29 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Politik Terjemahan dan Kritik Joss Wibisono pada Ben Anderson

Made Wirya by Made Wirya
May 23, 2020
in Ulasan
Politik Terjemahan dan Kritik Joss Wibisono pada Ben Anderson

Buku "Maksud Politik Jahat"

Tidak sedikit orang yang mengeluhkan, membaca karya terjemahan tidak seperti karya dari bahasa aslinya. Apalagi jika karya tersebut merupakan sebuah buku yang ditulis dengan bahasa sastrawi. Meskipun penerjemahnya adalah seorang profesor yang mengajar filologi.

Sebab bisa jadi seorang penterjemah abai dalam menafsirkan apa yang tersirat dari teks yang diterjemahkannya. Atau, celakanya, penerjemahnya tidak betul-betul menguasai bahasa dari karya yang diterjemahkan.

Seperti misalnya beberapa penerjemah yang menerjemahkan surat-surat Kartini yang dibukukan oleh JH Abendanon dengan judul “Door duisternis tot licht“. Buku fenomenal tersebut diterjemahkan oleh dua penerjemah Indonesia.

Yang pertama oleh Armyn Pane pada tahun 1938 dengan judul “Habis Gelap Terbitlah Terang.” Yang kedua adalah Prof. Sulastin Sutrisno, dengan judul “Surat-surat Kartini, Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya”.

Menurut Joss Wibisono dalam bukunya “Maksud Politik Jahat” pada Bab 5, judul “Habis Gelap Terbitlah Terang” tidaklah benar-benar mengandung makna yang sama dengan versi aslinya. Judul aslinya yang menggunakan bahasa Belanda, bermakna perjuangan dalam gelap untuk mencapai terang. Jadi terang dicapai setelah berjuang dan bahkan menderita dalam kegelapan (halaman 98).

Joss mengungkapkan bahwa  terjemahan  judul  Door duisternis tot licht menjadi Habis Gelap Terbitlah Terang dimulai dari mereka yang menamakan dirinya “Empat Saudara”. Bukunya sendiri sudah  terbit tahun 1911. Buku terjemahan Armijn Pane juga menggunakan judul yang sama.  Fakta ini bisa jadi tidak banyak diketahui oleh masyarakat umum.

Terjemahan yang kedua  oleh Prof. Sulastin Sutrisno, di mana buku terjemahan mulai dicetak sejak tahun ’70-an hingga akhir tahun ’80-an, dengan beberapa perubahan. Dia membuat judul buku yang diambil dari sub judul buku tersebut, yaitu “Gedachten over en voor het Javasche volk”, yang diterjemahkan menjadi “Surat-surat Kartini, Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya”.

Menurut Joss, terjemahan itu juga tidak tepat. Kenapa? Karena “gedachten” artinya pemikiran atau pikiran, bukan renungan. Dalam bahasa Belanda, kata renungan itu adalah “overpeinzingen”.

Yang lebih fatal lagi adalah kesalahan Armijn Pane dan Sulastin Sutrisno dalam menterjemahkan beberapa surat dalam buku tersebut.  Bahkan Joss mengatakan dua penerjemah itu sudah melakukan kesalahan sejak pada bagian awal (halaman 109).

Oleh Armin Pane, ik gloei pada kalimat kedua alinea pertama surat pembuka bertanggal 25 Mei 1899, diterjemahkan menjadi “Bernjala-njala hati saja”. Sedangkan dalam terjemahan Sulastin Sutrisno menjadi “Hati saya menyala-nyala”.

Menurut Joss dari dua terjemahan itu terbaca bahwa hanya hati Kartini saja yang menyala-nyala (menginginkan jaman baru), bukan pribadi secara keseluruhan.

Terjemahan Sulastin Sutrisno, yang dilakukan pada saat Orde Baru masih berkuasa. Di mana penguasa saat itu sangat sensitif jika berkaitan dengan Tuhan dan komunisme. Dalam kalimat “waarop zij een en dezelfde God dienen” diterjemahkan menjadi “Tuhan Yang Esa dan Yang Sama” (halaman 118).

