22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

MANTRA-MANTRA NYEPI REKOMENDASI I GUSTI BAGUS SUGRIWA

Sugi Lanus by Sugi Lanus
March 2, 2022
in Esai
MANTRA-MANTRA NYEPI REKOMENDASI I GUSTI BAGUS SUGRIWA

Fotokopi halaman artikel berjudul Nyepi dalam MADJALAH DAMAI, Tahun Ke-I, No 1, 17 Maret 1951.

—           Catatan Harian Sugi Lanus, 2 Maret 2022

.

Tokoh besar Hindu Bali I Gusti Bagus Sugriwa menurunkan artikel relatif panjang berjudul Nyepi dalam majalah yang dipimpinnya: MADJALAH DAMAI, Tahun Ke-I, No 1, 17 Maret 1951.

Artikel ini ditulis dengan maksud menjawab banyaknya pertanyaan terkait perayaan Nyepi ketika itu, baik bagi masyarakat Bali yang masih memerlukan bimbingan ruhani ketika itu, dan juga banyaknya pertanyaan dari masyarakat luar Bali yang penuh tanya kenapa ada tradisi Nyepi di Bali.

Tulisan yang dimuat di Madjalah Damai tersebut mengandung nilai sangat istimewa — disamping karena mengulas Nyepi dengan sangat mendasar, yang sangat diperlukan di tengah kurang lancarnya arus informasi ketika itu —artikel ini berisi mantra-mantra sangat penting yang direkomendasi oleh I Gusti Bagus Sugriwa untuk diuncarkan dalam brata (pengendalian diri) ketika hari sipeng (Nyepi).

Di bawah ini dikutip sebagian kecil dari tulis IGB Sugriwa yang menjelaskan bahwa Nyepi adalah momentum sapta yoga.

[Semua kalimat setelah garis panjang di bawah ini adalah kutipan dari tulisan Sugriwa dan ditutup kembali dengan garis panjang juga].

————————

Besoknja pagi2, sebelum matahari terbit, menurut hakekat penjepian itu, orang2 tua atau orang2 dewasa membersihkan dirinja, lalu matirtha dan kemudian makan. Persediaan makan ini disediakan tadi malamnja.

Demi matahari telah terbit pada saat itu telah mulai dinamai Njepi. Sipeng, Mati geni (Mutih atau Ngebleng). Berapi-api dilarang, malamnja gelap tidak berlampu dalam rumah masing2.

Orang2 tua atau orang2 dewasa tadi jang menaruh minat kepada inti hakekat agama seharusnja tidak makan dan minum dalam sehari semalam. Hal ini termasuk dalam perlaksanaan brata. Tetapi bagi anak2 jang di bawah umur belum diharuskan melakukan brata, karena kemadjuan badan djasmani saja masih meningkat naik, supaja djangan terhalang karenanja. Sebab itu oleh ibu2nja disediakannja makan minumnja untuk hari mabrata itu. Pada hari itu orang2 (baik tua maupun muda) diharuskan diam di rumahnja (di halamannja) masing2, tidak harus bekerdja berat, memikul dan mendjundjung barang2. Tidak diidjinkan berdjalan… Hal ini termasuk bagian tapa.

Selandjutnja melakukan penghormatan kepada Sūrya, dengan setjara yoga. Maksudnja mengutjapkan terima kasih kepada surya jang amat besar djasanja kepada dunia. Dan mengutjap sukur kepada Tuhan (Hyang Widhi) karena Tuhan telah mengadakan Surya.

Selandjutnja mohon ampun kepada Tuhan atas kesalahan2 kita jang telah lalu dan jang akan datang. Untuk ini boleh memakai pikiran atau kata2 sendiri dan bolen djuga mempergunakan Weda2 mantram jg.

Istimewa untuk itu, misalnja:

1. Mula2 duduk setjara padmâsana, jaitu: tapak kaki kiri naikkan lebih dahulu letakkan di atas paha kanan, kemudian tapak kaki kanan naikkan dan letakkan diatas paha kiri. Badan tegak, tulang punggung lurus.

