3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tongklek, Sebuah Nostalgia

Jaswanto by Jaswanto
May 1, 2020
in Esai
Priayi Kecil

Dulu, sewaktu saya masih MI (setingkat SD), saya masih ingat betul, setiap pukul satu dini hari di bulan Puasa, pintu rumah saya selalu ada yang mengetuk. Bukan pocong atau sebangsanya, tapi teman-teman saya yang mengajak saya untuk berangkat tongklek keliling desa.

Tongklek: sebuah seni memukul kentongan, gambangan, perabotan; dan apa saja–untuk membangunkan sahur—dengan memainkan lagu-lagu gending laras langen tayup. Kami akan keliling desa sambil memainkan alat musik buatan kami sendiri itu: gambangan dari kayu atau bambu, kentongan, jerigen sebagai bass, icik-icik dari tutup botol beer, kemplongan tenun itu, gentong yang kami tutupi ban dalam mobil sebagai bass kedua (alat-alat berat seperti ini, membutuhkan dua orang untuk memikulnya. Jadi, kami keliling desa sambil memikul gentong air yang terbuat dari tanah liat itu).

Tongklek itu semacam drumband. Yang membedakan hanya alat-alatnya. Kalau drumband memakai alat-alat modern, tongklek sebaliknya. Apa yang dipukul mengeluarkan nada, itu berpotensi untuk kami jadikan alat musik tongklek.

Nah, di kampung kami,  ada satu grup tongklek yang legendaris. Ya tongklek teman-teman saya ini. Grup tongklek kami ini warisan secara turun temurun. Saat itu, saya, dkk, sudah menjadi generasi ketiga. Generasi pertama—para pendiri—sudah berkeluarga semua. Generasi kedua juga sama, waktu itu sudah banyak yang berkeluarga (walaupun saat itu, beberapa masih ikut kami keliling).

Di kampung kami ada satu orang yang totalitas sekali dalam urusan tongklek. Pokoknya, tongklek itu seperti istri keduanya. Dia ini, bapak muda anak satu yang dari dulu selalu konsisten ngurus anak-anak tongklek. Namanya Ngatim, Pakde saya sendiri. Beliau ini menganggap tongklek sebagai harga dirinya. Orangnya nyentrik, senim: rambut panjang, tapi perawakannya tak lebih tinggi dari saya. Kalau berbicara masalah tongklek, matanya berbinar-binar. Antusias sekali.

Dalam grup tongklek generasi ketiga itu, saya tergabung di dalamnya. Sebenarnya saya hanya ikut-ikutan saja. Karena hampir semua teman sepermainan saya ikut dalam grup tongklek itu. Makanya, selain karena tidak berbakat di bidang musik, praktis, saya hanya kebagian memainkan kecrekan (atau icik-icik) yang terbuat dari tutup botol beer yang dipukul hingga pipih. Sungguh, siapa pun bisa memainkan benda nirestetika itu.

Namun, mau memainkan alat apapun, kami tidak pernah malu berkeliling desa. Sebab, bisa bergabung dengan grup tongklek ini saja, itu sudah dipandang hebat bagi orang kampung kami. Jadi, eksistensi kami lumayan diperhitungkan.

Selain keliling sebelum sahur sampai menjelang sahur, biasanya kami juga keliling saat malam hari raya Idulfitri; dan setelah shalat dzuhur di hari raya Idulfitri. Setiap kali grup kami lewat, orang-orang akan berjajar di pinggir jalan: anak-anak, tua, muda, laki-laki, perempuan. Semua menonton kami. Dan tak jarang, beberapa memberikan kami uang, rokok, atau makanan. Momen-momen seperti itulah, yang kami tunggu.

*

Saat ini, grup tongklek itu sudah kami wariskan lagi. Tapi Pakde Ngatim juga yang masih mendukung—moral maupun material—anak-anak. Kali ini generasi keempat yang memainkannya.

Lain generasi lain pula modelnya. Jika dulu kami hanya mampu memainkan gambangan kayu atau bambu, jerigen, gentong, kentongan, dan barang-barang nggak jelas lainnya, generasi keempat ini sudah memiliki beberapa alat musik modern. Mereka tak lagi memainkan gambangan kayu kami yang legendaris itu. Sekarang suka beralih memakai gambangan besi kuningan—yang didesain seperti layaknya piano. Antara slendro dan pelok tidak tampak jelas. Bahkan mungkin mereka tak tahu apa itu slendro dan apa itu pelok.

