2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dari Surga ke “No List Fodor”: “Overtourism” Bali dan Tantangan Diplomasi Indonesia

Muhammad Yamin by Muhammad Yamin
November 28, 2024
in Esai
Membedah Keunggulan Komparatif: Kunci Sukses Pariwisata Global di Era Modern

Yamin

BALI baru saja menerima “hadiah” pahit di akhir 2024. Pulau Dewata ini masuk dalam daftar 15 destinasi yang tidak direkomendasikan untuk dikunjungi sepanjang 2025 versi Fodor’s Travel – salah satu panduan perjalanan paling berpengaruh di dunia. Masuknya Bali dalam “Fodor’s No List 2025” bukanlah tanpa alasan. Pembangunan tak terkendali yang didorong overtourism telah menggerus habitat alami, merusak warisan lingkungan dan budaya, serta menciptakan apa yang disebut sebagai “apocalypse plastik”.

Menurut data Badan Pusat Statistik Provinsi Bali, pulau ini mencatat sekitar 5,3 juta pengunjung internasional pada 2023. Jumlah ini menunjukkan pemulihan kuat dibanding level pra-pandemi, meski masih di bawah 6,3 juta pengunjung pada 2019. Tujuh bulan pertama 2024 bahkan mencatat kenaikan 22% dibanding periode sama tahun sebelumnya dengan 3,5 juta wisatawan asing.

Namun di balik gemerlap angka kunjungan wisatawan, tersembunyi masalah serius yang mengancam keberlanjutan pariwisata Bali itu sendiri. Bali Partnership, koalisi akademisi dan LSM yang meneliti masalah pengelolaan limbah, memperkirakan pulau ini menghasilkan 1,6 juta ton sampah setiap tahun, dengan sampah plastik mencapai 303.000 ton. Yang mengkhawatirkan, hanya 48% dari total sampah yang dikelola secara bertanggung jawab, dan hanya 7% sampah plastik yang didaur ulang.

Paradoks Kemakmuran dan Kerusakan

Fenomena overtourism di Bali menyajikan sebuah ironi yang mencolok dalam kajian ekonomi politik internasional. Pulau yang dijuluki “Surga Terakhir” ini kini menghadapi dilema klasik negara berkembang: pertarungan antara kepentingan ekonomi jangka pendek dan keberlanjutan jangka panjang.

Data dari Bappenas menunjukkan kontribusi signifikan sektor pariwisata Bali terhadap perekonomian. Sektor ini menyumbang sekitar 54% dari PDRB Bali dan menyerap lebih dari 38% tenaga kerja. Namun di balik angka-angka mengagumkan ini, tersembunyi biaya tersembunyi yang mahal: degradasi lingkungan, erosi budaya, dan marginalisasi masyarakat lokal.

Studi yang dilakukan Suyadnya (2021) mengungkap bahwa gentrifikasi yang didorong pariwisata telah mengubah lanskap sosial-ekonomi Bali secara fundamental. Lahan pertanian produktif berubah menjadi hotel dan vila, sistem irigasi subak yang berusia ratusan tahun terganggu, dan masyarakat lokal terdesak ke pinggiran oleh tekanan ekonomi yang semakin tinggi.

Yang lebih mengkhawatirkan, model pembangunan pariwisata Bali saat ini mencerminkan apa yang disebut para ekonom sebagai “tourist trap” – situasi di mana destinasi wisata menjadi sangat bergantung pada turisme massal namun kehilangan karakteristik unik yang awalnya menarik wisatawan. Liang dan Bao (2015) menyebut fenomena ini sebagai “pariwisata predatoris” – di mana keuntungan jangka pendek mengalahkan kepentingan keberlanjutan.

Paradoks ini semakin diperparah oleh struktur industri pariwisata global yang cenderung menguntungkan pemodal besar, sementara masyarakat lokal hanya mendapat remah-remah ekonomi. Tanpa perubahan fundamental dalam pendekatan pembangunan pariwisata, Bali berisiko menjadi contoh klasik bagaimana kesuksesan ekonomi jangka pendek dapat menghancurkan fondasi keberlanjutan jangka panjang.

Tantangan Diplomasi Indonesia

Masuknya Bali dalam Fodor’s No List 2025 tidak hanya menjadi tamparan bagi citra pariwisata Indonesia, tetapi juga membuka pertanyaan mendasar tentang efektivitas diplomasi Indonesia dalam mengelola reputasi destinasi wisata unggulannya. Sebagai “etalase pariwisata” Indonesia yang telah dibangun selama puluhan tahun, citra negatif Bali berpotensi menciptakan efek domino terhadap persepsi global tentang kemampuan Indonesia mengelola sektor pariwisatanya secara keseluruhan.

