2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pameran Foto Swa’Raga | Ideologi Jati Diri Gung Ama

tatkala by tatkala
October 16, 2021
in Ulasan
Pameran Foto Swa’Raga | Ideologi Jati Diri Gung Ama

Seorang pengunjung berfoto di depan foto yang dipamerkan dalam “SWA’RAGA” SOLO PHOTOGRAPHY EXHIBITION pada 15-17 Oktober 2021 di Tempo Dulu Kopi, Area Warung Celagi Kesiman.

Fotografer Gung Ama memamerkan karya foto dengan tajuk “SWA’RAGA” SOLO PHOTOGRAPHY EXHIBITION pada 15-17 Oktober 2021 di  Tempo Dulu Kopi,  Area Warung Celagi Kesiman, Denpasar, Bali. Pameran dikuratori  Bayu Pramana dan dibuka Popo Danes

Swa’Raga adalah sebuah penemuan ideologi jati diri fotografer Gung Ama, kemandirian yang lepas dari segala beban hegemoni, dominasi dan strukturisasi. Proses perjalanan menggali jati diri sejati yang  dijalani dengan passion, totalitas, komitmen tiada batas serta kebebasan pikiran dari keterikatan.

Orang yang mampu menemukan Swa’Raga dalam hidupnya, dipastikan akan menemukan kebahagian sejati dalam hidup. Tidak perlu menunggu berpindah pada alam kematian untuk menemui Swa’raga. Fotografi sebagai sebuah medium seni menjadi salah satu penguat kesadaran hidup dalam pencapaian kesadaran diri yang berbudaya menggapai Swa’Raga versi Gung Ama.

Fotografi bagi Gung Ama menjadi sarana komunikasi untuk mengekspresikan ide dan kesan estetiknya. Ekspresi tersebut tertuang dalam proses eksperimen yang panjang dan penuh dengan kejutan kejutan sensasi jiwa. Sensasi yang tidak semata menjadi kepuasan diri namun secara kreatif dapat menjadi pelepas dahaga dari sosok Gung Ama dalam menemukan ideologi diri.

Swa’Raga secara konsisten mengakumulasi proses pencapaian fotografi alternatif karya Gung Ama, ditengah badai teknologi fotografi digital yang setiap hari menawarkan kemudahan fitur baru, seniman fotografi makin kehilangan identitas, jati diri dan pencapaian berkarya. Seluruh pencapaian seolah telah dituntaskan oleh mesin bernama kamera digital beserta piranti pengolahnya. Tiada lagi sentuhan “emosional” dalam proses berkarya fotografi yang kiranya dapat dilakukan fotografer kini dalam dunia digital.

Menurut prinsip Gung Ama, sebuah kreasi tidak boleh bergantung hanya pada satu elemen teknis, melainkan harus dapat dikembangkan dari kreasi dalam diri dengan berbagai medium tidak terbatas. Bertolak dari pandangan tersebut, Gung Ama secara ideologi (dan mungkin juga) finansial tidak tertarik mengadopsi teknologi digital terlalu massif dalam berkarya seni fotografi. Elaborasi awal dimulai dengan rekonstruksi foto bergaya Bali masa lampau yang terekam kuat dalam memori kolektif penikmat fotografi kolonial.

Dengan brand “Rekonstuksi Bali 1930”, lewat karyanya mengadopsi gaya berfoto tempo dulu Gung Ama seolah mengajak model foto dan penikmat fotonya bertamasya dalam mesin waktu kembali dalam suasana Bali di awal abad keduapuluh. Style foto yang dipopulerkan kembali oleh Gung Ama tersebut kemudian memberi alternatif visual baru pada industri fotografi di Bali khususnya pada foto Pre-Wedding.

Foto yang dihasilkan lewat komparasi visual masa lalu dan situasi terkini menjelaskan konteks budaya ilustrasi yang muncul sebagai penanda visual konstruksi peradaban masa lalu dan acuan materi visual rekonstruksi pusaka Bali di masa kini. Muncul banyak karya fotografi di Bali yang kemudian mengikuti  acuan gaya foto yang dikembangkan oleh Gung Ama tersebut. 

