27 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tubuh, Kecantikan, dan Tentang Menyusui

Ni Kadek Putri Santiadi by Ni Kadek Putri Santiadi
June 1, 2023
in Esai
Tubuh, Kecantikan, dan Tentang Menyusui

Gambar Ni Pollok dalam sampul buku novel karya Yati Maryati Wiharja

DESA KELANDIS DAN NI POLLOK adalah dua nama yang seakan saling berkaitan. Apalagi ketika kita membaca novel karya Yati Maryati Wiharja yang berjudul Ni Pollok, Model dari Desa Kelandis, yang diterbitkan pertama kali tahun 1976 oleh penerbit  Gramedia.

Desa Kelandis di Denpasar memang mengingatkan pada gadis penari legong yang lahir pada 3 Maret 1917 di sebuah rumah bambu beratapkan alang-alang, bernama Ni Pollok. Anak bungsu dari tiga bersaudara, I Gledeg dan Ni Gubleg.

Jika melihat kebiasaan di masyarakat, anak bungsu adalah anak yang paling disayang, namun berbeda dengan kehidupan Ni Pollok. Kebaikan ibu kepada anak-anaknya tetap sama. Tak ada pilih kasih, sulung, tengah, dan bungsu. Di antara kedua saudaranya, ia yang tidak bisa mengenal sosok ayah. Sejak usia sembilan bulan, Ni Pollok telah kehilangan ayahnya. Meskipun begitu, ia terus berjuang untuk hidup bersama sosok ibu yang menjadi tulang punggung keluarga.

Ni Pollok menjadi penari legong terkenal dan dibanggakan. Ia disebut sebagai penari legong-keraton yang paling cantik. Kecantikan dan keanggunan itu mempertemukannya pada sosok laki-laki dewasa yang bernama Adrien Jean Le Mayeur, seorang pelukis yang berasal dari Belgia. Tuan Le Mayeur melanglang buana sambil melukis ke berbagai negara, seperti Perancis, Italia, Maroko, Tunisia, Aljazair, India, Thailand, Kamboja, Tahiti, dan akhirnya tiba di Bali. Pengelanaan tersebut membawanya pada Desa Kelandis, dan bertemu dengan Ni Pollok.

–

Museum Le Mayeur di Sanur, Bali

Sejak itu, Ni Pollok bukan lagi penari legong dalam pertunjukan, tetapi pada kanvas, kuas, dan cat. Ia menjadi model Tuan Le Mayeur. Lukisan-lukisan yang menyerupai dirinya dipamerkan hingga mancanegara, salah satunya Singapura.

Tahun-tahun berikutnya hubungan Le Mayeur dan Ni Pollok semakin intim, hingga mereka melangsungkan pernikahan pada tahun 1934 dengan upacara adat Bali sesuai agama Hindu. Pernikahan yang bisa diibaratkan seperti dua kutub magnet yang sama direkatkan. Ni Pollok hanya sebagai model dan Le Mayeur adalah majikan. Mereka hanya dua orang yang saling mencintai, tanpa tahu cara memaknai rasa itu. Bahkan untuk seorang anak yang menjadi bukti jalinan cinta kasih tidak diperoleh Ni Pollok. Keinginan itu selalu ditentang oleh suaminya.

“Biarlah, kita korbankan hidup kita seluruhnya buat seni, Pollok…” (Wiharja, 1976:67)

Tidak bisa menolak, hanya membeku dan membatu. Ni Pollok tidak pernah mengira hidupnya hanya akan dikorbankan untuk seni bukan untuk anak. Apa pernikahannya hanya untuk seni? Apakah kecantikan tubuhnya hanya untuk seni? Tidak untuk anak, makhluk kecil yang lucu? Apa Le Mayeur menikahi Ni Pollok hanya untuk kepuasan sendiri?

Anak adalah bagian yang terpenting dalam hidup Ni Pollok, namun pernikahan ini tidak membuatnya merasa menjadi seorang ibu. Tidak merasakan perut ditendang-tendang dengan nakal, tidak mendengarkan jeritan, Ibu! Bapak! Tidak menyusui, memeluk, bahkan mengelus-elus dalam pangkuan. Dengan alasan, tubuh Ni Pollok akan berubah jadi jelek setelah melahirkan, dan tidak bisa menjadi model lagi. Ia tidak pernah merasa cantik, karena perempuan cantik baginya adalah mereka yang memiliki mata bundar tapi menyipit pada sudut-sudut bibir, merekah penuh, jari-jari yang lampai, kaki yang panjang namun berisi.

Paras cantik memang idaman semua orang, baik laki-laki maupun perempuan. Apakah ini patokan untuk hidup? Bukan! Menjadi perempuan cantik ataupun tidak, kita tetap hidup. Hamil dan melahirkan tidak ada hubungannya dengan kecantikan ataupun bentuk tubuh, karena semua bisa dirawat. Tidak memiliki anak dengan alasan karir, apakah bisa dibenarkan? Bukankah makhluk kecil ini adalah anugerah?

