2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pameran Foto Swa’Raga | Ideologi Jati Diri Gung Ama

tatkala by tatkala
October 16, 2021
in Ulasan
Pameran Foto Swa’Raga | Ideologi Jati Diri Gung Ama

Seorang pengunjung berfoto di depan foto yang dipamerkan dalam “SWA’RAGA” SOLO PHOTOGRAPHY EXHIBITION pada 15-17 Oktober 2021 di Tempo Dulu Kopi, Area Warung Celagi Kesiman.

Fotografer Gung Ama memamerkan karya foto dengan tajuk “SWA’RAGA” SOLO PHOTOGRAPHY EXHIBITION pada 15-17 Oktober 2021 di  Tempo Dulu Kopi,  Area Warung Celagi Kesiman, Denpasar, Bali. Pameran dikuratori  Bayu Pramana dan dibuka Popo Danes

Swa’Raga adalah sebuah penemuan ideologi jati diri fotografer Gung Ama, kemandirian yang lepas dari segala beban hegemoni, dominasi dan strukturisasi. Proses perjalanan menggali jati diri sejati yang  dijalani dengan passion, totalitas, komitmen tiada batas serta kebebasan pikiran dari keterikatan.

Orang yang mampu menemukan Swa’Raga dalam hidupnya, dipastikan akan menemukan kebahagian sejati dalam hidup. Tidak perlu menunggu berpindah pada alam kematian untuk menemui Swa’raga. Fotografi sebagai sebuah medium seni menjadi salah satu penguat kesadaran hidup dalam pencapaian kesadaran diri yang berbudaya menggapai Swa’Raga versi Gung Ama.

Fotografi bagi Gung Ama menjadi sarana komunikasi untuk mengekspresikan ide dan kesan estetiknya. Ekspresi tersebut tertuang dalam proses eksperimen yang panjang dan penuh dengan kejutan kejutan sensasi jiwa. Sensasi yang tidak semata menjadi kepuasan diri namun secara kreatif dapat menjadi pelepas dahaga dari sosok Gung Ama dalam menemukan ideologi diri.

Swa’Raga secara konsisten mengakumulasi proses pencapaian fotografi alternatif karya Gung Ama, ditengah badai teknologi fotografi digital yang setiap hari menawarkan kemudahan fitur baru, seniman fotografi makin kehilangan identitas, jati diri dan pencapaian berkarya. Seluruh pencapaian seolah telah dituntaskan oleh mesin bernama kamera digital beserta piranti pengolahnya. Tiada lagi sentuhan “emosional” dalam proses berkarya fotografi yang kiranya dapat dilakukan fotografer kini dalam dunia digital.

Menurut prinsip Gung Ama, sebuah kreasi tidak boleh bergantung hanya pada satu elemen teknis, melainkan harus dapat dikembangkan dari kreasi dalam diri dengan berbagai medium tidak terbatas. Bertolak dari pandangan tersebut, Gung Ama secara ideologi (dan mungkin juga) finansial tidak tertarik mengadopsi teknologi digital terlalu massif dalam berkarya seni fotografi. Elaborasi awal dimulai dengan rekonstruksi foto bergaya Bali masa lampau yang terekam kuat dalam memori kolektif penikmat fotografi kolonial.

Dengan brand “Rekonstuksi Bali 1930”, lewat karyanya mengadopsi gaya berfoto tempo dulu Gung Ama seolah mengajak model foto dan penikmat fotonya bertamasya dalam mesin waktu kembali dalam suasana Bali di awal abad keduapuluh. Style foto yang dipopulerkan kembali oleh Gung Ama tersebut kemudian memberi alternatif visual baru pada industri fotografi di Bali khususnya pada foto Pre-Wedding.

Foto yang dihasilkan lewat komparasi visual masa lalu dan situasi terkini menjelaskan konteks budaya ilustrasi yang muncul sebagai penanda visual konstruksi peradaban masa lalu dan acuan materi visual rekonstruksi pusaka Bali di masa kini. Muncul banyak karya fotografi di Bali yang kemudian mengikuti  acuan gaya foto yang dikembangkan oleh Gung Ama tersebut. 

