3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Berhenti Membicarakan Pandemi

dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ by dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ
July 31, 2020
in Esai
Ketidakpastian Pandemi: Dukungan Psikososial Vs Teori Konspirasi

Ilustrasi tatkala.co | Nana Partha

Saya pikir sebagian pembaca yang membaca tulisan ini mungkin sudah bosan membicarakan soal pandemi. Berhenti membicarakan pandemi tidak akan menghentikan pandemi, sama halnya terus membicarakan pandemi juga tidak akan menghentikannya. Setidaknya satu atau dua malam dari beberapa bulan terakhir ini kita ingin sekali pandemi ini tidak terjadi. Saat terbangun kita menganggap ini cuma mimpi buruk yang tidak pernah benar-benar terjadi. Itu wajar saja dan manusiawi, ketika kita menghadapi sesuatu yang buruk dan tidak pernah kita rencanakan, kita melakukan denial atau menolak dalam pikiran sadar kita menolak bahwa hal-hal ini pernah terjadi.

Tetapi sayangnya pikiran kita tidak akan mengubah situasi. Ketika kita berusaha menipu diri kita bahwa hal ini tidak terjadi nyatanya situasi ini terjadi. Dalam ilmu psikologi bagaimana kita menghadapi hal-hal yang buruk dan tidak terencana ada teorinya yaitu oleh Kubler Ross. Ada tahap-tahapnya, mungkin Anda sudah sering membaca hal ini. Tahap pertama denial atau menolak, tahap kedua anger atau kemarahan, tahap ketiga bargaining, tahap keempat depression atau depresi dan yang kelima barulah accept atau menerima hal tersebut.

Denial dan Rasionalisasi

Saya akan membicarakan dari sudut kesehatan mental di mana kini sebagian kecil masyarakat masih saja berada dalam fase denial, menolak pandemi ini terjadi. Mereka melakukan filter mental, menyaring informasi hanya pada hal-hal yang ingin mereka dengarkan, hanya hal-hal yang ingin mereka percayai. Sehingga kemudian mencari alasan membuat pemikirannya ini menjadi seakan-seakan rasional atau yang dinamakan rasionalisasi. Jadi hanya denial dan rasionalisasi, sulit untuk akhirnya bisa menerima bahwa hal ini sungguh terjadi. Yang saya bicarakan adalah tentang teori konspirasi. Teori ini hadir dari pemikiran menghadapi bencana dalam hal ini pandemi dengan cara denial dan rasionalisasi. Hanya mau mendengarkan atau menganggap informasi yang sesuai dengan apa yang mereka pikirkan. Hanya itu yang benar.

Lalu sebenarnya apa yang terjadi pada orang-orang yang masih saja denial dan rasionalisasi? Ada beberapa jebakan mental atau mental trap yang terjadi, yang pertama adalah all or none di mana orang-orang yang hanya berpikir hitam-putih. Kalau tidak hitam ya putih, tidak ada area abu-abu di sana. Kalau tidak sukses ya gagal, kalau tidak normal ya sekalian saja menganggap bencana ini buruk. Mereka melakukan filter mental, hanya hal-hal yang mendukung pemikirannya, hanya hal-hal yang ingin mereka dengar saja yang kemudian dipercayai.

Kedua hal di atas membentuk teori konspirasi. Sebetulnya itu adalah upaya untuk membuat dirinya survive atau bertahan, karena biasanya orang-orang yang berpikir seperti ini cenderung mempunyai tingkat kerentanan kecemasan yang tinggi. Mungkin saja menampilkan sesuatu yang berkebalikan, di mana dia berani, di mana dia tidak pernah takut tetapi sesungguhnya di dalam bawah sadarnya merasakan kecemasan yang luar biasa.

Tipe Kecemasan

Seperti sebelumnya pernah saya bicarakan, kecemasan itu ada yang sifatnya precrustination dan procrustination. Precrustination adalah bereaksi dengan terlalu cepat dan tergesa-gesa. Maka saya tidak kaget juga kalau ternyata orang-orang yang sekarang mendukung teori konspirasi ketika awal pandemi dulu pernah mengalami serangan panik, kecemasan dan psikosomatis akibat perilaku terlalu tergesa-gesa, mengambil beberapa informasi secara ceroboh dan merasa dunia ini akan segera kiamat. Tetapi kemudian mereka mencoba survive dengan cara melakukan hal-hal sebaliknya. Hal penting yang saya ingin bicarakan di sini adalah ada juga tipe kecemasan procrustination, lambat dalam bereaksi. Ketika kita terbuai tentang—saya tidak menginginkan new normal tetapi normal sepenuhnya—lagi-lagi sayangnya dunia ini tidak berubah hanya dengan mengubah pikiran kita.

