2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Puisi-puisi Angga Wijaya | Mengirim Suara Ibu ke Angkasa

Angga Wijaya by Angga Wijaya
October 16, 2021
in Puisi
Puisi-puisi Angga Wijaya | Mengirim Suara Ibu ke Angkasa

Foto ilustrasi: Mursal Buyung

DENTING PENJUAL BAKSO

Dari dalam kamar, kudengar suara yang
berasal dari luar, mangkuk penjual bakso

Suaranya tak seperti biasa, begitu pilu
Pagi yang sepi sama seperti pembeli

“Tempat asal saya sedang ada bencana,
anak dan istri di sana, saya merantau”

Semenjak omongan intelektual bodoh
Bakso yang dijualnya tak dibeli banyak

Berjualan bakso untuk bertahan hidup
Tak malu memilih pekerjaan bersahaja

Jangan paksakan sesuatu yang tak alami
Kita semua satu, jangan sampai berkelahi

Politik dari dulu dikatakan sesuatu kotor
Sebab hati dan perilaku amat jauh berbeda

Denting mangkuk seperti hendak berkata:
Kemiskinan menyakitkan. Mari kita peduli.

2021

ANAK-ANAK DI UJUNG GANG

Tak ada tempat bermain, anak-anak penuhi gang-gang sempit di kota.
Bercanda, berlari, berteriak. Lepas, tanpa beban, tampak bebas-merdeka.

Ayah mereka bekerja, tak sempat temani usia penting dalam kehidupan.
Ibu sibuk memikirkan uang tambahan, berjualan online, sesekali internetan

Tradisi yang membuat mereka menikah, sebab jika terus melajang
dianggap aneh, tak laku-laku atau pencinta sesama jenis.

Setelah berumah tangga, mereka mesti punya anak,
agar tak dianggap mandul. Demi kebahagiaan keluarga.

Anak-anak tumbuh di kamar kontrakan, rumah menjadi
impian tak terbeli, karena penghasilan tiap bulan sedikit.

Berteman dengan televisi dan gawai, hidup
di luar kenyataan, menjadi apa saja, dunia
virtual berikan kehidupan semu dan palsu

Sore hari, jika kau melintasi pemukiman,
terdengar suara ramai dari anak-anak itu.
Sebuah negeri bermimpi menjaga mereka

2020

CATATAN PERJALANAN

Datang ke kantor redaksi koran, memori indah.
Menorehkan nama dan tandatangan di kertas.

Honor, bukan hanya soal besaran uang,materi.
Lebih dari itu, ada kepuasan batin, rasa cinta.

Saat tulisan atau karya dimuat, rasanya asyik.
Itu ibarat pengakuan atas jerih payah penulis.

Menulis hingga malam, atau bahkan dini hari.
Ini bukan insomnia, kami terbiasa tidur telat.

Penulis, kaum yang kini banyak dilupakan.
Lupa betapa besar jasa kami di masa lalu.

Koran-koran kini tak bisa membayar honor
Akibat serbuan dunia digital amat kejam

Pemasukan tak sesuai dengan keuntungan
Koran tergeletak di meja, kita tak membaca

Pemerintah ada baiknya segera bertindak
Dukung perusahaan koran tetap berjaya

Agar kami para penulis juga tetap hidup
Honor tulisan membuat dapur mengepul

2021

LAGU CENGENG

Namanya PK, sebut saja demikian, beliau
guru seni saat aku duduk di sekolah dasar.

Konon dia guru agama, entah kenapa bisa
mengajar seni dan beri teori menggambar.

Suatu pagi, dia meminta tugas pada kami,
anak-anak yang polos, lugu, dan baik hati.

“Kumpulkan pekerjaan rumah kalian!”
Suara berat itu penuhi ruangan kelas.

Saat aku menyerahkan lukisanku, ia berkata
keras, “tak adakah gambar lain, selain langit pagi?”

Aku terdiam, air mataku bercampur marah.

Dia tak tahu, ayahku mengajariku melukis,
bersama hikmah hidup yang terus hidup.

Saat itu aku masih kecil, orang tuaku tak pernah
melakukan apa yang dia lakukan.