2. Melakukan pranayama, jaitu: memasukkan nafas pelan2 dari hidung kiri sampai paru2 penuh dengan udara dengan menjebutkan mantram dalam bathin:

Oṃ ung namah

Setelah paru2 penuh dengan udara, tahan sedjurus dengan mantram:

Oṃ mang namah

Kemudian keluarkan nafas pelan2 dari hidung kanan dengan mantram dalam bathin:

Oṃ ang namah

3. Ngili atma, jaitu: Tarik Sanghyang Atma naik keubun-ubun (śiwadwara) dengan mantram dalam bathin:

Oṃ ang hrêdaya naṃaḥ

Umpamakan (rașakan) badan kasar serta malanja [kekotorannya] telah bersih hangus, mantram:

Oṃ ung rah phat astra ya namah

Sanghyang Atma tidak turut hangus dan rasakan amreta mantjur dari angkasa-śiwa melalui ubun2, mantram:

Oṃ hrang hring șah Parama Śiwa anmrêta ya namah. Om ang Śiwâtmane namah

4. Memudja kepada surya,

Mantramnja ada beberapa matjam, boleh dipilih mempergunakannja boleh djuga semuanja, misalnja:

a.

Oṃ râdityasya paranjotih, rakta tejo namostute, śweta pangkaja madhyaste, Bhaskâra ya ‘namo namaswaha.

b.

Oṃ trang hrih sah Paramaśiwa-radtiya ya nama swaḥa. Oṃ ṭrang hrih sah sûrya ya namah. Oṃ trang hrih sah śiwa-sûrya paran teja swa rûpa ya naṃa swaha.

c.

Oṃ istamba meru pariwarta samasta lokam

bim badhi dewaya wajikara ya.

jambo ‘ratiwa gaganaya samasṭa metram

aṃbara bindu śaranaya mamo inaṃaste

diwyapo murtti parameśwara bhaskaranam

jyotih samudra pariraksita natha naya

bhuḥ sapta loka bhuwana netraya sarwa neṭram

aditya dewa śaranaya namo namaste

kālaya kastha rawi bhaskara baladewa

bhaktya murtti paṛiwarta suniskuṭaya

ratnaya ratna ṃani bhusita sayutaya

trailokya natha śananaya namo nameste.

5. Permohonan ampun ada beberapa matjam (pada) djuga, boleh dipergunakan salah satu diantaranja atau kesemuanja.

a.

Oṃ papo ham papo atma ham

papatma papa sambhawah

trahi mam pundarikaksa

sabahya byantara śuci

b.

Oṃ ksma swa mam Mahadewa

sarwa prani hitangkarah

mam moca sarwa papebhyo

phalaya swa sadaśiwa.

c.

Oṃ ksantawya kayika dosah

ksajitawya wacika mama

ksantwaya manasa dosah

tat pramadham ksama swa mam.

6. Malamnja melakukan yoga (sapta-yoga), untuk mentjapai nirbana.

Besok paginja dinamai Ngembak-api (geni), sudah boleh menanak dan memasak ke dapur untuk persediaan makanan alabuh brata. Hanja bekerdja berat masih dilarang, karena baru habis melakukan brata, yoga.

Sekian.-

Oṃ tat sat, ekam swā ḍwityam Brahṃaṇ

Swastyastu nama Śiwaya.

—————————

Demikanlah kutipan tulisan IGB Sugriwa.

Sebagai tokoh umat, IGB Sugriwa mendirikan dan memimpin Madjalah Damai. Majalah ini punya cita-cita luhur untuk mengupayakan masyarakat Bali menjadi masyarakat tercerahi, baik dalam konteks beragama Hindu Bali dan dalam konteks bernegara.

Membaca tulisan penting di atas, disamping mendapat mantra-mantra penting dan petunjuk singkat brata panyepian, pembaca budiman diajak memasuki sebuah kilas bagaimana peran yang harus dimainkan oleh TOKOH UMAT Hindu Bali.

