23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Apakah Kita Membenci India?

I Gusti Agung Paramita by I Gusti Agung Paramita
July 31, 2020
in Opini
Apakah Kita Membenci India?

Lukisan I Ketut Suwidiarta

Jika membaca sedikit tentang sejarah, kita tak punya alasan kuat untuk membenci India—dan apapun yang berbau India. Jadi sebenarnya tidak relevan lagi membuat klasifikasi, sekaligus membenturkan Hindu Bali dan Hindu India—lalu mengarahkan amarah terhadap persoalan yang saat ini ada di Bali ke Hindu India. Pembentukan identitas Hindu di India melalui proses yang rumit, begitu juga Hindu di Indonesia. Sulit kita mengidentifikasi diri secara demarkatif dan tegas seperti ini. Karena—sekali lagi—saya pernah menulis juga; bahwa pembentukan identitas Hindu di Indonesia melalui proses genius sintesis. Tentu kita pasti sepakat untuk selalu menjaga genius sintesis ini.

Saya ingin kembali membahas hubungan antara India dan Bali—yang lebih puitis—untuk menurunkan tensi panas kita. Karena menurut saya, India dan Bali justru pernah memiliki nasib yang sama; pernah berada di bawah tekanan dan tuduhan agama-agama abrahamik. Jika di India sana, tekanan agama abrahamik ini menghasilkan sebuah gerakan-gerakan neo-Hindu, di Bali khususnya dan Indonesia pada umumnya, tekanan tersebut menghasilkan komfromi melalui proses genius sintesis. Ini menarik kita bahas.

Gencarnya Kristenisasi dan merebaknya gaya hidup barat di India sejak masa penjajahan Inggris, memicu sikap reaktif Raja Ram Mohun Roy untuk mendirikan sebuah Brahma-Sabha (Komunitas Satu Tuhan)—sejenis komunitas agama baru yang berusaha membuktikan bahwa agama Kristen tidak menawarkan sesuatu yang baru—yang tidak hadir dalam tradisi India. Ia menegaskan, meskipun takayul, penyembahan berhala memang perlu disikapi, namun tidak menjadi keharusan orang India memeluk agama Kristen. Orang India bisa menemukan agama yang murni dalam diri mereka sendiri.

Berangkat dari semangat inilah ia mendirikan Brahmo Samaj—sekaligus membuktikan kepada para teolog dan misionaris Kristen bahwa agama yang mereka anut sudah terkandung dalam teks-teks Upanisad. Ajaran-ajaran mereka sudah terkandung dalam kitab ini. Gerakan keagamaan ini juga mempengaruhi seorang Devendranath Tagore untuk ikut memimpin Brahmo Samaj. Devendranath Tagore ini adalah ayah dari penyair, sastrawan, dan filsuf terkenal Rabindranath Tagore.

Tidak hanya Brahmo Samaj—konstelasi politik keagamaan di India juga menghasilkan gerakan yang dikenal dengan Arya Samaj. Gerakan ini diciptakan oleh Swami Dayananda Saraswati pada tahun 1875 yang mendasarkan diri pada Veda. Menurut Bhattacharyya dalam Indian Religious Historiography, awalnya memang Dayananda memasukkan Upanisads, tetapi ketika ditunjukkan bahwa Upanisad sendiri menolak autoritas dari Veda sebagai wahyu tertinggi dan satu-satunya, Dayananda mengubah pandangannya dan hanya mengandalkan Rg Veda.

Yang menarik dari Dayananda adalah ketika ia menyadari lemahnya gerakan Hindu di India dan tergerak oleh semangat militan Kristen Evangelis dan proposisi dakwah Islam untuk menciptakan dan menumbuhkan militansi yang sama dalam agama Hindu itu sendiri.

Tak hanya itu, muncul juga nama Swami Vivekananda (1863-1902)—yang oleh Martin Ramtedt—disebut sebagai yang ketiga dari reformasi besar Hindu—untuk kebangkitan Hindu. Ia dianggap berhasil menyebarkan ke dunia keutamaan dan visi Hinduisme modern yang monoteistik dan inklusif di Parlemen Agama Dunia di Chicago. Ia kemudian mendirikan Ramakrisna Mission. Di sini bisa dikatakan, pengaruh agama-agama abrahamik terhadap gerakan neo-Hindu bisa terlihat jelas.

Lalu apa ada hubungan dengan Indonesia atau Bali? Ada. Karena cara pandang gerakan neo-Hindu inilah yang turut mewarnai dinamika Hindu di Indonesia. Meskipun harus diakui juga, telah lahir persahabatan antara India dan Bali.

 Pada tahun 1948 India mengadakan konferensi Negara-negara Asia untuk memprotes kembalinya penjajahan Belanda ke Indonesia dan Bali khususnya. Di samping itu, Nehru adalah kepala negara asing pertama yang mengunjungi Indonesia merdeka pada tahun 1950.