Joss tegas mengatakan ini terjemahan yang bombastis, sebab Sulastin menggunakan tiga kata lain selain Tuhan. Celakanya, kata itu tidak pernah ditulis oleh Kartini  dalam bahasa Belanda. Menurut Joss ini karena penterjemahnya dipengaruhi oleh rezim kanan Orde Baru bertangan besi yang sangat anti komunis. Di mana rezim tersebut mengidentikkan komunisme dengan tidak bertuhan.

Joss menduga terjemahan kalimat tersebut untuk menetralisir keraguan Kartini terhadap agama. Dan Kartini sudah dikompromikan dengan ideologi anti komunisme Orde Baru. Bisa dipahami kenapa dalam Bab 5 yang banyak membahas tentang terjemahan surat-surat kartini itu, diberi judul “Politik Terjemahan”.

Dalam Bab 5 ini juga, Joss tidak hanya memuji Ben Anderson, guru dan sahabatnya itu, tapi juga mengkritisinya. Dalam bab yang paling tebal tersebut, Joss mempertanyakan kenapa Ben Anderson tidak menulis satu artikel pun tentang Kartini.

Ben Anderson, menurut Joss, memang menulis tentang putri Jepara itu, tapi hanya sebatas menyebut nama dan judul bukunya “Door duisternis tot licht”. Nama Kartini dan judul buku tersebut dituliskan dalam artikel tentang Soetomo yang berjudul “A Time of Darkness and a Time og Light”.

Yang menarik dalam buku ini, selain ditulis dengan bahasa yang mudah dipahami, Joss juga menyajikan data-data yang masih belum banyak diungkapkan oleh penulis lain.

Satu hal lagi. Dalam Bab 5 ini Joss sedang ‘insyaf’, tidak lagi menulis “Orde Baru”, dengan “orde bau”, seperti dalam berbagai artikelnya yang lain. Entah karena diedit oleh editornya, atau memang dia sengaja menulis seperti itu.  Mungkin ini hal sepele, tapi bukan kebiasaan Joss Wibisono dalam mengolok-olok rezim despotik yang berkuasa selama 3 dasawarsa itu. [T]

Tags: BahasaBukupolitik bahasaresensi bukuterjemahan
Share151TweetSendShareSend
Previous Post

Memaknai Kata “Terserah” Dari Kacamata Kesehatan Jiwa

Next Post

Ketemu Puisi di Jalan #catatanfiksidirumahsaja

Made Wirya

Made Wirya

Lahir dan besar di Surabaya. Penulis dan filmmaker. Suka bertualang

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Ketemu Puisi di Jalan  #catatanfiksidirumahsaja

Ketemu Puisi di Jalan #catatanfiksidirumahsaja

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu
Esai

Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

Potensi Manusia dan Lingkungan yang Membentuknya Kisah Alvin Tedjo menarik untuk direnungkan, bukan semata-mata karena ia merupakan keturunan Indonesia yang...

by Agung Sudarsa
October 29, 2026
Menulis yang Tak Tertahankan, Menyuarakan yang Terbungkam
Panggung

Menulis yang Tak Tertahankan, Menyuarakan yang Terbungkam

BAGAIMANA menuliskan luka yang sulit diungkapkan? Ketika trauma, kehilangan, dan ketidakadilan terasa begitu berat, mampukah kata-kata menggambarkan pengalaman yang menyakitkan...

by Dede Putra Wiguna
October 29, 2026
Labdanation Fashion Week Season III, Padukan Fashion Berkelanjutan dan Ambisi Rekor Dunia
Panggung

Labdanation Fashion Week Season III, Padukan Fashion Berkelanjutan dan Ambisi Rekor Dunia

PERAGAAN busana yang mengusung konsep tekstil berkelanjutan tampil memikat dalam Labdanation Fashion Week Season III di panggung terbuka Sira Village,...

