23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Memaknai Kata “Terserah” Dari Kacamata Kesehatan Jiwa

dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ by dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ
May 22, 2020
in Esai
Ketidakpastian Pandemi: Dukungan Psikososial Vs Teori Konspirasi

Ilustrasi tatkala.co | Nana Partha

Belakangan ini, kata yang cukup favorit terdengar dan dibaca di media massa adalah “terserah”. Banyak yang kemudian bereaksi terutama tenaga medis, “Indonesia terserahlah, mau ngapain juga”. Kalau dalam kehidupan sehari-hari, ini kata yang paling sulit dimengerti kalau pacar, istri atau pasangan kita yang mengatakan seperti itu.

“Ayo, di mana dong kita makan? Terserah”, “Kita mau ngapain hari ini? Terserah”. “Enaknya saya pakai baju apa? Terserah”.

Kata “terserah” ini sebetulnnya hal yang misteri sampai sekarang bagi kebanyakan laki-laki. Maksudnya apa? Kurang lebih, seperti itulah yang dirasakan ketika masa pandemi saat ini jika ada yang bereaksi dengan berkata “terserah”

Bisa jadi itu adalah reaksi rasa kesal, rasa marah, rasa jengkel, tidak ingin berdiskusi lagi tentang hal itu atau membicarakan lagi hal itu karena dirasakan sudah stuck. Tapi yang lebih sering terjadi, kata “terserah” itu bukan berarti menyerahkan pada diri kita dalam arti yang sesungguhnya.

Ketika kita ngajakin makan dan jawabannya adalah “terserah”, lalu kitalah yang menentukan sendiri, maka pada akhirnya orang yang mengatakan “terserah” itu akan lebih marah lagi. Jadi ini ambigu sekali, mengandung banyak arti. Tetapi okelah, itu salah satu cara mengekspresikan rasa kesal, sama halnya ketika seseorang sudah melakukan hal yang maksimal, hal yang bahkan diluar kemampuannya.

Tetapi ternyata orang lain tidak merasa menghargai hal itu. Kemudian orang, pasangan atau siapapun merasa tidak mengenali dan memahami bahwa yang bersangkutan melakukan sesuatu yang luar biasa. Dan ia atau mereka tetap berlaku seenaknya.

Hati-hati, ketika kita tidak berusaha memahami atau mengerti hal itu kata “terserah” ini pada akhirnya bisa jadi bermakna terserah beneran atau menyerah. Dan kita tentu tidak ingin melakukan hal tersebut.

Responsif

Dalam sisi kesehatan jiwa, reaksi apa pun yang diekspresikan dengan cara apa pun adalah sesuatu yang wajar, umum, dan normal dilakukan serta baik untuk kesehatan diri kita. Tetapi, berikutnya akan lebih baik ketika kita melakukan bukan reaksi tapi responsif. Sesuatu yang betul-betul kita rencanakan dengan tujuan tertentu.

Sekali waktu jengkel, marah itu adalah hal biasa. Bisa kita ungkapkan, tetapi kita lanjutkan dengan respon bukan lagi reaksi. Lalu apa nih hubungannya pada keadaan saat ini? Ketika di masa pandemi seperti sekarang ini tiba-tiba masyarakat mengalami euforia, terutama di saat hari raya seperti sekarang. Itu juga reaksi, yang tadinya di rumah lalu mendapat Tunjangan Hari raya (THR) kemudian keluar, merasakan euforia, itu namanya reaksi dan itu bukan merupakan sesuatu yang cukup baik.

Keleluasaan dan Pembatasan

Sama buruknya dengan misalnya kata “terserah” tadi. Mari kita belajar merespon, merencanakan, “apa nih yang kita bisa kita lakukan?” Orang mendengungkan the new normal. Saya tidak benar-benar setuju dengan kata-kata the new normal ini. “Normal yang baru”. Memangnya kemarin-kemarin kitatidak normal? Tidak, saya pikir kemarin kita bekerja di rumah, mengisolasi diri di rumah itu juga normal, normal dalam keadaan pandemi yang sesungguhnya. Dan sebelumnya, kita pergi liburan dan beraktivitas itu juga normal, normal di saat tidak ada pandemi. Dan sekarang, terutama di Bali adalah normal ketika pandemi menunjukkan tanda-tanda mereda.

Jadi sebenarnya bukan soal normal atau tidak normal. Tetapi memang keniscayaan, kita setiap hari bangun dan menghadapi sesuatu yang baru. The new me, the new situation. Dan kita harus terus beradaptasi untuk hal itu.

Di Bali, di mana pandemi sudah menunjukkan sedikit mereda, bisa diibaratkan seperti kita mendidik anak. Sesuatu yang diperlukan oleh anak selain kasih sayang tentunya adalah dua hal yakni keleluasan dan pembatasan.

