25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ketemu Puisi di Jalan #catatanfiksidirumahsaja

Jong Santiasa Putra by Jong Santiasa Putra
May 23, 2020
in Cerpen
Ketemu Puisi di Jalan  #catatanfiksidirumahsaja

Ilustrasi foto: Mursal Buyung

Di masa pandemi ini, aku bertemu puisi yang paling muram ia tersungkur di trotoar Jalan Sudirman, Denpasar. Jalan besar yang biasa aku lewati jika berangkat atau pulang bekerja. Karena ia puisi, aku memutar balik motorku hendak menyapanya. Namun apa daya iya tidak mau berbicara sepatah katapun, ia hanya menyuruhku untuk melanjutkan perjalanan.

“Aku tidak apa-apa, tenang saja, kamu tidak usah khawatir, sebentar lagi kata-kata akan mati kelaparan atau mati karena kesendirian,” katanya

Aku diam saja, tidak berusaha untuk mengganggu atau menanyakan kenapa ia sampai di trotoar ini.  waktu itu Jalan Sudirman cukup ramai, siang yang terik, orang-orang bergegas melaju kendaraannya, lengkap dengan masker anti virus, sebagai upaya utama pencegahan. Selain virus apakah manusia bisa tercegah dari kelaparan, dari rasa berkumpul, dari rasa rindu, bahkan dari rasa kesepian ? pertanyaan yang kadang memang tidak memerlukan jawaban.

Sudah terhitung dua bulan, aku tidak bertemu kawan-kawanku untuk mengobrol panjang perihal apapun. Aku suka mengobrol dan bertemu orang, dari orang-orang aku mempelajari banyak hal, mulai dari menanam cabai agar tumbuh dalam seminggu, mencampur rempah-rempah tertentu dalam menu di warung saat membuat nasi bakar cakalang, mencari jalan keluar saat aku tersesat di layar desktop laptopku, hingga mensiasati kesunyian di kamarku agar ia riang dan bermain HAGO bersamaku. Semua pengetahuan itu dari pembicaraan yang kadang hingga subuh, biasanya ditemani kopi atau arak Bali yang cukup membuat puyeng.

“Jul bagaimana kabar tangan kananmu, apakah ia masih produktif menulis cerpen-cerpen” aku mengontak seorang kawan penulis, Juli Sastrawan, kawan muda yang menelurkan kumpulan cerpen “Lelaki Kantong Sperma”. Hari ini pun sedang berupaya merampungkan manuskrip novel terbarunya.

Pada masa di rumah saja, ia memiliki program Bincang Sastra di Instagram Live, bahkan aku pernah ditodong untuk ngobrol soal ide-ide. Juga sering memoderatori bincang-bincang di dunia maya. Aku sendiri tidak terlalu suka mendengar percakapan di dunia maya, selain karena kantong ku yang cekak untuk membeli kuota internet,  ada yang hilang dari sebuah perbincangan, yakni pertemuan. Padahal manusia selalu mengistimewakan pertemuan, khususnya orang-orang kota sepertiku, yang tumbuh dari sel-sel hiruk pikuk kendaraan, yang berkembang dari derau mesin pembangunan, yang kenyang dari penuh sesak kegiatan-kegiatan di alun-alun kota.

Jul mengabari tidak hanya tangan kanan, seluruh organ tubuhnya tidak bekerja dengan baik. Sebab mereka sama-sama sedang dalam keadaan kosong, hampa, bahkan lebih parahnya tidak merasa apa-apa. Ia perlu energi dan euforia  pertemuan. Hanya otaknya saja yang sedikit tidaknya mampu bertahan melawan kesepian. Karena itu ia seharian di kamar, menonton banyak film, dan membaca buku-buku yang belum sempat ia baca. Salah satu sutradara favoritnya Hirokazu Kore-eda sutradara film dari Jepang. Jika kawan-kawan melihat di story IG dia lagi ketawa-ketiwi, itu hanya pencitraaan, agar semua orang menganggap diri baik-baik saja.

“Setidaknya dari kelakukanku di dunia maya, ada yang senang, bahkan bisa mengobrol lewat WA, tapi ya begitu, kurang aja rasanya. Eh Jong, aku rasa film-film Kore-eda sangat cocok untuk ukuran orang sepertimu, puitis, melankolis, dan agak platonic,” katanya

Akhirnya aku pun menonton Maborosi salah satu fim Kore-eda. Film yang cukup membuatku berfikir tentang kehidupan menikah yang super ruwet. Bayangkan saja salah satu tokohnya menaiki sepeda di atas rel, lalu menabrakkan tubuhnya dengan sengaja ke kereta yang sedang berjalan. Padahal saat itu ia tengah membesarkan anak mungil yang lucu bersama istrinya.

