25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Memaknai Kata “Terserah” Dari Kacamata Kesehatan Jiwa

dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ by dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ
May 22, 2020
in Esai
Ketidakpastian Pandemi: Dukungan Psikososial Vs Teori Konspirasi

Ilustrasi tatkala.co | Nana Partha

Belakangan ini, kata yang cukup favorit terdengar dan dibaca di media massa adalah “terserah”. Banyak yang kemudian bereaksi terutama tenaga medis, “Indonesia terserahlah, mau ngapain juga”. Kalau dalam kehidupan sehari-hari, ini kata yang paling sulit dimengerti kalau pacar, istri atau pasangan kita yang mengatakan seperti itu.

“Ayo, di mana dong kita makan? Terserah”, “Kita mau ngapain hari ini? Terserah”. “Enaknya saya pakai baju apa? Terserah”.

Kata “terserah” ini sebetulnnya hal yang misteri sampai sekarang bagi kebanyakan laki-laki. Maksudnya apa? Kurang lebih, seperti itulah yang dirasakan ketika masa pandemi saat ini jika ada yang bereaksi dengan berkata “terserah”

Bisa jadi itu adalah reaksi rasa kesal, rasa marah, rasa jengkel, tidak ingin berdiskusi lagi tentang hal itu atau membicarakan lagi hal itu karena dirasakan sudah stuck. Tapi yang lebih sering terjadi, kata “terserah” itu bukan berarti menyerahkan pada diri kita dalam arti yang sesungguhnya.

Ketika kita ngajakin makan dan jawabannya adalah “terserah”, lalu kitalah yang menentukan sendiri, maka pada akhirnya orang yang mengatakan “terserah” itu akan lebih marah lagi. Jadi ini ambigu sekali, mengandung banyak arti. Tetapi okelah, itu salah satu cara mengekspresikan rasa kesal, sama halnya ketika seseorang sudah melakukan hal yang maksimal, hal yang bahkan diluar kemampuannya.

Tetapi ternyata orang lain tidak merasa menghargai hal itu. Kemudian orang, pasangan atau siapapun merasa tidak mengenali dan memahami bahwa yang bersangkutan melakukan sesuatu yang luar biasa. Dan ia atau mereka tetap berlaku seenaknya.

Hati-hati, ketika kita tidak berusaha memahami atau mengerti hal itu kata “terserah” ini pada akhirnya bisa jadi bermakna terserah beneran atau menyerah. Dan kita tentu tidak ingin melakukan hal tersebut.

Responsif

Dalam sisi kesehatan jiwa, reaksi apa pun yang diekspresikan dengan cara apa pun adalah sesuatu yang wajar, umum, dan normal dilakukan serta baik untuk kesehatan diri kita. Tetapi, berikutnya akan lebih baik ketika kita melakukan bukan reaksi tapi responsif. Sesuatu yang betul-betul kita rencanakan dengan tujuan tertentu.

Sekali waktu jengkel, marah itu adalah hal biasa. Bisa kita ungkapkan, tetapi kita lanjutkan dengan respon bukan lagi reaksi. Lalu apa nih hubungannya pada keadaan saat ini? Ketika di masa pandemi seperti sekarang ini tiba-tiba masyarakat mengalami euforia, terutama di saat hari raya seperti sekarang. Itu juga reaksi, yang tadinya di rumah lalu mendapat Tunjangan Hari raya (THR) kemudian keluar, merasakan euforia, itu namanya reaksi dan itu bukan merupakan sesuatu yang cukup baik.

Keleluasaan dan Pembatasan

Sama buruknya dengan misalnya kata “terserah” tadi. Mari kita belajar merespon, merencanakan, “apa nih yang kita bisa kita lakukan?” Orang mendengungkan the new normal. Saya tidak benar-benar setuju dengan kata-kata the new normal ini. “Normal yang baru”. Memangnya kemarin-kemarin kitatidak normal? Tidak, saya pikir kemarin kita bekerja di rumah, mengisolasi diri di rumah itu juga normal, normal dalam keadaan pandemi yang sesungguhnya. Dan sebelumnya, kita pergi liburan dan beraktivitas itu juga normal, normal di saat tidak ada pandemi. Dan sekarang, terutama di Bali adalah normal ketika pandemi menunjukkan tanda-tanda mereda.