Semua orang bisa bertubuh langsing, berwajah tirus, dan tinggi. Semua orang bisa gemuk, berwajah bundar, dan pendek. Namun, kesempatan memiliki anak tidak didapatkan oleh semua orang. Sebenarnya, semua ini hanya pilihan. Tidak ada yang benar dan salah.

Ini hanya sebuah kisah tentang Le Mayeur yang merupakan laki-laki disiplin, bertanggung jawab, dan baik. Ia juga bersikap egois dan hanya mementingkan pekerjaan. Sebenarnya, ia sangat menyayangi istrinya, namun cara dan perilaku yang ditunjukkan memperlihatkan bahwa seakan-akan dia bersalah akan kesedihan Ni Pollok hingga jadi debu.

Ni Pollok harus bekerja sepanjang hari, tidak sempat berkunjung ke rumah sanak saudara. Kesehariannya hanya merawat tubuh, dan bekerja seperti patung. Model baginya sebuah penyiksaan, diam dan waktu seakan-akan berhenti. Bukakah ini kesalahan? Tidak, baginya semua ini adalah rencana semesta. Tidak ada penyesalan, karena bertemu dengan Le Mayeur membuatnya menjadi wanita yang pandai dan model yang terkenal. Pernikahannya pun tetap bertahan, hingga Le Mayeur meninggal dalam keadaan sakit.

Novel Ni Pollok karya Yati Maryati Wiharja

Seperti perkataan Le Mayeur, ia hanya mengorbankan hidupnya untuk seni. Setiap hari bekerja, bekerja, dan bekerja. Tidak ada waktu istirahat, sekedar mendengar tangisan seorang anak pun tidak. Ia merasa kesepian dan bersalah kepada Tuhan, karena tidak memberi balasan atas karunia yang telah diperolehnya. Hanya jiwa yang ikhlas menerima ini.

Bukan pernikahan, bukan suami-istri, dan bukan cinta. Jika pernikahan ini tentang saling memiliki, maka Le Mayeur tidak akan menghukum Ni Pollok dengan kerinduan. Ini hanya sebuah obsesi yang menjadikan kata “cinta” sebagai perisai. Ni Pollok kalah akan cinta, ia berkorban, dan terus seperti itu. Tak berani melawan, bahkan menunjukkan perlawanan. Tubuhnya dijadikan bahan pertaruhan terhadap suksesnya sang suami. Raga dan rupanya sebagai penakluk kanvas. Jiwanya bukan jadi kepemilikannya, sudah dirampas. Ia hanya pelayan cinta.

Jika Ni Pollok tidak cantik, apakah ia bisa menyusui? Bisakah ia merasakan tubuh mungil seorang anak? Bagaimana dengan hidupnya, kedua saudara, dan ibunya? Cantik membawanya pada cinta yang begitu agung, mempersembahkan jiwa dan raga untuk seorang lelaki yang bernama Adrien Le Mayeur. Tidak punya harapan dan kebahagiaan, kecuali kebahagian majikannya, Le Mayeur. Pantaskah ini disebut kisah cinta? [T]

Menatap Ketangguhan Sosok Perempuan dalam Novel “Luh”
Novel “Sublimasi Rasa”: Jarak Yang Bergejolak
Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam | Sebuah Sisi Gelap dari Tradisi Kawin Tangkap
Tags: Le MayeurNi PolloknovelsastraSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Jaranan di Tanah Borneo, “Kesurupan” dan Perpindahan Budaya

Next Post

Sejarah yang Membuat Saya Bangga jadi Orang Buleleng

Ni Kadek Putri Santiadi

Ni Kadek Putri Santiadi

Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja

Related Posts

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
0
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

Read moreDetails

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

Read moreDetails

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
0
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

Read moreDetails

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails
Next Post
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran

Sejarah yang Membuat Saya Bangga jadi Orang Buleleng

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital
Liputan Khusus

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital

TELEPON belum lama ditutup ketika Luh Sukerti kembali sibuk di depan tungku. Puluhan tusuk sate dibolak-balik di atas bara, dilumuri...

by Jaswanto
October 26, 2026
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan
Esai

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”
Bahasa

Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”

ADA seorang guru sekaligus penulis senior asal Bali yang bernama Nyoman Tingkat. Suatu ketika, dengan permainan kata yang cerdas dan menggelitik, melalui unggahan...

by I Made Sudiana
October 26, 2026
Belajar dari Senat, Menyapa Semeru
Tualang

Belajar dari Senat, Menyapa Semeru

ADA perjalanan yang kita tempuh karena tugas. Ada perjalanan yang kita jalani karena kewajiban. Namun, sering kali justru di balik...

by Ahmad Sihabudin
October 26, 2026
Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026
Olahraga

Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026

SUASANA siang di kawasan dekat Pantai Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali, mendadak bergemuruh pada Minggu 25 Oktober 2026....

by Nyoman Budarsana
October 26, 2026
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan
Esai

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026
Khas

Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

SEPERTI apa kekuatan penuturan kisah lokal dalam karya sastra? Bagaimana seorang penulis memanfaatkan lanskap, identitas, dan pengalaman lokal untuk menciptakan...

by Rusdy Ulu
October 26, 2026
Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co