Beberapa bulan kemudian, guru itu terbius
perselingkuhan. Di tembok sekolah, kabar itu
ditulis dengan tangan yang penuh amarah.

Begitulah. Kami belajar banyak hal. Meniru
apa yang kami lihat dari orang dewasa.

2021

MENGIRIM SUARA IBU KE ANGKASA

Ibu mengirim pesan suara, memintaku
untuk lebih mengalah pada pasangan

Suara itu amat lembut, penuh kedamaian.
Mendengarnya, aku tak mampu berkata.

Melalui telepon pintar milik kakak, pesan
itu masuk ke sanubari dan hati terdalam.

Itu terakhir kali kami mendengar suaranya.
Setelah itu, dini hari tenang, ibu meninggal.

Kami kehilangan perempuan nan agung.
Air mata basahi hati yang masih keras ini.

Kemarin, kudengar lagi pesan suara ibu.
Ibu telah pergi, pulang ke rumah abadi.

Aku lalu mengirim pesan itu ke angkasa
Bekal setiap pejalan yang pulang kembali.

2021

JAKARTA, JANGAN AMBIL DIA

Masihkah kau simpan lukisan itu?
Dulu sekali, saat kita masih belia
Kau pergi lanjutkan studi ke kota
Kuberikan lukisan kecemasan itu.

Tak ingin aku kau pergi amat jauh
Aku takut perubahan. Benar saja,
kau jauh berubah setelah di kota.
Surat dariku tak pernah kau baca

Telepon kabarkan rasa sedih, kau
ingin berpisah usai kita bersama.
Ibumu, ya, ibumu tak menyukaiku.
Kita berbeda keyakinan. Cinta kita
sama, tembok tebal menghalangi.

Lelaki lain masuk dalam hidupmu
Diam-diam kalian menikam setia.
Kudengar pernikahan di pendopo
kota, kau mengundang kecewaku.
Aku terbakar amarah. Marah pada
ketidakjujuran dan kepengecutan.

Kita bertemu dalam diam, ketika
aku datang ke kotamu. Mata kita
ingatkan aku kenangan bersama
saat kita saling mencium kasih
di ruang tunggu, lugu dan polos.

Tak ingin lagi aku mengenalmu
Kita begitu jauh, terpisah jarak
Tak ada lagi pertemuan abadi
Semua hanya sandiwara radio
Sutradara atas kegagalan kita.

2021

DELAPAN PESAN BULAN MEI

Ada yang mengirim hujan ini pagi.
Apakah itu dari para kekasih hati?

Sudah lama panas menghantui
Aku teringat bulan yang datang

Separuh cahaya di langit barat
Kemenangan cinta nan hakiki

Ingatlah, kita tak pernah kalah.
Berita negeri jauh berisi tangis

Kita bersedih bumi tak damai
Manusia tak percaya pada diri

Menguasai dunia, untuk apa?
Kematian datang setiap hari

Hari ketujuh, tuhan tak tidur
Ia selalu menjaga bumi kita

Menari, bernyanyi gembira
Agar air mata tak lagi usai

2021

SEJAK AKU MENCINTAIMU

Sejak aku mencintaimu
Hari-hari begitu indah
Hati riang gembira
Langkah kian pasti
Menjalani hidup
Tak kutemui lagi
Jiwa yang muram
Seperti dulu

Pada dirimu
Aku berkaca
Kutemui ketulusan
Kepolosan
Kanak-kanak kita

Aku ingin bersamamu
Habiskan sisa usia
Mengarungi
Samudera hidup
Percaya dan yakin
Tuhan bersama kita

Peluk erat tubuh ini
Hati kita terpaut
Pada satu kata; cinta!

2015

JALAN PIDADA, DENPASAR

Ketiadaan datang menghampiri
Sebelum hujan akhiri pertemuan

Juga obrolan ditemani dua kopi
Telah sampai di manakah waktu?

