12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Apakah Kita Membenci India?

I Gusti Agung Paramita by I Gusti Agung Paramita
July 31, 2020
in Opini
Apakah Kita Membenci India?

Lukisan I Ketut Suwidiarta

Jika membaca sedikit tentang sejarah, kita tak punya alasan kuat untuk membenci India—dan apapun yang berbau India. Jadi sebenarnya tidak relevan lagi membuat klasifikasi, sekaligus membenturkan Hindu Bali dan Hindu India—lalu mengarahkan amarah terhadap persoalan yang saat ini ada di Bali ke Hindu India. Pembentukan identitas Hindu di India melalui proses yang rumit, begitu juga Hindu di Indonesia. Sulit kita mengidentifikasi diri secara demarkatif dan tegas seperti ini. Karena—sekali lagi—saya pernah menulis juga; bahwa pembentukan identitas Hindu di Indonesia melalui proses genius sintesis. Tentu kita pasti sepakat untuk selalu menjaga genius sintesis ini.

Saya ingin kembali membahas hubungan antara India dan Bali—yang lebih puitis—untuk menurunkan tensi panas kita. Karena menurut saya, India dan Bali justru pernah memiliki nasib yang sama; pernah berada di bawah tekanan dan tuduhan agama-agama abrahamik. Jika di India sana, tekanan agama abrahamik ini menghasilkan sebuah gerakan-gerakan neo-Hindu, di Bali khususnya dan Indonesia pada umumnya, tekanan tersebut menghasilkan komfromi melalui proses genius sintesis. Ini menarik kita bahas.

Gencarnya Kristenisasi dan merebaknya gaya hidup barat di India sejak masa penjajahan Inggris, memicu sikap reaktif Raja Ram Mohun Roy untuk mendirikan sebuah Brahma-Sabha (Komunitas Satu Tuhan)—sejenis komunitas agama baru yang berusaha membuktikan bahwa agama Kristen tidak menawarkan sesuatu yang baru—yang tidak hadir dalam tradisi India. Ia menegaskan, meskipun takayul, penyembahan berhala memang perlu disikapi, namun tidak menjadi keharusan orang India memeluk agama Kristen. Orang India bisa menemukan agama yang murni dalam diri mereka sendiri.

Berangkat dari semangat inilah ia mendirikan Brahmo Samaj—sekaligus membuktikan kepada para teolog dan misionaris Kristen bahwa agama yang mereka anut sudah terkandung dalam teks-teks Upanisad. Ajaran-ajaran mereka sudah terkandung dalam kitab ini. Gerakan keagamaan ini juga mempengaruhi seorang Devendranath Tagore untuk ikut memimpin Brahmo Samaj. Devendranath Tagore ini adalah ayah dari penyair, sastrawan, dan filsuf terkenal Rabindranath Tagore.

Tidak hanya Brahmo Samaj—konstelasi politik keagamaan di India juga menghasilkan gerakan yang dikenal dengan Arya Samaj. Gerakan ini diciptakan oleh Swami Dayananda Saraswati pada tahun 1875 yang mendasarkan diri pada Veda. Menurut Bhattacharyya dalam Indian Religious Historiography, awalnya memang Dayananda memasukkan Upanisads, tetapi ketika ditunjukkan bahwa Upanisad sendiri menolak autoritas dari Veda sebagai wahyu tertinggi dan satu-satunya, Dayananda mengubah pandangannya dan hanya mengandalkan Rg Veda.

Yang menarik dari Dayananda adalah ketika ia menyadari lemahnya gerakan Hindu di India dan tergerak oleh semangat militan Kristen Evangelis dan proposisi dakwah Islam untuk menciptakan dan menumbuhkan militansi yang sama dalam agama Hindu itu sendiri.

