14 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Semangat yang Tak Luntur, Merawat Tutur Leluhur

I Made Sujaya by I Made Sujaya
April 23, 2024
in Ulas Buku
Semangat yang Tak Luntur, Merawat Tutur Leluhur

Buku karya Made Taro

TAK keliru Made Taro disebut sebagai maestro tradisi lisan, khususnya pada genre dongeng dan permainan tradisional. Kesetiaannya pada dongeng dan permainan mungkin sulit ditandingi. Lelaki kelahiran 16 April 1939 itu tidak pernah berhenti mendongeng.  Lebih dari separuh hidupnya, sejak tahun 1973 hingga kini saat usianya yang sudah melewati 85 tahun, Made Taro terus berkeliling mendongeng sambil bermain.

Tiap tahun, dia setidaknya menulis dua buku dongeng. Buku-buku itu dia terbitkan sendiri, dengan biaya sendiri, bahkan juga dia pasarkan sendiri.

Tiga tahun terakhir, Made Taro menerbitkan lima buku dongeng. Kelima buku dongeng itu, yakni Seni Tutur Sang Penolong (April 2022) yang berisi 14 dongeng, Seni Tutur Aku Cinta Ayah Bunda (November 2022) dengan 10 dongeng, Seni Tutur Dari Rumah Dongeng (Juli 2023) berisi 20 dongeng, Seni Tutur Dongeng Masa Kini (Oktober 2023) memuat 20 dongeng, dan Seni Tutur Bali Berkisah (Januari 2024) juga memuat 20 dongeng. April 2024, tebit lagi satu buku dongengnya bertajuk Dongengku Cerminku. Total tercatat ada 54 buku yang telah ditulis Made Taro.

Mengingat Dongeng, Mengingat Jati Diri

Ada sesuatu yang berbeda dari lima buku dongeng Made Taro itu. Kelimanya diberi tajuk “seni tutur”. Kelimanya juga menggunakan bentuk puisi. Sebelumnya, dongeng-dongeng Made Taro disajikan dengan gaya prosa. Karena itu, lima buku ini dapat dianggap sebagai wajah baru dongeng-dongeng Made Taro.

Disebut ‘wajah baru’ karena sebagian besar dongeng dalam kelima buku itu adalah penceritaan kembali ke dalam bentuk puisi dongeng-dongeng sebelumnya yang disajikan dalam bentuk prosa. Hal itu tampak sangat dominan dalam buku Seni Tutur Bali Berkisah. Dongeng tentang manusia tidak melihat dewa hingga dongeng Ajisaka sudah diceritakan Made Taro secara prosais dalam buku-buku dongeng sebelumnya.

Namun, ada juga dongeng-dongeng baru yang belum pernah dimuat dalam buku-buku sebelumnya. Ada dongeng baru yang ditulis setelah mendapat inspirasi dari cerita rakyat di suatu daerah atau negara, ada juga dongeng baru yang ditulis berdasarkan pengalaman masa kecil penulisnya. Dongeng baru atau diinspirasi dari sejumlah cerita rakyat itu tampak dalam buku Seni Tutur Dari Rumah Dongeng dan Seni Tutur Dongeng Masa Kini.

Label ‘seni tutur’ tampaknya dimaksudkan Made Taro untuk menegaskan aspek fungsi didaktis dongeng-dongeng itu untuk menyampaikan nilai-nilai kehidupan sehingga dapat dijadikan cermin oleh pembaca. Dalam tradisi Bali, menurut Ki Nirdon dalam buku Wija Kasawur (1992), kata tutur memang bermakna mendalam. Tutur berasal dari bahasa Jawa Kuna yang bermakna ‘ingat’ atau ‘sadar’. Melalui teks-teks tutur, masyarakat Bali belajar untuk senantiasa ingat dan sadar akan jati dirinya, dari mana dia berasal, yakni sangkan paraning dumadi.

