14 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pandemi, Belajar Mendengar dari Sang Kresna

dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ by dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ
May 8, 2020
in Esai
Ketidakpastian Pandemi: Dukungan Psikososial Vs Teori Konspirasi

Ilustrasi tatkala.co | Nana Partha

Kali ini saya ingin membahas beberapa hal yang mungkin kita tidak pikirkan. Cobalah Anda berkunjung ke rumah sakit di masa pandemi Covid-19 saat ini . Betapa sepi, berbanding terbalik dari yang biasanya banyak orang mengantri di poliklinik seperti di waktu normal. Selain rumah sakit, puskesmas juga terlihat sepi, bahkan sudah membatasi kunjungan. Tak hanya itu, praktik swasta juga sepi.

Biasanya yang kita tahu, jika fasilitas kesehatan sepi ada dua kemungkinan; pertama, memang masyarakat kondisinya lebih sehat jadi jarang membutuhkan layanan kesehatan. Beberapa kawan dan klien saya berkelakar, berarti virus Corona di masa pandemi ini mampu menyehatkan masyarakat.

Kita ingat betapa penuhnya rumah sakit, puskesmas dan praktik swasta ketika sebelum ada pandemi. Saat pandemi ada, pasien sepi. Ini bisa diartikan orang yang sakit jumlahnya sedikit. Bisa jadi. Atau kemungkinan kedua, sebetulnya angka kesakitan cukup tinggi tetapi orang masih menahan-nahan dan memilih tinggal di rumah, tidak berobat dan memeriksakan diri ke layanan kesehatan.

Di bulan-bulan ini mungkin BPJS untung, karena tidak banyak klaim yang dibayarkan untuk membayar biaya perawatan masyarakat. Hal ini berimbas pada para pasien yang mengalami gangguan kronis menjadi putus obat. Tanpa kita sadari, itu bisa menjadi bom waktu.

Coba lihat, betapa banyak misalnya pengidap kanker yang harus ditunda perawatan atau operasinya, menunggu tes Covid-19. Jika pasien sepi tiba-tiba artinya juga cukup banyak yang mengalami putus obat, misalnya pada pengidap hipertensi dan diabetes. Itu sangat berbahaya karena nantinya akan ada ledakan angka kesakitan sangat besar dengan tingkat keparahan yang tinggi.

Gangguan Mental

Bagaimana dengan pasien gangguan mental? Banyak yang belum tahu bahwa untuk gangguan mental pekerjaan rumah kita sangat  banyak. Misalnya, angka gangguan emosional atau depresi pada orang dewasa di Indonesia berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 adalah 6 % dari total jumlah penduduk. Tetapi hanya 9 % dari yang mengalami depresi mencari pertolongan atau berobat ke layanan kesehatan.

Sumber literatur mengatakan, ketika wabah terjadi angka gangguan depresi akan meningkat bahkan hingga dua kali lipat. Kalau angkanya misalkan menjadi 12 % tetapi yang berobat hanya 9 % di masa normal, berarti bisa dibilang dari 10 orang pengidap depresi, 1 orang belum tentu mendapatkan pengobatan. Betapa luar biasa potensi masalah yang ada.

Apalagi di Bali, untuk gangguan jiwa berat atau skizofrenia angkanya menduduki peringkat pertama di Indonesia yakni 11 per 1000 rumah tangga mengalami skizofrenia. Tidak semuanya berobat, apalagi di saat wabah seperti sekarang. Kalau tidak kita tangani akan timbul masalah yang luar biasa besar di kemudian hari.

Kita bisa baca dan tonton pada berita-berita tentang bunuh diri, atau Orang dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) yang menggelandang di jalan yang ditangkap dan dibawa ke rumah sakit jiwa untuk diobati. Cara terbaik mengatasi hal ini adalah mencegah, selalu seperti itu. Kita semua bisa belajar dari para leluhur orang Bali. Saya teringat pada sebuah lukisan karya klien saya, orang dengan skizofrenia yang kini telah pulih yang terpajang di tembok tempat praktik saya.

Belajar dari Sang Kresna

Lukisan itu menggambarkan sosok Arjuna yang dalam bahasa medis zaman sekarang mengalami psikosomatis, saat berada di medan Kuruksetra. Arjuna merasa berat sewaktu memegang busur panah, tangannya panas dan gemetar karena harus bertempur melawan keluarganya sendiri. Ia mengalami kegelisahan dan stres yang tinggi. Tapi yang dilakukan Kresna adalah menenangkan Arjuna.