Riset visual yang matang tidak hanya lewat medium foto hitam putih, elemen lokasi pemotretan, termasuk juga gaya berpakaian di masa lalu menjadi pertimbangan yang matang. Bahkan, keseriusan dalam detail tata busana Bali menelorkan peluang kreasi baru yang dikolaborasikan bersama Ayu Suma sang istri. Tidak hanya sampai disini, kamera digital yang dirasanya tidak dapat mengakomodasi pikiran kreatifnya yang tanpa batas, Gung Ama mencoba bereksperimen kreatif lebih menantang dengan “mainan” baru bernama Afghan box Camera.

Swa’Raga menampilkan serangkaian karya foto hasil penjelajahan teknis Gung Ama dengan ekperimen kamera kotak kayu bernama Afghan Camera, sebuah medium kamera kotak kayu yang populer digunakan sebagai kamera instan dengan nama “Kamraa-e-faoree” alias kamera instan di Afghanistan sekitar tahun 1920an.

Dalam kotak kedap sinar tersebut, lensa memproyeksikan imaji langsung ke lembaran kertas ber-emulsi dalam hitungan detik. Proses yang tidak semudah membaca dan mengatur light meter pada kamera modern, melainkan membutuhkan akurasi penghitungan intensitas cahaya yang tepat dan waktu pencahayaan yang tepat pula untuk menghindari under exposure ataupun over exposure.

Pasca proses eksposur, kertas yang telah disinari tersebut langsung diolah pada “proses” di dalam ruangan badan kamera yang dirancang memiliki dua bagian cairan kimia, yaitu developer untuk pengembang gambar dan fixer untuk memastikan pencahayaan terhenti sehingga terwujud gambar yang permanen.

Dari langkah tersebut muncullah gambar negatif pada kertas yang sejurus dalam  tahapan penyinaran kedua, gambar negatif diproyeksikan kembali dalam kamera afghan hingga menghasilkan gambar positif. Sebagian dari negatif juga dikembangkan menjadi gambar positif lewat teknik cyanotype, sebuah medium cetak alternatif yang bernuansa kebiruan. Gung Ama juga piawai mencetak alih media foto pada beberapa material alternatif seperti kayu, batu dan logam yang juga akan ditampilkan pada rangkaian pameran ini.

34 karya yang ditampilkan Gung Ama seolah lepas dari suasana hingar bingar fotografi, jauh dari warna, jauh dari dominasi teknis semata dan yang terpenting jauh dari intervensi orang orang yang tampil di rekam fotografisnya. Hal yang sangat jarang terjadi dalam riuh fotografi digital dan pola pikir narsis via sosial media.

Mereka seolah takluk kepada kamera kotak kayu Gung Ama yang justru mendikte bahwa mereka masuk ke situasi fotografi seabad setengah lalu yang membutuhkan model foto dalam diam beberapa detik hingga menit. Hanyut dalam balutan wastra dan gaya busana Bali masa lalu yang menegaskan perpindahan jaman.

Gung Ama sadar betul untuk mencitrakan gambar visual yang mengekspresikan keunikan visual serta keunikan individual dari subyek foto yang beragam. Sehingga muncul sisi kualitas serta Taksu misterius yang menyelimuti setiap lembar foto. Foto-foto retrospektif tersebut menjadi ciri khas yang sangat mudah dikenali sebagai bagian dari dimensi visual Gung Ama.

Sepintas seluruh karya terlihat sangat sederhana dan biasa dalam kacamata fotografi digital, namun hal sederhana tersebut tergolong membutuhkan konsentrasi, kesabaran serta kehati-hatian dalam tahapan demi tahap prosesnya. Tidak banyak orang memiliki ketekunan seperti Gung Ama yang selalu “Gudip” tak pernah bisa diam, tak pernah berada dalam titik puas dan berhenti pada satu pencapaian, menggapai Swa’Raga. [T][***/Rls]

Tags: fotografipameran foto
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Novel “Sublimasi Rasa”: Jarak Yang Bergejolak

Next Post

Puisi-puisi Angga Wijaya | Mengirim Suara Ibu ke Angkasa

tatkala

tatkala

tatkala.co mengembangkan jurnalisme warga dan jurnalisme sastra. Berbagi informasi, cerita dan pemikiran dengan sukacita.

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Angga Wijaya | Mengirim Suara Ibu ke Angkasa

Puisi-puisi Angga Wijaya | Mengirim Suara Ibu ke Angkasa

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co