India dan Indonesia juga terikat pada perjanjian budaya.  Indian Council and Cultural Relations saat itu mulai memberikan beasiswa bagi siswa Indonesia yang belajar ke India. Beberapa orang Bali memanfaatkan kesempatan ini  dan terdaftar di Shantiniketan Vishva Bharaty, Universitas Hindu Banares, dan Akademi Kebudayaan India Internasional. Saya tidak sebut para pendahulu kita yang pernah belajar ke India. Tapi buku-buku mereka pernah kita baca juga.

Tak hanya itu, seorang misionaris Arya Samaj, Narendra Dev Pandit Shastri juga datang ke Bali. Ia bahkan memiliki istri di Bali dan tinggal seumur hidup. Ia juga menerbitkan Intisari Hindu Dharma. Terbitan ini—oleh Ramstedt—berfungsi sebagai cetak biru reformulasi teologi dan ritual Bali di sepanjang garis neo-Hindu. Pandit Shastri juga menulis Dasa Sila Agama Bali dan Sejarah Bali Dwipa. Sampai pada tahun 1961, Hindu Dharma akhirnya menjadi salah satu dari lima agama yang dianut oleh orang Indonesia.

Seperti kita ketahui, ketika orang Bali dianggap menjalankan praktik animisme, dan tidak diakui sebagai agama—sampai Departemen Agama yang didominasi Muslim gagal juga mengakui agama Bali sebagai agama, akhirnya terjadi reformasi agama dan budaya. Mereka tentu saja melakukan konfirmasi nilai ke India, mencari rumusan yang sesuai permintaan pemerintah saat itu.

Di sini sebenarnya ada titik temu antara kebutuhan penyesuaian rumusan agama versi Negara dan munculnya gerakan neo Hindu yang sudah melakukan penyesuaian melalui reformasi besar di India. Termasuk masuknya aliran-aliran keagamaan seperti Sai Baba dan Hare Krisna, diuntungkan oleh kondisi politik di Indonesia.

Di sisi lain ada fakta berbeda: di luar Bali banyak juga umat Hindu—baik itu yang berasal dari Jawa, Sulawesi, Sumatra atau orang Bali yang merantau karena tugas Negara merasakan tekanan agama mayoritas ketika menjalankan praktik keagamaan yang ritualistik. Para perantau dan kaum urban inilah yang akhirnya banyak memilih mengikuti gerakan-gerakan keagamaan semacam itu—karena selain praktis, juga dianggap lebih aman dijalankan daripada praktik agama seperti yang dilakukan di tempat asal mereka.

Dan di sini, pemerintah sering belum mampu melindungi agama minoritas yang tertekan. Sekali lagi: ini persoalan lain—yang mesti direspon serius oleh tokoh-tokoh agama kita.

Ada lagi: kita belum serius menggarap Hindu Nusantara, karena sering kali juga ada keluhan tentang Balinisasi dan Indianisasi di luar sana. Padahal, umat Hindu luar Bali yang memilih memeluk Hindu pasca 1965, sedang melaksanakan “proyek diri” yakni mencari identitas kehinduan yang pas untuk mereka. Tentu kita perlu mendukung proses tersebut, jika benar-benar pro Hindu Nusantara.

“Kecelakaan” selanjutnya adalah kaum urban kota yang lama hidup di luar Bali dan mengikuti gerakan keagamaan (berbau neo-Hindu) ketika datang ke Bali melakukan tuduhan seolah-olah aktivitas keagamaan di Bali rumit, biaya mahal, dan kurang efisien.

Tuduhan ini, meski tak langsung, turut berpengaruh pada konversi internal di Bali dan akhirnya ikut dalam aliran-aliran keagaman semacam itu. Padahal, tuduhan mereka hanya karena mereka gagal memahami praktik agama di Bali—sama seperti gagalnya misionaris Kristen memahami Bali. Aksi sistematis sampai menyentuh buku-buku agama dari tingkat sekolah dasar yang membawa misi khusus juga mempekeruh suasana.

Belum lagi, muncul seorang pejabat publik yang oportunis lalu mengeksploitasi isu-isu ini demi kepentingan politik. Bahkan saat ini ia malah mengolok diri dengan menyebut dirinya: Hindu Bali, setelah videonya beredar ke publik.

Saya hanya mencoba melihat sisi lain dari kisruh ini. Selain memang menyarankan para tokoh dan pejabat publik di Bali untuk rekonsiliasi—bukan malah memprovokasi memanaskan suasana dengan mengaku Hindu Bali, padahal di sana mengaku seorang bhakta. Saya berharap para tokoh menyelesaikan persoalan ini dengan cara-cara yang intelek, prosedural, dan mengedepankan musyawarah mufakat.