by Nyoman Budarsana
October 29, 2026
Karya Agung Ki Pasek Badeg, Merawat Warisan Leluhur dan Meneguhkan Ikatan Pasemetonan
Khas

Karya Agung Ki Pasek Badeg, Merawat Warisan Leluhur dan Meneguhkan Ikatan Pasemetonan

ALUNAN lembut gamelan gangsa dan moncong reong berpadu dengan tembang-tembang klasik nan sakral, menghadirkan suasana khidmat yang sarat nuansa spiritual....

by Nyoman Budarsana
October 29, 2026
Melancaran ke Desa Les: Melihat Les dari Sisi yang Lain
Liputan Khusus

Pemberdayaan Produk Lokal Setelah Desa Les Diganjar Penghargaan ADWI 2024

“MAKANYA, pengembangannya lebih kepada CBT sebenarnya—Community Based Tourism.” Nyoman Nadiana, yang akrab disapa Don Rare, mengucapkan kalimat itu ketika menjelaskan...

by Jaswanto
October 29, 2026
Luncurkan “Penasaran”, Henry Manampiring Ingin Marah-Marah Lewat Cerpen
Panggung

Luncurkan “Penasaran”, Henry Manampiring Ingin Marah-Marah Lewat Cerpen

SELAMA ini Henry Manampiring dikenal sebagai penulis nonfiksi, terutama melalui Filosofi Teras yang mengupas filsafat Stoikisme. Namun, lewat kumpulan cerpen...

by Dede Putra Wiguna
October 29, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Ujian Menuju Kedewasaan: Saat  Cinta Tidak Lagi Menuntut Kesempurnaan

Tidak semua masalah dalam hubungan dapat diselesaikan dengan percakapan ringan atau kompromi sederhana. Fase Ujian Perjalanan relasi cinta pasangan yang...

by Tri Nugroho Adi
October 29, 2026
B-GIDME 2026 Hadirkan 46 Karya dari 52 Desainer Lima Negara
Pameran

B-GIDME 2026 Hadirkan 46 Karya dari 52 Desainer Lima Negara

Bali-Global Innovative Design Map Exhibition (B-GIDME) 2026 resmi dibuka pada Senin, 26 Oktober 2026, di Neka Art Museum (NAM), Ubud,...

by Nyoman Budarsana
October 28, 2026
Sutasoma vs Purusada: Satire Kekuasaan di Panggung Swara SeadaNya
Panggung

Sutasoma vs Purusada: Satire Kekuasaan di Panggung Swara SeadaNya

GUNAWAN Wicaksono membawakan tokoh Purusada dengan riasan tebal, didominasi garis merah dan hitam yang mempertegas wajahnya. Matanya melotot, suaranya menggelegar...

by tatkala
October 28, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Tembok Besar Indonesia Itu Bernama Etnosentrisme [Catatan Hari Sumpah Pemuda]

BANYAK yang mengira, setelah Sumpah Pemuda tahun 1928 persoalan bangsa yang majemuk ini telah selesai. Banyak pula yang berharap, setelah...

by Chusmeru
October 28, 2026
Taksi Ferrari-Lamborghini ala Kawah Ijen
Tualang

Taksi Ferrari-Lamborghini ala Kawah Ijen

MENDENGAR kata Ferrari atau Lamborghini, bayangan kita mungkin langsung tertuju pada mobil mewah berharga selangit dengan fitur-fitur canggih. Namun, Ferrari...

by Kadek Sri Widiastuti
October 28, 2026
Panji Lestari, Wanita Tani, dan Warga Penggerak Desa Wisata Panji
Liputan Khusus

Panji Lestari, Wanita Tani, dan Warga Penggerak Desa Wisata Panji

“DI DESA PANJI, kami tidak menjual pemandangan, kami menjual cara hidup.” Kalimat itu ditulis Jro Mangku Made Ariawan, Perbekel Desa...

by Jaswanto
October 28, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co