4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Memaknai Kata “Terserah” Dari Kacamata Kesehatan Jiwa

dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ by dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ
May 22, 2020
in Esai
Ketidakpastian Pandemi: Dukungan Psikososial Vs Teori Konspirasi

Ilustrasi tatkala.co | Nana Partha

Belakangan ini, kata yang cukup favorit terdengar dan dibaca di media massa adalah “terserah”. Banyak yang kemudian bereaksi terutama tenaga medis, “Indonesia terserahlah, mau ngapain juga”. Kalau dalam kehidupan sehari-hari, ini kata yang paling sulit dimengerti kalau pacar, istri atau pasangan kita yang mengatakan seperti itu.

“Ayo, di mana dong kita makan? Terserah”, “Kita mau ngapain hari ini? Terserah”. “Enaknya saya pakai baju apa? Terserah”.

Kata “terserah” ini sebetulnnya hal yang misteri sampai sekarang bagi kebanyakan laki-laki. Maksudnya apa? Kurang lebih, seperti itulah yang dirasakan ketika masa pandemi saat ini jika ada yang bereaksi dengan berkata “terserah”

Bisa jadi itu adalah reaksi rasa kesal, rasa marah, rasa jengkel, tidak ingin berdiskusi lagi tentang hal itu atau membicarakan lagi hal itu karena dirasakan sudah stuck. Tapi yang lebih sering terjadi, kata “terserah” itu bukan berarti menyerahkan pada diri kita dalam arti yang sesungguhnya.

Ketika kita ngajakin makan dan jawabannya adalah “terserah”, lalu kitalah yang menentukan sendiri, maka pada akhirnya orang yang mengatakan “terserah” itu akan lebih marah lagi. Jadi ini ambigu sekali, mengandung banyak arti. Tetapi okelah, itu salah satu cara mengekspresikan rasa kesal, sama halnya ketika seseorang sudah melakukan hal yang maksimal, hal yang bahkan diluar kemampuannya.

Tetapi ternyata orang lain tidak merasa menghargai hal itu. Kemudian orang, pasangan atau siapapun merasa tidak mengenali dan memahami bahwa yang bersangkutan melakukan sesuatu yang luar biasa. Dan ia atau mereka tetap berlaku seenaknya.

Hati-hati, ketika kita tidak berusaha memahami atau mengerti hal itu kata “terserah” ini pada akhirnya bisa jadi bermakna terserah beneran atau menyerah. Dan kita tentu tidak ingin melakukan hal tersebut.

Responsif

Dalam sisi kesehatan jiwa, reaksi apa pun yang diekspresikan dengan cara apa pun adalah sesuatu yang wajar, umum, dan normal dilakukan serta baik untuk kesehatan diri kita. Tetapi, berikutnya akan lebih baik ketika kita melakukan bukan reaksi tapi responsif. Sesuatu yang betul-betul kita rencanakan dengan tujuan tertentu.

Sekali waktu jengkel, marah itu adalah hal biasa. Bisa kita ungkapkan, tetapi kita lanjutkan dengan respon bukan lagi reaksi. Lalu apa nih hubungannya pada keadaan saat ini? Ketika di masa pandemi seperti sekarang ini tiba-tiba masyarakat mengalami euforia, terutama di saat hari raya seperti sekarang. Itu juga reaksi, yang tadinya di rumah lalu mendapat Tunjangan Hari raya (THR) kemudian keluar, merasakan euforia, itu namanya reaksi dan itu bukan merupakan sesuatu yang cukup baik.

Keleluasaan dan Pembatasan

Sama buruknya dengan misalnya kata “terserah” tadi. Mari kita belajar merespon, merencanakan, “apa nih yang kita bisa kita lakukan?” Orang mendengungkan the new normal. Saya tidak benar-benar setuju dengan kata-kata the new normal ini. “Normal yang baru”. Memangnya kemarin-kemarin kitatidak normal? Tidak, saya pikir kemarin kita bekerja di rumah, mengisolasi diri di rumah itu juga normal, normal dalam keadaan pandemi yang sesungguhnya. Dan sebelumnya, kita pergi liburan dan beraktivitas itu juga normal, normal di saat tidak ada pandemi. Dan sekarang, terutama di Bali adalah normal ketika pandemi menunjukkan tanda-tanda mereda.

Jadi sebenarnya bukan soal normal atau tidak normal. Tetapi memang keniscayaan, kita setiap hari bangun dan menghadapi sesuatu yang baru. The new me, the new situation. Dan kita harus terus beradaptasi untuk hal itu.

