24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Berhenti Membicarakan Pandemi

dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ by dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ
July 31, 2020
in Esai
Ketidakpastian Pandemi: Dukungan Psikososial Vs Teori Konspirasi

Ilustrasi tatkala.co | Nana Partha

Saya pikir sebagian pembaca yang membaca tulisan ini mungkin sudah bosan membicarakan soal pandemi. Berhenti membicarakan pandemi tidak akan menghentikan pandemi, sama halnya terus membicarakan pandemi juga tidak akan menghentikannya. Setidaknya satu atau dua malam dari beberapa bulan terakhir ini kita ingin sekali pandemi ini tidak terjadi. Saat terbangun kita menganggap ini cuma mimpi buruk yang tidak pernah benar-benar terjadi. Itu wajar saja dan manusiawi, ketika kita menghadapi sesuatu yang buruk dan tidak pernah kita rencanakan, kita melakukan denial atau menolak dalam pikiran sadar kita menolak bahwa hal-hal ini pernah terjadi.

Tetapi sayangnya pikiran kita tidak akan mengubah situasi. Ketika kita berusaha menipu diri kita bahwa hal ini tidak terjadi nyatanya situasi ini terjadi. Dalam ilmu psikologi bagaimana kita menghadapi hal-hal yang buruk dan tidak terencana ada teorinya yaitu oleh Kubler Ross. Ada tahap-tahapnya, mungkin Anda sudah sering membaca hal ini. Tahap pertama denial atau menolak, tahap kedua anger atau kemarahan, tahap ketiga bargaining, tahap keempat depression atau depresi dan yang kelima barulah accept atau menerima hal tersebut.

Denial dan Rasionalisasi

Saya akan membicarakan dari sudut kesehatan mental di mana kini sebagian kecil masyarakat masih saja berada dalam fase denial, menolak pandemi ini terjadi. Mereka melakukan filter mental, menyaring informasi hanya pada hal-hal yang ingin mereka dengarkan, hanya hal-hal yang ingin mereka percayai. Sehingga kemudian mencari alasan membuat pemikirannya ini menjadi seakan-seakan rasional atau yang dinamakan rasionalisasi. Jadi hanya denial dan rasionalisasi, sulit untuk akhirnya bisa menerima bahwa hal ini sungguh terjadi. Yang saya bicarakan adalah tentang teori konspirasi. Teori ini hadir dari pemikiran menghadapi bencana dalam hal ini pandemi dengan cara denial dan rasionalisasi. Hanya mau mendengarkan atau menganggap informasi yang sesuai dengan apa yang mereka pikirkan. Hanya itu yang benar.

Lalu sebenarnya apa yang terjadi pada orang-orang yang masih saja denial dan rasionalisasi? Ada beberapa jebakan mental atau mental trap yang terjadi, yang pertama adalah all or none di mana orang-orang yang hanya berpikir hitam-putih. Kalau tidak hitam ya putih, tidak ada area abu-abu di sana. Kalau tidak sukses ya gagal, kalau tidak normal ya sekalian saja menganggap bencana ini buruk. Mereka melakukan filter mental, hanya hal-hal yang mendukung pemikirannya, hanya hal-hal yang ingin mereka dengar saja yang kemudian dipercayai.

Kedua hal di atas membentuk teori konspirasi. Sebetulnya itu adalah upaya untuk membuat dirinya survive atau bertahan, karena biasanya orang-orang yang berpikir seperti ini cenderung mempunyai tingkat kerentanan kecemasan yang tinggi. Mungkin saja menampilkan sesuatu yang berkebalikan, di mana dia berani, di mana dia tidak pernah takut tetapi sesungguhnya di dalam bawah sadarnya merasakan kecemasan yang luar biasa.

Tipe Kecemasan

Seperti sebelumnya pernah saya bicarakan, kecemasan itu ada yang sifatnya precrustination dan procrustination. Precrustination adalah bereaksi dengan terlalu cepat dan tergesa-gesa. Maka saya tidak kaget juga kalau ternyata orang-orang yang sekarang mendukung teori konspirasi ketika awal pandemi dulu pernah mengalami serangan panik, kecemasan dan psikosomatis akibat perilaku terlalu tergesa-gesa, mengambil beberapa informasi secara ceroboh dan merasa dunia ini akan segera kiamat. Tetapi kemudian mereka mencoba survive dengan cara melakukan hal-hal sebaliknya. Hal penting yang saya ingin bicarakan di sini adalah ada juga tipe kecemasan procrustination, lambat dalam bereaksi. Ketika kita terbuai tentang—saya tidak menginginkan new normal tetapi normal sepenuhnya—lagi-lagi sayangnya dunia ini tidak berubah hanya dengan mengubah pikiran kita.

Jadilah kemudian kita merasa santai, tidak melakukan protokol kesehatan. Ini yang belakangan sering saya temui di tempat praktik saya, yaitu orang yang terlambat bereaksi dan menyadari sesungguhnya dunia tidak seperti yang dia pikirkan. Makin ke belakang makin banyak saya temui orang-orang yang mempunyai kenalan dan keluarga yang meninggal ataupun sakit berat karena virus Corona. Mereka kemudian tersadarkan bahwa ternyata situasi sekarang tidak seperti yang ia pikirkan, dan itu memicu kecemasan tipe procrustination.