Saat masa sulit menghampiri diri
Pandemi membuat kita bersiasat

Lari atau bertahan, kita selalu kalah
Melawan kematian yang pasti tiba

Dunia menjadi seperti pertempuran
Tuhan tak datang lagi menolongku

Sebab doa telah lama tak kudengar
Setelah kepergian orang-orang suci

Menunggu, kita hanya bisa menunggu
Hingga nasib baik mengubah semua

Bukan oleh politik seperti di televisi
Keringat usai bekerja bukti revolusi

2021

CERITA NABI UNTUK KEKASIH

Ada yang tak bersuara di luar kamar
Kukira pencuri, kulihat kucing lapar

Engkau ajarkan aku untuk berbagi
Rumah kita menjadi persinggahan

Perut mungil bersama kelucuan
Kita beri mereka nama manusia

Aku teringat nabi junjungan kita
Beliau gelisah menyimpan harta

Rezeki ini hari dibagikan semua
Jika tidak, beliau tak bisa tidur

Itu yang kudengar dari kekasih
Engkau ajarkan aku arti semua

Lihatlah zaman kita sekarang ini
Saudara kita amat kekenyangan

Sementara yang lain kelaparan
Mencari makan amatlah sukar

Kita bagai binatang jalanan
Manusia yang lupa jati diri

Cerita nabi semoga didengar
Itu pun jika kita masih ingat

2021

~~~~~~~~~~~~

BACA PUISI LAIN

Puisi-puisi Rai Sri Artini | Oleg Tamulilingan, Di Suatu Masa

~~~~~~~~~~

Tags: Puisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pameran Foto Swa’Raga | Ideologi Jati Diri Gung Ama

Next Post

Kisah Heroik Luh Ayu Manik Mas Saat Pandemi Digarap dalam Wayang Kulit

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

by Chusmeru
September 27, 2026
0
Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

Pagi September 1965 di Suatu Desa Suara derit terdengar dari pintu rumah kakek di suatu desa yang sejukAnak-anak mengajak bermain...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
0
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

Read moreDetails

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
0
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

by Salman Alade
September 6, 2026
0
Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

Memelihara Kesepian 1.letakkan kesepiandi tempat yang teduh. jauhkan dari suaraorang-orang yang terlalu bahagia. 2.beri makansetiap malam. sedikit kenangan.sedikit musik. jangan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

by Ni Putu Puspa Trisnawati
September 5, 2026
0
Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

Mother's Bakery Hari-hari terasa menghisap paracetamolPahitnya mengendap hingga ke ujung hatiBumi menyediakan sirup, namun maple pun sulit menyatukan yang retakIbu...

Read moreDetails

Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

by Supali Kasim
August 30, 2026
0
Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

Air di Daun Talas seberapa waktu bertahanair di daun talas dapat menerimakenyataan demi kenyataan tarian anginlantai licin dan tetabuhan riuhtanpa...

Read moreDetails

Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

by Sholihul Mubarok
June 28, 2026
0
Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

MENJELMA KATA DI KURUSETRA BERANDA mata-mata telingasulih gaduh suaralahir ribuan kekata jemari adalah ujung belatirobek halus di layar tanduskebajikan serta...

Read moreDetails

Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

by Andi Wirambara
June 27, 2026
0
Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

KUCING aku seekor kucing yang memanjat jendelamukau penghuni yang selalu menutupnya,bersantai menenteng cangkir teh yang pekat. aku mengeong dan mengamuk,...

Read moreDetails

Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

by IBW Widiasa Keniten
June 26, 2026
0
Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

Tuhan Beri Aku Waktu Tuhan, di sisa napas ini beri aku mengadudalam gelombang hidup yang tak pernah pastiTuhan, beri aku...

Read moreDetails

Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

by Mahesa Putra
June 21, 2026
0
Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

Pelancong Gersang Aku berhenti memikirkanmu.Jam-jam yang meruntuhkan angka-angka;berlarian masuk rumah. Aku berhenti memikirkanmu.Sejak kamu menggulir layar begitu pagi,memanen percakapan tentang...

Read moreDetails
Next Post
Kisah Heroik Luh Ayu Manik Mas Saat Pandemi Digarap dalam Wayang Kulit

Kisah Heroik Luh Ayu Manik Mas Saat Pandemi Digarap dalam Wayang Kulit

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co