23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Novel “Sublimasi Rasa”: Jarak Yang Bergejolak

Santi Dewi by Santi Dewi
October 16, 2021
in Ulasan
Novel “Sublimasi Rasa”: Jarak Yang Bergejolak

Santi Dewi (penulis) bersama novel Sublimasi Rasa karya Teddy C. Putra

Air mendidih. Dua kata ini rasanya tepat menggambarkan nuansa pada novel Sublimasi Rasa karya Teddy C. Putra. Novel yang tidak tipis dan juga tidak terlalu tebal ini menyuguhkan sebuah cerita romansa antara sejoli bernama Nata dan Tya, tokoh utama dalam cerita.

Kisah dirajut berdasarkan alur hukum semesta yang berawal dari pertemuan, dan berakhir dengan perpisahan, begitulah cerita dalam novel ini berjalan. Membaca novel ini seperti masuk dalam sebuah kuali cinta yang membelenggu tokoh maupun pembaca. Tokoh Nata dan Tya yang menjalin hubungan jarak jauh membuat mereka seperti berada dalam suatu kubangan rasa yang mendidih dalam diri masing-masing.

Rasa berbunga-bunga, rindu, ragu, berapi-api, pasrah, cemas, takut, dan perasaan yang berlarut-larut, bergejolak sebagai emosi-emosi yang timbul dari tokoh, dan juga berhasil mendidihkan perasaan pembaca yang sesekali turut tenggelam dalam suasana cinta atau konflik yang penulis ciptakan.

Novel bertema romance berjumlah 142 halaman ini memiliki alur campuran. Garis besar cerita berawal dari pertemuan Nata dan Tya di suatu kota, kemudian mereka bertemu kembali di Bali dan saling menyatakan cinta sekaligus mengikrarkan hubungan.

Mereka kemudian menjalani hubungan jarak jauh, Nata di Bali dan Tya di Yogyakarta, lalu timbul konflik yang merenggangkan hubungan dan perasaan mereka masing-masing. Oleh sebab rasa kecewa dan patah hati Tya, akhirnya Tya memutuskan Nata dan cerita berakhir dengan sad ending yang tak terduga. Kisah yang berkelindan pada latar Bali dan Yogyakarta ini menggunakan sudut pandang orang pertama dan ketiga, dan narator mengambil porsi cukup banyak.

Sebagai pembaca, saya merasa tempo cerita yang disuguhkan terasa lambat di awal namun sangat cepat di akhir. Menariknya, setiap bab dalam novel ini diawali dengan sajak-sajak yang menjembatani pembaca dengan cerita selanjutnya, sehingga pembaca lebih mendapat kesempatan untuk menerka-nerka dan menginterpretasi secara luas melalui kalimat-kalimat indah yang dirangkai sebagai pintu awal pada setiap bab cerita.

Sajak-Sajak Yang Berbicara

*Bait 3 terakhir pada bab Tatap Yang Memaksa Untuk Menetap

Luka perlahan mengering
Dendam lenyap bersamaan dengan hadirnya pagi
Kegundahan hati mencari obatnya
Walau telah lelah kaki ini melangkah
Akhirnya kutemukan obat itu
Dirimu…

Kalimat “Akhirnya kutemukan obat itu, Dirimu…”, menjadi kode inti cerita pada bab pertama bahwa akan ada pertemuan yang terjadi, yaitu pertemuan Nata dengan Tya.

*Bait 3 terakhir pada bab Merekah di Kala Senja

Harap kini terbentur sebuah tembok besar bernama
penantian,
penantian akan baik jalannya jika diikuti dengan kesabaran
kesabaran juga harus dibangun dengan ketulusan

Apakah kita sudah tunjukkan?

Bait terakhir pada sajak di bab kedua ini memberikan kode bahwa cerita selanjutnya akan menyoal tentang perasaan menanti, dan pertanyaan yang seolah menantang untuk mengungkap segala yang masih tertahan. Akhirnya pada bab kedua ini, cerita menyuguhkan romantisme Nata dan Tya yang kembali bertemu untuk kedua kalinya dan menumpah-ruahkan cinta masing-masing.

*Bait 3 terakhir pada bab Rasa dan Harapan

Percuma pula untuk disesali
Kopi tetap kuseruput meski tak enak lagi
Ada satu permintaanku kini,
Bisakah kita ulangi besok pagi?

