23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Hindu dan Keberagaman Seni Budaya | Catatan Tawur Agung dari Candi Prambanan

Teddy Chrisprimanata Putra by Teddy Chrisprimanata Putra
March 2, 2022
in Khas
Hindu dan Keberagaman Seni Budaya | Catatan Tawur Agung dari Candi Prambanan

Twur Agung di Candi Prambanan [Foto-foto: Teddy]

Pagi ini saya bangun sedikit terlambat akibat sebelumnya tidur terlalu subuh. Jangan tanyakan apa yang dibicarakan saat begadang hingga subuh itu, karena tentu tidak akan penting bagi kalian. Tapi intinya, keterlambatan saya tidak mengurangi antusias saya untuk hadir di satu acara penting yang kali pertama saya ikuti.

Hari ini, Rabu 2 Maret 2022, umat Hindu melaksanakan upacara Tawur Agung Kesanga. Bagi saya yang lahir, tinggal, dan besar dengan agama Hindu dan budaya Bali tentu saja cukup akrab dengan ritual ini.

Kalau di Bali biasanya Tawur Agung akan disemarakkan dengan Pawai Ogoh-ogoh yang dibuat oleh pemuda-pemuda banjar. Ogoh-ogoh akan diarak keliling banjar dan ditarikan di Catus Pata (Simpang Empat) Desa masing-masing. Tawur Agung sendiri adalah upacara yang dilaksanakan sehari sebelum Hari Suci Nyepi yang ditujukan untuk kesejahteraan dan keselarasan alam semesta (Bhuana Agung).

Tapi Tawur Agung Kesanga tahun ini menjadi berbeda bagi saya, karena saya mengikuti upacara ini di Candi Prambanan—tempat suci yang dijadikan pusat persembahyangan bagi umat Hindu, tidak hanya di Indonesia tapi juga dunia. Tentu akan banyak perbedaan yang akan terlihat, meski sebagian juga akan sama.

Tat Twam Asi Sebagai Obat Kehidupan Bermasyarakat Hari Ini

Saya mendengar sambutan dari tokoh-tokoh Hindu dalam pembukaan Tawur Agung Kesanga hari ini. Kalimat-kalimat mereka lebih banyak menekankan pada nilai-nilai Tat Twam Asi sebagai pedoman umat dalam bermasyarakat. Dalam bahasa sederhananya, Tat Twam Asi  “Aku adalah kamu, kamu adalah aku”—bagaimana kita sebagai umat manusia dapat berempati terhadap manusia lain sehingga mengutamakan kerukunan dan kebersamaan.

Kalau melihat konteks hari ini, nilai Tat Twam Asi sangatlah relevan. Coba lihat bagaimana di awal tahun 2021 umat kita diramaikan oleh pernyataan salah seorang dosen yang dulunya pernah menjadi umat Hindu. Ia mendiskreditkan agama lamanya dengan cara membandingkan dengan agama baru yang dianutnya. Padahal agama itu sendiri adalah jalan untuk menuju kepadaNya, jadi tidak perlu diributkan, cukup disiplin dengan ibadah masing-masing, maka keriuhan seperti itu tidak akan terjadi.

Lalu ada persoalan yang masih eksis hingga kini adalah dualisme yang terjadi di tubuh Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI). Dualisme kepengurusan hari ini mau tidak mau harus diakui juga membelah umat di daerah. Lalu siapa yang terkena dampaknya? Ya tentu umat Hindu di Indonesia.

Momen hari suci Nyepi kali ini tampak menjadi kesempatan penting bagi umat Hindu untuk kembali merekonsiliasi segala keributan yang belum selesai sebelumnya. Jadi, setelah ini kita bisa kembali fokus pada penyelesaian berbagai persoalan umat. Mulai akses pendidikan, penguatan ekonomi, hingga penguatan sradha bhakti.