TOKOH UMAT adalah pembawa berita damai. IGB Sugriwa bisa menjadi panutan bagaimana pentingnya tokoh umat untuk menulis hal-hal penting dengan gamblang agar bisa menjadi sesuluh umat, memberikan jalan keluar dan koridor dalam mengawal tradisi. Teguh mendampingi umat agar umat menemukan jalan lapang dan hati bersih dalam menjalani tradisi beragama.

IGB Sugriwa memberi contoh bagaimana salah satu tugas penting yang harus diembang tokoh masyarakat Bali adalah menjelaskan nilai-nilai suci agama Hindu Bali, dan memberikan tuntunan teknis yang praktis panduan umat untuk berlatih mengendalikan diri dan berlatih memasuki kehidupan batiniah. IGB Sugriwa memberikan pesan moral untuk menjaga tanah dan manusia Bali diperlukan keteladanan dan kepemimpinan yang teguh memberi himbau-himbauan dan tuntunan-tuntunan mengajak umat untuk hidup sehat lahir batin, berpuasa, beryoga, membaca susastra-agama, melakukan renungan batin dan pengendalian diri — bukan sebaliknya.

Kembali ke topik Nyepi, dengan kembali membaca tulisan IGB Sugriwa di atas, umat Hindu Bali bisa mengambil pelajaran penting: Nyepi adalah hari berlatih ajaran ruhaniah. Terutama bagi “orang2 tua atau orang2 dewasa tadi jang menaruh minat kepada inti hakekat agama”.

Tulisan di atas pesannya sangat jelas, kalaulah tidak bisa dijalani dengan penuh, atau belum mampu menjadikan momentum Nyepi sebagai momentum berlatih ruhani, maka minimal tidak melakukan hal-hal yang berlawanan dengan makna tradisi besar Nyepi.

Sebagai tokoh besar Hindu Bali IGB Sugriwa ini menyatakan dengan tegas bahwa Nyepi adalah hari suci “untuk penghormatan kepada Sūrya, dengan setjara yoga”.

Sungguh berbalik arah jika ada kelakar pongah di masyarakat Bali yang mengatakan bahwa Nyepi adalah hari ceki. Celakanya, kelakar ini berangkat dari kenyataan memang ada kelompok masyarakat yang menjadikan momentum Nyepi menjadi hari ceki. Bahkan dianggap “tradisi”. Bukan hanya terjadi di kalangan rakyat bawah pedesaan, di lingkar pejabat pun santer desas-desus siapa-siapa oknum pejabat yang menjadikan Nyepi sebagai ajang “kondangan meceki”.

Pesan IGB Sugriwa perlu kita renungi kembali: “… menurut hakekat penjepian itu, [adalah momentum untuk] orang2 … membersihkan dirinja” secara lahir batin.

Tentunya, sungguh berbalik arah jika Nyepi disambut dengan tumpah ruah arak di bale-bale banjar.

Semoga kutipan/ ketikan kembali ini artikel yang ditulis tokoh besar Hindu Bali ini bermanfaat.

Selamat melakukan Tawur Kasanga dan brata panyepian. Semoga para pimpinan umat senantiasa diberi kesehatan dan kejernihan hati. Semoga kita semua selamat dan pandemi segera bisa kita atasi. Semoga kita senantiasa dalam kejernihan pikiran. Selamat menuju menyambut tahun 1944 Śaka. Semoga semua makhluk berbahagia. [T]

Tags: Hari Raya NyepiHindu BaliI Gusti Bagus Sugriwa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Nyepi: Surya, Suryak, Ramya, Somya, Sunya

Next Post

Hindu dan Keberagaman Seni Budaya | Catatan Tawur Agung dari Candi Prambanan

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Hindu dan Keberagaman Seni Budaya | Catatan Tawur Agung dari Candi Prambanan

Hindu dan Keberagaman Seni Budaya | Catatan Tawur Agung dari Candi Prambanan

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co