24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ketidakpastian Pandemi: Dukungan Psikososial Vs Teori Konspirasi

dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ by dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ
May 1, 2020
in Esai
Ketidakpastian Pandemi: Dukungan Psikososial Vs Teori Konspirasi

Ilustrasi tatkala.co | Nana Partha

Saat ini kita mulai merasakan masa pandemi Covid-19 cukup panjang. Tadinya banyak orang berharap ini hanya sebentar dan sekarang kita semua terjebak pada dua hal; pertama, ketidakpastian dan itu pasti tidak menyenangkan. Kedua, selain ketidakpastian adalah kesepian.

Walaupun kesepian juga bisa terjadi saat ada banyak orang dan banyak aktivitas tapi sekarang dua hal ini menjadi adalah problem terbesar kesehatan jiwa masyarakat saat ini.

Dari apa yang saya baca, sebenarnya pandemi adalah salah satu bencana yang bersifat natural atau alami, selain bencana alam seperti banjir, tanah longsor atau tsunami, dan ada juga yang menyangkut wabah penyakit. Selain itu juga ada bencana non-alam akibat teknologi atau peperangan dan terorisme.

Tetapi dari semua kondisi bencana ini ada pola-pola yang serupa. Pada wabah penyakit ada istilah pre-disarter, misalnya ketika kita melihat ada ancaman. Untuk Covid-19 ketika Desember 2019 dan Januari  2020 China dan beberapa negara di Eropa mulai mengalami pandemi, kita masih berada di tahap pre-disaster.

Mulai merasa terancam dan waspada tetapi kita masih beraktivitas seperti biasa walaupun mulai ada kecemasan akan ketidakpastian.

Lalu ini berlanjut pada fase disaster dan fase pertamanya disebut fase heroik, ketika kita mulai mengalami ancaman yang nyata, mulai ada korban mulai ada yang positif mengidap virus Corona dan menyebar. Pada fase ini masyarakat mulai bersiap menghadapinya, setiap orang kemudian menyampaikan imbauan-imbauan, menggalang dana untuk membantu sesama.

Seperti yang kita lihat, ketika banyak tenaga medis belum mempersiapkan APD (Alat Pelindung Diri), masyarakat tanpa menyalahkan satu sama lain mengumpulkan dana dan memberikan APD kepada tenaga medis. Juga, membagikan sembako kepada warga yang membutuhkan. Itu fase heroik yang biasanya berlangsung selama beberapa minggu dan saya pikir kini kita sudah melewatinya.

Setelah fase heroik ada yang dinamakan dengan fase honeymoon atau bulan madu. Masyarakat mulai merasa cukup nyaman, anak-anak kita yang sebelumnya tidak terbiasa  online  kini mulai terbiasa. Orang yang bekerja di kantor mulai beralih dan terbiasa bekerja dari rumah dengan dibantu teknologi internet.

Bagi kalangan menengah ke atas mulai terbiasa menikmati suasana keluarga. Dan, kita akan melewati fase ini dengan berpikir positif bahwa kita akan bisa menghadapi pandemi ini, bahwa semua akan berlalu.

Namun, kita mesti berhati-hati sebab setelah fase honeymoon kita akan masuk pada fase disillussionment atau penurunan. Kita mulai berpikir sampai kapan keadaan seperti ini, apakah kita akan bisa bertahan atau tidak.

Ketika fase honeymoon menurun atau sudah terlewati, banyak orang berpikir tentang teori konspirasi; bahwa Covid-19 ini sebenarnya tidak nyata, bahkan ada yang mengaku siap disuntik virus untuk membuktikannya yang jelas tidak mungkin dilakukan.

Dan semua itu akan meningkatkan rasa ketidakpastian masyarakat. Orang yang tadinya sedikit cemas akan pandemi ini kemudian meningkat rasa cemas dan khawatirnya. Juga disertai dengan dengan rasa putus asa; jangan-jangan pandemi ini akan lama dan kita tak akan bisa bertahan.

Jadi, muncul semua rasa ketidakpastian. Pada keadaan seperti inilah menurut saya dukungan terhadap kesehatan jiwa sangat penting.