Riset visual yang matang tidak hanya lewat medium foto hitam putih, elemen lokasi pemotretan, termasuk juga gaya berpakaian di masa lalu menjadi pertimbangan yang matang. Bahkan, keseriusan dalam detail tata busana Bali menelorkan peluang kreasi baru yang dikolaborasikan bersama Ayu Suma sang istri. Tidak hanya sampai disini, kamera digital yang dirasanya tidak dapat mengakomodasi pikiran kreatifnya yang tanpa batas, Gung Ama mencoba bereksperimen kreatif lebih menantang dengan “mainan” baru bernama Afghan box Camera.

Swa’Raga menampilkan serangkaian karya foto hasil penjelajahan teknis Gung Ama dengan ekperimen kamera kotak kayu bernama Afghan Camera, sebuah medium kamera kotak kayu yang populer digunakan sebagai kamera instan dengan nama “Kamraa-e-faoree” alias kamera instan di Afghanistan sekitar tahun 1920an.

Dalam kotak kedap sinar tersebut, lensa memproyeksikan imaji langsung ke lembaran kertas ber-emulsi dalam hitungan detik. Proses yang tidak semudah membaca dan mengatur light meter pada kamera modern, melainkan membutuhkan akurasi penghitungan intensitas cahaya yang tepat dan waktu pencahayaan yang tepat pula untuk menghindari under exposure ataupun over exposure.

Pasca proses eksposur, kertas yang telah disinari tersebut langsung diolah pada “proses” di dalam ruangan badan kamera yang dirancang memiliki dua bagian cairan kimia, yaitu developer untuk pengembang gambar dan fixer untuk memastikan pencahayaan terhenti sehingga terwujud gambar yang permanen.

Dari langkah tersebut muncullah gambar negatif pada kertas yang sejurus dalam  tahapan penyinaran kedua, gambar negatif diproyeksikan kembali dalam kamera afghan hingga menghasilkan gambar positif. Sebagian dari negatif juga dikembangkan menjadi gambar positif lewat teknik cyanotype, sebuah medium cetak alternatif yang bernuansa kebiruan. Gung Ama juga piawai mencetak alih media foto pada beberapa material alternatif seperti kayu, batu dan logam yang juga akan ditampilkan pada rangkaian pameran ini.

34 karya yang ditampilkan Gung Ama seolah lepas dari suasana hingar bingar fotografi, jauh dari warna, jauh dari dominasi teknis semata dan yang terpenting jauh dari intervensi orang orang yang tampil di rekam fotografisnya. Hal yang sangat jarang terjadi dalam riuh fotografi digital dan pola pikir narsis via sosial media.

Mereka seolah takluk kepada kamera kotak kayu Gung Ama yang justru mendikte bahwa mereka masuk ke situasi fotografi seabad setengah lalu yang membutuhkan model foto dalam diam beberapa detik hingga menit. Hanyut dalam balutan wastra dan gaya busana Bali masa lalu yang menegaskan perpindahan jaman.

Gung Ama sadar betul untuk mencitrakan gambar visual yang mengekspresikan keunikan visual serta keunikan individual dari subyek foto yang beragam. Sehingga muncul sisi kualitas serta Taksu misterius yang menyelimuti setiap lembar foto. Foto-foto retrospektif tersebut menjadi ciri khas yang sangat mudah dikenali sebagai bagian dari dimensi visual Gung Ama.

Sepintas seluruh karya terlihat sangat sederhana dan biasa dalam kacamata fotografi digital, namun hal sederhana tersebut tergolong membutuhkan konsentrasi, kesabaran serta kehati-hatian dalam tahapan demi tahap prosesnya. Tidak banyak orang memiliki ketekunan seperti Gung Ama yang selalu “Gudip” tak pernah bisa diam, tak pernah berada dalam titik puas dan berhenti pada satu pencapaian, menggapai Swa’Raga. [T][***/Rls]

Tags: fotografipameran foto
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Novel “Sublimasi Rasa”: Jarak Yang Bergejolak

Next Post

Puisi-puisi Angga Wijaya | Mengirim Suara Ibu ke Angkasa

tatkala

tatkala

tatkala.co mengembangkan jurnalisme warga dan jurnalisme sastra. Berbagi informasi, cerita dan pemikiran dengan sukacita.

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Angga Wijaya | Mengirim Suara Ibu ke Angkasa

Puisi-puisi Angga Wijaya | Mengirim Suara Ibu ke Angkasa

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co