3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Semangat yang Tak Luntur, Merawat Tutur Leluhur

I Made Sujaya by I Made Sujaya
April 23, 2024
in Ulas Buku
Semangat yang Tak Luntur, Merawat Tutur Leluhur

Buku karya Made Taro

TAK keliru Made Taro disebut sebagai maestro tradisi lisan, khususnya pada genre dongeng dan permainan tradisional. Kesetiaannya pada dongeng dan permainan mungkin sulit ditandingi. Lelaki kelahiran 16 April 1939 itu tidak pernah berhenti mendongeng.  Lebih dari separuh hidupnya, sejak tahun 1973 hingga kini saat usianya yang sudah melewati 85 tahun, Made Taro terus berkeliling mendongeng sambil bermain.

Tiap tahun, dia setidaknya menulis dua buku dongeng. Buku-buku itu dia terbitkan sendiri, dengan biaya sendiri, bahkan juga dia pasarkan sendiri.

Tiga tahun terakhir, Made Taro menerbitkan lima buku dongeng. Kelima buku dongeng itu, yakni Seni Tutur Sang Penolong (April 2022) yang berisi 14 dongeng, Seni Tutur Aku Cinta Ayah Bunda (November 2022) dengan 10 dongeng, Seni Tutur Dari Rumah Dongeng (Juli 2023) berisi 20 dongeng, Seni Tutur Dongeng Masa Kini (Oktober 2023) memuat 20 dongeng, dan Seni Tutur Bali Berkisah (Januari 2024) juga memuat 20 dongeng. April 2024, tebit lagi satu buku dongengnya bertajuk Dongengku Cerminku. Total tercatat ada 54 buku yang telah ditulis Made Taro.

Mengingat Dongeng, Mengingat Jati Diri

Ada sesuatu yang berbeda dari lima buku dongeng Made Taro itu. Kelimanya diberi tajuk “seni tutur”. Kelimanya juga menggunakan bentuk puisi. Sebelumnya, dongeng-dongeng Made Taro disajikan dengan gaya prosa. Karena itu, lima buku ini dapat dianggap sebagai wajah baru dongeng-dongeng Made Taro.

Disebut ‘wajah baru’ karena sebagian besar dongeng dalam kelima buku itu adalah penceritaan kembali ke dalam bentuk puisi dongeng-dongeng sebelumnya yang disajikan dalam bentuk prosa. Hal itu tampak sangat dominan dalam buku Seni Tutur Bali Berkisah. Dongeng tentang manusia tidak melihat dewa hingga dongeng Ajisaka sudah diceritakan Made Taro secara prosais dalam buku-buku dongeng sebelumnya.

Namun, ada juga dongeng-dongeng baru yang belum pernah dimuat dalam buku-buku sebelumnya. Ada dongeng baru yang ditulis setelah mendapat inspirasi dari cerita rakyat di suatu daerah atau negara, ada juga dongeng baru yang ditulis berdasarkan pengalaman masa kecil penulisnya. Dongeng baru atau diinspirasi dari sejumlah cerita rakyat itu tampak dalam buku Seni Tutur Dari Rumah Dongeng dan Seni Tutur Dongeng Masa Kini.

Label ‘seni tutur’ tampaknya dimaksudkan Made Taro untuk menegaskan aspek fungsi didaktis dongeng-dongeng itu untuk menyampaikan nilai-nilai kehidupan sehingga dapat dijadikan cermin oleh pembaca. Dalam tradisi Bali, menurut Ki Nirdon dalam buku Wija Kasawur (1992), kata tutur memang bermakna mendalam. Tutur berasal dari bahasa Jawa Kuna yang bermakna ‘ingat’ atau ‘sadar’. Melalui teks-teks tutur, masyarakat Bali belajar untuk senantiasa ingat dan sadar akan jati dirinya, dari mana dia berasal, yakni sangkan paraning dumadi.

Karena itu, penggunaan istilah ‘seni tutur’ dalam buku-buku dongeng mutakhir Made Taro dapat dibaca sebagai upaya Made Taro mengingatkan para pembacanya bahwa dongeng bukan sekadar pelipur lara atau cerita pengantar tidur untuk anak-anak, melainkan juga mengandung nilai-nilai moral dan ajaran kehidupan yang sarat makna.