Kemudian muncul penyesalan yang mengakibatkan keguncangan dalam kejiwaannya. Inilah yang oleh Kubler Ros dinamakan fase depression atau depresi, di mana kenyataan ternyata tidak sesuai dengan harapan. Kita harus benar-benar menanamkan bahwa sebenarnya tidak pernah ada situasi atau orang yang bisa menyakiti kita. Yang menyakiti kita hanyalah harapan. Marilah kita buat harapan yang rasional, mari kita memilah-milah informasi, belajar berpikir bahwa tidak ada yang sepenuhnya benar dan tidak  ada yang sepenuhnya salah, tidak ada yang sepenuhnya buruk ataupun tidak ada yang sepenuhnya baik.

Senantiasa berada di area abu-abu, seperti kata orang Bali kodrat manusia adalah Boya Je Dewa, Boya Je Bhuta. Ketika kita merasa diri sudah sangat normal, kita sudah aman itu ibaratnya kita menjadi dewa dan ketika kita terlalu cemas, terlalu berpikiran buruk dan terlalu pesimis kita menjadi bhuta. Yang terbaik adalah tetap menjadi manusia.

Keteladanan

Kunci kesehatan jiwa adalah soal fleksibilitas atau kelenturan kita dalam menghadapi sesuatu. Ketika kita terlalu abai mari lebih peduli, kita terlalu cemas mari kita belajar bodo amat. Daripada kita berfokus pada orang-orang yang tidak memberikan keteladanan, saya ingin melihat salah satu musisi Bali yang luar biasa. dari sejak awal bereaksi dengan sangat baik dan menunjukkan kepedulian  dan keteladanan. Dia adalah  Robi Navicula. Berbeda dari kebanyakan musisi Bali, dia sejak awal berani lantang bersuara tentang lingkungan hidup, tentang budaya Bali dan juga kali ini saat menghadapi pandemi.

Dari yang saya lihat, dia bisa menertawakan keabaian teori-teori konspirasi dan lebih fokus pada masa kini dengan melakukan tindakan nyata dengan menggalang charity, fokus pada produk-produk pertanian dan tidak hanya mengeluh tentang kesulitan dunia hiburan dan pariwisata yang terjadi dan juga dialami. Perlu lebih banyak orang seperti Robi Navicula sehingga tidak ada cap bahwa orang Bali hanya peduli pada pariwisata, hanya bisa mengeluh dan menipu diri dengan menjalankan teori konspirasi. Semoga kita semua berada dalam keadaan mantap jiwa dan raga sampai pandemi berakhir dan kita bisa menemukan makna menjadi diri kita yang lebih baik.

Tags: covid 19kesehatankesehatan jiwapandemi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bhagavad Gita Versi Jawa Kuno, Guru Made Menaka & Ida Pedanda Made Sidemen (1)

Next Post

Apakah Kita Membenci India?

dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ

dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ

Psikiater di Klinik Utama Sudirman Medical Center (SMC) Denpasar, Founder Rumah Berdaya, Pegiat kesehatan jiwa di Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI) simpul Bali dan Komunitas Teman Baik

Related Posts

‘Janji-janji Jepang’

by Angga Wijaya
April 23, 2026
0
‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

Read moreDetails

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

by Chusmeru
April 23, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

Read moreDetails

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
0
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

Read moreDetails

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
0
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

Read moreDetails

Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

by Petrus Imam Prawoto Jati
April 21, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang...

Read moreDetails

NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

by Dede Putra Wiguna
April 20, 2026
0
NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

PERNAHKAH Anda menjumpai situasi di mana sebuah persoalan dibicarakan berulang-ulang, diperdebatkan panjang lebar, bahkan diposting di berbagai platform, namun tidak...

Read moreDetails

Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

by Agung Sudarsa
April 20, 2026
0
Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

SETIAP peringatan Raden Ajeng Kartini sering kali berhenti pada simbol: kebaya, kutipan surat, dan narasi emansipasi yang diulang. Namun jika...

Read moreDetails

Mungkinkah Budaya Adiluhung Baduy Rusak karena Pengaruh Digitalisasi dan Destinasi Wisata?

by Asep Kurnia
April 20, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

KITA dan siapa pun, akan begitu tercengang dengan berbagai perubahan fisik (lingkungan geografis) yang begitu cepat serta sporadis termasuk perubahan...

Read moreDetails

Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

by Jro Gde Sudibya
April 20, 2026
0
Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

Paradigma Baru Industri Pariwisata Pasca Pandemi Covid-19 yang meluluhlantakkan perekonomian Bali, Industri Pariwisata Bali "mati suri", tumbuh negatif 9,3 persen...

Read moreDetails

Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

by Cindy May Siagian
April 19, 2026
0
Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

MENURUT Suarta dan Dwipaya (2022:10), karya sastra adalah wadah untuk menuangkan gagasan dan kreativitas dari seseorang untuk mengajak pembaca mendiskusikan...

Read moreDetails
Next Post
Apakah Kita Membenci India?

Apakah Kita Membenci India?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co