Selain memang gambangan besi, grup tongklek kami saat ini sudah memiliki gong, bonang, drum betulan, seperti yang digunakan pemain drumband. Jika dulu kami memakai dua galon sebagai snare drum, saat ini grup tongklek kami sudah punya snare betulan. Dulu kami memanfaatkan kanopi lampu petromak sebagai cymbal, sekarang anak-anak sudah punya cymbal betulan. Dulu cukup hanya satu jerigen 20 liter sebagai bass, sekarang gentong air besar yang terbuat dari plastik itu yang dipakai bass. Jika dulu kami rela mikul barang-barang berat, sekarang mereka membuat semacam gerobak dorong yang didesain sedemikian rupa. Tentu saja ini memudahkan pemain tongklek dalam memainkan alat-alatnya.

Bukan hanya alat yang kami gunakan saya yang berbeda, tapi juga lagu-lagu yang kami mainkan. Dulu kami hanya memainkan lagu-lagu langen tayub, seperti: Pahlawan Ranggalawe, Sriwuni nang Kuto Tuban, Lingsir Wengi, Caping Gunung, dll. Sekarang beda, karena gambangan mereka memungkinkan untuk memainkan lagu ala dangdut, maka lagu yang dimainkan anak-anak sekarang tak jauh dari itu. Lagu-lagu Didi Kempot, lagu-lagu yang dipopulerkan Nella Karisma, sesekali juga memainkan lagu-lagu shalawat. Ini perkembangan yang sangat pesat, menurut saya. Dan siapa yang tahu, bahwa grup tongklek legendaris itu, kini menjelma menjadi sebuah warisan yang masih diminati oleh generasi penerus kami.

Dan tongklek, mungkin di seluruh Kota Tuban, menjadi permainan musik yang ditunggu-tunggu saat bulan Puasa. Bahkan permainan musik ini sering dilombakan dan difestivalkan. Tongklek bukan lagi menjadi permainan suka-suka, tapi sudah menjelma menjadi kompetisi dan ladang profesi. Di beberapa desa di Kota Tuban, tongklek bahkan bertransformasi sebagai hiburan semacam dangdut atau pertunjukan musik lainnya. Banyak orang hajatan yang lebih memilih tongklek sebagai pengisi acara daripada dangdut, misalnya. Selain karena ongkosnya lebih murah, tongklek sekarang memang tak jauh beda dengan dangdut. Hanya saja tongklek tidak memakai alat musik yang menggunakan listrik.

Jika saya pemerintah serius menggarap tongklek ini, tidak menutup kemungkinan, kesenian ini akan tetap bertahan sampai kapan pun—dan tentu saja bisa dijadikan sebuah destinasi pertunjukan rakyat Kota Tuban. [T]

Tags: kampung halaman
Share16TweetSendShareSend
Previous Post

Menebak Kriteria Penerima Bantuan Tunai Covid-19

Next Post

Ketidakpastian Pandemi: Dukungan Psikososial Vs Teori Konspirasi

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Pertemuan William James dan Vivekananda

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
0
Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

Read moreDetails

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails

Wisata Bahari di Negeri Maritim

by Chusmeru
May 31, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BERUNTUNG Indonesia memiliki alam yang penuh pesona. Laut menjadi salah satu kekayaan alam yang membanggakan. Luas wilayah laut Indonesia mencapai...

Read moreDetails

FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

by Agung Sudarsa
May 31, 2026
0
FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

Dari Kegelisahan Menuju Gerakan Moral BALI sedang berada pada persimpangan zaman. Di satu sisi, pulau ini menikmati pertumbuhan ekonomi yang...

Read moreDetails
Next Post
Ketidakpastian Pandemi: Dukungan Psikososial Vs Teori Konspirasi

Ketidakpastian Pandemi: Dukungan Psikososial Vs Teori Konspirasi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten
Tualang

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa
Bahasa

Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa

DOKTER Gia Pratama (dr. Gia) —seorang dokter dan penulis yang aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat dalam dunia kesehatan—pernah...

by I Made Sudiana
June 3, 2026
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah
Khas

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral
Panggung

Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng....

by Komang Sujana
June 3, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan
Panggung

‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif
Panggung

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Pertemuan William James dan Vivekananda
Esai

Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
Khas

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co