Karena itu, penggunaan istilah ‘seni tutur’ dalam buku-buku dongeng mutakhir Made Taro dapat dibaca sebagai upaya Made Taro mengingatkan para pembacanya bahwa dongeng bukan sekadar pelipur lara atau cerita pengantar tidur untuk anak-anak, melainkan juga mengandung nilai-nilai moral dan ajaran kehidupan yang sarat makna.

Sayangnya, dalam pandangan Made Taro, banyak yang meragukan peranan dongeng di masa kini. Kerap kali dongeng dipandang remeh sehingga keberadaannya terabaikan. Padahal, masih menurut Made Taro, dongeng terasa makin menantang. Dongeng “menyimpan kejujuran dan penipuan”, “menyimpan kerendahhatian dan kesombongan”. Made Taro mengilustrasikan sikap orang-orang di masa kini yang melupakan dongeng itu dalam puisi pembuka pada buku Seni Tutur Dongeng Masa Kini seperti berikut ini.

………….
Belum juga kau memaklumi
Kau hanya menuntut kue enak masa kini
Tapi melupakan bubur kebijakan masa lampau
Ia adalah bubur leluhur
Yang diwariskan turun-temurun
Ia mampu menyuapkan bubur-bubur
Masa lampau dan masa kini
Ribuan kali ia mengingatkan,
“Jangan lupakan, jangan abaikan
Jangan buang aku di tempat sampah.”

Puisi ini tak pelak dapat dibaca sebagai ungkapan suara hati Made Taro agar dongeng tak diabaikan di masa kini. Menurutnya, dongeng tetap punya peran penting dalam kehidupan, betapa pun modernnya atau betapa pun teknologi informasi sudah sedemikian canggih. Manusia tetap membutuhkan dongeng sebagai tempat bercermin. Itu pula pesan yang diusung dalam buku keenamnya ini.

Puisi Anak

Pilihan Made Taro untuk menceritakan dongeng-dongengnya dalam bentuk puisi juga menarik untuk dicermati. Selain karena tampak konsisten dalam lima buku terakhirnya, Made Taro juga mengaku pilihannya itu didasari oleh pandangannya bahwa dongeng-dongeng selama ini sangat jarang ditulis dalam bentuk puisi, terlebih lagi puisi anak.  

“Sepertinya genre puisi anak sangat terbatas dan kurang mendapat perhatian para peneliti sastra,” kata Made Taro dalam suatu perbincangan di teras rumahnya.

Padahal, menurut Made Taro, produksi puisi umum atau puisi untuk pembaca dewasa sangat melimpah. Karena itu, upaya Made Taro dapat dimaknai sebagai mengisi kekosongan dunia puisi anak sehingga patut dihargai.

Pekak Taro Bercerita, Turis Asing pun Bengong Mendengar

Puisi anak pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan puisi pada umumnya. Menurut Burhan Nurgiyantoro dalam buku Sastra Anak: Pengantar Pemahaman Dunia Anak (2005) penulisan puisi anak mesti memperhatikan unsur-unsur pembentuk puisi, terutama diksi, bunyi, dan rima. Hanya saja, dalam puisi anak, struktur, diksi, ungkapan dan kemungkinan pemaknaan, masih lebih sederhana. Kesederhanaan itu tentu saja selaras dengan dunia anak. Namun, dalam hal ‘permainan bahasa’, puisi anak biasanya menunjukkan intensitas pendayagunaan bahasa dengan mengutamakan kemunculan aspek rima dan irama atau berbagai bentuk pengulangan.

Seperti halnya dunia sastra anak pada umumnya, menulis puisi anak juga tidak mudah. Selain penggunaan bahasa yang sederhana, puisi anak juga harus merepresentasikan dunia anak yang wajar sesuai perkembangan kejiwaan anak-anak. Itu sebabnya, bisa dipahami jika ada sastrawan yang sudah berpengalaman mengatakan jauh lebih sulit menulis cerita anak dibandingkan novel umum.

Leon Agusta merupakan salah satu di antara sedikit penyair Indonesia yang berhasil menulis puisi anak. Salah satu puisinya yang terkenal, yakni “Putri Bangau”.

