23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Berhenti Membicarakan Pandemi

dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ by dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ
July 31, 2020
in Esai
Ketidakpastian Pandemi: Dukungan Psikososial Vs Teori Konspirasi

Ilustrasi tatkala.co | Nana Partha

Saya pikir sebagian pembaca yang membaca tulisan ini mungkin sudah bosan membicarakan soal pandemi. Berhenti membicarakan pandemi tidak akan menghentikan pandemi, sama halnya terus membicarakan pandemi juga tidak akan menghentikannya. Setidaknya satu atau dua malam dari beberapa bulan terakhir ini kita ingin sekali pandemi ini tidak terjadi. Saat terbangun kita menganggap ini cuma mimpi buruk yang tidak pernah benar-benar terjadi. Itu wajar saja dan manusiawi, ketika kita menghadapi sesuatu yang buruk dan tidak pernah kita rencanakan, kita melakukan denial atau menolak dalam pikiran sadar kita menolak bahwa hal-hal ini pernah terjadi.

Tetapi sayangnya pikiran kita tidak akan mengubah situasi. Ketika kita berusaha menipu diri kita bahwa hal ini tidak terjadi nyatanya situasi ini terjadi. Dalam ilmu psikologi bagaimana kita menghadapi hal-hal yang buruk dan tidak terencana ada teorinya yaitu oleh Kubler Ross. Ada tahap-tahapnya, mungkin Anda sudah sering membaca hal ini. Tahap pertama denial atau menolak, tahap kedua anger atau kemarahan, tahap ketiga bargaining, tahap keempat depression atau depresi dan yang kelima barulah accept atau menerima hal tersebut.

Denial dan Rasionalisasi

Saya akan membicarakan dari sudut kesehatan mental di mana kini sebagian kecil masyarakat masih saja berada dalam fase denial, menolak pandemi ini terjadi. Mereka melakukan filter mental, menyaring informasi hanya pada hal-hal yang ingin mereka dengarkan, hanya hal-hal yang ingin mereka percayai. Sehingga kemudian mencari alasan membuat pemikirannya ini menjadi seakan-seakan rasional atau yang dinamakan rasionalisasi. Jadi hanya denial dan rasionalisasi, sulit untuk akhirnya bisa menerima bahwa hal ini sungguh terjadi. Yang saya bicarakan adalah tentang teori konspirasi. Teori ini hadir dari pemikiran menghadapi bencana dalam hal ini pandemi dengan cara denial dan rasionalisasi. Hanya mau mendengarkan atau menganggap informasi yang sesuai dengan apa yang mereka pikirkan. Hanya itu yang benar.

Lalu sebenarnya apa yang terjadi pada orang-orang yang masih saja denial dan rasionalisasi? Ada beberapa jebakan mental atau mental trap yang terjadi, yang pertama adalah all or none di mana orang-orang yang hanya berpikir hitam-putih. Kalau tidak hitam ya putih, tidak ada area abu-abu di sana. Kalau tidak sukses ya gagal, kalau tidak normal ya sekalian saja menganggap bencana ini buruk. Mereka melakukan filter mental, hanya hal-hal yang mendukung pemikirannya, hanya hal-hal yang ingin mereka dengar saja yang kemudian dipercayai.

Kedua hal di atas membentuk teori konspirasi. Sebetulnya itu adalah upaya untuk membuat dirinya survive atau bertahan, karena biasanya orang-orang yang berpikir seperti ini cenderung mempunyai tingkat kerentanan kecemasan yang tinggi. Mungkin saja menampilkan sesuatu yang berkebalikan, di mana dia berani, di mana dia tidak pernah takut tetapi sesungguhnya di dalam bawah sadarnya merasakan kecemasan yang luar biasa.

Tipe Kecemasan

Seperti sebelumnya pernah saya bicarakan, kecemasan itu ada yang sifatnya precrustination dan procrustination. Precrustination adalah bereaksi dengan terlalu cepat dan tergesa-gesa. Maka saya tidak kaget juga kalau ternyata orang-orang yang sekarang mendukung teori konspirasi ketika awal pandemi dulu pernah mengalami serangan panik, kecemasan dan psikosomatis akibat perilaku terlalu tergesa-gesa, mengambil beberapa informasi secara ceroboh dan merasa dunia ini akan segera kiamat. Tetapi kemudian mereka mencoba survive dengan cara melakukan hal-hal sebaliknya. Hal penting yang saya ingin bicarakan di sini adalah ada juga tipe kecemasan procrustination, lambat dalam bereaksi. Ketika kita terbuai tentang—saya tidak menginginkan new normal tetapi normal sepenuhnya—lagi-lagi sayangnya dunia ini tidak berubah hanya dengan mengubah pikiran kita.

