3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Berhenti Membicarakan Pandemi

dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ by dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ
July 31, 2020
in Esai
Ketidakpastian Pandemi: Dukungan Psikososial Vs Teori Konspirasi

Ilustrasi tatkala.co | Nana Partha

Saya pikir sebagian pembaca yang membaca tulisan ini mungkin sudah bosan membicarakan soal pandemi. Berhenti membicarakan pandemi tidak akan menghentikan pandemi, sama halnya terus membicarakan pandemi juga tidak akan menghentikannya. Setidaknya satu atau dua malam dari beberapa bulan terakhir ini kita ingin sekali pandemi ini tidak terjadi. Saat terbangun kita menganggap ini cuma mimpi buruk yang tidak pernah benar-benar terjadi. Itu wajar saja dan manusiawi, ketika kita menghadapi sesuatu yang buruk dan tidak pernah kita rencanakan, kita melakukan denial atau menolak dalam pikiran sadar kita menolak bahwa hal-hal ini pernah terjadi.

Tetapi sayangnya pikiran kita tidak akan mengubah situasi. Ketika kita berusaha menipu diri kita bahwa hal ini tidak terjadi nyatanya situasi ini terjadi. Dalam ilmu psikologi bagaimana kita menghadapi hal-hal yang buruk dan tidak terencana ada teorinya yaitu oleh Kubler Ross. Ada tahap-tahapnya, mungkin Anda sudah sering membaca hal ini. Tahap pertama denial atau menolak, tahap kedua anger atau kemarahan, tahap ketiga bargaining, tahap keempat depression atau depresi dan yang kelima barulah accept atau menerima hal tersebut.

Denial dan Rasionalisasi

Saya akan membicarakan dari sudut kesehatan mental di mana kini sebagian kecil masyarakat masih saja berada dalam fase denial, menolak pandemi ini terjadi. Mereka melakukan filter mental, menyaring informasi hanya pada hal-hal yang ingin mereka dengarkan, hanya hal-hal yang ingin mereka percayai. Sehingga kemudian mencari alasan membuat pemikirannya ini menjadi seakan-seakan rasional atau yang dinamakan rasionalisasi. Jadi hanya denial dan rasionalisasi, sulit untuk akhirnya bisa menerima bahwa hal ini sungguh terjadi. Yang saya bicarakan adalah tentang teori konspirasi. Teori ini hadir dari pemikiran menghadapi bencana dalam hal ini pandemi dengan cara denial dan rasionalisasi. Hanya mau mendengarkan atau menganggap informasi yang sesuai dengan apa yang mereka pikirkan. Hanya itu yang benar.

Lalu sebenarnya apa yang terjadi pada orang-orang yang masih saja denial dan rasionalisasi? Ada beberapa jebakan mental atau mental trap yang terjadi, yang pertama adalah all or none di mana orang-orang yang hanya berpikir hitam-putih. Kalau tidak hitam ya putih, tidak ada area abu-abu di sana. Kalau tidak sukses ya gagal, kalau tidak normal ya sekalian saja menganggap bencana ini buruk. Mereka melakukan filter mental, hanya hal-hal yang mendukung pemikirannya, hanya hal-hal yang ingin mereka dengar saja yang kemudian dipercayai.

Kedua hal di atas membentuk teori konspirasi. Sebetulnya itu adalah upaya untuk membuat dirinya survive atau bertahan, karena biasanya orang-orang yang berpikir seperti ini cenderung mempunyai tingkat kerentanan kecemasan yang tinggi. Mungkin saja menampilkan sesuatu yang berkebalikan, di mana dia berani, di mana dia tidak pernah takut tetapi sesungguhnya di dalam bawah sadarnya merasakan kecemasan yang luar biasa.

Tipe Kecemasan

Seperti sebelumnya pernah saya bicarakan, kecemasan itu ada yang sifatnya precrustination dan procrustination. Precrustination adalah bereaksi dengan terlalu cepat dan tergesa-gesa. Maka saya tidak kaget juga kalau ternyata orang-orang yang sekarang mendukung teori konspirasi ketika awal pandemi dulu pernah mengalami serangan panik, kecemasan dan psikosomatis akibat perilaku terlalu tergesa-gesa, mengambil beberapa informasi secara ceroboh dan merasa dunia ini akan segera kiamat. Tetapi kemudian mereka mencoba survive dengan cara melakukan hal-hal sebaliknya. Hal penting yang saya ingin bicarakan di sini adalah ada juga tipe kecemasan procrustination, lambat dalam bereaksi. Ketika kita terbuai tentang—saya tidak menginginkan new normal tetapi normal sepenuhnya—lagi-lagi sayangnya dunia ini tidak berubah hanya dengan mengubah pikiran kita.