Jangan lupa hadirkan kehangatanmu kembali

Dalam bait ini, sangat jelas terlihat bahwa ada suatu penyesalan dan harapan yang muncul bersamaan yang akan mewarnai kelanjutan cerita. Kalimat “Percuma pula untuk disesali” secara terang memberikan kode bahwa akan terjadi sesuatu yang buruk pada bab ketiga ini, di mana alur kemudian maju pada momen yang tidak diinginkan Tya maupun Nata.

Nata tak bisa menepati janji kepada Tya untuk pergi ke Yogya, dan akhirnya kejadian ini menjadi titik tolak retaknya keutuhan cinta dan kepercayaan Tya. Kalimat “Bisakah kita ulangi besok pagi?” dan “Jangan lupa hadirkan kehangatanmu kembali”, jelas menunjukkan ada harapan-harapan yang turut mengikuti cerita, yang pada hal ini, Nata tetap tak menyerah dan berkeyakinan pada harapan yang mungkin masih bisa menyelamatkan hubungannya dengan Tya. Sedang di sisi lain, sosok Dika mulai masuk sebagai orang ketiga.

*Sajak terakhir pada bab Merajam Sang Rasa

Lentera itu tepat ada di genggamanmu
Sesaat menyala dengan benderang
Tangan lembutmu menjaga
Seakan memberikanku waktu untuk bernafas

Namun, itu hanyalah sesaat
Dengan hembusan angin yang keluar tepat dari bibir
manismu
Nyala itu seketika redup
Menyisakan kegelapan, kesedihann serta kerinduan
Bertemu dengan cahaya yang sempat kau jaga

Sajak yang mengantarkan bab terakhir pada novel ini memberikan gambaran bahwa ada suatu hal baik yang sempat terjadi namun kemudian berakhir pada ujung perjalanan yang tak lagi memiliki cabang. Pada bab terakhir ini, tokoh mengakhiri hubungan dan menyisakan luka yang mendalam. Namun, kata “redup” pada kalimat “Nyala itu seketika redup” pada sajak di atas, saya rasa kurang tepat karena kalimat yang menyusul kemudian terdapat kata “kegelapan”.

Redup menggambarkan situasi remang yang masih ada sedikit cahaya, maka penggunaan kata “redup” mungkin akan lebih sesuai jika diganti dengan “padam”, sehingga sebab-akibat kalimat akan lebih sesuai. Hal ini sekaligus akan memperkuat kesan berhenti dan memperdalam kesuraman cerita.

Penggambaran Tokoh

Nata dan Tya adalah tokoh utama dalam novel ini. Nata adalah pemuda yang sudah bekerja, sedangkan Tya adalah mahasiswi tingkat akhir. Masing-masing tokoh memiliki pergolakan batin masing-masing sehingga karakter Nata dan Tya memang terasacukup berbeda. Nata memiliki karakter optimis, berpikir matang sebelum bertindak, pasrah, tidak berdaya, namun juga susah move on yang membuat ia berlarut-larut dalam kesedihan. Sedangkan Tya digambarkan sebagai karakter yang egois, manja, labil, dan protektif.

Namun seiring berjalannya cerita, tokoh Tya mengalami perkembangan karakter di mana pada akhir cerita, sosok Tya mengambil sikap bijaksana dalam surat yang menyatakan ketidaksanggupannya menjalani hubungan kembali dengan Nata, tetapi Tya justru membuka kembali kesempatan untuk bertemu dan bercengkrama sebagai teman kepada Nata. Selain Nata dan Tya, terdapat beberapa tokoh yang juga hadir dalam novel ini dan mengambil peran penting dalam menggerakkan cerita seperti Fitri, Dika, Ayah dan Ibu Nata, Nita dan Indri.

Kesesuaian Konteks dan Deskripsi Cerita

Novel ini memiliki tema sederhana soal kisah hubungan jarak jauh yang kemudian dibumbui dengan taburan-taburan konflik yang menggetarkan. Deskripsi-deskripsi cerita pada novel ini sangatlah detail, terutama pada bagian Nata dan Tya yang menghabiskan waktu bersama di Yogyakarta, di momen ini saya sebagai pembaca mampu turut merasakan suasana Yogyakarta yang hangat dari deskripsi yang diberikan.

