2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Hindu dan Keberagaman Seni Budaya | Catatan Tawur Agung dari Candi Prambanan

Teddy Chrisprimanata Putra by Teddy Chrisprimanata Putra
March 2, 2022
in Khas
Hindu dan Keberagaman Seni Budaya | Catatan Tawur Agung dari Candi Prambanan

Twur Agung di Candi Prambanan [Foto-foto: Teddy]

Pagi ini saya bangun sedikit terlambat akibat sebelumnya tidur terlalu subuh. Jangan tanyakan apa yang dibicarakan saat begadang hingga subuh itu, karena tentu tidak akan penting bagi kalian. Tapi intinya, keterlambatan saya tidak mengurangi antusias saya untuk hadir di satu acara penting yang kali pertama saya ikuti.

Hari ini, Rabu 2 Maret 2022, umat Hindu melaksanakan upacara Tawur Agung Kesanga. Bagi saya yang lahir, tinggal, dan besar dengan agama Hindu dan budaya Bali tentu saja cukup akrab dengan ritual ini.

Kalau di Bali biasanya Tawur Agung akan disemarakkan dengan Pawai Ogoh-ogoh yang dibuat oleh pemuda-pemuda banjar. Ogoh-ogoh akan diarak keliling banjar dan ditarikan di Catus Pata (Simpang Empat) Desa masing-masing. Tawur Agung sendiri adalah upacara yang dilaksanakan sehari sebelum Hari Suci Nyepi yang ditujukan untuk kesejahteraan dan keselarasan alam semesta (Bhuana Agung).

Tapi Tawur Agung Kesanga tahun ini menjadi berbeda bagi saya, karena saya mengikuti upacara ini di Candi Prambanan—tempat suci yang dijadikan pusat persembahyangan bagi umat Hindu, tidak hanya di Indonesia tapi juga dunia. Tentu akan banyak perbedaan yang akan terlihat, meski sebagian juga akan sama.

Tat Twam Asi Sebagai Obat Kehidupan Bermasyarakat Hari Ini

Saya mendengar sambutan dari tokoh-tokoh Hindu dalam pembukaan Tawur Agung Kesanga hari ini. Kalimat-kalimat mereka lebih banyak menekankan pada nilai-nilai Tat Twam Asi sebagai pedoman umat dalam bermasyarakat. Dalam bahasa sederhananya, Tat Twam Asi  “Aku adalah kamu, kamu adalah aku”—bagaimana kita sebagai umat manusia dapat berempati terhadap manusia lain sehingga mengutamakan kerukunan dan kebersamaan.

Kalau melihat konteks hari ini, nilai Tat Twam Asi sangatlah relevan. Coba lihat bagaimana di awal tahun 2021 umat kita diramaikan oleh pernyataan salah seorang dosen yang dulunya pernah menjadi umat Hindu. Ia mendiskreditkan agama lamanya dengan cara membandingkan dengan agama baru yang dianutnya. Padahal agama itu sendiri adalah jalan untuk menuju kepadaNya, jadi tidak perlu diributkan, cukup disiplin dengan ibadah masing-masing, maka keriuhan seperti itu tidak akan terjadi.

Lalu ada persoalan yang masih eksis hingga kini adalah dualisme yang terjadi di tubuh Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI). Dualisme kepengurusan hari ini mau tidak mau harus diakui juga membelah umat di daerah. Lalu siapa yang terkena dampaknya? Ya tentu umat Hindu di Indonesia.

Momen hari suci Nyepi kali ini tampak menjadi kesempatan penting bagi umat Hindu untuk kembali merekonsiliasi segala keributan yang belum selesai sebelumnya. Jadi, setelah ini kita bisa kembali fokus pada penyelesaian berbagai persoalan umat. Mulai akses pendidikan, penguatan ekonomi, hingga penguatan sradha bhakti.

