24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tongklek, Sebuah Nostalgia

Jaswanto by Jaswanto
May 1, 2020
in Esai
Priayi Kecil

Dulu, sewaktu saya masih MI (setingkat SD), saya masih ingat betul, setiap pukul satu dini hari di bulan Puasa, pintu rumah saya selalu ada yang mengetuk. Bukan pocong atau sebangsanya, tapi teman-teman saya yang mengajak saya untuk berangkat tongklek keliling desa.

Tongklek: sebuah seni memukul kentongan, gambangan, perabotan; dan apa saja–untuk membangunkan sahur—dengan memainkan lagu-lagu gending laras langen tayup. Kami akan keliling desa sambil memainkan alat musik buatan kami sendiri itu: gambangan dari kayu atau bambu, kentongan, jerigen sebagai bass, icik-icik dari tutup botol beer, kemplongan tenun itu, gentong yang kami tutupi ban dalam mobil sebagai bass kedua (alat-alat berat seperti ini, membutuhkan dua orang untuk memikulnya. Jadi, kami keliling desa sambil memikul gentong air yang terbuat dari tanah liat itu).

Tongklek itu semacam drumband. Yang membedakan hanya alat-alatnya. Kalau drumband memakai alat-alat modern, tongklek sebaliknya. Apa yang dipukul mengeluarkan nada, itu berpotensi untuk kami jadikan alat musik tongklek.

Nah, di kampung kami,  ada satu grup tongklek yang legendaris. Ya tongklek teman-teman saya ini. Grup tongklek kami ini warisan secara turun temurun. Saat itu, saya, dkk, sudah menjadi generasi ketiga. Generasi pertama—para pendiri—sudah berkeluarga semua. Generasi kedua juga sama, waktu itu sudah banyak yang berkeluarga (walaupun saat itu, beberapa masih ikut kami keliling).

Di kampung kami ada satu orang yang totalitas sekali dalam urusan tongklek. Pokoknya, tongklek itu seperti istri keduanya. Dia ini, bapak muda anak satu yang dari dulu selalu konsisten ngurus anak-anak tongklek. Namanya Ngatim, Pakde saya sendiri. Beliau ini menganggap tongklek sebagai harga dirinya. Orangnya nyentrik, senim: rambut panjang, tapi perawakannya tak lebih tinggi dari saya. Kalau berbicara masalah tongklek, matanya berbinar-binar. Antusias sekali.

Dalam grup tongklek generasi ketiga itu, saya tergabung di dalamnya. Sebenarnya saya hanya ikut-ikutan saja. Karena hampir semua teman sepermainan saya ikut dalam grup tongklek itu. Makanya, selain karena tidak berbakat di bidang musik, praktis, saya hanya kebagian memainkan kecrekan (atau icik-icik) yang terbuat dari tutup botol beer yang dipukul hingga pipih. Sungguh, siapa pun bisa memainkan benda nirestetika itu.

Namun, mau memainkan alat apapun, kami tidak pernah malu berkeliling desa. Sebab, bisa bergabung dengan grup tongklek ini saja, itu sudah dipandang hebat bagi orang kampung kami. Jadi, eksistensi kami lumayan diperhitungkan.

Selain keliling sebelum sahur sampai menjelang sahur, biasanya kami juga keliling saat malam hari raya Idulfitri; dan setelah shalat dzuhur di hari raya Idulfitri. Setiap kali grup kami lewat, orang-orang akan berjajar di pinggir jalan: anak-anak, tua, muda, laki-laki, perempuan. Semua menonton kami. Dan tak jarang, beberapa memberikan kami uang, rokok, atau makanan. Momen-momen seperti itulah, yang kami tunggu.

*

Saat ini, grup tongklek itu sudah kami wariskan lagi. Tapi Pakde Ngatim juga yang masih mendukung—moral maupun material—anak-anak. Kali ini generasi keempat yang memainkannya.

Lain generasi lain pula modelnya. Jika dulu kami hanya mampu memainkan gambangan kayu atau bambu, jerigen, gentong, kentongan, dan barang-barang nggak jelas lainnya, generasi keempat ini sudah memiliki beberapa alat musik modern. Mereka tak lagi memainkan gambangan kayu kami yang legendaris itu. Sekarang suka beralih memakai gambangan besi kuningan—yang didesain seperti layaknya piano. Antara slendro dan pelok tidak tampak jelas. Bahkan mungkin mereka tak tahu apa itu slendro dan apa itu pelok.

Selain memang gambangan besi, grup tongklek kami saat ini sudah memiliki gong, bonang, drum betulan, seperti yang digunakan pemain drumband. Jika dulu kami memakai dua galon sebagai snare drum, saat ini grup tongklek kami sudah punya snare betulan. Dulu kami memanfaatkan kanopi lampu petromak sebagai cymbal, sekarang anak-anak sudah punya cymbal betulan. Dulu cukup hanya satu jerigen 20 liter sebagai bass, sekarang gentong air besar yang terbuat dari plastik itu yang dipakai bass. Jika dulu kami rela mikul barang-barang berat, sekarang mereka membuat semacam gerobak dorong yang didesain sedemikian rupa. Tentu saja ini memudahkan pemain tongklek dalam memainkan alat-alatnya.

Bukan hanya alat yang kami gunakan saya yang berbeda, tapi juga lagu-lagu yang kami mainkan. Dulu kami hanya memainkan lagu-lagu langen tayub, seperti: Pahlawan Ranggalawe, Sriwuni nang Kuto Tuban, Lingsir Wengi, Caping Gunung, dll. Sekarang beda, karena gambangan mereka memungkinkan untuk memainkan lagu ala dangdut, maka lagu yang dimainkan anak-anak sekarang tak jauh dari itu. Lagu-lagu Didi Kempot, lagu-lagu yang dipopulerkan Nella Karisma, sesekali juga memainkan lagu-lagu shalawat. Ini perkembangan yang sangat pesat, menurut saya. Dan siapa yang tahu, bahwa grup tongklek legendaris itu, kini menjelma menjadi sebuah warisan yang masih diminati oleh generasi penerus kami.

Dan tongklek, mungkin di seluruh Kota Tuban, menjadi permainan musik yang ditunggu-tunggu saat bulan Puasa. Bahkan permainan musik ini sering dilombakan dan difestivalkan. Tongklek bukan lagi menjadi permainan suka-suka, tapi sudah menjelma menjadi kompetisi dan ladang profesi. Di beberapa desa di Kota Tuban, tongklek bahkan bertransformasi sebagai hiburan semacam dangdut atau pertunjukan musik lainnya. Banyak orang hajatan yang lebih memilih tongklek sebagai pengisi acara daripada dangdut, misalnya. Selain karena ongkosnya lebih murah, tongklek sekarang memang tak jauh beda dengan dangdut. Hanya saja tongklek tidak memakai alat musik yang menggunakan listrik.

Jika saya pemerintah serius menggarap tongklek ini, tidak menutup kemungkinan, kesenian ini akan tetap bertahan sampai kapan pun—dan tentu saja bisa dijadikan sebuah destinasi pertunjukan rakyat Kota Tuban. [T]

Tags: kampung halaman
Share16TweetSendShareSend
Previous Post

Menebak Kriteria Penerima Bantuan Tunai Covid-19

Next Post

Ketidakpastian Pandemi: Dukungan Psikososial Vs Teori Konspirasi

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Ketidakpastian Pandemi: Dukungan Psikososial Vs Teori Konspirasi

Ketidakpastian Pandemi: Dukungan Psikososial Vs Teori Konspirasi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co