Tak hanya itu, muncul juga nama Swami Vivekananda (1863-1902)—yang oleh Martin Ramtedt—disebut sebagai yang ketiga dari reformasi besar Hindu—untuk kebangkitan Hindu. Ia dianggap berhasil menyebarkan ke dunia keutamaan dan visi Hinduisme modern yang monoteistik dan inklusif di Parlemen Agama Dunia di Chicago. Ia kemudian mendirikan Ramakrisna Mission. Di sini bisa dikatakan, pengaruh agama-agama abrahamik terhadap gerakan neo-Hindu bisa terlihat jelas.

Lalu apa ada hubungan dengan Indonesia atau Bali? Ada. Karena cara pandang gerakan neo-Hindu inilah yang turut mewarnai dinamika Hindu di Indonesia. Meskipun harus diakui juga, telah lahir persahabatan antara India dan Bali.

 Pada tahun 1948 India mengadakan konferensi Negara-negara Asia untuk memprotes kembalinya penjajahan Belanda ke Indonesia dan Bali khususnya. Di samping itu, Nehru adalah kepala negara asing pertama yang mengunjungi Indonesia merdeka pada tahun 1950.

India dan Indonesia juga terikat pada perjanjian budaya.  Indian Council and Cultural Relations saat itu mulai memberikan beasiswa bagi siswa Indonesia yang belajar ke India. Beberapa orang Bali memanfaatkan kesempatan ini  dan terdaftar di Shantiniketan Vishva Bharaty, Universitas Hindu Banares, dan Akademi Kebudayaan India Internasional. Saya tidak sebut para pendahulu kita yang pernah belajar ke India. Tapi buku-buku mereka pernah kita baca juga.

Tak hanya itu, seorang misionaris Arya Samaj, Narendra Dev Pandit Shastri juga datang ke Bali. Ia bahkan memiliki istri di Bali dan tinggal seumur hidup. Ia juga menerbitkan Intisari Hindu Dharma. Terbitan ini—oleh Ramstedt—berfungsi sebagai cetak biru reformulasi teologi dan ritual Bali di sepanjang garis neo-Hindu. Pandit Shastri juga menulis Dasa Sila Agama Bali dan Sejarah Bali Dwipa. Sampai pada tahun 1961, Hindu Dharma akhirnya menjadi salah satu dari lima agama yang dianut oleh orang Indonesia.

Seperti kita ketahui, ketika orang Bali dianggap menjalankan praktik animisme, dan tidak diakui sebagai agama—sampai Departemen Agama yang didominasi Muslim gagal juga mengakui agama Bali sebagai agama, akhirnya terjadi reformasi agama dan budaya. Mereka tentu saja melakukan konfirmasi nilai ke India, mencari rumusan yang sesuai permintaan pemerintah saat itu.

Di sini sebenarnya ada titik temu antara kebutuhan penyesuaian rumusan agama versi Negara dan munculnya gerakan neo Hindu yang sudah melakukan penyesuaian melalui reformasi besar di India. Termasuk masuknya aliran-aliran keagamaan seperti Sai Baba dan Hare Krisna, diuntungkan oleh kondisi politik di Indonesia.

Di sisi lain ada fakta berbeda: di luar Bali banyak juga umat Hindu—baik itu yang berasal dari Jawa, Sulawesi, Sumatra atau orang Bali yang merantau karena tugas Negara merasakan tekanan agama mayoritas ketika menjalankan praktik keagamaan yang ritualistik. Para perantau dan kaum urban inilah yang akhirnya banyak memilih mengikuti gerakan-gerakan keagamaan semacam itu—karena selain praktis, juga dianggap lebih aman dijalankan daripada praktik agama seperti yang dilakukan di tempat asal mereka.

Dan di sini, pemerintah sering belum mampu melindungi agama minoritas yang tertekan. Sekali lagi: ini persoalan lain—yang mesti direspon serius oleh tokoh-tokoh agama kita.

