3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Orang Dengan Gangguan Jiwa, Siapa Bilang Kebal Corona?

dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ by dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ
July 3, 2020
in Esai
Ketidakpastian Pandemi: Dukungan Psikososial Vs Teori Konspirasi

Ilustrasi tatkala.co | Nana Partha

Ada anggapan salah atau mitos di masyarakat mengatakan bahwa orang dengan gangguan jiwa, saya tidak mau atau menghindari kata-kata “orang gila” karena sejak undang-undang kesehatan jiwa disahkan di Indonesia nama resminya adalah Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) tidak bisa sakit dan selalu bahagia, bahkan banyak yang menjadikannya meme di media sosial untuk hal tersebut.

Sebenarnya itu salah, beberapa penelitian mengatakan bahwa angka harapan hidup untuk orang dengan gangguan jiwa berat justru 5-10 tahun lebih pendek daripada populasi umum. Kualitas hidup mereka juga cenderung jauh lebih buruk daripada umumnya masyarakat. Kalau ada anggapan bahwa orang-orang dengan gangguan jiwa bahkan yang tanpa keluarga, dan menggelandang di jalan itu kebal terhadap sakit karena memang kita tidak mengikuti secara detail apa yang terjadi pada mereka.

Sebetulnya sangat ironis jika kita melihat data bahwa provinsi Bali memiliki angka tertinggi untuk orang dengan gangguan jiwa berat yaitu 11 perseribu jumlah rumah tangga. Anggaplah misalnya dalam satu rumah tangga rata-rata berisi 3-4 orang, maka kurang lebih 4 per 1000 jumlah penduduk. Kalau penduduk Bali adalah 5 juta maka saat ini ada 20.000 orang dengan gangguan jiwa berat. Apabila penanganannya tidak intens maka sebagian dari mereka akan menggelandang di jalanan.

Kenapa saya membahas topik ini? Karena hari ini saya mendapatkan satu orang, Mr. X dalam artian ODGJ yang menggelandang di jalan tanpa keluarga bahkan tidak tahu namanya  kemungkinan besar mengalami positif Covid-19 dan perlu dirawat. Anda bisa membayangkan bagaimana sulitnya merawat pasien Covid-19 yang mengalami gangguan jiwa berat dan tanpa keluarga.

Mungkin kalau masyarakat umum yang mengalami kita bisa saja memberitahu untuk isolasi, kemudian protokol apa yang perlu dilakukan dan sebagainya. Tetapi tentu saja kesulitan dalam merawat penderita Covid-19 sekaligus orang dengan gangguan jiwa berat tanpa keluarga menjadi berlipat ganda, seperti di beberapa RSJ di Jawa Timur yang merawat ODGJ positif Covid-19.

Bagaimana fasilitas kesehatan harus ideal untuk menangani hal ini? Sebab ODGJ juga mempunyai hak, jadi selain dirawat untuk Covid-19 nya tentu juga gangguan jiwanya perlu diobati walaupun tidak jelas identitasnya. Menurut peraturan di negara kita orang Indonesia bukan saja orang yang mempunyai KTP tetapi orang yang tinggal dan hidup di Indonesia mempunyai hak untuk itu, termasuk mendapatkan pelayanan kesehatan.

Sebenarnya ada masalah cukup besar umumnya di Indonesia tetapi di Bali juga mendapatkan fokus masalah yang sama, di mana penanganan orang dengan gangguan jiwa yang menggelandang ini tidak mempunyai jalan keluar, bisa saya katakan demikian karena menurut undang-undang harusnya ada satu Panti Bina Laras yang bahkan kini aturannya mesti ada di setiap kota kabupaten.

Kita di Bali jangankan di kota kabupaten, di satu provinsi saja tidak punya. Memang mulai ada semacam panti misalnya di Tabanan tetapi hanya dengan kapasitas 4 orang dan itupun justru digunakan untuk orang-orang yang mempunyai keluarga. Sedangkan Panti Bina Laras  diperuntukkan bagi yang identitasnya tidak jelas dan tanpa keluarga. Bahayanya adalah ketika seperti pandemi sekarang, orang yang mengalami gangguan jiwa berat dan menggelandang tentu sangat beresiko tinggi kemudian mengalami penyakit menular dan menularkan kepada banyak orang.

