2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ketemu Puisi di Jalan #catatanfiksidirumahsaja

Jong Santiasa Putra by Jong Santiasa Putra
May 23, 2020
in Cerpen
Ketemu Puisi di Jalan  #catatanfiksidirumahsaja

Ilustrasi foto: Mursal Buyung

Di masa pandemi ini, aku bertemu puisi yang paling muram ia tersungkur di trotoar Jalan Sudirman, Denpasar. Jalan besar yang biasa aku lewati jika berangkat atau pulang bekerja. Karena ia puisi, aku memutar balik motorku hendak menyapanya. Namun apa daya iya tidak mau berbicara sepatah katapun, ia hanya menyuruhku untuk melanjutkan perjalanan.

“Aku tidak apa-apa, tenang saja, kamu tidak usah khawatir, sebentar lagi kata-kata akan mati kelaparan atau mati karena kesendirian,” katanya

Aku diam saja, tidak berusaha untuk mengganggu atau menanyakan kenapa ia sampai di trotoar ini.  waktu itu Jalan Sudirman cukup ramai, siang yang terik, orang-orang bergegas melaju kendaraannya, lengkap dengan masker anti virus, sebagai upaya utama pencegahan. Selain virus apakah manusia bisa tercegah dari kelaparan, dari rasa berkumpul, dari rasa rindu, bahkan dari rasa kesepian ? pertanyaan yang kadang memang tidak memerlukan jawaban.

Sudah terhitung dua bulan, aku tidak bertemu kawan-kawanku untuk mengobrol panjang perihal apapun. Aku suka mengobrol dan bertemu orang, dari orang-orang aku mempelajari banyak hal, mulai dari menanam cabai agar tumbuh dalam seminggu, mencampur rempah-rempah tertentu dalam menu di warung saat membuat nasi bakar cakalang, mencari jalan keluar saat aku tersesat di layar desktop laptopku, hingga mensiasati kesunyian di kamarku agar ia riang dan bermain HAGO bersamaku. Semua pengetahuan itu dari pembicaraan yang kadang hingga subuh, biasanya ditemani kopi atau arak Bali yang cukup membuat puyeng.

“Jul bagaimana kabar tangan kananmu, apakah ia masih produktif menulis cerpen-cerpen” aku mengontak seorang kawan penulis, Juli Sastrawan, kawan muda yang menelurkan kumpulan cerpen “Lelaki Kantong Sperma”. Hari ini pun sedang berupaya merampungkan manuskrip novel terbarunya.

Pada masa di rumah saja, ia memiliki program Bincang Sastra di Instagram Live, bahkan aku pernah ditodong untuk ngobrol soal ide-ide. Juga sering memoderatori bincang-bincang di dunia maya. Aku sendiri tidak terlalu suka mendengar percakapan di dunia maya, selain karena kantong ku yang cekak untuk membeli kuota internet,  ada yang hilang dari sebuah perbincangan, yakni pertemuan. Padahal manusia selalu mengistimewakan pertemuan, khususnya orang-orang kota sepertiku, yang tumbuh dari sel-sel hiruk pikuk kendaraan, yang berkembang dari derau mesin pembangunan, yang kenyang dari penuh sesak kegiatan-kegiatan di alun-alun kota.

Jul mengabari tidak hanya tangan kanan, seluruh organ tubuhnya tidak bekerja dengan baik. Sebab mereka sama-sama sedang dalam keadaan kosong, hampa, bahkan lebih parahnya tidak merasa apa-apa. Ia perlu energi dan euforia  pertemuan. Hanya otaknya saja yang sedikit tidaknya mampu bertahan melawan kesepian. Karena itu ia seharian di kamar, menonton banyak film, dan membaca buku-buku yang belum sempat ia baca. Salah satu sutradara favoritnya Hirokazu Kore-eda sutradara film dari Jepang. Jika kawan-kawan melihat di story IG dia lagi ketawa-ketiwi, itu hanya pencitraaan, agar semua orang menganggap diri baik-baik saja.

“Setidaknya dari kelakukanku di dunia maya, ada yang senang, bahkan bisa mengobrol lewat WA, tapi ya begitu, kurang aja rasanya. Eh Jong, aku rasa film-film Kore-eda sangat cocok untuk ukuran orang sepertimu, puitis, melankolis, dan agak platonic,” katanya

Akhirnya aku pun menonton Maborosi salah satu fim Kore-eda. Film yang cukup membuatku berfikir tentang kehidupan menikah yang super ruwet. Bayangkan saja salah satu tokohnya menaiki sepeda di atas rel, lalu menabrakkan tubuhnya dengan sengaja ke kereta yang sedang berjalan. Padahal saat itu ia tengah membesarkan anak mungil yang lucu bersama istrinya.