Hindu dan Budaya yang Saling Menguatkan

Tidak hanya soal tema yang relevan, saya begitu bahagia melihat begitu beragamnya umat yang hadir di Candi Prambanan hari ini. Kalau biasanya saya hanya melihat umat yang menggunakan pakaian sembahyang khas Bali, kini saya melihat umat Hindu berbondong-bondong memanjatkan doa dengan pakaian khas daerahnya masing-masing. Hindu Jawa dengan blangkonnya, Hindu Kaharingan dengan ikat kepalanya yang khas, dll. Bukankah Hindu adalah agama yang menguatkan budaya tempat dirinya berpijak? Dan itulah sejatinya keindahan keberagaman.

Saya juga melihat berbagai perangkat penunjang, seperti: tari-tarian, tembang, gamelan, hingga pertunjukkan wayang yang khas dengan budaya Jawa. Hal itu tentu saja mengindikasikan bahwa akulturasi antara pengamalan ajaran-ajaran agama Hindu dengan budaya setempat berjalan dengan baik, sehingga melahirkan suatu hubungan yang harmonis.

Salah satu tarian yanh saya saksikan adalah Tari Gambyong; sebuah tarian yang diperuntukkan untuk menyambut tamu. Tarian ini berasal dari daerah Surakarta, dan lebih bahagianya saya dapat kesempatan untuk berfoto bersama dengan beberapa penari Gambyong tersebut (hahaha, hanya intermezo saja ya—mari lanjut ke topik pembahasan).

Kalau di Bali kita mengenal persembahan yang bernama Pajegan atau Gebogan, maka di Tawur Agung Kesanga yang diselenggarakan di Candi Prambanan, kita akan melihat persembahan serupa dengan nama yang berbeda. Namanya adalah Gunungan. Seperti halnya Pajegan atau Gebogan yang terdiri dari susunan buah-buahan, Gunungan pun demikian, hanya saja Gunungan berukuran lebih besar dan benar-benar disusun layaknya gunung—diameter bawah lebar lalu semakin kecil ke bagian puncaknya.

Serupa dengan Pajegan atau Gebogan yang boleh dimakan setelah dihaturkan, Gunungan pun demikian. Hanya saja ini lebih menarik dan membuat saya semakin bersemangat. Pada akhir upacara, Gunungan diarak keliling pelataran Candi Prambanan lalu di bawa ke titik tengah pelataran. Kemudian umat Hindu yang hadir dipersilakan untuk mengambil buah-buahan tersebut. Ingat, umat yang hadir itu ratusan orang, jadi saya harus berebut dengan umat yang lain agar dapat buah-buahan tersebut—naa, tradisi tersebut bernama Krebekan.

Memiliki kesempatan untuk merasakan bagaimana pelaksanaan upacara Tawur Agung Kesanga di luar Bali bukanlah hal yang bisa didapat oleh semua orang. Tapi ketika mendapatkan kesempatan tersebut, percayalah bahwa Hindu tidak hanya hidup di pulau yang bernama Bali saja, Hindu hidup di hampir seluruh wilayah Indonesia yang menguatkan budaya-budaya setempat.

Mungkin Hindu itu sangatlah menerapkan kata pepatah yang berbunyi “dimana bumi dipijak, di sana langit dijunjung”. Memang penuh perbedaan, tapi bukankah di sanalah letak keindahannya? Bagaimana menurut kalian? [T]

Tags: Candi PrambananHari Raya NyepiTawur Kesanga
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

MANTRA-MANTRA NYEPI REKOMENDASI I GUSTI BAGUS SUGRIWA

Next Post

Dari Langse ke Boneka Beruang | Ulasan Ringan Instalasi Skullism Record di Ruang Baur Seni : Fraksi Epos

Teddy Chrisprimanata Putra

Teddy Chrisprimanata Putra

Penulis adalah Dosen Ilmu Politik di Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta

Related Posts

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
0
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

Read moreDetails

“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

by Ingga Adelia
October 18, 2026
0
“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

Siang itu, Flow Workspace di kawasan Sanur, Denpasar, dipenuhi anak-anak muda, terutama pencinta film dan para aktor. Mereka berkumpul, bercakap-cakap,...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails
Next Post
Dari Langse ke Boneka Beruang | Ulasan Ringan Instalasi Skullism Record di Ruang Baur Seni : Fraksi Epos

Dari Langse ke Boneka Beruang | Ulasan Ringan Instalasi Skullism Record di Ruang Baur Seni : Fraksi Epos

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co