23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Teater Lama dan Teater Sebentar | Bagian I : Teks dan Tubuh

Ridwan Hasyimi by Ridwan Hasyimi
June 28, 2021
in Esai
Teater Lama dan Teater Sebentar | Bagian I : Teks dan Tubuh

Pementasan Teater "Perempuan Tanpa Nama" oleh Komunitas Mahima, 23/07/2017 [Foto: Agus Wiryadi]

Ketika pertama kali mendengar bahwa latihan teater cukup tujuh sampai sepuluh kali pertemuan, saya sungguh terkejut. Waktu itu, seorang mahasiswa tingkat akhir dari sebuah kampus seni yang mengatakannya kepada saya. Saya yang berasal dari kampung dan bukan anak kuliahan sungguh heran, takjub, dan terkesima demi mendengar informasi yang disampaikan dengan sangat meyakinkan dan penuh percaya diri itu.

Hebat betul kakak-kakak dari kampus seni ini. Latihan teater cukup satu atau dua minggu. Saya yang mati-matian latihan tiga bulan saja masih sering merasa kurang dan tidak percaya diri.

Itu dulu, sekitar tahun 2008. Hari ini, saya tidak lagi terkejut mendengar hal demikian. Bukan hanya mendengar, bahkan menyaksikannya sendiri. Sekali dua kali pernah juga ikut mencoba bermain dan menggarap “teater sebentar” yang mutunya bikin rasa percaya diri saya ciut.

Kali pertama bersinggungan dengan teater saya diajarkan metode akting realis. Konon, ini adalah pondasi sebelum bertualang berbagai “sekte” teater yang tak habis-habisnya diperbaharui itu. Segalanya musti detil dan terperinci ketika berhadapan dengan realis(me?). Kan “kehidupan yang dipanggungkan”. Meski sering kali tak disadari, tapi bukankah hidup juga detil dan terperinci?

Yang pertama kali dihantam adalah teks. Dibaca, dibedah, dan dipahami bahkan hingga kata per kata. Apa maksud kalimat ini? Apa motivasinya? Kepada siapa kalimat ini disampaikan? Apa maksud penulis naskah dengan mengangkat tema ini? Kapan lakon ini dibuat? Bagaimana kondisi ketika lakon ini ditulis? Siapa dan bagaimana pengarangnya? Bagaimana karakter si tokoh berdasarkan sejumlah keterangan yang tersurat dalam teks? Pertanyaan-pertanyaan serupa itu wajib tuntas sebelum melangkah lebih jauh tahap berikutnya.

Jawaban kadang kala tidak datang seketika saat teks dibedah. Kadang sehari kemudian. Seminggu. Sebulan. Beberapa pertanyaan bahkan tidak ketemu jawabannya sampai pertunjukan berakhir. Sungguh malang.

Sambil mencari jawaban, tubuh dihantam dengan berbagai teknik olah tubuh demi sesuai dengan tubuh tokoh yang dikehendaki lakon. Sebelum itu, hal-hal dasar musti tuntas dahulu: stamina, power, daya tahan, kelenturan, musikalitas tubuh, dan lain sebagainya. Singkatnya, ke-tubuh-an-ku.

Ibarat lukisan, tubuh adalah kanvas. Tubuh aktor tidak hadir bak kanvas putih, melainkan penuh bercak dan coretan. Itu adalah biografi tubuh.

Sebelum kenal tubuh tokoh, terlebih dulu saya harus kenal betul tubuh saya sendiri, luar dan dalam. Saya pernah terlibat kecelakaan lalu lintas hebat semasa sekolah. Salah satu ruas tulang saya mengalami dislokasi. Akibatnya, tinggi bahu kanan dan kiri saya tidak sama. Lengan kanan saya mudah sekali pegal jika digerakan terus menerus. Keseimbangan tubuh saya juga kurang baik. Hal-hal semacam ini saya anggap sebagai bagian dari biografi tubuh yang mustahil saya elakan.

Bau badan, alergi, penyakit kronis, postur tubuh, bentuk wajah, warna kulit, irama dan tempo tubuh, serta segala tek-tek bengek ke-tubuh-an-ku harus diketahui, dikenali, dipahami, disadari, dan diterima dengan mutlak. Aktor yang menolak tubuhnya sendiri akan repot ketika berkenalan dengan tubuh lain, termasuk tubuh tokoh.

Tubuh luar termasuk juga di dalamnya suara. Saya tahu, kenal, paham, sadar, dan menerima bahwa saya cacat nada. Sulit sekali bagi saya untuk bernyanyi dengan benar. Apalagi baik dan indah. Saya terima itu seraya mengembangkan sesuatu yang lain dari suara saya. Saya tidak bisa bernyanyi, tapi saya masih mungkin memperkuat volume, memperjelas artikulasi, melatih intonasi, teknik, dan gaya tutur, serta bermain-main dengan stilisasi suara bila diperlukan.

