14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam | Sebuah Sisi Gelap dari Tradisi Kawin Tangkap

Rastiti Era by Rastiti Era
June 28, 2021
in Ulasan
Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam | Sebuah Sisi Gelap dari Tradisi Kawin Tangkap

Novel “Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam”

  • Judul : Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam
  • Pengarang : Dian Purnomo
  • Editor: Ruth Priscilia Angelina
  • Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
  • Tahun Terbit : 2020
  • Tebal Halaman : 320 Halaman
  • Ukuran Buku : 20 cm

“Kematian adalah kepastian, ada yang membiarkan kedatangannya menjadi misteri, ada yang menjemputnya dengan paksa.”

Novel “Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam” mengisahkan tentang Magi Diela, seorang lulusan Sarjana Pertanian sebuah universitas di Yogyakarta yang menjadi pegawai honorer di Dinas Pertanian Waikabubak, Sumba.

Setelah menempuh pendidikan di luar daerahnya alias merantau, Magi kembali ke tanah kelahirannya dan mengabdikan dirinya pada bidang yang ia tekuni semasa kuliah. Suatu hari saat dia akan memberikan penyuluhan pertanian ke Desa Hupu Mada, berangkatlah dia menggunakan sepeda motor.

Waktu itu jalanan sangat sepi dan hari itu menjadi hari terburuk sepanjang hidupnya. Sebuah mobil mengikutinya dari belakang. Magi dipaksa menghentikan motornya dan tak berselang berapa lama, beberapa pria keluar dari mobil dan segera mengangkutnya secara paksa. Sambil bergurau, pria-pria itu menyentuh tubuh perempuan malang itu. Magi masih kebingungan dengan apa yang terjadi.

Tradisi Kawin Tangkap atau Yappa Mawine, itulah hal yang dihadapi Magi. Sebuah tradisi dimana calon suami menculik calon istrinya. Umumnya, telah terjadi kesepakatan di kedua belah pihak sebelum kawin tangkap ini terjadi. Sayangnya, Magi tidak mengetahui apapun tentang rencana kawin tangkap ini apalagi orang yang akan menjadi calon suaminya adalah Leba Ali, seseorang yang sudah mengincarnya bahkan sejak ia masih belia.

Magi merasa dirinya sangat rendah saat digiring menuju rumah Leba Ali dan bahkan telah dilecehkan olehnya. Namun tak sampai disitu, Magi mencoba membunuh dirinya sendiri dengan mengigit pergelangan tangannya. Bagian ini disajikan tepat di bab pertama pada novel perempuan yang menangis kepada bulan hitam yang terkesan blak-blakan.

Magi Diela digambarkan sebagai seorang perempuan yang rapuh di awal cerita yang berangsur-angsur memberanikan diri untuk melawan tradisi yang membelenggu kaum perempuan di daerahnya. Ketidakberdayaan perempuan sangat ditonjolkan dalam novel ini, bagaimana perempuan tak memiliki hak bersuara dalam pernikahan, memiliki keterbatasan bahkan di rumah sendiripun menjadi pilu yang dialami Magi dan perempuan di sekitarnya.

Magi memiliki seorang sahabat bernama Tara yang sekaligus menjadi kakak iparnya. Bersama Tara-lah Magi berkeluh kesah tentang banyak hal walaupun tak bisa mengubah sesuatu yang sudah menjadi kodrat perempuan yang harus tunduk pada budaya patriarki yang sangat kental. Perbedaan derajat antara laki-laki dan perempuan dalam novel ini juga ditunjukkan dari keberadaan pintu laki-laki dan pintu perempuan dalam rumah Magi dan orang-orang di kampungnya. Perempuan tidak diijinkan untuk menggunakan pintu laki-laki. Hal ini menginsyaratkan terbatasnya gerak perempuan bahkan di rumah sendiri.

Magi memiliki kawan yang begitu perhatian dan siap membantunya di berbagai macam situasi. Dangu Toda, si pria baik hati yang sayangnya satu suku dengan Magi yang membuat mereka tak boleh menikah. Pernikahan dalam satu suku ibaratnya menikahi saudara sendiri atau biasa disebut sebagai inses.

Kedekatan Magi Diela dan Dangu Toda memberikan kesan sebuah cerita kasih tak sampai, yang terhalang oleh adat yang membelenggu. Dangu Toda sering menyebut Magi sebagai “perempuan bodok” yang artinya perempuan bodoh namun bukan dalam artian yang ofensif. Sayangnya, kedekatan Magi dan Dangu menjadi bahan pergunjingan orang-orang kampung sehingga keluarga mereka saling membatasi gerak keduanya untuk saling bertemu.

