut I Ketut Gede Asnawa, pengawak adalah barang lentur. Sudut pandang pengawak adalah konvensional. Pagegongan menurut Colin Mc. Phee adalah gamelan gong (Gong Kebyar).

Menurut sejarahnya, gamelan gong muncul pada era madya, jaman madya abad ke-18. Sebagaian besar munculnya pada masa kerajaan di Bali. Perjalanannya dari Puri ke Pura lalu ke masyarakat.

Kenapa disebut gamelan gong? Oleh Mc. Phee, di dalam gamelan itu terdapat instrumen Gong yang mewakili indentitas barungannya, contohnya Gong Kebyar, Gong Luang, Gong Gede, dan gamelan lainnya. Kalau tidak ada sebutan gong dalam menyebutkan identitas barungan gamelan lainnya, diwakili oleh instrumen sejenis yang berfungsi sebagai gong. Contohnya gamelan Semar Pagulingan, Pegambuhan, Gandrung, dan lainnya.

Tabuh Lelalambatan mempunyai bentuk “statik form”. Form yang tidak berubah-berubah. Sebuah bentuk yang luar biasa yang diwarisi oleh para luluhur. Dalam tabuh Lelambatan, Mc. Phee menyebutkan ada dua istilah gending,yakni gending ageng (great gending) dan gending gangsaran (quick gending).

Gending ageng mempunyai kekuatan dalam bentuk melodi yang panjang dan mempunyai sistem dalam bentuknya. Stuktur sistem yang membakui komposisi.

Senada dengan apa yang dijelaskan tentang arti kata pengawak, I Ketut Gede Asnawa juga menjelaskan kata pengawak berasal dari kata awak. Awak berawal dari bentuk. Bentuk pengawak paling panjang dan formal.

Pengawak.adalah bagian dari sebuah bentuk/struktur. Pengawak tidak bisa berdiri sendiri diikat oleh kepala dan kaki. Konsep ini adalah diambil dari filosofi bentuk tubuh manusia. Jadi, pengawak tabuh Lelambatan terlahir dari ikatan kepala dan ditunjang oleh kaki sebagai bentuk/struktur tabuh dalam penyajiannya.

Pengawak dalam struktur tabuh Lelambatan, tidak bisa berdiri sendiri. Di dalamnya ada sistem yang mengikat. Sistem sub-sub struktural, abstrak, realitas dan reel. Di dalam penyajiannya pengawak dimainkan secara pelan, maka menjadi identitas penyebutan tabuh Lelambatan.

Pengawak oleh Colin Mc. Phee disebut “The clear compotition of music in Bali”. Mc. Phee membagi pengawak menjadi beberapa bagian yang ditulis pada bukunya tahun 1930 dan publish tahun 1960-an.

Secara struktur, dalam tabuh dua ada 8 baris yang disebut dengan istilah a pada; jumlah baris dalam satu frase lagu. Apabila berbentuk tabuh Pat, pola ini tinggal ditambahkan sesuai dengan form yang ada.  

Dalam gending ada sistim pertanyaan dan jawaban. Baris pertama adalah opening dalam 16 ketukan diakhiri oleh pukulan jegogan. Dalam struktur tabuh Lelambatan, menjadi suatu pertanyaan, kenapa dibaris pertama dimulai dengan pukulan kempur? Kenapa tidak kempli?

Menurut analisis penulis, hal tersebut mengacu pada tata letak instrument kempur, kempli, dan gong saat penyajiannya. Hal tersebut juga berkaitan dengan estetika musikal dari keseimbangan suara dari instrument tersebut. Jalannya format struktur pengawak tabuh Lelambatan mengacu pada jumlah jatuhnya pukulan kempur, kempli, jegogan sampai pada gong. Pola melodi 2 baris terakhir adalah pemilpil untuk menuju gong.

Dalam permainan tabuh Lelambatan, pola kekendangan sebagai penanda. Pukulan kendang menuju kempur dimainkan pola kendang cedugan, menuju jatuhnya pukulan kempli dimainkan pola kaplak tangan kiri.

Pengawak adalah sebuah identitas yang melekat pada penyajiannya. Bagiannya dikenal dengan istilah palet dan pada/paragraf. I Ketut Gede Asnawa menghimbau, jangan membawakan tabuh lelambatan seperti memainkan tabuh kreasi. Lelambatan bersifat ke dalam, kreasi baru lebih ke arah keluar.

