14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

MANTRA-MANTRA NYEPI REKOMENDASI I GUSTI BAGUS SUGRIWA

Sugi Lanus by Sugi Lanus
March 2, 2022
in Esai
MANTRA-MANTRA NYEPI REKOMENDASI I GUSTI BAGUS SUGRIWA

Fotokopi halaman artikel berjudul Nyepi dalam MADJALAH DAMAI, Tahun Ke-I, No 1, 17 Maret 1951.

—           Catatan Harian Sugi Lanus, 2 Maret 2022

.

Tokoh besar Hindu Bali I Gusti Bagus Sugriwa menurunkan artikel relatif panjang berjudul Nyepi dalam majalah yang dipimpinnya: MADJALAH DAMAI, Tahun Ke-I, No 1, 17 Maret 1951.

Artikel ini ditulis dengan maksud menjawab banyaknya pertanyaan terkait perayaan Nyepi ketika itu, baik bagi masyarakat Bali yang masih memerlukan bimbingan ruhani ketika itu, dan juga banyaknya pertanyaan dari masyarakat luar Bali yang penuh tanya kenapa ada tradisi Nyepi di Bali.

Tulisan yang dimuat di Madjalah Damai tersebut mengandung nilai sangat istimewa — disamping karena mengulas Nyepi dengan sangat mendasar, yang sangat diperlukan di tengah kurang lancarnya arus informasi ketika itu —artikel ini berisi mantra-mantra sangat penting yang direkomendasi oleh I Gusti Bagus Sugriwa untuk diuncarkan dalam brata (pengendalian diri) ketika hari sipeng (Nyepi).

Di bawah ini dikutip sebagian kecil dari tulis IGB Sugriwa yang menjelaskan bahwa Nyepi adalah momentum sapta yoga.

[Semua kalimat setelah garis panjang di bawah ini adalah kutipan dari tulisan Sugriwa dan ditutup kembali dengan garis panjang juga].

————————

Besoknja pagi2, sebelum matahari terbit, menurut hakekat penjepian itu, orang2 tua atau orang2 dewasa membersihkan dirinja, lalu matirtha dan kemudian makan. Persediaan makan ini disediakan tadi malamnja.

Demi matahari telah terbit pada saat itu telah mulai dinamai Njepi. Sipeng, Mati geni (Mutih atau Ngebleng). Berapi-api dilarang, malamnja gelap tidak berlampu dalam rumah masing2.

Orang2 tua atau orang2 dewasa tadi jang menaruh minat kepada inti hakekat agama seharusnja tidak makan dan minum dalam sehari semalam. Hal ini termasuk dalam perlaksanaan brata. Tetapi bagi anak2 jang di bawah umur belum diharuskan melakukan brata, karena kemadjuan badan djasmani saja masih meningkat naik, supaja djangan terhalang karenanja. Sebab itu oleh ibu2nja disediakannja makan minumnja untuk hari mabrata itu. Pada hari itu orang2 (baik tua maupun muda) diharuskan diam di rumahnja (di halamannja) masing2, tidak harus bekerdja berat, memikul dan mendjundjung barang2. Tidak diidjinkan berdjalan… Hal ini termasuk bagian tapa.

Selandjutnja melakukan penghormatan kepada Sūrya, dengan setjara yoga. Maksudnja mengutjapkan terima kasih kepada surya jang amat besar djasanja kepada dunia. Dan mengutjap sukur kepada Tuhan (Hyang Widhi) karena Tuhan telah mengadakan Surya.

Selandjutnja mohon ampun kepada Tuhan atas kesalahan2 kita jang telah lalu dan jang akan datang. Untuk ini boleh memakai pikiran atau kata2 sendiri dan bolen djuga mempergunakan Weda2 mantram jg.

Istimewa untuk itu, misalnja:

1. Mula2 duduk setjara padmâsana, jaitu: tapak kaki kiri naikkan lebih dahulu letakkan di atas paha kanan, kemudian tapak kaki kanan naikkan dan letakkan diatas paha kiri. Badan tegak, tulang punggung lurus.

