13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Hindu dan Keberagaman Seni Budaya | Catatan Tawur Agung dari Candi Prambanan

Teddy Chrisprimanata Putra by Teddy Chrisprimanata Putra
March 2, 2022
in Khas
Hindu dan Keberagaman Seni Budaya | Catatan Tawur Agung dari Candi Prambanan

Twur Agung di Candi Prambanan [Foto-foto: Teddy]

Pagi ini saya bangun sedikit terlambat akibat sebelumnya tidur terlalu subuh. Jangan tanyakan apa yang dibicarakan saat begadang hingga subuh itu, karena tentu tidak akan penting bagi kalian. Tapi intinya, keterlambatan saya tidak mengurangi antusias saya untuk hadir di satu acara penting yang kali pertama saya ikuti.

Hari ini, Rabu 2 Maret 2022, umat Hindu melaksanakan upacara Tawur Agung Kesanga. Bagi saya yang lahir, tinggal, dan besar dengan agama Hindu dan budaya Bali tentu saja cukup akrab dengan ritual ini.

Kalau di Bali biasanya Tawur Agung akan disemarakkan dengan Pawai Ogoh-ogoh yang dibuat oleh pemuda-pemuda banjar. Ogoh-ogoh akan diarak keliling banjar dan ditarikan di Catus Pata (Simpang Empat) Desa masing-masing. Tawur Agung sendiri adalah upacara yang dilaksanakan sehari sebelum Hari Suci Nyepi yang ditujukan untuk kesejahteraan dan keselarasan alam semesta (Bhuana Agung).

Tapi Tawur Agung Kesanga tahun ini menjadi berbeda bagi saya, karena saya mengikuti upacara ini di Candi Prambanan—tempat suci yang dijadikan pusat persembahyangan bagi umat Hindu, tidak hanya di Indonesia tapi juga dunia. Tentu akan banyak perbedaan yang akan terlihat, meski sebagian juga akan sama.

Tat Twam Asi Sebagai Obat Kehidupan Bermasyarakat Hari Ini

Saya mendengar sambutan dari tokoh-tokoh Hindu dalam pembukaan Tawur Agung Kesanga hari ini. Kalimat-kalimat mereka lebih banyak menekankan pada nilai-nilai Tat Twam Asi sebagai pedoman umat dalam bermasyarakat. Dalam bahasa sederhananya, Tat Twam Asi  “Aku adalah kamu, kamu adalah aku”—bagaimana kita sebagai umat manusia dapat berempati terhadap manusia lain sehingga mengutamakan kerukunan dan kebersamaan.

Kalau melihat konteks hari ini, nilai Tat Twam Asi sangatlah relevan. Coba lihat bagaimana di awal tahun 2021 umat kita diramaikan oleh pernyataan salah seorang dosen yang dulunya pernah menjadi umat Hindu. Ia mendiskreditkan agama lamanya dengan cara membandingkan dengan agama baru yang dianutnya. Padahal agama itu sendiri adalah jalan untuk menuju kepadaNya, jadi tidak perlu diributkan, cukup disiplin dengan ibadah masing-masing, maka keriuhan seperti itu tidak akan terjadi.

Lalu ada persoalan yang masih eksis hingga kini adalah dualisme yang terjadi di tubuh Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI). Dualisme kepengurusan hari ini mau tidak mau harus diakui juga membelah umat di daerah. Lalu siapa yang terkena dampaknya? Ya tentu umat Hindu di Indonesia.

Momen hari suci Nyepi kali ini tampak menjadi kesempatan penting bagi umat Hindu untuk kembali merekonsiliasi segala keributan yang belum selesai sebelumnya. Jadi, setelah ini kita bisa kembali fokus pada penyelesaian berbagai persoalan umat. Mulai akses pendidikan, penguatan ekonomi, hingga penguatan sradha bhakti.