“Jul mengapa luka selalu kita pendam, kemudian menumpuk, lalu jadi kemarahan, tidak pernah kita ungkapan jadi sesuatu yang indah. jangan-jangan luka itu ingin diterjemahkan dengan cara lain,”

“Buik, sing be ngidang aku nyawab to terlalu filsuf, tanyakan ke Suma saja, dia paham soal begituan, Ngomong-ngomong kau ditanyakan sama mbah Gabo, dia menunggu mu Jong di bab ke tiga, ada yang ingin ia bicarakan kone, soal orang-orang yang tidak kelihatan di rumahmu. Aku lanjut dulu ya, terimakasih sudah menanyakan kabarku, sekarang kumis dan jenggotku lagi berselisih paham, soal siapa yang lebih tua, aku mau menyelesaikan permasalahan mereka dulu,”

Dasar mbah Gabo, bukunya belum sempat kuselesaikan. Itu pun dirokumendasikan oleh Jul, saat aku menjelaskan bahwa selain aku, ternyata ada orang-orang tidak kelihatan yang tinggal di rumah. Saban petang menjaga tidurku, bahkan mereka seringkali mencuri rokok. Kita tidak pernah bertemu dan duduk bersama, sebab aku terlalu takut  untuk mengetahui hal-hal di luar kuasa. Tapi memang sesekali dia duduk disebelahku, namun aku selalu memunggunginya dan menyodorkan rokok, kopi, momogi, wafer atau makanan apapun yang sedang ku bawa.

Oh ya, aku sudah di warung saat ngontak Jul tadi, sekarang lagi menumis sambel serai resep dari mamaku yang diturunkan secara semena-mena. Atau lebih tepatnya aku yang mencuri resep mamaku. Saat ia tengah memasak aku selalu menguntit di belakangnya kemudian mengingat apa yang ia lakukan. Mamaku bukan tipe guru yang baik, kalau mengajariku memasak. Karena ia tidak suka aku yang selalu berimprovisasi terhadap bumbu, aku terlalu lancang soal menambah ini-itu di masakan katanya.

“Ik apakah puisi mampu membuat orang hidup, saat pendemi begini,” tanyaku ke Iin Valentine kawanku satu kelompok teater yang tengah membangun satu program Puisi Awal Minggu melalui kanal Instagram.

“Malah orang-orang hari ini jadi puisi, Jong, mereka jadi kata-katanya sendiri, saling beradu membangun kalimat paling purba yang pernah kita kenal selama ini.”

“Kita tidak bisa bergantung pada puisi, Ik, puisi tidak mampu mengenyangkan, selalu menggelisahkan, tidak ada senangnya, tadi aku ketemu puisi yang sedang terkapar di trotoar.”

“Kenapa kamu seputusasa itu, eh aku juga ketemu dengan puisi terkapar itu, di Sudirman kan, katanya ia sedang membuat orang-orang iba, itu hanya acting.”

“Bajingan… aku ditipu puisi.”

“Eh tahu nggak, yang nanti baca puisi orang-orangnya semakin banyak, ada DPR, ada jurnalis, ada tukang sayur, ada montir, bahkan yang paling lucu ada pilot yang mau baca puisi, daaaaan yang paling keren ada Chairil yang mau baca juga.”

“Gilaa absurd juga, kau udah ketemu Chairil, Ik?”

“Belum sih, tapi dari suaranya memang kayaknya dia keren ci, kemarin dia sengaja menelponku agar namanya bisa dimasukkan dalam program puisi. Senang bukan kepalang aku ini, penyair besar lo itu, maen instagram juga dia yah.”

“Mungkin lagi pansos di skena puisi Bali dia, Ik, agar namanya semakin membumi dan ada di hati orang Bali.”

“Jangan berprasangka buruk, bukankah puisi juga sedang mengkhianati kita, eh aku lanjut siaran dulu yah. Mau ngobrol-ngobrol soal PKM  ni di udara, tertumben Jerink mau ngobrol di radio, tamu special.”

Kami selesai bercakap, aku menghidupkan laptop mencari streaming radio tempat ia bekerja. Sambil meneruskan urusan masak-memasak. Kali ini aku memasak puisi kesedihan agar gurih dan enak dikunyah. [T]

Tags: Cerpen
Share21TweetSendShareSend
Previous Post

Politik Terjemahan dan Kritik Joss Wibisono pada Ben Anderson

Next Post

Dari “Metajuk”, Mengenal Lebih Dekat Kultur Agraris Nusa Penida

Jong Santiasa Putra

Jong Santiasa Putra

Pedagang yang suka menikmati konser musik, pementasan teater, dan puisi. Tinggal di Denpasar

Related Posts

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

by Sigit Susanto
October 18, 2026
0
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

Read moreDetails

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails
Next Post
Dari “Metajuk”, Mengenal Lebih Dekat Kultur Agraris Nusa Penida

Dari “Metajuk”, Mengenal Lebih Dekat Kultur Agraris Nusa Penida

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co