2. Melakukan pranayama, jaitu: memasukkan nafas pelan2 dari hidung kiri sampai paru2 penuh dengan udara dengan menjebutkan mantram dalam bathin:

Oṃ ung namah

Setelah paru2 penuh dengan udara, tahan sedjurus dengan mantram:

Oṃ mang namah

Kemudian keluarkan nafas pelan2 dari hidung kanan dengan mantram dalam bathin:

Oṃ ang namah

3. Ngili atma, jaitu: Tarik Sanghyang Atma naik keubun-ubun (śiwadwara) dengan mantram dalam bathin:

Oṃ ang hrêdaya naṃaḥ

Umpamakan (rașakan) badan kasar serta malanja [kekotorannya] telah bersih hangus, mantram:

Oṃ ung rah phat astra ya namah

Sanghyang Atma tidak turut hangus dan rasakan amreta mantjur dari angkasa-śiwa melalui ubun2, mantram:

Oṃ hrang hring șah Parama Śiwa anmrêta ya namah. Om ang Śiwâtmane namah

4. Memudja kepada surya,

Mantramnja ada beberapa matjam, boleh dipilih mempergunakannja boleh djuga semuanja, misalnja:

a.

Oṃ râdityasya paranjotih, rakta tejo namostute, śweta pangkaja madhyaste, Bhaskâra ya ‘namo namaswaha.

b.

Oṃ trang hrih sah Paramaśiwa-radtiya ya nama swaḥa. Oṃ ṭrang hrih sah sûrya ya namah. Oṃ trang hrih sah śiwa-sûrya paran teja swa rûpa ya naṃa swaha.

c.

Oṃ istamba meru pariwarta samasta lokam

bim badhi dewaya wajikara ya.

jambo ‘ratiwa gaganaya samasṭa metram

aṃbara bindu śaranaya mamo inaṃaste

diwyapo murtti parameśwara bhaskaranam

jyotih samudra pariraksita natha naya

bhuḥ sapta loka bhuwana netraya sarwa neṭram

aditya dewa śaranaya namo namaste

kālaya kastha rawi bhaskara baladewa

bhaktya murtti paṛiwarta suniskuṭaya

ratnaya ratna ṃani bhusita sayutaya

trailokya natha śananaya namo nameste.

5. Permohonan ampun ada beberapa matjam (pada) djuga, boleh dipergunakan salah satu diantaranja atau kesemuanja.

a.

Oṃ papo ham papo atma ham

papatma papa sambhawah

trahi mam pundarikaksa

sabahya byantara śuci

b.

Oṃ ksma swa mam Mahadewa

sarwa prani hitangkarah

mam moca sarwa papebhyo

phalaya swa sadaśiwa.

c.

Oṃ ksantawya kayika dosah

ksajitawya wacika mama

ksantwaya manasa dosah

tat pramadham ksama swa mam.

6. Malamnja melakukan yoga (sapta-yoga), untuk mentjapai nirbana.

Besok paginja dinamai Ngembak-api (geni), sudah boleh menanak dan memasak ke dapur untuk persediaan makanan alabuh brata. Hanja bekerdja berat masih dilarang, karena baru habis melakukan brata, yoga.

Sekian.-

Oṃ tat sat, ekam swā ḍwityam Brahṃaṇ

Swastyastu nama Śiwaya.

—————————

Demikanlah kutipan tulisan IGB Sugriwa.

Sebagai tokoh umat, IGB Sugriwa mendirikan dan memimpin Madjalah Damai. Majalah ini punya cita-cita luhur untuk mengupayakan masyarakat Bali menjadi masyarakat tercerahi, baik dalam konteks beragama Hindu Bali dan dalam konteks bernegara.

Membaca tulisan penting di atas, disamping mendapat mantra-mantra penting dan petunjuk singkat brata panyepian, pembaca budiman diajak memasuki sebuah kilas bagaimana peran yang harus dimainkan oleh TOKOH UMAT Hindu Bali.

