14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Memaknai Bentuk “Pengawak” Tabuh Lelambatan Pagongan Bali

Nyoman Mariyana by Nyoman Mariyana
November 28, 2022
in Esai
Memaknai Bentuk “Pengawak” Tabuh Lelambatan Pagongan Bali

Penuangan Gending Ding Ro Karya Ketut Gede Asnawa Pada Workshop Pegongan di Puri Lukisan Ubud, 27 November 2022 | Dokumentasi,I Nyoman Mariyana, Tahun 2022

PADA PENYAJIAN GENDING-GENDING Lelambatan klasik Bali dikenal beberapa jenis tabuh /gending berdasarkan struktur tabuh yang mengikatnya, seperti Tabuh Pisan, Tabuh Dua, Tabuh Telu, Tabuh Pat, Tabuh Nem, dan Tabuh Kutus. Perbedaan nama-nama tabuh/gending tersebut dibedakan berdasarkan jumlah baris, jumlah pukulan kempur, dan kempli dalam satu gongan (pukulan Gong). Semua itu terdapat dan dapat dicermati pada bagian pengawak tabuh yang dimainkan.

Pengawak adalah salah satu bagian terpenting dalam struktur gending Lelambatan Bali. Kata pengawak diambil dari kata awak yang berarti tubuh atau badan. Lelambatan merupakan salah satu repertoar pagongan dalam Karawitan Bali yang kerap dimainkan sebagai musik instrumental pada upacara Dewa Yadnya atau tabuh pembukaan event. Repertoar Lelambatan dilihat dari bentuk, struktur komposisi yang dimiliki memiliki kekhasan tersendiri.

Bagaimana menuangkan ide, konsep dalam garapan memerlukan kemampuan sesuai dengan pengalaman yang dimiliki. Penuangan karya tergantung dari rasa.

Menurut I Ketut Gede Asnawa, bahwa Prof. Mantle Hood memulai suatu proses dengan pertanyaan. Sedangkan pengalaman berkarya dari I Ketut Gede Asnawa, ia hanya menuangkan karya dengan konsep air, mengalir begitu saja. Setelah terbentuk barulah kemudian karyanya dikaji kembali dan diperbaiki (Disajikan dalam pemaparan materi workshop Pagongan, 27 November 2022).

Selanjutnya, apa itu pengawak, bagaimana bentuknya pengawak Pagongan Bali?

Menurut I Ketut Gede Asnawa, pengawak adalah barang lentur. Sudut pandang pengawak adalah konvensional. Pagegongan menurut Colin Mc. Phee adalah gamelan gong (Gong Kebyar).

Menurut sejarahnya, gamelan gong muncul pada era madya, jaman madya abad ke-18. Sebagaian besar munculnya pada masa kerajaan di Bali. Perjalanannya dari Puri ke Pura lalu ke masyarakat.

Kenapa disebut gamelan gong? Oleh Mc. Phee, di dalam gamelan itu terdapat instrumen Gong yang mewakili indentitas barungannya, contohnya Gong Kebyar, Gong Luang, Gong Gede, dan gamelan lainnya. Kalau tidak ada sebutan gong dalam menyebutkan identitas barungan gamelan lainnya, diwakili oleh instrumen sejenis yang berfungsi sebagai gong. Contohnya gamelan Semar Pagulingan, Pegambuhan, Gandrung, dan lainnya.

Tabuh Lelalambatan mempunyai bentuk “statik form”. Form yang tidak berubah-berubah. Sebuah bentuk yang luar biasa yang diwarisi oleh para luluhur. Dalam tabuh Lelambatan, Mc. Phee menyebutkan ada dua istilah gending,yakni gending ageng (great gending) dan gending gangsaran (quick gending).

Gending ageng mempunyai kekuatan dalam bentuk melodi yang panjang dan mempunyai sistem dalam bentuknya. Stuktur sistem yang membakui komposisi.

Senada dengan apa yang dijelaskan tentang arti kata pengawak, I Ketut Gede Asnawa juga menjelaskan kata pengawak berasal dari kata awak. Awak berawal dari bentuk. Bentuk pengawak paling panjang dan formal.

Pengawak.adalah bagian dari sebuah bentuk/struktur. Pengawak tidak bisa berdiri sendiri diikat oleh kepala dan kaki. Konsep ini adalah diambil dari filosofi bentuk tubuh manusia. Jadi, pengawak tabuh Lelambatan terlahir dari ikatan kepala dan ditunjang oleh kaki sebagai bentuk/struktur tabuh dalam penyajiannya.

Pengawak dalam struktur tabuh Lelambatan, tidak bisa berdiri sendiri. Di dalamnya ada sistem yang mengikat. Sistem sub-sub struktural, abstrak, realitas dan reel. Di dalam penyajiannya pengawak dimainkan secara pelan, maka menjadi identitas penyebutan tabuh Lelambatan.

Pengawak oleh Colin Mc. Phee disebut “The clear compotition of music in Bali”. Mc. Phee membagi pengawak menjadi beberapa bagian yang ditulis pada bukunya tahun 1930 dan publish tahun 1960-an.

Secara struktur, dalam tabuh dua ada 8 baris yang disebut dengan istilah a pada; jumlah baris dalam satu frase lagu. Apabila berbentuk tabuh Pat, pola ini tinggal ditambahkan sesuai dengan form yang ada.  

Dalam gending ada sistim pertanyaan dan jawaban. Baris pertama adalah opening dalam 16 ketukan diakhiri oleh pukulan jegogan. Dalam struktur tabuh Lelambatan, menjadi suatu pertanyaan, kenapa dibaris pertama dimulai dengan pukulan kempur? Kenapa tidak kempli?

