2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Teater Lama dan Teater Sebentar | Bagian I : Teks dan Tubuh

Ridwan Hasyimi by Ridwan Hasyimi
June 28, 2021
in Esai
Teater Lama dan Teater Sebentar | Bagian I : Teks dan Tubuh

Pementasan Teater "Perempuan Tanpa Nama" oleh Komunitas Mahima, 23/07/2017 [Foto: Agus Wiryadi]

Ketika pertama kali mendengar bahwa latihan teater cukup tujuh sampai sepuluh kali pertemuan, saya sungguh terkejut. Waktu itu, seorang mahasiswa tingkat akhir dari sebuah kampus seni yang mengatakannya kepada saya. Saya yang berasal dari kampung dan bukan anak kuliahan sungguh heran, takjub, dan terkesima demi mendengar informasi yang disampaikan dengan sangat meyakinkan dan penuh percaya diri itu.

Hebat betul kakak-kakak dari kampus seni ini. Latihan teater cukup satu atau dua minggu. Saya yang mati-matian latihan tiga bulan saja masih sering merasa kurang dan tidak percaya diri.

Itu dulu, sekitar tahun 2008. Hari ini, saya tidak lagi terkejut mendengar hal demikian. Bukan hanya mendengar, bahkan menyaksikannya sendiri. Sekali dua kali pernah juga ikut mencoba bermain dan menggarap “teater sebentar” yang mutunya bikin rasa percaya diri saya ciut.

Kali pertama bersinggungan dengan teater saya diajarkan metode akting realis. Konon, ini adalah pondasi sebelum bertualang berbagai “sekte” teater yang tak habis-habisnya diperbaharui itu. Segalanya musti detil dan terperinci ketika berhadapan dengan realis(me?). Kan “kehidupan yang dipanggungkan”. Meski sering kali tak disadari, tapi bukankah hidup juga detil dan terperinci?

Yang pertama kali dihantam adalah teks. Dibaca, dibedah, dan dipahami bahkan hingga kata per kata. Apa maksud kalimat ini? Apa motivasinya? Kepada siapa kalimat ini disampaikan? Apa maksud penulis naskah dengan mengangkat tema ini? Kapan lakon ini dibuat? Bagaimana kondisi ketika lakon ini ditulis? Siapa dan bagaimana pengarangnya? Bagaimana karakter si tokoh berdasarkan sejumlah keterangan yang tersurat dalam teks? Pertanyaan-pertanyaan serupa itu wajib tuntas sebelum melangkah lebih jauh tahap berikutnya.

Jawaban kadang kala tidak datang seketika saat teks dibedah. Kadang sehari kemudian. Seminggu. Sebulan. Beberapa pertanyaan bahkan tidak ketemu jawabannya sampai pertunjukan berakhir. Sungguh malang.

Sambil mencari jawaban, tubuh dihantam dengan berbagai teknik olah tubuh demi sesuai dengan tubuh tokoh yang dikehendaki lakon. Sebelum itu, hal-hal dasar musti tuntas dahulu: stamina, power, daya tahan, kelenturan, musikalitas tubuh, dan lain sebagainya. Singkatnya, ke-tubuh-an-ku.

Ibarat lukisan, tubuh adalah kanvas. Tubuh aktor tidak hadir bak kanvas putih, melainkan penuh bercak dan coretan. Itu adalah biografi tubuh.

Sebelum kenal tubuh tokoh, terlebih dulu saya harus kenal betul tubuh saya sendiri, luar dan dalam. Saya pernah terlibat kecelakaan lalu lintas hebat semasa sekolah. Salah satu ruas tulang saya mengalami dislokasi. Akibatnya, tinggi bahu kanan dan kiri saya tidak sama. Lengan kanan saya mudah sekali pegal jika digerakan terus menerus. Keseimbangan tubuh saya juga kurang baik. Hal-hal semacam ini saya anggap sebagai bagian dari biografi tubuh yang mustahil saya elakan.

Bau badan, alergi, penyakit kronis, postur tubuh, bentuk wajah, warna kulit, irama dan tempo tubuh, serta segala tek-tek bengek ke-tubuh-an-ku harus diketahui, dikenali, dipahami, disadari, dan diterima dengan mutlak. Aktor yang menolak tubuhnya sendiri akan repot ketika berkenalan dengan tubuh lain, termasuk tubuh tokoh.

Tubuh luar termasuk juga di dalamnya suara. Saya tahu, kenal, paham, sadar, dan menerima bahwa saya cacat nada. Sulit sekali bagi saya untuk bernyanyi dengan benar. Apalagi baik dan indah. Saya terima itu seraya mengembangkan sesuatu yang lain dari suara saya. Saya tidak bisa bernyanyi, tapi saya masih mungkin memperkuat volume, memperjelas artikulasi, melatih intonasi, teknik, dan gaya tutur, serta bermain-main dengan stilisasi suara bila diperlukan.