Putri Bangau

Konon dahulu di negeri Jepang
Tersebutlah tentang sebuah dongeng
Mengisahkan seekor bangau yang malang
Sayapnya luka tak bisa terbang

Seorang Pak Tani setengah baya
Menemukannya dekat telaga
Bangau dipungut diobatinya
Sehingga sembuh sayap yang luka
…………..

Puisi ini diangkat dari dongeng orang Jepang tentang seorang petani miskin yang tinggal di hutan. Suatu hari dia menolong seekor bangau yang terluka. Setelah sembuh, si bangau berjanji suatu ketika akan membantu sang petani. Sampai akhirnya si bangau datang lagi menjelma sebagai seorang putri cantik. Putri ini dinikahi sang petani. Ketika petani bekerja di ladang, sang purti cantik menenun kain sutra di rumah. Setelah selesai, kain hasil tenunan itu dijual ke kota. Karena sangat bagus, kain itu laku keras.

Sang pembeli yang seorang pedagang meminta dibuatkan kain lagi, namun putri cantik menolak. Akan tetapi, sang petani mendesak sehingga putri cantik mau membuatkan dengan syarat agar selama menenun dia tidak diintip. Ternyata, selama sang putri menenun, petani mengintipnya. Dia melihat seekor bangau mencabuti bulunya sendiri untuk dijadikan kain tenun. Setelah jadi, kain itu diserahkan sang putri kepada petani. Namun, sang putri meninggalkan petani karena merasa petani ingkar janji. Akhirnya, petani tinggal sendirian dan penuh penyesalan.

Jika Leon Agusta tampak bersetia dengan gaya pantun dan menjaga rima akhir, Made Taro terlihat lebih bebas. Bait-bait dalam puisi anak Made Taro lebih beragam dan tak selalu terpaku dengan rima akhir. Made Taro tampaknya tak menempatkan keindahan puisi anaknya pada struktur fisik, tetapi mengajak pembacanya menyelam pada keindahan narasi.

Seperti halnya Leon Agusta, Made Taro juga memiliki latar belakang sebagai penyair. Sebelum dikenal sebagai pendongeng, Made Taro adalah seorang penyair. Dia menulis puisi dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Bali. Pengetahuan dan pengalamannya mengenai puisi sangat mempengaruhinya menulis puisi anak. Hal itu dikombinasikan dengan pengalaman panjangnya menyelami dunia anak melalui dongeng dan permainan tradisional. Puisi-puisi anak Made Taro dalam buku seri seni tutur ini tetap mampu menjaga kesederhanaan dan kebersahajaan dunia anak-anak.

Melalui puisi anak, dongeng-dongeng Made Taro, baik yang diangkat dari cerita rakyat maupun pengalaman pribadinya di masa kecil, menjadi lebih indah dan segar. Hal itu karena Made Taro mempertimbangkan betul aspek diksi, bunyi, rima bahkan ketukan nada. Namun, tetap mempertimbangkan kewajaran dalam pengucapan. Karena itu, puisi-puisi anak dalam buku seri seni tutur karya Made Taro cocok dibacakan di depan panggung.

Dongeng-dongeng Made Taro dalam buku-buku seri seni tutur bukan sekadar hadir dengan wajah baru, tetapi juga semangat baru. Semangat yang tak pernah luntur menjaga tutur-tutur luhur para leluhur. [T]

BACA artikel lain ULAS BUKU atau artikel sastra dan kebudayaan lain dari penulis MADE SUJAYA

Potret Ikonis Singaraja dalam Cerpen
Citra Kata: Lukisan Puitik I Nyoman Wirata Mentransformasi Sajak-sajak Umbu
Suara-suara “Liyan” Setelah 25 Tahun Reformasi: Membaca Kembali Karya-karya Ayu Utami
Tags: Bukubuku dongengdongengMade Tarosastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dua Mayat di Simpang Pantai Happy: Sebuah Kenangan Menjadi Relawan PMI