Selama ini orang hanya berpikir soal dukungan materi, memberikan sembako dan kebutuhan lain. Atau, membuat program Pra Kerja dan memberi pelatihan agar orang bisa yang terdampak pandemi bisa bekerja kembali. Betul, itu semua penting tetapi banyak orang lupa akan pentingnya dukungan kesehatan jiwa dan psikososial.

Terutama ketika fase honeymoon terlewati, dukungan terhadap kesehatan jiwa sangat dibutuhkan. Jadi perlu keseimbangan.

Saya termasuk orang yang tidak terlalu setuju dengan berpikir positif, bahwa kita harus senantiasa positif. Kadang-kadang kalau kita terlalu positif atau toxic positivity, kita justru akan jatuh pada kekecewaan. Misalnya saat kita merasa bahwa sebentar lagi keadaan akan baik-baik saja, bahwa kita harus percaya terhadap hal itu dan lain sebagainya.

Ketika kenyataan tidak sesuai dengan harapan, kita akan merasa kecewa dan putus asa. Di sini keseimbangan sangat diperlukan termasuk membatasi informasi tentang pandemi. Kita juga perlu membaca  berita yang positif. Tetapi kalau kita terlalu optimis dan menjadi abai terhadap ancaman, itu menjadi tidak bagus juga.

Kita perlu memberi perhatian terhadap berbagai ekspresi masyarakat tentang pandemi ini. Termasuk duka cita, itu perlu dihormati. Misalnya tentang tenaga medis yang mengirim kiriman di media sosial tentang sejawatnya yang meninggal, itu perlu dihormati.

Juga pada profesi lain, tentang orang tua dan para keluarga yang kehilangan anggota keluarganya. Duka cita adalah sesuatu yang perlu dihormati.

Di satu sisi, hal diatas kita lakukan untuk dukungan psikososial. Di sisi lain, perlu juga sesuatu yang membangkitkan harapan; bahwa pandemi ini akan lewat dan tidak ada sesuatu yang terjadi terus-menerus. Kemudian, sebagian besar akan baik-baik saja, meski banyak ada yang sakit dan meninggal tapi sebagian besar dari kita akan tetap survive.

Hal lain yang perlu dilakukan adalah mengenali dan menggemakan hal-hal baik yang terjadi di sekitar kita. Ada harapan, perbaikan, dan data-data yang mencerahkan diri kita, itu perlu digemakan. Dan yang penting adalah bagaimana kita menemukan peluang.

Saya percaya keadaan ini tidak membuat kita berhenti kembali pada masa lalu tetapi ini membuat kita menemukan peluang, sehingga kita menjadi leading, menjadi paling berkembang ketika kita menemukan the new normal, situasi normal yang baru dan tidak kembali seperti dahulu, serta mempertahankan harapan.

Itu yang kita semua perlu lakukan, sehingga fase disiluision ini akan berlalu dan kita bisa recover. Memang tidak semudah yang dikatakan, tetapi hal ini perlu bersama-sama kita jalankan. Bekerja sama, bukan saatnya saling menyalahkan, bukan saatnya bertengkar dan terpecah belah tetapi bersama-sama melewati pandemi ini. Seperti kata-kata dalam lagu kebangsaan kita Indonesia Raya; selain kita perlu membangun raga kita juga perlu membangun jiwa. Tetaplah sehat jiwa sampai pandemi Covid-19 ini berakhir. Salam Mantap Jiwa. [T]

Tags: covid 19kesehatankesehatan jiwapandemi
Share195TweetSendShareSend
Previous Post

Tongklek, Sebuah Nostalgia

Next Post

Efek Mepingit: Nugas Online, KKN Online, dan Online-Online Lainnya

dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ

dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ

Psikiater di Klinik Utama Sudirman Medical Center (SMC) Denpasar, Founder Rumah Berdaya, Pegiat kesehatan jiwa di Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI) simpul Bali dan Komunitas Teman Baik

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
“Kamu kan Anak TI. Plis, Benerin Laptop Pacarku Dong!” – Uh, Sakitnya…

Efek Mepingit: Nugas Online, KKN Online, dan Online-Online Lainnya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co