Di Bali, di mana pandemi sudah menunjukkan sedikit mereda, bisa diibaratkan seperti kita mendidik anak. Sesuatu yang diperlukan oleh anak selain kasih sayang tentunya adalah dua hal yakni keleluasan dan pembatasan.

Terlalu protektif dengan pembatasan memang aman, tapi hal itu mengakibatkan anak tumbuh menjadi dependen, kurang kreatif, kurang mandiri, atau malah menjadi pemberontak. Sebaliknya, terlalu permisif memberikan keleluasaan bisa membuat anak beresiko tinggi terlibat hal negatif, abai, keras kepala dan kurang solider.

Keseimbangan antara dua hal di atas akan membuat anak-anak kita terdidik menjadi wajar. Mempunyai kreativitas tetapi tetap aman. Mempunyai rasa nyaman tetapi selalu berevolusi atau selalu berubah, selalu bisa beradaptasi dengan hal yang baru.

Jadi kalau kemarin ketika sedang pandemi luar biasa, yang dibutuhkan memang pembatasan. Hal itu ibarat anak kita di lingkungan sekitar sedang banyak narkoba. Dia sudah tahu caranya memesan dan dia sudah sempat berniat membeli. Sebagai keluarga yang baik kita ambil atau rangkul, kita batasi, “sudahlah kamu diam di rumah nggak usah seperti itu dan sebagainya” Tidak lagi dengan cara-cara moderat, berdiskusi dan lain sebagainya.

Tetapi ketika sudah dibatasi. orangnya juga sudah paham kita ajak berdiskusi dan sebagainya, kita tidak bisa terus membatasi. Dia sudah cukup paham bagaimana menghadapi situasi di luar. Memang tidak sepenuhnya aman, masih ada orang yang memakai narkoba tetapi dia sudah cukup siap menghadapi itu.

Maka kita berikan keleluasaan. Ketika dia bisa membatasi dirinya dengan cara-cara yang baru walaupun tidak sepenuhnya godaan di luar itu aman. Saat dia bisa melewati itu semua dia akan tumbuh menjadi pribadi yang lebih luar biasa.

Kira-kira seperti itulah keadaan kita saat ini. Pembatasan tetap ada, tapi sudah mulai leluasa. Di mana kita bisa berbelanja, beraktivitas dan nantinya juga bersekolah tapi tentu tidak dengan cara-cara yang dulu. Masih ada pembatasan-pembatasan yang membuat kita aman.

Kasih Sayang

Mari sekarang ini kita merencanakan hal itu. Tidak saja pemerintah tetapi juga kita di rumah, dalam bekerja nantinya memakai masker senantiasa yang dicuci setiap waktu kemudian pembatasan fisik dan menjaga jarak ketika kita berbelanja atau bekerja. Tetap rutin mencuci tangan, menghindari memegang mulut dan hidung.

Hal-hal itu akan terus menjadi kebiasaan diri kita, bahkan saya yakin ketika virus ini pun sudah tidak ada atau ketika sudah ada vaksinnya. Jadi marilah kita bercermin dalam hal itu. Kita ini anak-anak yang ingin dididik secara mantap jiwa. Kita harus tahu seninya, ada keleluasaan dan ada pembatasan.

Di luar itu semua, hal yang mendasar adalah kasih sayang. Kita mempunyai rasa kasih sayang supaya kita semua masyarakat tumbuh lebih dewasa dan tetap mantap jiwa sampai semua ini berakhir. [T]

Tags: covid 19Indonesia Terserahkesehatankesehatan jiwapandemi
Share112TweetSendShareSend
Previous Post

Corona Menghimpit Dapur dan Kamar Tidur?

Next Post

Politik Terjemahan dan Kritik Joss Wibisono pada Ben Anderson

dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ

dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ

Psikiater di Klinik Utama Sudirman Medical Center (SMC) Denpasar, Founder Rumah Berdaya, Pegiat kesehatan jiwa di Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI) simpul Bali dan Komunitas Teman Baik

Related Posts

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

Read moreDetails

Penyair Kelas Teri

by Arief Rahzen
October 4, 2026
0
Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

Read moreDetails

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails
Next Post
Politik Terjemahan dan Kritik Joss Wibisono pada Ben Anderson

Politik Terjemahan dan Kritik Joss Wibisono pada Ben Anderson

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co