Terlalu protektif dengan pembatasan memang aman, tapi hal itu mengakibatkan anak tumbuh menjadi dependen, kurang kreatif, kurang mandiri, atau malah menjadi pemberontak. Sebaliknya, terlalu permisif memberikan keleluasaan bisa membuat anak beresiko tinggi terlibat hal negatif, abai, keras kepala dan kurang solider.

Keseimbangan antara dua hal di atas akan membuat anak-anak kita terdidik menjadi wajar. Mempunyai kreativitas tetapi tetap aman. Mempunyai rasa nyaman tetapi selalu berevolusi atau selalu berubah, selalu bisa beradaptasi dengan hal yang baru.

Jadi kalau kemarin ketika sedang pandemi luar biasa, yang dibutuhkan memang pembatasan. Hal itu ibarat anak kita di lingkungan sekitar sedang banyak narkoba. Dia sudah tahu caranya memesan dan dia sudah sempat berniat membeli. Sebagai keluarga yang baik kita ambil atau rangkul, kita batasi, “sudahlah kamu diam di rumah nggak usah seperti itu dan sebagainya” Tidak lagi dengan cara-cara moderat, berdiskusi dan lain sebagainya.

Tetapi ketika sudah dibatasi. orangnya juga sudah paham kita ajak berdiskusi dan sebagainya, kita tidak bisa terus membatasi. Dia sudah cukup paham bagaimana menghadapi situasi di luar. Memang tidak sepenuhnya aman, masih ada orang yang memakai narkoba tetapi dia sudah cukup siap menghadapi itu.

Maka kita berikan keleluasaan. Ketika dia bisa membatasi dirinya dengan cara-cara yang baru walaupun tidak sepenuhnya godaan di luar itu aman. Saat dia bisa melewati itu semua dia akan tumbuh menjadi pribadi yang lebih luar biasa.

Kira-kira seperti itulah keadaan kita saat ini. Pembatasan tetap ada, tapi sudah mulai leluasa. Di mana kita bisa berbelanja, beraktivitas dan nantinya juga bersekolah tapi tentu tidak dengan cara-cara yang dulu. Masih ada pembatasan-pembatasan yang membuat kita aman.

Kasih Sayang

Mari sekarang ini kita merencanakan hal itu. Tidak saja pemerintah tetapi juga kita di rumah, dalam bekerja nantinya memakai masker senantiasa yang dicuci setiap waktu kemudian pembatasan fisik dan menjaga jarak ketika kita berbelanja atau bekerja. Tetap rutin mencuci tangan, menghindari memegang mulut dan hidung.

Hal-hal itu akan terus menjadi kebiasaan diri kita, bahkan saya yakin ketika virus ini pun sudah tidak ada atau ketika sudah ada vaksinnya. Jadi marilah kita bercermin dalam hal itu. Kita ini anak-anak yang ingin dididik secara mantap jiwa. Kita harus tahu seninya, ada keleluasaan dan ada pembatasan.

Di luar itu semua, hal yang mendasar adalah kasih sayang. Kita mempunyai rasa kasih sayang supaya kita semua masyarakat tumbuh lebih dewasa dan tetap mantap jiwa sampai semua ini berakhir. [T]

Tags: covid 19Indonesia Terserahkesehatankesehatan jiwapandemi
Share112TweetSendShareSend
Previous Post

Corona Menghimpit Dapur dan Kamar Tidur?

Next Post

Politik Terjemahan dan Kritik Joss Wibisono pada Ben Anderson

dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ

dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ

Psikiater di Klinik Utama Sudirman Medical Center (SMC) Denpasar, Founder Rumah Berdaya, Pegiat kesehatan jiwa di Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI) simpul Bali dan Komunitas Teman Baik

Related Posts

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 20, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong...

Read moreDetails

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa “Indonesia Bangkrut”

by Afgan Fadilla
June 18, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada...

Read moreDetails
Next Post
Politik Terjemahan dan Kritik Joss Wibisono pada Ben Anderson

Politik Terjemahan dan Kritik Joss Wibisono pada Ben Anderson

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026

DRAMA gong ternyata masih memiliki tempat di hati masyarakat Bali. Hal itu terlihat saat Sanggar Seni Nong Nong Kling dari...

by Nyoman Budarsana
June 23, 2026
Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara
Budaya

Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara

SINGARAJA – TATKALA.CO | Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra mendukung terselenggaranya Singaraja Literary Festival (SLF) ke-4 tahun 2026 yang diadakan...

by tatkala
June 23, 2026
Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng
Khas

Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng

PETANI garam dan musim panas ibarat dua sejoli yang saling merindukan. Setelah berbulan-bulan berpisah oleh hujan, mendung, dan gelombang yang...

by Nyoman Nadiana
June 23, 2026
’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co