“Jul mengapa luka selalu kita pendam, kemudian menumpuk, lalu jadi kemarahan, tidak pernah kita ungkapan jadi sesuatu yang indah. jangan-jangan luka itu ingin diterjemahkan dengan cara lain,”

“Buik, sing be ngidang aku nyawab to terlalu filsuf, tanyakan ke Suma saja, dia paham soal begituan, Ngomong-ngomong kau ditanyakan sama mbah Gabo, dia menunggu mu Jong di bab ke tiga, ada yang ingin ia bicarakan kone, soal orang-orang yang tidak kelihatan di rumahmu. Aku lanjut dulu ya, terimakasih sudah menanyakan kabarku, sekarang kumis dan jenggotku lagi berselisih paham, soal siapa yang lebih tua, aku mau menyelesaikan permasalahan mereka dulu,”

Dasar mbah Gabo, bukunya belum sempat kuselesaikan. Itu pun dirokumendasikan oleh Jul, saat aku menjelaskan bahwa selain aku, ternyata ada orang-orang tidak kelihatan yang tinggal di rumah. Saban petang menjaga tidurku, bahkan mereka seringkali mencuri rokok. Kita tidak pernah bertemu dan duduk bersama, sebab aku terlalu takut  untuk mengetahui hal-hal di luar kuasa. Tapi memang sesekali dia duduk disebelahku, namun aku selalu memunggunginya dan menyodorkan rokok, kopi, momogi, wafer atau makanan apapun yang sedang ku bawa.

Oh ya, aku sudah di warung saat ngontak Jul tadi, sekarang lagi menumis sambel serai resep dari mamaku yang diturunkan secara semena-mena. Atau lebih tepatnya aku yang mencuri resep mamaku. Saat ia tengah memasak aku selalu menguntit di belakangnya kemudian mengingat apa yang ia lakukan. Mamaku bukan tipe guru yang baik, kalau mengajariku memasak. Karena ia tidak suka aku yang selalu berimprovisasi terhadap bumbu, aku terlalu lancang soal menambah ini-itu di masakan katanya.

“Ik apakah puisi mampu membuat orang hidup, saat pendemi begini,” tanyaku ke Iin Valentine kawanku satu kelompok teater yang tengah membangun satu program Puisi Awal Minggu melalui kanal Instagram.

“Malah orang-orang hari ini jadi puisi, Jong, mereka jadi kata-katanya sendiri, saling beradu membangun kalimat paling purba yang pernah kita kenal selama ini.”

“Kita tidak bisa bergantung pada puisi, Ik, puisi tidak mampu mengenyangkan, selalu menggelisahkan, tidak ada senangnya, tadi aku ketemu puisi yang sedang terkapar di trotoar.”

“Kenapa kamu seputusasa itu, eh aku juga ketemu dengan puisi terkapar itu, di Sudirman kan, katanya ia sedang membuat orang-orang iba, itu hanya acting.”

“Bajingan… aku ditipu puisi.”

“Eh tahu nggak, yang nanti baca puisi orang-orangnya semakin banyak, ada DPR, ada jurnalis, ada tukang sayur, ada montir, bahkan yang paling lucu ada pilot yang mau baca puisi, daaaaan yang paling keren ada Chairil yang mau baca juga.”

“Gilaa absurd juga, kau udah ketemu Chairil, Ik?”

“Belum sih, tapi dari suaranya memang kayaknya dia keren ci, kemarin dia sengaja menelponku agar namanya bisa dimasukkan dalam program puisi. Senang bukan kepalang aku ini, penyair besar lo itu, maen instagram juga dia yah.”

“Mungkin lagi pansos di skena puisi Bali dia, Ik, agar namanya semakin membumi dan ada di hati orang Bali.”

“Jangan berprasangka buruk, bukankah puisi juga sedang mengkhianati kita, eh aku lanjut siaran dulu yah. Mau ngobrol-ngobrol soal PKM  ni di udara, tertumben Jerink mau ngobrol di radio, tamu special.”

Kami selesai bercakap, aku menghidupkan laptop mencari streaming radio tempat ia bekerja. Sambil meneruskan urusan masak-memasak. Kali ini aku memasak puisi kesedihan agar gurih dan enak dikunyah. [T]

Tags: Cerpen
Share21TweetSendShareSend
Previous Post

Politik Terjemahan dan Kritik Joss Wibisono pada Ben Anderson

Next Post

Dari “Metajuk”, Mengenal Lebih Dekat Kultur Agraris Nusa Penida

Jong Santiasa Putra

Jong Santiasa Putra

Pedagang yang suka menikmati konser musik, pementasan teater, dan puisi. Tinggal di Denpasar

Related Posts

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails
Next Post
Dari “Metajuk”, Mengenal Lebih Dekat Kultur Agraris Nusa Penida

Dari “Metajuk”, Mengenal Lebih Dekat Kultur Agraris Nusa Penida

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co