Jadilah kemudian kita merasa santai, tidak melakukan protokol kesehatan. Ini yang belakangan sering saya temui di tempat praktik saya, yaitu orang yang terlambat bereaksi dan menyadari sesungguhnya dunia tidak seperti yang dia pikirkan. Makin ke belakang makin banyak saya temui orang-orang yang mempunyai kenalan dan keluarga yang meninggal ataupun sakit berat karena virus Corona. Mereka kemudian tersadarkan bahwa ternyata situasi sekarang tidak seperti yang ia pikirkan, dan itu memicu kecemasan tipe procrustination.

Kemudian muncul penyesalan yang mengakibatkan keguncangan dalam kejiwaannya. Inilah yang oleh Kubler Ros dinamakan fase depression atau depresi, di mana kenyataan ternyata tidak sesuai dengan harapan. Kita harus benar-benar menanamkan bahwa sebenarnya tidak pernah ada situasi atau orang yang bisa menyakiti kita. Yang menyakiti kita hanyalah harapan. Marilah kita buat harapan yang rasional, mari kita memilah-milah informasi, belajar berpikir bahwa tidak ada yang sepenuhnya benar dan tidak  ada yang sepenuhnya salah, tidak ada yang sepenuhnya buruk ataupun tidak ada yang sepenuhnya baik.

Senantiasa berada di area abu-abu, seperti kata orang Bali kodrat manusia adalah Boya Je Dewa, Boya Je Bhuta. Ketika kita merasa diri sudah sangat normal, kita sudah aman itu ibaratnya kita menjadi dewa dan ketika kita terlalu cemas, terlalu berpikiran buruk dan terlalu pesimis kita menjadi bhuta. Yang terbaik adalah tetap menjadi manusia.

Keteladanan

Kunci kesehatan jiwa adalah soal fleksibilitas atau kelenturan kita dalam menghadapi sesuatu. Ketika kita terlalu abai mari lebih peduli, kita terlalu cemas mari kita belajar bodo amat. Daripada kita berfokus pada orang-orang yang tidak memberikan keteladanan, saya ingin melihat salah satu musisi Bali yang luar biasa. dari sejak awal bereaksi dengan sangat baik dan menunjukkan kepedulian  dan keteladanan. Dia adalah  Robi Navicula. Berbeda dari kebanyakan musisi Bali, dia sejak awal berani lantang bersuara tentang lingkungan hidup, tentang budaya Bali dan juga kali ini saat menghadapi pandemi.

Dari yang saya lihat, dia bisa menertawakan keabaian teori-teori konspirasi dan lebih fokus pada masa kini dengan melakukan tindakan nyata dengan menggalang charity, fokus pada produk-produk pertanian dan tidak hanya mengeluh tentang kesulitan dunia hiburan dan pariwisata yang terjadi dan juga dialami. Perlu lebih banyak orang seperti Robi Navicula sehingga tidak ada cap bahwa orang Bali hanya peduli pada pariwisata, hanya bisa mengeluh dan menipu diri dengan menjalankan teori konspirasi. Semoga kita semua berada dalam keadaan mantap jiwa dan raga sampai pandemi berakhir dan kita bisa menemukan makna menjadi diri kita yang lebih baik.

Tags: covid 19kesehatankesehatan jiwapandemi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bhagavad Gita Versi Jawa Kuno, Guru Made Menaka & Ida Pedanda Made Sidemen (1)

Next Post

Apakah Kita Membenci India?

dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ

dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ

Psikiater di Klinik Utama Sudirman Medical Center (SMC) Denpasar, Founder Rumah Berdaya, Pegiat kesehatan jiwa di Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI) simpul Bali dan Komunitas Teman Baik

Related Posts

Pertemuan William James dan Vivekananda

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
0
Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

Read moreDetails

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails

Wisata Bahari di Negeri Maritim

by Chusmeru
May 31, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BERUNTUNG Indonesia memiliki alam yang penuh pesona. Laut menjadi salah satu kekayaan alam yang membanggakan. Luas wilayah laut Indonesia mencapai...

Read moreDetails

FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

by Agung Sudarsa
May 31, 2026
0
FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

Dari Kegelisahan Menuju Gerakan Moral BALI sedang berada pada persimpangan zaman. Di satu sisi, pulau ini menikmati pertumbuhan ekonomi yang...

Read moreDetails
Next Post
Apakah Kita Membenci India?

Apakah Kita Membenci India?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten
Tualang

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa
Bahasa

Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa

DOKTER Gia Pratama (dr. Gia) —seorang dokter dan penulis yang aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat dalam dunia kesehatan—pernah...

by I Made Sudiana
June 3, 2026
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah
Khas

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral
Panggung

Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng....

by Komang Sujana
June 3, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan
Panggung

‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif
Panggung

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Pertemuan William James dan Vivekananda
Esai

Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
Khas

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co