Next Post

Belajar dari Penertiban Joged Era Belanda

I Made Sujaya

I Made Sujaya

Wartawan, sastrawan, dosen. Pengelola balisaja.com

Related Posts

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

by IRZI
July 12, 2026
0
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

Read moreDetails

Mahindu, Si Perempuan Tembikar

by Mas Ruscitadewi
July 10, 2026
0
Mahindu, Si Perempuan Tembikar

Risalah Perempuan-Perempuan Tembikar yang dipakai sebagai judul kumpulan puisi ini mengisyaratkan pilihan, penilaian dan sudut pandang penyair dalam membahas masalah...

Read moreDetails

“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

by I Nyoman Darma Putra
July 9, 2026
0
“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. "I love...

Read moreDetails

Membaca Makna Pulang dalam Novel ‘Rumah’ karya JS Khairen

by Dede Putra Wiguna
July 3, 2026
0
Membaca Makna Pulang dalam Novel ‘Rumah’ karya JS Khairen

Judul             : Rumah Penulis          : JS Khairen Penerbit        : PT Elex Media Komputindo Editor             : Trian Lesmana dan Dion Rahman...

Read moreDetails

Rahim, Luka, dan Hak atas Tubuh –Membaca “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama

by Dede Putra Wiguna
July 1, 2026
0
Rahim, Luka, dan Hak atas Tubuh  –Membaca “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama

Judul             : Korpus Uterus Penulis          : Sasti Gotama Penerbit        : Gramedia Pustaka Utama Editor             : Ruth Priscilia Angelina Tebal buku  ...

Read moreDetails

Menata Luka, Merawat Jiwa  —Pengantar Buku ‘Laki-laki yang Menata Lukanya di Rak Buku’ karya Angga Wijaya

by dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ
May 31, 2026
0
Menata Luka, Merawat Jiwa  —Pengantar Buku ‘Laki-laki yang Menata Lukanya di Rak Buku’ karya Angga Wijaya

SAYA masih ingat pertemuan pertama dengan Angga Wijaya di sebuah rumah sakit besar di Denpasar, bertahun-tahun lalu, ketika saya masih...

Read moreDetails

Membaca Racauan Arman Dhani

by Wayan Esa Bhaskara
May 30, 2026
0
Membaca Racauan Arman Dhani

Judul               : 30 Tahun dan Gagal Penulis            : Arman Dhani Tahun terbit    : Februari 2026 Penerbit          : EA Books...

Read moreDetails

Reruntuhan di Sekitar Sosok Ayah dalam ‘Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong’

by Inno Koten
May 20, 2026
0
Reruntuhan di Sekitar Sosok Ayah dalam ‘Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong’

TERBIT pada tahun 2024, Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong (selanjutnya disingkat AMKM) menjadi semacam pemenuhan keinginan Eka Kurniawan untuk menulis novel...

Read moreDetails

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
0
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

Read moreDetails

Makassar yang Sempat Terabaikan

by Moch. Ferdi Al Qadri
April 16, 2026
0
Makassar yang Sempat Terabaikan

Judul: Makasssar Nol Kilometer Penulis: Anwar J. Rahman, dkk. Penerbit: Tanahindie Press Tahun: 2014 Halaman: xviii + 255 MAKASSAR-NYA satu,...

Read moreDetails
Next Post
Belajar dari Penertiban Joged Era Belanda

Belajar dari Penertiban Joged Era Belanda

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif
Khas

Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif

DI tengah semarak pertunjukan seni yang mewarnai Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII, hadir sebuah ruang yang menawarkan pengalaman berbeda....

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”
Panggung

Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”

BAYANGAN adalah jiwa dari wayang kulit. Di tangan seorang dalang, lembar-lembar kulit hidup melalui permainan cahaya. Namun, Wayang Ental memilih...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Ketika Waktu Berpindah Tangan
Ulas Musik

Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka
Tualang

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

by Chusmeru
July 13, 2026
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co