Berdasarkan data Kementerian Luar Negeri, Indonesia telah menginvestasikan sumber daya diplomatik yang signifikan untuk membangun citra Bali sebagai destinasi wisata kelas dunia. Melalui 132 perwakilan dan 64 konsul kehormatan yang tersebar di seluruh dunia, Indonesia secara aktif mempromosikan “Wonderful Indonesia” dengan Bali sebagai ujung tombaknya. Namun ironisnya, kesuksesan diplomasi ini justru berkontribusi pada masalah overtourism yang kini dihadapi.

Tantangan diplomasi Indonesia menjadi semakin kompleks karena harus menyeimbangkan berbagai kepentingan yang saling bertentangan. Di satu sisi, Indonesia perlu mempertahankan pertumbuhan sektor pariwisata sebagai sumber devisa dan lapangan kerja. Di sisi lain, ada tuntutan global yang semakin kuat untuk pariwisata berkelanjutan yang memperhatikan aspek lingkungan dan sosial-budaya.

Situasi ini dipersulit oleh karakteristik diplomasi publik Indonesia yang, menurut studi Trisni (2020), masih cenderung sporadis dan kurang memiliki grand strategy yang jelas. Ketiadaan cetak biru diplomasi yang komprehensif membuat Indonesia kesulitan merespons krisis citra seperti yang kini dihadapi Bali. Diperlukan pendekatan diplomasi multi-track yang tidak hanya mengandalkan jalur formal pemerintah, tetapi juga melibatkan aktor non-negara seperti komunitas, akademisi, dan pelaku industri pariwisata dalam upaya memulihkan dan melindungi reputasi Bali di mata internasional.

Membangun Ulang Paradigma Pariwisata

Pengalaman Bali menggarisbawahi urgensi untuk merombak fundamental pendekatan pariwisata Indonesia. Transformasi ini tidak sekadar tentang perbaikan kosmetik atau kampanye public relations, melainkan membutuhkan pergeseran paradigma yang menyeluruh dalam cara Indonesia memposisikan dan mengelola destinasi wisatanya.

Di tengah kompetisi global yang semakin ketat, Indonesia perlu mengembangkan narasi baru yang tidak semata-mata berkutat pada kuantitas kunjungan wisatawan. Data Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menunjukkan bahwa wisatawan berkualitas yang tinggal lebih lama dan membelanjakan lebih banyak justru memberikan dampak ekonomi lebih besar dengan jejak lingkungan yang lebih kecil. Ini menegaskan bahwa fokus pada “quality tourism” lebih strategis dibanding “mass tourism”.

Dalam konteks diplomatik, Indonesia perlu mengadopsi pendekatan yang lebih sophisticated. Alih-alih hanya mengandalkan promosi konvensional, diplomasi pariwisata Indonesia harus mulai membangun dialog konstruktif dengan komunitas internasional tentang pariwisata berkelanjutan. Ini termasuk berbagi praktik terbaik, kolaborasi riset, dan pertukaran pengetahuan dengan destinasi wisata global lainnya yang menghadapi tantangan serupa.

Lebih jauh, konsep Tri Hita Karana yang menjadi filosofi masyarakat Bali bisa menjadi kerangka konseptual untuk model pariwisata berkelanjutan yang unik dan otentik. Prinsip keseimbangan antara manusia, alam, dan spiritual ini sejalan dengan tren global menuju pariwisata yang lebih bertanggung jawab. Dalam konteks ini, krisis overtourism bisa menjadi momentum untuk memperkenalkan Bali bukan hanya sebagai destinasi wisata, tetapi juga sebagai model pariwisata berkelanjutan yang mengintegrasikan kearifan lokal dengan kebutuhan modern.

Transformasi ini tentu membutuhkan investasi signifikan, baik dalam infrastruktur fisik maupun pengembangan kapasitas. Namun, biaya yang dikeluarkan saat ini jauh lebih kecil dibandingkan risiko kehilangan aset pariwisata yang tak tergantikan di masa depan.

Momentum Transformasi Pariwisata Indonesia

Masuknya Bali dalam Fodor’s No List 2025, meski tampak sebagai pukulan telak, sebenarnya membuka jendela peluang untuk menata ulang fundamental pariwisata Indonesia. Situasi ini bisa menjadi katalis perubahan yang justru dibutuhkan untuk mentransformasi model pariwisata konvensional menuju paradigma yang lebih berkelanjutan.

Dari perspektif ekonomi politik internasional, krisis ini membuka peluang untuk merenegosiasi posisi Indonesia dalam rantai nilai pariwisata global. Data dari Kementerian Pariwisata menunjukkan bahwa 60% keuntungan dari industri pariwisata Bali mengalir ke operator internasional dan investor asing. Melalui diplomasi ekonomi yang lebih strategis, Indonesia bisa mendorong model bisnis yang memberikan porsi lebih besar bagi pelaku lokal dan mendukung konservasi lingkungan.

Dalam ranah digital, Indonesia bisa memanfaatkan momentum ini untuk memperkuat narasi pariwisata berkelanjutannya. Penggunaan platform digital dan media sosial untuk mengomunikasikan upaya-upaya perbaikan yang dilakukan bisa membantu membangun kembali kepercayaan pasar internasional. Strategi ini sejalan dengan tren global di mana 78% wisatawan millennial mempertimbangkan aspek keberlanjutan dalam memilih destinasi wisata.