Hal ini sebenarnya sudah diantisipasi misalnya oleh teman-teman di Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI) simpul Bali yang ada di Rumah Berdaya Denpasar. Jadi ketika awal pandemi teman-teman ini justru membuat masker. Jadi orang dengan gangguan jiwa berat juga bisa pulih dan berdaya, mereka yang berdaya justru membuat masker atau mengumpulkan donasi bahkan untuk APD petugas layanan kesehatan yang selama ini melakukan melakukan kunjungan rumah untuk memastikan pengobatan terhadap ODGJ di seluruh kota Denpasar.

Kami sadar bahwa ketika yang terinfeksi Covid-19 adalah orang dengan gangguan jiwa berat penanganan dan kesulitannya akan berlipat ganda. Namun, ini  membutuhkan solusi jangka panjang. Sampai saat ini yang terjadi adalah orang dengan gangguan jiwa berat yang menggelandang dibawa ke rumah sakit jiwa akhirnya menjadi penghuni abadi di dalam rumah sakit jiwa.

Kita harus tahu bahwa tempat mereka sesungguhnya bukanlah di rumah sakit jiwa seumur hidup tapi musti ada di Panti-panti Bina Laras. Kalau tidak bisa dalam satu kabupaten/kota setidaknya dalam satu provinsi (Bali) itu mempunyai Panti Bina Laras. Karena mereka tetap manusia dan mempunyai hak-hak di mana mereka termasuk difabilitas psikososial. Jadi yang disebut difabilitas bukan bukan hanya yang mempunyai cacat fisik ataupun cacat panca indra tetapi juga juga orang-orang yang mengalami keterbatasan dalam hal psikososial.

Jadi hal-hal ini sangat dibutuhkan kedepannya bahwa provinsi Bali mempunyai Panti Bina Laras tapi hanya khusus untuk orang-orang yang menggelandang dan tidak mempunyai keluarga. Ketika saya menginginkan adanya Panti Bina Laras bukan berarti saya ingin semua orang gangguan jiwa termasuk yang mempunyai keluarga ditelantarkan oleh keluarganya.

Perlu kebijakan yang meliputi berbagai aspek. Bagi keluarga-keluarga yang sampai saat ini merawat orang dengan gangguan jiwa juga membutuhkan bantuan jaring pengaman sosial. Mereka sudah melakukan kewajiban dalam merawat keluarganya walaupun mengalami gangguan jiwa berat untuk tetap bisa mempunyai kemampuan dan daya upaya untuk terus merawat keluarganya yang mengalami gangguan jiwa berat.

Namun bagi yang menggelandang dan tidak mempunyai keluarga tentu negara juga harus mengupayakan, apalagi sudah tertera dalam peraturan yaitu Panti Bina Laras. Agar jangan sampai ada lagi isu-isu liar yang mengatakan bahwa beberapa ODGJ istilahnya hanya “ekspor-impor”, ditangkap di kota A atau ditangkap di kota kabupaten B kemudian dilepas di kabupaten atau kota yang lain.

Hal itu tidak menyelesaikan masalah, apalagi di tengah pandemi saat ini. Jadi sebenarnya orang dengan gangguan jiwa berat ketika ditangani dengan baik juga mempunyai masa depan dan bisa pulih kembali. Mudah-mudahan kita semua bisa melalui pandemi ini dengan baik dan senantiasa dalam keadaan mantap jiwa dan raga. Salam Mantap Jiwa. [T]

Tags: covid 19kesehatankesehatan jiwavirus corona
Share354TweetSendShareSend
Previous Post

Tujuan Pulang Kampung yang Tidak Terduga

Next Post

Setara: Monumen Pandemi Dialog Dini Hari

dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ

dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ

Psikiater di Klinik Utama Sudirman Medical Center (SMC) Denpasar, Founder Rumah Berdaya, Pegiat kesehatan jiwa di Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI) simpul Bali dan Komunitas Teman Baik

Related Posts

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails
Next Post
Setara: Monumen Pandemi Dialog Dini Hari

Setara: Monumen Pandemi Dialog Dini Hari

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Kuliner

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co