Tuntas dengan tubuh luar, tahap selanjutnya yang diajarkan guru-guru saya adalah mengetahui, mengenali, memahami, menyadari, dan menerima tubuh dalam. Saya menggunakan istilah tubuh dalam demi terhindar dari dikotomi tubuh-jiwa, tubuh-pikiran, jiwa-raga, lahir-batin, fisik-metafisik, dan semacamnya.  Pikiran, emosi, dan spiritualitas menurut saya adalah tubuh juga. Bedanya, ketiga hal yang disebut belakangan itu tak nampak, tak terindra, seperti tubuh luar. Tapi mereka ada dalam/pada/di tubuh yang “itu-itu juga”, tubuh yang nampak, yang terindra.

Tubuh luar akan sakit ketika kejedot atau teriris pisau. Tubuh dalam juga begitu. Kalau emosinya kejedot, ya, bisa sakit juga kan? Tubuh luar bisa puas dan “gembira” ketika perut kenyang, tidur nyenyak, terangsang atau orgasme ketika berhubungan seks. Demikian pula tubuh dalam. Pikiran juga puas dan gembira, bisa terangsang dan orgasme, ketika mendapat asupan pengetahuan yang konstruktif atau informasi baru yang mencerahkan. Seperti pembuluh darah, spiritualitas juga bisa pengalami penyempitan.     

Guru-guru saya mengajarkan, sebelum “mengundang” tubuh tokoh ke tubuh aktor, wajib hukumnya aktor tahu, kenal, paham, sadar, dan nrimo dengan tubuhnya sendir, luar dan dalam.

Setelah teks dan tubuh “dibongkar” sedemikian rupa, barulah tubuh tokoh dapat perlahan-lahan diundang ke tubuh aktor. Dari mana pengetahuan mengenai tubuh tokoh itu muncul? Dasarnya dari teks. Kemudian dikembangkan melalui eksplorasi berdasarkan ke-tubuh-an-ku.

Tokoh bertangan kidal, sementara saya tidak. Mau tak mau, saya harus membiasakan diri untuk kidal. Karena faktor usia dan penyakit tertentu, tokoh berjalan dengan cara menyeret kaki kirinya. Saya harus membiasakan diri dengan cara berjalan itu.

Bagaimana tokoh minum, makan, cara tidur, cara bangun dari tidur ke duduk, cara bangun dari tidur ke berdiri, cara duduk, posisi duduk, cara berdiri dari duduk, cara ngupil, cara mencungkil makanan di gigi, dan lain sebagainya. Apakah tokoh tergolong orang yang kaya akan gestur ketika berbicara? Bagaimana ia mengucapkan kata “aku”? Apakah ia tipe orang yang bibirnya optimal bergerak ketika bicara, atau sebaliknya?

Setelah segala informasi ke-tubuh-an tokoh diketahui berdasarkan teks, selanjutnya tinggal mengembangkan dan menakar agar pas dengan ke-tubuh-an-ku dan konsep sutradara. Jalannya adalah eksplorasi. Yang tak kalah penting: diskusi dengan sutradara dan sesama pemain. Terlebih lawan main. Ini penting! Sebab, aktor tidak hanya bermain untuk dan bersama dirinya sendiri, tapi juga untuk dan bersama orang lain (penonton dan lawan main).

Kendati demikian, aktor musti punya otoritas atas tubuh dan perannya. Masukan-masukan ketika diskusi tidak musti ditelan bulat sebagai perintah. Statusnya adalah asupan yang harus dicerna. Sebagaimana sesuatu yang cerna, ada yang diproses lebih lanjut menjadi energi. Ada pula yang berakhir menjadi feses.

Agar mampu mencerna dengan baik, aktor harus otonom atas tubuh dan perannya. Agar mampu otonom, aktor mustilah kokoh tubuh luar dan dalamnya serta percaya diri. Agar mampu kokoh dan percaya diri, aktor harus mau belajar agar “berisi”. Kekokohan dan rasa percaya diri yang dibangun tanpa belajar adalah palsu dan keropos.

Kira-kira, butuh waktu berapa lama untuk memproses bedah teks; tahu, kenal, sadar, paham, dan terima ke-tubuh-an-ku; dan tahu, kenal, sadar, paham, dan terima ke-tubuh-an tokoh? Lama atau sebentar? [T]

Tags: Seniseni pertunjukanTeaterTubuh
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam | Sebuah Sisi Gelap dari Tradisi Kawin Tangkap

Next Post

Nyoman Suardika, Pengolah Arak dari Kubu, Memanjat 50 Pohon Lontar Saban Hari

Ridwan Hasyimi

Ridwan Hasyimi

Pekerja Seni. Tinggal di Tasikmalaya, Jawa Barat

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Nyoman Suardika, Pengolah Arak dari Kubu, Memanjat 50 Pohon Lontar Saban Hari

Nyoman Suardika, Pengolah Arak dari Kubu, Memanjat 50 Pohon Lontar Saban Hari

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co