24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Apakah Kita Membenci India?

I Gusti Agung Paramita by I Gusti Agung Paramita
July 31, 2020
in Opini
Apakah Kita Membenci India?

Lukisan I Ketut Suwidiarta

Jika membaca sedikit tentang sejarah, kita tak punya alasan kuat untuk membenci India—dan apapun yang berbau India. Jadi sebenarnya tidak relevan lagi membuat klasifikasi, sekaligus membenturkan Hindu Bali dan Hindu India—lalu mengarahkan amarah terhadap persoalan yang saat ini ada di Bali ke Hindu India. Pembentukan identitas Hindu di India melalui proses yang rumit, begitu juga Hindu di Indonesia. Sulit kita mengidentifikasi diri secara demarkatif dan tegas seperti ini. Karena—sekali lagi—saya pernah menulis juga; bahwa pembentukan identitas Hindu di Indonesia melalui proses genius sintesis. Tentu kita pasti sepakat untuk selalu menjaga genius sintesis ini.

Saya ingin kembali membahas hubungan antara India dan Bali—yang lebih puitis—untuk menurunkan tensi panas kita. Karena menurut saya, India dan Bali justru pernah memiliki nasib yang sama; pernah berada di bawah tekanan dan tuduhan agama-agama abrahamik. Jika di India sana, tekanan agama abrahamik ini menghasilkan sebuah gerakan-gerakan neo-Hindu, di Bali khususnya dan Indonesia pada umumnya, tekanan tersebut menghasilkan komfromi melalui proses genius sintesis. Ini menarik kita bahas.

Gencarnya Kristenisasi dan merebaknya gaya hidup barat di India sejak masa penjajahan Inggris, memicu sikap reaktif Raja Ram Mohun Roy untuk mendirikan sebuah Brahma-Sabha (Komunitas Satu Tuhan)—sejenis komunitas agama baru yang berusaha membuktikan bahwa agama Kristen tidak menawarkan sesuatu yang baru—yang tidak hadir dalam tradisi India. Ia menegaskan, meskipun takayul, penyembahan berhala memang perlu disikapi, namun tidak menjadi keharusan orang India memeluk agama Kristen. Orang India bisa menemukan agama yang murni dalam diri mereka sendiri.

Berangkat dari semangat inilah ia mendirikan Brahmo Samaj—sekaligus membuktikan kepada para teolog dan misionaris Kristen bahwa agama yang mereka anut sudah terkandung dalam teks-teks Upanisad. Ajaran-ajaran mereka sudah terkandung dalam kitab ini. Gerakan keagamaan ini juga mempengaruhi seorang Devendranath Tagore untuk ikut memimpin Brahmo Samaj. Devendranath Tagore ini adalah ayah dari penyair, sastrawan, dan filsuf terkenal Rabindranath Tagore.

Tidak hanya Brahmo Samaj—konstelasi politik keagamaan di India juga menghasilkan gerakan yang dikenal dengan Arya Samaj. Gerakan ini diciptakan oleh Swami Dayananda Saraswati pada tahun 1875 yang mendasarkan diri pada Veda. Menurut Bhattacharyya dalam Indian Religious Historiography, awalnya memang Dayananda memasukkan Upanisads, tetapi ketika ditunjukkan bahwa Upanisad sendiri menolak autoritas dari Veda sebagai wahyu tertinggi dan satu-satunya, Dayananda mengubah pandangannya dan hanya mengandalkan Rg Veda.

Yang menarik dari Dayananda adalah ketika ia menyadari lemahnya gerakan Hindu di India dan tergerak oleh semangat militan Kristen Evangelis dan proposisi dakwah Islam untuk menciptakan dan menumbuhkan militansi yang sama dalam agama Hindu itu sendiri.

Tak hanya itu, muncul juga nama Swami Vivekananda (1863-1902)—yang oleh Martin Ramtedt—disebut sebagai yang ketiga dari reformasi besar Hindu—untuk kebangkitan Hindu. Ia dianggap berhasil menyebarkan ke dunia keutamaan dan visi Hinduisme modern yang monoteistik dan inklusif di Parlemen Agama Dunia di Chicago. Ia kemudian mendirikan Ramakrisna Mission. Di sini bisa dikatakan, pengaruh agama-agama abrahamik terhadap gerakan neo-Hindu bisa terlihat jelas.

Lalu apa ada hubungan dengan Indonesia atau Bali? Ada. Karena cara pandang gerakan neo-Hindu inilah yang turut mewarnai dinamika Hindu di Indonesia. Meskipun harus diakui juga, telah lahir persahabatan antara India dan Bali.

 Pada tahun 1948 India mengadakan konferensi Negara-negara Asia untuk memprotes kembalinya penjajahan Belanda ke Indonesia dan Bali khususnya. Di samping itu, Nehru adalah kepala negara asing pertama yang mengunjungi Indonesia merdeka pada tahun 1950.

India dan Indonesia juga terikat pada perjanjian budaya.  Indian Council and Cultural Relations saat itu mulai memberikan beasiswa bagi siswa Indonesia yang belajar ke India. Beberapa orang Bali memanfaatkan kesempatan ini  dan terdaftar di Shantiniketan Vishva Bharaty, Universitas Hindu Banares, dan Akademi Kebudayaan India Internasional. Saya tidak sebut para pendahulu kita yang pernah belajar ke India. Tapi buku-buku mereka pernah kita baca juga.