Hindu dan Budaya yang Saling Menguatkan

Tidak hanya soal tema yang relevan, saya begitu bahagia melihat begitu beragamnya umat yang hadir di Candi Prambanan hari ini. Kalau biasanya saya hanya melihat umat yang menggunakan pakaian sembahyang khas Bali, kini saya melihat umat Hindu berbondong-bondong memanjatkan doa dengan pakaian khas daerahnya masing-masing. Hindu Jawa dengan blangkonnya, Hindu Kaharingan dengan ikat kepalanya yang khas, dll. Bukankah Hindu adalah agama yang menguatkan budaya tempat dirinya berpijak? Dan itulah sejatinya keindahan keberagaman.

Saya juga melihat berbagai perangkat penunjang, seperti: tari-tarian, tembang, gamelan, hingga pertunjukkan wayang yang khas dengan budaya Jawa. Hal itu tentu saja mengindikasikan bahwa akulturasi antara pengamalan ajaran-ajaran agama Hindu dengan budaya setempat berjalan dengan baik, sehingga melahirkan suatu hubungan yang harmonis.

Salah satu tarian yanh saya saksikan adalah Tari Gambyong; sebuah tarian yang diperuntukkan untuk menyambut tamu. Tarian ini berasal dari daerah Surakarta, dan lebih bahagianya saya dapat kesempatan untuk berfoto bersama dengan beberapa penari Gambyong tersebut (hahaha, hanya intermezo saja ya—mari lanjut ke topik pembahasan).

Kalau di Bali kita mengenal persembahan yang bernama Pajegan atau Gebogan, maka di Tawur Agung Kesanga yang diselenggarakan di Candi Prambanan, kita akan melihat persembahan serupa dengan nama yang berbeda. Namanya adalah Gunungan. Seperti halnya Pajegan atau Gebogan yang terdiri dari susunan buah-buahan, Gunungan pun demikian, hanya saja Gunungan berukuran lebih besar dan benar-benar disusun layaknya gunung—diameter bawah lebar lalu semakin kecil ke bagian puncaknya.

Serupa dengan Pajegan atau Gebogan yang boleh dimakan setelah dihaturkan, Gunungan pun demikian. Hanya saja ini lebih menarik dan membuat saya semakin bersemangat. Pada akhir upacara, Gunungan diarak keliling pelataran Candi Prambanan lalu di bawa ke titik tengah pelataran. Kemudian umat Hindu yang hadir dipersilakan untuk mengambil buah-buahan tersebut. Ingat, umat yang hadir itu ratusan orang, jadi saya harus berebut dengan umat yang lain agar dapat buah-buahan tersebut—naa, tradisi tersebut bernama Krebekan.

Memiliki kesempatan untuk merasakan bagaimana pelaksanaan upacara Tawur Agung Kesanga di luar Bali bukanlah hal yang bisa didapat oleh semua orang. Tapi ketika mendapatkan kesempatan tersebut, percayalah bahwa Hindu tidak hanya hidup di pulau yang bernama Bali saja, Hindu hidup di hampir seluruh wilayah Indonesia yang menguatkan budaya-budaya setempat.

Mungkin Hindu itu sangatlah menerapkan kata pepatah yang berbunyi “dimana bumi dipijak, di sana langit dijunjung”. Memang penuh perbedaan, tapi bukankah di sanalah letak keindahannya? Bagaimana menurut kalian? [T]

Tags: Candi PrambananHari Raya NyepiTawur Kesanga
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

MANTRA-MANTRA NYEPI REKOMENDASI I GUSTI BAGUS SUGRIWA

Next Post

Dari Langse ke Boneka Beruang | Ulasan Ringan Instalasi Skullism Record di Ruang Baur Seni : Fraksi Epos

Teddy Chrisprimanata Putra

Teddy Chrisprimanata Putra

Penulis adalah Dosen Ilmu Politik di Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta

Related Posts

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
0
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

Read moreDetails

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
0
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

Read moreDetails

Festival Seni Bali Jani VIII, Panggung Kolaborasi dan Eksperimentasi Seni Bali

by Nyoman Budarsana
July 10, 2026
0
Festival Seni Bali Jani VIII, Panggung Kolaborasi dan Eksperimentasi Seni Bali

FESTIVAL Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 dipastikan hadir lebih semarak. Festival yang menjadi ruang apresiasi seni modern, kontemporer,...