Konteks suasana yang dibangun di awal cerita terasa sangat sejuk, namun deskripsi yang mengikuti setelahnya terasa kurang sesuai ketika pada bagian pembuka cerita, penulis menggambarkan situasi mendung dengan pendeskripsian detail seperti “Sepasang burung dara sibuk meniti angin seolah kebingungan mencari tempat untuk berlindung. Langit sore seketika gelap disergap awan pekat, suara gemuruh mulai saling bersahutan…”

Tetapi pada kalimat selanjutnya “Akhirnya langit menumpahkan kesalnya, bumi pun kembali basah karenanya” terdapat kata “kembali” yang tidak sesuai dengan pendeskripsian di awal yang ingin memberitahu suasana mendung yang baru akan turun hujan. Seolah-olah kata “kembali” menerangkan bahwa hujan telah terjadi sebelumnya, sedang pendeskripsian suasana di awal menggambarkan keadaan yang baru akan hujan seperti misalnya kehadiran kata “seketika” pada kalimat “Langit sore seketika gelap”, dan kata “mulai” pada kalimat “suara gemuruh mulai saling bersahutan”.

Momen Yang Menggetarkan

Cerita cinta selalu membuat siapa saja hanyut, terlebih ketika cerita yang disuguhkan mampu menggetarkan hati pembaca. Novel ini menyuguhkan banyak sekali adegan Nata dan Tya yag terkadang membuat senyum-senyum atau tertawa-tawa sendiri, kadang menegangkan, kadang juga membuat hati meleleh dan terasa tersedot masuk ke dalam kisah cinta mengharukan yang dalam.

Seperti salah satu bagian yang membuat saya tenggelam dan hanyut adalah ketika Nata dan Tya mengungkapkan perasaan cintanya di sebuah pantai berlatar senja pada halaman 68-69.
Selain itu, terdapat kalimat yang menarik perhatian saya di awal cerita dan saya pikir memiliki makna yang sangat dalam. “Jadi seperti ini rasanya membuka mata, namun hanya gelap yang nampak” (Baris 3, hal 5). Kalimat ini terasa sangat menyubit ketika penulis berhasil mengungkapkan perasaan kelam tanpa terang-terangan mengatakan kelam. Kalimat bermajas hiperbola ini seolah-olah berbicara bahwa saking terpuruknya tokoh Nata, ia bahkan tak mampu melihat apapun selain gelap dan hanya kegelapan.

Salah satu momen lain yang tak kalah menggetarkannya adalah adegan Nata dan Tya jatuh dan saling bertindihan (hal 49). Adegan yang biasa diharap-harapkan, membuat baper, dan membuat yang melihat merasa geregetan. Namun pada adegan ini, penulis tidak banyak mendeskripsikan bagaimana perasaan tokoh satu sama lain dan langsung dilanjutkan pada percakapan yang membangunkan mereka dari dekapan dan tatap yang saling bertautan.

Hal Lain Yang Berkelindan

Meskipun gagasan utama novel ini menyoal tentang cinta, namun dalam novel ini kita bisa menemukan hal-hal lain yang turut berkelindan mewarnai cerita yang juga menjadi perhatian penulis. Seperti misalnya soal politik di mana tokoh Nata fasih membicarakan mengenai politik di awal cerita kepada Tya.

Di samping itu, isu perempuan juga masuk ke dalam cerita pada pada halaman 54 saat Fitri menjelaskan kepada Tya bagaimana perempuan juga harus menentukan sikap yang tegas soal cinta. Pada suatu bagian, ilmu soal komunikasi juga turut mewarnai cerita yang dikemas dengan narasi cukup panjang tentang peran dan manfaat komunikasi yang terlihat jelas pada paragraf 2 halaman 18. Dan hal lainnya yang banyak berkelindan pada novel ini adalah keresahan penulis pada lingkungan. Seperti misalnya pada bagian,

“Bukan hanya padat karena kendaraan yang sibuk hilir mudik kesana-kemari, banyak juga pengguna jalan yang “tidak tahu diri” memarkirkan kendaraannya sembarang saja” (Paragraf 1, hal 10).
“Belum lagi pedagang kaki lima juga sering memanfaatkan badan jalan dan trotoar sebagai lahan berjualan, makin lengkap semrawut lalu lintas” (Paragraf 1, hal 10).

Pada bagian lain, di tengah percakapan Nata dan Tya, Nata menjelaskan soal bagaimana keresahannya terhadap Bali dibalik keeksotismeannya yang terkenal (Paragraf 4 hal 31 dan paragraf 2 hal 41). Hal-hal ini tentu tidak hadir secara tiba-tiba, isu-isu yang muncul menunjukkan bahwa penulis menaruh perhatian lebih pada beberapa hal tersebut.

