23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tongklek, Sebuah Nostalgia

Jaswanto by Jaswanto
May 1, 2020
in Esai
Priayi Kecil

Dulu, sewaktu saya masih MI (setingkat SD), saya masih ingat betul, setiap pukul satu dini hari di bulan Puasa, pintu rumah saya selalu ada yang mengetuk. Bukan pocong atau sebangsanya, tapi teman-teman saya yang mengajak saya untuk berangkat tongklek keliling desa.

Tongklek: sebuah seni memukul kentongan, gambangan, perabotan; dan apa saja–untuk membangunkan sahur—dengan memainkan lagu-lagu gending laras langen tayup. Kami akan keliling desa sambil memainkan alat musik buatan kami sendiri itu: gambangan dari kayu atau bambu, kentongan, jerigen sebagai bass, icik-icik dari tutup botol beer, kemplongan tenun itu, gentong yang kami tutupi ban dalam mobil sebagai bass kedua (alat-alat berat seperti ini, membutuhkan dua orang untuk memikulnya. Jadi, kami keliling desa sambil memikul gentong air yang terbuat dari tanah liat itu).

Tongklek itu semacam drumband. Yang membedakan hanya alat-alatnya. Kalau drumband memakai alat-alat modern, tongklek sebaliknya. Apa yang dipukul mengeluarkan nada, itu berpotensi untuk kami jadikan alat musik tongklek.

Nah, di kampung kami,  ada satu grup tongklek yang legendaris. Ya tongklek teman-teman saya ini. Grup tongklek kami ini warisan secara turun temurun. Saat itu, saya, dkk, sudah menjadi generasi ketiga. Generasi pertama—para pendiri—sudah berkeluarga semua. Generasi kedua juga sama, waktu itu sudah banyak yang berkeluarga (walaupun saat itu, beberapa masih ikut kami keliling).

Di kampung kami ada satu orang yang totalitas sekali dalam urusan tongklek. Pokoknya, tongklek itu seperti istri keduanya. Dia ini, bapak muda anak satu yang dari dulu selalu konsisten ngurus anak-anak tongklek. Namanya Ngatim, Pakde saya sendiri. Beliau ini menganggap tongklek sebagai harga dirinya. Orangnya nyentrik, senim: rambut panjang, tapi perawakannya tak lebih tinggi dari saya. Kalau berbicara masalah tongklek, matanya berbinar-binar. Antusias sekali.

Dalam grup tongklek generasi ketiga itu, saya tergabung di dalamnya. Sebenarnya saya hanya ikut-ikutan saja. Karena hampir semua teman sepermainan saya ikut dalam grup tongklek itu. Makanya, selain karena tidak berbakat di bidang musik, praktis, saya hanya kebagian memainkan kecrekan (atau icik-icik) yang terbuat dari tutup botol beer yang dipukul hingga pipih. Sungguh, siapa pun bisa memainkan benda nirestetika itu.

Namun, mau memainkan alat apapun, kami tidak pernah malu berkeliling desa. Sebab, bisa bergabung dengan grup tongklek ini saja, itu sudah dipandang hebat bagi orang kampung kami. Jadi, eksistensi kami lumayan diperhitungkan.

Selain keliling sebelum sahur sampai menjelang sahur, biasanya kami juga keliling saat malam hari raya Idulfitri; dan setelah shalat dzuhur di hari raya Idulfitri. Setiap kali grup kami lewat, orang-orang akan berjajar di pinggir jalan: anak-anak, tua, muda, laki-laki, perempuan. Semua menonton kami. Dan tak jarang, beberapa memberikan kami uang, rokok, atau makanan. Momen-momen seperti itulah, yang kami tunggu.

*

Saat ini, grup tongklek itu sudah kami wariskan lagi. Tapi Pakde Ngatim juga yang masih mendukung—moral maupun material—anak-anak. Kali ini generasi keempat yang memainkannya.

Lain generasi lain pula modelnya. Jika dulu kami hanya mampu memainkan gambangan kayu atau bambu, jerigen, gentong, kentongan, dan barang-barang nggak jelas lainnya, generasi keempat ini sudah memiliki beberapa alat musik modern. Mereka tak lagi memainkan gambangan kayu kami yang legendaris itu. Sekarang suka beralih memakai gambangan besi kuningan—yang didesain seperti layaknya piano. Antara slendro dan pelok tidak tampak jelas. Bahkan mungkin mereka tak tahu apa itu slendro dan apa itu pelok.