Read moreDetails

Lepas 52 Tukik dan Tanam Kelapa, Prama Sanur Beach Bali Rayakan HUT dengan Aksi Peduli Lingkungan

by Nyoman Budarsana
July 10, 2026
0
Lepas 52 Tukik dan Tanam Kelapa, Prama Sanur Beach Bali Rayakan HUT dengan Aksi Peduli Lingkungan

PAGI itu, suasana Pantai Cemara, Sanur, mulai dipenuhi antusiasme. Meski sinar matahari sudah terasa menyengat, puluhan orang tetap bersemangat mengikuti...

Read moreDetails

Sukses Digelar, PEKSIMASIF 2026 Lahirkan Talenta Seni Baru di FISIP Unsoed

by Rohmah Nia Chandra Sari
July 9, 2026
0
Sukses Digelar, PEKSIMASIF 2026 Lahirkan Talenta Seni Baru di FISIP Unsoed

RANGKAIAN ajang bergengsi Pekan Seni Mahasiswa FISIP (PEKSIMASIF) 2026 yang berlangsung selama tiga hari, sejak 28 hingga 30 April 2026,...

Read moreDetails

Memupuh Desa, Memupuk Dualitas

by Chandra Manikan
July 9, 2026
0
Memupuh Desa, Memupuk Dualitas

SAMPAI HARI INI, pupuh itu mengendap lebih lama di pikiranku. Buku “Bali, Pandemi, Refleksi: Dinamika Politik Kebijakan dan Kritisme Komunitas”,...

Read moreDetails

Membincangkan Puisi dan Kesadaran Kolektif di Singaraja Literary Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
July 8, 2026
0
Membincangkan Puisi dan Kesadaran Kolektif di Singaraja Literary Festival 2026

“SETIAP penyair kalau ia menyuarakan lukanya, ia sebenarnya menyuarakan luka manusia.” Kalimat itu meluncur dari Yahya Umar, Sabtu, 4 Juli...

Read moreDetails

Aroma Kopi, Kuliner, dan Percakapan yang Menghidupkan Singaraja Literary Festival 2026

by Nyoman Budarsana
July 7, 2026
0
Aroma Kopi, Kuliner, dan Percakapan yang Menghidupkan Singaraja Literary Festival 2026

AROMA kopi yang baru diseduh bercampur dengan wangi siobak dan tipat santok menyambut setiap langkah pengunjung di belakang panggung utama...

Read moreDetails

Belajar Mendengarkan Bumi: Refleksi dari Workshop Biodinamik di Griya Yangloni, Gianyar

by Agung Sudarsa
July 7, 2026
0
Belajar Mendengarkan Bumi: Refleksi dari Workshop Biodinamik di Griya Yangloni, Gianyar

MINGGU, 21 Juni 2026, di Griya Yangloni milik Dokter Ida Bagus Kesnawa, MM, di Banjar Buruan, Gianyar, sebuah pengalaman sederhana...

Read moreDetails

Bagai Pasukan Perang, Tim Volunteer AVIRAMA “Kejar Sampah” di Singaraja Literary Festival 2026

by Nyoman Budarsana
July 6, 2026
0
Bagai Pasukan Perang, Tim Volunteer AVIRAMA “Kejar Sampah” di Singaraja Literary Festival 2026

BAGAI pasukan di medan perang, petugas kebersihan dalam ajang Singaraja Literary Festival (SLF) 2026 tak membiarkan sepotong sampah pun tertinggal....

Read moreDetails
Next Post
Dari Langse ke Boneka Beruang | Ulasan Ringan Instalasi Skullism Record di Ruang Baur Seni : Fraksi Epos

Dari Langse ke Boneka Beruang | Ulasan Ringan Instalasi Skullism Record di Ruang Baur Seni : Fraksi Epos

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual
Pameran

Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual

PERUPA Bali Made Wiradana kembali menegaskan perjalanan artistiknya melalui pameran tunggal bertajuk Kacatri yang digelar di Santrian Art Gallery, Sanur....

by I Gede Made Surya Darma
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co