3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ketidakpastian Pandemi: Dukungan Psikososial Vs Teori Konspirasi

dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ by dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ
May 1, 2020
in Esai
Ketidakpastian Pandemi: Dukungan Psikososial Vs Teori Konspirasi

Ilustrasi tatkala.co | Nana Partha

Saat ini kita mulai merasakan masa pandemi Covid-19 cukup panjang. Tadinya banyak orang berharap ini hanya sebentar dan sekarang kita semua terjebak pada dua hal; pertama, ketidakpastian dan itu pasti tidak menyenangkan. Kedua, selain ketidakpastian adalah kesepian.

Walaupun kesepian juga bisa terjadi saat ada banyak orang dan banyak aktivitas tapi sekarang dua hal ini menjadi adalah problem terbesar kesehatan jiwa masyarakat saat ini.

Dari apa yang saya baca, sebenarnya pandemi adalah salah satu bencana yang bersifat natural atau alami, selain bencana alam seperti banjir, tanah longsor atau tsunami, dan ada juga yang menyangkut wabah penyakit. Selain itu juga ada bencana non-alam akibat teknologi atau peperangan dan terorisme.

Tetapi dari semua kondisi bencana ini ada pola-pola yang serupa. Pada wabah penyakit ada istilah pre-disarter, misalnya ketika kita melihat ada ancaman. Untuk Covid-19 ketika Desember 2019 dan Januari  2020 China dan beberapa negara di Eropa mulai mengalami pandemi, kita masih berada di tahap pre-disaster.

Mulai merasa terancam dan waspada tetapi kita masih beraktivitas seperti biasa walaupun mulai ada kecemasan akan ketidakpastian.

Lalu ini berlanjut pada fase disaster dan fase pertamanya disebut fase heroik, ketika kita mulai mengalami ancaman yang nyata, mulai ada korban mulai ada yang positif mengidap virus Corona dan menyebar. Pada fase ini masyarakat mulai bersiap menghadapinya, setiap orang kemudian menyampaikan imbauan-imbauan, menggalang dana untuk membantu sesama.

Seperti yang kita lihat, ketika banyak tenaga medis belum mempersiapkan APD (Alat Pelindung Diri), masyarakat tanpa menyalahkan satu sama lain mengumpulkan dana dan memberikan APD kepada tenaga medis. Juga, membagikan sembako kepada warga yang membutuhkan. Itu fase heroik yang biasanya berlangsung selama beberapa minggu dan saya pikir kini kita sudah melewatinya.

Setelah fase heroik ada yang dinamakan dengan fase honeymoon atau bulan madu. Masyarakat mulai merasa cukup nyaman, anak-anak kita yang sebelumnya tidak terbiasa  online  kini mulai terbiasa. Orang yang bekerja di kantor mulai beralih dan terbiasa bekerja dari rumah dengan dibantu teknologi internet.

Bagi kalangan menengah ke atas mulai terbiasa menikmati suasana keluarga. Dan, kita akan melewati fase ini dengan berpikir positif bahwa kita akan bisa menghadapi pandemi ini, bahwa semua akan berlalu.

Namun, kita mesti berhati-hati sebab setelah fase honeymoon kita akan masuk pada fase disillussionment atau penurunan. Kita mulai berpikir sampai kapan keadaan seperti ini, apakah kita akan bisa bertahan atau tidak.

Ketika fase honeymoon menurun atau sudah terlewati, banyak orang berpikir tentang teori konspirasi; bahwa Covid-19 ini sebenarnya tidak nyata, bahkan ada yang mengaku siap disuntik virus untuk membuktikannya yang jelas tidak mungkin dilakukan.

Dan semua itu akan meningkatkan rasa ketidakpastian masyarakat. Orang yang tadinya sedikit cemas akan pandemi ini kemudian meningkat rasa cemas dan khawatirnya. Juga disertai dengan dengan rasa putus asa; jangan-jangan pandemi ini akan lama dan kita tak akan bisa bertahan.

Jadi, muncul semua rasa ketidakpastian. Pada keadaan seperti inilah menurut saya dukungan terhadap kesehatan jiwa sangat penting.

