25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Orang Dengan Gangguan Jiwa, Siapa Bilang Kebal Corona?

dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ by dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ
July 3, 2020
in Esai
Ketidakpastian Pandemi: Dukungan Psikososial Vs Teori Konspirasi

Ilustrasi tatkala.co | Nana Partha

Ada anggapan salah atau mitos di masyarakat mengatakan bahwa orang dengan gangguan jiwa, saya tidak mau atau menghindari kata-kata “orang gila” karena sejak undang-undang kesehatan jiwa disahkan di Indonesia nama resminya adalah Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) tidak bisa sakit dan selalu bahagia, bahkan banyak yang menjadikannya meme di media sosial untuk hal tersebut.

Sebenarnya itu salah, beberapa penelitian mengatakan bahwa angka harapan hidup untuk orang dengan gangguan jiwa berat justru 5-10 tahun lebih pendek daripada populasi umum. Kualitas hidup mereka juga cenderung jauh lebih buruk daripada umumnya masyarakat. Kalau ada anggapan bahwa orang-orang dengan gangguan jiwa bahkan yang tanpa keluarga, dan menggelandang di jalan itu kebal terhadap sakit karena memang kita tidak mengikuti secara detail apa yang terjadi pada mereka.

Sebetulnya sangat ironis jika kita melihat data bahwa provinsi Bali memiliki angka tertinggi untuk orang dengan gangguan jiwa berat yaitu 11 perseribu jumlah rumah tangga. Anggaplah misalnya dalam satu rumah tangga rata-rata berisi 3-4 orang, maka kurang lebih 4 per 1000 jumlah penduduk. Kalau penduduk Bali adalah 5 juta maka saat ini ada 20.000 orang dengan gangguan jiwa berat. Apabila penanganannya tidak intens maka sebagian dari mereka akan menggelandang di jalanan.

Kenapa saya membahas topik ini? Karena hari ini saya mendapatkan satu orang, Mr. X dalam artian ODGJ yang menggelandang di jalan tanpa keluarga bahkan tidak tahu namanya  kemungkinan besar mengalami positif Covid-19 dan perlu dirawat. Anda bisa membayangkan bagaimana sulitnya merawat pasien Covid-19 yang mengalami gangguan jiwa berat dan tanpa keluarga.

Mungkin kalau masyarakat umum yang mengalami kita bisa saja memberitahu untuk isolasi, kemudian protokol apa yang perlu dilakukan dan sebagainya. Tetapi tentu saja kesulitan dalam merawat penderita Covid-19 sekaligus orang dengan gangguan jiwa berat tanpa keluarga menjadi berlipat ganda, seperti di beberapa RSJ di Jawa Timur yang merawat ODGJ positif Covid-19.

Bagaimana fasilitas kesehatan harus ideal untuk menangani hal ini? Sebab ODGJ juga mempunyai hak, jadi selain dirawat untuk Covid-19 nya tentu juga gangguan jiwanya perlu diobati walaupun tidak jelas identitasnya. Menurut peraturan di negara kita orang Indonesia bukan saja orang yang mempunyai KTP tetapi orang yang tinggal dan hidup di Indonesia mempunyai hak untuk itu, termasuk mendapatkan pelayanan kesehatan.

Sebenarnya ada masalah cukup besar umumnya di Indonesia tetapi di Bali juga mendapatkan fokus masalah yang sama, di mana penanganan orang dengan gangguan jiwa yang menggelandang ini tidak mempunyai jalan keluar, bisa saya katakan demikian karena menurut undang-undang harusnya ada satu Panti Bina Laras yang bahkan kini aturannya mesti ada di setiap kota kabupaten.

Kita di Bali jangankan di kota kabupaten, di satu provinsi saja tidak punya. Memang mulai ada semacam panti misalnya di Tabanan tetapi hanya dengan kapasitas 4 orang dan itupun justru digunakan untuk orang-orang yang mempunyai keluarga. Sedangkan Panti Bina Laras  diperuntukkan bagi yang identitasnya tidak jelas dan tanpa keluarga. Bahayanya adalah ketika seperti pandemi sekarang, orang yang mengalami gangguan jiwa berat dan menggelandang tentu sangat beresiko tinggi kemudian mengalami penyakit menular dan menularkan kepada banyak orang.