Menurut analisis penulis, hal tersebut mengacu pada tata letak instrument kempur, kempli, dan gong saat penyajiannya. Hal tersebut juga berkaitan dengan estetika musikal dari keseimbangan suara dari instrument tersebut. Jalannya format struktur pengawak tabuh Lelambatan mengacu pada jumlah jatuhnya pukulan kempur, kempli, jegogan sampai pada gong. Pola melodi 2 baris terakhir adalah pemilpil untuk menuju gong.

Dalam permainan tabuh Lelambatan, pola kekendangan sebagai penanda. Pukulan kendang menuju kempur dimainkan pola kendang cedugan, menuju jatuhnya pukulan kempli dimainkan pola kaplak tangan kiri.

Pengawak adalah sebuah identitas yang melekat pada penyajiannya. Bagiannya dikenal dengan istilah palet dan pada/paragraf. I Ketut Gede Asnawa menghimbau, jangan membawakan tabuh lelambatan seperti memainkan tabuh kreasi. Lelambatan bersifat ke dalam, kreasi baru lebih ke arah keluar.

Penciptaan berawal dari pengalaman dan analisis. Menurut I Ketut Gede Asnawa, saran membuat pengawak teridiri dari 3 syarat, diantaranya:

1. Keterampilan.

Pencipta harus pernah memainkan, mampu menganalisa, dan mempunyai pengalaman.

Praktek melakoni akan memberikan banyak pelajaran. Wicaksana dan wiraga.

2. Sensitif/kepekaan

Ditunjang oleh rasa.

3. Imajinasi

Perjalanan nada-nada untuk menuju nada yang dituju. Sistim melodi pada lelambatan diawal dari nada rendah ke tinggi, di tengah ngubeng (berpusat di Tengah), dan diakhir dari tinggi ke rendah. Hal ini juga mengacu pada ranah rasa komposer. Kreasi diperlukan melodi yang mudah untuk dikreasikan. Untuk kesan manis bawa melodinya ke nada kecil. Perhatikan karakteristik nada. Terpenting adalah terminal/nada kunci yang digunakan.

Kreativitas mengacu pada kepekaan. Pengembangan dan kepertahanan dari yang sudah ada perlu dilakukan secara bersama. Perlu konsep dalam menunjukan idialis berkesenian. Tidak semena-mena tanpa arah dan konsep yang jelas. Proses adalah suatu perjalanan yang harus dilalui, dimaknai, dan dilakukan.

Penuangan Gending Ding Ro Karya Ketut Gede Asnawa Pada Workshop Pegongan di Puri Lukisan Ubud, 27 November 2022 | Dokumentasi,I Nyoman Mariyana, Tahun 2022

Tabuh Lelambatan Dua Ding Ro  

Pada tabuh Lelambatan Ding Ro, nada ding digunakan sebagai nada pokok. Kawitan gendingnya diawali dari nada ding, bebaturan nada dasar ding, pengawaknya mempergunakan nada dasar ding begitu juga di pengecetmya nada ding jatuhnya pukulan gongnya. Ro mengacu pada bentuk struktur tabuhnya yakni Tabuh Dua.

Maksimal dalam kawitan terdapat 2 pukulan jegogan.  Melodi progresif dari tinggi ke rendah. Dalam penyajian gending Lelambatan, instrumen Terompong mempunyai otoritas, kekuasaan dalam penyajian, kemana akan dibawa melodinya. Didahului oleh intro oleh Terompong dan finalnya jatuhnya ke nada kunci yang digunakan. Intro adalah tanda bahwa gending sudah siap untuk dimainkan. Ini merupakan warisan budaya dari pendahulu perlu dilestarikan.

Kesimpulannya, pengawak adalah bagian pokok lagu. Pengawak sudah ada pakem-pakemnya yang harus diperhatikan oleh komposer. Perhatikan fungsi instrumennya dalam penuangan gendingnya bersama dengan rasa Lelambatan. Hal tersebut jangan pernah hilang. Kunci dasar megambel adalah harmonis, kesatuaan dan kebersamaan. Lelambatan adalah sarana untuk mengasah ketrampilan dan musikalitas. [T]

[][][]

BACA esai-esai tentang karawitan Bali dari penulis NYOMAN MARIYANA

“Cerukcuk Punyah”, “Cangak Merengang” | Judul-judul Gending Gender Wayang, Lucu dan Blak-blakan
Upaya & Kiat Pembinaan Gending Gender Wayang Banaspati Gaya Tenganan Pegringsingan
Gusti Sudarta | Sejak SD Main Gender Wayang, Pentas Jalan Kaki ke Desa-Desa
Tags: gong kebyargong lelambatankarawitankarawitan balikesenian baliseni karawitantabuh gong
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

BUDAYA LAMA BALI SEDANG MENGHILANG — Koran Het vaderland, 17-05-1952

Next Post

Winda Karuna Dita, Gadis Disabilitas yang Terus Melukis Hingga Jadi Tulang Punggung Keluarga

Nyoman Mariyana

Nyoman Mariyana

I Nyoman Mariyana, S.Sn., M.Sn. Lahir di Sempidi, 08 Maret 1985. Kini dosen Seni Karawitan di Fakultas Seni Pertunjukan, ISI Denpasar. Penulis buku Gamelan Gender Wayang (Mahima, 2021)

Related Posts

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails

Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

by Jro Gde Sudibya
May 8, 2026
0
Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

Tanggapan terhadap esai "Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama", tatkala.co, 8 Mei 2026 --- PENDIDIKAN...

Read moreDetails
Next Post
Winda Karuna Dita, Gadis Disabilitas yang Terus Melukis Hingga Jadi Tulang Punggung Keluarga

Winda Karuna Dita, Gadis Disabilitas yang Terus Melukis Hingga Jadi Tulang Punggung Keluarga

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co