Selama ini orang hanya berpikir soal dukungan materi, memberikan sembako dan kebutuhan lain. Atau, membuat program Pra Kerja dan memberi pelatihan agar orang bisa yang terdampak pandemi bisa bekerja kembali. Betul, itu semua penting tetapi banyak orang lupa akan pentingnya dukungan kesehatan jiwa dan psikososial.

Terutama ketika fase honeymoon terlewati, dukungan terhadap kesehatan jiwa sangat dibutuhkan. Jadi perlu keseimbangan.

Saya termasuk orang yang tidak terlalu setuju dengan berpikir positif, bahwa kita harus senantiasa positif. Kadang-kadang kalau kita terlalu positif atau toxic positivity, kita justru akan jatuh pada kekecewaan. Misalnya saat kita merasa bahwa sebentar lagi keadaan akan baik-baik saja, bahwa kita harus percaya terhadap hal itu dan lain sebagainya.

Ketika kenyataan tidak sesuai dengan harapan, kita akan merasa kecewa dan putus asa. Di sini keseimbangan sangat diperlukan termasuk membatasi informasi tentang pandemi. Kita juga perlu membaca  berita yang positif. Tetapi kalau kita terlalu optimis dan menjadi abai terhadap ancaman, itu menjadi tidak bagus juga.

Kita perlu memberi perhatian terhadap berbagai ekspresi masyarakat tentang pandemi ini. Termasuk duka cita, itu perlu dihormati. Misalnya tentang tenaga medis yang mengirim kiriman di media sosial tentang sejawatnya yang meninggal, itu perlu dihormati.

Juga pada profesi lain, tentang orang tua dan para keluarga yang kehilangan anggota keluarganya. Duka cita adalah sesuatu yang perlu dihormati.

Di satu sisi, hal diatas kita lakukan untuk dukungan psikososial. Di sisi lain, perlu juga sesuatu yang membangkitkan harapan; bahwa pandemi ini akan lewat dan tidak ada sesuatu yang terjadi terus-menerus. Kemudian, sebagian besar akan baik-baik saja, meski banyak ada yang sakit dan meninggal tapi sebagian besar dari kita akan tetap survive.

Hal lain yang perlu dilakukan adalah mengenali dan menggemakan hal-hal baik yang terjadi di sekitar kita. Ada harapan, perbaikan, dan data-data yang mencerahkan diri kita, itu perlu digemakan. Dan yang penting adalah bagaimana kita menemukan peluang.

Saya percaya keadaan ini tidak membuat kita berhenti kembali pada masa lalu tetapi ini membuat kita menemukan peluang, sehingga kita menjadi leading, menjadi paling berkembang ketika kita menemukan the new normal, situasi normal yang baru dan tidak kembali seperti dahulu, serta mempertahankan harapan.

Itu yang kita semua perlu lakukan, sehingga fase disiluision ini akan berlalu dan kita bisa recover. Memang tidak semudah yang dikatakan, tetapi hal ini perlu bersama-sama kita jalankan. Bekerja sama, bukan saatnya saling menyalahkan, bukan saatnya bertengkar dan terpecah belah tetapi bersama-sama melewati pandemi ini. Seperti kata-kata dalam lagu kebangsaan kita Indonesia Raya; selain kita perlu membangun raga kita juga perlu membangun jiwa. Tetaplah sehat jiwa sampai pandemi Covid-19 ini berakhir. Salam Mantap Jiwa. [T]

Tags: covid 19kesehatankesehatan jiwapandemi
Share195TweetSendShareSend
Previous Post

Tongklek, Sebuah Nostalgia

Next Post

Efek Mepingit: Nugas Online, KKN Online, dan Online-Online Lainnya

dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ

dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ

Psikiater di Klinik Utama Sudirman Medical Center (SMC) Denpasar, Founder Rumah Berdaya, Pegiat kesehatan jiwa di Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI) simpul Bali dan Komunitas Teman Baik

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
“Kamu kan Anak TI. Plis, Benerin Laptop Pacarku Dong!” – Uh, Sakitnya…

Efek Mepingit: Nugas Online, KKN Online, dan Online-Online Lainnya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co