Selain memang gambangan besi, grup tongklek kami saat ini sudah memiliki gong, bonang, drum betulan, seperti yang digunakan pemain drumband. Jika dulu kami memakai dua galon sebagai snare drum, saat ini grup tongklek kami sudah punya snare betulan. Dulu kami memanfaatkan kanopi lampu petromak sebagai cymbal, sekarang anak-anak sudah punya cymbal betulan. Dulu cukup hanya satu jerigen 20 liter sebagai bass, sekarang gentong air besar yang terbuat dari plastik itu yang dipakai bass. Jika dulu kami rela mikul barang-barang berat, sekarang mereka membuat semacam gerobak dorong yang didesain sedemikian rupa. Tentu saja ini memudahkan pemain tongklek dalam memainkan alat-alatnya.

Bukan hanya alat yang kami gunakan saya yang berbeda, tapi juga lagu-lagu yang kami mainkan. Dulu kami hanya memainkan lagu-lagu langen tayub, seperti: Pahlawan Ranggalawe, Sriwuni nang Kuto Tuban, Lingsir Wengi, Caping Gunung, dll. Sekarang beda, karena gambangan mereka memungkinkan untuk memainkan lagu ala dangdut, maka lagu yang dimainkan anak-anak sekarang tak jauh dari itu. Lagu-lagu Didi Kempot, lagu-lagu yang dipopulerkan Nella Karisma, sesekali juga memainkan lagu-lagu shalawat. Ini perkembangan yang sangat pesat, menurut saya. Dan siapa yang tahu, bahwa grup tongklek legendaris itu, kini menjelma menjadi sebuah warisan yang masih diminati oleh generasi penerus kami.

Dan tongklek, mungkin di seluruh Kota Tuban, menjadi permainan musik yang ditunggu-tunggu saat bulan Puasa. Bahkan permainan musik ini sering dilombakan dan difestivalkan. Tongklek bukan lagi menjadi permainan suka-suka, tapi sudah menjelma menjadi kompetisi dan ladang profesi. Di beberapa desa di Kota Tuban, tongklek bahkan bertransformasi sebagai hiburan semacam dangdut atau pertunjukan musik lainnya. Banyak orang hajatan yang lebih memilih tongklek sebagai pengisi acara daripada dangdut, misalnya. Selain karena ongkosnya lebih murah, tongklek sekarang memang tak jauh beda dengan dangdut. Hanya saja tongklek tidak memakai alat musik yang menggunakan listrik.

Jika saya pemerintah serius menggarap tongklek ini, tidak menutup kemungkinan, kesenian ini akan tetap bertahan sampai kapan pun—dan tentu saja bisa dijadikan sebuah destinasi pertunjukan rakyat Kota Tuban. [T]

Tags: kampung halaman
Share16TweetSendShareSend
Previous Post

Menebak Kriteria Penerima Bantuan Tunai Covid-19

Next Post

Ketidakpastian Pandemi: Dukungan Psikososial Vs Teori Konspirasi

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Wajah Indonesia Bopeng

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

Read moreDetails

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails
Next Post
Ketidakpastian Pandemi: Dukungan Psikososial Vs Teori Konspirasi

Ketidakpastian Pandemi: Dukungan Psikososial Vs Teori Konspirasi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers
Pendidikan

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers

SEBANYAK 102 anggota dan calon anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bali mengikuti Orientasi Kewartawanan dan Keorganisasian (OKK) di Gedung PWI...

by Dede Putra Wiguna
August 23, 2026
Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   
Opini

Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

IRONI yang sulit diterima ketika seseorang yang berdiri di puncak lembaga pendidikan justru berhadapan dengan hukum karena dugaan praktik yang...

by I Ketut Suar Adnyana
August 23, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Wajah Indonesia Bopeng

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas
Kritik Sastra

Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas

ADA satu kesalahpahaman yang terlalu lama mengiringi cara kita memandang Tuli: seolah-olah Tuli hanya dapat dibicarakan dari apa yang tidak...

by Bagja Wiranandhika Prawira
August 23, 2026
Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud
Panggung

Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

KETIKA musik itu dimainkan, nadanya terasa enak, liriknya menyentuh hati, dan langsung terbayang cerita drama seri yang sangat populer. Melodinya...

by Nyoman Budarsana
August 23, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co