Tuntas dengan tubuh luar, tahap selanjutnya yang diajarkan guru-guru saya adalah mengetahui, mengenali, memahami, menyadari, dan menerima tubuh dalam. Saya menggunakan istilah tubuh dalam demi terhindar dari dikotomi tubuh-jiwa, tubuh-pikiran, jiwa-raga, lahir-batin, fisik-metafisik, dan semacamnya.  Pikiran, emosi, dan spiritualitas menurut saya adalah tubuh juga. Bedanya, ketiga hal yang disebut belakangan itu tak nampak, tak terindra, seperti tubuh luar. Tapi mereka ada dalam/pada/di tubuh yang “itu-itu juga”, tubuh yang nampak, yang terindra.

Tubuh luar akan sakit ketika kejedot atau teriris pisau. Tubuh dalam juga begitu. Kalau emosinya kejedot, ya, bisa sakit juga kan? Tubuh luar bisa puas dan “gembira” ketika perut kenyang, tidur nyenyak, terangsang atau orgasme ketika berhubungan seks. Demikian pula tubuh dalam. Pikiran juga puas dan gembira, bisa terangsang dan orgasme, ketika mendapat asupan pengetahuan yang konstruktif atau informasi baru yang mencerahkan. Seperti pembuluh darah, spiritualitas juga bisa pengalami penyempitan.     

Guru-guru saya mengajarkan, sebelum “mengundang” tubuh tokoh ke tubuh aktor, wajib hukumnya aktor tahu, kenal, paham, sadar, dan nrimo dengan tubuhnya sendir, luar dan dalam.

Setelah teks dan tubuh “dibongkar” sedemikian rupa, barulah tubuh tokoh dapat perlahan-lahan diundang ke tubuh aktor. Dari mana pengetahuan mengenai tubuh tokoh itu muncul? Dasarnya dari teks. Kemudian dikembangkan melalui eksplorasi berdasarkan ke-tubuh-an-ku.

Tokoh bertangan kidal, sementara saya tidak. Mau tak mau, saya harus membiasakan diri untuk kidal. Karena faktor usia dan penyakit tertentu, tokoh berjalan dengan cara menyeret kaki kirinya. Saya harus membiasakan diri dengan cara berjalan itu.

Bagaimana tokoh minum, makan, cara tidur, cara bangun dari tidur ke duduk, cara bangun dari tidur ke berdiri, cara duduk, posisi duduk, cara berdiri dari duduk, cara ngupil, cara mencungkil makanan di gigi, dan lain sebagainya. Apakah tokoh tergolong orang yang kaya akan gestur ketika berbicara? Bagaimana ia mengucapkan kata “aku”? Apakah ia tipe orang yang bibirnya optimal bergerak ketika bicara, atau sebaliknya?

Setelah segala informasi ke-tubuh-an tokoh diketahui berdasarkan teks, selanjutnya tinggal mengembangkan dan menakar agar pas dengan ke-tubuh-an-ku dan konsep sutradara. Jalannya adalah eksplorasi. Yang tak kalah penting: diskusi dengan sutradara dan sesama pemain. Terlebih lawan main. Ini penting! Sebab, aktor tidak hanya bermain untuk dan bersama dirinya sendiri, tapi juga untuk dan bersama orang lain (penonton dan lawan main).

Kendati demikian, aktor musti punya otoritas atas tubuh dan perannya. Masukan-masukan ketika diskusi tidak musti ditelan bulat sebagai perintah. Statusnya adalah asupan yang harus dicerna. Sebagaimana sesuatu yang cerna, ada yang diproses lebih lanjut menjadi energi. Ada pula yang berakhir menjadi feses.

Agar mampu mencerna dengan baik, aktor harus otonom atas tubuh dan perannya. Agar mampu otonom, aktor mustilah kokoh tubuh luar dan dalamnya serta percaya diri. Agar mampu kokoh dan percaya diri, aktor harus mau belajar agar “berisi”. Kekokohan dan rasa percaya diri yang dibangun tanpa belajar adalah palsu dan keropos.

Kira-kira, butuh waktu berapa lama untuk memproses bedah teks; tahu, kenal, sadar, paham, dan terima ke-tubuh-an-ku; dan tahu, kenal, sadar, paham, dan terima ke-tubuh-an tokoh? Lama atau sebentar? [T]

Tags: Seniseni pertunjukanTeaterTubuh
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam | Sebuah Sisi Gelap dari Tradisi Kawin Tangkap

Next Post

Nyoman Suardika, Pengolah Arak dari Kubu, Memanjat 50 Pohon Lontar Saban Hari

Ridwan Hasyimi

Ridwan Hasyimi

Pekerja Seni. Tinggal di Tasikmalaya, Jawa Barat

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Nyoman Suardika, Pengolah Arak dari Kubu, Memanjat 50 Pohon Lontar Saban Hari

Nyoman Suardika, Pengolah Arak dari Kubu, Memanjat 50 Pohon Lontar Saban Hari

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co