Penciptaan berawal dari pengalaman dan analisis. Menurut I Ketut Gede Asnawa, saran membuat pengawak teridiri dari 3 syarat, diantaranya:

1. Keterampilan.

Pencipta harus pernah memainkan, mampu menganalisa, dan mempunyai pengalaman.

Praktek melakoni akan memberikan banyak pelajaran. Wicaksana dan wiraga.

2. Sensitif/kepekaan

Ditunjang oleh rasa.

3. Imajinasi

Perjalanan nada-nada untuk menuju nada yang dituju. Sistim melodi pada lelambatan diawal dari nada rendah ke tinggi, di tengah ngubeng (berpusat di Tengah), dan diakhir dari tinggi ke rendah. Hal ini juga mengacu pada ranah rasa komposer. Kreasi diperlukan melodi yang mudah untuk dikreasikan. Untuk kesan manis bawa melodinya ke nada kecil. Perhatikan karakteristik nada. Terpenting adalah terminal/nada kunci yang digunakan.

Kreativitas mengacu pada kepekaan. Pengembangan dan kepertahanan dari yang sudah ada perlu dilakukan secara bersama. Perlu konsep dalam menunjukan idialis berkesenian. Tidak semena-mena tanpa arah dan konsep yang jelas. Proses adalah suatu perjalanan yang harus dilalui, dimaknai, dan dilakukan.

Penuangan Gending Ding Ro Karya Ketut Gede Asnawa Pada Workshop Pegongan di Puri Lukisan Ubud, 27 November 2022 | Dokumentasi,I Nyoman Mariyana, Tahun 2022

Tabuh Lelambatan Dua Ding Ro  

Pada tabuh Lelambatan Ding Ro, nada ding digunakan sebagai nada pokok. Kawitan gendingnya diawali dari nada ding, bebaturan nada dasar ding, pengawaknya mempergunakan nada dasar ding begitu juga di pengecetmya nada ding jatuhnya pukulan gongnya. Ro mengacu pada bentuk struktur tabuhnya yakni Tabuh Dua.

Maksimal dalam kawitan terdapat 2 pukulan jegogan.  Melodi progresif dari tinggi ke rendah. Dalam penyajian gending Lelambatan, instrumen Terompong mempunyai otoritas, kekuasaan dalam penyajian, kemana akan dibawa melodinya. Didahului oleh intro oleh Terompong dan finalnya jatuhnya ke nada kunci yang digunakan. Intro adalah tanda bahwa gending sudah siap untuk dimainkan. Ini merupakan warisan budaya dari pendahulu perlu dilestarikan.

Kesimpulannya, pengawak adalah bagian pokok lagu. Pengawak sudah ada pakem-pakemnya yang harus diperhatikan oleh komposer. Perhatikan fungsi instrumennya dalam penuangan gendingnya bersama dengan rasa Lelambatan. Hal tersebut jangan pernah hilang. Kunci dasar megambel adalah harmonis, kesatuaan dan kebersamaan. Lelambatan adalah sarana untuk mengasah ketrampilan dan musikalitas. [T]

[][][]

BACA esai-esai tentang karawitan Bali dari penulis NYOMAN MARIYANA

“Cerukcuk Punyah”, “Cangak Merengang” | Judul-judul Gending Gender Wayang, Lucu dan Blak-blakan
Upaya & Kiat Pembinaan Gending Gender Wayang Banaspati Gaya Tenganan Pegringsingan
Gusti Sudarta | Sejak SD Main Gender Wayang, Pentas Jalan Kaki ke Desa-Desa
Tags: gong kebyargong lelambatankarawitankarawitan balikesenian baliseni karawitantabuh gong
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

BUDAYA LAMA BALI SEDANG MENGHILANG — Koran Het vaderland, 17-05-1952

Next Post

Winda Karuna Dita, Gadis Disabilitas yang Terus Melukis Hingga Jadi Tulang Punggung Keluarga

Nyoman Mariyana

Nyoman Mariyana

I Nyoman Mariyana, S.Sn., M.Sn. Lahir di Sempidi, 08 Maret 1985. Kini dosen Seni Karawitan di Fakultas Seni Pertunjukan, ISI Denpasar. Penulis buku Gamelan Gender Wayang (Mahima, 2021)

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Winda Karuna Dita, Gadis Disabilitas yang Terus Melukis Hingga Jadi Tulang Punggung Keluarga

Winda Karuna Dita, Gadis Disabilitas yang Terus Melukis Hingga Jadi Tulang Punggung Keluarga

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co