Novel perempuan yang menangis kepada bulan hitam memiliki penokohoan yang kuat dan bisa mendorong pembaca untuk meresapi kejadian-kejadian yang dihadapi oleh Magi Diela sebagai tokoh utama. Hal inipun terlihat di cetakan terbaru buku ini, terdapat “trigger warning” atau peringatan yang menyebutkan bahwa buku tersebut mengandung hal-hal yang bisa menyebabkan perubahan emosi pada pembaca.

Novel ini secara gamblang mengisahkan ketidakberdayaan perempuan yang terbelenggu adat patriarki yang sangat mengikat. Cita-cita Magi untuk mengabdi pada tanah kelahiran dan menyejahterakan kehidupan orang-orang Humba (sebutan untuk orang-orang Sumba) terhalang oleh perlakuan keji dari Leba Ali dan antek-anteknya. Kenekatan Magi untuk bunuh diri dengan menggigit pergelangan tangannya sampai putus memperlihatkan keputusasaan yang menyala terang di tengah kecilnya harapan yang dimilikinya.

Bab pembuka yang langsung menusuk pada konflik cerita memberikan kesan nyata yang membuat pembaca menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi sampai seorang perempuan mencoba bunuh diri dengan cara yang cukup gila.

Bab-bab dalam novel perempuan yang menangis kepada bulan hitam terkesan lebih pendek dari bab novel pada umumnya sehingga membuat pembaca semakin ingin mengetahuinya kelanjutan setiap babnya. Hal ini pula menjadikan novel setebal 320 halaman ini sepertinya tak akan sulit diselesaikan dalam waktu yang singkat. Selain itu, penggambaran adegan penculikan dalam novel ini juga digambarkan dengan detail oleh penulis, mungkin karena Dian Purnomo sendiri adalah seorang lulusan jurusan kriminologi sehingga penggambaran adegan berunsur “kriminal” bisa tergambarkan dengan jelas dan nyata.

Penggunaan bahasa Sumba pada beberapa bagian dalam novel ini juga merupakan salah satu hal yang menarik yang tidak boleh dilewatkan oleh pembaca. Penggunaan kata-kata seperti “sa”, “su”, dan “ko” bisa saja membuat pembaca merasakan sensasi logat Sumba saat membaca novel ini. Terlebih lagi, kata-kata ini sering muncul dalam percakapan-percakapan yang mewarnai perjalanan Magi sebagai tokoh utama yang menghadapi berbagai kerumitan sepanjang alur cerita. Ada kalanya pembaca diajak menyelami Sumba secara lebih dalam melalui kata-kata yang juga ada di salah satu lagu yang sempat viral beberapa waktu lalu.

Hal menarik lainnya adalah sampul berwarna merah muda dengan ilustrasi cantik di tengahnya, yang cukup membuat mata melirik tajam. Sampul yang menurut saya terkesan ceria malah memberikan kisah pilu yang benar-benar membuat emosi meledak-ledak serta kesedihan yang menyala terang.

Kisah Magi yang disajikan dalam novel ini membuka mata saya bahwa kasus pelecehan terhadap perempuan adalah sebuah tindakan keji yang tak patut disepelekan. Sampai detik ini, masih banyak perempuan di luar sana yang tak berani mengungkapkan pelecehan yang menimpa mereka. Novel ini juga secara tidak langsung mengajak pembaca untuk peka terhadap kasus pelecehan dan perampasan hak perempuan secara paksa yang merugikan perempuan-perempuan seperti Magi Diela.

Sebagai sesama perempuan, saya merasa turut prihatin terhadap kasus-kasus pelecehan yang marak dihadapi oleh sesama perempuan. Perlu adanya pergerakan terhadap kasus semacam ini agar tidak terjadi lagi di kemudian hari. [T]

Tags: adatresensi bukuUlasan Buku
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pasek Govinda | Masih Mahasiswa Sudah Jadi Direktur dan CEO Usaha Sampah Plastik

Next Post

Teater Lama dan Teater Sebentar | Bagian I : Teks dan Tubuh

Rastiti Era

Rastiti Era

Biasa dipanggil Era, adalah penikmat teh, kopi, susu, dan buku. Mengulas buku melalui Podcast Sahabat Buku. Kini tercatat sebagai mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris, Undiksha. Punya hobi unik: berteman dengan siapa saja. Silakan hubungi di Instagram @rastiti_era.

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Teater Lama dan Teater Sebentar | Bagian I : Teks dan Tubuh

Teater Lama dan Teater Sebentar | Bagian I : Teks dan Tubuh

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital
Ulas Musik

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

DALAM lanskap rock progresif 1970-an, “Castle Walls” tampil sebagai balada megah yang sarat ketegangan emosional. Ditulis dan dinyanyikan oleh vokalis...

by Ahmad Sihabudin
May 14, 2026
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co