Kita pernah punya pengalaman pahit soal politik; aksi puputan, pembunuhan massal pada tahun 1965 yang penyebabnya masih misterius, kerusuhan politik pasca reformasi, dan saat ini ada problem besar; ambyarnya ekonomi akibat ambruknya pariwisata Bali karena covid-19. Banyak yang diputus kerja, dirumahkan, dan dalam keadaan yang sulit. Jangan sampai kisruh ini seperti api dalam sekam; karena dalam keadaan krisis ekonomi, akan muncul krisis-krisis lain yang lebih berbahaya.

Tabik

I Gusti Agung Paramita

Lukisan: I Ketut IKetut Suwidiarta

Tags: balihinduindia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Berhenti Membicarakan Pandemi

Next Post

Memahami Penularan Penyakit Infeksi

I Gusti Agung Paramita

I Gusti Agung Paramita

Pengajar di FIAK Unhi Denpasar

Related Posts

Sertifikat Ganda dan Pertanyaan yang Tak Kunjung Terjawab  —Dokumen Negara Bisa Dipalsukan, Menutup Celah Mafia Tanah

by I Made Pria Dharsana
June 19, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DI tengah modernisasi layanan pertanahan dan penerapan sertifikat elektronik, kasus sertifikat palsu dan sertifikat ganda masih terus bermunculan. Fenomena ini...

Read moreDetails

Klausula ADR Pada PPJB Belum Lunas dan Akta Jual Beli PPAT

by I Made Pria Dharsana
June 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

APA yang paling dikhawatirkan oleh para pebisnis atau penanam modal di Indonesia selama era  reformasi bukan pada keamanan akan tetapi...

Read moreDetails

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

Read moreDetails

Rekonstruksi Hak Waris dalam Perkawinan Beda Agama: Perspektif Hukum Keluarga dan Agraria

by I Made Pria Dharsana
May 27, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

HUKUM seringkali berbicara dalam bahasa kepastian, tetapi realitas sosial tidak selalu berjalan dalam garis yang sama. Perkawinan beda agama menjadi...

Read moreDetails

Koperasi Merah Putih: Mengulang Jejak KUD, Menabrak BUMDes, atau Membangun Jalan Baru?

by I Made Pria Dharsana
May 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Di tengah semangat membangun kemandirian ekonomi nasional, gagasan Koperasi Merah Putih kembali diangkat sebagai simbol kebangkitan ekonomi rakyat. Ia bukan...

Read moreDetails

Cinta, Hibah, dan Tanah:  Antara Ketulusan dan Batas yang Tak Bisa Ditembus

by I Made Pria Dharsana
May 21, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

CINTA kerap mendorong seseorang untuk memberi tanpa syarat.  Dalam relasi suami-istri, pemberian itu bahkan sering dimaknai sebagai bentuk ketulusan paling tinggi—termasuk...

Read moreDetails

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

Read moreDetails

MKN Bukan Tameng Impunitas: Notaris Berintegritas, Penegak Hukum  Taati Prosedur

by I Made Pria Dharsana
May 9, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

MAHKAMAH Konstitusi melalui Putusan Nomor 65/PUU-XXIV/2026 menegaskan bahwa persetujuan Majelis Kehormatan Notaris (MKN) sebagaimana diatur dalam Pasal 66 Undang-Undang Nomor...

Read moreDetails

Menguji Batas Tanggung Jawab Terbatas:  ‘Piercing the Corporate Veil’ dalam Sengketa Kepemilikan dan Pengalihan Saham

by I Made Pria Dharsana
May 7, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM rezim hukum Perseroan Terbatas sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, prinsip tanggung jawab terbatas...

Read moreDetails

Kapan Pejabat BGN Meresmikan MBG Khusus Pesantren di Bali?

by KH Ketut Imaduddin Jamal
May 2, 2026
0
Kapan Pejabat BGN Meresmikan MBG Khusus Pesantren di Bali?

ADA satu penyakit lama dalam kebijakan publik kita: negara sering merasa telah bekerja hanya karena program sudah diumumkan, anggaran sudah...

Read moreDetails
Next Post
Hal-hal Lucu Saat Wabah Covid-19

Memahami Penularan Penyakit Infeksi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026

DRAMA gong ternyata masih memiliki tempat di hati masyarakat Bali. Hal itu terlihat saat Sanggar Seni Nong Nong Kling dari...

by Nyoman Budarsana
June 23, 2026
Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara
Budaya

Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara

SINGARAJA – TATKALA.CO | Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra mendukung terselenggaranya Singaraja Literary Festival (SLF) ke-4 tahun 2026 yang diadakan...

by tatkala
June 23, 2026
Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng
Khas

Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng

PETANI garam dan musim panas ibarat dua sejoli yang saling merindukan. Setelah berbulan-bulan berpisah oleh hujan, mendung, dan gelombang yang...

by Nyoman Nadiana
June 23, 2026
’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co