Jadi sebenarnya bukan soal normal atau tidak normal. Tetapi memang keniscayaan, kita setiap hari bangun dan menghadapi sesuatu yang baru. The new me, the new situation. Dan kita harus terus beradaptasi untuk hal itu.

Di Bali, di mana pandemi sudah menunjukkan sedikit mereda, bisa diibaratkan seperti kita mendidik anak. Sesuatu yang diperlukan oleh anak selain kasih sayang tentunya adalah dua hal yakni keleluasan dan pembatasan.

Terlalu protektif dengan pembatasan memang aman, tapi hal itu mengakibatkan anak tumbuh menjadi dependen, kurang kreatif, kurang mandiri, atau malah menjadi pemberontak. Sebaliknya, terlalu permisif memberikan keleluasaan bisa membuat anak beresiko tinggi terlibat hal negatif, abai, keras kepala dan kurang solider.

Keseimbangan antara dua hal di atas akan membuat anak-anak kita terdidik menjadi wajar. Mempunyai kreativitas tetapi tetap aman. Mempunyai rasa nyaman tetapi selalu berevolusi atau selalu berubah, selalu bisa beradaptasi dengan hal yang baru.

Jadi kalau kemarin ketika sedang pandemi luar biasa, yang dibutuhkan memang pembatasan. Hal itu ibarat anak kita di lingkungan sekitar sedang banyak narkoba. Dia sudah tahu caranya memesan dan dia sudah sempat berniat membeli. Sebagai keluarga yang baik kita ambil atau rangkul, kita batasi, “sudahlah kamu diam di rumah nggak usah seperti itu dan sebagainya” Tidak lagi dengan cara-cara moderat, berdiskusi dan lain sebagainya.

Tetapi ketika sudah dibatasi. orangnya juga sudah paham kita ajak berdiskusi dan sebagainya, kita tidak bisa terus membatasi. Dia sudah cukup paham bagaimana menghadapi situasi di luar. Memang tidak sepenuhnya aman, masih ada orang yang memakai narkoba tetapi dia sudah cukup siap menghadapi itu.

Maka kita berikan keleluasaan. Ketika dia bisa membatasi dirinya dengan cara-cara yang baru walaupun tidak sepenuhnya godaan di luar itu aman. Saat dia bisa melewati itu semua dia akan tumbuh menjadi pribadi yang lebih luar biasa.

Kira-kira seperti itulah keadaan kita saat ini. Pembatasan tetap ada, tapi sudah mulai leluasa. Di mana kita bisa berbelanja, beraktivitas dan nantinya juga bersekolah tapi tentu tidak dengan cara-cara yang dulu. Masih ada pembatasan-pembatasan yang membuat kita aman.

Kasih Sayang

Mari sekarang ini kita merencanakan hal itu. Tidak saja pemerintah tetapi juga kita di rumah, dalam bekerja nantinya memakai masker senantiasa yang dicuci setiap waktu kemudian pembatasan fisik dan menjaga jarak ketika kita berbelanja atau bekerja. Tetap rutin mencuci tangan, menghindari memegang mulut dan hidung.

Hal-hal itu akan terus menjadi kebiasaan diri kita, bahkan saya yakin ketika virus ini pun sudah tidak ada atau ketika sudah ada vaksinnya. Jadi marilah kita bercermin dalam hal itu. Kita ini anak-anak yang ingin dididik secara mantap jiwa. Kita harus tahu seninya, ada keleluasaan dan ada pembatasan.

Di luar itu semua, hal yang mendasar adalah kasih sayang. Kita mempunyai rasa kasih sayang supaya kita semua masyarakat tumbuh lebih dewasa dan tetap mantap jiwa sampai semua ini berakhir. [T]

Tags: covid 19Indonesia Terserahkesehatankesehatan jiwapandemi
Share112TweetSendShareSend
Previous Post

Corona Menghimpit Dapur dan Kamar Tidur?

Next Post

Politik Terjemahan dan Kritik Joss Wibisono pada Ben Anderson

dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ

dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ

Psikiater di Klinik Utama Sudirman Medical Center (SMC) Denpasar, Founder Rumah Berdaya, Pegiat kesehatan jiwa di Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI) simpul Bali dan Komunitas Teman Baik

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Politik Terjemahan dan Kritik Joss Wibisono pada Ben Anderson

Politik Terjemahan dan Kritik Joss Wibisono pada Ben Anderson

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co