Sayangnya, dalam pandangan Made Taro, banyak yang meragukan peranan dongeng di masa kini. Kerap kali dongeng dipandang remeh sehingga keberadaannya terabaikan. Padahal, masih menurut Made Taro, dongeng terasa makin menantang. Dongeng “menyimpan kejujuran dan penipuan”, “menyimpan kerendahhatian dan kesombongan”. Made Taro mengilustrasikan sikap orang-orang di masa kini yang melupakan dongeng itu dalam puisi pembuka pada buku Seni Tutur Dongeng Masa Kini seperti berikut ini.

………….
Belum juga kau memaklumi
Kau hanya menuntut kue enak masa kini
Tapi melupakan bubur kebijakan masa lampau
Ia adalah bubur leluhur
Yang diwariskan turun-temurun
Ia mampu menyuapkan bubur-bubur
Masa lampau dan masa kini
Ribuan kali ia mengingatkan,
“Jangan lupakan, jangan abaikan
Jangan buang aku di tempat sampah.”

Puisi ini tak pelak dapat dibaca sebagai ungkapan suara hati Made Taro agar dongeng tak diabaikan di masa kini. Menurutnya, dongeng tetap punya peran penting dalam kehidupan, betapa pun modernnya atau betapa pun teknologi informasi sudah sedemikian canggih. Manusia tetap membutuhkan dongeng sebagai tempat bercermin. Itu pula pesan yang diusung dalam buku keenamnya ini.

Puisi Anak

Pilihan Made Taro untuk menceritakan dongeng-dongengnya dalam bentuk puisi juga menarik untuk dicermati. Selain karena tampak konsisten dalam lima buku terakhirnya, Made Taro juga mengaku pilihannya itu didasari oleh pandangannya bahwa dongeng-dongeng selama ini sangat jarang ditulis dalam bentuk puisi, terlebih lagi puisi anak.  

“Sepertinya genre puisi anak sangat terbatas dan kurang mendapat perhatian para peneliti sastra,” kata Made Taro dalam suatu perbincangan di teras rumahnya.

Padahal, menurut Made Taro, produksi puisi umum atau puisi untuk pembaca dewasa sangat melimpah. Karena itu, upaya Made Taro dapat dimaknai sebagai mengisi kekosongan dunia puisi anak sehingga patut dihargai.

Pekak Taro Bercerita, Turis Asing pun Bengong Mendengar

Puisi anak pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan puisi pada umumnya. Menurut Burhan Nurgiyantoro dalam buku Sastra Anak: Pengantar Pemahaman Dunia Anak (2005) penulisan puisi anak mesti memperhatikan unsur-unsur pembentuk puisi, terutama diksi, bunyi, dan rima. Hanya saja, dalam puisi anak, struktur, diksi, ungkapan dan kemungkinan pemaknaan, masih lebih sederhana. Kesederhanaan itu tentu saja selaras dengan dunia anak. Namun, dalam hal ‘permainan bahasa’, puisi anak biasanya menunjukkan intensitas pendayagunaan bahasa dengan mengutamakan kemunculan aspek rima dan irama atau berbagai bentuk pengulangan.

Seperti halnya dunia sastra anak pada umumnya, menulis puisi anak juga tidak mudah. Selain penggunaan bahasa yang sederhana, puisi anak juga harus merepresentasikan dunia anak yang wajar sesuai perkembangan kejiwaan anak-anak. Itu sebabnya, bisa dipahami jika ada sastrawan yang sudah berpengalaman mengatakan jauh lebih sulit menulis cerita anak dibandingkan novel umum.

Leon Agusta merupakan salah satu di antara sedikit penyair Indonesia yang berhasil menulis puisi anak. Salah satu puisinya yang terkenal, yakni “Putri Bangau”.

Putri Bangau

Konon dahulu di negeri Jepang
Tersebutlah tentang sebuah dongeng
Mengisahkan seekor bangau yang malang
Sayapnya luka tak bisa terbang

Seorang Pak Tani setengah baya
Menemukannya dekat telaga
Bangau dipungut diobatinya
Sehingga sembuh sayap yang luka
…………..