Tak hanya itu, seorang misionaris Arya Samaj, Narendra Dev Pandit Shastri juga datang ke Bali. Ia bahkan memiliki istri di Bali dan tinggal seumur hidup. Ia juga menerbitkan Intisari Hindu Dharma. Terbitan ini—oleh Ramstedt—berfungsi sebagai cetak biru reformulasi teologi dan ritual Bali di sepanjang garis neo-Hindu. Pandit Shastri juga menulis Dasa Sila Agama Bali dan Sejarah Bali Dwipa. Sampai pada tahun 1961, Hindu Dharma akhirnya menjadi salah satu dari lima agama yang dianut oleh orang Indonesia.

Seperti kita ketahui, ketika orang Bali dianggap menjalankan praktik animisme, dan tidak diakui sebagai agama—sampai Departemen Agama yang didominasi Muslim gagal juga mengakui agama Bali sebagai agama, akhirnya terjadi reformasi agama dan budaya. Mereka tentu saja melakukan konfirmasi nilai ke India, mencari rumusan yang sesuai permintaan pemerintah saat itu.

Di sini sebenarnya ada titik temu antara kebutuhan penyesuaian rumusan agama versi Negara dan munculnya gerakan neo Hindu yang sudah melakukan penyesuaian melalui reformasi besar di India. Termasuk masuknya aliran-aliran keagamaan seperti Sai Baba dan Hare Krisna, diuntungkan oleh kondisi politik di Indonesia.

Di sisi lain ada fakta berbeda: di luar Bali banyak juga umat Hindu—baik itu yang berasal dari Jawa, Sulawesi, Sumatra atau orang Bali yang merantau karena tugas Negara merasakan tekanan agama mayoritas ketika menjalankan praktik keagamaan yang ritualistik. Para perantau dan kaum urban inilah yang akhirnya banyak memilih mengikuti gerakan-gerakan keagamaan semacam itu—karena selain praktis, juga dianggap lebih aman dijalankan daripada praktik agama seperti yang dilakukan di tempat asal mereka.

Dan di sini, pemerintah sering belum mampu melindungi agama minoritas yang tertekan. Sekali lagi: ini persoalan lain—yang mesti direspon serius oleh tokoh-tokoh agama kita.

Ada lagi: kita belum serius menggarap Hindu Nusantara, karena sering kali juga ada keluhan tentang Balinisasi dan Indianisasi di luar sana. Padahal, umat Hindu luar Bali yang memilih memeluk Hindu pasca 1965, sedang melaksanakan “proyek diri” yakni mencari identitas kehinduan yang pas untuk mereka. Tentu kita perlu mendukung proses tersebut, jika benar-benar pro Hindu Nusantara.

“Kecelakaan” selanjutnya adalah kaum urban kota yang lama hidup di luar Bali dan mengikuti gerakan keagamaan (berbau neo-Hindu) ketika datang ke Bali melakukan tuduhan seolah-olah aktivitas keagamaan di Bali rumit, biaya mahal, dan kurang efisien.

Tuduhan ini, meski tak langsung, turut berpengaruh pada konversi internal di Bali dan akhirnya ikut dalam aliran-aliran keagaman semacam itu. Padahal, tuduhan mereka hanya karena mereka gagal memahami praktik agama di Bali—sama seperti gagalnya misionaris Kristen memahami Bali. Aksi sistematis sampai menyentuh buku-buku agama dari tingkat sekolah dasar yang membawa misi khusus juga mempekeruh suasana.

Belum lagi, muncul seorang pejabat publik yang oportunis lalu mengeksploitasi isu-isu ini demi kepentingan politik. Bahkan saat ini ia malah mengolok diri dengan menyebut dirinya: Hindu Bali, setelah videonya beredar ke publik.

Saya hanya mencoba melihat sisi lain dari kisruh ini. Selain memang menyarankan para tokoh dan pejabat publik di Bali untuk rekonsiliasi—bukan malah memprovokasi memanaskan suasana dengan mengaku Hindu Bali, padahal di sana mengaku seorang bhakta. Saya berharap para tokoh menyelesaikan persoalan ini dengan cara-cara yang intelek, prosedural, dan mengedepankan musyawarah mufakat.

Kita pernah punya pengalaman pahit soal politik; aksi puputan, pembunuhan massal pada tahun 1965 yang penyebabnya masih misterius, kerusuhan politik pasca reformasi, dan saat ini ada problem besar; ambyarnya ekonomi akibat ambruknya pariwisata Bali karena covid-19. Banyak yang diputus kerja, dirumahkan, dan dalam keadaan yang sulit. Jangan sampai kisruh ini seperti api dalam sekam; karena dalam keadaan krisis ekonomi, akan muncul krisis-krisis lain yang lebih berbahaya.

Tabik

I Gusti Agung Paramita

Lukisan: I Ketut IKetut Suwidiarta

Tags: balihinduindia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Berhenti Membicarakan Pandemi

Next Post

Memahami Penularan Penyakit Infeksi

I Gusti Agung Paramita

I Gusti Agung Paramita

Pengajar di FIAK Unhi Denpasar

Related Posts

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

Read moreDetails

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

Read moreDetails

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

Read moreDetails

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
0
Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

Read moreDetails

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
0
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

Read moreDetails

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

Read moreDetails

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails
Next Post
Hal-hal Lucu Saat Wabah Covid-19

Memahami Penularan Penyakit Infeksi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co