Hal ini sebenarnya sudah diantisipasi misalnya oleh teman-teman di Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI) simpul Bali yang ada di Rumah Berdaya Denpasar. Jadi ketika awal pandemi teman-teman ini justru membuat masker. Jadi orang dengan gangguan jiwa berat juga bisa pulih dan berdaya, mereka yang berdaya justru membuat masker atau mengumpulkan donasi bahkan untuk APD petugas layanan kesehatan yang selama ini melakukan melakukan kunjungan rumah untuk memastikan pengobatan terhadap ODGJ di seluruh kota Denpasar.

Kami sadar bahwa ketika yang terinfeksi Covid-19 adalah orang dengan gangguan jiwa berat penanganan dan kesulitannya akan berlipat ganda. Namun, ini  membutuhkan solusi jangka panjang. Sampai saat ini yang terjadi adalah orang dengan gangguan jiwa berat yang menggelandang dibawa ke rumah sakit jiwa akhirnya menjadi penghuni abadi di dalam rumah sakit jiwa.

Kita harus tahu bahwa tempat mereka sesungguhnya bukanlah di rumah sakit jiwa seumur hidup tapi musti ada di Panti-panti Bina Laras. Kalau tidak bisa dalam satu kabupaten/kota setidaknya dalam satu provinsi (Bali) itu mempunyai Panti Bina Laras. Karena mereka tetap manusia dan mempunyai hak-hak di mana mereka termasuk difabilitas psikososial. Jadi yang disebut difabilitas bukan bukan hanya yang mempunyai cacat fisik ataupun cacat panca indra tetapi juga juga orang-orang yang mengalami keterbatasan dalam hal psikososial.

Jadi hal-hal ini sangat dibutuhkan kedepannya bahwa provinsi Bali mempunyai Panti Bina Laras tapi hanya khusus untuk orang-orang yang menggelandang dan tidak mempunyai keluarga. Ketika saya menginginkan adanya Panti Bina Laras bukan berarti saya ingin semua orang gangguan jiwa termasuk yang mempunyai keluarga ditelantarkan oleh keluarganya.

Perlu kebijakan yang meliputi berbagai aspek. Bagi keluarga-keluarga yang sampai saat ini merawat orang dengan gangguan jiwa juga membutuhkan bantuan jaring pengaman sosial. Mereka sudah melakukan kewajiban dalam merawat keluarganya walaupun mengalami gangguan jiwa berat untuk tetap bisa mempunyai kemampuan dan daya upaya untuk terus merawat keluarganya yang mengalami gangguan jiwa berat.

Namun bagi yang menggelandang dan tidak mempunyai keluarga tentu negara juga harus mengupayakan, apalagi sudah tertera dalam peraturan yaitu Panti Bina Laras. Agar jangan sampai ada lagi isu-isu liar yang mengatakan bahwa beberapa ODGJ istilahnya hanya “ekspor-impor”, ditangkap di kota A atau ditangkap di kota kabupaten B kemudian dilepas di kabupaten atau kota yang lain.

Hal itu tidak menyelesaikan masalah, apalagi di tengah pandemi saat ini. Jadi sebenarnya orang dengan gangguan jiwa berat ketika ditangani dengan baik juga mempunyai masa depan dan bisa pulih kembali. Mudah-mudahan kita semua bisa melalui pandemi ini dengan baik dan senantiasa dalam keadaan mantap jiwa dan raga. Salam Mantap Jiwa. [T]

Tags: covid 19kesehatankesehatan jiwavirus corona
Share354TweetSendShareSend
Previous Post

Tujuan Pulang Kampung yang Tidak Terduga

Next Post

Setara: Monumen Pandemi Dialog Dini Hari

dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ

dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ

Psikiater di Klinik Utama Sudirman Medical Center (SMC) Denpasar, Founder Rumah Berdaya, Pegiat kesehatan jiwa di Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI) simpul Bali dan Komunitas Teman Baik

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Setara: Monumen Pandemi Dialog Dini Hari

Setara: Monumen Pandemi Dialog Dini Hari

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co