TOKOH UMAT adalah pembawa berita damai. IGB Sugriwa bisa menjadi panutan bagaimana pentingnya tokoh umat untuk menulis hal-hal penting dengan gamblang agar bisa menjadi sesuluh umat, memberikan jalan keluar dan koridor dalam mengawal tradisi. Teguh mendampingi umat agar umat menemukan jalan lapang dan hati bersih dalam menjalani tradisi beragama.

IGB Sugriwa memberi contoh bagaimana salah satu tugas penting yang harus diembang tokoh masyarakat Bali adalah menjelaskan nilai-nilai suci agama Hindu Bali, dan memberikan tuntunan teknis yang praktis panduan umat untuk berlatih mengendalikan diri dan berlatih memasuki kehidupan batiniah. IGB Sugriwa memberikan pesan moral untuk menjaga tanah dan manusia Bali diperlukan keteladanan dan kepemimpinan yang teguh memberi himbau-himbauan dan tuntunan-tuntunan mengajak umat untuk hidup sehat lahir batin, berpuasa, beryoga, membaca susastra-agama, melakukan renungan batin dan pengendalian diri — bukan sebaliknya.

Kembali ke topik Nyepi, dengan kembali membaca tulisan IGB Sugriwa di atas, umat Hindu Bali bisa mengambil pelajaran penting: Nyepi adalah hari berlatih ajaran ruhaniah. Terutama bagi “orang2 tua atau orang2 dewasa tadi jang menaruh minat kepada inti hakekat agama”.

Tulisan di atas pesannya sangat jelas, kalaulah tidak bisa dijalani dengan penuh, atau belum mampu menjadikan momentum Nyepi sebagai momentum berlatih ruhani, maka minimal tidak melakukan hal-hal yang berlawanan dengan makna tradisi besar Nyepi.

Sebagai tokoh besar Hindu Bali IGB Sugriwa ini menyatakan dengan tegas bahwa Nyepi adalah hari suci “untuk penghormatan kepada Sūrya, dengan setjara yoga”.

Sungguh berbalik arah jika ada kelakar pongah di masyarakat Bali yang mengatakan bahwa Nyepi adalah hari ceki. Celakanya, kelakar ini berangkat dari kenyataan memang ada kelompok masyarakat yang menjadikan momentum Nyepi menjadi hari ceki. Bahkan dianggap “tradisi”. Bukan hanya terjadi di kalangan rakyat bawah pedesaan, di lingkar pejabat pun santer desas-desus siapa-siapa oknum pejabat yang menjadikan Nyepi sebagai ajang “kondangan meceki”.

Pesan IGB Sugriwa perlu kita renungi kembali: “… menurut hakekat penjepian itu, [adalah momentum untuk] orang2 … membersihkan dirinja” secara lahir batin.

Tentunya, sungguh berbalik arah jika Nyepi disambut dengan tumpah ruah arak di bale-bale banjar.

Semoga kutipan/ ketikan kembali ini artikel yang ditulis tokoh besar Hindu Bali ini bermanfaat.

Selamat melakukan Tawur Kasanga dan brata panyepian. Semoga para pimpinan umat senantiasa diberi kesehatan dan kejernihan hati. Semoga kita semua selamat dan pandemi segera bisa kita atasi. Semoga kita senantiasa dalam kejernihan pikiran. Selamat menuju menyambut tahun 1944 Śaka. Semoga semua makhluk berbahagia. [T]

Tags: Hari Raya NyepiHindu BaliI Gusti Bagus Sugriwa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Nyepi: Surya, Suryak, Ramya, Somya, Sunya

Next Post

Hindu dan Keberagaman Seni Budaya | Catatan Tawur Agung dari Candi Prambanan

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
0
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

Read moreDetails

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails
Next Post
Hindu dan Keberagaman Seni Budaya | Catatan Tawur Agung dari Candi Prambanan

Hindu dan Keberagaman Seni Budaya | Catatan Tawur Agung dari Candi Prambanan

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital
Ulas Musik

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

DALAM lanskap rock progresif 1970-an, “Castle Walls” tampil sebagai balada megah yang sarat ketegangan emosional. Ditulis dan dinyanyikan oleh vokalis...

by Ahmad Sihabudin
May 14, 2026
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co