Puisi ini diangkat dari dongeng orang Jepang tentang seorang petani miskin yang tinggal di hutan. Suatu hari dia menolong seekor bangau yang terluka. Setelah sembuh, si bangau berjanji suatu ketika akan membantu sang petani. Sampai akhirnya si bangau datang lagi menjelma sebagai seorang putri cantik. Putri ini dinikahi sang petani. Ketika petani bekerja di ladang, sang purti cantik menenun kain sutra di rumah. Setelah selesai, kain hasil tenunan itu dijual ke kota. Karena sangat bagus, kain itu laku keras.

Sang pembeli yang seorang pedagang meminta dibuatkan kain lagi, namun putri cantik menolak. Akan tetapi, sang petani mendesak sehingga putri cantik mau membuatkan dengan syarat agar selama menenun dia tidak diintip. Ternyata, selama sang putri menenun, petani mengintipnya. Dia melihat seekor bangau mencabuti bulunya sendiri untuk dijadikan kain tenun. Setelah jadi, kain itu diserahkan sang putri kepada petani. Namun, sang putri meninggalkan petani karena merasa petani ingkar janji. Akhirnya, petani tinggal sendirian dan penuh penyesalan.

Jika Leon Agusta tampak bersetia dengan gaya pantun dan menjaga rima akhir, Made Taro terlihat lebih bebas. Bait-bait dalam puisi anak Made Taro lebih beragam dan tak selalu terpaku dengan rima akhir. Made Taro tampaknya tak menempatkan keindahan puisi anaknya pada struktur fisik, tetapi mengajak pembacanya menyelam pada keindahan narasi.

Seperti halnya Leon Agusta, Made Taro juga memiliki latar belakang sebagai penyair. Sebelum dikenal sebagai pendongeng, Made Taro adalah seorang penyair. Dia menulis puisi dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Bali. Pengetahuan dan pengalamannya mengenai puisi sangat mempengaruhinya menulis puisi anak. Hal itu dikombinasikan dengan pengalaman panjangnya menyelami dunia anak melalui dongeng dan permainan tradisional. Puisi-puisi anak Made Taro dalam buku seri seni tutur ini tetap mampu menjaga kesederhanaan dan kebersahajaan dunia anak-anak.

Melalui puisi anak, dongeng-dongeng Made Taro, baik yang diangkat dari cerita rakyat maupun pengalaman pribadinya di masa kecil, menjadi lebih indah dan segar. Hal itu karena Made Taro mempertimbangkan betul aspek diksi, bunyi, rima bahkan ketukan nada. Namun, tetap mempertimbangkan kewajaran dalam pengucapan. Karena itu, puisi-puisi anak dalam buku seri seni tutur karya Made Taro cocok dibacakan di depan panggung.

Dongeng-dongeng Made Taro dalam buku-buku seri seni tutur bukan sekadar hadir dengan wajah baru, tetapi juga semangat baru. Semangat yang tak pernah luntur menjaga tutur-tutur luhur para leluhur. [T]

BACA artikel lain ULAS BUKU atau artikel sastra dan kebudayaan lain dari penulis MADE SUJAYA

Potret Ikonis Singaraja dalam Cerpen
Citra Kata: Lukisan Puitik I Nyoman Wirata Mentransformasi Sajak-sajak Umbu
Suara-suara “Liyan” Setelah 25 Tahun Reformasi: Membaca Kembali Karya-karya Ayu Utami
Tags: Bukubuku dongengdongengMade Tarosastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dua Mayat di Simpang Pantai Happy: Sebuah Kenangan Menjadi Relawan PMI

Next Post

Belajar dari Penertiban Joged Era Belanda

I Made Sujaya

I Made Sujaya

Wartawan, sastrawan, dosen. Pengelola balisaja.com

Related Posts

Menata Luka, Merawat Jiwa  —Pengantar Buku ‘Laki-laki yang Menata Lukanya di Rak Buku’ karya Angga Wijaya

by dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ
May 31, 2026
0
Menata Luka, Merawat Jiwa  —Pengantar Buku ‘Laki-laki yang Menata Lukanya di Rak Buku’ karya Angga Wijaya

SAYA masih ingat pertemuan pertama dengan Angga Wijaya di sebuah rumah sakit besar di Denpasar, bertahun-tahun lalu, ketika saya masih...