Ada lagi: kita belum serius menggarap Hindu Nusantara, karena sering kali juga ada keluhan tentang Balinisasi dan Indianisasi di luar sana. Padahal, umat Hindu luar Bali yang memilih memeluk Hindu pasca 1965, sedang melaksanakan “proyek diri” yakni mencari identitas kehinduan yang pas untuk mereka. Tentu kita perlu mendukung proses tersebut, jika benar-benar pro Hindu Nusantara.

“Kecelakaan” selanjutnya adalah kaum urban kota yang lama hidup di luar Bali dan mengikuti gerakan keagamaan (berbau neo-Hindu) ketika datang ke Bali melakukan tuduhan seolah-olah aktivitas keagamaan di Bali rumit, biaya mahal, dan kurang efisien.

Tuduhan ini, meski tak langsung, turut berpengaruh pada konversi internal di Bali dan akhirnya ikut dalam aliran-aliran keagaman semacam itu. Padahal, tuduhan mereka hanya karena mereka gagal memahami praktik agama di Bali—sama seperti gagalnya misionaris Kristen memahami Bali. Aksi sistematis sampai menyentuh buku-buku agama dari tingkat sekolah dasar yang membawa misi khusus juga mempekeruh suasana.

Belum lagi, muncul seorang pejabat publik yang oportunis lalu mengeksploitasi isu-isu ini demi kepentingan politik. Bahkan saat ini ia malah mengolok diri dengan menyebut dirinya: Hindu Bali, setelah videonya beredar ke publik.

Saya hanya mencoba melihat sisi lain dari kisruh ini. Selain memang menyarankan para tokoh dan pejabat publik di Bali untuk rekonsiliasi—bukan malah memprovokasi memanaskan suasana dengan mengaku Hindu Bali, padahal di sana mengaku seorang bhakta. Saya berharap para tokoh menyelesaikan persoalan ini dengan cara-cara yang intelek, prosedural, dan mengedepankan musyawarah mufakat.

Kita pernah punya pengalaman pahit soal politik; aksi puputan, pembunuhan massal pada tahun 1965 yang penyebabnya masih misterius, kerusuhan politik pasca reformasi, dan saat ini ada problem besar; ambyarnya ekonomi akibat ambruknya pariwisata Bali karena covid-19. Banyak yang diputus kerja, dirumahkan, dan dalam keadaan yang sulit. Jangan sampai kisruh ini seperti api dalam sekam; karena dalam keadaan krisis ekonomi, akan muncul krisis-krisis lain yang lebih berbahaya.

Tabik

I Gusti Agung Paramita

Lukisan: I Ketut IKetut Suwidiarta

Tags: balihinduindia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Berhenti Membicarakan Pandemi

Next Post

Memahami Penularan Penyakit Infeksi

I Gusti Agung Paramita

I Gusti Agung Paramita

Pengajar di FIAK Unhi Denpasar

Related Posts

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

Read moreDetails

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
0
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

Read moreDetails

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
0
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

Read moreDetails

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

Read moreDetails

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

Read moreDetails

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
0
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

Read moreDetails

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026
0
Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering...

Read moreDetails

Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

by I Ketut Suar Adnyana
August 23, 2026
0
Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

IRONI yang sulit diterima ketika seseorang yang berdiri di puncak lembaga pendidikan justru berhadapan dengan hukum karena dugaan praktik yang...

Read moreDetails

Pewarisan di Persimpangan Konstitusi: Tantangan Hukum Waris Indonesia Pasca Putusan MK

by I Made Pria Dharsana
August 19, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

KEMATIAN seseorang seharusnya mengakhiri kehidupan, bukan memulai ketidakpastian hukum bagi keluarganya. Namun dalam praktik hukum Indonesia, kematian justru kerap menjadi...

Read moreDetails

“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

by Luh Putu Sendratari
August 12, 2026
0
“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

ADA hasil percakapan yang masih mengusik ingatan penulis sampai saat ini, ketika 5 tahun yang lalu bercakap dalam suatu wawancara...

Read moreDetails
Next Post
Hal-hal Lucu Saat Wabah Covid-19

Memahami Penularan Penyakit Infeksi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co