Banyak orang lupa bahwa setengah dari percakapan antara Kresna dan Arjuna yang kemudian diabadikan dalam kitab Bhagavad-Gita adalah ‘curhat’-nya Arjuna yang didengarkan oleh Kresna. Sekali pun Kresna bicara, beliau memakai analogi-analogi dan cerita-cerita. Kresna jarang sekali memberikan instruksi, penghakiman, atau terlalu banyak menasihati.

Kita bisa belajar dari Kresna untuk kesehatan mental kita terutama di masa pandemi seperti saat ini kita. Marilah kita belajar mendengarkan, saat bertemu anggota keluarga atau kerabat lain kita menayakan kabar mereka: “Kengken asane?” (bagaimana kondisimu?) atau “Men kengken rencanane?” (lalu apa/bagaimana rencanamu?) daripada sekadar memberikan toxic positivity: “Nak harus bersyukur” (kamu harus bersyukur), atau “Harus begini, harus begitu”. Kesehatan mental tidak bisa dengan kata “harus” tapi mesti dirasakan. Maka itu, marilah kita mencontoh sosok Kresna.

Mendongeng

Untuk mencegah penurunan kesehatan mental terutama bagi anak-anak kita, yang paling baik yakni kita mulai kembali ke kearifan lokal Bali. Orang Bali  selalu suka memberikan tutur lewat dongeng. Sebelum tidur mari kita dongengkan anak-anak kita dengan berkhayal tentang fabel atau kehidupan hewan, bagaimana mereka misalnya saat menghadapi wabah, bagaimana kita perlu disiplin dan tetap berkomunikasi dengan lingkungan sekitar, perlu untuk tetap hidup bersih.

Dan, tetap bisa bergembira di saat-saat terbatas seperti sekarang. Itu agak meresap di psikologis anak, dan nantinya kita akan mendapatkan manfaat dari mereka. Setelah masa pandemi usai, anak-anak kita akan tumbuh dengan fleksibel; mampu menghadapi semua keterbatasan, halangan, dan situasi yang sulit.

Mereka bukan saja memiliki kekebalan terhadap virus Corona, tapi juga ketahanan secara psikologis dalam menghadapi berbagai kesulitan. Itu adalah pertolongan pertama bagi psikologis kita. Dengan kita melakukan seperti itu saja pada lingkungan keluarga kita, akan mencegah terjadinya gangguan kesehatan mental.

Apabila semua upaya mandiri itu gagal, tentu saja kita mesti mencari pertolongan medis atau terapi yang merupakan cara paling baik. Kini cukup banyak layanan hotline dukungan kesehatan mental dan psikososial yang dilakukan oleh profesional kehatan mental secara gratis atau cuma-cuma. Bahkan, kini konseling psikiatri bisa dilakukan secara daring atau online.

Dan, dalam keadaan darurat untuk datang ke rumah sakit pun masih aman karena tenaga medis menggunakan alat pelindung diri. Mudah-mudahan kita semua dalam keadaan yang mantap jiwa dan mantap raga. [T}

Tags: covid 19KresnaMahabharatapandemi
Share76TweetSendShareSend
Previous Post

Kelak Pandemi Usai, Kenapa Tidak Solo Traveling?

Next Post

Kita Telah Melewati Waisak yang Berbeda

dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ

dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ

Psikiater di Klinik Utama Sudirman Medical Center (SMC) Denpasar, Founder Rumah Berdaya, Pegiat kesehatan jiwa di Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI) simpul Bali dan Komunitas Teman Baik

Related Posts

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
0
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

Read moreDetails

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails
Next Post
Kita Telah Melewati Waisak yang Berbeda

Kita Telah Melewati Waisak yang Berbeda

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif
Khas

Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif

DI tengah semarak pertunjukan seni yang mewarnai Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII, hadir sebuah ruang yang menawarkan pengalaman berbeda....

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”
Panggung

Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”

BAYANGAN adalah jiwa dari wayang kulit. Di tangan seorang dalang, lembar-lembar kulit hidup melalui permainan cahaya. Namun, Wayang Ental memilih...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Ketika Waktu Berpindah Tangan
Ulas Musik

Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka
Tualang

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

by Chusmeru
July 13, 2026
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co