Jadilah kemudian kita merasa santai, tidak melakukan protokol kesehatan. Ini yang belakangan sering saya temui di tempat praktik saya, yaitu orang yang terlambat bereaksi dan menyadari sesungguhnya dunia tidak seperti yang dia pikirkan. Makin ke belakang makin banyak saya temui orang-orang yang mempunyai kenalan dan keluarga yang meninggal ataupun sakit berat karena virus Corona. Mereka kemudian tersadarkan bahwa ternyata situasi sekarang tidak seperti yang ia pikirkan, dan itu memicu kecemasan tipe procrustination.

Kemudian muncul penyesalan yang mengakibatkan keguncangan dalam kejiwaannya. Inilah yang oleh Kubler Ros dinamakan fase depression atau depresi, di mana kenyataan ternyata tidak sesuai dengan harapan. Kita harus benar-benar menanamkan bahwa sebenarnya tidak pernah ada situasi atau orang yang bisa menyakiti kita. Yang menyakiti kita hanyalah harapan. Marilah kita buat harapan yang rasional, mari kita memilah-milah informasi, belajar berpikir bahwa tidak ada yang sepenuhnya benar dan tidak  ada yang sepenuhnya salah, tidak ada yang sepenuhnya buruk ataupun tidak ada yang sepenuhnya baik.

Senantiasa berada di area abu-abu, seperti kata orang Bali kodrat manusia adalah Boya Je Dewa, Boya Je Bhuta. Ketika kita merasa diri sudah sangat normal, kita sudah aman itu ibaratnya kita menjadi dewa dan ketika kita terlalu cemas, terlalu berpikiran buruk dan terlalu pesimis kita menjadi bhuta. Yang terbaik adalah tetap menjadi manusia.

Keteladanan

Kunci kesehatan jiwa adalah soal fleksibilitas atau kelenturan kita dalam menghadapi sesuatu. Ketika kita terlalu abai mari lebih peduli, kita terlalu cemas mari kita belajar bodo amat. Daripada kita berfokus pada orang-orang yang tidak memberikan keteladanan, saya ingin melihat salah satu musisi Bali yang luar biasa. dari sejak awal bereaksi dengan sangat baik dan menunjukkan kepedulian  dan keteladanan. Dia adalah  Robi Navicula. Berbeda dari kebanyakan musisi Bali, dia sejak awal berani lantang bersuara tentang lingkungan hidup, tentang budaya Bali dan juga kali ini saat menghadapi pandemi.

Dari yang saya lihat, dia bisa menertawakan keabaian teori-teori konspirasi dan lebih fokus pada masa kini dengan melakukan tindakan nyata dengan menggalang charity, fokus pada produk-produk pertanian dan tidak hanya mengeluh tentang kesulitan dunia hiburan dan pariwisata yang terjadi dan juga dialami. Perlu lebih banyak orang seperti Robi Navicula sehingga tidak ada cap bahwa orang Bali hanya peduli pada pariwisata, hanya bisa mengeluh dan menipu diri dengan menjalankan teori konspirasi. Semoga kita semua berada dalam keadaan mantap jiwa dan raga sampai pandemi berakhir dan kita bisa menemukan makna menjadi diri kita yang lebih baik.

Tags: covid 19kesehatankesehatan jiwapandemi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bhagavad Gita Versi Jawa Kuno, Guru Made Menaka & Ida Pedanda Made Sidemen (1)

Next Post

Apakah Kita Membenci India?

dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ

dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ

Psikiater di Klinik Utama Sudirman Medical Center (SMC) Denpasar, Founder Rumah Berdaya, Pegiat kesehatan jiwa di Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI) simpul Bali dan Komunitas Teman Baik

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Apakah Kita Membenci India?

Apakah Kita Membenci India?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co