Read moreDetails

Membaca Racauan Arman Dhani

by Wayan Esa Bhaskara
May 30, 2026
0
Membaca Racauan Arman Dhani

Judul               : 30 Tahun dan Gagal Penulis            : Arman Dhani Tahun terbit    : Februari 2026 Penerbit          : EA Books...

Read moreDetails

Reruntuhan di Sekitar Sosok Ayah dalam ‘Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong’

by Inno Koten
May 20, 2026
0
Reruntuhan di Sekitar Sosok Ayah dalam ‘Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong’

TERBIT pada tahun 2024, Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong (selanjutnya disingkat AMKM) menjadi semacam pemenuhan keinginan Eka Kurniawan untuk menulis novel...

Read moreDetails

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
0
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

Read moreDetails

Makassar yang Sempat Terabaikan

by Moch. Ferdi Al Qadri
April 16, 2026
0
Makassar yang Sempat Terabaikan

Judul: Makasssar Nol Kilometer Penulis: Anwar J. Rahman, dkk. Penerbit: Tanahindie Press Tahun: 2014 Halaman: xviii + 255 MAKASSAR-NYA satu,...

Read moreDetails

Menggugat Kanon, Mengarsip yang Obskur

by Farhan M. Adyatma
March 27, 2026
0
Menggugat Kanon, Mengarsip yang Obskur

Judul: Terdepan, Terluar, Tertinggal: Antologi Puisi Obskur Indonesia 1945-2045 Penulis: Martin Suryajaya Penerbit: Anagram Tahun terbit: Agustus 2020 Jumlah halaman:...

Read moreDetails

‘Coming Up For Air’, Menghirup Udara yang Tak Lagi Sama

by Radha Dwi Pradnyani
March 25, 2026
0
‘Coming Up For Air’, Menghirup Udara yang Tak Lagi Sama

Judul: Menghirup Udara Segar Judul Asli: Coming Up For Air Penulis: George Orwell Penerjemah: Berliani M. Nugraha Tahun Terbit: 2021...

Read moreDetails

Tubuh, Ingatan, dan Sebuah Paradoks —Membaca Kembali ‘Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer’

by Inno Koten
March 22, 2026
0
Tubuh, Ingatan, dan Sebuah Paradoks —Membaca Kembali ‘Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer’

YANG orang ingat dari Pramoedya Ananta Toer (Pram) adalah ikhtiarnya untuk menyelamatkan martabat manusia. Ia menulis tentang mereka yang kalah,...

Read moreDetails

Di Hati Kami Orang Indonesia —Perempuan Swiss di Sumatra dan Jawa Selama 25 tahun: 1920-1945

by Sigit Susanto
March 17, 2026
0
Di Hati Kami Orang Indonesia —Perempuan Swiss di Sumatra dan Jawa Selama 25 tahun: 1920-1945

Judul: Im Herzen waren wir Indonesier Penulis: Gret Surbeck Penerbit: Limmat Verag, 2007 Tebal: 508 Bahasa : Jerman Christa Miranda, menemukan...

Read moreDetails

Membaca Luka Digital dan Kegelisahan Zaman  —Ulasan Buku Puisi ‘Anak-anak Luka di Dunia Maya’ Karya Yahya Umar

by Dian Suryantini
March 13, 2026
0
Membaca Luka Digital dan Kegelisahan Zaman  —Ulasan Buku Puisi ‘Anak-anak Luka di Dunia Maya’ Karya Yahya Umar

SASTRA sering kali menjadi cermin paling jujur bagi kehidupan sosial. Sastra tidak selalu menyampaikan fakta dalam bentuk angka, statistik, atau...

Read moreDetails
Next Post
Belajar dari Penertiban Joged Era Belanda

Belajar dari Penertiban Joged Era Belanda

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten
Tualang

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa
Bahasa

Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa

DOKTER Gia Pratama (dr. Gia) —seorang dokter dan penulis yang aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat dalam dunia kesehatan—pernah...

by I Made Sudiana
June 3, 2026
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah
Khas

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral
Panggung

Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng....

by Komang Sujana
June 3, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan
Panggung

‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif
Panggung

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Pertemuan William James dan Vivekananda
Esai

Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
Khas

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co