Pelibatan diaspora Indonesia yang mencapai lebih dari 8 juta orang di seluruh dunia juga bisa menjadi instrumen diplomasi publik yang efektif. Mereka tidak hanya bisa menjadi duta pariwisata berkelanjutan, tetapi juga bisa membantu membangun jaringan dengan komunitas internasional yang peduli lingkungan dan pelestarian budaya.

Lebih jauh, situasi ini membuka peluang untuk memperkuat kerja sama internasional dalam pengelolaan destinasi wisata. Kolaborasi dengan organisasi internasional seperti UNWTO dan UNESCO dalam pengembangan kapasitas dan transfer teknologi bisa mempercepat transformasi Bali menuju model pariwisata berkelanjutan yang bisa menjadi benchmark global. Dengan pendekatan yang tepat, krisis ini bisa menjadi titik balik yang mengubah Bali dari ‘korban overtourism’ menjadi pionir pariwisata berkelanjutan di kawasan.

Langkah Ke Depan

Krisis reputasi yang dihadapi Bali membutuhkan respons strategis yang tidak hanya berfokus pada perbaikan citra jangka pendek, tetapi juga pada transformasi fundamental model pariwisata Indonesia. Diperlukan pendekatan holistik yang mengintegrasikan diplomasi, kebijakan domestik, dan aksi konkret di lapangan.

Pertama, Indonesia perlu memperkuat koordinasi antar-lembaga dalam mengelola diplomasi pariwisatanya. Data dari Kementerian Luar Negeri menunjukkan bahwa saat ini terdapat tumpang tindih peran antara berbagai kementerian dan lembaga dalam promosi pariwisata internasional. Pembentukan gugus tugas khusus yang melibatkan Kemenlu, Kemenparekraf, dan pemangku kepentingan lainnya bisa membantu mengharmonisasi upaya diplomasi pariwisata Indonesia.

Kedua, pemerintah harus berani mengambil kebijakan-kebijakan radikal untuk mengendalikan overtourism. Ini bisa mencakup pembatasan jumlah kunjungan wisatawan, penerapan pajak wisata yang lebih tinggi untuk mendanai konservasi lingkungan, hingga moratorium pembangunan fasilitas wisata di area-area sensitif. Menurut studi Suyadnya (2021), tanpa intervensi kebijakan yang tegas, degradasi lingkungan dan sosial-budaya di Bali akan mencapai titik tidak berbalik dalam 5-10 tahun ke depan.

Ketiga, Indonesia perlu mengembangkan indikator keberhasilan pariwisata yang lebih komprehensif. Alih-alih hanya berfokus pada jumlah kunjungan dan pendapatan devisa, perlu dikembangkan matrik yang juga mengukur dampak terhadap lingkungan, kesejahteraan masyarakat lokal, dan pelestarian budaya.

Keempat, penguatan kapasitas masyarakat lokal harus menjadi prioritas. Program-program pelatihan dan pemberdayaan masyarakat dalam mengelola pariwisata berkelanjutan perlu diperluas, sehingga masyarakat lokal tidak hanya menjadi penonton tetapi pelaku utama dalam industri pariwisata.

Langkah-langkah ini membutuhkan komitmen politik yang kuat dan investasi sumber daya yang signifikan. Namun, biaya yang dikeluarkan saat ini jauh lebih kecil dibandingkan risiko kehilangan salah satu aset pariwisata paling berharga Indonesia. [T]

BACA artikel lain dari penulis MUHAMMAD YAMIN

Membedah Keunggulan Komparatif: Kunci Sukses Pariwisata Global di Era Modern
Tantangan Pariwisata Indonesia: Daya Saing Global dan Keberlanjutan Lokal
Menimbang Dana Abadi Pariwisata
Glamping, Staycation, Instagrammable, Babymoon: Leksikon Baru Dalam Geliat Pariwisata Ekonomi Kreatif
Optimalisasi “Nation Branding” Melalui Pariwisata dalam Dinamika Kepentingan Nasional dan Interdependensi Global
Tags: overtourismPariwisatapariwisata baliPariwisata Berkelanjutanpariwisata budaya
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pinih Sira Ragane?

Next Post

Membaca, Menulis, dan Kesadaran: Modal Menjadi Pemimpin Pembelajaran

Muhammad Yamin

Muhammad Yamin

Dosen Jurusan Hubungan Internasional, FISIP Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah dan pengamat ekonomi politik internasional dengan fokus pada sektor pariwisata dan pembangunan berkelanjutan.

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
Membaca, Menulis, dan Kesadaran: Modal Menjadi Pemimpin Pembelajaran

Membaca, Menulis, dan Kesadaran: Modal Menjadi Pemimpin Pembelajaran

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co