Hindu dan Budaya yang Saling Menguatkan

Tidak hanya soal tema yang relevan, saya begitu bahagia melihat begitu beragamnya umat yang hadir di Candi Prambanan hari ini. Kalau biasanya saya hanya melihat umat yang menggunakan pakaian sembahyang khas Bali, kini saya melihat umat Hindu berbondong-bondong memanjatkan doa dengan pakaian khas daerahnya masing-masing. Hindu Jawa dengan blangkonnya, Hindu Kaharingan dengan ikat kepalanya yang khas, dll. Bukankah Hindu adalah agama yang menguatkan budaya tempat dirinya berpijak? Dan itulah sejatinya keindahan keberagaman.

Saya juga melihat berbagai perangkat penunjang, seperti: tari-tarian, tembang, gamelan, hingga pertunjukkan wayang yang khas dengan budaya Jawa. Hal itu tentu saja mengindikasikan bahwa akulturasi antara pengamalan ajaran-ajaran agama Hindu dengan budaya setempat berjalan dengan baik, sehingga melahirkan suatu hubungan yang harmonis.

Salah satu tarian yanh saya saksikan adalah Tari Gambyong; sebuah tarian yang diperuntukkan untuk menyambut tamu. Tarian ini berasal dari daerah Surakarta, dan lebih bahagianya saya dapat kesempatan untuk berfoto bersama dengan beberapa penari Gambyong tersebut (hahaha, hanya intermezo saja ya—mari lanjut ke topik pembahasan).

Kalau di Bali kita mengenal persembahan yang bernama Pajegan atau Gebogan, maka di Tawur Agung Kesanga yang diselenggarakan di Candi Prambanan, kita akan melihat persembahan serupa dengan nama yang berbeda. Namanya adalah Gunungan. Seperti halnya Pajegan atau Gebogan yang terdiri dari susunan buah-buahan, Gunungan pun demikian, hanya saja Gunungan berukuran lebih besar dan benar-benar disusun layaknya gunung—diameter bawah lebar lalu semakin kecil ke bagian puncaknya.

Serupa dengan Pajegan atau Gebogan yang boleh dimakan setelah dihaturkan, Gunungan pun demikian. Hanya saja ini lebih menarik dan membuat saya semakin bersemangat. Pada akhir upacara, Gunungan diarak keliling pelataran Candi Prambanan lalu di bawa ke titik tengah pelataran. Kemudian umat Hindu yang hadir dipersilakan untuk mengambil buah-buahan tersebut. Ingat, umat yang hadir itu ratusan orang, jadi saya harus berebut dengan umat yang lain agar dapat buah-buahan tersebut—naa, tradisi tersebut bernama Krebekan.

Memiliki kesempatan untuk merasakan bagaimana pelaksanaan upacara Tawur Agung Kesanga di luar Bali bukanlah hal yang bisa didapat oleh semua orang. Tapi ketika mendapatkan kesempatan tersebut, percayalah bahwa Hindu tidak hanya hidup di pulau yang bernama Bali saja, Hindu hidup di hampir seluruh wilayah Indonesia yang menguatkan budaya-budaya setempat.

Mungkin Hindu itu sangatlah menerapkan kata pepatah yang berbunyi “dimana bumi dipijak, di sana langit dijunjung”. Memang penuh perbedaan, tapi bukankah di sanalah letak keindahannya? Bagaimana menurut kalian? [T]

Tags: Candi PrambananHari Raya NyepiTawur Kesanga
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

MANTRA-MANTRA NYEPI REKOMENDASI I GUSTI BAGUS SUGRIWA

Next Post

Dari Langse ke Boneka Beruang | Ulasan Ringan Instalasi Skullism Record di Ruang Baur Seni : Fraksi Epos

Teddy Chrisprimanata Putra

Teddy Chrisprimanata Putra

Penulis adalah Dosen Ilmu Politik di Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta

Related Posts

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
0
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails
Next Post
Dari Langse ke Boneka Beruang | Ulasan Ringan Instalasi Skullism Record di Ruang Baur Seni : Fraksi Epos

Dari Langse ke Boneka Beruang | Ulasan Ringan Instalasi Skullism Record di Ruang Baur Seni : Fraksi Epos

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co