Hal ini juga didukung oleh wawasan luas yang dimiliki penulis dan kekayaan bacaan yang dimiliki yang terlihat pada beberapa percakapan dan keterangan dalam paragraf; “Enggak baik buat kesehatan kalau tidur pakai earphone kalau aku baca-baca artikel”. “kalau menunggu, ia akan menghabiskan waktu bersama buku bacaannya. Ya seperti kali ini ia sedang ditemani oleh Ronggeng Dukuh Paruk setebal kurang lebih 400 halaman” (Paragraf 1, hal 12).

Penyaringan Hal-Hal Yang Muncul

Banyak hal selalu mungkin masuk ke dalam cerita, namun penulis biasanya akan membuat batasan atau memagari skema cerita yang dibuat melalui penyaringan atau filterisasi yang diperhitungkan dengan ketat. Pada bab pertama cerita, terdapat kalimat “Tetapi di sisi lain tumbuhan hijau menyambut gembira sinar matahari yang menghujaninya. Itu menandakan kalau proses fotosintesis dapat berjalan dengan baik dan sempurna, sehingga mereka bisa mempertahankan kelangsungan jenisnya” (Paragraf 2, hal 13).

Pada bagian ini, penulis menaruh fokus pada cuaca yang sangat menyengat di bandara dan menjelaskan soal tumbuhan dan fotosintesis yang menyertainya. Mengapa kemudian penulis lebih penting menceritakan soal tumbuhan daripada situasi di bandara atau perasaan menunggu tokoh yang diminta bersabar oleh panitia untuk menunggu peserta lain? Sedang di sisi lain, tokoh telah berbekal perasaan bersemangat sejak sedari rumah. Tapi kenapa kemudian fotosintesis yang justru masuk dan mendapat perhatian?

Menciptakan Rasa Penasaran dan Humor-Humor Kecil

Menjaga rasa penasaran pembaca adalah salah satu hal penting yang pasti dipertimbangkan penulis. Pertemuan-pertemuan tak disengaja antara Nata dan Tya menjadi titik awal yang makin menguatkan hubungan mereka, sekaligus memberi rasa penasaran pada pembaca soal siapa dan bagaimana selanjutnya cerita akan berjalan. Misalnya pertemuan tak disengaja di mini market, lalu kembali bertemu di lift hotel secara tak disengaja pula, dan kemudian makan bersama.

Humor-humor kecil juga hadir melengkapi hubungan Nata dan Tya yang dihadirkan melalui percakapan. Hadirnya humor-humor kecil pemecah suasana dingin khas anak muda yang sedang PDKT menjadi hal yang tak luput tersisip pada kisah-kisah cinta yang baru bersemi seperti yang juga hadir dalam novel Sublimasi Rasa ini.

Misal pada percakapan Nata dan Tya di sebuah taman. 1). “Kalau sudah tidak enak kenapa dipaksakan?” tanya Tya penasaran. “Karena sudah dibayar kan. Makanya harus dimakan. Hahahaha.” Jawabannya sontak mengundang gelak tawa dari mereka berdua. 2). “Enak saja bilang aku bapak. Sejak kapan aku nikah sama ibumu!” sahut Nata dengan nada yang agak tinggi dan disusul dengan tawa mereka.

Secara keseluruhan, novel bergenre romance berkisah cinta Long Distance Relationship ini mampu relate bagi pembaca yang mengalami atau tidak mengalami hubungan cinta jarak jauh. Novel yang dikemas dengan bahasa yang ringan dan mudah dipahami ini sukses membuat saya sebagai pembaca turut tenggelam dalam kisah cinta Nata dan Tya. Cerita berjalan begitu seru dan asyik, sehingga pembaca akan hanyut membaca sampai akhir tanpa sekalipun ingin berhenti. [T]

_____

BACA JUGA:

Mendedah Harapan dalam “Sublimasi Rasa” | Tentang Novel Karya Teddy C Putra
Mendedah Harapan dalam “Sublimasi Rasa” | Tentang Novel Karya Teddy C Putra

_____

Tags: Bukunovelnovel remajaresensi buku
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kelinci Penakut dan Tikus Pembersih Gigi

Next Post

Pameran Foto Swa’Raga | Ideologi Jati Diri Gung Ama

Santi Dewi

Santi Dewi

Lahir di Kalimantan, 02 Mei 2000. Mahasiswa program studi Pendidikan Bahasa Inggris, Undiksha. Saat ini aktif dalam Teater Kampus Seribu Jendela. Suka menyanyi, teater, dan melukis wajah.

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Pameran Foto Swa’Raga | Ideologi Jati Diri Gung Ama

Pameran Foto Swa’Raga | Ideologi Jati Diri Gung Ama

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co