Jadilah kemudian kita merasa santai, tidak melakukan protokol kesehatan. Ini yang belakangan sering saya temui di tempat praktik saya, yaitu orang yang terlambat bereaksi dan menyadari sesungguhnya dunia tidak seperti yang dia pikirkan. Makin ke belakang makin banyak saya temui orang-orang yang mempunyai kenalan dan keluarga yang meninggal ataupun sakit berat karena virus Corona. Mereka kemudian tersadarkan bahwa ternyata situasi sekarang tidak seperti yang ia pikirkan, dan itu memicu kecemasan tipe procrustination.

Kemudian muncul penyesalan yang mengakibatkan keguncangan dalam kejiwaannya. Inilah yang oleh Kubler Ros dinamakan fase depression atau depresi, di mana kenyataan ternyata tidak sesuai dengan harapan. Kita harus benar-benar menanamkan bahwa sebenarnya tidak pernah ada situasi atau orang yang bisa menyakiti kita. Yang menyakiti kita hanyalah harapan. Marilah kita buat harapan yang rasional, mari kita memilah-milah informasi, belajar berpikir bahwa tidak ada yang sepenuhnya benar dan tidak  ada yang sepenuhnya salah, tidak ada yang sepenuhnya buruk ataupun tidak ada yang sepenuhnya baik.

Senantiasa berada di area abu-abu, seperti kata orang Bali kodrat manusia adalah Boya Je Dewa, Boya Je Bhuta. Ketika kita merasa diri sudah sangat normal, kita sudah aman itu ibaratnya kita menjadi dewa dan ketika kita terlalu cemas, terlalu berpikiran buruk dan terlalu pesimis kita menjadi bhuta. Yang terbaik adalah tetap menjadi manusia.

Keteladanan

Kunci kesehatan jiwa adalah soal fleksibilitas atau kelenturan kita dalam menghadapi sesuatu. Ketika kita terlalu abai mari lebih peduli, kita terlalu cemas mari kita belajar bodo amat. Daripada kita berfokus pada orang-orang yang tidak memberikan keteladanan, saya ingin melihat salah satu musisi Bali yang luar biasa. dari sejak awal bereaksi dengan sangat baik dan menunjukkan kepedulian  dan keteladanan. Dia adalah  Robi Navicula. Berbeda dari kebanyakan musisi Bali, dia sejak awal berani lantang bersuara tentang lingkungan hidup, tentang budaya Bali dan juga kali ini saat menghadapi pandemi.

Dari yang saya lihat, dia bisa menertawakan keabaian teori-teori konspirasi dan lebih fokus pada masa kini dengan melakukan tindakan nyata dengan menggalang charity, fokus pada produk-produk pertanian dan tidak hanya mengeluh tentang kesulitan dunia hiburan dan pariwisata yang terjadi dan juga dialami. Perlu lebih banyak orang seperti Robi Navicula sehingga tidak ada cap bahwa orang Bali hanya peduli pada pariwisata, hanya bisa mengeluh dan menipu diri dengan menjalankan teori konspirasi. Semoga kita semua berada dalam keadaan mantap jiwa dan raga sampai pandemi berakhir dan kita bisa menemukan makna menjadi diri kita yang lebih baik.

Tags: covid 19kesehatankesehatan jiwapandemi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bhagavad Gita Versi Jawa Kuno, Guru Made Menaka & Ida Pedanda Made Sidemen (1)

Next Post

Apakah Kita Membenci India?

dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ

dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ

Psikiater di Klinik Utama Sudirman Medical Center (SMC) Denpasar, Founder Rumah Berdaya, Pegiat kesehatan jiwa di Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI) simpul Bali dan Komunitas Teman Baik

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Apakah Kita Membenci India?

Apakah Kita Membenci India?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co